***
Berawal dari note seorang teman di facebook, yang bikin saya ngiri. Bukan ngiri dengki, tapi harangiri. Plesetan dari Harakiri. Nunjuk-nunjuk diri sendiri yang sepertinya tertinggal jauh. Jauh sekali dibanding dia.
Namun apa daya memang waktu gak akan bisa kembali. Mana bisa saya kembali ke golden age di mana saya bisa mengembangkan kapasitas otak ini, menyambungkan berbagai neuron di dalamnya, dan mengkreasikan impuls impulsnya? Sehingga saya hari ini bisa menjadi lebih baik daripada saya yang hari ini pada kenyataannya?
Maka curhatlah saya sama seorang teman yang tidak akan saya sebutkan namanya. Dia bilang sesuatu yang bikin saya mikir.. Dia bilang, perempuan seusia saya, yang punya anak paling kecil 7 tahun (baca: nyantei), pasti punya 'kelebihan energi'. Barangkali kelebihan energi itulah yang seakan meledak, membuat saya galau melihat orang-orang yang lebih hebat.
“Saya mestinya bisa sehebat dia”, kurang lebih begitulah ledakannya.
Hemmm.. kelebihan energi.
Energi harus menemukan tempat penyalurannya hingga menjadi sebuah bentuk manfaat. Barangkali memang inilah yang membuat saya galau jika hanya berdiam diri, tanpa aktivitas apapun. Bila penyaluran energi ini mengalir ke tempat yang salah, maka saya akan semakin galau. Dan jika penyaluran energi ini ke arah yang positif, terasa sangat bahagianya.
Perlahan saya mulai meninggalkan harangiri saya terhadap teman saya penulis note itu. Beralih menjadi pemikiran terhadap diri sendiri saja. Mengenai kelebihan energi tadi dan apa yang bisa saya lakukan untuk menyalurkannya. Mengingat waktu yang tak bisa terulang, dan apa yang telah saya miliki sekarang.
Bila saat ini saya hanya dikaruniai dua anak saja, dan Allah belum kunjung mengamanahi saya anak ketiga, maka barangkali saya jadi punya kelebihan energi untuk mengurus hal-hal di luar anak dan rumah tangga.
Dan bila anak saya “hanya dua”, maka mestinya saya bisa dengan powerfull (atas izin Allah) untuk bisa melejitkan anak-anak saya menjadi anak-anak yang luar biasa.
Kalau ditanya cita-cita, maka cita-cita saya tinggi, tapi itu adalah untuk anak-anak saya. Untuk hidup saya rasanya melawan sunnatullah jika saya bercita-cita menjadi seorang profesor sains. Tapi bila saya berharap seorang Arif menjadi profesor lulusan Jerman misalnya, maka itu masih sangat memungkinkan untuk diusahakan dengan tahap yang jelas. Ya nggak sih?
Dan Sofi, yang kelihatan sabar, ngasuh, .. barangkali dia bisa jadi seorang dokter atau perawat yang disukai pasien-pasiennya? Dokter spesialis anak misalnya?
Ah, saya tidak akan banyak menuntut pada anak-anak saya. Segala cita-cita haruslah lahir dari pemikiran dan hati mereka sendiri. Bukan atas paksaan saya.
Tinggal saya yang harus memompa semangat mereka untuk berani punya cita-cita yang seeeetinggi-tingginya. Mumpung mereka masih muda. Energi dan otak anak-anak itu adalah sebuah keajaiban. Tak seperti otak saya yang sudah gampang ngebul.
Maka dengan kelebihan energi ini mestinya saya bisa jadi ibu yang semangat. Ibu yang bisa membimbing anak-anak saya meraih cita-citanya dan bermanfaat sebesar-besarnya bagi umat.
Aiiihhh.. sungguh... sesuatu.
Dan untuk saya sendiri, mestinya gak boleh juga ada malas bila saya menyadari tentang kelebihan energi ini. Dipikir-pikir banyak hal yang bisa saya lakukan untuk memperbaiki diri. Gak ada kata telat sebelum mati kan ya?
Ah pokonya banyak deh yang bisa saya lakukan dengan apa yang saya punya sekarang, entahlah itu menghasilkan duit apa tidak, saya gak peduli, toh beban nafkah alhamduliLlah masih ditanggung suami. Tinggal satu aja, yaitu saya harus menyalurkannya ke arah yang positif. Biar Allah ridho. Biar Allah menambahkan nikmatnya karena dengan memanfaatkan potensi di jalan Allah itu berarti kita termasuk orang-orang yang bersyukur.
Iya gak siiiih? –> nanya kayak gini biasanya karena gak pede.. ahhaha...
bismiLlah we yuks... Allah tidak akan mengubah keadaan jika kita sendiri tidak berusaha untuk mengubahnya...
***
Tampilkan postingan dengan label catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan. Tampilkan semua postingan
Jumat, 11 Mei 2012
Rabu, 03 November 2010
barokah
***
Beberapa waktu terakhir ini saya suka sekali dengan istilah barokah.
BERKAH.. kalau orang kita bilang.
Barokah adalah kebaikan yang sifatnya ilahi dalam suatu perkara atau tindakan.
Barokah tidak bisa terlihat langsung secara lahiriah namun terkadang bisa terasakan.
Sesuatu yang barokah itu mempunyai nilai tambah padahal bisa jadi lahirnya tetap atau malah berkurang.
Akhirnya saya mengerti kenapa kita disunnahkan untuk mendo'akan pengantin baru dengan ucapan "BarakaLlahu lakum"
Semoga berkah Allah atas kalian....hooo... sungguh indah do'a itu, dan saya selalu ingin dido'akan seperti itu. Butuh barokah-NYA. Butuh buangett.
Harta yang terasa banyaknya walau lahirnya sedikit, entah ada atau tidak, tapi rasanya cukup. Mungkin itulah barokah.
Makanan sederhana, tapi terasa nikmatnya, mungkin itulah barokah.
Bersama keluarga, gak piknik, gak makan-makan di luar, di rumah saja tapi bahagia, mungkin itu juga yang namanya barokah.
Waktu yang termanfaatkan dengan baik, dan tidak merasa tidak tersia-siakan, tidak merasa dikejar waktu, tidak merasa riweuh, tidak sok sibuk atau sibuk tapi puguh, dan selalu ada hasilnya, barangkali itu juga adalah waktu yang barokah.
Saat saya pelit bershodaqoh, seringkali saya takut harta saya tidak barokah. Kalau harta tidak barokah, dengan kuasa-Nya Allah akan tetap memaksa uang kita keluar.
Mungkin keluar uang untuk jajan, yang setelah jajan bukannya puas malah nyesel.
Saat saya mengutamakan pengeluaran untuk hal-hal yang sifatnya sekunder ataupun tersier, sementara yang primer gak kebagian jatah, saya khawatir sekali kalau uang yang saya miliki tidak barokah. Pasti ujung-ujungnya akan terasa kurangnya harta.
Saat saya bermalas-malasan (baca: bukan istirahat), maka saya khawatir waktu akan berjalan cepat tanpa terasa, tapi tak ada hasilnya.
Saat saya tidak melayani suami dengan baik, saya khawatir aktivitas saya tidak barokah. Sibuk teu puguh, hati tersiksa, hasilnya gak sepadan pula.
Dipikir-pikir memang segala yang kita lakukan harus diniatkan untuk mengejar barokah-NYA. Pikir dulu, apakah yang kita lakukan ini mendatangkan barokah Allah atau tidak. Hati-hati saja bila kita tidak pernah merasa puas akan apapun yang telah kita dapat, bisa jadi segala aktifitas kita tidak mendapat barokah Allah.
Kalau Allah tidak memberi berkah-NYA... maka tunggu saja,
cepat atau lambat... siksaan batin itu akan tiba...
Wallahu a'lam.. tapi itu yang saya rasakan.
***
Beberapa waktu terakhir ini saya suka sekali dengan istilah barokah.
BERKAH.. kalau orang kita bilang.
Barokah adalah kebaikan yang sifatnya ilahi dalam suatu perkara atau tindakan.
Barokah tidak bisa terlihat langsung secara lahiriah namun terkadang bisa terasakan.
Sesuatu yang barokah itu mempunyai nilai tambah padahal bisa jadi lahirnya tetap atau malah berkurang.
Akhirnya saya mengerti kenapa kita disunnahkan untuk mendo'akan pengantin baru dengan ucapan "BarakaLlahu lakum"
Semoga berkah Allah atas kalian....hooo... sungguh indah do'a itu, dan saya selalu ingin dido'akan seperti itu. Butuh barokah-NYA. Butuh buangett.
Harta yang terasa banyaknya walau lahirnya sedikit, entah ada atau tidak, tapi rasanya cukup. Mungkin itulah barokah.
Makanan sederhana, tapi terasa nikmatnya, mungkin itulah barokah.
Bersama keluarga, gak piknik, gak makan-makan di luar, di rumah saja tapi bahagia, mungkin itu juga yang namanya barokah.
Waktu yang termanfaatkan dengan baik, dan tidak merasa tidak tersia-siakan, tidak merasa dikejar waktu, tidak merasa riweuh, tidak sok sibuk atau sibuk tapi puguh, dan selalu ada hasilnya, barangkali itu juga adalah waktu yang barokah.
Saat saya pelit bershodaqoh, seringkali saya takut harta saya tidak barokah. Kalau harta tidak barokah, dengan kuasa-Nya Allah akan tetap memaksa uang kita keluar.
Mungkin keluar uang untuk jajan, yang setelah jajan bukannya puas malah nyesel.
Saat saya mengutamakan pengeluaran untuk hal-hal yang sifatnya sekunder ataupun tersier, sementara yang primer gak kebagian jatah, saya khawatir sekali kalau uang yang saya miliki tidak barokah. Pasti ujung-ujungnya akan terasa kurangnya harta.
Saat saya bermalas-malasan (baca: bukan istirahat), maka saya khawatir waktu akan berjalan cepat tanpa terasa, tapi tak ada hasilnya.
Saat saya tidak melayani suami dengan baik, saya khawatir aktivitas saya tidak barokah. Sibuk teu puguh, hati tersiksa, hasilnya gak sepadan pula.
Dipikir-pikir memang segala yang kita lakukan harus diniatkan untuk mengejar barokah-NYA. Pikir dulu, apakah yang kita lakukan ini mendatangkan barokah Allah atau tidak. Hati-hati saja bila kita tidak pernah merasa puas akan apapun yang telah kita dapat, bisa jadi segala aktifitas kita tidak mendapat barokah Allah.
Kalau Allah tidak memberi berkah-NYA... maka tunggu saja,
cepat atau lambat... siksaan batin itu akan tiba...
Wallahu a'lam.. tapi itu yang saya rasakan.
***
Kamis, 01 Juli 2010
bagaimana bahagia
***
Setelah dirundung banyak masalah (masalah orang lain, red) kemarin, hari ini saya menuai kebahagiaannya.
Ternyata benar... Allah akan memudahkan urusan kita jika kita mudahkan urusan orang lain. Allah akan melapangkan hati saat kita mencoba untuk mencari jalan bagi kesulitan orang lain. Allah akan memberi kita bahagia saat kita bisa membahagiakan orang lain.
Bahkan dengan membuat orang lain tersenyum karena senyum kita, maka rasanya kita bisa selalu tersenyum karena kita memang pada akhirnya diberiNya bahagia.
Saya ingin seperti bapak... Bapak mertua saya yang selalu tersenyum saat berhadapan dengan lawan bicaranya. Tak terkecuali putra putrinya sendiri.
Senyumnya selalu membuat lawan bicaranya balik tersenyum.
Ah... ajaibnya sebuah senyum. Selalu saja membuat saya merasa tenang di dekat bapak.
Bahagia.
Mungkin karena kebahagiaan orang-orang yang ada di sekitar bapak, maka bapak pun bahagia hidupnya.(selalu disertai do'a saya untuknya, semoga Allah memberi hidayah iman Islam padanya. Amiin)
Hari ini saya dengar kabar baik dari teman-teman saya yang kemarin dirundung masalah. Tiga orang yang telah memberikan kabarnya pada saya... semua bahagia, masalah mereka telah mendapatkan titik terangnya...
Walau masalah mereka yang selesai, tapi saya ikut bahagia.
Saya sebenarnya ingin tak peduli apakah mereka mengabari saya atau tidak. Apakah mereka ingat saya atau tidak, mengingat catatan berhuruf italic, bold, kalau bisa sih underline sekaligus... bahwa sayalah yang mendampingi mereka saat masalah itu ada.
Rasa itu tetap ada. Rasa ingin dihargai. Rasa ingin diingat. Rasa ingin dibalas.
Tapi kalau direnungkan lagi, betapa Allah memberi saya bahagia hari ini, justru bukan dari mereka. Bukan tiga orang itu yang membuat saya tertawa. Tapi saya bahagia karena hari ini banyak sekali hal yang saya syukuri dan membuat saya terbahak.
Bukan..sekali lagi bukan karena tiga orang itu saya bahagia.
Rasanya setiap celah di muka bumi membuat saya tersenyum hari ini.
Hmmm... memang padaNya saja kita layak berharap akan kebahagiaan itu.
Bukan dari manusia manusia yang telah saya buat bahagia.
Saya buat mereka bahagia?
Saya?
Lho?
Sekarang malah saya sangsi... hahaha.... ya ya.. bukan saya yang membuat mereka bahagia hari ini....
Jadi untuk apa juga saya berharap pada mereka ya?
Whahaha..
Barangkali Tuhan sedang mentertawakan saya di atas Arsy-Nya...
Allahu Rahman.. Allahu Rahiim...
***
Setelah dirundung banyak masalah (masalah orang lain, red) kemarin, hari ini saya menuai kebahagiaannya.
Ternyata benar... Allah akan memudahkan urusan kita jika kita mudahkan urusan orang lain. Allah akan melapangkan hati saat kita mencoba untuk mencari jalan bagi kesulitan orang lain. Allah akan memberi kita bahagia saat kita bisa membahagiakan orang lain.
Bahkan dengan membuat orang lain tersenyum karena senyum kita, maka rasanya kita bisa selalu tersenyum karena kita memang pada akhirnya diberiNya bahagia.
Saya ingin seperti bapak... Bapak mertua saya yang selalu tersenyum saat berhadapan dengan lawan bicaranya. Tak terkecuali putra putrinya sendiri.
Senyumnya selalu membuat lawan bicaranya balik tersenyum.
Ah... ajaibnya sebuah senyum. Selalu saja membuat saya merasa tenang di dekat bapak.
Bahagia.
Mungkin karena kebahagiaan orang-orang yang ada di sekitar bapak, maka bapak pun bahagia hidupnya.(selalu disertai do'a saya untuknya, semoga Allah memberi hidayah iman Islam padanya. Amiin)
Hari ini saya dengar kabar baik dari teman-teman saya yang kemarin dirundung masalah. Tiga orang yang telah memberikan kabarnya pada saya... semua bahagia, masalah mereka telah mendapatkan titik terangnya...
Walau masalah mereka yang selesai, tapi saya ikut bahagia.
Saya sebenarnya ingin tak peduli apakah mereka mengabari saya atau tidak. Apakah mereka ingat saya atau tidak, mengingat catatan berhuruf italic, bold, kalau bisa sih underline sekaligus... bahwa sayalah yang mendampingi mereka saat masalah itu ada.
Rasa itu tetap ada. Rasa ingin dihargai. Rasa ingin diingat. Rasa ingin dibalas.
Tapi kalau direnungkan lagi, betapa Allah memberi saya bahagia hari ini, justru bukan dari mereka. Bukan tiga orang itu yang membuat saya tertawa. Tapi saya bahagia karena hari ini banyak sekali hal yang saya syukuri dan membuat saya terbahak.
Bukan..sekali lagi bukan karena tiga orang itu saya bahagia.
Rasanya setiap celah di muka bumi membuat saya tersenyum hari ini.
Hmmm... memang padaNya saja kita layak berharap akan kebahagiaan itu.
Bukan dari manusia manusia yang telah saya buat bahagia.
Saya buat mereka bahagia?
Saya?
Lho?
Sekarang malah saya sangsi... hahaha.... ya ya.. bukan saya yang membuat mereka bahagia hari ini....
Jadi untuk apa juga saya berharap pada mereka ya?
Whahaha..
Barangkali Tuhan sedang mentertawakan saya di atas Arsy-Nya...
Allahu Rahman.. Allahu Rahiim...
***
Kamis, 06 Mei 2010
pada akhirnya...
