Jumat, 30 Desember 2011

dua ribu sebelas

***
Tiba-tiba kepikiran untuk mikirin apa aja yang saya dapet di 2011.

***
Semua proses yang saya alami di 2011, membuat saya bisa (saat ini) berada dalam posisi nyaman. Yaitu saya tau apa yang saya mau, dan tau apa yang saya bisa untuk membuat saya bahagia dan tenang hati.
Wajar juga kali ya, karena 2012 yang akan datang saya sudah memasuki usia 35 tahun.
Ya ampun, gak kebayang gue nyebutin umur tiga puluh lima tahun walau saya melaluinya dalam tahap perkembangan manusia yang cukup ideal (sudah menikah, punya anak sudah menjelang remaja, punya rumah, kendaraan, dinafkahi, dan rukun dengan suami). Tapi tetep we ketar ketir denger usia 35 ini.

Saya banyak mengenali diri karena saya punya teman-teman yang rajin mengomentari saya, yang kemudian komentar-komentarnya itu saya masukin ke hati. Bukan buat menyakiti diri, tapi untuk saya renungkan.
Bukan komentar di jejaring sosial lho ya, tapi celetukan-celetukan yang bilang "elu itu gini gini gini.. kamu itu gitu gitu gitu", baik memuji maupun mengkritik. Secara lisan, maupun tulisan berupa chat/sms.
Hasilnya adalah luar biasa membuat saya bisa nyadar siapa saya, apa potensi saya, apa kelemahan saya. Atau minimal membuat saya tau, kalau saya galau, itu saya mesti ngapain biar gak berlanjut galaunya :)

Eh, kemaren kan ada yang bilang gue itu tingkahnya kayak monyet.. heuuuh :D :D

Oya taun 2011 ini kan saya berhasil nerbitin buku yaaa, walaupun pake self publisher. Keroyokan pula.
Tapi saya suka sambutan teman-teman atas buku itu. Malah seriiiiing banget ada yang nanya, kapan bikin buku lagi. Padahal target saya bikin buku ya hanya untuk membukukan pemikiran saya aja. Berharap anak cucu sampai cicit saya nanti bisa tetap membacanya.

2012 saya bertarget membuat satu buku lagi. Dengan tujuan yang sama saja seperti kemarin, membukukan pemikiran. Pengen anak saya nanti bisa mengkoleksi buku ibunya. Cucu saya nanti bisa mengkoleksi buku neneknya. Dan seterusnya.
Do'a saya atas buku itu juga sama seperti kemarin. Bila isinya membawa kebaikan, mohon sebarkanlah, banyaklah orang yang baca. Bila membawa keburukan,mohon tahanlah, biar sedikit saja orang yang membacanya.

Dann 2011 ini, saya mulai renovasi rumah teaaaaa :)
Tadinya impian, tapi bila Allah menghendaki memang akan mudah jadi kenyataan :)
Semoga rumahnya cepet selesai, dan barokah :)

Mau nulis terus, tapi nguantukkknyaaa luar biasa.

***

Senin, 12 Desember 2011

UAS ( 2)

***
Katakanlah namanya Cici, satu lagi Ayu. Mereka berdua adalah anak kelas 2 SMP yang bertugas membantu saya di ruang obat, saat sekolah mereka menyelenggarakan pengobatan gratis. Saya adalah apoteker penanggungjawab obat pada saat acara tersebut berlangsung. Tidak diminta hadir untuk persiapan sebelumnya, dan tidak pula dimintai laporan pertanggungjawaban setelahnya.

Perkiraan pasien katanya 60 orang, sementara saya apotekernya cuma sendirian, dan hanya dibantu kedua anak itu.
Gak apalah. Memang kondisi seperti itu kerap saya alami, saat saya hanya dibantu oleh 'asisten apoteker' yang tidak tau apa-apa. Training kilat pun dilakukan. Cara menulis etiket, cara membaca resep, dll. Sederhana, karena semua tinggal bungkus dan tulis. Gak ada obat racikan.

Kedua anak itu pun mengangguk ragu. Saya bilang tenang aja, ada saya yang bisa mereka tanyai. Dan kalaupun salah, toh obatnya lewat tangan saya dulu. Bisa saya periksa dulu. Setelah lima resep bisa, pasti ke sananya gampanglah. Kata saya pada mereka meyakinkan.

Satu pasien, dua pasien, lima pasien, sepuluh pasien... semua terlayani dengan baik. Sampai akhirnya lima sampai enam orang pasien berjejer di deretan kursi di depan kami, menunggu dilayani. Tidak berimbang memang tenaga di pengobatan gratis ini. Dokternya ada dua, sementara apoteker cuma satu. Jadi pasien terlalu cepat hadir di ruang obat, menyerahkan resep dari dokter.

“Tunggu ya Bu, Pak,” sapa saya pada para pasien itu yang semuanya wulan. Warga usia lanjut.

Dua puluh pasien terlayani, tiga puluh terlayani, empat puluh ....dan masih berlanjut.....

“Yoo.. tenang ajaaa...”, kata saya pada kedua asisten kecil saya sambil membantu mereka membungkus dan menuliskan etiket.
Meja obat mulai amburadul.

“Emmm.....,”... Ayu tampak kebingungan mencari nama obat yang sebenernya ada persis di depannya.
Saya tau dia mulai panik, sekaligus lelah.

Sementara Cici, dia bekerja cepat dan sigap, walau tampak panik juga melihat jumlah pasien yang nunggu semakin banyak. Sesekali Cici membantu Ayu yang tampak bingung dan bengong.
“PCT ituuuu... apa yaaa...”, gumam Ayu
“Paracetamol !!!”, kata Cici sambil tangannya terus bekerja.
Heaaaa... dari awal itu saya kasi tau kalo PCT itu paracetamol dan puluhan resep PCT sebenernya sudah dikerjakan sejak awal, dan kemudian Ayu blank pada saat hectic seperti ini. Malah lebih parah lagi... tampak malas.

“Ayo Ayuuuu... ,” kata saya menyemangati sang Ayu. Dia cemberut.
Ya sudahlah.

Pengemasan obat dan penyerahan terus berlangsung, dan akhirnya beres. Lima puluh sembilan resep dalam dua jam tanpa henti. Fyuh.

Cici membantu saya mengepak obat sisa, sementara Ayu terkulai. Kepalanya menelungkup di meja.
Hoho. Jangankan dia, ...saya pun capek dan lapar.

Saya lirik Cici. Dia tampak semangat dan ceria, seperti tak terjadi apa-apa tadi.
Kagum juga saya sama anak itu. Sepertinya dia cukup tangguh menghadapi tekanan dan pandai menguasai diri.
Sementara Ayu? Saya tidak menyalahkan Ayu yang begitu ekspresif. Capek ya capek. Sudah. Terserah kalian mau ngomong apa. Mungkin gitu dalam hatinya.
Orang seperti itu biasanya tak menyimpan beban di hati ya? Bebannya keluar semua hingga permukaan, dan mudah-mudahan dengan begitu hatinya tidak terlalu galau.

Setelah semua beres, Ayu ngeloyor pergi, sementara Cici mencium tangan saya sambil bilang terimakasih. (Oooh.. so sweet.. hahaha)

Kalo lihat anak orang, saya suka inget anak sendiri. Jadi mikir gimana agar anak-anak saya bisa tangguh menghadapi tekanan. Gak mudah stress, dan pandai menguasai diri. Tangguh tak hanya dalam penampakan, tapi bersumber dari jiwa yang pantang menyerah.
Ihhh... asik ya punya anak yang seperti itu?

Momen UAS, atau ujian sekolah anak sebenernya bisa kita sikapi sebagai simulasi, bagaimana anak menghadapi tantangan.
Sejauh mana usahanya, sejauh mana tanggungjawabnya, dan sejauh mana daya tahannya dalam kejenuhan rutinitas belajar.
Nilai juga bisa dijadikan simulasi, sebagai hasil dari apa yang telah anak usahakan, karena biasanya memang berbanding lurus walau tidak selalu.

Di note yang lalu saya sempat bingung bagaimana agar anak bisa belajar mandiri. Komen dari Mbak Nina Estanto cukup menjawab kebingungan saya. Kata beliau, kita harus berani menghadapi kegagalan anak di sekolah karena hasil usaha si anak sendiri. Biarkan mereka mendapatkan konsekuensi dari kemalasan dan kelalaiannya. Mudah-mudahan mereka bisa belajar dari sana.

Sungguh berat bagi saya kalau harus membiarkan anak-anak saya menerima nilai jelek, buku ketinggalan, gak ngerjain peer, misalnya. Walau secara kasat mata itu justru meringankan saya. Kan cuekin aja gitu. Hehe.
Sementara selama ini saya biasanya gak banyak omong. Seragam siapin, yang ketinggalan-ketinggalan gitu saya masukkan sendiri ke tas anak. Ngerjain peer ditungguin, bahan belajar saya siapin. Doooh....
Memang kalo begitu terus caranya, kapan anak-anak saya bisa mandiri dan menghadapi tantangan hidupnya sendiri ya? Kapan anak-anak saya bisa tahan menghadapi tekanan pelajaran dan tugas-tugas sekolahnya tanpa saya temani?

Kebayangnya sama saya mah, kita memang hanya berkewajiban mengingatkan, dan memberi contoh. Saat anak belajar, kitanya jangan nonton pelem. Saat anak ngerjain peer, kitanya jangan banyak ngobrol. Tetap menemani, siap ditanyai bila mereka menghadapi kesulitan, tapi biarkan mereka mengerjakan sendiri. Dan di kehidupan sehari-hari, kitanya jangan pernah kelihatan mengeluh, marah-marah, gampangan sedih, atau menyerah.
Bukankah anak akan meniru bagaimana cara orangtua mereka menyelesaikan masalah?

Hari ini hari terakhir anak-anak UAS. Saya pun lega. Karena diam-diam saya jenuh juga melayani mereka belajar.
Nah, mulai semeseter depan, siap-siap aja ya Arif dan Sofi, siapkan segala kewajibanmu sendiri. Lalu kita lihat apa yang terjadi.

***

Sabtu, 10 Desember 2011

UAS

***
Iseng menulis di tengah kejenuhan menemani anak-anak belajar untuk UAS. Baru kali ini rasanya saya agak-agak eungap gitu ngadepinnya. Sofi masih mending banget. Kelas 2 masih cetek lah. Sepertinya tanpa belajar pun dia sudah bisa mendapat nilai bagus karena dia tampak menyimak apa yang diajarkan guru di kelasnya. Melihat LKS-LKSnya Sofi, nilainya 90-100. Sama seperti Arif dulu. Asal masuk sekolah dan menyimak, bereslah.

Kelas 4 rupanya lain ya? Lain banget dibanding kelas 3 dan sebelumnya.

Bagi yang ngikutin status FB saya semester ini barangkali pernah melihat saya cukup megap megap melihat kurikulum kelas 4 SD yang sama dengan pelajaran saya waktu SMP.

Bukan masalah bisa atau tidaknya, karena dulu saya SMP, ya lumayanlah gitu, masih ada di itungan juara kelas...... Jadi ya saya bisa mah .. ya bisa.

Sekali lagi ini bukan masalah bisa atau tidaknya, tapi bagaimana agar Arif enjoy belajarnya. Bisa mengerti tidak hanya menghafal. Tahan dengan kejenuhan, dan pantang stress.

Saya pikir ini dulu saya belajar yang kayak gini dengan jiwa daya tahan seorang remaja 13 tahun dengan lingkungan sebuah sekolah menengah. Dan sekarang pelajaran ini dihadapkan pada jiwa seorang anak 9 tahun dengan lingkungan sekolah dasar yang masih jadi lingkungan bermain.

Bagaimana saya bisa berempati dan menyesuaikan cara mengajar?



Saya bilang cara mengajar karena saya kasihan banget kalo kita serahkan semua pada guru di sekolah. Kurikulumnya seabreg gitu.

Tentunya kita sebagai orang tua harus bantu juga ya mengajar anak. Dengan bahasa kita yang mungkin lebih dipahami anak.

Mungkin loh.

Mungkin lebih dipahami kalau kita mengajarnya dengan emosi yang stabil. Da kadang ngajarin anak di rumah teh keselnya luar biasa. Lah kita sendiri harus ngerjain ini itu, anak tergoda ini itu, susah juga untuk bisa mengumpulkan serpihan konsentrasi baik dari ibunya maupun anaknya.



Makanya tadi pagi saya bilang di status FB bahwa beban pelajaran anak sekarang sudah luar biasa beratnya, jangan ditambahi bebannya dengan melihat orang tua mereka galau apalagi bertengkar di hadapan anak.

Saya sudah takut sebenernya ada yang mengartikan saya pasang status begitu seperti menunjukkan bahwa saya dan suami diam-diam ada masalah.

Eh.. taunya bener aja ada yang komen jail. Dodol pisan.Gitu tuh kalo pasang status. Maknanya bisa diartikan lain oleh yang beda kepala dan beda sudut pandang.



Sebenernya dengan status itu saya cuma mengingatkan pada diri sendiri dan teman-teman bahwa hal yang paling menyedihkan bagi anak adalah ketika melihat orang tua mereka galau. Dan yang paling jadi beban berat di hati anak adalah ketika menyaksikan kedua orang tua mereka bertengkar.

Kalau mereka sedih, dan orang tua sedih, lantas pelajaran apa yang bisa diajarkan orang tua dan diserap oleh anak selain kegalauan demi kegalauan??





Sudahlah, saya tidak akan membahas masalah orang tua dalam notes ini. Sing ngarti we wahai para orang tua. Dewasalah. Inget umur, inget anak.



Emm..di sini saya cuma ingin menyalurkan kebingungan bagaimana agar Arif bisa belajar mandiri.



Dalam benak saya, belajar secara mandiri adalah belajar sendiri tanpa harus selalu saya temani. Bisa tau bagian-bagian mana saja yang harus dia pelajari, dan menanyakan hal-hal tertentu saja kepada saya atau ayahnya. Jadi saya bisa bebas mengerjakan hal lain tanpa harus berdiam dengan jarak kurang dari dua meter dengannya saat belajar.

Apa benar pengertian saya tentang belajar mandiri itu? Dan apakah kemampuan belajar mandiri seperti itu sudah waktunya dimiliki oleh seorang anak 4 SD? Dengan beban pelajaran SMP kita dulu? Saya kok pesimis ya?



Karena kalau saya tinggal, Arif pasti bawaannya main. Entah itu menggambar, main bola, main boneka power rangernya, dll. Berdiam lebih dari 10 menit untuk membaca pelajaran adalah luar biasa. Selebihnya pasti dia sudah ke mana.



