Senin, 27 Desember 2010

hidup adalah pilihan (4)

***
Sedang berpikir, adakah orang yang benar-benar bahagia hari ini karena ridho-Nya?
Allah yang memberikan ketenangan hati pada orang itu karena dia telah melakukan hal-hal yang Allah suka? Ada? Pasti ada, dan berbahagialah dia, karena itulah kebahagiaan yang sebenarnya. Bukan bahagia yang datang dari makhluk, yang dalam hitungan detik makhluk itu bisa berubah menjadi beringas dan balik menerkam.

Hari ini saya menyaksikan orang-orang yang teramat sedih. Orang lain. Bukan saya. Saya cuma ikut sedih.
Ingin membahagiakan mereka, tapi hanya Allah tampaknya yang dapat membuat hati mereka bahagia.
Tersadar atas segala kesalahan itu, menapaki jalan yang benar itu, hanya bergantung pada Allah yang tak tampak mata itu, memang berat, bikin sedih dan ragu, tapi menuai kebahagiaan yang hakiki bila dijalani.
Dan memilih jalan yang salah itu, hanya bergantung pada makhluk itu, ringan, membuat senang sesaat, tapi diakhiri dengan kesulitan yang tak tertanggungkan. Bisa jadi di dunia. Tunai.

Allah, aku yakin diri Mu Maha Adil. Berilah kebahagiaan pada orang-orang yang kembali pada-Mu. Orang-orang yang kembali meyakini bahwa bahagia hanya dari Mu. Dan orang-orang yang menyadari bahwa ketenangan hati itu tidak berasal dari makhluk-Mu.

Cintai orang-orang yang saling mencintai karena-Mu. Sayangi suami istri yang saling menyayangi karena-Mu, yang berusaha dekat dengan-Mu, suami istri yang tidak hanya memikirkan kebahagiaan pribadi, tapi juga manusia yang lain. Bahagiakan mereka hari ini hingga akhir hayatnya.

Kalaupun mereka sedang didera kesulitan, kumohon berilah mereka sekedar setetes embun syurga-Mu pada hatinya. Agar mereka sadar, kesulitan mereka saat ini, bila mereka sabar, akan berbalas dengan syurga-Mu yang indahnya tak terperi.

Amiiin.

Bandung, 21 Muharram 1432
Untuk kalian yang saya sayangi,
semoga Allah membuat hati kita secerah pagi ini.


*****

Jumat, 24 Desember 2010

hidup adalah pilihan (3)

***
Tulisan sebelumnya: hidup adalah pilihan, hidup adalah pilihan (2)

Kebetulan... atau takdir? Garis hidup saya...apapun...
Bahwa saya punya banyak teman-teman perempuan yang cerdas, berprestasi, juga cantik-cantik. Bukan sulap bukan sombong. Tentu saja kebanyakan bersumber dari sebuah SMA favorit di Bandung. Aheuy!

Dengan mereka saat ini saya masih tetap kontak, tentu saja lewat jejaring sosial facebook.
Cukup banyak di antara mereka yang kini memilih jadi ibu rumah tangga saja. Status FBnya sederhana, notenya selalu tentang anak dan rumah tangga. Kalaupun bekerja, mereka malah bekerja yang tidak sesuai bidang keahliannya (kuliahnya).
Ada pula yang bekerja di tempat yang tidak memerlukan data IPK. Sementara mereka lulus cumlaude dari perguruan tinggi dan jurusan ternama.

Kenapa ya?

Saya memilih jadi ibu rumah tangga, bisa jadi karena tidak punya pilihan lain. IPK pas-pasan, kemampuan bahasa inggris cuma sebatas yes or no, dan fisik yang bukan sulap bukan sombong tapi ya begitulah.
Lha mereka? Setau saya mereka selalu saja mendapatkan decak kagum dari orang-orang di sekitar. Sudah cantik, baik, .. pinter pula!
Mun saya siga kitu, geus kamanaaa meureun nyak? Ngapung ka langit teu balik deui.

Saya yakin sih.. kalau mereka, atas izin-Nya, akan mudah mencari kerja apapun dan di manapun yang mereka mau. Barangkali dengan gaji besar dan fasilitas yang lebih dari cukup.
Tapi kenapa mereka memilih diam di rumah mengurusi anak-anaknya?

Sekali lagi hidup memang penuh dengan pilihan. Mereka telah memilih. Biarlah.

Sekarang urusi saja saya.
Kenapa saya di rumah? Kenapa saya bekerja? Hayoh! Jawab!

-mikir dulu-

Tiap kali ada tawaran pekerjaan, entah itu secara langsung, ataupun info yang saya baca. Saya selalu berpikir, andai saya punya suami yang tidak bekerja, atau bekerja dengan gaji yang tidak memadai, atau kehilangan suami (TIDAAAAAKKKKK!!! *histeris*) barangkali saya akan ambil pekerjaan ini. Atau pekerjaan apapun asal halal.

Bukan apa-apa, bukan sulap bukan sombong, tapi saya cuma inget anak aja.
Gak ada yang lebih pedih selain melihat anak sendiri tak terpenuhi kebutuhan primernya. Dan tak ada yang lebih membahagiakan selain melihat anak tersenyum memperoleh apa yang mereka mau.

Bagi seorang ibu bekerja, hampir selalu ada yang jadi korban. Mungkin itu anak, suami, orang tua, tetangga, atau perasaannya sendiri.
Bekerja di sini dalam arti dia menjadi seorang pegawai, ataupun bos, yang punya komitmen bekerja sejak pagi hingga sore hari.
Nah, bila ada pekerjaan itu, tinggal kita hitung materi vs immateri. Sebandingkah? Worthedkah?

Saya, dengan kemampuan saya miliki dan tawaran kerja yang saya pikir saya suka dan mampu, dengan mantap saya jawab, T I D A K.
Sampai saat ini saya belum menemukan pekerjaan yang bila saya harus mengorbankan anak-anak, saya dapat gaji yang setimpal.
Barangkali itu ya yang membuat saya memilih di rumah saat ini.
(Kepada para pengikut MLM, mohon tidak menanggapi hal ini secara berlebihan. Irma tidak suka mencari downline, presentasi kesana kemari, ataupun ikut training rutin. Hahaha).

Ier di rumah aja gitu? Bukannya sering kelayapan? -hehe tau aje.

Hoho... oke oke.. kadang saya bekerja juga. Ya itu mah hatur lumayan we buat ngongkosin facial dan creambath biar gak minta sama suami.. wkwkwk.
Bukan berarti gak serius lho... kalo kerja apa-apa saya mah suka all out daaa...
dan saya pasti suka dengan pekerjaan saya itu.
Kalau gak suka mana mungkin saya kerjain.
Irma gitu lo... tidak akan pernah mau berada di bawah tekanan dan paksaan orang lain.

Jadiiii.... ya sementara ini masih begitu itu pilihan hidup saya. Perenungan sesaat lah ini mah.
Gak tau tuh yang lain. Biarin aja, da bukan urusan saya inih.

***

Jumat, 03 Desember 2010

hidup adalah pilihan (2)

Tulisan sebelumnya: hidup adalah pilihan

*dengan backsound Iwan Fals : "jangan pernah memilih.... aku bukan pilihan... aku lelaki bukan tuk dipilih... "

Hahaha... kenapa harus lagu ini yang diputar di Delta FM, saat saya menulis dengan tema Hidup adalah Pilihan?

OOT, Delta adalah stasiun radio pilihan saya terutama sejak jam 5 pagi sampai jam 12 siang. Ya barangkali stasiun itu pas aja dengan usia saya yang sudah kepala tiga, plus gak sholeh-sholeh teuing, jadinya gak manteng di radio Islami.
Juga terutama karena ada Farhan, Shahnaz Haq, dan Gilang Pambudi yang cerdas tapi lucu. Lucunya gak garing, gak alay. walau yeahhh.. ada juga ngeresnya.. Heuheu.. Bagian ngeresnya mah saya senyum-senyum aja. Ngarti. Udah nikah ini. Suami juga ada setiap malam. Gak penasaran. Dan jam segitu aman, gak ada Arif Sofi di rumah, jadi gak ikut denger.

Sedang ada di tengah pikiran yang pabaliut. Pikiran yang datang dengan sendirinya, yang barangkali diinisiasi oleh curhat telpon seorang sahabat tadi pagi sampai chat di siang bolong ini. Jadi aja pikiran saya ke mana-mana.

Kadang heran, kenapa saya tidak seperti teman-teman yang masalahnya berat-berat.
Orang tua cerai, bertengkar dengan suami, suami kurang ajarrrr @#$%!!!, punya anak nakal, susah jodoh, ditinggal kawin, dililit utang puluhan juta....
Apakah itu akibat dari pilihan mereka sendiri? Mereka salah pilih? Salah memutuskan? Sementara pilihan saya semua benar?

Saya seringkali pusing bila diajak diskusi dan mengkaji bagaimana peran kuasanya Allah dalam hidup kita. Muntah dah kalo udah harus berfikir sufistik.

Seperti Arif yang pernah bertanya,
kenapa seseorang yang dia sayangi, belum masuk Islam.
Saya bilang, beliau belum diberi hidayah sama Allah.

Hidayah itu apa? tanya Arif lagi.
Hidayah itu kemampuan orang buat mikir mana yang benar, terus mau melakukannya.

Jadi.. sebenernya kita yang mikir atau Allah yang mikir? Arif mencecar.
Kita yang mikir, berusaha belajar,... dan masalah jadi tau atau tidak, jadi benar atau tidak, itu Allah yang menentukan..

Halaaaaaaah... ngarti nteu nya si Arif? Dia gak nanya lagi sih.

Tapi memang pertanyaan terakhir dari Arif bener-bener dalem. Apakah kita yang memilih? Atau menunggu untuk dipilihkan? Hmmmmmmmm.... hm yang panjang, teman. Pertanda mikirnya gak bisa asal.

Bukan kapasitas blog saya untuk membahas hal ini, bisi blognya error siga kamari-kamari. Mangga direnungkan dan dikaji masing-masing saja ya.

Yang jelas, bila saya diberi-Nya damai dan penuh cinta, adalah tugas saya untuk membagi kedamaian ini pada yang lain. Adalah kewajiban saya untuk bersyukur. Kewajiban saya untuk segala yang baik ini membawa kebaikan bagi semua. Dan itu adalah sinyal bahwa saya harus memikirkan dan melakukan hal-hal lain yang bermanfaat, yang tidak sempat terpikirkan oleh kebanyakan orang 'bermasalah', yang memikirkan diri sendiri saja sudah pusing tujuh keliling, boro-boro mikirin kemaslahatan umat.

Tentu saja bukan saya tak punya masalah. Toh mata saya juga sering mengeluarkan air mata. Tapi terasa bahwa masalah saya tak ada artinya dibanding masalah teman-teman semua. Atau saya memang tipikal orang sunda asli yang tidak suka tantangan dan mudah sekali bersyukur? Hehe.. itu mah kata teman saya yang orang Arab tulen.. (peace, Nay!) :P

Yu lah kalau mau bersenang-senang mah sama saya saja yu.
I'm easy like sunday morning... wow wow woooow....

Ya Allah, semoga orang 'tanpa masalah' seperti hamba ini tidak berarti hamba tak layak masuk syurga-Mu...
Haruskah saya cari masalah biar dapat soal ujian, terus dapat nilai tinggi dan masuk syurga? Enggak kan ya....
Toh sekali lagi, hidup adalah pilihan, sehingga setiap waktu pun saya sebetulnya sedang mengerjakan soal pilihan ganda itu. Bisa jadi gak kerasa sebagai ujian karena gue kaga' mikir... hahahah..

Biar saya kutip aja komen seorang teman saya, Tri Astuti, di status saya beberapa waktu lalu:

Irma mintalah pada Allah untuk dikuatkan pundakmu untuk menghadapi segala masalah. Karena masalah adalah sarapan buat orang biar tambah hebat. Kalo masalahnya ringan2 aja gak seru..Tenang aja dunia ini cuma permainan dan senda gurau saja.