Share From Pasar Siesta
Monday, April 26, 2010 at 11:24am
(Cerita dari sahabat Kami Dedi Martoni)
Anak-anak tak selamanya kecil.
kalau Allah memberinya umur panjang
Sebelum habis kekuatan kita untuk berjalan dengan tegak
dan berbicara dengan suara lantang
anak-anak kita kemarin merengek meminta perhatian kita
sekarang mungkin mereka sudah sibuk memenuhi jadwal kegiatannya
yang padat...
Anak-anak yang kemarin menahan tangisnya karena kita tak kunjung mau
mendampingi mereka untuk menuturkan cerita,
hari ini mungkin kita harus belajar menahan diri
karena sangat ingin mendengar cerita mereka
dari lisan mereka sendiri...
Saat usianya memasuki remaja
posisi kita semakin lemah
mereka lebih mendengar temannya daripada orang tuanya sendiri
Kata-kata orangtua tak lagi berharga kecuali
jika kita sudah MENABUNG kedekatan dan penghormatan sejak
mereka masih balita
Jika anak-anak itu tidak memiliki penghormatan yang tinggi kepada orangtuanya
maka gurauan teman jauh lebih mereka dengar
daripada sapaan paling tulus dari orangtua
Jika anak-anak itu tidak memiliki kepercayaan yang penuh kepada orangtua
maka temannya lebih layak untuk diikuti daripada nasihat
paling serius dari orangtua.
Secara alamiah anak-anak yang telah memasuki usia remaja memiliki kebutuhan
eksistensi
Mereka ingin didengar, diakui, dihargai dan dipercaya
Mereka ingin menunjukkan bahwa dirinya memiliki kemampuan dan hak menentukan.
Mereka akan berontak dari orangtuanya kecuali jika kita selaku orangtua telah
MENABUNG kredibilitas, kepercayaan terhadap itikad baik
dan ketulusan di mata anak-anak kita...
Tak lama lagi mereka akan menikah
Sesudah berlalu masa remaja datanglah masa dewasa
Inilah masa ketika anak-anak yang dulu merindukan bapaknya itu sudah
benar-benar mandiri
Mereka tak lagi memerlukan orangtua kecuali
jika iman menancap kuat di hati mereka
Inilah yang menjadi kekuatan dalam diri mereka untuk
berkhidmat kepada orangtua...
Jadi, sebenarnya mereka berkhidmat bukan karena
sangat besarnya kerinduan dan penghormatan pada orangtua
tetapi
karena dorongan untuk meraih ridha Allah 'Azza wa Jalla....
Ya zaman berganti, masa bertukar
Yang dulu muda, sekrang tua
Yang dulu kanak-kanak sekarang dewasa
yang dulu terlihat gagah, sekarang renta tak berdaya
sebagian lagi mungkin sudah lama dikuburkan jenazahnya...
Tak ada lagi kekuatannya untuk berbuat,
Tak ada lagi kemampuannya untuk melakukan perubahan
Akan tetapi...
Mereka yang telah menyemai keyakinan, kebaikan dan kemuliaan
sesungguhnya telah hidup kebaikannya
Melalui anak-anak yang KUAT KARAKTERNYA,
TINGGI HARGA DIRINYA, BESAR CITA-CITANYA dan JIWANYA
senantiasa rindu untuk melakukan amal yang terbaik (ahsanu 'amala)
para orangtua itu sesungguhnya tetap menabung kebaikan meski
badan telah berselimut kafan
Sesungguhnya tidak akan ada yang bisa diharapkan dari
anak-anak sesudah kita mati kecuali KESHALIHAN
Anak-anak shalih yang mendoakan (waladun shalihun yad'unalahu)
merupakan harta yang tak dapat digantikan oleh do'a seribu manusia...
Ya....Shalih dulu baru do'a....
Bagaimana menjadi orangtua dan sekaligus sahabat bagi anak-anak kita?
Mampukan kita menjadi orangtua yang disayang dan dicintai anak-anak kita
walau kita sudah tiada? Anak seperti apa hasil didikan dan kasih sayang kita
***
Monday, April 26, 2010 at 11:24am
(Cerita dari sahabat Kami Dedi Martoni)
Anak-anak tak selamanya kecil.
kalau Allah memberinya umur panjang
Sebelum habis kekuatan kita untuk berjalan dengan tegak
dan berbicara dengan suara lantang
anak-anak kita kemarin merengek meminta perhatian kita
sekarang mungkin mereka sudah sibuk memenuhi jadwal kegiatannya
yang padat...
Anak-anak yang kemarin menahan tangisnya karena kita tak kunjung mau
mendampingi mereka untuk menuturkan cerita,
hari ini mungkin kita harus belajar menahan diri
karena sangat ingin mendengar cerita mereka
dari lisan mereka sendiri...
Saat usianya memasuki remaja
posisi kita semakin lemah
mereka lebih mendengar temannya daripada orang tuanya sendiri
Kata-kata orangtua tak lagi berharga kecuali
jika kita sudah MENABUNG kedekatan dan penghormatan sejak
mereka masih balita
Jika anak-anak itu tidak memiliki penghormatan yang tinggi kepada orangtuanya
maka gurauan teman jauh lebih mereka dengar
daripada sapaan paling tulus dari orangtua
Jika anak-anak itu tidak memiliki kepercayaan yang penuh kepada orangtua
maka temannya lebih layak untuk diikuti daripada nasihat
paling serius dari orangtua.
Secara alamiah anak-anak yang telah memasuki usia remaja memiliki kebutuhan
eksistensi
Mereka ingin didengar, diakui, dihargai dan dipercaya
Mereka ingin menunjukkan bahwa dirinya memiliki kemampuan dan hak menentukan.
Mereka akan berontak dari orangtuanya kecuali jika kita selaku orangtua telah
MENABUNG kredibilitas, kepercayaan terhadap itikad baik
dan ketulusan di mata anak-anak kita...
Tak lama lagi mereka akan menikah
Sesudah berlalu masa remaja datanglah masa dewasa
Inilah masa ketika anak-anak yang dulu merindukan bapaknya itu sudah
benar-benar mandiri
Mereka tak lagi memerlukan orangtua kecuali
jika iman menancap kuat di hati mereka
Inilah yang menjadi kekuatan dalam diri mereka untuk
berkhidmat kepada orangtua...
Jadi, sebenarnya mereka berkhidmat bukan karena
sangat besarnya kerinduan dan penghormatan pada orangtua
tetapi
karena dorongan untuk meraih ridha Allah 'Azza wa Jalla....
Ya zaman berganti, masa bertukar
Yang dulu muda, sekrang tua
Yang dulu kanak-kanak sekarang dewasa
yang dulu terlihat gagah, sekarang renta tak berdaya
sebagian lagi mungkin sudah lama dikuburkan jenazahnya...
Tak ada lagi kekuatannya untuk berbuat,
Tak ada lagi kemampuannya untuk melakukan perubahan
Akan tetapi...
Mereka yang telah menyemai keyakinan, kebaikan dan kemuliaan
sesungguhnya telah hidup kebaikannya
Melalui anak-anak yang KUAT KARAKTERNYA,
TINGGI HARGA DIRINYA, BESAR CITA-CITANYA dan JIWANYA
senantiasa rindu untuk melakukan amal yang terbaik (ahsanu 'amala)
para orangtua itu sesungguhnya tetap menabung kebaikan meski
badan telah berselimut kafan
Sesungguhnya tidak akan ada yang bisa diharapkan dari
anak-anak sesudah kita mati kecuali KESHALIHAN
Anak-anak shalih yang mendoakan (waladun shalihun yad'unalahu)
merupakan harta yang tak dapat digantikan oleh do'a seribu manusia...
Ya....Shalih dulu baru do'a....
Bagaimana menjadi orangtua dan sekaligus sahabat bagi anak-anak kita?
Mampukan kita menjadi orangtua yang disayang dan dicintai anak-anak kita
walau kita sudah tiada? Anak seperti apa hasil didikan dan kasih sayang kita
***
Rabu, 05 Mei 2010
My Shofiyyah
***
Karena inilah maka anak perempuanku diberi nama Shofiyyah.... semoga dia tumbuh menjadi muslimah yang shalihah, cantik, hanif, dan pemaaf... Insyaa Allah...
(disalin dari http://kisahislam.com)
Beliau adalah Shafiyyah binti Huyai binti Akhthan bin Sa'yah cucu dari Al-Lawi bin Nabiyullah Israel bin Ishaq bin Ibrahim 'Alaihi wa Salam, termasuk keturunan Rasulullah Harun 'Alaihi wa Salam. Shafiyyah adalah seorang wanita yang cerdas dan memiliki kedudukan yang terpandang, berparas cantik dan bagus diennya. Sebelum Islamnya beliau menikah dengan Salam bin Abi Al-Haqiq, kemudian setelah itu dia menikah dengan Kinanah bin Abi Al-Haqiq. Keduanya adalah penyair yahudi. Kinanah terbunuh pada waktu perang Khaibar, maka beliau termasuk wanita yang di tawan bersama wanita-wania lain. Bilal "Muadzin Rasululllah" menggiring Shafiyyah dan putri pamannya. mereka melewati tanah lapang yang penuh dengan mayat-mayat orang Yahudi. Shafiyyah diam dan tenang dan tidak kelihatan sedih dan tidak pula meratap mukanya, menjerit dan menaburkan pasir pada kepalanya.
Kemudian keduanya dihadapkan kepada Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Salam, Shafiyyah dalam keadaan sedih namun tetap diam, sedangkan putri pamannya kepalanya penuh pasir, merobek bajunya karena merasa belum cukup ratapannya. Maka Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Salam bersabda (sedangkan tersirat rasa tidak suka pada wajah beliau): "Enyahkanlah syetan ini dariku."
Kemudian beliau Shalallahu 'Alaihi wa Salam mendekati Shafiyyah kemudian mengarahkan pandangan atasnya dengan ramah dan lembut, kemudian bersabda kepada Bilal:
"Wahai Bilal aku berharap engkau mendapat rahmat tatkala engkau bertemu dengan dua orang wanita yang suaminya terbunuh."
Selanjutnya Shafiyyah dipilih untuk beliau dan beliau mengulurkan selendang beliau kepada Shafiyyah, hal itu sebagai pertanda bahwa Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Salam telah memilihnya untuk dirinya. Hanya kaum muslimin tidak mengetahui apakah Shafiyyah di ambil oleh Rasulullah sebagai istri atau sebagai budak atau sebagai anak? Maka tatkala beliau berhijab Shafiyyah, maka barulah mereka tahu bahwa Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Salam mengambilnya sebagai istri. Di dalam hadist yang diriwayatkan oleh Anas radhiallaahu 'anhu bahwa Rasulullah tatkala mengambil Shafiyyah binti Huyai beliau bertanya kepadanya, "Maukah engkau menjadi istriku?" Maka Shafiyyah menjawab, "Ya Rasulullah sungguh aku telah berangan-angan untuk itu tatkala masih musyrik, maka bagaimana mungkin aku tidak inginkan hal itu manakala Allah memungkinkan itu saat aku memeluk Islam?"
Kemudian tatkala Shafiyyah telah suci Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Salam menikahinya, sedangkan maharnya adalah merdekanya Shafiyyah. Nabi Shalallahu 'Alaihi wa Salam menanti sampai Khaibar kembali tenang. Setelah beliau perkirakan rasa takut telah hilang pada diri Shafiyyah, beliau mengajaknya pergi. Shafiyyah yang beliau bawa di belakang beliau, kemudian beranjak menuju ke sebuah rumah yang berjarak enam mil dari Khaibar. Nabi Shalallahu 'Alaihi wa Salam menginginkan diri Shafiyyah ketika itu, namun dia menolaknya. Ada rasa kecewa pada diri Nabi karena penolakan tersebut.
Kemudian Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Salam melanjutkan perjalanannya ke Madinah bersama bala tentaranya, tatkala mereka sampai di Shabba' jauh dari Khaibar mereka berhenti untuk beristirahat. Pada saat itulah timbul keinginan untuk merayakan walimatul 'urs. Maka didatangkanlah Ummu Anas bin Malik radhiallaahu 'anha, beliau menyisir rambut Shafiyyah, menghiasi dan memberi wewangian hingga karena kelihaian dia dalam merias, Ummu Sinan Al-Aslamiyah berkata bahwa beliau belum pernah melihat wanita yang lebih putih dan cantik dari Shafiyyah. Maka diadakanlah walimatul 'urs, maka kaum muslimin memakan lezatnya kurma, mentega dan keju Khaibar hingga kenyang. Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Salam masuk kekamar Shafiyyah sedangkan masih terbayang pada beliau penolakan Shafiyyah tatkala ajakan beliau yang pertama, maka Shafiyyah menerima Nabi untuk menjalani malam pertama dengan lembut beliau menceritakan sebuah cerita yang menakjubkan. Beliau bercerita bahwa tatkala malam pertamanya dengan Kinanah bin Rabi', pada malam itu beliau bermimpi bahwa bulan telah jatuh kekamarnya. Tatkala bangun beliau ceritakan hal itu kepada Kinanah. maka dia berkata dengan marah:"Mimpimu tidak ada takwil lain melainkan kamu berangan-angan mendapatkan raja Hijaz Muhammad. Maka dia tampar wajahnya beliau dengan keras sehingga bekasnya masih ada, Nabi Shalallahu 'Alaihi wa Salam mendengarnya sambil tersenyum kemudian bertanya,"Mengapa engkau menolak dariku tatkala kita menginap yang pertama? "Maka beliau menjawab, 'Saya khawatir terhadap diri anda karena dekat Yahudi. Maka menjadi berseri-serilah wajah Nabi yang mulia serta lenyaplah kekecewaan hatinya maka Nabi melewati malam pertamanya tatkala Shafiyyah berumur 17 tahun.
Tatkala rombongan sampai di Madinah Rasulullah perintahkan agar pengantin wanita tidak langsung di ketemukan dengan istri-istri beliau yang lain. Beliau turunkan Shafiyyah di rumah sahabatnya yang bernama Haritsah bin Nu'man. Ketika wanita-wanita Anshar mendengar kabar tersebut, mereka datang untuk melihat kecantikannya. Nabi Shalallahu 'Alaihi wa Salam memergoki 'Aisyah keluar sambil menutupi dirinya serta berhati-hati (agar tidak dilihat Nabi) kemudian beliau masuk kerumah Haritsah bin Nu'man. Maka beliau menunggunya sampai 'Aisyah keluar. Maka tatkala beliau keluar, Rasulullah memegang bajunya seraya bertanya dengan tertawa, "bagaimana menurut mendapatmu wahai yang kemerah-merahan?"'Aisyah menjawab sementara cemburu menghiasi dirinya, "Aku lihat dia adalah wanita Yahudi."Maka Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Salam membantahnya dan bersabda:
"Jangan berkata begitu...karena sesungguhnya dia telah Islam dan bagus keislamannya."
Selanjutnya Shafiyyah berpindah ke rumah Nabi menimbulkan kecemburuan istri-istri beliau yang lain karena kecantikannya. Mereka juga mengucapkan selamat atas apa yang telah beliau raih. Bahkan dengan nada mengejek mereka mengatakan bahwa mereka adalah wanita-wanita Quraisy, wanita-wanita Arab sedangkan dirinya adalah wanita asing.
Bahkan suatu ketika sampai keluar dari lisan Hafshah kata-kata, "Anak seorang Yahudi" hingga menyebabkan beliau menangis. Tatkala itu Nabi masuk sedangkan Shafiyyah masih dalam keadaan menangis. Beliau bertanya, "Apa yang membuatmu menangis?" Beliau menjawab, Hafshah mengatakan kepadaku bahwa aku adalah anak seorang Yahudi. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
"Sesungguhnya engkau adalah seorang putri dari seorang Nabi dan pamanmu adalah seorang Nabi, suamipun juga seorang Nabi lantas dengan alasan apa dia mengejekmu?" Kemudian beliau bersabda kepada Hafshah, "Bertakwalah kepada Allah wahai Hafshah!"
Maka kata-kata Nabi itu menjadi penyejuk, keselamatan dan keamanan bagi Shafiyyah. Selanjutnya manakala dia mendengar ejekan dari istri Nabi yang lain maka diapun berkata: "Bagaimana bisa kalian lebih baik dariku, padahal suamiku adalah Muhammad, ayahku adalah Harun dan pamanku adalah Musa?"
Shafiyyah radhiallaahu 'anha wafat tatkala berumur sekitar 50 tahun, ketika masa pemerintahan Mu'awiyah. Beliau dikuburkan di Baqi' bersama Ummahatul Mukminin. Semoga Allah meridhai mereka semua.