Senin 12 Desember adalah UAS terakhir dia, pelajaran IPS.

Ya Alloooh ..betapa sulitnya membuat dia konsentrasi. Untuk mengkaji kembali apa itu koperasi, macam-macam koperasi, pengertiannya, arti lambang koperasi, terus kebudayaan daerah, peninggalan prasejarah, .. tentang kepahlawanan, patriotisme... nama pahlawan, tari daerah, rumah adat, ...glugh glugh...



Sementara saya tau persis kemampuan dia bukan pada pelajaran seperti ini. Dia hanya suka matematika, matematika, dan matematika. Terbukti memang UAS matematika dia selasa lalu mendapat nilai sempurna. Seratus koma nol nol. AlhamduliLlah.



Akhirnya ini untuk IPS saya buat kuis-kuisan aja, dan dia lumayan jadi semangat. Saya buat pertanyaan di kertas-kertas kecil yang dinomori. Dia pilih nomornya, dan saya bacakan pertanyaannya, kemudian dibahas.

Beberapa nomor saya tulisi di kertasnya: Main UNO.

Berarti kalau kebetulan dia pilih kertas itu, dia boleh main kartu UNO sama saya dan Sofi.



Hasilnya, saya hari ini gak sempet ngapa-ngapain selain belajar.



Asli suntuknyaaaaaaaaaaaa... ..hoahhhmmm.....

Kebetulan saya ini masih numpang di rumah mamah karena rumah cipadung belum kelar direnovasi. Jadi ya masak sama mamah, nyetrika cuma dikit sisanya sama mamah, lain-lain sama mamah. Doooh.....



Syukurlah suami saya ke luar kota seharian ini, jadi tak ada beban pelayanan.. Hahah.



Dan dalam hati kubertanya.... Kapan ya Arif bisa belajar untuk UASnya tanpa saya temani?





-________-



Cisaranten, 10 Desember 2011

Jelang Malam



Membosankan sekali.

Rabu, 30 November 2011

Ke mana ajyaaaa???

***
Saya. Dibilang kerja engga, dibilang nganggur engga. Dibilang IRT bukan, dibilang wanita karier juga bukan. Lantas Irma ke mana ajyaa ?? Dapet duit dari manaa??

1. Suplier obat-obatan ke sebuah Balai Besar.

Udah 2 tahun saya jalani usaha ini. Lumayanlah. Dalam 1 tahun saya menyuplai obat-obatan ke balai besar ini bisa sampai 4-5x orderan. Saya yang nerima orderan, saya yang pesan ke PBF dan saya juga yang antar. Ini bisa berjalan karena saya kenal baik dengan dokter di balai besar itu, dan dalam menyuplainya saya dibantu oleh apotek teman saya. Bagi hasil lah jadinya.

2. Administrasi sebuah apotek.

Apotek teman saya. Saya ditugasi untuk mengurus segala tetek bengek administrasinya dalam tataran ide dan pengawasan. Palingan di apotek ini kerja saya cuma seminggu sekali. Dan kadang kerja lembur juga kalau dibutuhkan. Dapetlah saya bayaran dari sini.

3. Spesialis Pengobatan Gratis.

Sudah dikontrak oleh sebuah Yayasan, jadi apoteker di pengobatan gratis yang rutin mereka adakan sebulan sekali. Dari sini juga dapet fee.

4. Deputi SDM dan Kelembagaan Depkes Yayasan *BM.

Sebuah yayasan di mana saya dan suami berkecimpung. Di sini masih banyak kerjabaktinya, gak dapet fee. Tapi sebagian besar pengeluaran saya untuk yayasan ini diganti secara materi. Jadi ya cingcaylah. Mudah-mudahan ke depannya Yayasan ini bisa lebih menjanjikan baik secara materi maupun immateri. Toh saya dan suami mendapatkan lingkungan yang menyenangkan di sini.

5. Menulis

Aihh.. banyak yang bilang saya penulis. Padahal kemaren juga dapet royalti, duitnya dikiiit.
Itu mah ngegantiin biaya produksi aja. Hahaha.
Tapi bolehlah suatu saat tulisan saya dihargai dengan materi juga ya? Baik langsung maupun tidak langsung.

Sooo... dengan kelima pekerjaan itu, maka penghasilan saya... bisa kecil bisa besar. Relatif.
Kalau ada biasanya dipake buat jajan anak. Shodaqoh. Dan.. habis. Hehehe.

***

Rabu, 23 November 2011

Berubah yaaa... :)

***
November 2011. Beda dengan November 2010. Beda dengan November 2009, dan beda dengan November tahun-tahun sebelumnya. Berbeda berarti hidup. Perubahan adalah keniscayaan.

Tapi ada yang sangat aneh di November kali ini (istilah 'sangat' hanya untuk melebaykan)
Saya merasa berubah, tapi gak ada satupun yang bilang saya berubah. Barangkali juga gak ada yang memperhatikan? Atau memang sebenernya bukan saya yang berubah?

Setelah ngobrol bentar dengan Teman A, memang rasanya bukan saya yang berubah sih, tapi diawali dari lingkungan saya yang lain dari biasanya. Teman-teman saya yang berganti kesibukan, yang ternyata pengaruhnya lumayan buat saya.

Gak banyak yang beda, cuma jadi agak agak males pasang status FB. Kenapa? Karena saya biasanya kalo pasang status, ngarep komen dari Teman A, Teman B, Teman C, atau Teman D...Ehhh, taunya mereka pada diemmm semua.. hahaha.. geus teu usum tea barangkali ya komen-komenan.

Yang komen jadinya siapa? Gak tauuu.... :))...kadang saya gak kenal siapa itu yang komen. Karena sejak buku saya terbit, saya sering confirm-confirm saja siapapun yang ngeadd saya untuk jadi friendnya di FB, asal namanya gak alay dan profpicnya sopan.
Pernah ada yang komen, cowo, dan saya gak kenal, tapi dia kok ya rada sok akrab gitu komennya. Heu. Saya bingung. Biasanya kalo saya ngerasa gak enak sama komen orang, saya kirim message ke dia untuk meluruskan. Tapi kalo gak kenal? Euuu.. masa iya saya bilang “Komennya jangan kecentilan gitu dong, saya kan perempuan, udah nikah, lebih tua dari kamu, kamu cowo, dan saya gak kenal kamu … “
Terusss? Hahah .. daripada bingung, saya block aja itu orang... maap. Rada mengganggu soalnya.
Sementara orang-orang yang saya harapkan komennya,.. diam seribu bahasa :)

Saya melihat teman-teman A sampai D saya itu lagi pada seriussss.. aslina.

Teman A asyik dengan... apa... gak tau.. rada misterius memang Teman A ini. Tapi dia satu-satunya yang saya pikir gak berubah. Ya mungkin saya aja gak tau, karena cuma kenal luarnya aja. Chatting hanya untuk haha hihi dan bertukar quote of the day. Seringkali saya gak tau masalah dia apa dan dia juga gak tau masalah saya apa. Cuma kata Teman A, sekarang Teman A tsb sungkan ngomen status saya karena gak kenal sama para komentator lainnya. Wkwk. Iya sih, biasanya tik tok kayak pingpong kalo udah komen2an sama yang laen di wall saya :)

Teman B, lagi hamil. Sejak hamil dia agak-agak berubah. Pengaruh hormon kali ye. Rada-rada berkurang gitu gejenya, tapi chatting jalan terus, hampir tiap hari. Sebenernya dia masih geje, tapi gak separah dulu. Hahaha. Congratz yaa :)
Biasanya kami geje bareng di FB, tapi kali ini saya tidak punya teman geje lagi. Mun geje sorangan, ngerakeun :))
Kalo lagi hamil, ya gitu kayaknya, chattingan dikit, mual. Ngobrol kesana dikit, pas kemarinya mulai gak enak badan. Komen status? Hampir gak pernah cuuuyyy... Hadeuuuh.... mangga dikulemkeun we atuh. Biar saya hangout saja sama yang laen :D

Teman C, sejak punya bayi memang rada riweuh. Maklumlah...sangat saya maklum.
Tiap diajak chat, ngegantung terus, jarang selesai. Jadi sering di twitter dia sekarang, dan dihubung ke FB. Dan kalo ngetwit. Super bijak. Memang pada dasarnya dia orang bijak, makin diam, makin terasa bijaknya.
Ngomen status saya? Hampir gak pernah juga. Ya gapapa juga.
Tapi kadang saya butuh sarannya dalam hal-hal kecil lah.. YM dia udah hampir seminggu ini mati. Kalo nyengajain nelpon/sms, asa garing. Gak penting kok.
Hmmm...bisa jadi karena dia mempraktekkan tulisan di blognya, yaitu ingin fokus, tidak lagi multitasking :D Dan tulisan terbarunya adalah tentang me time, your time, dan our time yang membahas tentang waktu untuk diri sendiri dan keluarga. Saya? Butuh tambahan waktu, yaitu friends time. Makhluk macam saya gak bisa cuma berkutat di diri sendiri dan keluarga. Tiap hari butuh teman berbagi.

Teman D, sejak masuk kuliah S2, kerasa pisan berubahnya. Mungkin karena kuliah sambil kerja, jadi sibuk berat. Gak kepikir lagi buat haha hihi apalagi ngomen status saya. Kalo ditanya juga jawabannya gak jauh dari “Yes” paling banter diiringi jawaban singkat nan serius. Sekalinya nanggepin status, seriusnya luar biasa. Pas ketemu juga kerasa banget gak serunya (tampak stress? Enggak juga. Tapi dia bukan Teman D yang selama ini saya kenal, yang murah senyum. Mati rasa? Semoga tidak). Mmm..barangkali juga karena punya teman menggalau baru dan teman-teman ngerandom yang asik, sehingga dia tidak lagi menjadikan saya tempat berbagi ya? Hahaha.. biarlah. Belom ada yang cocok buat diceritain ke saya barangkali. Saya kan serba gak ngerti tea. Ceritanya tau diri saja sayanya. Inget umur inget anak. Mudah-mudahan RT dia dari @RadioGalauFM bukan buat saya .. hehe... gini katanya: RT @RadioGalauFM: Udah dapet yang baru, gak usah ngurusin yang lama lagi lah. Apaan banget sih.
Huahaha.. kenapa juga gue yang ngerasa kesindir. Apaan banget sih.

Menghadapi teman-teman dari A sampai D ini kadang saya bingung.. kudu kumaha. Padahal sebenernya baik-baik aja, gak harus kumaha-kumaha sayanya. Toh setiap saya tanya kabar, mereka nyaut, dan kabar mereka baik-baik saja. Dan (mudah-mudahan) tidak ada masalah dengan saya. Meureun. Sugan. Gak tau deh. Gak ada masalah dengan saya kan ya?

Cumaaaaa saya ngerasa kepo aja. Dikit-dikit nanya. Jawabannya juga jadinya emang dikit-dikit. 100% kepo dah gue. Menyebalkan sekali bukan.

Terus sekarang saya lagi deket sama siapa? Ya sama Teman A sampai D ituh.. siapa lagi...
Temen main, temen chat, temen komen2an, temen kerja, temen ngacaprak sih banyakkk, tenang aja. Temen tidur juga kan ada. Saya tidak pernah merasa kesepian. Ini mah cuma lagi inget Teman A-D aja, lagi melo melo... Karena hujan kali ya dan akhir tahun, jadi asa pengen kaleidoskop gitu.


Palingan saya jadi ragu aja untuk sekedar cerita hal-hal kecil ke Si Teman A-D. Takut jawabannya gak sepanjang harapan saya, atau bahkan tidak ditanggapi sama sekali...atau takut membuat mereka kebingungan harus komen apa karena gak ada hal yang dirasa penting untuk diungkapkan terlintas di pikiran mereka. Saking gak pentingnya cerita saya...--- Melag itu teh, yu nau...Hahahaha...
Jadi memang mestinya gak berharap apa-apa, biar gak kecewa.

Ya barangkali cinta saya pada teman-teman yang udah saya anggap sahabat, sedang diuji. #eeeaaa.. Sayanya harus ikhlas, gak nuntut balas. Cuma.. mm.. dengan tulisan ini saya pengen kalian tau, kalo saya sering ingat kalian, memantau kalian, dan selalu ingin tau kabar kalian.
Kalian yang --(dulu)--- bisa meramaikan dunia maya saya :)

Ayo mana senyumnyaaaaa????? Fiuuuhhh.. serius semua tu tampangnya. Cape deh.
HP saya online 24 jam, nomor masih yang lama. Facebook, twitter dan email masih saya cek setiap hari. Jejaring sosial lain saya ikut, tapi bingung mo ngapain di sana jadi gak dibuka2.
Silahkan kontak saya lewat apapun, asal jangan via BB, karena sampai saat ini memang belom punya---- bila kalian butuh bantuan saya, kapan saja, insyaa Allah saya akan berusaha bantu.

Semoga kesibukan kalian barokah, dan segalanya berubah ke arah yang lebih baik. Aamiiin.... *cross my finger*

***

Kamis, 27 Oktober 2011

Renovasi Rumah (4)

Tulisan sebelumnya: Renovasi Rumah satu(1), dua(2), dan tiga(3)

***
Yang namanya pindahan rumah, ternyata luarr biasa. Saya jadi tau barang apa saja yang tersimpan di rumah saya selama 8 tahun belakangan ini (sejak 2003). Wuihhh.. SubhanaLloh, ternyata banyaaak sekali harta saya. Baju, tas, sepatu, mainan, dan barang-barang kecil lainnya, yang barangkali selama ini hanya 40% saja yang terpakai.
Biasalah kalo punya barang maunya disimpenin. Dipake engga, dibuang sayang.

Beberapa barang akhirnya saya relakan untuk dibuang. Lebih tepatnya diberikan pada yang perlu. Siapa yang perlu? Mestinya ada. Karena apa saja yang saya taruh di depan rumah, hanya bertahan beberapa jam, setelah itu menghilang. Pasti diambil sama pemulung yang lewat. Ya seperti toples-toples plastik, atau wadah bekal makan/minum anak-anak yang sudah kotor berdebu, juga beberapa piring/gelas melamin yang sudah rusak. Pakaian-pakaian yang sudah bertahun-tahun terbukti tidak pernah dipakai dan terdapat semacam noda 'usang' gitu, saya pisahkan dan saya serahkan ke mamah. Mamah punya banyak kenalan orang kelas ekonomi tingkat bawah. Masih layak kok dipakai. Mudah -mudahan bermanfaat.