Two thumbs up buat Astut... gak heran kalau kamu jadi pengusaha sukses seperti sekarang
***

Kamis, 02 Desember 2010

hidup adalah pilihan

***
Kenapa saya memutuskan detik ini menulis? Karena saya memilih untuk menulis. Duduk manis di depan laptop, dan memutuskan untuk menunda saja pekerjaan menyapu dan mengepel. Bahkan mestinya saya memasak, saudara! Tapi ya begitulah. Hati dan pikiran saya sedang ingin menulis, dan tampaknya perlu segera disalurkan.

Resikonya saya tau, setelah saya posting blog, saya tidak bisa tidur siang. Saya harus .. minimal masak. Nyapu ngepel mah keun we sakasampeurna. Ngeres saeutik mah teu nanaon lah, asal ulah ngeres hate.

Setiap pilihan pasti ada konsekuensinya.
Setiap kita memutuskan sebuah pilihan, maka kita harus sadar apa akibatnya.
Dari hal-hal kecil seperti milih baju yang akan dipakai, sampai hal besar seperti memutuskan untuk menerima seorang lelaki sebagai pendamping hidup kita.

Memilih bisa jadi bukan suatu proses yang rumit, ketika kita sudah punya pendirian, sudah mengenali diri, dan sudah memiliki pola pikir yang jelas.
Contohnya saja dalam hal memilih kerudung di toko. Dari sekian banyak model, ada yang dengan begitu saja tidak kita lihat lagi. Paling pada akhirnya tinggal 2 atau 3 model pilihan yang salah satunya kita putuskan untuk membelinya.
Itu karena kita sudah mengenali diri, bahwa kita tidak akan pantas memakai kerudung yang di rak sana dan rak sana. Saya cocoknya pake kerudung yang di rak ini saja.

Bukan sesuatu yang rumit untuk menyisihkan sesuatu yang memang kita tahu tak pantas untuk kita.

Sekolah lagi Ier?
Kalo ditanya kayak gitu... saya langsung bilang TIDAK.
Kenapa?
Ya saya tau diri.. heheh.

Entah karena hidup saya yang memang diberi-Nya damai tanpa gejolak yang berarti, atau karena saya memang sudah kenal diri, sehingga saya jarang sekali dihadapkan pada pilihan yang sulit. Begitu mudah untuk memutuskan sesuatu berdasarkan apa yang saya faham. Atau bisa jadi karena pilihan yang tersodor memang bukan suatu bandingan. Rasanya tidak sesulit pilihan ganda, tapi hanya soal benar atau salah saja, (yang belum tentu juga lebih mudah ya?)

Dan memang dengan adanya suami, proses memilih inipun jadi lebih mudah lagi. Seperti halnya soal ujian yang dikerjakan bareng, pasti jauh lebih mudah dan tenang daripada dikerjakan sendiri.
Enaknya istri kan begini... tinggal tanya suami, kemudian pasrah dan nurut saja dengan jawabannya, maka pahala berlipatlah hadiahnya buat kita.

Hihi.. iya ya, dipikir-pikir sering banget saya tanya suami,
"Pah.. boleh gak?"
"Pah.. kata papah mending gimana?"

Udah gitu saya tinggal diem.. suami yang berpikir keras, dan mengeluarkan jawaban, terus saya nurut. Asiknya :))

Begini barangkali ya enaknya punya suami yang bisa kita percaya lahir dan batinnya. *Gak nyesel memutuskan memilih dia.. gyahaha... alhamduliLlah.. :)

Dalam hal pilihan ini, saya berharap semoga saya tidak pernah dihadapkan pada pilihan sulit hingga tak ada lagi yang bisa saya pilih kecuali berbuat dosa.
Hikkkkksss... mestinya tak ada pilihan seperti itu, karena mestinya saya memilih mati ya daripada menentang-Nya? Toh mati pun adalah pilihan.

Kalau saya mati karena rindu gimana?
Halaaaaaaaaaaaaaaaaaaah.... hahaha...
dangdut eta mah..wew

***

Sabtu, 27 November 2010

si pengganggu

***
Beberapa bulan lalu, Sofi sering nangis sebelum sekolah. Katanya takut diejek sama temannya... katakanlah namanya Budi.
Saya sampe nulis di wall.. eh.. buku penghubung agar Bu Guru mendamaikan antara Sofi dan Budi. Bisa jadi Sofi kan yang salah, saya gak tau.
Saya juga sempat nungguin Sofi hingga bel masuk berbunyi, hanya untuk melihat, anak yang manakah yang namanya Budi itu.
Sempat juga saya sapa Budi... anaknya tampak 'cuekan'.
Ya sudahlah.

Di buku penghubung, Bu Guru bilang, Budi sudah minta maaf sama Sofi.

Hari berikutnya, Sofi cerita kalau Budi memuji tulisan Sofi.
Sofi tampak senang luar biasa karena pujian itu.
Tampaknya segala ejekan Budi sudah dia lupakan semuanya.

Besoknya dan besoknya lagi.. sampai sekarang, Budi selalu jadi bahan pembicaraan Sofi. Budi tadi ngapain aja, Sofi tau, dan Sofi cerita dengan gembira. Kemarin Budi gak masuk sekolah saja Sofi tau.

Makanya kalo kesel ma orang jangan lebay ya Fi... sekarang juga kalo suka, jangan lebay juga deh.. hehe..
*ceuk si Umi bari ngaca*

***

Sabtu, 20 November 2010

akhirnya bisa ngeblog lagi :)

***
Jadi bingung mau nulis apa... pokonya seneng,
setelah bermasalah sekian lama, akhirnya bisa posting blog lagi... :)
Trims buat Bayu, Aldi, dan suamiku.. hihi...
**

Sabtu, 06 November 2010

uwa lebay

***
---Di sebuah RSB di Bandung, 19.30, sekitar dua setengah jam setelah pasang status facebook tentang adik iparku yang mau melahirkan

Memang sudah takdirnya saya diberi kesempatan menunggui orang mau lahiran. Saumur-umur memang baru kamis malam kemarin, tgl 4 November 2010, saya menunggui adik ipar mengerang-erang menahan sakit. Sebelumnya ya cuma menunggui diri sendiri. Menunggu Arif dan Sofi lahir.

Saat itu dengan skenario pabaliut akhirnya cuma saya dan Wawan, suami adik ipar saya (ya ipar saya juga ya? Hehe.. maksudnya Wawan itu sesama menantu lah gitu) yang nungguin.

Saya sampai sana, sudah -bukaan tujuh.
TUJUH saudara-saudara.. tujuh dari sepuluh.
Itu artinya si ibu yang akan melahirkan sedang merasa mulas luar biasa. Dan yang paling bikin menderita adalah menahan keinginan untuk mengejan. Kalau mengejan sebelum bukaan lengkap, maka sia-sia saja, malah habis tenaga. Bayi takkan keluar, atau kemungkinan terburuk ya .. robek.. katanya. Katanya lho.. huaaa...

Argh.. saya tau semua penderitaan adikku itu... dan tau juga enaknya digimanain. Enaknya kita sebagai penunggu harus tetep senyum tenang, babacaan, bilang kalau ini adalah proses normal yang harus 'dinikmati'.
Kalau dia mengerang, ingatkan untuk tarik nafas dalam-dalam dan dikeluarkan perlahan, dan sesekali ajak ngobrol atau bercanda asal jangan ngagosip atau tertawa terbahak bahak.. (eta mah kurang ajar namanya).

Kalo suami ya mesti pegang tangan istrinya, babacaan, sekali-kali cium keningnya...itu bisa bikin istri yang mau melahirkan tenaaaaaang, dan bahagiaaaaaa banget. AlhamduliLlah dua kali pengalaman melahirkan normal, suami saya melakukan tugasnya dengan baik.

Satu-satunya cara menahan mengejan adalah menarik nafas lewat hidung, dan keluarkan lewat mulut. Huuuuppp dari hidung... aaaahhh dari mulut... huuuppp.... aaahhhh
Maklumlah adik iparku, Nia ini, pengalaman melahirkan putra pertamanya melalui proses sesar, jadi ini adalah pengalaman pertama dia melahirkan normal.

Ibu melahirkan pun, hampir tidak bisa konsentrasi pada aba-aba suara. Saya tau itu dengan persis, sehingga saya dan Wawan harus bergantian memvisualisasikan cara bernafas itu.
Saya harus ikut menarik nafas lewat hidung, ... dan mengeluarkan lewat mulut..., hingga Nia mengikutinya. Huuuppp.. aaah.. huuuppp.... aaaah...

****

"Ibu, silahkan terlentang, dokternya sudah datang", perintah bidan kepada Nia, setelah hampir satu jam saya menungguinya.

"Ibu, silahkan keluar Bu..", perintah Bu Bidan juga, kali ini kepada saya.

"Sip!", jawab saya... jhaahahah... jawaban yang aneh.

Eeeh... tinggaleun tas deuih si sayah teh. Balik deui.

"Punten.. ngambil tas"... ah dasar.. jadi tampak bodoh begini. Grogi.

Saya keluar... pintu ruang bersalinpun digeser.
Kreeeek.. blek.. tertutup rapat.

Bak dalam sinetron, saya mondar-mandir sendirian di luar ruang bersalin.
Ampuuun.. kenapa harus sendirian gini sich. Resiko suamiku cuma dua bersaudara, dan sama sekali gak ada saudara dekat di Bandung, ya begini.. Euweuh deui batur pakumaha..
Satu-satunya hiburan adalah memasang status di facebook (lagi) dan membaca komentar-komentar dari status saya sebelumnya.. wew..

Ibu mertuaku masih di rumah, suamiku menjemputnya. Bapak mertua ngasuh anak pertamanya Nia di rumah bersama Arif Sofi.
Asli saya bolak balik bolak balik dalam jarak 5 meter kayak setrikaan sambil membaca tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil. Di sana cuma ada kursi roda dan blankar.. eh.. apa sih namanya itu tempat tidur dorong....
Kursi tempat duduk berada agak jauh dari jendela ruang bersalin.
Saya gak mungkin mau jauh dari jendela itu. Jendelanya tinggi hampir mencapai atap, tapi ada celah di sana. Saya bisa mendengar suara-suara dari ruang bersalin hanya melalui celah di atas itu.

Eeeeuh.. kok sepi sih..
Cuma kedengeran suara klotrang.. trik.. klontrang.. tek, seperti suara gunting bedah beradu gitu lah.. hiiiy.... Nia diapain siy... kok gak ada suara ngejan-ngejannya gitu? Lagian suara TV di ruang tunggu keras banget. Sinetron pula... Jadi ada suara yang nangis dan marah-marah gitu. Sebel.

Akhirnya setelah sepuluh menit sendirian, ibu mertua dan suamiku dateng.
Ibu memutuskan untuk ke mushola saja, sholat dan mendo'akan.
Suami, ngobrol bentar, dah gitu malah duduk nonton TV.
Iiiih... saya sendirian lagiii....

Kedengeran Nia mengejan....
tapi kok sepi lagi... huuuuffff....

Berikutnya terdengar jelas suara.. "Yak Bu.. sekarang! Satu.. dua... tiga!"
Demi mendengar aba-aba itu dan suara Nia mengejan, refleks saya menutup mata rapat-rapat, meringis, sedikit mengejan.. heeuuuugh... , kedua tangan mengepal,..

Terasa ada yang lewat di depan saya... saya mengintip sebentar,.. orang lain yang lewat, seorang bapak-bapak. Ya sudah, saya tutup mata lagi dan tangan saya masih mengepal-ngepal... Nia terdengar masih mengejan.

"Ibu?? .. Bu??... Ibu kenapa??",
Saya kaget.
Ternyata bapak-bapak yang tadi lewat, balik lagi untuk menyapa saya, dia tampak khawatir.

"Ohhh.. eh.. enggak pak, itu.. nunggu yang melahirkan di dalam..", jawab saya sambil tersenyum dan mengerjap-ngerjapkan mata. Ternyata mata saya basah.
Bapak itu pun berlalu dan tidak berkata apa-apa. Tampak heran dia.