***
Karena inilah maka anak perempuanku diberi nama Shofiyyah.... semoga dia tumbuh menjadi muslimah yang shalihah, cantik, hanif, dan pemaaf... Insyaa Allah...
(disalin dari http://kisahislam.com)
Beliau adalah Shafiyyah binti Huyai binti Akhthan bin Sa'yah cucu dari Al-Lawi bin Nabiyullah Israel bin Ishaq bin Ibrahim 'Alaihi wa Salam, termasuk keturunan Rasulullah Harun 'Alaihi wa Salam. Shafiyyah adalah seorang wanita yang cerdas dan memiliki kedudukan yang terpandang, berparas cantik dan bagus diennya. Sebelum Islamnya beliau menikah dengan Salam bin Abi Al-Haqiq, kemudian setelah itu dia menikah dengan Kinanah bin Abi Al-Haqiq. Keduanya adalah penyair yahudi. Kinanah terbunuh pada waktu perang Khaibar, maka beliau termasuk wanita yang di tawan bersama wanita-wania lain. Bilal "Muadzin Rasululllah" menggiring Shafiyyah dan putri pamannya. mereka melewati tanah lapang yang penuh dengan mayat-mayat orang Yahudi. Shafiyyah diam dan tenang dan tidak kelihatan sedih dan tidak pula meratap mukanya, menjerit dan menaburkan pasir pada kepalanya.
Kemudian keduanya dihadapkan kepada Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Salam, Shafiyyah dalam keadaan sedih namun tetap diam, sedangkan putri pamannya kepalanya penuh pasir, merobek bajunya karena merasa belum cukup ratapannya. Maka Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Salam bersabda (sedangkan tersirat rasa tidak suka pada wajah beliau): "Enyahkanlah syetan ini dariku."
Kemudian beliau Shalallahu 'Alaihi wa Salam mendekati Shafiyyah kemudian mengarahkan pandangan atasnya dengan ramah dan lembut, kemudian bersabda kepada Bilal:
"Wahai Bilal aku berharap engkau mendapat rahmat tatkala engkau bertemu dengan dua orang wanita yang suaminya terbunuh."
Selanjutnya Shafiyyah dipilih untuk beliau dan beliau mengulurkan selendang beliau kepada Shafiyyah, hal itu sebagai pertanda bahwa Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Salam telah memilihnya untuk dirinya. Hanya kaum muslimin tidak mengetahui apakah Shafiyyah di ambil oleh Rasulullah sebagai istri atau sebagai budak atau sebagai anak? Maka tatkala beliau berhijab Shafiyyah, maka barulah mereka tahu bahwa Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Salam mengambilnya sebagai istri. Di dalam hadist yang diriwayatkan oleh Anas radhiallaahu 'anhu bahwa Rasulullah tatkala mengambil Shafiyyah binti Huyai beliau bertanya kepadanya, "Maukah engkau menjadi istriku?" Maka Shafiyyah menjawab, "Ya Rasulullah sungguh aku telah berangan-angan untuk itu tatkala masih musyrik, maka bagaimana mungkin aku tidak inginkan hal itu manakala Allah memungkinkan itu saat aku memeluk Islam?"
Kemudian tatkala Shafiyyah telah suci Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Salam menikahinya, sedangkan maharnya adalah merdekanya Shafiyyah. Nabi Shalallahu 'Alaihi wa Salam menanti sampai Khaibar kembali tenang. Setelah beliau perkirakan rasa takut telah hilang pada diri Shafiyyah, beliau mengajaknya pergi. Shafiyyah yang beliau bawa di belakang beliau, kemudian beranjak menuju ke sebuah rumah yang berjarak enam mil dari Khaibar. Nabi Shalallahu 'Alaihi wa Salam menginginkan diri Shafiyyah ketika itu, namun dia menolaknya. Ada rasa kecewa pada diri Nabi karena penolakan tersebut.
Kemudian Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Salam melanjutkan perjalanannya ke Madinah bersama bala tentaranya, tatkala mereka sampai di Shabba' jauh dari Khaibar mereka berhenti untuk beristirahat. Pada saat itulah timbul keinginan untuk merayakan walimatul 'urs. Maka didatangkanlah Ummu Anas bin Malik radhiallaahu 'anha, beliau menyisir rambut Shafiyyah, menghiasi dan memberi wewangian hingga karena kelihaian dia dalam merias, Ummu Sinan Al-Aslamiyah berkata bahwa beliau belum pernah melihat wanita yang lebih putih dan cantik dari Shafiyyah. Maka diadakanlah walimatul 'urs, maka kaum muslimin memakan lezatnya kurma, mentega dan keju Khaibar hingga kenyang. Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Salam masuk kekamar Shafiyyah sedangkan masih terbayang pada beliau penolakan Shafiyyah tatkala ajakan beliau yang pertama, maka Shafiyyah menerima Nabi untuk menjalani malam pertama dengan lembut beliau menceritakan sebuah cerita yang menakjubkan. Beliau bercerita bahwa tatkala malam pertamanya dengan Kinanah bin Rabi', pada malam itu beliau bermimpi bahwa bulan telah jatuh kekamarnya. Tatkala bangun beliau ceritakan hal itu kepada Kinanah. maka dia berkata dengan marah:"Mimpimu tidak ada takwil lain melainkan kamu berangan-angan mendapatkan raja Hijaz Muhammad. Maka dia tampar wajahnya beliau dengan keras sehingga bekasnya masih ada, Nabi Shalallahu 'Alaihi wa Salam mendengarnya sambil tersenyum kemudian bertanya,"Mengapa engkau menolak dariku tatkala kita menginap yang pertama? "Maka beliau menjawab, 'Saya khawatir terhadap diri anda karena dekat Yahudi. Maka menjadi berseri-serilah wajah Nabi yang mulia serta lenyaplah kekecewaan hatinya maka Nabi melewati malam pertamanya tatkala Shafiyyah berumur 17 tahun.
Tatkala rombongan sampai di Madinah Rasulullah perintahkan agar pengantin wanita tidak langsung di ketemukan dengan istri-istri beliau yang lain. Beliau turunkan Shafiyyah di rumah sahabatnya yang bernama Haritsah bin Nu'man. Ketika wanita-wanita Anshar mendengar kabar tersebut, mereka datang untuk melihat kecantikannya. Nabi Shalallahu 'Alaihi wa Salam memergoki 'Aisyah keluar sambil menutupi dirinya serta berhati-hati (agar tidak dilihat Nabi) kemudian beliau masuk kerumah Haritsah bin Nu'man. Maka beliau menunggunya sampai 'Aisyah keluar. Maka tatkala beliau keluar, Rasulullah memegang bajunya seraya bertanya dengan tertawa, "bagaimana menurut mendapatmu wahai yang kemerah-merahan?"'Aisyah menjawab sementara cemburu menghiasi dirinya, "Aku lihat dia adalah wanita Yahudi."Maka Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Salam membantahnya dan bersabda:
"Jangan berkata begitu...karena sesungguhnya dia telah Islam dan bagus keislamannya."
Selanjutnya Shafiyyah berpindah ke rumah Nabi menimbulkan kecemburuan istri-istri beliau yang lain karena kecantikannya. Mereka juga mengucapkan selamat atas apa yang telah beliau raih. Bahkan dengan nada mengejek mereka mengatakan bahwa mereka adalah wanita-wanita Quraisy, wanita-wanita Arab sedangkan dirinya adalah wanita asing.
Bahkan suatu ketika sampai keluar dari lisan Hafshah kata-kata, "Anak seorang Yahudi" hingga menyebabkan beliau menangis. Tatkala itu Nabi masuk sedangkan Shafiyyah masih dalam keadaan menangis. Beliau bertanya, "Apa yang membuatmu menangis?" Beliau menjawab, Hafshah mengatakan kepadaku bahwa aku adalah anak seorang Yahudi. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
"Sesungguhnya engkau adalah seorang putri dari seorang Nabi dan pamanmu adalah seorang Nabi, suamipun juga seorang Nabi lantas dengan alasan apa dia mengejekmu?" Kemudian beliau bersabda kepada Hafshah, "Bertakwalah kepada Allah wahai Hafshah!"
Maka kata-kata Nabi itu menjadi penyejuk, keselamatan dan keamanan bagi Shafiyyah. Selanjutnya manakala dia mendengar ejekan dari istri Nabi yang lain maka diapun berkata: "Bagaimana bisa kalian lebih baik dariku, padahal suamiku adalah Muhammad, ayahku adalah Harun dan pamanku adalah Musa?"
Shafiyyah radhiallaahu 'anha wafat tatkala berumur sekitar 50 tahun, ketika masa pemerintahan Mu'awiyah. Beliau dikuburkan di Baqi' bersama Ummahatul Mukminin. Semoga Allah meridhai mereka semua.
***
Minggu, 02 Mei 2010
keguguran jilid-2
***
Diawali sakit di perut kiri bagian bawah sepanjang hari Jum'at kemarin
Flek sesaat sebelum masuk ruang periksa dokter
Syukurlah darah itu keluar justru saat saya hendak periksa
Hingga saya gak perlu ketakutan berlama-lama
***
Di ruang periksa:
Kantung kehamilannya ada tiga...
Kalau jadi semua, sebenernya bakal kembar tiga!!
Tapi kantung itu kecil-kecil, dan satu diantaranya terlihat ada janin tak berdenyut.
Mati.
Ini missed abortion, dokter bilang.
Bukan hamil anggur Dok?
Bukan..
Bukan juga blighted ovum, lanjutnya.
Hmm.. blighted ovum pernah saya googling
Tapi missed abortion.. apa pula itu???
Sperma dan ovum yang ketemu sedang gak bagus, papar dokter.
Spermanya hampir mati, tapi keburu ketemu ovum.
Atau sebaliknya.
Ho..bukankah itu termasuk blighted ovum?
Entahlah.. terlalu awam bagi saya untuk berpikir jauh.
Dikeluarkan saja.
Besok bisa kuret jam 7 pagi, dan tiga jam sebelumnya puasa dulu.
Atau saya kasih tablet, resikonya sakit luar biasa.
Terserah ibu kuat apa tidak.
Bagusnya apa ya dok?
Yaaa.. itu cuma beda prosedur saja. Kalo kuret kan semacam dikerok.. kalo pake tablet ya alami...tapi ya sakitnya itu...
Biaya?
Itu tanya saja ke suster di luar.
Hmmm....
Ini pengantar untuk operasi besok, atau ini saya beri juga resep tabletnya.
Silahkan dipertimbangkan.
Gimana ya?
Terserah aja.. jawab suamiku.
****
Biayanya?
Anestesi atau enggak Bu?
Duhhh... tanpa anestesi apa rasanya? Mungkin anestesi lokal atau total gitu kali ya.
Dua-duanya deh.. berapa?
Dengan anestesi 3,1 jutaan
Tanpa anestesi 2,2 jutaan
Gak masalah.
Tapi kok ya pengennya yang spontan dan alami alami saja...
Secara belum ada dalam sejarah kehamilan saya pake acara operasi.
Keguguran pertama spontan.
Arif Sofi lahir spontan pula.
Sudahlah tebus resep saja.
Harga obat Rp.30 ribu per tablet.
Semuanya 6 tablet, diminum 2 kali sehari.
Beres-beres rumah dulu .. ngungsi ke rumah mamah aja deh.
Biar berdarah-darah di sana.
Bakal sakit banget tea pan ya... heuheu... ngerjain mamah lagi.
Biar anak dan suamiku keurus gitu...
Jam tujuh malam obat diminum.
Reaksinya luar biasa.
Satu jam kemudian terasa ada kontraksi hebat.
Seperti biasanya saya sakit haid dan melahirkan,
pasti diiringi muntah-muntah.
Setelah muntah, lumayan lega.
Bisa tidur.
Bangun jam 3, masih agak sakit.
Jam 6 rasanya ada kontraksi lagi.
Jam 7 pagi.. terasa ada sesuatu yang keluar dari jalan lahir...
saya ke kamar mandi, dan sesuatu itu jatuh ke lantai.
berupa jaringan tak berbentuk sebesar tiga jari tangan dirapatkan.
InnaliLlahii wa inna ilaihi raaji'uun...
Rupanya ini calon buah hatiku...
Tak apalah nak..
Ini sekedar episode hidup yang harus saya jalani.
Darinya saya sudah ambil banyak ilmu dan hikmahnya.
Gak apa-apa.
Memang apapun yang saya dapat tak pernah jadi milik saya selamanya.
Kecuali hanya ilmu, hikmah, pahala, dan dosanya saja yang bisa saya miliki.
Semoga dirimu jadi penggugur dosaku Nak..
Dua malaikat kecil yang entah seperti apa rupanya akan menyambut saya di syurgaNya.
Anakku yang pertama, dan anakku yang keempat ini.
Dan semoga Arif Sofi pun mengantar barokah Nya untuk saya.
Tabungan akhirat yang tak terhingga nilainya.
Asal saya ikhlas.
Insyaa Allah.
***
Janin itu sekarang sedang dikuburkan oleh suamiku di halaman belakang rumah.
Menyusul janin pertama saya yang bernasib serupa sembilan tahun lalu
Satu episode lagi sudah saya lalui.
Kita tunggu saja episode hidup selanjutnya ya?
BismiLlah.. hidup kan memang gini-gini aja. Kalo gak susah ya senang.
Tinggal gimana kita menyikapinya.
Caiyooooooooooooo.... !!!
Diawali sakit di perut kiri bagian bawah sepanjang hari Jum'at kemarin
Flek sesaat sebelum masuk ruang periksa dokter
Syukurlah darah itu keluar justru saat saya hendak periksa
Hingga saya gak perlu ketakutan berlama-lama
***
Di ruang periksa:
Kantung kehamilannya ada tiga...
Kalau jadi semua, sebenernya bakal kembar tiga!!
Tapi kantung itu kecil-kecil, dan satu diantaranya terlihat ada janin tak berdenyut.
Mati.
Ini missed abortion, dokter bilang.
Bukan hamil anggur Dok?
Bukan..
Bukan juga blighted ovum, lanjutnya.
Hmm.. blighted ovum pernah saya googling
Tapi missed abortion.. apa pula itu???
Sperma dan ovum yang ketemu sedang gak bagus, papar dokter.
Spermanya hampir mati, tapi keburu ketemu ovum.
Atau sebaliknya.
Ho..bukankah itu termasuk blighted ovum?
Entahlah.. terlalu awam bagi saya untuk berpikir jauh.
Dikeluarkan saja.
Besok bisa kuret jam 7 pagi, dan tiga jam sebelumnya puasa dulu.
Atau saya kasih tablet, resikonya sakit luar biasa.
Terserah ibu kuat apa tidak.
Bagusnya apa ya dok?
Yaaa.. itu cuma beda prosedur saja. Kalo kuret kan semacam dikerok.. kalo pake tablet ya alami...tapi ya sakitnya itu...
Biaya?
Itu tanya saja ke suster di luar.
Hmmm....
Ini pengantar untuk operasi besok, atau ini saya beri juga resep tabletnya.
Silahkan dipertimbangkan.
Gimana ya?
Terserah aja.. jawab suamiku.
****
Biayanya?
Anestesi atau enggak Bu?
Duhhh... tanpa anestesi apa rasanya? Mungkin anestesi lokal atau total gitu kali ya.
Dua-duanya deh.. berapa?
Dengan anestesi 3,1 jutaan
Tanpa anestesi 2,2 jutaan
Gak masalah.
Tapi kok ya pengennya yang spontan dan alami alami saja...
Secara belum ada dalam sejarah kehamilan saya pake acara operasi.
Keguguran pertama spontan.
Arif Sofi lahir spontan pula.
Sudahlah tebus resep saja.
Harga obat Rp.30 ribu per tablet.
Semuanya 6 tablet, diminum 2 kali sehari.
Beres-beres rumah dulu .. ngungsi ke rumah mamah aja deh.
Biar berdarah-darah di sana.
Bakal sakit banget tea pan ya... heuheu... ngerjain mamah lagi.
Biar anak dan suamiku keurus gitu...
Jam tujuh malam obat diminum.
Reaksinya luar biasa.
Satu jam kemudian terasa ada kontraksi hebat.
Seperti biasanya saya sakit haid dan melahirkan,
pasti diiringi muntah-muntah.
Setelah muntah, lumayan lega.
Bisa tidur.
Bangun jam 3, masih agak sakit.
Jam 6 rasanya ada kontraksi lagi.