Setelah disortir.. masih banyak jugaa barang saya yang saya masih membingungkan. Buang jangan buang jangan.
Akhirnya hampir semua barang diangkut ke rumah mamah, bikin rumah mamah padat oleh harta kekayaan yang saya punya, kecuali lemari, kursi dan tempat tidur.
Dan buku.. berkilo-kilo buku punya suami saya itu saya simpan di kamarnya, di rumah orang tuanya. Hehe. Kalau milik suami, saya gak berani buang/ sumbangkan.

Dan hari ini, adalah hari ke 4 saya tinggal di sini, di rumah orang tua saya, dengan penuh kepadatan barang. Maklumlah rumah orang tua saya tidak terlalu luas. Takapa. Yang penting masih ada tempat bagi kami untuk tidur dengan nyaman.

Renovasi rumah sudah dimulai karena rancangan dari Bu Arsitek sudah jadi. Uang pinjaman sudah cair, dan para pekerja sudah siap.

Oya itu yang namanya pinjam uang dari bank, prosedurnya luarrr biasa. Saya dan suami merasa 'akad nikah' lagi di depan penghulu, namun kali ini akad pinjaman di depan notaris dan petugas bank.
Begitu banyak yang harus kami tandatangan, karena pinjaman suami untuk renovasi ini harus diketahui oleh istri. Dua puluh kali tandatangan ada lah, dan entah berapa kali juga kami harus mengeluarkan KTP selama proses ini.
Dan yang lucu, waktu suami ngeluarin buku nikah, si petugas banknya sampe harus mengamati kami satu-satu, meyakinkan bahwa foto yang tertera pada buku nikah itu adalah wajah-wajah asli Tn. Wiska dan Ny. Irma. Hahaha.. Bae ah yang penting wajah-wajah innocent kami ini bisa mencairkan sekian juta rupiah =)

BismiLlah.. 10 tahun ke depan, kami akan berkutat dengan pembayaran utang setiap bulannya. Mohon do'a semoga kami bisa melunasinya sebelum akhir hayat. Insyaa Allah. Amiin.
***

Selasa, 18 Oktober 2011

Renovasi Rumah (3)

Sambungan dari : Renovasi Rumah (1) dan Renovasi Rumah (2)
***
Jual mobil VW safari itu susah-susah gampang. Taun berapa itu ya. Keluaran Jerman 1974? Eh.. gak tau ah. Pokonya itu mobil tua. Bodinya udah gak enak dipandang mata, tapi mesin masih mulus. Saya yang gak ngerti urusan mobil apalagi mobil kuno, sempet pesimis, apa iya ada yang mau? Kalo dijual berapa ya? Dapet 5 juta juga lumayan kayaknya. Hehe.
Suamiku pasang tarif XX juta.. Hmm.. lumayan juga ternyata ya? Emang ada yang mau segitu -__-


Nawarin ke orang pertama, temen suami, tadinya mau, tapi batal karena uangnya mau dipake keperluan lain katanya.
Nawarin ke orang kedua, temen bapak, setelah lihat-lihat jadi gak minat.
Nawarin ke orang ketiga, tetangga, gak ada respon.
Nawarin ke orang keempat, kenalannya mertua.. ehhh.. mauuu katanya, walau hanya dapet 75% dari penawaran semula. Tak apalah.

Heee.. dipikir-pikir terharu juga lihat mobil itu dibawa pergi...
Gitu deh ya, kalo ada didiemin, kalo diambil orang langsung hati berdesir.. #eeaaa

Lumayan lah hasil jual mobil buat nambah-nambah ongkos pintu dan jendela rumah. Xixi.
Mobilku tinggallah si Mbahnya Carry, si Putih, si.. eta lah. Yang penting masih jalaaan. Kalem weh. Mun udah butuh mah engke jadi CRV lah, insyaa Allah.

Bagi Allah gak ada yang gak mungkin.

****

Sementara Bu Arsitek bekerja, saya beberes rumah sambil bingung.. ini kami ngungsi ke mana yaa selama renovasi.
Pengennya gak ke mamah, gak ke mertua juga...
Sempet nyari tempat penampungan,
Ke temen pertama yang rumahnya gak jauh dari rumah sini, denger-denger mau ke Australia bulan depan. Saya telpon dia, rumahnya dikontrakin ke saya deh... Dia bilang udah mau ditempatin adiknya.
Ke temen kedua yang rumahnya juga gak jauh yang punya beberapa ruko, dia bilang .. ada tempat di sini, tapi gudang.
Ke temen ketiga, nawarinnya gudang juga. Gudang yang bersih katanya. Hoho. Engga ah.

Ya sudah, diputuskan ke rumah mamah sadja... Ortu saya bersedia menampung kami. Huhu.. orang tua mana yang membiarkan anaknya tak punya tempat tinggal. Apalagi ini cuma sementara.

Oya sempet survei juga ke rumah ortunya Ipin yang baru renovasi setahun lalu. Dalam rangka studi banding juga. Lumayan banyak masukan. Tapi ngobrol sama ibunya, kok bisa ya mereka gak ngungsi? Mungkin karena rumahnya lebih gede, jadi ada tempat bernaung sementara area lain sedang dibangun.. hmmm.. riweuh kayaknya kalo saya gak ngungsi mah. Geus mah saya pan punya anak kecil..

Ya suud... beberes pun.. dimulai. Segala macem diangkutin ke rumah mamah.
Dooooh.. repot juga ya ternyata ngungsi teh...

(BERSAMBUNG)

Sabtu, 15 Oktober 2011

Renovasi Rumah (2)

***
Tulisan sebelumnya: Renovasi Rumah (1)

Setelah lebaran, saya, suami dan anak-anak berkunjung ke rumah sepupu. Putrinya bibi saya, namanya Teh Novi. Dia baru bangun rumah. Ceritanya studi banding gitu. Pengen tau aja rumahnya kayak gimana, dan berapa biayanya, dan lain-lain.

Hmmm... bagus juga rumahnya... dia renovasi juga. Bertingkat. Katanya habis xxx jutaan. Wew...
Kebetulan di sana ketemu juga sama kakak iparnya Teh Novi, namanya Kang Wenda. Dia yang ngerjain rumah itu, karena memang kerjaannya ya itu.. jadi mandor borongan :) Apa sih istilahnya. Pokonya masalah bangun properti, dia ahlinya.

Ngobrollah suamiku dengan suaminya Teh Novi, Kang Budi, dan Kang Wenda.

Pulang dari sana, suamiku jadi ngitung-ngitung, apa dengan biaya xxx juta (lebih kecil dari biaya renov rumahnya Teh Novi) cukup untuk bikin kamar dua di atas, kamar mandi dan ruang keluarga tambahan?

Mas Wiska jadinya minta saya ngontak temen saya yang arsitek, dan ngontak juga temen saya yang jadi kepala cabang sebuah bank syariah.
Kepentingannya tentu saja, gambar rancangan rumah sesuai biaya dan kemungkinan pinjam uang ke bank.

Kontak mengontak pun berjalan dengan baik.
Teh Irma (nama arsiteknya) adalah teman saya waktu SMA. Kakak kelas, tepatnya. Dia dulu jadi pelanggan apotek saya. Rumahnya memang dekat dari apotek, jadi silaturahim antara saya dan dia cukup terjaga. Dia bersedia datang ke rumah saya untuk sekedar lontar ide.

Andri (nama kepala cabang bank syariahnya) adalah teman saya waktu SMA juga. Beda kelas tapinya. Dulu deketnya karena sama-sama suka ke Salman waktu kelas 1. Nyambungnya lagi tentu karena facebook.
Dia langsung ngontak stafnya agar melayani saya. Huhuy dah. Dalam hitungan menit saya sudah ditelpon oleh seorang mbak-mbak stafnya Andri.

Segala sesuatu berjalan paralel...
Teh Irma dipastikan bisa menangani rancangan rumah yang kami inginkan, dengan perkiraan biaya xxx juta itu.
Dan bank syariah memberi penawaran yang bagus juga. Emm.. setidaknya cicilan pembayarannya cukup terjangkau selama 10 tahun..walau... heuuu...

Suami meminta saya mulai berhemat. Uang belanja harus dikurangi sekian ratus ribu rupiah per bulannya agar bisa membayar cicilan tepat waktu. Hiks hiks..
Beraaat.. tapi mestinya bisa..
Suamiku nanya lagi.. Bisa engga uang belanjanya dikurangi?
Saya jawab... bisaaaa (lah), insyaa Allah...
Laa haula sajalah.. Niatnya kan baik. Pun pinjamnya ke bank syariah yang semoga, halal.

BismiLlaah (lagi)..

Lanjut kontak Kang Wenda buat penjajagan, apa kira-kira dia bisa menangani renovasi rumah saya. Katanya bisa.
Terus .. tampaknya butuh dana tambahan nih..
Opsi berikutnya memang jatuh pada menjual mobil VW...
Baru tau ya saya dan suami punya mobil VW? Xixixi...
iya itu dia mobil kenangan.

Mobil yang dipake suami saya dulu buat datang ke rumah, ketemu bapak saya untuk pertama kali, yang datengnya bukan buat sekedar pdkt, tapi bener-bener to the point menyatakan maksud ingin melamar saya :)
Mobil yang mengantarkan saya kuliah saat masih pengantin baru.
Mobil yang membawa saya, Arif, dan Sofi, hingga tahun ke-7 pernikahan kami ...
Dan lebih-lebih lagi untuk suami saya, mobil itu adalah kenangan masa kecilnya bersama kedua orang tuanya :)

(BERSAMBUNG)

Rabu, 12 Oktober 2011

Renovasi Rumah (1)

***
Gak pernah terbayang uang dari mana itu saya dan suami bisa renovasi rumah. Duit abis melulu untuk keperluan sehari-hari dan anak sekolah. Boro-boro nabung. Tapi yang penting memang niat, dan meluruskan niat tersebut.
Niat utamanya satu, yaitu nambah kamar untuk anak, mengingat Arif/Sofi udah pada besar, dan sudah seharusnya kami memberi kamar yang berbeda untuk mereka.
Tapi kapan?

***
Namun jalan itu akan selalu Allah bentangkan pada saat kita memang benar-benar perlu dan benar-benar berniat.

Suatu hari sebelum bulan puasa, ibu mertua ngajak saya dan suami bicara. Katanya ingin mengajak kami umrah. Bertiga saja. Saya, suami, dan ibu.
"Tapi ibu denger katanya mau bangun kamar? Terserah mau dipake umrah atau bikin kamar uangnya?"
Hmmm.. gimana ya...
Kami pun minta waktu untuk berpikir.

Betapa inginnya saya menginjak tanah suci Makkah..
Mana saya belom pernah naik pesawat juga..
Terus kan ntar berdo'alah di sana sewaktu umrah..
Minta rumah bagus, mobil bagus..hehe..kan Insyaa Allah diijabah ntar..

Tapi kok ya rasanya aneh ya, saya terbang ke Makkah, sementara anak-anak memang sudah butuh kamar sendiri? Meninggalkan berbagai kebutuhan yang memang sudah penting untuk diadakan?

Saya lebih berat ke bikin kamar. Saya bilang ke suami, dan setelah suami sepakat, saya bilang sama Ibu, uangnya mau saya pake bikin kamar aja..

Giliran ibu yang mikir...

Rupanya Ibu ingin berangkat (lagi) ke Tanah Suci, tapi kali ini ingin ngajak putranya. Adik ipar saya udah jadi haji beberapa tahun lalu bersama suaminya. Ibu ingin melihat kedua anaknya bisa menginjak Tanah Suci Makkah.

Ibu jadinya bilang lagi "Ibu ajak Wiska aja umrah gak apa-apa ya, gak sama Irma? Jatah untuk Irma ibu jadiin buat bikin kamar"...

Ibu bilang, uang tunai yang ibu punya buat 'jatah' saya itu adalah sekian juta rupiah.. hmmm... memang cukup buat bikin satu kamar yang bagus.

--- baiklah Ibu, terimakasih banyakkk... banyak sekali----

Setelah itu suamiku jadi mikir jauh...
Ya bisa sih bikin kamar aja mah, tapi apa pantas naro kamar gitu aja di belakang?
Hmmm...

Keliatan deh kalo suamiku lagi mikir itu.. bawaannya bolak balik jalan jalan dari pintu dapur ke pintu ruang tamu, masuk kamar .. ke dapur lagi.. balik lagi.. Mirip setrikaan.

Maka keluarlah keputusan dari mulut suamiku..
RENOVASI TOTAL !!
BismiLlaah... hmmmm.... uangnya?
Uangnya dari mana, Mas? Sementara Ibu 'cuma' ngasih seperlima dari biaya yang kami butuhkan untuk renovasi total rumah....

(BERSAMBUNG)

Sabtu, 01 Oktober 2011

apakah saya emak2 gauuuulll??

***
Banyak yang bilang saya adalah ibu-ibu gaul. Pasalnya hanya karena saya rajin facebookan. Beuuh... alasan yang sudah tidak usum pisan.

Sementara saya merasa gak gaul, karena kalo ditanya soal lagu ama pelem, saya cengo. Hah? Lagu apaan? Pelem apa tu?
Bukannya saya sok alim gak suka pelem gak suka lagu. Saya suka nongton pelem, tapi sok gak peduli itu judulnya apa. Saya juga suka denger lagu tapi suka gak tau juga judulnya apa. Pokona nu kitu weh. Yang saya tau cuma rame dan tidak, enakeun dan tidak. Komo deui kalo harus hapal syair sama artis-artisnya mah.. ahhh teuing lah.

Mestinya mungkin juga gaul itu berarti berwawasan luas. Diajak ngobrol A sampai Z, nyambuuuung terus. Ngobrol tentang anak nyambung, ngobrol tentang ular nyambung, ngobrol tentang pecinta batik yang besok jalan di kawasan dago nyambung (nyontek ti @infobandung 54 detik yang lalu).
Ah bila gaul itu berarti berwawasan luas, itu bukan saya juga dong.
Saya mah da nyambungnya kalo udah ngomong masalah facebook dan twitter aja. Selain itu mah calangap weh.

Daripada saya ngukur-ngukur sendiri, saya ibu-ibu gaul apa bukan, lebih baik saya pasang status di FB, begini bunyinya:

Sedang nulis tentang "IBU IBU GAUL".. ayo kasih masukan, menurutmu IBU IBU GAUL itu ciri-cirinya apa sih?


Toga yang pertama komen, katanya 3B: bermobil, berbehel, dan berBB...
Bermobil, oke... aku (halah .. aku) bermobil. Tapi mobil saya mah da hijet 1000, embahnya carry kalo kata Bu Mita. Apakah itu gaul? Kayaknya galau itu mah ya? Mestinya honda jazz gitu loh, kalo ibu-ibu gaul. Kayak Bu Rena tuh.. hehehe.. *kiceup Renaaa, colek Honda Jazznyaa...
Berbehel? Ha? Apa behel memang jadi standar gaul ya? Hihihi.. #nutupmulut. Malu.
Saya pake 3 gigi geraham palsu. Apakah pake gigi palsu adalah gaul? Hahaha itu sih tanda-tanda penuaan.
BBMan? Iya saya suka isi BBM ke pom bensin. Sekian. No further comment.