Seiring dengan kepergian bapak yang perhatian itu, terdengar suara Wawan dari dalam ruang bersalin... "AlhamduliLlaah" katanya... dan beberapa detik kemudian terdengar suara tangis bayi keraaas sekali. Ya Alloh.. alhamduliLlaah.. keponakanku lahir !
Setengah menangis saya panggil suami... mengabari kalo adiknya sudah sukses melahirkan.

Suamiku pun segera mengabari Ibu di musholla.
Dan saya? Tentu saja langsung pasang status di facebook... hahahaha....

Setelah itu .. saya barulah bisa duduk tenang dan menanti suara dibukanya pintu ruang bersalin. Seperti apa penampakan keponakan baruku itu.
Prediksi kalau jenis kelaminnya laki-laki sudah begitu kuat, jadi gak penasaran lagi.

Akhirnya keluar juga salah satu bidan yang langsung saya kejar dan saya berondong pertanyaan.
Sehat Bu Bidan? Bayinya? Ibunya?
Bu Bidan mengangguk... dan bilang.. laki-laki Bu....

SubhanaLlaah.. AlhamduliLlaah...




Sepi.... cuma ada suara sinetron dari TV itu...






*Clingak-clinguk.. lho.. Ibu sama suamiku kemana lagi?*

****

Makanya Ier.. punya anak jangan cuma dua.. yah? Sepiiii....
Xixixixiixixiixixiixixixiiixiii....

****

Kamis, 04 November 2010

benar, memang sulit untuk ikhlas

***

Ngaku-ngakunya aja ternyata ya, kalau saya bisa bersahabat dengan tulus, mencintai dengan tulus, bahagia atas kebahagiaan orang lain, bisa berempati, dan sebagainya.

Ternyata sekalinya saya tidak mendapatkan balasan perhatian, saya kecewa.
Sekalinya kepedulian saya dianggap mengganggu, saya kecewa.
Ketika ada dan tidak adanya saya sama saja, saya kecewa.
Saat tidak adanya saya bahkan membuat gembira, saya kecewa.
Saat kehadiran saya dianggap membuat rusak suasana, saya kecewa.

Pertanyakanlah kembali keikhlasanmu dalam bersahabat Ier, bila ternyata kekecewaan itu ternyata masih ada di hatimu.
Jangan menuntut banyak pada orang lain.
Limpahkan saja cintamu dan tak perlulah kau lihat apa balasannya.

Berharap pada makhluk memang sangat melelahkan.
Hanya cinta pada Sang Khalik yang layak kita harapkan.

Cintailah mereka karena dirimu berharap cinta-Nya.
Itulah ikhlas.

Nulisnya aja nih yang gampang

***

Rabu, 03 November 2010

barokah

***
Beberapa waktu terakhir ini saya suka sekali dengan istilah barokah.
BERKAH.. kalau orang kita bilang.

Barokah adalah kebaikan yang sifatnya ilahi dalam suatu perkara atau tindakan.

Barokah tidak bisa terlihat langsung secara lahiriah namun terkadang bisa terasakan.

Sesuatu yang barokah itu mempunyai nilai tambah padahal bisa jadi lahirnya tetap atau malah berkurang.

Akhirnya saya mengerti kenapa kita disunnahkan untuk mendo'akan pengantin baru dengan ucapan "BarakaLlahu lakum"

Semoga berkah Allah atas kalian....hooo... sungguh indah do'a itu, dan saya selalu ingin dido'akan seperti itu. Butuh barokah-NYA. Butuh buangett.

Harta yang terasa banyaknya walau lahirnya sedikit, entah ada atau tidak, tapi rasanya cukup. Mungkin itulah barokah.

Makanan sederhana, tapi terasa nikmatnya, mungkin itulah barokah.

Bersama keluarga, gak piknik, gak makan-makan di luar, di rumah saja tapi bahagia, mungkin itu juga yang namanya barokah.

Waktu yang termanfaatkan dengan baik, dan tidak merasa tidak tersia-siakan, tidak merasa dikejar waktu, tidak merasa riweuh, tidak sok sibuk atau sibuk tapi puguh, dan selalu ada hasilnya, barangkali itu juga adalah waktu yang barokah.

Saat saya pelit bershodaqoh, seringkali saya takut harta saya tidak barokah. Kalau harta tidak barokah, dengan kuasa-Nya Allah akan tetap memaksa uang kita keluar.
Mungkin keluar uang untuk jajan, yang setelah jajan bukannya puas malah nyesel.

Saat saya mengutamakan pengeluaran untuk hal-hal yang sifatnya sekunder ataupun tersier, sementara yang primer gak kebagian jatah, saya khawatir sekali kalau uang yang saya miliki tidak barokah. Pasti ujung-ujungnya akan terasa kurangnya harta.

Saat saya bermalas-malasan (baca: bukan istirahat), maka saya khawatir waktu akan berjalan cepat tanpa terasa, tapi tak ada hasilnya.

Saat saya tidak melayani suami dengan baik, saya khawatir aktivitas saya tidak barokah. Sibuk teu puguh, hati tersiksa, hasilnya gak sepadan pula.

Dipikir-pikir memang segala yang kita lakukan harus diniatkan untuk mengejar barokah-NYA. Pikir dulu, apakah yang kita lakukan ini mendatangkan barokah Allah atau tidak. Hati-hati saja bila kita tidak pernah merasa puas akan apapun yang telah kita dapat, bisa jadi segala aktifitas kita tidak mendapat barokah Allah.

Kalau Allah tidak memberi berkah-NYA... maka tunggu saja,
cepat atau lambat... siksaan batin itu akan tiba...

Wallahu a'lam.. tapi itu yang saya rasakan.

***

Selasa, 02 November 2010

sungguh ini menyebalkan

***
Sedang punya pikiran sesat... materialistis...nyebelin.
Kayaknya orang tu' suka ya jadi temennya orang cantik, kaya, dan cerdas?
Sementara saya merasa tidak memiliki semua itu ... HIKS !!!! (gak sampai hati untuk bilang SIAL !!! )

Cantik? Enggak !!
Kaya? Enggak !!
Cerdas? Enggak !!

Itu, jawaban ENGGAK itu.. sungguh jawaban dari hati terdalam.. bukan basa-basi ..

Huuuuu.. maafkan teman, kalau saya tidak memiliki apa yang kalian mau.

Entah pikiran ini datang dari mana. Barangkali karena saya punya ekspektasi yang tinggi terhadap arti saya sebagai seorang sahabat.

Saya ingin cantik... biar sahabat-sahabat saya nyaman mata melihat saya. Ngeliat yang cantik atau ganteng kan belum apa-apa udah bikin orang bahagia dan tenang hati.

Saya ingin kaya... biar sahabat-sahabat saya nanti saya traktir semua tanpa kecuali. Beliin coklat tiap ketemu. Kasih hadiah dengan apa yang mereka mau. Gak usah pinjem duit, saya kasih aja nih... Perlu berapa sih??

Saya ingin cerdas.. biar kalo sahabat-sahabat saya punya kesulitan, buntu pikiran, saya bisa cari jalan keluarnya dengan tepat, seratus persen menyenangkan dan membantu keluar dari segala kesulitannya.

Tapi kalo dikembalikan lagi kepada diri sendiri...
Saya ingin punya sahabat seperti apa?

Ternyata keinginan saya cuma satu.
Saya ingin sahabat itu selalu hadir saat saya perlu ataupun tidak. Menemani saya saat susah maupun senang.

Itu saja....

Gak peduli dia punya harta sebanyak apa, cerdas apa oon, punya kecantikan atau kegantengan yang menawan maupun sebaliknya ...

Jadi...
sahabat macam apa saya?????

SAYA INI LAYAK JADI SAHABAT GAK SIH BUAT KALIAN ??????

----- ihhhh.. nyebelin ya tulisan ini? Iya ..
----- ihhhh.. Ier ngebosenin ya orangnya? Iya..
----- ihhhh.. mending cari temen lain aja yu yang asik? Yuuuu

***

Sabtu, 30 Oktober 2010

Ariif.. Arif ^^ (12) -maafkan Umi-

***
Capek rasanya pagi ini. Cape hate hanya karena saya gak bisa nahan marah sama Arif. Tak terhitung berapa banyak kami 'bertengkar' karena hal-hal sepele. Kadang saya marah melibatkan emosi, kadang bisa juga dengan kepala dingin.

Tadi pagi barangkali adalah satu dari sekian saat saya dan Arif rewel bersama. Masalahnya sepele juga, cuma karena saya merasa kesiangan bangun. Saya bangun jam empat padahal, tapi memang udah mepet banget waktu shubuh. Shubuh sekarang kan jam tiga lebih lima puluh sembilan menit... jiah... beneran tadi memang bukan mepet lagi, tapi pas shubuh saya bangun.

Ya gitu deh.. langsung pak pik pek ... gedubrak kecebur srok srek... asa riweuh, padahal ya mestinya biasa aja.Toh walaupun matahari terbit lebih cepat, jam mah tetep semenit enam puluh detik.

Arif bangun sendiri jam lima pagi, tapi entah kenapa langsung bete gitu tampangnya. Huh...nyebelin lah.

(padahal mun ngaca sigana Si Umi leuwih bete deui).

Jam lima lebih dua puluh menit, saya nyuruh Arif mandi.

Biasanya saya samperin dia ... tapi tadi berhubung lagi menggoreng-goreng, saya teriak dari dapur....

"Rif. mandi Riiiif... !!!".. berkali-kali gak ada sahutan. "RIIIF MANDI RIIIIF !!!"

Kayaknya sesudah sholat shubuh barusan, Arif tidur lagi.

Saya males banget nyamperin dia ke kamar dan jadinya memilih untuk tetap ....

B E R T E R I A K.

Rupanya Arif yang dasarnya lagi bete itu, kesel juga diteriakin sama uminya. Dia balas teriak juga dari kamar.

Heuuuuuu...saya gak denger apa yang dia omongin.... saya balas teriak lagi aja.... BLA BLA BLA....!!!

(sementara papanya anteng tidur lagi juga tadi abis sholat subuh.... teriak-teriak mah gak akan sampe ngebangunin dia lah.. hahaha... sementara standar saya sebagai istri yang baik adalah menjaga makan dan tidurnya suami, jangan keganggu sedikitpun)

Kembali ke Arif, ...

pokonya tadi jadi bertengkar aja lah pagi-pagi teh... sama-sama emosi, marah-marah, saling nyolot.... huahahah.. gak separah itu deng... pokonya gak enak hati banget karena Arif akhirnya tampak kalah dan ketakutan... xixixi....

Setelah Arif mengalah, barulah semua mereda. Yang tinggal hanyalah saya yang semakin bete karena merasa bersalah udah neriakin si Arif.

Arifnya kalem-kalem aja setelah mandi, dan seakan melupakan semua pertengkaran tadi.

Sofi? Sofi kalem weee... dia mah secara emosi memang nurun banget dari bapaknya. Kalem dan selalu tau apa yang dia mau alias tara rewel, tapi kalo disuruh ngitung... mikirnya lama.

Arif mah cerdas kayak bapaknya, jago matematika. Tapi kalo masalah emosi, uminya pisaaaannnn....

Wew lah pokonya keluarga ini... subsidi silang .... (yang jelek berasal dari uminya dan yang bagus pasti dari bapaknya).

Akhirnya tadi pas saya antar Arif sekolah, sebelum dia turun saya minta maaf dulu sama dia.

"Maafin Umi ya Rif, tadi Umi marah-marah"

"Iya Mi.. Arif juga minta maaf", jawab dia sambil matanya sedikit menerawang jauh

(mikir apa dia ya?).

Saya cium dia, juga Sofi.... dan berjanji (lageeee) dalam hati untuk gak teriakin mereka lagi....

Sesudah prosesi itu rasanya memang sedikit lega....

Dan mudah-mudahan dengan nulis note ini saya bisa lebih lega lagi....



Jangan marah-marah lagi ya Mi....