Jam 7 pagi.. terasa ada sesuatu yang keluar dari jalan lahir...
saya ke kamar mandi, dan sesuatu itu jatuh ke lantai.
berupa jaringan tak berbentuk sebesar tiga jari tangan dirapatkan.
InnaliLlahii wa inna ilaihi raaji'uun...
Rupanya ini calon buah hatiku...
Tak apalah nak..
Ini sekedar episode hidup yang harus saya jalani.
Darinya saya sudah ambil banyak ilmu dan hikmahnya.
Gak apa-apa.
Memang apapun yang saya dapat tak pernah jadi milik saya selamanya.
Kecuali hanya ilmu, hikmah, pahala, dan dosanya saja yang bisa saya miliki.
Semoga dirimu jadi penggugur dosaku Nak..
Dua malaikat kecil yang entah seperti apa rupanya akan menyambut saya di syurgaNya.
Anakku yang pertama, dan anakku yang keempat ini.
Dan semoga Arif Sofi pun mengantar barokah Nya untuk saya.
Tabungan akhirat yang tak terhingga nilainya.
Asal saya ikhlas.
Insyaa Allah.
***
Janin itu sekarang sedang dikuburkan oleh suamiku di halaman belakang rumah.
Menyusul janin pertama saya yang bernasib serupa sembilan tahun lalu
Satu episode lagi sudah saya lalui.
Kita tunggu saja episode hidup selanjutnya ya?
BismiLlah.. hidup kan memang gini-gini aja. Kalo gak susah ya senang.
Tinggal gimana kita menyikapinya.
Caiyooooooooooooo.... !!!
Senin, 12 April 2010
ilmu penting, ikhlas lebih penting
***
(Judul di atas itu mah.. ide saya aja.. hehe..)
Saat ini via dunia maya begitu banyak saya lihat para perempuan yang begitu antusias, rajin mencari ilmu, dan sangat menikmati perannya sebagai ibu bagi anak-anaknya.
AlhamduliLlah.. semoga ini pertanda generasi yang akan datang lebih kuat dari kita, baik fisik maupun imannya. Tidak sebobrok hari ini, saat negara dikuasai orang-orang yang entah di mana tanggung jawabnya, yang entah mereka dididik seperti apa dan oleh ibu macam apa.
Namun tak sedikit saya lihat juga manusia-manusia yang begitu baik akhlaqnya, begitu cerdas pemikirannya, begitu mantap jasmaninya.
Katakanlah satu saja contoh.. seorang teman seangkatan saya yang sudah menyelesaikan PhDnya di Jepang, dan kabarnya dia akan mengejar gelar profesor pula. Seorang ikhwan yang saya kenal baik akhlaqnya.
Mamahku tau ibunya, karena sempat bertemu muka. Kata mamah, Ibu dari ikhwan itu adalah seorang ibu yang hanya bisa berbahasa Jawa. Sama sekali tak bisa berbahasa Indonesia (apalagi bahasa Inggris, hehe). Berpakaian kebaya sederhana, dan secara fisik tampak sangat biasa-biasa saja. Rumahnya di pelosok. Kampung jawa asli. Belakangan dengar pula cerita kalau teman saya ini sempat hidup berkekurangan. Mengandalkan beasiswa saja untuk bisa sekolah.
Logika akan berkata, mana mungkin dari seorang ibu yang seperti 'itu' akan lahir sesosok manusia cerdas dan berakhlaq tinggi seperti teman saya 'sang calon profesor elektro'?
Akhirnya disadarilah bila pada hakikatnya Allah lah yang mendidik anak-anak kita.
Seorang ibu yang ikhlas dalam mengurus anak-anaknya, tak pernah berkeluh kesah, memasakkan makanan yang halal bagi keluarganya, tak berani bermaksiat karena khawatir dicontoh anak-anaknya, selalu berdo'a untuk kebaikan putra-putrinya... betapa Allah akan sayang pada ibu yang seperti ini, dan pasti Dia akan melimpahkan apapun yang diminta sang ibu, tanpa harus ditahan-tahan lagi.
Saya, yang diberi kesempatan, fasilitas, dan kecerdasan yang cukup untuk menimba ilmu... standarnya pasti beda dengan ibunya teman saya yang tadi.
Bila saya oon, gak pernah search apapun di internet, dan malas buka buku untuk meningkatkan kualitas anak-anakku... dan saya keukeuh bilang: yang penting do'a dan ikhlas?
Ahahaha... kebayang ya para malaikat pada ngetawain saya... :D
Jadi? Kuncinya memang tetap usaha dengan tenaga yang ada, melakukan yang terbaik dengan apa yang kita punya, mencari ilmu yang banyak dengan kapasitas kecerdasan yang dimiliki, diiringi dengan do'a dan serahkan pada Allah..
Ya.. kuncinya memang tawakkal.
Semoga anak-anakku selalu diberkahi olehMu, Allah...
walau saya terseok-seok begini agar bisa jadi ibu yang baik untuk mereka =(
***
(Judul di atas itu mah.. ide saya aja.. hehe..)
Saat ini via dunia maya begitu banyak saya lihat para perempuan yang begitu antusias, rajin mencari ilmu, dan sangat menikmati perannya sebagai ibu bagi anak-anaknya.
AlhamduliLlah.. semoga ini pertanda generasi yang akan datang lebih kuat dari kita, baik fisik maupun imannya. Tidak sebobrok hari ini, saat negara dikuasai orang-orang yang entah di mana tanggung jawabnya, yang entah mereka dididik seperti apa dan oleh ibu macam apa.
Namun tak sedikit saya lihat juga manusia-manusia yang begitu baik akhlaqnya, begitu cerdas pemikirannya, begitu mantap jasmaninya.
Katakanlah satu saja contoh.. seorang teman seangkatan saya yang sudah menyelesaikan PhDnya di Jepang, dan kabarnya dia akan mengejar gelar profesor pula. Seorang ikhwan yang saya kenal baik akhlaqnya.
Mamahku tau ibunya, karena sempat bertemu muka. Kata mamah, Ibu dari ikhwan itu adalah seorang ibu yang hanya bisa berbahasa Jawa. Sama sekali tak bisa berbahasa Indonesia (apalagi bahasa Inggris, hehe). Berpakaian kebaya sederhana, dan secara fisik tampak sangat biasa-biasa saja. Rumahnya di pelosok. Kampung jawa asli. Belakangan dengar pula cerita kalau teman saya ini sempat hidup berkekurangan. Mengandalkan beasiswa saja untuk bisa sekolah.
Logika akan berkata, mana mungkin dari seorang ibu yang seperti 'itu' akan lahir sesosok manusia cerdas dan berakhlaq tinggi seperti teman saya 'sang calon profesor elektro'?
Akhirnya disadarilah bila pada hakikatnya Allah lah yang mendidik anak-anak kita.
Seorang ibu yang ikhlas dalam mengurus anak-anaknya, tak pernah berkeluh kesah, memasakkan makanan yang halal bagi keluarganya, tak berani bermaksiat karena khawatir dicontoh anak-anaknya, selalu berdo'a untuk kebaikan putra-putrinya... betapa Allah akan sayang pada ibu yang seperti ini, dan pasti Dia akan melimpahkan apapun yang diminta sang ibu, tanpa harus ditahan-tahan lagi.
Saya, yang diberi kesempatan, fasilitas, dan kecerdasan yang cukup untuk menimba ilmu... standarnya pasti beda dengan ibunya teman saya yang tadi.
Bila saya oon, gak pernah search apapun di internet, dan malas buka buku untuk meningkatkan kualitas anak-anakku... dan saya keukeuh bilang: yang penting do'a dan ikhlas?
Ahahaha... kebayang ya para malaikat pada ngetawain saya... :D
Jadi? Kuncinya memang tetap usaha dengan tenaga yang ada, melakukan yang terbaik dengan apa yang kita punya, mencari ilmu yang banyak dengan kapasitas kecerdasan yang dimiliki, diiringi dengan do'a dan serahkan pada Allah..
Ya.. kuncinya memang tawakkal.
Semoga anak-anakku selalu diberkahi olehMu, Allah...
walau saya terseok-seok begini agar bisa jadi ibu yang baik untuk mereka =(
***
Minggu, 11 April 2010
berdo'a aja ... ape lagi...
***
Ungkapan perasaan saat menikmati kehamilan memang jangan di status fb deh. Di blog aja, biar sedikit yang baca... he2.
Tak perlulah saya pasang status "mual gini ya"... atau "ngidam rujak".. atau "kalo hamil banyak yang sayang"... wew...
Maklumlah di list friend saya tak sedikit teman yang sedang berharap memiliki anak. Yang satupun mereka belum punya, atau untuk dapet anak kedua yang susah buangetttt, atau juga berharap anak ketiga (walau tidak sehebat harapan untuk anak pertama dan kedua).
Kalau yang ngarep anak keempat sih...gak ada (minimal tidak terungkap) :P
Untuk pernyataan positif hamil.. saya pasang status biar banyak yang mendo'akan. Apapun do'anya yang baik, siapapun yang mendo'akan, tak peduli do'anya tulus atau tidak, tak peduli dia sungguh-sungguh atau tidak, yang jelas saya mengamininya dengan tingkat kekhusyuan yang tinggi. Karena kita tidak tahu, do'a yang mana yang saat itu dikabulkanNya.
AlhamduliLlah banyak banget yang mendo'akan. Setidaknya lebih dari 40 orang =)
Allahumma Amiin
***
Dengan diawali hasil pemeriksaan USG: suspect Mola Hidatidosa alias hamil anggur, saya mengawali kehamilan ini dengan ujian kepasrahan. Gelisah ada, tapi akhirnya hanya bisa berharap yang terbaik.
Saya sengaja pasang status fb juga untuk hal-hal seperti ini. Bukan apa-apa, hanya ingin dapet share pengalaman dari teman-teman. Yang alhamduliLlah, banyak yang sekedar berkomentar, tapi tak sedikit yang menyarankan sesuatu, hingga satu dua orang sengaja mengirim message via inbox ataupun menelpon saya langsung.
SubhanaLlah, akhirnya saya banyak belajar tentang berbagai kegagalan kehamilan. Satu sisi membuat saya semakin cemas, satu sisi lain membuat saya terbelalak, ternyata teman-teman saya punya banyak pengalaman menyedihkan dalam hal ini dan saya tidak tau. Serasa paling menderita sedunia, padahal teman-teman saya sudah melewatinya.
Kebetulan baru baca buku Fauzhil Adhim, yang di antara kalimat-kalimat indahnya beliau bilang .. "kalaupun Allah menghendaki anak cuma satu (padahal kita ingin lebih) mudah-mudahan yang satu itu membawa barokah yang banyak"
Akhirnya saya berpikir seperti itu. "kalaupun Allah menghendaki anak saya hanya Arif dan Sofi, maka mudah-mudahan kedua anakku itu membawa barokah yang banyak, karena kita tidak tahu, dari anak yang manakah Allah memberi barokah paling banyak untuk kita. Dan kalaupun anak ketiga ini hadir, semoga dia jadi anak shalih yang menambah barokah dari Nya untuk keluarga kami, bukan sebaliknya"
Kemudian setelah buku Positive Parenting itu tamat, lanjut baca bukunya Asma Nadia, Catatan Hati di Setiap Sujudku.. yang bercerita banyak tentang do'a. Membuat saya ingin setiap detik ini berdo'a. Sayang banget kalau saya melewatkan do'a.
Hingga hati saya kini tenang dan pasrah saja.. alhamduliLlah, hanya dengan mengusap-usap perut saya yang mulai terasa membesar ini, sambil melantunkan do'a. Do'a apa saja yang terlintas, dengan bahasa sendiri, dengan bahasa yang biasa-biasa saja, tapi dengan keyakinan tinggi bahwa Dia akan mengabulkannya. Cepat ataupun lambat -- dengan sesuatu yang saya minta atau diganti dengan yang lebih baik -- dikabulkan di dunia ataupun di akhirat -- yang mana saja mangga, tapi pasti akan dikabulkan oleh Nya.
Semoga Allah memberikan kebaikan pada janinku...kesehatan yang sempurna untuk fisik dan akhlaqnya...bila lahir kelak, semoga tumbuh menjadi anak yang shalih... diiringi do'a sapu jagat untuk pasangan dan keturunan, agar mereka jadi qurrata a'yun, dan pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa.
Heu.. setelah berdo'a... legaaaaaaaaaaaaaaaaaa pisan =)
AlhamduliLlah setelah pemeriksaan kedua, pernyataan hamil anggur tidak saya dengar lagi. Hanya ungkapan "Ya, ibu benar hamil.. yang ini kantung kehamilannya"
SubhanaLlah...
***
Ah ya.. ada sesuatu permohonan saya yang lain, yang membuat saya malu sama Allah.
Sebelumnya sempet mengeluh, sempet nangis-nangis, sempet putus asa.
AlhamduliLlah, masih ingat untuk berdo'a.
Hanya melewati satu malam.. dan Dia mengabulkannya !!!!
Bukaaaan.. bukan masalah kehamilanku, bukan masalah suspect Mola itu...
tapi sebuah keinginan saya yang lain. Yang duniawi pisan malah... heuheu... sampe maluuuu saya ceritanya juga. Gak akan bilang siapa-siapa ah...biar ini rahasia saya dan Allah aja.
Dan sodara-sodara, Allah mengabulkan permintaanku secara bertubi-tubi dalam tiga hari berturut-turut!!
Setiap saya dapat, maka saya merasa bersyukur sekaligus tertampar malu karena saya pernah berputus asa.
Rasanya tiap menerimanya, Allah bilang
"Niiih yang kamu mau!! Seenaknya aja kamu ngerasa AKU gak akan ngasih!!!"
Huuhuhuuuu... istighfar!.. istighfar!
jangan pernah lagi kita berputus asa dari kasih sayang NYA, saudaraku !!!
***
Ungkapan perasaan saat menikmati kehamilan memang jangan di status fb deh. Di blog aja, biar sedikit yang baca... he2.
Tak perlulah saya pasang status "mual gini ya"... atau "ngidam rujak".. atau "kalo hamil banyak yang sayang"... wew...
Maklumlah di list friend saya tak sedikit teman yang sedang berharap memiliki anak. Yang satupun mereka belum punya, atau untuk dapet anak kedua yang susah buangetttt, atau juga berharap anak ketiga (walau tidak sehebat harapan untuk anak pertama dan kedua).
Kalau yang ngarep anak keempat sih...gak ada (minimal tidak terungkap) :P
Untuk pernyataan positif hamil.. saya pasang status biar banyak yang mendo'akan. Apapun do'anya yang baik, siapapun yang mendo'akan, tak peduli do'anya tulus atau tidak, tak peduli dia sungguh-sungguh atau tidak, yang jelas saya mengamininya dengan tingkat kekhusyuan yang tinggi. Karena kita tidak tahu, do'a yang mana yang saat itu dikabulkanNya.
AlhamduliLlah banyak banget yang mendo'akan. Setidaknya lebih dari 40 orang =)
Allahumma Amiin
***
Dengan diawali hasil pemeriksaan USG: suspect Mola Hidatidosa alias hamil anggur, saya mengawali kehamilan ini dengan ujian kepasrahan. Gelisah ada, tapi akhirnya hanya bisa berharap yang terbaik.
Saya sengaja pasang status fb juga untuk hal-hal seperti ini. Bukan apa-apa, hanya ingin dapet share pengalaman dari teman-teman. Yang alhamduliLlah, banyak yang sekedar berkomentar, tapi tak sedikit yang menyarankan sesuatu, hingga satu dua orang sengaja mengirim message via inbox ataupun menelpon saya langsung.
SubhanaLlah, akhirnya saya banyak belajar tentang berbagai kegagalan kehamilan. Satu sisi membuat saya semakin cemas, satu sisi lain membuat saya terbelalak, ternyata teman-teman saya punya banyak pengalaman menyedihkan dalam hal ini dan saya tidak tau. Serasa paling menderita sedunia, padahal teman-teman saya sudah melewatinya.
Kebetulan baru baca buku Fauzhil Adhim, yang di antara kalimat-kalimat indahnya beliau bilang .. "kalaupun Allah menghendaki anak cuma satu (padahal kita ingin lebih) mudah-mudahan yang satu itu membawa barokah yang banyak"
Akhirnya saya berpikir seperti itu. "kalaupun Allah menghendaki anak saya hanya Arif dan Sofi, maka mudah-mudahan kedua anakku itu membawa barokah yang banyak, karena kita tidak tahu, dari anak yang manakah Allah memberi barokah paling banyak untuk kita. Dan kalaupun anak ketiga ini hadir, semoga dia jadi anak shalih yang menambah barokah dari Nya untuk keluarga kami, bukan sebaliknya"
Kemudian setelah buku Positive Parenting itu tamat, lanjut baca bukunya Asma Nadia, Catatan Hati di Setiap Sujudku.. yang bercerita banyak tentang do'a. Membuat saya ingin setiap detik ini berdo'a. Sayang banget kalau saya melewatkan do'a.