Sementara Om Ipin bilang: Gak Galaw Gak Gaul.
Pembahasan: Urusan galau sih seriiiing... berarti saya gaul dooong. Hidup Galau!!
RT @RadioGalauFM Menceriana in galaure sano. Dalam Badan yang ceria, terdapat hati yang galau.

Terus kata Mas Eko, kalo ketemu temen lama, yang ditanya bukan nomer HP lagi tapi PIN BB..
Gubrag eta BB, keukeuh nya... hiks. "GUE KAGAK PUNYA BEBEEEE.. !!! beee....beee..." (adegan: teriak-teriak di tengah jurang, dengan suara memantul-mantul)

Usulan dari Dik Titi.. Ibu-ibu gaul adalah yang sering namu ke mall/ cafe? Emmm.. gak tau ya kalo pake standar yang ini, bisa jadi .. mm, saya setengah gaul. Coba saya data tempat makan yang pernah saya datengin di Bandung ya. 1. Warung Pasta 2. Baso Akung 3. Kopi Mata Angin 4. Atmosphere 5. Sushi Den 6. S28 7. Sebelahnya Sushi Den 8. Apa tu yang kambing-kambing itu di Riau 9. Kopi Lay 10. Steak..apa tu ya 11.Ada tempat steak lagi, gtau ah namanya 12. Timbel Jalan Mangga 12. Bloemen 13. Bale Gazeebo 14.Sebelahnya Bale Gazeebo 15. Ayam Goreng Suharti 16. Pizza Hut 17.KFC 18.McD 19.Bubur Ayam Mang Oyo 20. Bubur Ayam Pak Imon 21. Ampera 22. Makan-makan 23.Ten to ten 24. Ada lagi tempat steak yang di jalan Sumatra 25. Resep Moyang 26. Steak yang di Dipati Ukur .. hmm.. apa lagi ya.
Gaul engga tuh? hehehe... rata-rata saya ke situ karena ditraktir oleh para dermawan dermawati di kota Bandung yang diam-diam dalam hatinya mungkin bertekad mencanangkan "Menuju Irma Gemuk 2012"

Apa katamu WitRi? Suka arisan? Yang arisan di sana sini mah biasana kerjaan ibu-ibu 50 tahun ke atas yang pengen aktualisasi diri di luar pengajian. Saya gak gaul kalo urusan arisan. Arisan cuma ikut yang di RT. Itu pun dengan niat silaturahim sama tetangga. Hoho. Sungguh niat yang mulia.

Ada yang dalem nih kata Mbak Nina.. coba disimaks semaksimal mungkins:

Kalau siang hangout di mall, ngumpul2 dan makan2, kerja part timer atau full ibu rt..suaminya kaya, anak2 sekolah di full day school, itu sebabnya siang bisa hangout, ngerti bgt soal 'kekinian', selalu ikut pendapat terbanyak, semuanya diukur pakai 'gengsi' tapi itu ibu gaul dari sudut pandang lifestyle ya..
Nah ada juga dari sudut pandang anak, kalo menrt anak ibu gaul itu ibu yg ngerti jalan pikirnya anak, memahami dunia anak2nya, kalo jalan sm anak selalu milih ke tempat favorit anak, nyambung kalo diajak gosip soal Hanna Montana, Bruno Mars, seleranya dalam milihin baju anaknya pas bgt dengan selera anak, seringya sih ibu gaul model begini justru bukan tergolong ibu rumpi di sekolah anaknya, karena dia percaya anaknya bisa jaga diri di sekolaj..Nah, sekarang tinggal Irma mau nulis Ibu Gaul yg mana..hehehe..

Hm..Nulis ibu gaul yang mana ya? Ya saya copas aja lah komennya Mbak Nina, karena suami saya bukan orang kaya. Suami saya kaya hati karena sering makan ati (punya istri kayak saya gitu loh). Trus saya gak ngerti soal kekinian, dan saya pun harus googling dulu siapa itu Hana Montana dan Bruno Mars. (OMG.. betapa tidak gaulnya diriku).

Tampaknya status saya sudah menghilang dari beranda teman-teman atau mereka tidak ada ide sehingga tidak ada lagi itu komen tentang definisi ibu-ibu gaul.

Saya sendiri sih sebenernya pengen banget jadi ibu-ibu gaul dalam artian PUNYA BANYAK TEMAN.
Teman yang gak sekedar diukur dari bertambahnya friend list di facebook atau banyaknya follower. Tapi saya ingin punya banyak teman yang peduli dan menemani kita saat suka dan duka. Teman yang bertanya kabar walau sedang tidak butuh bantuan kita.

Saya mestinya gak terlalu peduli pada pandangan orang tentang betapa sempitnya wawasan saya tentang film, lagu, artis, politik, headline news, sepakbola...
Toh saya memang sebelas tahun terakhir berkutatnya cuman di urusan anak, suami, dan setrikaan. Sulit bagi saya untuk mencerna sebuah film dari awal sampai akhir jika yang ada di benak ini adalah urusan ntar anak dan suami saya makan apa, anak udah mandi apa belom, besok bekel apa buat anak-anak sekolah, etc etc.

Makanya memang saya nyambungnya seringkali jadi hanya dengan ibu-ibu, yang pertanyaannya gak jauh dari "Hari ini masak apa?", dan selanjutnya membahas pelajaran sekolah dasar.

Namun sungguh, bergaul dengan ibu-ibu di dunia maya itu membuat saya merasa bergaul pada tempatnya dan pada kapasitasnya.

Sekali-sekali memang saya suka juga ngobrol sama anak-anak muda. Tapi udahnya kadang bikin saya sedih juga. Kenapa saya asa teu nyambung. Pengen melipir nyusur pager terus kabur. Begitulah kira-kira rasanya.

Diskusi dengan Bu Mita (yang notabene ini anak muda juga loh, tapi tingkat kedewasaannya melebihi saya). Kata Bu Mita, gak ada orang yang bener-bener punya wawasan luas. Bisa jadi orang tampak cerdas dan berwawasan luas karena mereka pandai bicara, punya gaya bicara yang menarik sehingga menguasai publik yang mendengarnya, sehingga seolah-olah dia tau semua yang terjadi di muka bumi ini.

Sementara saya? Saya cuma pandai bicara dalam tulisan, karena gak ada yang bisa nyela saya, dalam note ini misalnya.
Di alam nyata saya lebih suka banyak mendengar. Jadinya tampak gak berwawasan luas. Padahal saya teh berwawasan wiyata mandala tau! #maksudlo -_-!

Ya gitu deh. Pokona buat saya mah, mau gaul mau galau, yang penting saya punya banyak teman yang peduli.
Adakah yang peduli padaku? #drama #sinetron #lebay #garing

Sori nya mun teu puguh. Da ini mah ngacaprak wungkul, berhubung tadi siang saya kebanyakan tidur, dan malam ini Bandung hareudang luar biasa.

Irma yang nyungsep di pedalaman rumah mertua, @Dago
malem minggu gak gaul gak maen padahal di Dago.
Posting di waktu dan tanggal yang cantik: 11.00 PM - 01102011.

Selasa, 27 September 2011

ujian (2)

***
Saya gak dekat-dekat amat sebenernya sama teteh yang satu ini. Satu dua kali ketemu, dan gak kenal banyak. Hanya demi mendengar beliau ditinggal wafat oleh suami, kemudian keesokan harinya dia melahirkan, dan bayinya meninggal pula, siapa yang tidak tergerak untuk melayatnya...

Kabar itu memang datang bertubi-tubi. Pertama ada yang tanya saya hari minggu sore, beli tabung oksigen di mana.

Buat siapa? Ini buat Akang X yang sedang ngedrop kondisinya di rumah, butuh oksigen segera. Dan saya pun menjawab setau saya. Bla.. bla...
Kang X ini mengidap kanker paru-paru katanya. Sudah ngedrop pisan, dan diputuskan untuk tidak dibawa lagi ke RS.

Keesokan paginya, senin, tanpa sengaja saya tau dari seorang teman chatting, bila Kang X sudah wafat minggu malam itu.

InnaliLlahii....

Dan sms pun datang, mengabari bila Teteh X (istri akang X) akan melahirkan anak ke-5 nya di RS. Mohon do'a, karena tekanan darahnya tinggi.

Ya Allah.. saya baru ingat juga bila Teh X sedang hamil tua. Terakhir ketemu waktu kandungannya masih 3-4 bulanan.

Mau nengokin senin siang, telpon sana-sini, taunya dikabarkan Teteh X dibawa dulu ke rumah saudaranya, bukaannya belum besar. Ya sudahlah. Do'akan saja dari jauh... nengokinnya ntar aja.

Kemudian dapet sms lagi bila jenazah Akang X akan dimakamkan di Tasik.

Hmm.. membayangkan perasaan si Teteh X yang sedang mulas akan melahirkan, sementara suami dalam perjalanan menuju pemakaman... :((

Senin malam, dapet kabar lagi... bayinya Teteh X meninggal... mohon do'a....

Ya Allaah.. berapa kali dalam sehari itu saya sebutkan innaliLlahii wa inna ilaihi raaji'uun.... sambil geleng-geleng kepala. Adaaaa ya.. yang dapet ujian seberat itu di dekat saya saat ini.

Barusan akhirnya saya tengok Teteh X di RS.

Dan.. hmmm... di luar bayangan saya, beliau tampak tenang sekali.

Kebayangnya sama saya, beliau terbaring, dan sekali-sekali mengusap air matanya, tapi ini ya biasa aja.

Matanya memang sembab, tapi senyumnya bener-bener dari lubuk hati, dia duduk di pinggir tempat tidur menghadap saya.

Emmm.. kenapa ini malah saya yang terhibur mendengar beliau cerita ya? Dan dia selalu menceritakan hal-hal mudah dan yang menyenangkan di antara cerita-ceritanya. Tentang betapa mudahnya bayi yang sudah tak bergerak itu .. keluar dari rahimnya. Menceritakan betapa senangnya dia ditunggui anaknya yang pertama, yang masih kelas 3 SMP itu selama melahirkan. Dan tak lupa dia pun menceritakan keceriaan-keceriaan kecil yang dilontarkan suaminya sebelum sakaratul mautnya....

Ihhh.. kok bisaaa...
Saya malah sering berucap hamdalah menyelingi ceritanya.

Dan keluar dari rumah sakit, saya speechless..

Menyadari sepertinya ada yang salah dengan... saya sendiri..

***

Senin, 26 September 2011

ujian

***
Baru kemaren dapet telpon dari seorang akang..
nanya-nanya tabung oksigen.
Buat apa Kang? --
Ini, Pak X , lagi ngedrop, butuh oksigen.
Pak X memang sedang sakit keras.
Kemarin dia ngedrop gitu, udah gak dibawa ke RS lagi.
Keluarga sudah pasrah.

Eh tadi pagi dapet sms,
Bu X sudah di RS akan melahirkan.
Melahirkan anaknya yang ke-4 kalo tak salah.
Bu X adalah istrinya Pak X.

Ya Allah, apa rasanya jadi mereka hari ini?
Suami sakit keras, istri melahirkan....

dunia oh dunia...
semoga saya tidak pernah dapatkan ujian berat semacam itu,
yang saya tak sanggup untuk memikulnya.
Semoga mereka hari ini,
diikhlaskan hatinya,
diberi-Nya kesabaran,
dan dikuatkan fisiknya.

Semoga segala ujiannya,
jadi penggugur dosa bagi mereka berdua,
dan bagi orang-orang yang menolong mereka hari ini.
Amiin.

***

Jumat, 23 September 2011

bahagia?

***
Bahagia saat kita bisa menyenangkan orang lain lewat hal-hal kecil, dan bahagia bila kita tidak mudah tersakiti oleh hal-hal yang sepele

***

Senin, 19 September 2011

k o p i - d a r a t 100%

***
Sabtu-Minggu kemarin saat Arif dan Sofi saya beri kekuasaan penuh atas modem yang kami punya, mereka kalap. Beneran itu mah dua hari mereka manfaatkan manteng di depan laptop bergantian. Ngegame tentu saja, dan sesekali Arif facebookan.
Saya tidak punya alternatif lain. Katakanlah membawa mereka jalan-jalan ke mana gitu. Bandung macet sabtu-minggu dan kami tidak punya cukup uang untuk bisa berbelanja lebih dari kebutuhan. Naik gunung gratis? Eheheh.. banyak hal yang harus saya dan suami lakukan di rumah kemarin. Beres-beres rumah dan panggil montir untuk servis mobil.

Walhasil saya pasrah melihat Arif dan Sofi begitu asyik ngegame, dan setengah kesal juga saya. Ngegameee teruuuusss .. gak kreatif amat sih anak-anak gue. Main apa kek gitu yang gak usah di depan laptop.
Tapi dipikir-pikir barangkali sayanya juga yang gak kreatif ya? Main apa coba yang asik.. karena game internet itu kalo saya pantau sih, emang nyenengin. Emaknye aje ini mah yang gak kebagean main. Jadi kesel. Wew.

Akhirnya mereka sampai juga di batas waktu. Magrib, hari minggu. Mereka tidak boleh lagi menyentuh laptop. Modem dicabut.
Arif masih nawar,"Main game di HP Umi boleh engga"
Dulu saya sempat membolehkan, tapi setelah 30 menit saya minta waktu berpikir, saya bilang ke Arif, "Tidak". Pokonya tidak boleh untuk semua barang elektronik, termasuk TV. Dan tentu saja semua aturan itu berlaku juga bagi Sofi.

Bada magrib itu, setelah baca Qur'an beres dan makan malam selesai, Arif Sofi jadi luntang-lantung. Hadooooh....
Sofi ambil kertas dan menggambar, Arif ngurus bentol di kakinya yang tampak super gatal. Selanjutnya Arif menggambar juga di whiteboard.
Setelah itu, luntang lantung lagi.

Kalau sudah begini memang saya musti turun tangan. Bapaknya biarlah di depan komputer, kasian da dia mah bisa online atau apapun di PC ya cuma malem. HP dia mah pan jadul, kagak bisa online..heheh.. senasip dengan HP saya yang menurun kemampuan onlinenya saat ini.