Enya lah... isukan mah moal ngambek deui...

meureun...

mun teu hujan....

hahahaha :D



***

Senin, 18 Oktober 2010

konsisten inkonsistensi

***
"Mi, besok gak akan bawa bola lagi ke sekolah ah", kata Arif sambil menenteng bola plastiknya sepulang dari sekolah.
"Kenapa?", tanya saya
"Gak boleh sama Bu Guru, bisi kena ke orang katanya. Tadi bolanya kena ke orang di pinggir lapangan"
"Oh..", tanggap saya sambil agak heran, alasan Bu Guru kok begitu
"Bola Arif yang kena ke orang itu?", pertanyaan saya jadi berlanjut.
"Bukan.. bola temen Arif"
"Hmm..."

"Eh tapi Mi... nanti juga pasti boleh lagi da...", kata Arif setelah diam beberapa saat.
"Kok bisa?", saya heran.
"Ya misalnya aja HP. Pas pertamaaa kali Arif bawa HP ke sekolah, eh... langsung gak boleh. Tapi sekarang udah banyak lagi temen Arif bawa HP, sama Bu Guru gak dilarang... Sekarang juga pas pertamaaaa Arif bawa bola ke sekolah jadi gak boleh. Pasti nanti jadi boleh lagi..hehehe", ujar Arif nyengir.

Saya ingat, dulu alasan Bu Guru gak boleh bawa HP ke sekolah karena beberapa hari sebelumnya ada anak yang kehilangan HP.

Aduuuh.. Bu Guru.. kalo ndak boleh ya ndak boleh aja terus... plus carilah alasan yang benar. Kalo urusan HP hilang dan bola kena orang, toh anak-anak juga bisa diajari untuk berhati-hati.

Alasan yang benar itu penting bagi seorang anak, biar mereka menghargai peraturan apa pun yang kita tetapkan baginya.

Seorang Arif akan sangat mudah menurut dan taat aturan bila dia yakini kebenaran alasannya.

I know that exactly.

***

Sabtu, 16 Oktober 2010

hati-hati disapa suami orang

***
List friends YM saya tidak sampai 100 orang. Saya kategorikan beberapa group. Ada best friend, farmasi, SMA, dan friend. Banyak laki-laki tapi sebagian besar tentu saja perempuan. Laki-lakinya, ada yang single, ada yang married. Beberapa laki-laki bisa dikatakan sering chat dengan saya. Kadang saya sapa duluan, kadang mereka yang nyapa duluan. Kebanyakan cuma buat iseng aja. Jarang bener-bener ada perlu.

Suatu sore, saya online YM dengan hp saya.
-TUIT- gitu bunyi aplikasi slick yang saya pakai, kalau ada pesan dari YM-er.
Hoho... ternyata Dedi yang nyapa saya. Katakanlah namanya begitu. Pake nama samaran aje ye. Dedi ini statusnya married.

Kalau ke Dedi biasanya saya yang nyapa duluan. Seringnya minta tolong atau nanya urusan yang berkaitan dengan IT kalau ke Dedi ini. Dia jago banget pokonya kalo udah urusan komputer dan internet. Tiap pamit suka saya akhiri dengan salam buat istrinya.
Saat itu, Dedi ini ujug-ujug me-YM saya untuk nanya masalah jamu gendong.

Ya karena biasa menerima pertanyaan-pertanyaan dadakan seputar bidang farmasi, saya langsung jawab aja, dan berdiskusi cukup panjang. Lumayan serius.
Mulai agak aneh ketika Dedi yang saya kenal sebagai 'ikhwan' ini, bilang kalau tetangga pelanggan jamu gendong tampak cantik-cantik dan seger-seger.

Sedikit kaget, saya cuma tanggapi dengan "Idih :P".. itupun setelah saya tertegun sejenak.
Dedi? Dedi bilang tetangga cantik dan seger?
Saya heran tapi gak sampe kucek-kucek mata. Cuma mikir, Si Dedi kunaon nyak

Syukurlah tidak berlanjut membahas 'cantik dan seger' itu, dan akhirnya dapet kesimpulan yang Dedi faham tentang jamu gendong.
Sip lah.

Tapi tak disangka beberapa detik kemudian Dedi ngetik begini:
Dedi: Teteh.. ini Dina loh.... whahahaha... kabur ah...

Huaaaaa.... Dina adalah istri Dedi.. (nama samaran juga)
Hihihihii.. dasarrrrrr... mau ngetes apa yaaa...


Akhirnya Dedi palsu alias istrinya itu cerita. Katanya beberapa 'akhwat' kalo Dina yang nyapa, gak jawab. Tapi kalo Dedi yang nyapa, akhwat tersebut langsung menjawab dengan cepat. Wew... Tak usahlah pake tes kecepatan gitu sama saya mah Din... Buat saya cepat atau lambat tak ditentukan oleh jenis kelamin, tapi ganteng apa enggak..

***

Rabu, 13 Oktober 2010

baru kemarin

***
Arif sakit demam flu gitu, dan saya menungguinya di rumah. Sofi sekolah dan papanya kerja seperti biasa.
Eh... rasanya baru kemarin berdua saja dengan Arif di rumah ini ya... Padahal itu terjadi.. hmm... 6 tahun lalu, sebelum Sofi lahir.
Ingat waktu Arif senengnya nonton Dora sama Teletubbies. Saya masak di dapur, dan seringkali saya lihat Arif ketiduran di depan TV.

Seneng lihat foto-foto sewaktu Arif Sofi belum sekolah. Suka kangen.
Barangkali saat-saat sekarang pun, saat saya menunggui Arif sakit, adalah hal yang akan saya rindukan di kemudian hari.
Bukan sakitnya, tapi dekatnya saya dengan dia :)

***

Selasa, 12 Oktober 2010

tiap ibu beda gaya

***
Stress kalo ngebandingin saya dan mamah. Secara posisi kami saat ini sama. Sebagai ibu rumah tangga. Tapi bagaimanapun saya beda. Saya senang menulis, mamah enggak. Saya senang chatting dan fesbukan, mamah enggak. Otomatis seluruh aktivitasnya dari dini hari hingga malam hanya untuk rumah rumah dan rumah.

Seandainya saya punya pembantu ya.. barangkali saya punya lebih banyak waktu buat menulis. Tapi kebetulan saya adalah orang yang gampang stress kalo ada pembantu di rumah. Gak percayaan, merasa urusan rumah tangga saya dicampuri orang lain, jadi malah kepikiran. Jadi ya mending gak usah aja. Kecuali kalo punya bayi lagi kali.

Hua... lagi pusing aja ini ngatur waktu. Pengen segalanya jalan sesuai rencana. Dan sungguh banyak yang ingin saya tulis. Tapi tiap menulis, selalu tidak fokus. Kalo saya nulis terpotong potong, malah garing pas mau diterbitin karena kelamaan, keburu basi. Hiyyaaa.....

***

Minggu, 03 Oktober 2010

catering umi

***
Berdasarkan pengumuman sebelum lebaran, harga catering makan siang Arif dan Sofi di sekolah masing-masing naik seribu rupiah,jadi 8000 dan 7000 rupiah sehari. Belum lagi snack masing-masing 2000 rupiah.
Wew...Sehari keluar 19ribu untuk sekali snack dan makan siang kedua anakku itu, bukan lumayan lagi, tapi gede juga buat pengeluaran bulanan.

Akhirnya saya niatkan untuk berhenti sajalah. Biar bekel dari rumah, umi yang masak. Walau dengan konsekuensi cukup berat buat saya yang pemalas dan tak pandai memasak. Tiap hari pasnya mesti bangun jam 3.30. Siapkan makanan dan pakaian buat anak sekolah dan suami bekerja, setelah sebelumnya menyempatkan sholat malam walau 'sekejap'

***
Sebulan terlewati sudah. Arif dan Sofi bekel pake rantang alumunium kecil bersusun tiga. Temen Sofi bilang, Sofi kayak Atuk Dalang (kakeknya Upin Ipin, yang suka bawa rantang ke kebun). Dan temen Arif bilang, Arif kayak mau piknik.
Tapi syukurlah, anak-anakku kadang memang suka super cuek dengan apa kata orang, yang penting gak salah. Seperti halnya suamiku yang tiap hari bawa payung panjang ke kantor. Hihi.. khasnya dia dari dulu. Ke kantor jalan kaki plus ngangkot bawa payung panjang. Gak ada duanya. Untung gak ikutan bawa rantang. Profesor Kalkulus orang bilang. Atau Thomson & Thompson? Peduli amat. Yang penting apa salahnya bawa payung? Iya juga. Lha kalo bawa bedil ntar ditangkep. Moto beliau kan berjanggut tapi bukan teroris, kepala botak tapi sexy. Yealaaah... boleh boleh.

Snack yang Arif Sofi bawa kadang camilan yang ada di rumah, kadang saya buatin puding, kadang mengandalkan pemberian orang seperti dijajanin kakek neneknya, atau dapet dari bingkisan.
Hitung punya hitung harga sih, sebenernya gak akan jauh dari angka rupiah yang harus saya keluarkan bila Arif Sofi ikut catering, karena saya berusaha membekali anak makanan yang enak-enak (ada daging/ikannya). Tapi keuntungannya, makanan di rumah jadi lebih terpikirkan, plus hampir gak ada yang mubazir. Keuntungan lainnya, saya bisa atur-atur porsi dan makanan kesenangannya anak-anak. Saya jadi lebih 'berusaha' buat masak. Menu bisa diatur sesuai budget. Dan mudah-mudahan anak-anak bisa inget umminya kalo lagi makan, sehingga ikatan batinnya lebih terpelihara. Hahay

Budget rata-rata lima puluh ribu sehari tampaknya budget yang pas buat ukuran keluarga saya (dua dewasa dua anak SD). Lima puluh ribu dibagi empat orang: Rp.12.500 sehari makan per orang, dan berarti Rp.4.200 sekali makan per orang. Termasuk di dalamnya snack, buah, bumbu, beras, air dan gas.
Saya mikir gimana ntar kalo anak udah gede ya? Beuh...berarti sehari butuh lebih banyak lagi???

Kalo ngurusin keluarga memang bakal rieut untuk ngatur keuangan. Apalagi kalo punya standar tinggi dalam urusan makan. Misalkan saja menargetkan adanya daging, buah, susu, dan snack setiap hari. Jatohnya bakal lumayan tuh. Kalo standar kemudian dinaikkan, bakal makin rieut. Katakanlah si ibu punya target creambath dan facial setiap bulan. Sang Ayah bertarget...(apa ya kalo Ayah? Hehe). Anak bertarget dibelikan buku setiap bulan... Wadoooh...doh doh...

***

Oleh karena itu, wahai para ibu yang pendapatan keluarganya pas-pasan, tetaplah berbahagia dengan cara menyesuaikan standar hidup dengan budget yang ada. Buatlah pasak agar sesuai dengan tiang. Sesedikit apapun harta yang kita dapat, jangan lupa berinfaq. Yakinkan bila suami mencari rezeki dari jalan yang halal. Pisahkan harta kita dan harta orang lain bila kita dipercaya untuk menyimpan harta orang lain atau kekayaan organisasi/perusahaan.
Bila kita benar dan jujur dalam mengatur harta, insyaa Allah, barokah-Nya lah yang akan menolong kita. Bila berkah Allah telah sampai, maka tak ada istilah tak cukup. Saat kita butuh, saat itu juga ada rezeki.
Sepuluh tahun hidup berumah tangga, saya telah cukup punya bukti, baik itu bukti 'kesialan' ataupun bukti 'keberuntungan', ya ternyata karena ulah kita juga, yang kadang ingat kadang lupa pada Yang Memberi Rezeki.

Amat sangat terasa oleh kami, bahwa rezeki itu datang dari Allah walau syariatnya dari suami. Dan semua bisa tiba-tiba diambil oleh-Nya dengan cara yang seringkali tidak kita duga. Misalnya sakit lah, nyenggol kendaraan orang lah, hilang lah, atau apalah...

Wokkeyy... jadi hati-hatilah dengan harta, sodara sodara...
Selamat bekerja, selamat belanja, selamat berinfaq, dan selamat menabung, bang bing bung... yuuu....