Hingga hati saya kini tenang dan pasrah saja.. alhamduliLlah, hanya dengan mengusap-usap perut saya yang mulai terasa membesar ini, sambil melantunkan do'a. Do'a apa saja yang terlintas, dengan bahasa sendiri, dengan bahasa yang biasa-biasa saja, tapi dengan keyakinan tinggi bahwa Dia akan mengabulkannya. Cepat ataupun lambat -- dengan sesuatu yang saya minta atau diganti dengan yang lebih baik -- dikabulkan di dunia ataupun di akhirat -- yang mana saja mangga, tapi pasti akan dikabulkan oleh Nya.
Semoga Allah memberikan kebaikan pada janinku...kesehatan yang sempurna untuk fisik dan akhlaqnya...bila lahir kelak, semoga tumbuh menjadi anak yang shalih... diiringi do'a sapu jagat untuk pasangan dan keturunan, agar mereka jadi qurrata a'yun, dan pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa.
Heu.. setelah berdo'a... legaaaaaaaaaaaaaaaaaa pisan =)
AlhamduliLlah setelah pemeriksaan kedua, pernyataan hamil anggur tidak saya dengar lagi. Hanya ungkapan "Ya, ibu benar hamil.. yang ini kantung kehamilannya"
SubhanaLlah...
***
Ah ya.. ada sesuatu permohonan saya yang lain, yang membuat saya malu sama Allah.
Sebelumnya sempet mengeluh, sempet nangis-nangis, sempet putus asa.
AlhamduliLlah, masih ingat untuk berdo'a.
Hanya melewati satu malam.. dan Dia mengabulkannya !!!!
Bukaaaan.. bukan masalah kehamilanku, bukan masalah suspect Mola itu...
tapi sebuah keinginan saya yang lain. Yang duniawi pisan malah... heuheu... sampe maluuuu saya ceritanya juga. Gak akan bilang siapa-siapa ah...biar ini rahasia saya dan Allah aja.
Dan sodara-sodara, Allah mengabulkan permintaanku secara bertubi-tubi dalam tiga hari berturut-turut!!
Setiap saya dapat, maka saya merasa bersyukur sekaligus tertampar malu karena saya pernah berputus asa.
Rasanya tiap menerimanya, Allah bilang
"Niiih yang kamu mau!! Seenaknya aja kamu ngerasa AKU gak akan ngasih!!!"
Huuhuhuuuu... istighfar!.. istighfar!
jangan pernah lagi kita berputus asa dari kasih sayang NYA, saudaraku !!!
***
Sabtu, 27 Maret 2010
alhamduliLlah.. anak ke-3... :)
***
Ternyata menyambut anak ke-3 sama bahagianya dengan sambutan saya pada Arif dan Sofi.
AlhamduliLLaah... Ternyata Allah masih memberi saya kesempatan untuk dititipi satu anak lagi.
Baru aja 2 minggu lalu saya dengar uraian seorang psikolog di sekolahnya Sofi yang bikin saya cirambay. Nyeselllll..... kenapa gak memanfaatkan masa kehamilan dan tahun-tahun pertama anakku untuk bisa lebih berkualitas lagi mendidik mereka.
Kenapa gak dari dulu saya tau ilmu A.. ilmu B... dst... (sedikit, sederhana, tapi begitu ingin saya praktekkan)
Eh.. taunya.. dikasih kesempatan, berarti memang ilmunya harus diamalkan ya...
Memperoleh anak, untuk sebagian pasangan amat mudah, dan sebagian lagi teramat susah.
Allah yang ngatur semuanya, dan syariatnya kita cuma bisa berusaha.
Saya sendiri .. ya susah-susah gampang. Kerasa banget memang diatur sama Allah. Diberi pada saat yang tepat.
Bila saya berharap, saya bisa atur-atur tanggal. Ada saat di mana saya tau kalau saat itu saya dalam masa subur. Terasa sakit di rahim pada tanggal tertentu. Hanya satu hari terasa sakitnya, dan .. ehm... ternyata terbukti kalau saat itu memang masa subur saya ;)
Dan kerasanya hamil juga sama. Sakit lagi di bagian rahim pada tanggal saat saya mestinya haid. Tapi gak keluar-keluar darah haidnya, alias 'telat'.
Ditestpack negatif juga tetep aja perasaan saya bilang kalau saya hamil.
Testpack negatif yaitu ketika garis yang muncul hanya satu. Satunya lagi memang muncul, tapi buram, tidak sejelas pembandingnya.
Testpack positif, dua garisnya terlihat amat sangat jelas. Sama jelasnya.
Jadi ke pelanggan apotek pun bila ada yang bertanya: "Muncul dua garis Neng, tapi yang satunya lagi gak jelas, saya hamil gak ya?"
maka saya sarankan untuk test lagi beberapa hari berikutnya bila masih telat. Karena yang demikian itu artinya (masih) negatif. Tergantung kadar hcg yang diukur.
***
Yah.. ini mah bagi-bagi sedikit pengalaman aja.
Udah kepentok males nulis lagi nih... daripada disimpan draft, mending publish aja dulu.
***
Ternyata menyambut anak ke-3 sama bahagianya dengan sambutan saya pada Arif dan Sofi.
AlhamduliLLaah... Ternyata Allah masih memberi saya kesempatan untuk dititipi satu anak lagi.
Baru aja 2 minggu lalu saya dengar uraian seorang psikolog di sekolahnya Sofi yang bikin saya cirambay. Nyeselllll..... kenapa gak memanfaatkan masa kehamilan dan tahun-tahun pertama anakku untuk bisa lebih berkualitas lagi mendidik mereka.
Kenapa gak dari dulu saya tau ilmu A.. ilmu B... dst... (sedikit, sederhana, tapi begitu ingin saya praktekkan)
Eh.. taunya.. dikasih kesempatan, berarti memang ilmunya harus diamalkan ya...
Memperoleh anak, untuk sebagian pasangan amat mudah, dan sebagian lagi teramat susah.
Allah yang ngatur semuanya, dan syariatnya kita cuma bisa berusaha.
Saya sendiri .. ya susah-susah gampang. Kerasa banget memang diatur sama Allah. Diberi pada saat yang tepat.
Bila saya berharap, saya bisa atur-atur tanggal. Ada saat di mana saya tau kalau saat itu saya dalam masa subur. Terasa sakit di rahim pada tanggal tertentu. Hanya satu hari terasa sakitnya, dan .. ehm... ternyata terbukti kalau saat itu memang masa subur saya ;)
Dan kerasanya hamil juga sama. Sakit lagi di bagian rahim pada tanggal saat saya mestinya haid. Tapi gak keluar-keluar darah haidnya, alias 'telat'.
Ditestpack negatif juga tetep aja perasaan saya bilang kalau saya hamil.
Testpack negatif yaitu ketika garis yang muncul hanya satu. Satunya lagi memang muncul, tapi buram, tidak sejelas pembandingnya.
Testpack positif, dua garisnya terlihat amat sangat jelas. Sama jelasnya.
Jadi ke pelanggan apotek pun bila ada yang bertanya: "Muncul dua garis Neng, tapi yang satunya lagi gak jelas, saya hamil gak ya?"
maka saya sarankan untuk test lagi beberapa hari berikutnya bila masih telat. Karena yang demikian itu artinya (masih) negatif. Tergantung kadar hcg yang diukur.
***
Yah.. ini mah bagi-bagi sedikit pengalaman aja.
Udah kepentok males nulis lagi nih... daripada disimpan draft, mending publish aja dulu.
***
Senin, 08 Maret 2010
traktir yo
***
Gak ingat sejak kapan saya jadi suka berwisata kuliner. Gak nyengajain wisata sih biasanya. Cuma karena kepepet laper di jalan, buka bersama, atau ditraktir temen.
Acara traktir mentraktir ini tujuan utamanya biasanya dalam rangka cari tempat ngobrol yang enak. Yang kedua buat bagi-bagi rejeki, dan yang ketiga dalam rangka ulang tahun.. *halaaaah.. wayah kieu ulang taun.. hehe.
Yang jelas, beneran deh.. Bandung memang gak ada duanya dalam urusan kuliner.
Seperti yang saya lakukan .. dua hari lalu dan tadi.
Makan... makan... dan makan...
Dua hari lalu memang karena pengen ngedate aja sama seseorang. Cari tempat makan yang asik... Makannya 10 menit, ngobrolnya hampir satu jam.
Tadi.. karena pengen jalan-jalan aja sama seseorang lagi (beda orang tentunya).. cari tempat makan enak, dapet yang pas... hmmm....
Saya terkadang gak terlalu bisa menilai enak gak nya makanan sih, saya hanya bisa menilai kesannya saja dalam hati, setelah kita berlalu dari tempat makan. Kesan yang disokong oleh tiga pilar.. *beu...
Yaitu: citarasa makanannya, suasana tempat makannya, dan siapa teman makannya.
Dan yang paling penting buat saya, adalah yang nomor tiga yaitu
dengan SIAPA kita makan =)
***
Gak ingat sejak kapan saya jadi suka berwisata kuliner. Gak nyengajain wisata sih biasanya. Cuma karena kepepet laper di jalan, buka bersama, atau ditraktir temen.
Acara traktir mentraktir ini tujuan utamanya biasanya dalam rangka cari tempat ngobrol yang enak. Yang kedua buat bagi-bagi rejeki, dan yang ketiga dalam rangka ulang tahun.. *halaaaah.. wayah kieu ulang taun.. hehe.
Yang jelas, beneran deh.. Bandung memang gak ada duanya dalam urusan kuliner.
Seperti yang saya lakukan .. dua hari lalu dan tadi.
Makan... makan... dan makan...
Dua hari lalu memang karena pengen ngedate aja sama seseorang. Cari tempat makan yang asik... Makannya 10 menit, ngobrolnya hampir satu jam.
Tadi.. karena pengen jalan-jalan aja sama seseorang lagi (beda orang tentunya).. cari tempat makan enak, dapet yang pas... hmmm....
Saya terkadang gak terlalu bisa menilai enak gak nya makanan sih, saya hanya bisa menilai kesannya saja dalam hati, setelah kita berlalu dari tempat makan. Kesan yang disokong oleh tiga pilar.. *beu...
Yaitu: citarasa makanannya, suasana tempat makannya, dan siapa teman makannya.
Dan yang paling penting buat saya, adalah yang nomor tiga yaitu
dengan SIAPA kita makan =)
***
Minggu, 07 Maret 2010
seringkali saya hanya ingin mendengar
***
"Ayolah cerita.. cerita apa aja sama saya"
Terdengar aneh. Tapi itu adalah kalimat yang sering *secara langsung ataupun tidak* saya lontarkan pada teman-teman dekat saya.
Ada yang sampai bilang gini...
"Duh...Teh.. saya selama ini menghindari Teteh loh"
"Hah? Kenapa?", tanya saya super heran. Memang akhir-akhir ini dia sering tak tampak di online friend list YM saya.
"Takut saya curhat", kata dia diakhiri dengan yahoo emoticon laughing.
Hahaha.. akhirnya ketemu online lagi sore itu, ngaburudul juga cerita dia tanpa saya mampu menghentikan curahan banjir bandang dari hatinya.
Berbagai kisah yang entah benar atau tidak, terlontar begitu saja dari teman-teman dekat saya, 'adik-adik' saya, baik saya minta maupun tidak. Sementara saya sendiri tidak banyak bicara. Saya sering tak berminat menceritakan kisah hidup saya. Jujur saja, saya hidup hampir tanpa masalah berarti, yang kadang membuat saya sendiri cemas, apakah Allah memperhatikan saya atau tidak.
Segera saya tepis pemikiran 'buruk' saya tentang-Nya, beralih pada pemikiran bahwa kenikmatan dunia itu justru ujian terberat seseorang dalam hidup. Masalah besar saya justru karena saya tak punya masalah!! (atau sebetulnya karena masalah berat pun tak pernah saya ambil pusing?? Wallahu a'lam...)
Tahukah kalian, sahabatku..
Mendengar berarti membuat saya bisa bercermin..
Mendengar berarti membuat saya bisa belajar..
Mendengar berarti membuat saya bisa meringankan beban orang lain walau sedikit..
Mendengar berarti membuat saya merasa bisa dipercaya dan dibutuhkan..
Mendengar kadang bisa menyelesaikan masalah saya sendiri walau tak sepenuhnya..
Saya sering rindu mendengar, rindu untuk bisa berpikir untuk orang lain (walau dia bilang saya sotoy).. tapi memang saya senang mendengar orang lain berbicara banyak dan saya memberi sedikit saja tanggapan - *bisa juga banyak deng.. hehe..
Jadi jangan kaget bila saya bilang pada salah satu di antara kalian...
"Saya kangen dikacapraki olehmu"
Itu tak berarti saya memaksamu untuk bercerita. Saya hanya ungkapkan apa yang ada di hati saya. Kerinduan itu. Di balik itu sebetulnya saya tak pernah mau mendengar cerita dari orang yang terpaksa bercerita hanya untuk menghibur saya. Dan jelas-jelas saya tak pernah mau mendengar cerita dari orang yang sudah berjanji takkan pernah bercerita lagi sama saya. Saya hanya ingin mereka tau, bahwa mereka tak pernah menyusahkan saya sedikitpun dengan cerita-ceritanya, dengan segala permohonan bantuannya.
Tak hanya mendengar yang butuh keikhlasan, sahabatku...
Bercerita pun pasti butuh keikhlasan.
***
"Ayolah cerita.. cerita apa aja sama saya"
Terdengar aneh. Tapi itu adalah kalimat yang sering *secara langsung ataupun tidak* saya lontarkan pada teman-teman dekat saya.
Ada yang sampai bilang gini...
"Duh...Teh.. saya selama ini menghindari Teteh loh"
"Hah? Kenapa?", tanya saya super heran. Memang akhir-akhir ini dia sering tak tampak di online friend list YM saya.
"Takut saya curhat", kata dia diakhiri dengan yahoo emoticon laughing.
Hahaha.. akhirnya ketemu online lagi sore itu, ngaburudul juga cerita dia tanpa saya mampu menghentikan curahan banjir bandang dari hatinya.
Berbagai kisah yang entah benar atau tidak, terlontar begitu saja dari teman-teman dekat saya, 'adik-adik' saya, baik saya minta maupun tidak. Sementara saya sendiri tidak banyak bicara. Saya sering tak berminat menceritakan kisah hidup saya. Jujur saja, saya hidup hampir tanpa masalah berarti, yang kadang membuat saya sendiri cemas, apakah Allah memperhatikan saya atau tidak.
Segera saya tepis pemikiran 'buruk' saya tentang-Nya, beralih pada pemikiran bahwa kenikmatan dunia itu justru ujian terberat seseorang dalam hidup. Masalah besar saya justru karena saya tak punya masalah!! (atau sebetulnya karena masalah berat pun tak pernah saya ambil pusing?? Wallahu a'lam...)
Tahukah kalian, sahabatku..
Mendengar berarti membuat saya bisa bercermin..
Mendengar berarti membuat saya bisa belajar..
Mendengar berarti membuat saya bisa meringankan beban orang lain walau sedikit..
Mendengar berarti membuat saya merasa bisa dipercaya dan dibutuhkan..
Mendengar kadang bisa menyelesaikan masalah saya sendiri walau tak sepenuhnya..
Saya sering rindu mendengar, rindu untuk bisa berpikir untuk orang lain (walau dia bilang saya sotoy).. tapi memang saya senang mendengar orang lain berbicara banyak dan saya memberi sedikit saja tanggapan - *bisa juga banyak deng.. hehe..
Jadi jangan kaget bila saya bilang pada salah satu di antara kalian...
"Saya kangen dikacapraki olehmu"
Itu tak berarti saya memaksamu untuk bercerita. Saya hanya ungkapkan apa yang ada di hati saya. Kerinduan itu. Di balik itu sebetulnya saya tak pernah mau mendengar cerita dari orang yang terpaksa bercerita hanya untuk menghibur saya. Dan jelas-jelas saya tak pernah mau mendengar cerita dari orang yang sudah berjanji takkan pernah bercerita lagi sama saya. Saya hanya ingin mereka tau, bahwa mereka tak pernah menyusahkan saya sedikitpun dengan cerita-ceritanya, dengan segala permohonan bantuannya.