Turun tangan yang bisa saya lakukan untuk Arif dan Sofi adalah dengan mengambil modul pelajaran mereka. Belajar apapun yang ada di sana. Buat Sofi baca bareng tentang kegunaan sinar matahari bagi makhluk hidup. Dan buat Arif dia saya suruh baca tentang rangka manusia.
Beneran tu buat Arif saya turunkan buku Principles of Physiology and Anatomy nya Gerard J. Tortora, buku jaman saya kuliah yang tebalnya hampir seribu halaman itu, biar dia bisa lihat gambar anatomi manusia dengan benar.

Tapi seringkali untuk berbagai kebutuhan visual anak-anak dalam pelajarannya, saya minta bapaknya yang lagi online untuk mencarikan gambar yang bagus berkaitan dengan pelajaran mereka. Misal tentang rotasi bumi, galaksi bima sakti, satelit, planet.. visualisasi dari berbagai web di internet itu oke banget.

Kembali ke masalah turun tangan agar anak-anakku tidak luntang-lantung....
Ternyata belajar pun memakan waktu tidak begitu lama. Arif Sofi palingan ngabisin waktu 15 menit untuk membaca dan memahami satu materi. Dan cukup, mending sedikit tapi masuk daripada banyak tapi olab. Selanjutnya paling saya ngetes dua kosakata bahasa Inggris ke mereka (biar emaknya juga belajar).

Pokonya mulai semester ini saya ingin menerapkan ke mereka kalo belajar teh jangan hanya pas mau ulangan aja. Kalo belajar pas mau ulangan aja mah nantinya gak enak, diburu-buru, gak ngerti dan cepet lupa. Maklumlah ini saya berpengalaman puluhan tahun. Belajar cuma pas mo ujian :D - Arif Sofi pun sepakat.

Teruuusss .. ngapain lagi ya biar anak-anak saya tak luntang lantung...
Mereka kayak kehilangan arah gitu kalo abis online seharian teh. Persis kayak saya. Hoho.
Oya saya juga kasih pengertian ke mereka, alasan kenapa saya melarang mereka ngegame semasa belajar senin sd jumat. Biar otak gak capek. Pindah dari game ke belajar itu bikin capek looh. Saya bilang gitu.
Arif nanya lagi "Kalo facebookan boleh?"
Dan saya jawab "Tidak".... he he he... ngegame sama facebookan sama aja. Ceuk si umi dari lubuk hatinya yang terdalam.

Akhirnya saya, Arif, Sofi, dan bapaknya yang kadang ikut nimbrung itu ngobrol aja kesana kemari. Ngacaprak, dan itu buat saya jauh lebih menyenangkan dibanding melihat mereka asik ngegame (tentu saja).

Mendengar betapa banyak mereka berbicara, saling menimpali, dan berebut bercerita, saya jadi ngeh bila perasaan anak itu sama aja dengan perasaan saya. Mungkin perasaan siapapun.

Saat kita sebagai lawan bicara punya perhatian 100%, maka orang yang bicara dengan kita pun akan senang 100% untuk bercerita. Tapi satu hal saja.. bila lawan bicara kita udah mulai sesekali pegang gadgetnya, sesekali menatap layar, sesekali mengetik sesuatu, dan sesekali pula menatap saya sebagai lawan bicara di dunia nyata nya, maka saya lebih baik berhenti bicara hingga dia menatap saya sepenuh hati. Tapi kesenangan saya berbicara dengan dia sudah jauh berkurang. Tidak 100% lagi. Pundung. Nyeri hate. Hayang balik.

Lebih baik kalau kita minta izin dulu kepada lawan bicara 'nyata' kita kalau kita hendak membalas sms, minta cut dulu ngobrolnya, untuk menunjukkan kalau kita ingin menyimak obrolan dia 100% setelah membalas sms ini .
Atau kalau saya sedang asik YM dan Arif atau Sofi tampak pengen ngobrol, saya suka bilang sama mereka.. "Ntar ya, Umi pamitan dulu sama yang di YM ini".

Saya mengalami masa kecil yang cukup sempurna untuk ukuran manusia biasa. Punya orang tua perhatian yang malam hari itu identik dengan ibu menjahit dan ayah membaca koran. Mamah saya dulu suka menjahit untuk cari penghasilan tambahan. Jadi tukang jahit walau hanya untuk pakaian model sederhana seperti seragam sekolah dan mukena.
Dan bapak saya adalah PNS yang pergi pagi pulang petang, malam hari membaca koran.

Suasananya asik, dan saya lupa dulu saya ngapain aja pas malem-malem. Kalo gak salah sih ya main boneka kecil-kecil buatan mamah dari kain perca, congklak sendirian, atau main bola bekel.

SD saya jarang belajar, tapi komunikasi dengan orang tua cukup baik. Karena saya merasa terperhatikan walau ibu menjahit dan bapak membaca koran. Mesin jahit dan koran itu adalah benda mati. Makhluk hidup di rumah ya cuma orang tua saya, saya, dan kedua kakak saya.

Entahlah kalau dulu ibu saya main BB dan bapak saya menghadap laptop, barangkali dingin ya? Karena para gadget itu saat ini ternyata seperti makhluk hidup walau tidak memenuhi ciri-ciri makhluk hidup. Para gadget itu bisa berkomunikasi. Mereka bisa membuat kita nangis dan tersenyum. Mengerikan bila ibu bapak saya berkomunikasi dengan makhluk hidup lain di dunia lain. Sementara diriku sebagai anak ditinggal di dunia nyata.

***

Dan tadi malam itu waktu tidur pun sampai, yaitu jam 8.30 malam. Arif Sofi pun tertidur dengan cepat, sehingga setelah mereka tidur, saya bisa online sampai jam 10 malam.. horeee.. :))

***

Tulisan ini tidak bersifat tendensius. Bukan berarti saya menyalahkan yang ber-BB ataupun yang bisa online setiap saat dari gadgetnya. Karena saya sendiri tetap pengen gadget bagus seperti yang kalian punya.

Hanya saja saat saya sulit online dari HP seperti sekarang, maka hal-hal nyata yang ada di sekitar saya ternyata lebih ternikmati. Lebih termaknai.

Mudah-mudahan tulisan ini bisa saya baca lagi nanti, setelah saya punya gadget baru yang lebih canggih, atau HP saya yang ini sudah sembuh.
Biar saya tidak lupa daratan. Daratan tampat anak-anak dan suami saya berpijak. Tempat saya bisa kopi darat.
***

Kamis, 15 September 2011

tersinggung

***
Sungguh memalukan. Kemarin saya nyetrika malem-malem sambil nangis. Kebetulan suami dan anak-anak di kamar sebelah lagi main komputer, saya nyetrika sendirian di kamar lainnya. Yang bikin malu bukan nangisnya, tapi pasal kenapa saya nangis.
Kenapa coba saya nangis?

Saya nangis karena pengen BB alias blackberry !!! Hahaha !!!

Saya kesal karena saya sedang pengen online, chat sama temen, tapi kalo malem gak bisa, karena saya harus memberi kesempatan pada suami untuk online. Saya kan udah tadi pagi. Detik ini saya bisa online di laptop karena saya sudah tunai kewajiban 'memperhatikan' anak-anak dalam pelajaran sekolahnya dan karena suami saya ketiduran.

Ah.. coba saya punya BB. Kan saya bisa tuh BBMan sama temen saya itu yang punya BB. Barangkali saya bisa ngocoblak di grup BB yang kayaknya lebih rame ketimbang grup FB. Dan barangkali pula grup BB adalah grup orang-orang yang terpilih sebagai orang kaya di dunia ini. Yang punya duit berjuta-juta buat membelinya. Browsing lebih cepet juga kali ya. FB-an bisa kapanpun, bahkan twitteran kayaknya lebih enak deh.
Begitulah kata saya dalam hati sambil ngusap air mata di pipi kiri kanan. Lebay asli.

Maklumlah opera mini di hp saya saat ini sedang dalam tingkat mengesalkan. Lamaaa dan keputus-putus. Udah bikin status lucu. Ehhh... taunya gak bisa diupload. Jadi aja gak jadi nguploadnya karena jadi terasa garing luar biasa.
Akhirnya saya males tu' buka-buka FB atau twitter dari hp. Sudahlah.
YM apalagi... sekali dua kali posting mesej, ehhh.. keputus. Payaayayayayaahhh...

Nangis lagi deh gue. Menangisi kemiskinan betapa saya tidak punya gadget yang bagus.
Dodol lah pokonya.

Sisi baik dari hati saya pun akhirnya angkat bicara untuk menenangkan sisi galau.
"Kamu itu ya Ier, makanya belom dikasih BB karena dijaga Allah biar bisa jaga omongan kamu di dunia maya. Semakin sedikit kamu komen dan pasang status, maka semakin sedikit juga orang akan tersinggung dengan omongan kamu, dan semakin sedikit juga kamu mikirin omongan orang".

Sisi galau pun akhirnya mengangguk-angguk tanda mengerti. Air mata pun mengering, dan saya lanjut nyetrika, walau akhirnya saya ngantuk dan setrikaan pun gak selesai.

***
Hmm.. rupanya Allah belum berhenti kasih saya peringatan. Tadi siang saya bertuit tuit di twitter. Lebih heboh dari biasanya karena teman dekat saya yang lagi twitteran pun banyak. Jadi asa rame gituh.

Dan ternyata ...arrrrggghhh... keceplosan !!
Gitu deh ya kalo lagi on fire. Kadang kontrol diri kurang.

Sebenernya saya udah mikir hampir 5x ketika akan kirim itu komen di twitter. Tersinggung engga tersinggung engga...
sampe akhirnya si reply+RT saya terkirim, saya masih mikir untuk mendeletenya.
Delete jangan delete jangan...
Lamaa itu saya mikir.
Tapi biarlah.. rasanya kok ya kalo saya jadi dia gak akan tersinggung.

Untungnya teman saya itu kalo ada apa-apa bilang. Dia bilang di replynya kalau dia tersinggung dengan komentar saya. GUBRAGGG....
Ya sudahlah, sms saja. Saya minta maaf, dan balasannya pun baik. Dia menjelaskan kenapa dia tersinggung, dan saya baru ngeh. Semoga memang dia memaafkan.

Iya saya memang jadinya mikir, .. ooh.. iya yah. Tidak semua yang kita anggap cuma main-main, cuma basa-basi, dan gitu aja kok ya tersinggung, adalah benar-benar tidak menyinggung perasaan orang.

Contohnya saja orang-orang yang ketemu saya, rata-rata... bener2 deh rata-rata, karena banyakkkk bangettttt orang bilang saya KURUS.

"Kok jadi kurus Ir?"

Ya ampuun itu yang bilang kayak gitu ya... jutaan orang kayaknya (kerasanya,red).
Dan jujur saya tersinggung.

Tau gak sih, kalau orang bilang kayak gitu kesannya saya itu penyakitan, cacat metabolisme, stress berat, dan hidup menderita bersuamikan lelaki yang tak peduli nafkah. Huahahahahah... lebay ya? Tapi jujur saya seakan mendengar hal itu di balik pertanyaan:

"KOK JADI KURUS IR? ...BERAT BADAN BERAPA?... HAH? CUMA 42?"

DZIIIGGGGHHHHH.... !!!!

Kadang pengen bilang...terus urusan elu apa heh? Gue juga pengen punya berat badan ideal! Tapi kalo gak bisa ya gak bisa! Mau gue makan nasi sebakul tiap malem juga tetep ajaa berat badan segini! Yang penting gue sehat tau!!

Tapi tentu saja saya menelan bulat-bulat perkataan kurang ajar yang ingin saya lontarkan itu. Ya mungkin orang hanya nunjukin perhatian aja. Atau mungkin dia juga sirik sama tubuh saya yang slim ini. Banyak kok yang nyangka saya masih gadis. Heheheh.

Ah, mengapakah ada singgungan di dunia ini ya. Ada yang menyinggung, ada pula yang tersinggung. Namanya juga gaul ya. Gak galau gak gaul.
Bila anda terpendam di rumah dan hanya ngurus kucing barangkali tak pernah itu anda galau.

Sementara saya adalah manusia gaul. Lebih tepatnya sok gaul. Ya pasti ada singgungan dengan teman-teman semua.

Saya sendiri merasa saya tidak mudah tersinggung (tersinggungnya cuma karena masalah kurus tadi #keukeuh).
Contohnya nih ya...kalau ada temen ngomongin orang, terus di akhirnya dia bilang "Siapa yang gak kesel coba Ir, digituin?"
Emmmm... dalam hati kadang saya bilang.."Ah kalo saya sih biasa aja tuh"... bari tiis. Tapi ya saya gak ngomong gitu lah. Biasanya diem aja gue kalo dicurhatin orang kayak gitu. Palingan bilang: "Dianya lagi PMS kaleee... Udah ah gak usah diambil hati... mending nraktir saya aja yuk biar saya gemuk.. hehehehe..."

Oh iya jadi kaideuan.. kalo ada yang bilang saya kurus. Saya langsung minta traktir aja ya? Hahahaha. Awas kalian..

Saya belum pernah ngeblock akun FB siapapun kecuali dia sudah bertindak kriminal seperti penipuan. Belum pernah unfriend kecuali bila dia tidak saya kenal tapi ujug-ujug promo barang di wall saya.

Ah dunia kelam tanpa teknologi canggih dalam bidang komunikasi kadangkala memang kita rindukan. Saat kita tidak mudah berkomentar, saat kita tidak mudah upload status, saat kita lebih bisa menjaga lisan.
Tapi apa daya kita ditakdirkan Allah hadir di dunia seperti ini. Yang tulisan saya ini saja... yang 'INI'... bisa dibaca lebih dari sepuluh orang dalam hitungan beberapa menit ke depan. Subhanalloh yah.

Berarti memang kontrol diri, kontrol hati, kontrol jari, harus lebih dijaga lagi. Saya saja yang tidak punya BB dan tidak bisa update status setiap saat bisa nyinggung perasaan orang seperti tadi siang! Apalagi yang punya BB, Ipad, Android, Galaumix, Curcolinet, Curhatzoid dan sebagainya? (3 terakhir ngarang, red).

Buat Irma Vitriani Susanti, pikirkan lagi ya sebelum ngomen dan pasang status di FB, di twitter, ataupun status BBM (eit? Amiiiin kituh. Amiiin) . Pikirin ni status nyinggung engga. Komennya nyakitin engga. Da saya mah gak setuju atuh kalo orang bilang ini wall,wall gue .. Gue? elo? end!!! ... apa urusan elu, dsb. Karena bagaimanapun apa yang kita tulis ini dibaca orang. Buat apa nulis di jejaring sosial kalo gak butuh dibaca orang. Kalo gak mau dibaca orang mah eta we nulis di diary yang wangi terus pake gembok kecil tea. Tah di dinya, aman. Nu tersinggung paling semut, eta oge mun semutna kacepet ku gembok.