***

Sabtu, 02 Oktober 2010

sound of music

***
Baru nonton (lagi) Sound of Music. Terakhir nonton sepuluh tahun lalu dan baru nonton lagi sekarang. Gak bosen-bosen lihatnya. Mungkin karena Von Trapp Family itu semuanya berwajah menarik, tiga belas lagu-lagunya yang enak didengar dan abadi hingga saat ini,plus tentu saja karena sarat dengan nasihat bagaimana orang tua bisa dekat dengan anak-anaknya.



***

CLIMB EVERY MOUNTAIN

Climb every mountain,
Search high and low,
Follow every byway,
Every path you know.

Climb every mountain,
Ford every stream,
Follow every rainbow,
'Till you find your dream.

A dream that will need
All the love you can give,
Every day of your life
For as long as you live.

***

Kamis, 30 September 2010

rindu menulis

***
Rindu menulis, rindu menggerakkan jari ini di atas keyboard. Itu saja motivasi saya menulis kali ini. Khawatir kemampuan saya mengetik sepuluh jari luruh. Khawatir gak bisa lagi melepas penat dengan menulis dan mengucapkan do'a-do'a dan harapan saya di blog ini.

Buku yang di antara bab-nya memuat tulisan saya, rupanya telah terbit. Peduli amat.. haha.. Tujuan saya menulis bukan untuk diterbitkan, apalagi untuk dapat duit. Pure hanya untuk melepas beban hati saja. Laku sukur, gak laku biarin aja.

Ke depannya mudah-mudahan bisa lebih sering lagi menulis. Menulis apa saja, dan tentu saja tak sekedar update status. Semoga bermanfaat untuk saya sendiri. Dan semoga Allah ridha.

***

Minggu, 19 September 2010

kenal diri

***
Pernahkah kamu merasa tiba-tiba sedih?
Bangun, sedikit beraktifitas, dan tiba-tiba saja merasa sedih...
Dicari penyebabnya, ternyata masalah sepele.
Dan berikutnya kamu akan bahagia dengan cara mudah, oleh hal-hal yang sepele pula.

Sangat perlu untuk bisa mendeteksi perasaan, dan apa penyebabnya.
Seperti halnya Sofi yang kelas 1 SD itu diajari gurunya mengenal rasa.
Tiga saja: senang, sedih dan marah, dengan gambar emoticon masing-masing.
Tentu saja dia tidak berhenti di belajar mengenal perasaan... tapi juga mencari penyebabnya. Setelah dicari penyebab dari setiap rasa, kemudian cari solusi biar semua bisa netral kembali dan tidak lebay.

Mengenali perasaan dan mengenali tabiat diri adalah proses berulang dalam hidup. Kita pelajari seumur hidup sejak kita hanya bisa menangis dan tertawa saat bayi untuk menyatakan kesedihan dan kegembiraan kita.
Dengan segala proses belajar yang berulang itu kita mestinya tak menjadi orang yang mudah meledak ataupun berlebihan dalam susah maupun senang.

Dalam diskusi dengan seorang teman mengenai perilaku masing-masing, kami menyimpulkan bahwa mengenal diri itu amatlah penting. Kalau tau sesuatu itu adalah kesenangan sesaat dan kelak akan menyusahkan, maka janganlah dilakukan.
Bila kamu harus melakukan sesuatu yang tidak disukai tapi itu akan menghasilkan sebuah kebahagiaan, maka lakukanlah segera.

Saya hidup sudah lama. Cukup banyak hal yang telah saya kenali dalam diri, sehingga saya mestinya tau segala penyebab dan solusi.
Mestinya saya tau apa yang harus dan tidak boleh dilakukan.
Mestinya saya tak perlu berlebihan dalam segala hal.

Sofi pun diajari tentang kelebihan dan kekurangannya. Saya beri beberapa contoh apa saja kelebihan dan kekurangan dia.
Di lain waktu Sofi minta tali bajunya dibetulkan.
Saya tanya.. "Sofi belum bisa ya naliin ini?"
Dan dia jawab.. "Ayolah Mi.. ini kan kekurangan Sofi..." :))

Apa kekurangan dan apa kelebihan saya mestinya sudah saya hafal dengan benar. Dan mestinya saya juga tau apa yang harus saya perbuat untuk menghadapinya.

Gak boleh lagi ada istilah geje, karena mestinya semua sudah jelas untuk manusia seumur saya.
***

Kamis, 16 September 2010

tulisan sofi

***
Pooh bangun pagi huahem ngantuk juga bangun pagi mandi ah.. Tingtong bel berbunyi buka pintu ia membuka pintu oh tigger
Masuk masuk ada apa Tigger ini besok kita mau salam salaman oh iya ya sudah ya aku mau mandi dulu o.. iya da...h
huh mengganggu saja Pooh mengambil handuk lalu byuuur badan Pooh basah ah pakai sabun baru ah sret..Pooh membuka sabunnya Srekgosrek Pooh menyabuni dirinya Lalu huf Yur! dingin Lalu Pooh mengambil baju baru hahahay keren bukan
Lalu Pooh bermain ke luar Pooh bermain bersama Piglet Hahaha! Seru seru asyik
Pooh capek sudah dulu ya bay huh minum ah glek glek aeh baca buku ah baca ini saja buku kamus inggris MM
A...tok tok bruk Roo Ada apa Ibuku ulang tahun ke 33 cepat datang! iya iya Tet n bruk bruk kejutan Kanga iya Pooh silahkan masuk ye! Seru teman teman Pooh Selamat ulang tahun kami ucapkan hayo Kanga tiup lilinnya! Fuhhh ye! Teriak Pooh dan teman-temannya kecuali Roo.

Terimakasih semuanya hayo kita bagi-bagi kue kata Kanga ye! Semua bersorak nyam nyam
Kata Pooh sudah ya..! Aku mau pulang kata Pooh.
Lalu Pooh Pulang huah.. ngantuk tidur ah sudah malam
Pooh berbaring huuuu! pooh tertidur Tok Tok! Pooh Pooh oh.. Pooh tidak ada Ya sudah padahal penting kata Tigger huuuh
Pagi nya huh mimpi yang sangat indah oh iya kan mau salam salaman Pooh cepat cepat berganti baju dan sarapan pagi
Semua sudah siap Pooh Pooh kata teman teman Pooh iya lalu Pooh keluar lalu semua mulai Pooh juga mereka salam ke rumah eyore ke rumah Piglet dan ke rumah Roo semua minum Glek glek glek... Semua bubar ke rumah Rabbit untuk sodakoh
Ya sudah aku ikut! Pooh berlari ke rumah Rabbit oya uang uang sudah ada di saku celana Pooh berlari sekuat tenaga Sesampai di rumah Rabbit Pooh segera masuk rumah Rabbit ye! Pooh datang! Sorak teman temannya
Pooh memasukkan uang itu hip hip hore! Bagus Pooh kata Piglet Lalu Pooh pulang. Sesampai di rumah Pooh makan siang dan minum madu yang sedap sekali Saat jam delapan malam Pooh Baca buku baru bla bla bla Pada jam sepuluh malam Pooh gosok gigi srik srik huh
Sesaat lagi iya berbaring di tempat tidur kesayangannyalalu huhuhu... iya tertidur nyenyak sekali TAMAT
***

Jumat, 10 September 2010

ulang tahun pas lebaran.. lucu juga.. xixi

***
Hanya ada satu tanggal Islam yang diingat banyak orang, yaitu 1 Syawal.
Buktinya banyak sekali orang lupa kalau sekarang 10 September, hari ulang tahun saya.
Mamah aja lupa... hihi...

Jadi maklumlah, kalo ibu mertua saya juga lupa... padahal beliau biasanya paling pertama sms saya ngucapin selamat ulang tahun.
Dan sobat dekatku juga lupa, padahal biasanya dia gak pernah absen ngucapin happy birthday sejak belasan tahun lalu...
Udah mah sama saya sengaja gak dipampang di fb ntu tanggal lahir.

Wkwkwk....

Sedih? Gak lahhh... kayak anak kecil aja ultahnya pengen diselametin.
Toh gak ada sunnahnya juga ultah dihappyin.

Hari ini malah saya senyum-senyum sendiri melihat tampang ibu mertua saya yang 'merasa bersalah' saat nyadar kalo saya ulang tahun, pas saya pamit mau silaturahim ke ortu (gara-gara dihebohin adek iparku dan Arif tuh).

Hahaha...

Jujur saya sendiri lebih inget lebarannya ketimbang ulang tahunnya.
Dan tak bisa dipungkiri saya bahagia banget ada segelintir saudara dan teman-teman saya yang gak lupa mendo'akan saya di hari yang Fitri dan Vitriani ini...

Buat Nia, adek iparku, makasih dah ngehebohin .. hihi..
Buat Teh Belli, kakak iparku yang cantik yang gak pernah lupa ultahkuw..
Buat Rena, makasih wallpostnya, meni semangat.
Buat Ipin, makasih dah nelpon dan ngedo'ain macem-macem...
Buat Listika Mira, makasih dah sms dan mendo'akan
Buat Bony, makasih juga dah sms .. berkesan banget malah... hehe...

Semoga Allah mengabulkan do'a teman-teman.. dan semoga terkabul juga apa yang menjadi keinginan dan cita-cita kalian..

Buat yang lain... saya gak ngarep kok ada yang sebegitu ingetnya sama ultah saya. Toh kalau kalian 'ultah di fb' pun, saya gak pernah posting apa-apa di wall kalian, maap suka malezzzz :)

Mari kita selalu mendo'akan sahabat, bila kita sedang ingat padanya, kapanpun dan di manapun :)

***

Kamis, 09 September 2010

lebaran datang tepat pada waktunya

***
Manusia seperti saya setelah dipikir-pikir memang selalu butuh momen.
Sesaat saja, sebentar saja, untuk melakukan sesuatu yang berbeda. Melakukan sesuatu yang mengakhiri sesuatu atau melakukan sesuatu untuk memulai sesuatu.

Ramadhan, adalah momen. Waktunya sebentar yaitu satu bulan saja.
Lebih? Jangan...

Allah Yang Maha Mengetahui, pastilah tau bila sudah menginjak hari ke 21 dan seterusnya berpuasa, bolehlah kita bilang kalau kita sudah sedikit kehilangan semangat.
Yang membuat semangat, apa coba? Karena kita sering menyebut hari ke-21 dan seterusnya itu adalah 'sepuluh hari terakhir'. Adanya sebuah akhir.. itu yang membuat kita semangat untuk berlomba memperbanyak amal. Karena Ramadhan, kita sadar ternyata cuma sebentar. Syukurlah Ramadhan bosan, Lebaran tiba.

Lebaran adalah sebuah momen juga, bagi kebanyakan orang Indonesia, untuk saling bermaaf-maafan. Bersilaturahim kepada handai taulan dan sanak famili. Dan untuk makan-makan. Fakir miskin pun bersuka cita dengan zakat fitrah yang telah ditunaikan orang-orang berada.
Cukup satu hari? Cukup...
Hari raya lebih dari satu hari bukan hari raya namanya. Jadi bukan momen namanya.
Libur yang menyertai lebaran pun cukuplah 10-15 hari saja.
Lebih dari itu? Jangan...

Bosanlah rasanya bila tiap hari kita 'ujug-ujug' minta maaf. Suami istri pun yang kata A Agym mah mesti minta maaf tiap hari sebelum tidur, pasti kalau tiap hari teuing mah ya basi lah.

Maka...
yuk kita manfaatkan momen apapun yang lewat di hadapan kita untuk membuat diri ini lebih baik dan lebih baik lagi, terutama momen lebaran yang telah lewat, dan momen lebaran esok hari. Dan momen ulang tahun yang bertepatan dengan momen lebaran. Hehe.

Selamat Idul Fitri teman-teman.TaqobbalaLlahu minna wa minkum. Semoga Allah menerima semua amal saya dan amal kalian. Semoga Ramadhan kemarin membawa perubahan yang signifikan bagi kualitas diri. Karena hidup ini pun adalah sebuah momen. Tapi sayang, tak cukup sadar kita bahwa suatu saat momen hidup ini akan berakhir juga.