Tak hanya mendengar yang butuh keikhlasan, sahabatku...
Bercerita pun pasti butuh keikhlasan.
***
Selasa, 02 Maret 2010
habitatku habitatmu
***
Kalau ditelusuri, kenapa kita jadi seperti kita saat ini, sangat bisa jadi kalau lingkungan amat sangat mempengaruhi. Teman main waktu kecil, SD kita, SMP, SMA, kuliah, organisasi, hingga lingkungan RT RW.
Masih ingat siapa sahabat kita waktu kecil?
Saya ingat. Dini namanya. Saya memanggilnya teteh karena di atas saya satu tahun. Dia adalah lingkungan yang baik buat saya. Koleksi bukunya banyak, hingga saya senang sekali membaca. Anaknya juga lincah hingga permainan fisik apapun sering kami lakoni. Tentunya yang sering dimainkan anak perempuan pada saat itu.
Ingat waktu saya pulang ke rumah dengan sedih.
Mamah tanya, kenapa saya pulang.
Saya jawab, Teh Dini ke mesjid, ngaji.
Mamah usul, kenapa gak ikut ngaji sama Teh Dini?
Hmmm... bener-bener gak kepikiran sama saya. Dan waktu itu saya gak nyangka kalau saya udah boleh ngaji... hehe. Kirain harus nunggu sampai saya seusia Teh Dini, setahun lagi.
Dengan semangat, saat itu juga saya mandi sore dan dipakaikan baju panjang plus kerudung mamah yang dilipat sedemikian hingga bisa jadi kerudung saya.
Disambut gembira oleh teman-teman di masjid, juga Teh Ida, guru ngaji pertama saya, hingga saya kenal alif ba ta tsa dari beliau.
AlhamduliLlah...
Hingga SD saya bersahabat lekat dengan Teh Dini di lingkungan rumah.
***
Di SMP, saya ketemu teman sebangku, Della namanya.
Dia sahabat yang baik luar biasa.
Anaknya cerdas, dan tak pernah bisa saya kalahkan secara akademik kecuali pada saat terakhir EBTANAS, saya dapat NEM lebih besar darinya.
Dia selalu rengking satu, dan saya selalu rengking dua. Dan kami tak pernah berpisah bangku hingga kelas tiga SMP.
Dia putri dari seorang dosen UIN, yang terkenal kepandaian dan keshalihannya. Kalau saya ke rumahnya..wow.. tumpukan buku bertuliskan arab gundul dan berbagai buku-buku keagamaan memenuhi rumahnya. Benar-benar keluarga pembelajar sejati.
Kelas dua SMP Della mulai mengenakan jilbab. Saya belum.
Tapi saya memang mau seperti Della.
Rasanya belom faham juga kalau jilbab itu wajib. Tapi karena mamah mulai pakai, dan Della juga pakai, saya jadi pengen.
AlhamduliLLah, sejak saat itu, kelas 3 SMP, setahun setelah Della pakai jilbab, saya kenakan pula pakaian tertutup itu, walau pada zaman itu perempuan berkerudung masihlah langka.
***
Masuk SMA, jelaslah saya jadi makhluk 'aneh' dengan kerudung putih menempel di kepala. Tapi tahukah anda, jika hal itu ternyata menentukan arah hidup saya selanjutnya?
Dengan kerudung itu saya tiba-tiba 'dikerubuti' para ikhwan dan akhwat (baca: aktivis DKM) kakak kelas.
Malah binglas (pembimbing kelas) saya yang waktu itu amat sangat saya kagumi karena ... karena apa ya? ganteng kitu? nya lucu we lah pokonya..hihi.. sempat menulis catatan kecil di buku saya:
"Masuk DKM ya Ir.."
Wooooow... siapa yang tak berbunga-bunga ada seorang ikhwan kakak kelas yang menulis 'surat rahasia' begitu untuk saya? Mantaps.
Tentu saja saya langsung daftar masuk jadi anggota DKM. Dan selanjutnya, dan seterusnya, DKM Al Furqon itu mewarnai hidup saya. Meskipun saya ikut dua organisasi lain, tetep aja hati ini lebih nyaman di musholla.
Semoga memang ketularan shalihahnya dari teman-teman di sana. Menurut gosip sih memang saya jadi dikenal shalihah... cenah... katanya... amiin.
Di SMA ini urusan akademik ternyata saya ketularan abis-abisan. Masih ingat saya menjelang EBTANAS ... yang namanya waktu istirahat dipake belajar... fyuh...
Jadi malu sendiri kalo kita ketawa-ketiwi gak pegang buku...
Sebenernya gak semua belajar juga sich. Kalo diintip-intip ada yang cuma main catur jawa sama temen sebangkunya. Tapi gayanya itu lho.. 'belajar' banget.
Pokonya malu lah kalo punya gaya 'gak belajar' waktu itu.
Seingat saya yang hobinya main catur jawa adalah Iin dan Shinta. Mereka berani gak belajar karena isi otaknya udah oke banget. Terbukti Iin akhirnya masuk IF dan Shinta masuk TI di almamater favorit.
Ada juga di kelas, Novi.. yang gak pernah ribut. Menghormati teman-temannya yang belajar. Dia seringkali sibuk mencuwil-cuwil ujung rambut sunsilknya dengan kedua tangannya sambil setengah melamun. Ah.. otaknya udah penuh juga tu anak. Terbukti juga dia masuk EL.
Beuh.. sementara saya bekerja keras bersimbah peluh dengan teman sebangku saya Rika, (alm.).. tanya sana tanya sini. Ya koq mereka pada bisa jawab dengan entengnya yah, kalo saya tanya.
Sekalinya main ribut, teman-teman kelas tercintaku ini kerjanya main pingpong di bangku, dengan Pitut sebagai salah satu atletnya (suaminya Ceu Irena Puspawardani tea..wkwk...).
Bah.. ternyata Pitut menggosipkan saya pada istrinya, kalo saya ini dulu tukang misuh-misuh kalo temen-temen pada maen pingpong kelas. Kata saya: "Itu perbuatan sia-sia.."... Ya ampuuuuuunnnnn... masa sih Pitut? Aku ngomong gitu dulu?
Paingaaaan euweuh nu bogoh ka saya nyakk.... heuheu....
Pitut tukang pingpong aja bisa masuk MS, sementara guweee... masih untung bisa masuk FA juga. Padahal asa paling rajin sedunia. Komo mun teu rajin kitu nya?
***
Tulisan narsis abis ini bener-bener curcol ya..
Saya cuma pengen nunjukin kalo yang namanya lingkungan kita itu nentuin pola pikir dan kebiasaan yang melekat hingga tua.
Hikmahnya, pemikiran inilah yang seringkali membuat saya bisa banyak bertoleransi dengan orang-orang yang berbeda pemahaman, karakter, dan kebiasaan, yaitu karena lingkungan tempat kita dibesarkan pastilah berbeda.
Tinggal bagaimana kita -sekarang- menjadi lingkungan yang baik, bagi sahabat-sahabat kita, pasangan kita, keluarga kita, dan terutama anak-anak kita.
-Lingkungan
di mana kita
membentuk
dan dibentuk
olehnya-
***
Kalau ditelusuri, kenapa kita jadi seperti kita saat ini, sangat bisa jadi kalau lingkungan amat sangat mempengaruhi. Teman main waktu kecil, SD kita, SMP, SMA, kuliah, organisasi, hingga lingkungan RT RW.
Masih ingat siapa sahabat kita waktu kecil?
Saya ingat. Dini namanya. Saya memanggilnya teteh karena di atas saya satu tahun. Dia adalah lingkungan yang baik buat saya. Koleksi bukunya banyak, hingga saya senang sekali membaca. Anaknya juga lincah hingga permainan fisik apapun sering kami lakoni. Tentunya yang sering dimainkan anak perempuan pada saat itu.
Ingat waktu saya pulang ke rumah dengan sedih.
Mamah tanya, kenapa saya pulang.
Saya jawab, Teh Dini ke mesjid, ngaji.
Mamah usul, kenapa gak ikut ngaji sama Teh Dini?
Hmmm... bener-bener gak kepikiran sama saya. Dan waktu itu saya gak nyangka kalau saya udah boleh ngaji... hehe. Kirain harus nunggu sampai saya seusia Teh Dini, setahun lagi.
Dengan semangat, saat itu juga saya mandi sore dan dipakaikan baju panjang plus kerudung mamah yang dilipat sedemikian hingga bisa jadi kerudung saya.
Disambut gembira oleh teman-teman di masjid, juga Teh Ida, guru ngaji pertama saya, hingga saya kenal alif ba ta tsa dari beliau.
AlhamduliLlah...
Hingga SD saya bersahabat lekat dengan Teh Dini di lingkungan rumah.
***
Di SMP, saya ketemu teman sebangku, Della namanya.
Dia sahabat yang baik luar biasa.
Anaknya cerdas, dan tak pernah bisa saya kalahkan secara akademik kecuali pada saat terakhir EBTANAS, saya dapat NEM lebih besar darinya.
Dia selalu rengking satu, dan saya selalu rengking dua. Dan kami tak pernah berpisah bangku hingga kelas tiga SMP.
Dia putri dari seorang dosen UIN, yang terkenal kepandaian dan keshalihannya. Kalau saya ke rumahnya..wow.. tumpukan buku bertuliskan arab gundul dan berbagai buku-buku keagamaan memenuhi rumahnya. Benar-benar keluarga pembelajar sejati.
Kelas dua SMP Della mulai mengenakan jilbab. Saya belum.
Tapi saya memang mau seperti Della.
Rasanya belom faham juga kalau jilbab itu wajib. Tapi karena mamah mulai pakai, dan Della juga pakai, saya jadi pengen.
AlhamduliLLah, sejak saat itu, kelas 3 SMP, setahun setelah Della pakai jilbab, saya kenakan pula pakaian tertutup itu, walau pada zaman itu perempuan berkerudung masihlah langka.
***
Masuk SMA, jelaslah saya jadi makhluk 'aneh' dengan kerudung putih menempel di kepala. Tapi tahukah anda, jika hal itu ternyata menentukan arah hidup saya selanjutnya?
Dengan kerudung itu saya tiba-tiba 'dikerubuti' para ikhwan dan akhwat (baca: aktivis DKM) kakak kelas.
Malah binglas (pembimbing kelas) saya yang waktu itu amat sangat saya kagumi karena ... karena apa ya? ganteng kitu? nya lucu we lah pokonya..hihi.. sempat menulis catatan kecil di buku saya:
"Masuk DKM ya Ir.."
Wooooow... siapa yang tak berbunga-bunga ada seorang ikhwan kakak kelas yang menulis 'surat rahasia' begitu untuk saya? Mantaps.
Tentu saja saya langsung daftar masuk jadi anggota DKM. Dan selanjutnya, dan seterusnya, DKM Al Furqon itu mewarnai hidup saya. Meskipun saya ikut dua organisasi lain, tetep aja hati ini lebih nyaman di musholla.
Semoga memang ketularan shalihahnya dari teman-teman di sana. Menurut gosip sih memang saya jadi dikenal shalihah... cenah... katanya... amiin.
Di SMA ini urusan akademik ternyata saya ketularan abis-abisan. Masih ingat saya menjelang EBTANAS ... yang namanya waktu istirahat dipake belajar... fyuh...
Jadi malu sendiri kalo kita ketawa-ketiwi gak pegang buku...
Sebenernya gak semua belajar juga sich. Kalo diintip-intip ada yang cuma main catur jawa sama temen sebangkunya. Tapi gayanya itu lho.. 'belajar' banget.
Pokonya malu lah kalo punya gaya 'gak belajar' waktu itu.
Seingat saya yang hobinya main catur jawa adalah Iin dan Shinta. Mereka berani gak belajar karena isi otaknya udah oke banget. Terbukti Iin akhirnya masuk IF dan Shinta masuk TI di almamater favorit.
Ada juga di kelas, Novi.. yang gak pernah ribut. Menghormati teman-temannya yang belajar. Dia seringkali sibuk mencuwil-cuwil ujung rambut sunsilknya dengan kedua tangannya sambil setengah melamun. Ah.. otaknya udah penuh juga tu anak. Terbukti juga dia masuk EL.
Beuh.. sementara saya bekerja keras bersimbah peluh dengan teman sebangku saya Rika, (alm.).. tanya sana tanya sini. Ya koq mereka pada bisa jawab dengan entengnya yah, kalo saya tanya.
Sekalinya main ribut, teman-teman kelas tercintaku ini kerjanya main pingpong di bangku, dengan Pitut sebagai salah satu atletnya (suaminya Ceu Irena Puspawardani tea..wkwk...).
Bah.. ternyata Pitut menggosipkan saya pada istrinya, kalo saya ini dulu tukang misuh-misuh kalo temen-temen pada maen pingpong kelas. Kata saya: "Itu perbuatan sia-sia.."... Ya ampuuuuuunnnnn... masa sih Pitut? Aku ngomong gitu dulu?
Paingaaaan euweuh nu bogoh ka saya nyakk.... heuheu....
Pitut tukang pingpong aja bisa masuk MS, sementara guweee... masih untung bisa masuk FA juga. Padahal asa paling rajin sedunia. Komo mun teu rajin kitu nya?
***
Tulisan narsis abis ini bener-bener curcol ya..
Saya cuma pengen nunjukin kalo yang namanya lingkungan kita itu nentuin pola pikir dan kebiasaan yang melekat hingga tua.
Hikmahnya, pemikiran inilah yang seringkali membuat saya bisa banyak bertoleransi dengan orang-orang yang berbeda pemahaman, karakter, dan kebiasaan, yaitu karena lingkungan tempat kita dibesarkan pastilah berbeda.
Tinggal bagaimana kita -sekarang- menjadi lingkungan yang baik, bagi sahabat-sahabat kita, pasangan kita, keluarga kita, dan terutama anak-anak kita.
-Lingkungan
di mana kita
membentuk
dan dibentuk
olehnya-
***
Senin, 01 Maret 2010
kerja?
***
Rupanya saya diintai berbagai bisnis MLM nih ya...
tapi enggak deh. Beneran saya gak mau dan tidak (belum?) tertarik terjun ke bidang ini.
Apalagi MLM yang terlebih dahulu nawarin bonus ketimbang kualitas produk yang dijualnya.
Sudah bisa dipastikan (untuk saat ini) saya tolak mentah-mentah.
Barangkali kalau saya dalam posisi kepepet buangetttt... bisnis apapun yang ditawarkan dengan keuntungan yang memadai, asal halal dan tidak menggadaikan aqidah saya, bakal saya lakoni. Tapi alhamduliLLah sampai saat ini saya masih merasa cukup.
Sekarang ini kerja buat saya adalah aktualisasi diri dengan catatan jangan sampai mengorbankan keluarga. Hal ini sudah diacc oleh suami saya. Suamiku percaya penuh kalo saya bisa atur-atur semuanya dan dia menyadari juga kalo saya punya potensi yang bisa jadi amal, baik komersil maupun tidak.
So, kalo ujung-ujungnya duit sambil saya sendiri gak menikmati, mending gak usah lah sekarang mah. MLM? No.. Toko online? No...
Andai saya bisa buka apotek online ya.. barangkali saya mau
Sekarang toko online kan rata-rata produknya berupa baju, makanan, alat-alat elektronik, alat rumah tangga, dsb, dengan margin tinggi (gak seperti jualan obat di apotek)
Ah aku tau apa ya tentang baju, makanan, dan semuanya itu?
Masak gak bisa, dandan gak bisa, matchingin baju aja gak becus... masa iya nawar-nawarin kue, kerudung, apalagi kosmetika?
Masalah "bisa" mungkin bisa dipelajari. Tapi apakah hati bisa dipaksa?
Sementara target saya sekarang adalah aktualisasi diri. Kerja dengan penuh cinta dan keikhlasan. Bukan karena sebuah paksaan.
Jadi maunya gimana?
Tenang saja.. saya tau apa yang saya mau...
***
Rupanya saya diintai berbagai bisnis MLM nih ya...
tapi enggak deh. Beneran saya gak mau dan tidak (belum?) tertarik terjun ke bidang ini.
Apalagi MLM yang terlebih dahulu nawarin bonus ketimbang kualitas produk yang dijualnya.
Sudah bisa dipastikan (untuk saat ini) saya tolak mentah-mentah.
Barangkali kalau saya dalam posisi kepepet buangetttt... bisnis apapun yang ditawarkan dengan keuntungan yang memadai, asal halal dan tidak menggadaikan aqidah saya, bakal saya lakoni. Tapi alhamduliLLah sampai saat ini saya masih merasa cukup.