Khususon buat yang saya singgung hatinya hari ini, atau mungkin sebelumnya tapi saya gak nyadar, saya ucapkan mohon maaf lahir batin, taqobbalaLoohu minna wa minkum. Hapunten atuh lah, da abdi mah jalmi alit, tos begang kieu mah tos we pasihan emam, ulah dimusuhan nya, da bageur.

***

Sabtu, 03 September 2011

membangun 12 kebiasaan baik

***
Ramadhan telah berlalu. Satu bulan digembleng dengan target. Target yang sederhana sebetulnya, tapi sulit sekali dilakukan di bulan lain. (1) Shaum, harus tamat sampai magrib (2) Bangun jam 3 pagi untuk siapkan sahur (3) Tarawih alias sholat malam 11 roka'at (4) Minum kopi sehari sekali.. hehe...saya kan biasanya dua kali.

Sok we, da bulan lain mah punya kebiasaan seperti itu teh susaaah banget. Shaum senen kemis banyak mikirnya, bangun jam 3 pagi cuma buat matiin alarm, sholat malam kalo bangun, dan minum kopi selalu pengen sehari dua kali. Payah.

Jadi kepikiran tapinya, untuk bisa membangun kebiasaan baik, yang berlaku tidak hanya satu bulan, tapi seumur hidup. Berharap pula bisa menurunkan kebiasaan baik itu kepada anak cucu.

Dapet quote bagus dari Mario Teguh. Katanya semakin kita mengenali diri, maka kita semakin tau bagaimana memperlakukan diri ini dengan benar.
Saya tau, kalo saya dikasih target yang banyak (lebih dari satu), maka saya tidak akan fokus dan cenderung tidak istiqomah. Maka berpikirlah saya.
Bagusnya target seperti apa yang saya pasang, untuk bisa mengupgrade diri ini.

Hmmm... sepertinya nih ya.. mudah-mudahan, mestinya bisa, insyaa Allah... Saya akan menargetkan satu saja kebiasaan baik dalam satu bulan. Harapannya sih mudah2an setelah satu bulan hal itu akan jadi sebuah kebiasaan. Kalau sudah jadi kebiasaan, maka kebaikan itu akan jadi ringan.

Nah kalau dihitung satu bulan satu kebiasaan baik, maka ketika bertemu ramadhan tahun depan mestinya saya punya 12 kebiasaan baik yang baru. Lumayan kan?

Yuk ah, mumpung tanggal masih muda, saya akan targetkan satu kebiasaan baik mulai besok. Yaitu... *tiiiiiiiiiiiit* -sensor-
Biar Allah, diriku, dan follower twitter saya saja yang tau.. hihihi.... lihat status twitter saya besok ya. Cik berhasil moal.
***

Mata Anakku Minus Enam ???!!!! (Part II)

Duh, telat banget ya ini postingnya, soalnya diupdatenya di kompasiana siiih.. Biarlah...

Kemarin, Kamis 4 Agustus 2011, Arif sudah saya bawa lagi ke dokter mata, istilahnya adalah untuk ‘koreksi’.
Dia diminta duduk di depan slide huruf dan coba-coba lagi lensa hingga titik optimalnya. Koreksinya dilakukan oleh perawat, dan dicek lagi oleh dokter.
Tidak 100% dia menjawab dengan benar hingga huruf terkecil, meskipun kedua mata dibuka dan menggunakan lensa.

Kesimpulannya, Arif menderita astigmatisme-miopi… eits… bener gak namanya itu ya?.. pokonya silindris campur minus gitu lah. Kiri: -1/4 sildr ½, sementara mata kanan: -5,75 sildr 2.

Komen saya? InnaliLlahii wa inna ilaihi raaji’uun. Sebagian kecil kenikmatan penglihatan mata Arif telah diambil oleh-Nya.
Saya tidak sepanik hari selasa kemarin. Kali ini lebih siap, dan biasa-biasa aja.
Kata dokter, Arif harus pakai kacamata terus. Boleh dibuka waktu mandi dan tidur.
“Kalo sholat?”, tanya Arif.
“Iya waktu sholat boleh dilepas”, kata Bu Dokter sambil tersenyum.
Arif tampak baik-baik saja. Semoga seterusnya pun begitu setelah dia pakai kacamata.

Resep kacamata pun ditulis dan barulah saya banyak nanya Bu Dokter.

Pertama saya minta saran dari dokter buat Arif, berhubung dia senang sekali maen laptop.
Kata dokter, yang penting jangan lebih dari 1 jam terus menerus. Kalo udah 1 jam, istirahatlah dulu barang 5 menit, lihat yang jauh-jauh, baru boleh lihat layar lagi.
Insyaa Allah gak sulit. Arif gak sampai segitunya kok, gak sampai manteng laptop lebih dari 1 jam tanpa istirahat. Nonton TV pun hampir tidak, karena di rumah sinyal TV gak bagus.

Kedua, saya tanya vitamin mata apa yang bisa dimakan untuk bantu mengurangi minus mata. Hmm.. dokter bilang, tak ada satupun suplemen yang bisa mencegah mata miop (ini persis seperti jawaban dokter mata saya dulu). Yang bisa dilakukan hanya membangun kebiasaan baik seperti baca sambil duduk di tempat terang, tidak sambil tiduran. Nonton TV dengan jarak cukup (juga tidak sambil tiduran), dsb. Adapun makanan, sayuran dsb itu bisa memperkuat syaraf mata dalam masa pertumbuhannya. Bukan ke masalah miopnya.
Yang jadi tujuan dari kacamata Arif sekarang adalah melatih syaraf mata (terutama kanan), agar minus berapapun dia nanti, dia bisa melihat sama baiknya dengan yang lain.

Yup, saya cukup faham apa yang dokter bilang.
Saat ini, - saya-, mau dipakein minus berapa juga.. tetep kalo lihat huruf kecil-kecil itu gak bisa. Salaah melulu. Tapi karena saya udah gak kuliah lagi, gak perlu terpaksa atau dipaksa duduk di belakang dan melihat papan tulis, maka hal itu jadi tidak masalah buat saya.

Dokter palingan cuma bisa ngasih ukuran terbaik buat saya, tapi tidak maksimal. Itulah barangkali yang namanya syaraf lemah.

Berbeda dengan Sofi kemarin, yang dia mantaaap nyebutin huruf sampe yang terkecil baik mata kanan maupun kiri. Berarti mata dia plus syarafnya insyaa Allah 100% normal. Semoga seterusnya ya Fi, amiiin.

Nah, Arif punya waktu 3 tahun untuk memperbaiki syaraf ini karena dia sedang masa pertumbuhan. Masalah rabun jauhnya sih, wallahu a’lam, cuma mukjizat… atau kelak semacam operasi lasik yang bisa menurunkan angka minusnya.

Jadi begini lho, kata dokter, mata kanan Arif itu terbiasa melihat jelas hanya dalam jarak sekitar 2 meter. Dan otaknya tidak mendapat informasi kalau mata kanan normal itu bisa lihat lebih jauh dari itu, sehingga memang tidak akan ada keluhan dari Arif. Apakah ini yang dinamakan Lazy Eye yah? Baru baca barusan tentang Lazy Eye ini.
Sekarang oleh kacamatanya (yang akan Arif pakai nanti) si syaraf mata kanan dikasih tau kalo dia tu mestinya bisa lihat jauh.

Dokter minta, 3 bulan setelah pake kacamata, kontrol lagi. “Nanti kita lihat apa ada perbaikan pada syaraf matanya”, gitu dokter bilang.

(Di atas sudah terangkum pertanyaan ketiga dari saya tentang maksud dari syaraf lemah).

Pertanyaan keempat adalah tentang kacamata pinhole, yang bisa menguatkan syaraf/ mengurangi minus (?). Jawabannya, tidak usah. Dokter menjawabnya seakan-akan kacamata pinhole itu hanya sebuah tahyul. Gtau deh…
Ya sekarang tinggal menyiapkan mental Arif untuk berkacamata.
Kerasa banget dulu saya berasa bener jadi orang yang tidak normal, karena ketika saya bilang ..
“minus lima.. enam.. tujuh… dst”, tanggapan orang adalah … “HAAA??”

So what gitu loh.. mending nanya mah nanya aja kagak usah pake HA :(

Trus dulu saya paling maleees kalo dibawa mamah/bapak ke RS. Cicendo setahun sekali sejak kelas 1 SD.
Ngantri, lama, lapar, tunduh, hareudang (ini dulu ya, gak tau kalo sekarang), dah gitu dapet vonis penambahan minus pula, dan saya harus ganti lagi kacamata dengan lensa yang lebih tebal, terus ntar makin banyak orang yang nanya deh… “minus berapa?” .. “Haaa?” …. Sebeeellll…

Penderitaan saya berakhir saat seorang dokter mata di tempat praktek pribadinya menyarankan saya menggunakan lensa kontak. Sejak berlensa kontak, penambahan minus mata saya tidak terlalu pesat, dan saya merasa menjadi orang normal. Hehe. AlhamduliLlah.

Berkaca dari pengalaman itu ya berarti saya harus berempati sama Arif dengan cara yang sebaik-baiknya. Seperti halnya saya ingin diperlakukan oleh orang lain. Arif kan belom bisa pake lensa kontak.
Orang tua saya alhamduliLlah sikapnya baik terhadap kekurangan saya ini. Bilang kalo saya lebih baik pasrah saja atas kehendak Allah, banyak bersyukur, dsb dst yang bikin saya tenang hati.
Nanti juga ke Arif saya mau gitu aja. Anggap biasa aja. Dan saya jadinya selalu bilang, “Umi dulu juga gitu”.
Kalo saya bilang gitu, seneng deh lihat rona wajah Arif yang tampak lega. Toh dia melihat kini umminya baik-baik saja walau tetap harus dengan lensa kontak :)

Ayo ARIF !! Tetap SEMANGAT ya Nak !! \m/

***

Selasa, 02 Agustus 2011

Mata Anakku Minus Enam ???!!!! (Part I)

***
Tulisan ini saya terbitkan di kompasiana, jadi bahasanya agak laen.. xixixi...

Sudah cukup lama sebetulnya saya berniat membawa anak saya Arif (9th) ke dokter spesialis mata. Dasar pemikirannya hanya karena saya sendiri penderita rabun jauh, begitu pula dengan suami. Saya minus sepuluh loh, berlensa kontak, dan suamiku minus tiga berkacamata. Kami sama-sama mengenakan kacamata sejak SD.

Dari informasi sekilas yang saya dapat, mata minus itu bisa menurun ke anak. Makanya saya udah niat aja bawa Arif ke dokter mata, ada keluhan ataupun tidak.

Tapi niat tinggallah niat. Selalu saja saya urungkan, karena memang Arif tidak mengeluh apa-apa. Tak ada yang aneh, tak ada pula laporan dari gurunya. Prestasi di sekolah pun bagus.
Hanya saja waktu Arif liburan kemarin, dia banyak maen game di laptop, dan jarak antara matanya dengan laptop menurut saya terlalu dekat. Begitu pula menonton TV. Berkali-kali saya menyuruhnya untuk mundur, tapi dia maju lagi maju lagi. Posisi saat dia membaca buku pun begitu. Terlalu dekat.
Yang membuat saya tidak terlalu risau adalah karena saat dia menjauh pun, dia masih tampak bisa melihat/ membaca.

Barulah tadi siang saya membawa dia ke dokter spesialis mata. Kebetulan sekolahnya masih libur. Niatnya ngabuburit sajalah. Sebelumnya cek gigi pula. Gigi oke, alhamduliLlah.

Sesampainya di klinik spesialis mata, tanpa menunggu lama Arif dipanggil untuk duduk di kursi dan melihat slide huruf kapital. Dan kagetlah saya ketika mata kirinya ditutup oleh perawat, dia tidak bisa membaca satu huruf pun, padahal ukurannya udah yang paling gede. Berkali-kali saya berpandangan dengan Sofi (7th), adiknya Arif. Heran. Kok Mas Arif gak bisa baca sih.
Beberapa lensa dicoba dan dia hanya mencapai kemajuan sampai huruf pertengahan, tidak sampai yang terkecil.

Kemudian pindah tutup mata kanan, mata kiri yang melihat. Yang ini sebentar saja, tampak tak ada masalah berarti.
Kemudian perawat membawanya ke sebuah alat.. emm.. komputer dia bilang (duh.. apa namanya ya?). Arif duduk menempelkan dagu dan keningnya di alat tersebut dan melihat ke sebuah lensa tanpa boleh berkedip. Setelah mata kiri, kemudian mata kanan, dan keluarlah hasilnya berupa print out.

Perawat kembali meminta Arif duduk di kursi tadi. Coba-coba lagi beberapa lensa. Diputar, diganti, dan Arif ditanya. Tetap hasilnya tidak memuaskan.
Perawat pun memanggil saya dan menjelaskan... deg deg deg...

"Ibu, menurut hasil pengukuran komputer, mata Arif ini yang kiri hanya minus 1/4, tapi yang kanan, jauh sekali Bu.. minus 6. Sebentar ya Bu saya panggil dokternya dulu"

Haaa???.. Minus ENAM? Ya Allaaah.. sungguh saya nyesel beribu kali nyesel kenapa saya gak bawa Arif sejak dulu untuk periksa mata.... Dan saya heran kenapa selama ini Arif gak bilang sama saya... pun saya gak melihat gelagat yang terlalu gimanaaa gitu dari Arifnya sendiri. Toh saya kan sering di rumah, dan gerak-gerik Arif cukup teramati oleh saya. Minus ENAM... saya tau seberapa buram itu minus enam. Itu minus saya kelas 3 SMP !!

Dan dokter pun datang.
Beberapa lensa beliau coba lagi di mata kanan. Hasilnya masih kurang memuaskan juga. Sampai pasien di sebelah saya tanya, "Anak ibu udah bisa baca kan Bu?" .. hiks.