Tiga puluh tiga tahun pertama untuk hidup saya,
yang belum tentu bisa tamat hingga tiga puluh tiga tahun kedua.
Semua pasti berakhir jua.

Ridhai hamba, ya Rabb... berkahi hamba pada sisa umur yang ada..

***

Minggu, 29 Agustus 2010

penipu kelas dodol

***
Rasanya emang pernah denger modus penipuan begini. Tapi bener-bener gendok ternyata kalo kita sendiri yang kena. AlhamduliLlah gak sampe kena tipunya.

Tadi .. malam jam 8-an, seperti biasa saja kami - saya, suami, arif, dan sofi ada di rumah. Dan seperti biasa juga ada yang nelpon suami. Palingan dari temennya - gitu kupikir. Suami saya pun tampak serius ngobrol.

Dan di saat yang bersamaan nada dering GSM saya pun ikut-ikutan bunyi. Saya lihat di layar: "Tante Nia", adik ipar saya yang tinggal bareng ibunya (ibu mertua saya) di Dago. Baru saja tadi siang kami pulang dari sana.

"Assalamu'alaikum", sapa saya.

"Wa'alaikumsalam. Ir, Mas Ka ada?" tanyanya terdengar buru-buru.

"Ada, tapi lagi nerima telepon", jawab saya

"Ada? Oh.. mau bicara sama Mas Ka, bilangin penting", katanya lagi.

"Ya..bentar ya", dan saya serahkan hp saya ke suami yang masih 'asyik' ngobrol, sambil saya bilang,"Dari Nia.. penting katanya".

Saya kembali ke dapur sambil sedikit bertanya-tanya dalam hati, kok adik iparku nada suaranya aneh gitu. Bilang penting pula. Gak bilang apa-apa juga sama saya. Ada apa ya...

Terdengar suamiku bicara sama adiknya itu, diakhiri dengan "Iya.. gapapa kok.. nipu itu"

"Apaan sih?", tanya saya setelah suami mematikan hp.

"Ada yang nyoba nipu... Tadi yang nelpon saya bilang dari kepolisian,nyuruh matiin hp 30 menit, soalnya nomor ini terdeteksi tersangkut kasus narkoba (kurang lebih seperti itulah), terus tadi dia nelpon Nia juga, bilang kalo saya kritis di rumah sakit, kecelakaan, dan dia minta transfer uang", papar suamiku.

"Haaa? Dia nyebut nama Wiska, gitu??" tanya saya dengan sedikit terkagum-kagum. Kok bisa orang itu mendeteksi nomor hp suamiku sekaligus adiknya.

"Iya, dia bilang Pak Wiska", jawab suamiku nyengir.

Tak lama kemudian hp suamiku berdering lagi. Dari nomor lain tak dikenal (bukan nomor yang tadi), dan diangkat.. tapi dimatikan oleh si penelpon. Rupanya cuma ngecek apa suamiku sudah mematikan hp apa belum. Kemudian sekali lagi .. mungkin dia ngecek lagi.

Telpon berikutnya dari ibu, yang memastikan suamiku baik-baik saja.
Tak puas mendengar suara putra tercintanya, ibu nelpon saya juga, memastikan kalau semua memang tipuan. Suaranya terdengar lemes bangeeeettttt..... huhu...

Setengah jam kemudian, Nia ngesms lagi ke hp suamiku: "Mama msh agak2 kaget, lemes katanya. Ibu mana yg engga kl dikabarin anaknya kecelakaan dan kritis di rs? Besok pagi tlg mama ditelp ya. Thanks"

Kurang ajar memang penipuan kayak gini. Bener-bener bikin kaget, panik, heboh, dan ngejatohin mental orang. Kalaupun gak sampe ketipu, efek psikologisnya bisa agak panjang.

Semoga hati ibu segera ditenangkan. Semoga tak pernah benar-benar ada kejadian kecelakaan itu. Semoga si penipu dibalas perbuatannya dengan balasan yang setimpal dunia akhirat. Dan semoga gak ada lagi yang jadi korban penipuan dodol macam begini.

Bersyukur juga si penipu gak nelpon saya untuk mengabari suami kecelakaan.
Kalau dia nelepon saya, saya gimana ya??? Pingsan kali....

Hmmm...


Eh.. Enggak deng... ya pasti gue ngakak laaa... wong suami ada di sebelah... xixi.

Paling gue jawab gini:
"Suami saya yang mana ya Pak? Kalo suami pertama saya sih ada di rumah nih, lagi bobo-boboan...huihihi..."

***

Sabtu, 28 Agustus 2010

rutinitas

***
Saat semua amal terasa menjadi sebuah rutinitas, seringkali hilang pula maknanya, dan entah kemana pula niat dan basmalahnya.

Ada waktunya memang untuk merelakan diri berhenti sejenak. Bukan untuk berhenti beramal. Tapi untuk memindahkan ruh ke sisi lain, membiarkan jasad dengan rutinitasnya dan mengajak ruh untuk mencari maknanya.

Bila bisa berhenti ya berhentilah... agar ketika ruh kembali ke jasadnya, saat itu pula mereka saling merindu.

Jasad yang rindu bekerja bersama ruh.
Dan ruh yang perlukan jasad untuk melakukan apa maunya.

Lakukanlah segalanya dengan sadar, yaitu saat jasad bekerja dengan ruhnya yang terjaga. Ruh yang tau bahwa di kanan kiri ada malaikat yang menulis sesuatu tentang dirinya.

***

Kamis, 26 Agustus 2010

kesempatan kedua

***
Barangkali nonton dan masih ingat, itu judul talkshow "Just Alvin" beberapa hari yang lalu yang mewawancarai A Agym.
Terpaksa saya download acara itu dari internet berhubung TV di rumah rusak antenanya, dan akhirnya baru nonton tadi malem.

Heuheu... wawancara itu bikin gue nangis uy. Mana mungkin seorang A Agym yang saya kenal sejak 1994 itu, yang selalu memberi warna dalam hidup saya, yang sering mengingatkan saya tentang keikhlasan... mengakui kalau dirinya seringkali tidak ikhlas? Riya? Mengemas segala sesuatunya agar mendapat pujian orang? Masa sih?

Dulu nyampe kok apa kata-kata beliau ke hati saya, sampai (dulu) saya bolak-balik ke DT tiap jam 2 hari ahad, cuma buat menenangkan hati... dan dapat, alhamduliLlah.. (walau memang harus dicharge terus menerus).

Sekarang saya melihat beliau sama saja dengan dulu, cuma bedanya yang saya lihat di wawancara itu beliau lebih banyak menunduk, menangis, dan bertampang feel guilty gitu lah... Tapi tampaknya memang jauh lebih tenang, damai, dan senyumnya lebih menawan... heuheu...

Ya Allah.. apapun kesalahan beliau, saya mohonkan ampun untuknya... Insyaa Allah dia sudah banyak menjadi jalan hidayah, dari dulu hingga saat ini terutama buat hati saya pribadi...

***

Ada 'joke' yang dilontarkan Aa.

Beliau tanya Alvin: "Coba kalau difoto ya.. pilih mana.. foto lebih bagus dari aslinya, atau aslinya lebih bagus dari foto?"

Alvin jawab: "Saya pilih aslinya lebih bagus dari foto, A.."

Aa jawab sambil tersenyum: "Itu mah sama aja pengen kepuji. Bagusnya mah ya jangan dipikirin"

Hahahaha....

Kapasitas beliau memang sudah begitu pekanya terhadap segala lintasan hati.
Lhaa.... gueeeeee????? Apa kabar gueee????

Sudahlah... rasanya saya ingin melesak masuk terbenam ke dalam bumi saja...
M A L U !!!

***

Selasa, 24 Agustus 2010

kemudahan untuk taat

***
"Kamu mah enak Ir... punya suami baik.. coba gue..eeuuurghhh... Suami elu buat gue dah sini!," ujar seorang perempuan yang telah saya kenal baik, di ujung telepon.
"Husy!", jawab saya sambil nyengir. Sompral amat dia.
Bercanda. Tentu saja dia bercanda dibalik kesedihannya menghadapi suaminya yang bla bla bla. Mau saya bilang sing sabar sing sabar juga da kalau saya jadi dia, keknya sih emang minta cerai sajalah.. Tapi ya masa saya bilang gitu.

Kalau sudah begini ya mendingan saya jadi pendengar saja. 'Percuma' ngomong sabar juga. Ya setidaknya ada tempat dia numpahin perasaan... bikin ember hati dia yang penuh hampir meluap ada tempat lain untuk ditumpahi. Toh kalo udah sampe ke ember hati saya, curahan tadi saya buang juga. Menyisakan endapan hikmah saja barangkali.

Taat pada suami dalam rangka taat kita pada Allah memang ternyata tak mudah.
Pantas saja bila Allah mengiming-imingi surga kepada seorang perempuan yang shalat lima waktu, shaum di bulan ramadhan, dan taat pada suaminya. Tak tanggung-tanggung, bisa masuk surga dari pintu mana saja yang kita suka. Begitu diungkapkan dalam sebuah hadits shahih.

Memperoleh suami yang shalih, ganteng, kaya... (gak usah ngebayangin suami saya, sodara-sodara.. belum tentu dia masuk kriteria.. hahaha), .... adalah sebuah kemudahan yang diberikan Allah bagi seorang istri. Bagaimana tidak mudah... mentaati seorang suami yang memang segala kemauan dan perintahnya masuk akal dan bahkan seringkali untuk kebaikan kita juga sebagai istri?
Bagaimana tidak mudah.. melayani seorang yang ganteng?
Bagaimana tidak mudah.. menyerahkan waktu dan tenaga kita untuk seorang kaya raya?

Itu baru satu contoh kemudahan yang diberikan Allah pada seorang perempuan untuk masuk syurga.

---

"Teteh.. mamah kabur," ketik seseorang di window chat YM.

"Ha? Kabur ke mana?".. bodohnya saya bertanya hal yang gak perlu seperti itu. Kabur ya pasti gak tau ke mana lah... dan esensinya kan kenapa, bukan kemana.
Ya anggap sajalah saya salah ketik.

"Mamah marah ke bapak"...

Beuh... usia pernikahan udah lewat duapuluhan tahun kok ya masih kayak anak keong racun gitu pake acara kabur-kaburan.

Pikiran saya jadi melayang sama mamah bapakku yang adem ayem di rumah mereka saat ini. Sesekali mamah menasihati saya bagaimana melayani suami dengan baik.
Indah bukan?
Mudah bagi saya untuk taat dan berbakti pada orang tua macam mamah dan bapak, yang kemauan dan perintahnya selalu masuk akal dan selalu untuk kebaikan saya juga.

Lekat dalam ingatan waktu saya menghadap mereka, menyatakan bahwa ada seseorang yang berkeinginan untuk melamar saya.
Pernyataan bapak hanya satu, spontan pula: "mun eneng bogoh mah sok wae, bapa mah kumaha eneng"

Haaaa?? Bener nih Pa?? Gak akan dilihat dulu barangnya??? Sepercaya itukah bapak sama saya?? Heuheuuuu... tengkyuuu Paaaaa....
*teriak saya dalam hati tentu saja*

Bapak seperti yang gak mau tau siapa calon menantunya itu, kerja di mana, anaknya siapa. Kunci dia cuma satu, saya cinta lelaki itu.

Ketika saya bilang sang lelaki idamanku mau datang, barulah bapak sedikit bertanya background dari sang calon. Nama, usia, dan pekerjaan. Setelah itu bapak nanya-nanya sendiri sama calon suami saya. Dan di akhir obrolan malah langsung tanya kira-kira kapan mau khitbah saya secara resmi.
Ampun. Bapak gue gitu loh. To the point abis.

Logis saja sebetulnya pikiran beliau. Kalau sampai ada orang tua melarang anaknya menikahi seseorang yang dicintainya, berarti orang tua itu membuka kesempatan bagi anaknya untuk selingkuh di kemudian hari.
Hahahah... si bapa aya-aya wae... Tapi bener juga sih. Dan, kalau ujung-ujungnya anaknya tetep selingkuh mah, bapak gak punya beban untuk merasa 'bersalah'.
Tentu saja itu setelah menepis kemungkinan bila sang anak memilih seseorang yang berbeda iman dan keyakinan.