Sekarang ini kerja buat saya adalah aktualisasi diri dengan catatan jangan sampai mengorbankan keluarga. Hal ini sudah diacc oleh suami saya. Suamiku percaya penuh kalo saya bisa atur-atur semuanya dan dia menyadari juga kalo saya punya potensi yang bisa jadi amal, baik komersil maupun tidak.
So, kalo ujung-ujungnya duit sambil saya sendiri gak menikmati, mending gak usah lah sekarang mah. MLM? No.. Toko online? No...
Andai saya bisa buka apotek online ya.. barangkali saya mau
Sekarang toko online kan rata-rata produknya berupa baju, makanan, alat-alat elektronik, alat rumah tangga, dsb, dengan margin tinggi (gak seperti jualan obat di apotek)
Ah aku tau apa ya tentang baju, makanan, dan semuanya itu?
Masak gak bisa, dandan gak bisa, matchingin baju aja gak becus... masa iya nawar-nawarin kue, kerudung, apalagi kosmetika?
Masalah "bisa" mungkin bisa dipelajari. Tapi apakah hati bisa dipaksa?
Sementara target saya sekarang adalah aktualisasi diri. Kerja dengan penuh cinta dan keikhlasan. Bukan karena sebuah paksaan.
Jadi maunya gimana?
Tenang saja.. saya tau apa yang saya mau...
***
Sabtu, 27 Februari 2010
perhatikan rumput sendiri
***
Rumput tetangga yang lebih hijau itu mestinya cukup kita nikmati ya.. bukan berarti kita jadi pengen tukeran rumah. Karena kalau tukeran ternyata halaman kita nanti akan tampak hijau biasa saja, dan malah rumput di rumah kita semula yang tampak lebih hijau.
Bolak balik? Pundah pindah? Cape lah... geus we cicing di tengah jalan ngahalangan batur
Perhatikan dan pelihara saja rumput di rumah kita sendiri, dan sesekali lihatlah rumput tetangga untuk memotivasi. Biarlah rumput kita menjadi dirinya sendiri. Tak usah diomeli biar hijau seperti rumput tetangga.
Hidup memang hanya dinikmati oleh orang-orang yang pandai bersyukur. Bukan dinikmati oleh orang-orang yang selalu membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain. Hidup dinikmati hanya oleh orang-orang yang menjadikan sesuatu yang pasti sebagai ukurannya.. bukan menyandarkan diri pada sesuatu yang nisbi.
Oh Dunia... Dunia....
Jendela facebook sering membuat saya sadar betapa ramainya dunia ini. Masing-masing dengan perannya, dengan kostumnya, dengan segala yang dimilikinya...dengan rumputnya.
Membuat kita saling mentertawakan, saling menangisi, dan saling memberi, meskipun endingnya sama-sama mati.
Allah, saya ingin mengakhiri semuanya dengan satu status di hati yaitu:
bersyukur
***
Ohya.. ini gambar kiriman dari sepupu saya, Norman, yang berhasil mengabadikan status saya dan status temannya di YM... -lucu juga-...
Rumput tetangga yang lebih hijau itu mestinya cukup kita nikmati ya.. bukan berarti kita jadi pengen tukeran rumah. Karena kalau tukeran ternyata halaman kita nanti akan tampak hijau biasa saja, dan malah rumput di rumah kita semula yang tampak lebih hijau.
Bolak balik? Pundah pindah? Cape lah... geus we cicing di tengah jalan ngahalangan batur
Perhatikan dan pelihara saja rumput di rumah kita sendiri, dan sesekali lihatlah rumput tetangga untuk memotivasi. Biarlah rumput kita menjadi dirinya sendiri. Tak usah diomeli biar hijau seperti rumput tetangga.
Hidup memang hanya dinikmati oleh orang-orang yang pandai bersyukur. Bukan dinikmati oleh orang-orang yang selalu membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain. Hidup dinikmati hanya oleh orang-orang yang menjadikan sesuatu yang pasti sebagai ukurannya.. bukan menyandarkan diri pada sesuatu yang nisbi.
Oh Dunia... Dunia....
Jendela facebook sering membuat saya sadar betapa ramainya dunia ini. Masing-masing dengan perannya, dengan kostumnya, dengan segala yang dimilikinya...dengan rumputnya.
Membuat kita saling mentertawakan, saling menangisi, dan saling memberi, meskipun endingnya sama-sama mati.
Allah, saya ingin mengakhiri semuanya dengan satu status di hati yaitu:
bersyukur
***
Ohya.. ini gambar kiriman dari sepupu saya, Norman, yang berhasil mengabadikan status saya dan status temannya di YM... -lucu juga-...
Kamis, 25 Februari 2010
berdo'a apa adanya
***
Saya sedang menikmati indahnya berdo'a.
Berdo'a dengan bahasa yang biasa-biasa saja.
Maklumlah seringkali apa yang saya inginkan terkesan konyol banget, tapi memang gak ada salahnya kita meminta hanya pada Dia yang Maha Pemberi.
Bukannya saya tidak tau berbagai adab do'a. Tapi saya ingin dekat dengan-Nya tanpa ada kesan dibatasi.
Biarlah saya bicara dengan-Nya apa adanya. Agar saya benar-benar merasakan kalau Dia selalu ada dekat dengan saya dan Dia lah yang paling mengerti saya.
Betapa ya.. Dia mendengar semua do'a-do'a saya, mulai dari pengen dapet rengking satu waktu SMP, pengen masuk SMA3, pengen lulus UMPTN, pengen dapet IPK cukup, pengen dapetin jodoh... dll...
Kebetulan yang saya sebut barusan adalah yang memang Dia kabulkan. Kalo yang enggak..hmm... malah lupa ..
Ah, barangkali itu juga bentuk pengabulan dariNya...
Dia membuat kita lupa apa yang kita inginkan!!
Barangkali dikabulkan Nya dengan membuat kita merasa cukup dengan apa yang ada.
Barangkali dikabulkan Nya dengan diganti oleh sesuatu yang lebih baik.
Sampai-sampai kita lupa dengan isi do'a sebelumnya.
Sungguh tak pernah percuma kita berdo'a... Cepat atau lambat akan Dia kabulkan juga dengan berbagai cara-Nya yang luar biasa.
-saya yang bahagia hari ini karena do'a saya semalam...dan sampai kapanpun akan saya ulang do'a itu hingga terkabulkan, atau hingga saya sendiri lupa-
***
Saya sedang menikmati indahnya berdo'a.
Berdo'a dengan bahasa yang biasa-biasa saja.
Maklumlah seringkali apa yang saya inginkan terkesan konyol banget, tapi memang gak ada salahnya kita meminta hanya pada Dia yang Maha Pemberi.
Bukannya saya tidak tau berbagai adab do'a. Tapi saya ingin dekat dengan-Nya tanpa ada kesan dibatasi.
Biarlah saya bicara dengan-Nya apa adanya. Agar saya benar-benar merasakan kalau Dia selalu ada dekat dengan saya dan Dia lah yang paling mengerti saya.
Betapa ya.. Dia mendengar semua do'a-do'a saya, mulai dari pengen dapet rengking satu waktu SMP, pengen masuk SMA3, pengen lulus UMPTN, pengen dapet IPK cukup, pengen dapetin jodoh... dll...
Kebetulan yang saya sebut barusan adalah yang memang Dia kabulkan. Kalo yang enggak..hmm... malah lupa ..
Ah, barangkali itu juga bentuk pengabulan dariNya...
Dia membuat kita lupa apa yang kita inginkan!!
Barangkali dikabulkan Nya dengan membuat kita merasa cukup dengan apa yang ada.
Barangkali dikabulkan Nya dengan diganti oleh sesuatu yang lebih baik.
Sampai-sampai kita lupa dengan isi do'a sebelumnya.
Sungguh tak pernah percuma kita berdo'a... Cepat atau lambat akan Dia kabulkan juga dengan berbagai cara-Nya yang luar biasa.
-saya yang bahagia hari ini karena do'a saya semalam...dan sampai kapanpun akan saya ulang do'a itu hingga terkabulkan, atau hingga saya sendiri lupa-
***
Selasa, 23 Februari 2010
gak pernah nganggur
***
Saya yang dari kecil teu daek cicing memang ternyata gak pernah ngerasa nganggur.
Hari senin kemarin dan hari ini aja rasanya bumi berputar begitu cepatnya.
Begitu saya nikmati kebebasan saya dari rutinitas di apotek tempat selama ini saya bekerja.
Begitu bebasnya saya menentukan hari ini mau apa, dan apa saja yang mesti saya prioritaskan.
Tentu saja selamanya saya tak boleh begini. Dalam arti saya harus berpikir juga bagaimana mencari uang.
Terngiang apa kata teman saya, kalau seorang istri itu mesti berpikir bagaimana menghidupi keluarga. Karena bisa jadi tiba-tiba ada 'apa-apa' dengan suami hingga tidak bisa mencari nafkah lagi, apa daya kita membiayai anak-anak?
Teman saya itu memang bercermin pada hidupnya yang ditinggal wafat ayahnya saat dia kelas satu SD kalau tidak salah. Syukurlah ibunya bekerja hingga ekonomi keluarga amat terbantu dengan pekerjaan ibunya itu.
Rezeki memang di tangan Allah, tapi secara syariat kita harus tetap berikhtiar dan menyusun berbagai rencana dan strategi.
Akhir bulan ini sih insyaa Allah saya masih dapat gaji, plus keuntungan dari bisnis obat-obatan saya dengan sebuah balai besar yang alhamduliLlah sudah cair.
Bulan depan? Wallahu a'lam.. tampaknya tidak ada lagi penghasilan apa-apa. Pure tergantung sama suami (sebenernya cukup kok, alhamduliLlah).
Rencana saya, Insyaa Allah saya akan menikmati dulu 'liburan' ini sampai Sofi masuk SD, sambil menjajal beberapa target pribadi, dan tentu saja tidak memutus silaturahmi dengan ratusan relasi.
Setelah Sofi masuk SD, insyaa Allah saya akan mencari kerja. Kerja sesuai dengan minat dan keahlian yang saya miliki (halah..). Bisa di apotek lagi, bisa juga mengajar. Kalaupun mau, sebenernya sekarang juga saya sudah bisa bekerja lagi di tempat baru.
Rencana saya itu akan berjalan kalau... belum dinyatakan positif hamil lagi.. hehe.
Kalau hamil lagi, barangkali akan masuk ke plan B..
Apa itu plan B? Nanti saja ceritanya kalau memang positif ya.. =)
***
Saya yang dari kecil teu daek cicing memang ternyata gak pernah ngerasa nganggur.
Hari senin kemarin dan hari ini aja rasanya bumi berputar begitu cepatnya.
Begitu saya nikmati kebebasan saya dari rutinitas di apotek tempat selama ini saya bekerja.
Begitu bebasnya saya menentukan hari ini mau apa, dan apa saja yang mesti saya prioritaskan.
Tentu saja selamanya saya tak boleh begini. Dalam arti saya harus berpikir juga bagaimana mencari uang.
Terngiang apa kata teman saya, kalau seorang istri itu mesti berpikir bagaimana menghidupi keluarga. Karena bisa jadi tiba-tiba ada 'apa-apa' dengan suami hingga tidak bisa mencari nafkah lagi, apa daya kita membiayai anak-anak?
Teman saya itu memang bercermin pada hidupnya yang ditinggal wafat ayahnya saat dia kelas satu SD kalau tidak salah. Syukurlah ibunya bekerja hingga ekonomi keluarga amat terbantu dengan pekerjaan ibunya itu.
Rezeki memang di tangan Allah, tapi secara syariat kita harus tetap berikhtiar dan menyusun berbagai rencana dan strategi.
Akhir bulan ini sih insyaa Allah saya masih dapat gaji, plus keuntungan dari bisnis obat-obatan saya dengan sebuah balai besar yang alhamduliLlah sudah cair.
Bulan depan? Wallahu a'lam.. tampaknya tidak ada lagi penghasilan apa-apa. Pure tergantung sama suami (sebenernya cukup kok, alhamduliLlah).
Rencana saya, Insyaa Allah saya akan menikmati dulu 'liburan' ini sampai Sofi masuk SD, sambil menjajal beberapa target pribadi, dan tentu saja tidak memutus silaturahmi dengan ratusan relasi.
Setelah Sofi masuk SD, insyaa Allah saya akan mencari kerja. Kerja sesuai dengan minat dan keahlian yang saya miliki (halah..). Bisa di apotek lagi, bisa juga mengajar. Kalaupun mau, sebenernya sekarang juga saya sudah bisa bekerja lagi di tempat baru.
Rencana saya itu akan berjalan kalau... belum dinyatakan positif hamil lagi.. hehe.
Kalau hamil lagi, barangkali akan masuk ke plan B..
Apa itu plan B? Nanti saja ceritanya kalau memang positif ya.. =)
***
Senin, 22 Februari 2010
di hari senin itu, 15 Februari 2010
***
Berkata jujur itu selalu melegakan
Membuat yang tadinya hiruk pikuk dalam pikiran sendiri, akhirnya bisa terbagi
Ada kalanya kejujuran tak perlu diungkapkan
Mungkin hanya untuk menjaga perasaan
Atau untuk menjaga rahasia diri dan rahasia seseorang
Pandai-pandainya kita memilah saja
Akhirnya bila semua sudah terlalu menyesakkan
ternyata jujur memang penolong untuk meluapkan semuanya
---
Terimakasih untuk seseorang yang dengan berlapang hati
menerima dan mengerti apa yang saya rasakan
sama sekali tidak mau saya berpisah dengannya hanya karena
apa yang saya ungkapkan
Justru dengan kejujuran saya padanya
kejujuran dia pada saya
membuat segalanya bisa lebih indah untuk dijalani
dalam ridha-Nya
Semoga...
***
Berkata jujur itu selalu melegakan
Membuat yang tadinya hiruk pikuk dalam pikiran sendiri, akhirnya bisa terbagi
Ada kalanya kejujuran tak perlu diungkapkan
Mungkin hanya untuk menjaga perasaan
Atau untuk menjaga rahasia diri dan rahasia seseorang
Pandai-pandainya kita memilah saja
Akhirnya bila semua sudah terlalu menyesakkan
ternyata jujur memang penolong untuk meluapkan semuanya
---
Terimakasih untuk seseorang yang dengan berlapang hati
menerima dan mengerti apa yang saya rasakan
sama sekali tidak mau saya berpisah dengannya hanya karena
apa yang saya ungkapkan
Justru dengan kejujuran saya padanya
kejujuran dia pada saya
membuat segalanya bisa lebih indah untuk dijalani
dalam ridha-Nya
Semoga...
***
Selasa, 29 Desember 2009
give me one moment in time
***
Sudah lewat beberapa hari sejak saya menangis diam-diam malam itu. Tangis yang ingin dipecahkan, tapi tak bisa.. karena semua akan bertanya, dan saya pastilah tak kan kuasa menjawabnya.
Efek jangarnya masih saya rasakan hingga sekarang. Kepala rasanya baru terbentur tembok, dan mata ini serasa sembab terus.. padahal biasa saja.
Syukurlah malam itu saya punya sahabat yang bisa menyadarkan saya akan sebuah momen yang baru saja tiba. Mungkin kejadiannya biasa saja, bahkan barangkali hanya permainan rasa. Rasa yang hanya saya saja yang memainkannya. Rasa hancur, rasa terkoyak, rasa bodoh, dan rasa tercampakkan. Tapi itulah momen.
Terjemah bebas yang saya karang sendiri, momen adalah kejadian tertentu yang istimewa, memberikan makna luar biasa, dan bisa jadi merupakan titik balik bagi kehidupan seseorang.
Momen ternyata garing kalau dibuat sendiri. Asli ini pengalaman pribadi. Mau muhasabah taun baru, mau ulang taun, mau sebuah perayaan, tetep aja garing kalau menyengajakan tanggal itu dibuat sebagai momen.
Momen 'enaknya' datang dengan sendirinya sebagai sebuah lecutan, sebagai jawaban atas do'a kita agar selalu ada dalam penjagaanNya.
Mungkin sakit, mungkin juga tidak, tergantung kekebalan kita saat itu.
Hanya bagian hati yang bersih yang bisa menangkapnya sebagai aba-aba untuk sebuah perubahan. Tentunya ke arah yang lebih baik.
Momen bagai sebuah alat pembangkit energi aktivasi.