Dokter memanggil saya, dan menjelaskan seperti halnya perawat tadi. Dia sama sekali tidak menyalahkan saya. Dia bilang bahwa kasus seperti ini amat besar kemungkinannya untuk terlambat diketahui, karena anak tidak mengeluh, dan orang tua seringkali tidak sadar. Arif selama ini mengandalkan mata kirinya untuk melihat. Tanpa disadari mata kanannya jadi tidak optimal bekerja, sehingga syarafnya melemah. Oow..
Dokter bilang, masih ada waktu 3 tahun lagi (hingga Arif berusia 12 tahun) untuk bisa menguatkan kembali syaraf mata kanannya.
Dokter kemudian memberi Arif obat tetes mata untuk melebarkan pupil (?) -maaf saya tidak yakin kegunaan obat tetes tadi-, dan meminta saya menunggu satu jam untuk kemudian mata Arif dicek kembali di komputer.
Sambil menunggu, saya telpon suami, dan suami menyuruh saya memeriksakan Sofi juga. Khawatir.
AlhamduliLlah setelah dites huruf dan cek komputer, mata Sofi 100% normal. Dokter bilang cek lagi tahun depan. Insyaa Allah..
Saya membawa anak-anak ke dokter mata memang niatnya hanya memeriksakan Arif dulu saja. Feelingnya agak lain soalnya... Dan, saya mau lihat-lihat tarif dulu.. ke spesialis mata berapa sih sekarang. Hehe.

Satu jam kemudian, setelah cek komputer, Arif boleh pulang dan kembali lagi dalam 2 hari. Mudah-mudahan bisa ditentukan ukuran lensa yang pas untuk Arif nanti, dan mudah-mudahan gak sampai 6 lah.
-pengen nawar sama Allah .. huhu..

Sore tadi jadinya saya sediiih.. pisaaaaan.. nyeseeeeel... hik hik.... Plus sedihnya membayangkan Arif nanti harus jomplang kacamatanya. Gak ngerti saya ntar bagusnya gimana. Enam itu kan tebal, sementara seperempat itu tipis. Saya tau lah, saya sendiri sejak SD gitu lo berkacamata, hingga saya pindah ke lensa kontak kelas 2 SMA, saat saya minus 7.

Tapi ya gimana lagi, tetep ada sisi syukurnya sih. Bersyukur karena bagaimanapun Arif masih punya waktu untuk bisa melatih lagi otot syaraf mata kanannya. Bersyukur saya tadi diberi niat dan kekuatan untuk melangkah ke klinik. Bersyukur karena saya dan suami insyaa Allah masih diberi rejeki buat periksa mata anak sekaligus nanti biaya kacamatanya Arif.

Arif tadi tampak sedih juga. Dia menghibur diri dengan bilang "Biarlah, setiap orang kan ada sakitnya ya.."
Mungkin maksud dia, setiap orang punya kelemahan.
Iya bener Rif.

Tinggal saya yang harus menguatkan hati, jangan lebay, jangan sampe memperlihatkan ekspresi bahwa kita sedih kalau anak harus pake kacamata tebal.
Saya merasakan sendiri. Bila ekspresi mamah saya baik-baik saja, maka saya pun akan baik-baik saja. Bila mamah tampak cemas, maka saya akan cemas. Bila mamah tampak bersyukur dan berpikir positif, saya terbantu untuk bisa berpikir demikian.

Saya mesti gitu juga di depan Arif. Everything will be better with your glasses, Son! Mari kita jalani saja tiap episode kehidupan kita. Masih banyak kok ... masih banyak buangetttt yang bisa kita syukuri.
Mata minus bukankah jauhhhhh lebih baik.. jauh sekali lebih baik daripada kehilangan penglihatan sama sekali? Na'udzubillahi min dzalik. Semoga Allah melindungi kita dari cobaan berat yang kita tidak sanggup untuk memikulnya.

Di Part II nanti insyaa Allah akan saya tulis eksekusi dokter atas mata Arif, minus berapakah mata kanan dia sebenarnya.
Saya mohon do'a, mohon share pengalaman, dan mohon saran, barangkali ada yang bisa saya lakukan untuk Arif.

Terimakasih telah membaca artikel ini.
***

Setelah Sebelas Tahun Menikah

***
"Sebelas tahun nikah itu hebat loh!", ujar seorang bujangan kepada kami. Kepada saya dan suami pada hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-11, 30 Juli 2011 sabtu kemarin.

Saya langsung nyaut sambil terheran-heran,"Heh? Hebat ya? Perasaan biasa aja deh"

Suami saya pun bilang dengan gaya bijaknya tea,"Masih banyak yang lebih berprestasi"

Sebelas taun dibilang hebat? Anak masih SD gini, belom jadi apa-apa kalipun. Ya ibu bapak kami lah rasanya yang lebih layak dibilang hebat. Puluhan tahun hidup bersama, dan bisa membesarkan putra-putrinya dengan baik.

Sungguh memang ibu bapak saya dan ibu bapak mertua saya telah memberi contoh yang baik untuk sebuah kehidupan rumah tangga. Sehingga kami putra putrinya bisa meniru mereka dalam gaya saling asah asih dan asuhnya, bahkan meniru gaya 'bertengkar'nya. Bertengkar yang tidak berlebihan, yang kemudian saling mengalah. Bertengkar yang tidak serius. Marah karena sayang, dan untuk kebaikan. Bukan marah untuk melepas ego.

Rasa hati di malam tahun kesebelas, memang tak sama dengan rasa hati di malam pertama. Tak ada lagi desir rasa yang menggebu, tak ada lagi rindu yang membara. Halah. Tapi, apa ya? Sulit diungkapkan rasa hati ini. Hanya tenang, tentram, bahagia..

Suamiku bukanlah lelaki paling ganteng di dunia ini. Paling sholeh ya engga juga. Paling baik, bukan juga. Segala kekurangannya sudah tampak begitu jelas di mata saya, tapi saya suka. Saya tenang bila bersamanya, saya merasa kehilangan jika dia tidak ada, dan saya takut membuatnya marah. Itu saja.

Saya juga gak tau apa yang membuat saya bertahan hidup bersama dengan orang yang sama, tanpa merasa bosan dan tanpa pernah berpikir untuk mencari gantinya. Yang jelas memang karena Allah yang memberi kami ketentraman. Yang bisa saya lakukan untuk meraih barokah-Nya berupa sakinah, mawaddah, wa rahmah memang ada, tapi rasanya masih sedikit juga usaha saya itu. Ini pure bener Allah yang kasih rasa.

Yang keingetan mah, pokonya saya gak boleh ngomongin aib suami di depan orang lain. Sementara ini hal-hal yang bikin saya kesel, biar saya telen sendiri aja bulat-bulat, dan diomongin langsung ke suami. Biar sambil nangis-nangis juga yang penting saya ngomong. Sehingga suami tau apa yang jadi kekesalan saya padanya. Lha kalo kita ngomongnya ke orang, mana suami bisa tau? Minimal tau dulu lah. Ngerti biar belakangan. Hehe.

Duh, sedikit aja saya 'ngejelekin' suami di depan orang lain, sekalipun itu sahabat saya, rasanya kok seperti cakar-cakar muka sendiri. Engga banget gitu loh. Rasanya seluruh dunia ngomong: "kalo suami elu jelek, lantas kenape elu mau sama dia?" Hihi.

Tau engga, kalo dikit-dikit aja kejelekan orang diomongin, rasanya orang itu jadi beneran paling jelek di dunia ini, dan kita adalah orang yang paling menderita karena terzholimi oleh kejelekannya. Sing demi, begitulah.
Ya saya juga kalo kira-kiranya udah parah banget mah, curhat kali sama sahabat. Yang tujuannya untuk cari solusi dan melegakan hati. Bukan asal curhat dan mencari pembenaran untuk diri kita sendiri. Tapi alhamduliLlah sampai saat ini belum ada yang membuat saya nangis-nangis ngaduin suami ke sahabat terdekat saya sekalipun. Berjuta kali hamdalah pokonya.

Usaha saya yang laen adalah menampilkan diri apa adanya di depan suami. Gak jaim, gak sok jadi istri sholehah, tapi gak juga gampangan marah. Pokona mah jamedud ya jamedud, ngakak ya ngakak. Dan ke suami memang harus banyak maklumnya. Toh kita juga bukan cewek yang sempurna.

Bersyukur saya beneran, punya suami botak jenggotan. Pendiem juga. Mana gaulnya cuman di milis, bukan di facebook atao twitter. Rajin ke kantor dan rapat yayasan, bukan ke tempat-tempat makan. Hahahaha.
Eh, jangan ngetawain. Dengan begitu gak banyak cewe yang mau sama dia, yang ada cuma segen campur takut. Jadi kan gue tenang tuh dia takkan nyamber atau disamber! (.... petir kali -_-"). Pokona suami saya teu centil gitu lah. Gak tebar pesona di hadapan publik.

Kepercayaan dari istri/suami di jaman sekarang tu mahal loh. Susah dapetinnya. Orang bisa selingkuh dengan cara bervariasi. Makanya sekalinya saya dipercaya suami, dan suami dipercaya sama saya, rasanya sayang banget kalo kita sampe mengkhianatinya. Jadi salah satu kunci rumah tangga rukun memang salah satunya adalah saling percaya dan saling menjaga kepercayaan. Jangan cemburu berlebihan karena itu akan membuat sebal. Cemburu tanda kita gak percaya diri. Percayalah bahwa pasangan gak akan mengkhianati, dan percaya dirilah bahwa kita layak untuk dicintai. Selebihnya, titipkanlah pasangan kita pada Allah, karena sesungguhnya Dia-lah Yang Menjaganya.

Usaha lainnya lagi adalah dengan tidak membanding-bandingkan. Membandingkan suami dengan lelaki lain, atau membandingkan rumah tangga kita dengan rumah tangga orang lain. Dilarang sirik, dilarang dengki dan iri hati.
Allah menciptakan orang dengan karakter, pesona, dan warna berbeda. Banyak-banyaklah lihat kelebihan suami kita, dan banyak-banyaklah melihat kekurangan lelaki lain. Whahaha.
Pun namanya rumah tangga dan pasangan, punya cara sendiri untuk menikmati kebersamaannya. Kita carilah gaya kita sendiri bagaimana. Sesuaikan dengan karakter dan kantong masing-masing. Kalo suami orang ngajak istrinya jalan-jalan ke singapur, ya kalo suami kita kering kerontang mah ajaklah suami jalan-jalan ke situ aja, ke depan halaman, terus nyapu bareng, cuci mobil bareng. Pasti tetangga kita lihat kalo kita adalah pasangan romantis da. Suer.

Dalam urusan ajak mengajak gini, jangan andelin suami buat ngajak duluan. Kadang suami mah gak kepikiran. Yang kepikiran sama dia bisa jadi cuma tidur ato nonton bola. Kita aja sebagai istri yang duluan ngajak dan berinisiatif dengan hati happy. Kalo suami lihat kita hepi, sumringah, dan bersemangat, pasti dia semangat juga.

Ya wallahu a'lam, kita cuma bisa usaha gitu doang. Tapi dengan niat ikhlas, insyaa Allah, nanti Allah yang akan menurunkan ketenangan itu ke hati kita semua. Semoga saja. Amiin.
***

Kamis, 28 Juli 2011

Kisah Seru di Balik Layar "Antara Seorang Istri, Engineer, dan Mahasiswi" (Part VI - TAMAT)

***

***
Pokonya part VI ini harus tamat !! Saya kesel nulisnya, BOSEN.. hahaha...

Sebenernya ini bagian paling seru, karena ini adalah saat hasil desain cover buku kami saya terima via email dari penerbit.
Kami diberi kesempatan untuk satu kali meralat cover, bisi ada yang salah atau ada yang keberatan.

-------- Original Message --------
Subject: Proofing Cover Antara Seorang Istri, Engineer, dan Mahasiswa
Date: Thu, 7 Jul 2011 09:11:16 +0700
From: Prioritas Leutika
To: irma MyFirstJourney


Berikut kami lampirkan design cover 'Antara Seorang Istri, Engineer, dan Mahasiswa'. Jika Anda menghendaki perubahan, harap konfirmasi segera. Trims :)

****

Nah, maka berdiskusilah kami mengenai cover tersebut...

From: Ierma
Date: Thu, 07 Jul 2011 09:37:23 +0700
Subject: Fwd: Proofing Cover Antara Seorang Istri, Engineer, dan Mahasiswi


Ayoooo komentariiii....
Judulnya mau enjenir atau engineer ya... ?
Minta ditanggapi ASAP
tengkyuuu

On 07/07/2011 10:24, danibadrazamani wrote:

Engineer we hahahahahaa
Teh, illustrasi yg cowo gambarna rambutna kurang pendek. Pan sy mah cenderung style na skinhead hehehehehe

On 07/07/2011 19:52, danibadrazamani wrote:

Tehhh, sy rambutnya botak we. Biasana lamun kartun mah digambarkeun titik titik. Baju bebas. Tapi ada baiknya pake kemeja kerja terus bagian lengannya di gulung.celana lapangan. Baju dikeluarin dari celana :)

From: Zahra Pencerita
Date: Thu, 7 Jul 2011 20:50:50 +0800

iya, Zahra warna kulitnya digelapin. Trus jangan tersenyum manis gitu. Rada jail dikit ekspresinya. Itu Z nya sopan betulll.
Tapi kalo males gantinya, ya sud tapapa gitu ugha. Paling warnanya aja gelapin

From: Ierma
Date: Thu, 07 Jul 2011 20:26:10 +0700

Ok.. ok.. akan saya rangkum yak usulannya. Mudah2an bisa diganti.
Secara eta tampang2 kita kok tampak balalageur, rapi dan jernih kitu ..
penerbitnya terlalu berhusnuzhan pada kita ..
hahahaha...

On 07/07/2011 20:38, danibadrazamani wrote:

Iya berhusnudzan hahahahahaha
Teh, lamun bisa mah di kepala sy itu dikasih tanda codet. Pan saya landihana dani codet hahahahaha. Di kepala bagian kiri ya teh.nuhuuunnnn

From: Ierma
Date: Thu, 07 Jul 2011 20:59:00 +0700

kepala titik titik terus ada codet? naha asa kriminal kitu euy -_-!!
Berapa senti dari alis codetna? (real) bisi luhur teuing... terus codet berapa senti?
codetna garis horizontal gituh sejajar alis? Duhh.. kumaha ngagambarkeunna nya...

On 07/07/2011 21:07, danibadrazamani wrote:

Codet vertikal teh. Hehehehe bebas we lah ketang hehe

From: Ierma
Date: Thu, 07 Jul 2011 21:08:11 +0700


ya Allohh.. saya jadi mengamat2i profil picture badra...
oooo.. ngarti lah eta codet ...
Mm.. saya mo lampirkan foto profilmu itu boleh ya Bad... meh jelas ka tukang coverna...