Nah.. itulah kemudahan kedua bagi seseorang untuk taat perintah Nya. Memiliki orang tua yang shalih.

***

Kemudahan selanjutnya ...

Satu hal yang saya syukuri berada di lingkungan farmasi, adalah karena teman-teman saya banyak perempuan. Hehe...
Itu kemudahan buat saya untuk taat dalam hal berhijab.
Ya gimana mau macem-macem sama lawan jenis pas kuliah? Da di farmasi mah lawan jenisna oge euweuhan... hahaha....

Baru ditag di notenya temen, yang mengupload salah satu tulisan di bukom fardes.
Farmasi pedesaan, saat saya dan teman-teman berbagai angkatan tinggal satu minggu di sebuah desa terpencil.
Notenya singkat, karena baru mengangkat satu tulisan saja, tapi bener-bener menguak kenangan saya selama satu minggu dulu itu.
Hmmm..., tinggal satu rumah dengan para lelaki bukan mahram selama seminggu, tanpa listrik plus banyak ular... Tapi ya kok yang saya inget tetep aja kenangan bareng temen-temen perempuannya ya? Dan tentu saja ularnya..
Hihi..syukurlah. Bener-bener unforgetable moment.

Naaaah... jadinya gak kebayang tuh bila saya harus menceburkan diri masuk teknik mesin misalnya. Aaargghhh... mesti jadi "akhwat jaim" tiap hari dong? Atau malah jadi perempuan brutal? Atau sok cantik? Huekkk...

***

Jadi orang kaya? Slurp.. itu suatu kemudahan untuk taat yang saya dambakan.
Kebayang ya, kalo jadi orang kaya. Shodaqoh sana shodaqoh sini. Punya teman yang berhutang sama kita dengan leluasanya kita bebaskan saja. Terusss.. punya rumah gedeee yang bisa dijadiin tempat aktivitas teman-teman aktivis untuk pengajian atau apapun ....(asal jangan jadi sarang teroris saja.. hehe). Punya mobil baguuus yang irit dan gak mogokan untuk bisa antar jemput apaaa aja... *naon sih*... ya intinya untuk beramal.

Amiiin.. amiiin... amiiin...
Doakan saya biar jadi orang kaya yang dermawati...amiiiin....

***

Yang kelima, waktu luang..
Wew.. itu sebenernya jebakan, antara kemudahan untuk taat atau justru untuk maksiat.
Banyak orang yang terlalu sibuk untuk menghadiri majelis kajian ilmu. Banyak orang yang meninggalkan shalat sunnah karena sibuk. Banyak juga orang yang lupa silaturahim dengan saudara-saudaranya karena sibuk.
Nah.. buat yang diberi waktu luang, alangkah indahnya bila bisa mengisinya dengan amalan-amalan sunnah. Menyibukkan diri dengan hal-hal bermanfaat, dengan tidak lupa meluruskan niat.

***

Keenam, diberi-Nya pula saya saat ini, tubuh yang segar dan sehat. Keluarga yang sehat. Tidak ada satupun saat ini keluarga dekat saya yang sakit. AlhamduliLlaah.. bahkan Arif dan Sofi pun tamat shaumnya tanpa keluhan sedikit pun.
Sakit adalah hal yang paling menggoda iman buat saya. Di luar ramadhan, sakit kepala sedikit saja membuat saya urung shaum sunnah. Pilek sedikit saja, maunya tiduran dan bermalas-malasan. Pusing sedikit saja membuat saya ketus sama suami.
Gimana kalo sakit parah ya??? Na'udzubiLlaahimindzaliiik....

Makanya dikasih sehat adalah kemudahan luar biasa bagi saya untuk bisa beramal shalih dengan ikhlas seikhlas-ikhlasnya, insyaa Allah.

***

Barangkali tulisan ini hanya untuk mengingatkan diri tentang syukur.
Bersyukur bukan hanya berterimakasih dan memuji-Nya. Tapi juga bagaimana memanfaatkan kemudahan-kemudahan yang telah kita peroleh itu agar digunakan untuk taat pada-Nya.

Semoga, selalu, selamanya.

Izinkan hamba ya Allah,
mudahkan hamba untuk memasuki syurga-Mu yang indahnya tak terbayangkan itu...

Aamiiin..

***

Jadi inget blognya Bunda Zidan dan Syifa... posting terakhirnya sebelum meninggal...
huaaa.....


***

Panjangkan umur hamba dalam kebaikan Ya Allah...

(do'a minta dimudahkan masuk syurga memang bikin merinding ah....)

****

Minggu, 22 Agustus 2010

indahnya

***
Apa bedanya ya Ramadhan kali ini? Rasanya lebih nyaman ketimbang Ramadhan tahun lalu, alhamduliLlah.
Mungkin, karena:
1. Arif dan Sofi puasanya pollll.. ngebantu saya untuk gak males-malesan saat sahur. Bertekad gak kesiangan satu hari pun. Bahaya deh kalo saya kesiangan, bisa membuyarkan semangat mereka shaum satu hari penuh. Kasihan kalau shaum gak pake sahur.

2. Gak jaga apotek... horeee!! Beneran deh, tahun-tahun kemarin yang namanya jaga apotek membuat jadwal Ramadhan saya kacau beliau. Selain fisik yang harus bener-bener kerja keras, pikiran pun bercabang dua tiga empat.. bahkan sepuluh... huft!

3. Udah bebas dari ketagihan facebook..xixi... Ah masa sih?
Mmmm... untuk orang yang jarang fb-an barangkali model gak ketagihannya saya adalah OD fb nya bagi mereka. Lha wong tiap jam ditengokin kok.
Tapi setidaknya udah gak 'kepikiran' gitu lho... Gak terlalu dimasukin ke hati. Halah.
Dan bedanya sekarang mah bisa nengokin fb dari hp, gak kayak tahun lalu yang harus buka laptop.
Yu nou .. kalo udah manteng laptop, susah sign outnya.

4. Suami yang semakin baik... weks... :P

5. 'Menemukan' banyak hal selama setahun ini yang mendatangkan pelajaran dan hikmah yang luar biasa. Perjalanan batin, perjalanan ruhiyah, yang tentunya setiap orang berbeda rute-nya. Sampai pada titik di mana saya benar-benar merindukan momen ramadhan, yang akhirnya datang juga :)

Hari ini Ramadhan hari ke-12, dan telah banyak hal terselamatkan dari hati saya karena bulan mulia ini. Sampai sering berteriak dalam hati "Thank God it's Ramadhan!"
Indah saat saya menemukan diri ini bisa mengendalikan sesuatu yang paling sulit dan liar yaitu hati, pikiran, dan lisan saya sendiri.

Dan tentu saja yang paling bikin males saat Ramadhan adalah kalau harus mikirin lebaran, dan setelah lebaran, dan hari hari selanjutnya...hiks.
Males beneran!

Ah, semoga saja saya bisa selalu meramadhankan hati ini di setiap detiknya hingga saya jelang Ramadhan lagi tahun depan. Insyaa Allah.

***

Sabtu, 21 Agustus 2010

masjid at-taqwa

***
Ada keharuan tersendiri setiap saya sholat di Masjid At-Taqwa, Binamarga, Bandung. Tak lain itu masjid yang paling dekat dengan rumah orang tua saya.
Setiap saya berdiri dan sujud di sana, rasanya saya selalu kembali ke masa lalu, lebih dari dua puluh lima tahun yang lalu saat saya mulai menyadari bahwa masjid ini ada.
Waktu saya ikut-ikut mamah pengajian karena gak mau ditinggal, lantas tertidur di pangkuan mamah. Selanjutnya saya sendiri ikut pengajian anak-anak dengan berbagai karakter guru ngaji hingga tamat SD.

Ada empat guru ngaji saya, yang sekaligus jadi merebot masjid AtTaqwa. Setau saya mereka adalah orang perantauan yang kuliah di UIN SGD. Tiap lulus, pergi, dan digantikan oleh yang lain. Pertama Pak Mumuh, kedua Pak Rizal, ketiga Pak Dedi, dan yang keempat Pak Andar. Status mereka saat jadi guru ngaji saya, tentunya bujangan.. hehe.. tapi ya gak ngaruh laaa.. gue anak SD belom punya 'perasaan' macem-macem. Yang ada cuma perasaan dekat sekaligus hormat luar biasa.

Pernah juga gerombolan saya dkk dikejar-kejar dan dimarahi sama bapak ketua DKM, gara-gara suka gambar-gambar dan nulis-nulis menuhin papan tulis masjid yang berakibat habisnya berbatang-batang kapur.
Kami memang sering menjadikan masjid tempat main, dan tentu saja papan tulis dan kapurnya seringkali jadi sasaran.

Yang diseremin cuma satu.. kamar di sebelah kiri tempat imam. Di sana tersimpan keranda dan berbagai perlengkapan pengurusan jenazah (kain kafan, kamper, papan, anyaman samak, dll). Gak kuat berlama-lama dekat pintu kamarnya.
Kalau kamar sebelah kanan sih aman. Di sana tersimpan mushaf Qur'an dan sound system.

Saat tarawih memang jadi kenangan indah tersendiri bagi saya (sekali lagi, dan kawan-kawan). Berebut tempat paling tengah di tengah-tengah gank biar gak ketinggalan gosip saat ceramah.. hihi. Tapi kebiasaan buruk ini tak lama saat turun perintah dari guru agama SD kami bahwa setiap ceramah tarawih harus ditulis dan harus minta tandatangan penceramah.

Saat minta tandatangan dan cap masjid, anak-anak yang mendapat perintah sama, sering bejubel dan mengecoh pemberi cap masjid agar mencap buku kami lebih dari satu halaman... Cadangan buat besok-besok, kali aja ntar isi ceramahnya nulis sendiri di rumah, nyalin dari kolom taushiyah di koran. Tandatangan mah sreettt srettt sreett.. bikin we olangan.

Oiyaaa.. waktu Ustadz Aang Kusmayatna alias Kang Ibing (alm) ceramah taraweh di masjid, dapet juga tuh tandatangannya... Meni banggaaaaa buanget waktu itu :)

Saking cintanya sama masjid ini, pernah ada suatu masa saat saya dkk bolak balik ke mesjid untuk ikut sholat wajib berjamaah. Bahkan sholat jum'at pun kami lakoni. Hayyaaah... semangat kali pun !!
Pihak DKM sampai sengaja menyediakan tempat sepetak bagi kami untuk ikut sholat Jum'at.
Tapi lama-lama dipikir kok ya malu juga ya dilihatin sama bapak-bapak dan om-om, plus teman-teman laki-laki kami. Akhirnya kami tak meneruskan 'kebiasaan' sholat jum'at itu, dan sholat wajib pun akhirnya di rumah saja.

Ceramah tarawih di podium? di depan itu? Hoho.. tentu saja pernah saya lakoni juga. Dulu sempat ada masanya akhwat boleh ceramah di atas podium. Tapi itu pun tak lama. Kebijakan dari DKM untuk tidak 'membiasakan' akhwat tampil di depan khalayak ramai. Cukup di depan akhwat sajalah.

Sesi selanjutnya saya sempat jadi guru ngaji kecil-kecilan di masjid ini sampai SMA. Dan semasa kuliahan gak banyak interaksi saya di sini, hingga akhirnya momen penting berupa pengajian pra nikah saya yang dapat bonus do'a dari puluhan ibu-ibu dan bapak-bapak tergelar juga.

Beberapa tahun kemudian, Arif dan Sofi sekolah di Raudhatul Athfal At-Taqwa, rintisan dari Taman Pendidikan Al Qur'an yang dulu saya sempat jadi gurunya juga di TPA itu jaman SMP. Ngajar iqro tiap sore ke beberapa anak dari kampung sebelah, dan totalnya cuman dibayar sepuluh rebu sebulan.. xixi.. tapi enjoy aja. Suka bangettttt :)

Saya amati dari tahun ke tahun jama'ah masjid ini tampak selalu mau 'belajar'. Termasuk mamah dan bapak.
Berbagai ritual yang dipahami bid'ah, perlahan menghilang dari lingkungan masjid ini. Digantikan dengan hal-hal yang sesuai dengan sunnah RasuluLlah SAW. Contoh besarnya: tahlilan, dan contoh kecilnya: niat shaum dan berbagai do'a khususon Ramadhan yang dilafalkan beramai-ramai ba'da tarawih.