Bila telah meluncur dan mencapai kecepatan konstan, maka tetap butuh daya agar tak terhenti dan jatuh. Bila jatuh, maka kemungkinan terburuk kita hancur berkeping-keping, tak bisa bangkit lagi, dan kemungkinan terbaiknya adalah kita harus mengumpulkan energi aktivasi baru. Dan itu berat, kecuali ada momen lagi. Momen yang lebih besar agar kita bisa merasakan takut yang amat sangat bila kita jatuh lagi.
Ah cukuplah momen satu kali saja untuk membuat kita meluncur. Bila jatuh lagi dan jatuh lagi.. bisa jadi judulnya hanya jatuh bangun, tanpa bisa mencapai sesuatu.
Rugilah kita bila hidup hanya dipakai untuk jatuh melulu. Meskipun tak kan bisa dipungkiri, itu adalah bagian dari hidup.
Cukuplah sekali jatuh di tempat yang ini, dan jangan jatuh lagi di tempat yang sama.
Biar terlihat kalau hidup kita ada majunya. Tak selalu jalan di tempat.
Hari ini masih jadi hari kritis bagi saya.. berpegang kesana kemari agar tak ada kata jatuh. Sayang kalau jatuh karena momen yang sudah saya lalui bagus banget.
Gak terlalu nyakitin, tapi membawa perubahan cukup besar.
Membuat saya tau bahwa diri ini ternyata bisa. Bisa. Bisa.
Bisa, dan harus bisa dengan pertolongan-Nya.
... yuhuuuuuuu.....
... yes, I can !!
... zwing!!!
... I will be freee !!!
***
Sudah lewat beberapa hari sejak saya menangis diam-diam malam itu. Tangis yang ingin dipecahkan, tapi tak bisa.. karena semua akan bertanya, dan saya pastilah tak kan kuasa menjawabnya.
Efek jangarnya masih saya rasakan hingga sekarang. Kepala rasanya baru terbentur tembok, dan mata ini serasa sembab terus.. padahal biasa saja.
Syukurlah malam itu saya punya sahabat yang bisa menyadarkan saya akan sebuah momen yang baru saja tiba. Mungkin kejadiannya biasa saja, bahkan barangkali hanya permainan rasa. Rasa yang hanya saya saja yang memainkannya. Rasa hancur, rasa terkoyak, rasa bodoh, dan rasa tercampakkan. Tapi itulah momen.
Terjemah bebas yang saya karang sendiri, momen adalah kejadian tertentu yang istimewa, memberikan makna luar biasa, dan bisa jadi merupakan titik balik bagi kehidupan seseorang.
Momen ternyata garing kalau dibuat sendiri. Asli ini pengalaman pribadi. Mau muhasabah taun baru, mau ulang taun, mau sebuah perayaan, tetep aja garing kalau menyengajakan tanggal itu dibuat sebagai momen.
Momen 'enaknya' datang dengan sendirinya sebagai sebuah lecutan, sebagai jawaban atas do'a kita agar selalu ada dalam penjagaanNya.
Mungkin sakit, mungkin juga tidak, tergantung kekebalan kita saat itu.
Hanya bagian hati yang bersih yang bisa menangkapnya sebagai aba-aba untuk sebuah perubahan. Tentunya ke arah yang lebih baik.
Momen bagai sebuah alat pembangkit energi aktivasi.
Bila telah meluncur dan mencapai kecepatan konstan, maka tetap butuh daya agar tak terhenti dan jatuh. Bila jatuh, maka kemungkinan terburuk kita hancur berkeping-keping, tak bisa bangkit lagi, dan kemungkinan terbaiknya adalah kita harus mengumpulkan energi aktivasi baru. Dan itu berat, kecuali ada momen lagi. Momen yang lebih besar agar kita bisa merasakan takut yang amat sangat bila kita jatuh lagi.
Ah cukuplah momen satu kali saja untuk membuat kita meluncur. Bila jatuh lagi dan jatuh lagi.. bisa jadi judulnya hanya jatuh bangun, tanpa bisa mencapai sesuatu.
Rugilah kita bila hidup hanya dipakai untuk jatuh melulu. Meskipun tak kan bisa dipungkiri, itu adalah bagian dari hidup.
Cukuplah sekali jatuh di tempat yang ini, dan jangan jatuh lagi di tempat yang sama.
Biar terlihat kalau hidup kita ada majunya. Tak selalu jalan di tempat.
Hari ini masih jadi hari kritis bagi saya.. berpegang kesana kemari agar tak ada kata jatuh. Sayang kalau jatuh karena momen yang sudah saya lalui bagus banget.
Gak terlalu nyakitin, tapi membawa perubahan cukup besar.
Membuat saya tau bahwa diri ini ternyata bisa. Bisa. Bisa.
Bisa, dan harus bisa dengan pertolongan-Nya.
... yuhuuuuuuu.....
... yes, I can !!
... zwing!!!
... I will be freee !!!
***
Rabu, 09 Desember 2009
sibuk
***
Diberi kesibukan ternyata memang harus bersyukur. Mending sibuk dibanding sakit. Iya kan? Tinggal bagaimana kita memenej kesibukan agar pada akhirnya kita tidak disibukkan oleh hal-hal yang tidak penting. Seperti .. misalnya .. mencari barang yang hilang atau mengambil barang yang ketinggalan.
Arrrrggggghh.... di tengah kesibukan saya ternyata masih juga terselip hal-hal yang tidak penting seperti tadi. Menyimpan barang pada tempatnya masih juga belum bisa saya lakukan dengan konsisten. Nomadennya saya di tiga rumah memang sering juga jadi penyebabnya. Butuh di sini, tapi barangnya di sana... butuh di sana barangnya di sini...
Heu.. gak penting banget yak. Cuma saya nyadar aja, memang butuh kecerdasan agar kita bisa jadi manager untuk diri kita sendiri. Dan butuh kecerdasan ekstra untuk menjadi manager bagi suami dan anak-anak. Saya tak sesibuk selebriti yang perlu orang lain sebagai managernya. Saya cuma harus lebih cerdas, fokus, dan disiplin. Itu saja.
AYO!! Suami dan anak-anakmu membutuhkan kelihaianmu dalam memanage, Ier!!!
Sumangedh!!
***
Diberi kesibukan ternyata memang harus bersyukur. Mending sibuk dibanding sakit. Iya kan? Tinggal bagaimana kita memenej kesibukan agar pada akhirnya kita tidak disibukkan oleh hal-hal yang tidak penting. Seperti .. misalnya .. mencari barang yang hilang atau mengambil barang yang ketinggalan.
Arrrrggggghh.... di tengah kesibukan saya ternyata masih juga terselip hal-hal yang tidak penting seperti tadi. Menyimpan barang pada tempatnya masih juga belum bisa saya lakukan dengan konsisten. Nomadennya saya di tiga rumah memang sering juga jadi penyebabnya. Butuh di sini, tapi barangnya di sana... butuh di sana barangnya di sini...
Heu.. gak penting banget yak. Cuma saya nyadar aja, memang butuh kecerdasan agar kita bisa jadi manager untuk diri kita sendiri. Dan butuh kecerdasan ekstra untuk menjadi manager bagi suami dan anak-anak. Saya tak sesibuk selebriti yang perlu orang lain sebagai managernya. Saya cuma harus lebih cerdas, fokus, dan disiplin. Itu saja.
AYO!! Suami dan anak-anakmu membutuhkan kelihaianmu dalam memanage, Ier!!!
Sumangedh!!
***
Kamis, 29 Oktober 2009
hati-hati loperamid !!
***
Hari Ahad kemarin, teman saya dengan paniknya menelpon.. mengabarkan keponakannya (2 tahun) masuk ICU setelah minum setengah tablet imodium. Perut membengkak, diikuti sesak nafas, dan serangan pada jantung.
InnaliLlahiii... anak dikasih imodium???
"Itu dibeli atas resep dokter Ir !!"
Glek.. saya semakin merinding mendengarnya... sedikit ketakutan karena tablet putih kecil mungil itu tersedia di apotek saya dalam jumlah banyak, dan entah kenapa di bulan september kemarin tablet itu laku keras.
Dan Selasa kemarin, teman saya itu mengabarkan via sms bahwa keponakannya telah meninggal dunia. Dan penyebabnya jelas, karena reaksi dari penggunaan imodium. InnaliLlahii wa inna ilaihi raaji'uun...
Mohon maaf karena saya menggunakan merek dalam tulisan ini dengan jelas.. biar para pembaca lebih ngeh aja..
Memang rata-rata orang lebih mengenal merek kan, daripada nama generiknya??
Masyarakat sudah mengenal imodium atau Lodia yang berisi loperamid 2mg ini sebagai obat yang tokcer untuk pengobatan diare. Sayangnya memang mereka seringkali kenal tokcernya saja daripada mengenal seberapa keraskah obat tersebut mempengaruhi tubuh.
Saya sebagai apoteker saja taunya sedikit-sedikit seiring jam terbang di apotek. Ada kasus.. baru nyari literaturnya. Learning by doing tea.
Belum sampai tamat juga sih.. saya mengkaji seberapa kerasnya imodium yang berisi loperamid ini. Tapi saya tau, obat ini amatlah berbahaya. Mewanti-wanti setiap pembelinya agar menggunakan obat tersebut sesuai dosis. Jelas penggunaannya untuk siapa (harus untuk di atas 14 tahun), pun penyebabnya apa. Bila dalam dua hari tidak sembuh, hentikan! Pembelian pun saya batasi hanya sampai empat tablet saja. Mending orangnya bolak-balik aja ke apotek daripada nyetok obat macam ini di rumah.
Penggunanya harus sudah pernah menggunakan obat diare lain yang ringan, yang dijual bebas. Bila sudah mencoba dan tidak sembuh, okelah saya kasih imodium.
Lebih bagus lagi kalau mereka memintanya atas resep dokter.
Tapi parahnya, di kasus teman saya ini, Imodium memang diminum atas resep dokter.
Ah.. saya bisa nyalahin dokternya, ya bisa juga nyalahin apotekernya, atau siapapun yang nerima resep. Lha kok nurut-nurut aja apa kata dokter !! Pake dong ilmu obatnya coy!
Syukurlah asisten saya cukup berhati-hati. Baru saja selasa pekan lalu dia nelepon saya dari apotek
"Bu, boleh gak anak dikasih imodium??" dan tentu saja jawaban saya tidak.
Huhuhuuu.. kalo inget kejadian itu saya merinding lagiiii....
Sampai saat ini masih juga tersisa sedikit ketakutan, karena masyarakat kadang suka kreatif sendiri.
Apa yang dia minum tokcer.. dikasih juga buat anak dalam dosis setengah atau seperempatnya. Ya gak bisa gitu lah.
Pernah kejadian tuh, kebetulan ini di wilayah apotek teman saya. Bapak-bapak beli imodium karena diare. Dan ketika anaknya diare juga.. ehh.. dia kreatif saja memotong imodium seperempatnya dan diberikan pada anaknya (4 tahun). Walhasil, setahun terakhir ini anaknya itu bermasalah ketika BAB. Amat susah keluarnya kecuali diberi pencahar.
Sooo.. teman-teman, tentu saja kasus ini tak berhenti pada loperamid saja. Banyak obat-obatan lain yang kita harus berhati-hati dalam menggunakannya, terutama untuk anak, lansia, ibu hamil dan menyusui.
Untuk teman-teman dokter, saya sebagai apoteker cukup rajin lho menyarankan para pelanggan untuk pergi ke dokter terlebih dahulu sebelum memutuskan obat apa yang dipakai. Apalagi jika sakitnya membutuhkan diagnosa yang lebih jelas.
Tapi biasalah, .. orang-orang.. digituin malah protes..
...
Oya punten juga di sini gak saya share lebih jelasnya mengenai farmakologi dari loperamid.. heuheu..
Barangkali teman-teman saya di 'serambi sehat' bisa lebih ilmiah dalam membahasnya.
Mohon do'anya ya temans, agar saya bisa lebih amanah lagi dalam mengemban profesi sebagai apoteker di apotek..
***
Hari Ahad kemarin, teman saya dengan paniknya menelpon.. mengabarkan keponakannya (2 tahun) masuk ICU setelah minum setengah tablet imodium. Perut membengkak, diikuti sesak nafas, dan serangan pada jantung.
InnaliLlahiii... anak dikasih imodium???
"Itu dibeli atas resep dokter Ir !!"
Glek.. saya semakin merinding mendengarnya... sedikit ketakutan karena tablet putih kecil mungil itu tersedia di apotek saya dalam jumlah banyak, dan entah kenapa di bulan september kemarin tablet itu laku keras.
Dan Selasa kemarin, teman saya itu mengabarkan via sms bahwa keponakannya telah meninggal dunia. Dan penyebabnya jelas, karena reaksi dari penggunaan imodium. InnaliLlahii wa inna ilaihi raaji'uun...
Mohon maaf karena saya menggunakan merek dalam tulisan ini dengan jelas.. biar para pembaca lebih ngeh aja..
Memang rata-rata orang lebih mengenal merek kan, daripada nama generiknya??
Masyarakat sudah mengenal imodium atau Lodia yang berisi loperamid 2mg ini sebagai obat yang tokcer untuk pengobatan diare. Sayangnya memang mereka seringkali kenal tokcernya saja daripada mengenal seberapa keraskah obat tersebut mempengaruhi tubuh.
Saya sebagai apoteker saja taunya sedikit-sedikit seiring jam terbang di apotek. Ada kasus.. baru nyari literaturnya. Learning by doing tea.
Belum sampai tamat juga sih.. saya mengkaji seberapa kerasnya imodium yang berisi loperamid ini. Tapi saya tau, obat ini amatlah berbahaya. Mewanti-wanti setiap pembelinya agar menggunakan obat tersebut sesuai dosis. Jelas penggunaannya untuk siapa (harus untuk di atas 14 tahun), pun penyebabnya apa. Bila dalam dua hari tidak sembuh, hentikan! Pembelian pun saya batasi hanya sampai empat tablet saja. Mending orangnya bolak-balik aja ke apotek daripada nyetok obat macam ini di rumah.
Penggunanya harus sudah pernah menggunakan obat diare lain yang ringan, yang dijual bebas. Bila sudah mencoba dan tidak sembuh, okelah saya kasih imodium.
Lebih bagus lagi kalau mereka memintanya atas resep dokter.
Tapi parahnya, di kasus teman saya ini, Imodium memang diminum atas resep dokter.
Ah.. saya bisa nyalahin dokternya, ya bisa juga nyalahin apotekernya, atau siapapun yang nerima resep. Lha kok nurut-nurut aja apa kata dokter !! Pake dong ilmu obatnya coy!
Syukurlah asisten saya cukup berhati-hati. Baru saja selasa pekan lalu dia nelepon saya dari apotek
"Bu, boleh gak anak dikasih imodium??" dan tentu saja jawaban saya tidak.
Huhuhuuu.. kalo inget kejadian itu saya merinding lagiiii....
Sampai saat ini masih juga tersisa sedikit ketakutan, karena masyarakat kadang suka kreatif sendiri.
Apa yang dia minum tokcer.. dikasih juga buat anak dalam dosis setengah atau seperempatnya. Ya gak bisa gitu lah.
Pernah kejadian tuh, kebetulan ini di wilayah apotek teman saya. Bapak-bapak beli imodium karena diare. Dan ketika anaknya diare juga.. ehh.. dia kreatif saja memotong imodium seperempatnya dan diberikan pada anaknya (4 tahun). Walhasil, setahun terakhir ini anaknya itu bermasalah ketika BAB. Amat susah keluarnya kecuali diberi pencahar.
Sooo.. teman-teman, tentu saja kasus ini tak berhenti pada loperamid saja. Banyak obat-obatan lain yang kita harus berhati-hati dalam menggunakannya, terutama untuk anak, lansia, ibu hamil dan menyusui.
Untuk teman-teman dokter, saya sebagai apoteker cukup rajin lho menyarankan para pelanggan untuk pergi ke dokter terlebih dahulu sebelum memutuskan obat apa yang dipakai. Apalagi jika sakitnya membutuhkan diagnosa yang lebih jelas.
Tapi biasalah, .. orang-orang.. digituin malah protes..
...
Oya punten juga di sini gak saya share lebih jelasnya mengenai farmakologi dari loperamid.. heuheu..
Barangkali teman-teman saya di 'serambi sehat' bisa lebih ilmiah dalam membahasnya.
Mohon do'anya ya temans, agar saya bisa lebih amanah lagi dalam mengemban profesi sebagai apoteker di apotek..
***
Langganan:
Postingan (Atom)