On 07/07/2011 21:09, danibadrazamani wrote:

Hahahahaha
Enya teh. Boleh

Akhirnya saya buatlah itu ralat dan dikirim ke penerbit.. begini bunyinya:

-------- Original Message --------
Subject: Re: Proofing Cover Antara Seorang Istri, Engineer, dan Mahasiswa
Date: Thu, 07 Jul 2011 21:28:35 +0700
From: Ierma
To: Prioritas Leutika


Leutika, mohon maaf kalau bisa ada perubahan sbb:
1. Irma, mukanya dibuat lonjong, dan model kerudung bagian depan tidak melancip tapi melengkung (lihat irma.jpg pada attachment)
2. Badra, rambutnya tidak berponi, cenderung botak, dan ada gambar bekas luka sedikitttt di kepala bagian kiri, antara mata dan telinga kiri. (lihat badra.jpg pada attachment). Baju kemeja lengan panjang yang digulung, dan kemeja dikeluarkan dari celana panjangnya. Tangan dua-duanya masuk saku celana.
3. Zahra kulitnya gelap seperti Badra, tangan kanannya terangkat dengan telunjuk dan jari tengah membentuk huruf V (peace). Tangan kiri terserah saja bagusnya gimana. Kalau bisa sih tampangnya dibuat jail gitu karena yang di gambar itu tampangnya terlalu manis.. hehe...
Yang lainnya sudah ok.
Mohon dikirim lagi hasil perubahannya ya.
Terimakasih.

On 07/07/2011 21:40, danibadrazamani wrote:

Huahuahuahuahuahuahua
Bagian 'tidak berponi' nya bodor pisan
Jaman kapan sy berponi :p
Never!

----------------------------------

Dan waktu pun berlalu hingga akhirnya tiba-tiba buku terbit, dengan cover baru yang... lebih aneeeeehhh dari sebelumnya... hahahaha.... sugan teh setelah direvisi mau diliatin dulu, taunya enggak.
Kami sempat maksa minta ganti lagi cover, mending balik ke yang dulu. Tapi katanya udah gak bisa. Haha. Ya sudahlah. Ini yang namanya takdir.
Tapi da lama-lama dilihat mah oke juga covernya, walau Badra tampak beristri dua. Aheeeyy !! :D

Hingga tulisan ini diturunkan, buku bukti terbit belum juga saya terima. Mungkin seminggu lagi? Entahlah.
Surprise pokonya mendapat banyak pesanan dari teman-teman. Karena tadinya buku ini kami terbitkan bener-bener hanya untuk saudara dan sahabat terdekat saja.

Terimakasih ya, buat para peminat buku ini. Mudah-mudahan memang isi bukunya bisa membawa manfaat dan menjadi ladang amal jariyah bagi kami bertiga. Amiin.

(TAMAT)
***

Rabu, 27 Juli 2011

Kisah Seru di Balik Layar "Antara Seorang Istri, Engineer, dan Mahasiswi" (Part V)

***

***
Akhirnya tiba saatnya bagi kami mengirimkan naskah. Via internet tentunya, karena penerbit berada nun jauh di Yogyakarta sana.
Yang maju tentunya mesti satu orang, jadi ya majulah saya si senior (istilah mudah dari "si yang paling tua".. hiks)

Pada Sel, 14 Jun 2011 08:17 WIB Ierma menulis:

Eh.. saya udah klik "kirim invoice" yang di website.. muncul ini nih.
Dan saya udah sms sesuai perintahnya.
Tinggal nunggu akun saya diaktipkan.
Kitu meureun nya.. Let's wait n see...
-------- Original Message --------
Subject: Invoice Pengiriman Naskah
Date: Tue, 14 Jun 2011 08:05:20 +0700
From: ***
Reply-To: ***
To: iermavs
Kepada Yth.
Pelanggan ****
Terima kasih Anda telah melakukan request invoice untuk pengiriman naskah.Berikut langkah yang harus Anda lakukan:
1. -BLA BLA BLA-
2. -BLI BLI BLI-
3. Setelah akun Anda diaktifkan, Anda bisa login kembali di *** dan meng-upload naskah langsung dari akun Anda.
NB:
Abaikan e-mail ini apabila Anda tidak merasa melakukan request.
Apabila ada hal yang masih ingin ditanyakan silakan sms ke 0821****, atau tulis di inbox FB ***, atau ngobrol langsung lewat YM di website ****
*/Read.Write.Inspire./*
Admin ****

--

On 14/06/2011 16:01, Zahra Pencerita wrote:

wah, teh ir. jazakallah bgt ya.
uas z tinggal satu matkul da. kalo mau minta tulung apa2 bilang ya


From: Ierma
Date: Wed, 15 Jun 2011 07:16:34

Akun yang masuk ini udah atasnama email saya, jadi harus sama saya
terus, kecuali saya bocorin pswd email saya ke kalian.. hahaha.
Kamari tidak terlalu lancar euy.
Saya kan diminta kirim naskah via web.
Kabeneran bisa bari cetingan sama admin webnya. Maka dipandulah saya
oleh si admin.
Eh aipekteh gagal total... aya leuwih ti 5x saya coba kirim gagal wae.
Akhirnya saya kirim via email ke *** (disuruh sama
si admin).
Delivered lah sukses eta mah.
Dan kata si admin mau dicek.
Dan saya kemaren harus offline karena harus pergi.
Jadi weh, saya harus cekiceki hari ini, memastikan si naskah diterima.
Ya gitu deh. Sekian sekilas inpo.

On 15/06/2011 7:17, danibadrazamani wrote:


Semangat teh!!!!
#hehehehehehehehee

From: Ierma
Date: Wed, 15 Jun 2011 07:58:02

Terimakasih Badra -__________-
Btw ieu aya nu diminta ku leutika, yaitu sinopsis, buat di facebook biasanya mah.
Nah, kamari saya ngarang ngadadak tea sinopsisnya. Jadi maap bila tidak berkenan ya.
Terus cover juga.. masih untung cover mah saya bisa nanya pendapat badra heula.
Beginilah:
SINOPSIS
Ini adalah kumpulan tulisan dari seorang ibu rumah tangga ceria bergelar apoteker bernama Irma, seorang enjenir kasep lulusan Teknik Fisika ITB bernama Badra, dan seorang Mahasiswi UIN yang hitam manis bernama Zahra.
Karena latar belakang dan usia mereka jauh berbeda, maka warna dan rupa ceritanya pun tak sama. Sedikit samanya adalah sama-sama lucu, seru, tegang, haru, dan ditulis dengan kata-kata khas mereka yang sedikit bodor sundaniyyah.
Walau juga sama-sama orang Bandung, hingga naskah tulisan mereka diterima oleh penerbit, Irma Badra dan Zahra belum pernah sekalipun bertatap muka. Mereka hanya berkolaborasi di dunia maya saja selama ini.
Mudah-mudahan setelah buku ini diterbitkan, mereka diberi kesempatan
untuk berjumpa, walau hanya sekedar makan bersama.
COVER
Cover kartun lucu yang menggambarkan Irma Badra dan Zahra.
Irma dan Zahra mengenakan jilbab.
Warna dominan: biru langit
DESKRIPSI PENULIS
(sudah ditampilkan di naskah)

On 15/06/2011 8:04, danibadrazamani wrote:

Teh, nu di cover illustrasi sy na ulah make jilbab nyaaaaa
Mun bisa mah rambutna pendek dan kudu kasep sesuai aslinya hahahahaa
Yaa sinopsis nya keren dan simpel teh. Mantapp

Waktu pun berlalu, dan kami kembali tenggelam dalam kesibukan masing-masing.Hingga pada suatu hari Zet pengen ganti salah satu artikelnya yang sudah kami kirim ke penerbit. Jadi weh saya ngontak lagi penerbitnya.

From: Ierma
Date: Sun, 03 Jul 2011 21:00:40 +0700


Badra, ini Z minta ganti artikel. Gapapa ya jadi mundur 3-4 hari wae mah, demi kepuasan kita semua. Hehe.
Berikut ini obrolan saya dengan Leutika. Attachmentnya saya hilangkan untuk kalian mah. Pokona tulisan Z weh yang udah saya edit lagi fontnya.

Date: Fri, 1 Jul 2011 06:32:38 +0700
From: iermavs
To: leutikaprio
Subject: tanya kabar buku

Dear Leutika Prio,
Bagaimana kabar buku kami? Sudah sampai manakah?
Judul: Antara Seorang Istri, Enjenir, dan Mahasiswi
Penulis: Irma, Badra, dan Zahra.
Terimakasih, Leutika.
-irma-

On 01/07/2011 13:47, Prioritas Leutika wrote:

Saat ini sedang antri masuk design,mbak. Harap bersabar. trims :)

Date: Fri, 1 Jul 2011 17:51:14 +0700
From: iermavs

Terimakasih Leutika.
Btw, apakah masih memungkinkan saat ini kami mengganti satu artikel dalam buku tersebut dengan artikel lain?

On 02/07/2011 8:21, Prioritas Leutika wrote:

sudah terlanjur melewati proses edit, mbak. Kalau memang ingin mengganti isi, konsekuensi yang harus anda terima adalah jadwal publish yang mundur dari seharusnya. Mundur sekitar 3-4 hari. Gimana?


Subject: Artikel baru (was Re: tanya kabar buku)
Date: Sun, 03 Jul 2011 20:57:55 +0700
From: Ierma
To: Prioritas Leutika

Mundur 3-4 hari gak masalah.
Mohon diganti artikel yang berjudul *** oleh Zahra Pencerita, dengan artikel di attachment email ini.
Bisa ya Leutika?
Mohon maaf dan terimakasih.

On 03/07/2011 21:01, danibadrazamani wrote:

Ookehhh tetehhhh

(BERSAMBUNG LAGI aaaah... )
***

Selasa, 26 Juli 2011

Kisah Seru di Balik Layar "Antara Seorang Istri, Engineer, dan Mahasiswi" (Part IV)

***

***
Setelah menetapkan judul, kemudian kami ngedit-ngedit lagi, buat kata pengantar, daftar isi, dan gak lupa pasang profile picture.. hehehe...

On 01/06/2011 22:50, Zahra Pencerita wrote:

Hadirin Sekalian.
Maaf menunggu sangat lama.
Mari sekarang kasih koreksi kata pengantar.
Ini z kirim kata pengantar plus hasil penyusunan.
Hurup2nya nggak diedit dulu ku Z. Nant5i aja ya sama penerbit nya.

Maka saya dan Badra pun saling kirim revisi kata pengantar yang telah dibuat zet.

Dari: Ierma
Tanggal: Senin, 6 Juni, 2011, 1:44 PM

Heiii.. sori yeuh saya lupa...
kita harus mengucapkan terimakasih kepada orang2 yang sudah membuat saya mengenal kalian.
Lebih tepatnya tulisan kalian....
Saya kenal z dari Rena, dan saya kenal badra dari ipin...
so.. saya ingin kita ucapkan terimakasih pada mereka.
Mangga ditingal deui kata pengantarnya

On 07/06/2011 19:32, Zahra Pencerita wrote:

Sip siiipp. udah bagus. bener


Pada Sen, 06 Jun 2011 21:52 WIB Ierma menulis:

Badra mana foto dengan helmnya?
Zet.. mau pake foto tak? sms saya keterima khannn....

On 07/06/2011 18:11, Zahra Pencerita wrote:

woooy everybodeh. sori emailna br kebaca.
foto engke malem.
transfer besok nya. lamun malem ini gk bs. rumah z jauh dr peradaban.
mikum
hapunteun sblmna.

On 07/06/2011 19:29, Zahra Pencerita wrote:

Eh, Z ngirim fotonya besok ya? Mau dipoto dulu. Nyari foto nu udah ada asa bosen eta-eta wae.
Difoto sekarang mah udah nggak ada sinar matahari. Dan  Z sangat anti kalo dipoto tanpa ada cahaya.

From: Ierma
Date: Tue, 07 Jun 2011 20:12:57 +0700

Whahaaha... sok atuh.. semoga zet jadi bodas di bawah terik sinar matahari mah... xixixix...
Badra gak mau yang close up euy....
beda lah nu kasep mah :P

On 07/06/2011 20:17, danibadrazamani wrote:

Bisi banyak yg naksir ari teteh ..... Hahhahahaha

On 07/06/2011 20:23, Zahra Pencerita wrote:

Ciheeeeyyy...
Teh Irma sampe kelepek-kelepek kitu.
*hushh, inget arif. hehe

Pada Sel, 07 Jun 2011 20:29 WIB Ierma menulis:

Eh.. Zet.. diajar!! apanan keur UAS kamu teh kumaha.
Badra kasep mah belum terbukti ketang. Sudahlah lupakan :P


On 07/06/2011 21:08, Zahra Pencerita wrote:

iya ini mah ngan sejam meureun. mengobati kerinduan pd jamaah fesbukiyah dan emailiyah.


On 08/06/2011 10:08, Ierma wrote:

Saya teh lagi nyusun daftar isi... (nomor halaman dikosongin)
pas dilihat, naha ada tulisan zet yang ngilang yak...
yang judul : Beginilah Isi Formulir untuk beasiswa ParaMulya punya Z
Itu gak sengaja ngilangnya ya zet?
Kan saya dapetnya dari zet setelah dirapihin... bisi we sengaja diilangin, atau mau diganti tapi kelupaan....

From: Ierma
Date: Wed, 08 Jun 2011 14:13:44 +0700


Setelah smsan sama Zet... ternyata memang sama zet diilangin itu tulisan.
Saya minta ganti... atuh da jadi asa bolong hiji...
Sooo.. mari kita menanti dari zet... foto profilnya, dan tulisannya satu lagi....
nu mana we lah zet, da asa rarame tulisanmu mah....
Target saya mah lebaran saya bisa bawa-bawa buku ini buat dijualin ke sodara sodara.. hehehe...
Insyaa Alllah.. sabulan jadi da cenah....

On 08/06/2011 20:32, danibadrazamani wrote:

Enya teh. Jenius pisan. Pas lebaran. Hahahahaha
Uhuy


From: Ierma
Date: Wed, 08 Jun 2011 11:02:29


Tulisan Badra yang nyebutin indomart..... sekaligus ada foto djarum
black...
kira-kira apakah perlu disamarkan? Bisi ada dari pihak indomart atau
djarum black yang keberatan?
Ini mah pikiran lebay saya saja sih....
Ditunggu tanggapannya.....

On 08/06/2011 11:54, danibadrazamani wrote:

Disamarkan aja teh,,,,,
Haturnuhun
Pake bintang bintang we belakangna
Hehe

From: Ierma
Date: Wed, 08 Jun 2011 13:01:06

Jadi Supermart we nya...
gak ada kan nama supermart...
hararese pake bintang.
Cuma itu geuning ada gery chocolatos. Gery nya jadi G**y... yaaa...
ah si badra ngagawekeun -____________-

On 08/06/2011 13:23, danibadrazamani wrote:

Hahahahahaha nuhuuuuunnnnnnn tetehhhhhhh

(BERSAMBUNG lagi yaaa....)
***