Forum-forum pengajian sudah diisi oleh ustadz muda yang pemahaman Islamnya 'ngadalil', gak sekedar ikut-ikutan nenek moyang.
Jadinya meskipun saya tahun-tahun berikutnya aktif di Salman, yang notabene jauh dari hal-hal yang bersifat tradisional, tetep aja bisa nyambung dengan mesjid ini dan dalam banyak hal sepaham pula dengan mamah bapak.

AlhamduliLlah orang tua saya menghabiskan masa tuanya di lingkungan ini. Lingkungan yang banyak menuntun mereka mendekati-Nya. Bapak yang dulu sama sekali tidak bisa baca Al Qur'an, seingat saya lima tahun terakhir bacaan beliau sudah lancar.
Mamah yang dulu tak berjilbab, kini sudah berjilbab dengan rapi. Rapi dalam arti setiap keluar rumah megenakan penutup aurat, sekalipun hanya menyapu teras halaman. Begitu pula dengan sebagian besar ibu-ibu di komplek ini.

Di manapun saya berada, di masjid manapun saya sholat, sepertinya saya akan selalu merindukan masjid AtTaqwa :)

***

Jumat, 20 Agustus 2010

ada dirimu dalam do'aku

***
Baru nyadar (sedikit), ternyata mendo'akan orang lain jauh lebih nikmat daripada berdo'a untuk diri sendiri.

Entah angin dari mana yang membuat saya malam ini ba'da shalat bisa komat-kamit mendo'akan orang lain. Dan entah kenapa pula tiba-tiba bulir-bulir air mata deras banget mengalir saat saya menyebutkan satu persatu orang yang saya cintai.
Mungkin karena hujan deras.. malam sepi.. dan Ramadhan yang mau gimana-gimana juga suasananya sejuk di hati..

dooh..nangis lagi deh nih...

Tentu saja takkan saya sebutkan siapa saja yang saya do'akan dan apa do'a saya untuk mereka. Biarlah Allah dan para malaikatNya mencatat, karena saya ingin do'a saya barusan diaminkan oleh para malaikat, hingga insyaa Allah terkabul... seperti apa yang disebutkan dalam hadits... (mm.. belum nemu teks haditsnya nih)

yang jelas, dalam sebuah link, disebutkan bahwa
.... hanya saja satu batasan yang disebutkan dalam hadits -agar malaikat meng’amin’kan- adalah saudara kita itu tidak mengetahui kalau kita sedang mendoakan kebaikan untuknya. Jika dia mengetahui bahwa dirinya didoakan maka lahiriah hadits menunjukkan malaikat tidak meng’amin’kan, walaupun tetap saja orang yang berdoa mendapatkan keutamaan karena telah mendoakan saudaranya. Hanya saja kita mendoakannya tanpa sepengetahuannya lebih menjaga keikhlasan dan lebih berpengaruh dalam kasih sayang dan kecintaan....


Heu.. dengan menuliskan ini pun mudah-mudahan tidak jadi 'pembatal amin'-nya para malaikat, soalnya pan mestinya cuma saya dan Allah yang tau kalau saya udah mendo'akan ya? Ari saya kalahka bilang-bilang...

Iya deh lain kali kalo ngedo'ain orang lain lagi saya gak akan bilang-bilang.
Ini mah... sekali iniiii ajah..


Eits..naha jadi seuri?.. dasar geje.

***

Selasa, 10 Agustus 2010

sang pengancam

***
Nasihat yang sangat mengena buat saya di sebuah forum majelis ta'lim. Katanya, jangan sampai kehadiran kita menjadi ancaman bagi orang lain.
Akang tersebut mencontohkan ketika dia menelpon bawahannya untuk menanyakan sebuah tugas, dia bertanya dulu “Nyaman tidak kalau saya menanyakan tentang tugas ini? Apa antum tidak sedang ada masalah?”



Hmm... saya jadi berpikir, seberapa sering kehadiran saya tidak disukai oleh orang lain? Baik itu di dunia maya ataupun nyata. Sementara saya sendiri sampai saat ini -masih- tidak menyukai kehadiran seseorang di wall fb saya ataupun di friendlist YM saya.
Dua orang 'terpaksa' saya hide wall fbnya karena gak kuaaaat baca status-statusnya yang gak nyambung ke saya tapi membuat saya su'uzhan padanya. Lebih baik tidak tahu sama sekali daripada membaca satu saja statusnya. Biarlah. Dia gak tau kalau wallnya saya hide. Daripada saya berprasangka buruk terus sama dia.

Dan satu lagi teman YM, yang setiap ketemu online dia selalu menanyakan kabar saya... bla.bla.bla.. dst dst yang pada akhirnya dia seperti menyalahkan status saya sebagai ibu rumah tangga pengangguran gak berduit... ujung-ujungnya .. kayaknya sih.. nantinya.. bakal muncul tawaran untuk jadi downlinenya... Ya sudahlah.. daripada saya kesel melayani obrolannya, mendingan dipermanent offline aja... heuheu.. maap...

Di dunia nyata ada pula beberapa orang yang bawaannya males aja untuk saya temui. Entah karena cerewetnya, muka masamnya, atau marah-marahnya... ataupun yang tiap ketemu pasti dia pengen jual sesuatu sama saya.
Ih.. mending gak usah ketemu deh kalo gak penting-penting amat.

Hoooo....

Ternyata begitu mudahnya ya saya menilai orang lain sebagai pengancam bagi kesenangan saya?
Sempatkah saya berpikir apakah saya pernah jadi pengancam bagi orang lain?
Ketika saya online YM... adakah yang tiba-tiba memutuskan untuk offline? Adakah yang permanently offline? Atau bahkan mendelete nama saya? Adakah yang menghide wall FB saya? Sementara saya tidak menyadari perlakuan tersebut?
Kalau ada.... hiiiiiiiiiiikkkkkkkkkkkkkkkkssss.... bener-bener akan jadi tamparan yang teramat keras buat saya... Amat keras

Bukannya saya tak pernah bermasalah dengan orang di dunia maya.
Pernah. Tentu saja pernah. Ada kasus yang saya sampai sekarang gak ngertiii.. (hanya berusaha untuk mengerti) kenapa dia meremove saya dari fbnya, seperti yang saya tulis di posting yang lalu.
Ada juga satu lagi yang mungkin.. gak tau ya.. sampai sekarang sepertinya masih memusuhi saya gara-gara fb juga. Dan saya juga gak ngertiiiiii... sampe saya klarifikasi kesana kemari, dan semua bilang kalau saya gak salah. “Dia aja yang cari masalah... Emang orangnya gitu,” kata teman saya yang lain... huhu... whatever lah... yang penting saya mah gak pernah musuhin dia sedetikpun.

Sementara itu... dua minggu menjelang Ramadhan ini ada tamparan dari-Nya untuk saya. Sebuah tamparan karena ternyata ada yang -sempat, sementara waktu- tidak menyukai kehadiran saya dalam kesehariannya. Masalahnya sudah selesai, tapi cukuplah masalah itu yang membuat saya mungkin bisa berubah permanen (jadi lebih cantik )

Sudahlah.. sesuatu itu tidak bisa saya ceritakan di blog ini (maaf ya Lesly, Manik, dkk.. anggap aja posting ini sebagai penggugur kewajiban menepati janji di comment status saya.. hihi..)
Do'akan saja agar saya selalu berubah ke arah yang lebih baik ya .. baik.. dan lebih baik lagi.., cantik dan lebih cantik lagi hatinya, hingga tiba pada saatnya jatah hidup saya berakhir, dan saat itulah saya berada dalam kondisi terbaik dan tercantik seumur hidup.

Meskipun meminta maaf khusus dalam rangka jelang Ramadhan tidak ada contohnya dari RasuluLlah SAW, tak ada salahnya bila saya mohonkan maaf dari teman-teman semua atas segala kesalahan dan kekhilafan yang telah saya lakukan baik sengaja maupun tidak disengaja. Yang langsung maupun tidak langsung, baik tulisan maupun perkataan.
Sungguh lebih baik saya didamprat habis-habisan secara langsung, kalau perlu sampe saya nangis darah (halaaah... lebay..), tapi sesudah itu beres dan damai, daripada diam-diam ada yang tidak suka dengan tingkah polah dan perlakuan saya pada kalian semua.

Tak ingin sama sekali kehadiran saya jadi sebuah ancaman bagi siapapun. Saya ingin jadi orang yang menyamankan bagi keluarga dan teman-teman, atau minimal, ada ataupun tidak adanya saya gak ngaruh.
Mending gak ngaruh daripada berpengaruh negatif kan...?



Akhirul posting, selamat datang Ramadhan, selamat beribadah teman-teman, bulan yang kita rindukan akan datang segera dalam hitungan menit... semoga Allah berkenan membersihkan hati dan pikiran kita dari segala sesuatu yang tidak diridhoi Nya, dan menjaga kesuciannya hingga akhir kehidupan kita.

Ya Rahiim, luluhkanlah hati siapapun yang masih memusuhi saya, yang tak suka akan kehadiran saya, agar mereka memaafkan segala kesalahan saya padanya.

“Ya Rabb, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebihan dalam urusan kami, dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir” (QS Ali Imraan 147)

Allahumma Aamiin...

***

Jumat, 06 Agustus 2010

"akhwat jaim" -- (bagian keempat) -- tamat

sambungan dari "akhwat jaim" bagian pertama, kedua, dan ketiga.
***

Gerbang pernikahan selain membawa warna baru dalam cara pandang saya terhadap orang lain, ternyata membawa warna baru juga dalam kehidupan perhijaban saya.
Terasa sedikit lebih longgar ketimbang saat saya berada dalam status lajang.

Kenapa?

Mungkin.. ini mungkin...
Mungkin karena merasa sudah tertutup celah bagi siapapun yang ingin menikahi saya, maka aksi dan reaksi apapun yang diberikan dan diterima oleh dan dari lawan jenis, tidak lagi saya artikan sebagai sinyal untuk dibogohi...
Lha seperhatian perhatiannya cowo sama saya, emangnye dia mau apa? Pasti cuma mau temenan doang kan? Masa iya ingin menikahi?

Bersyukurlah saya karena berada di lingkungan makhluk beradab, di mana persepsi saya di atas benar adanya. Namun ternyata di lingkungan lain.. katanya.. tak lagi berlaku istilah “sebelum janur kuning berdiri, maka dia bisa jadi milikku”.. tapi yang kini berlaku adalah “sebelum bendera kuning berkibar, maka dia bisa jadi milikku”
Whaaa.. ngeri banget siy...

So, ternyata memang hijab berlaku untuk siapapun yang bukan mahram kita. Begitu pula kejaiman, hendaklah kita jaga.

Lhaaa... dari dulu belom tau ya apa definisi akhwat jaim versi saya?
Jaim itu kan jaga image ya. Semacam menjaga pandangan atau persepsi atau pendapat orang terhadap dirinya.
Akhwat jaim yang terbayang di benak saya adalah seorang akhwat yang bisa dikatakan pemalu dan tidak memalukan.

Menjawab pertanyaan dari seorang komentator di blog ini, apakah jaim itu suatu bentuk pembohongan publik? Dan jawaban saya adalah tidak.

Akhwat (baca: saya, ier) bersikap jaim karena mengikuti apa kata hatinya. Hati yang dibentuk oleh pemahamannya dan lingkungannya. Tidak bohong, karena hatinya nyaman saat dia bersikap jaim. Ada sesuatu yang dia jaga, ada sesuatu yang dia bela.

Lain jawabannya jika ada yang bertanya.. salahkah akhwat bersikap jaim?
Jawabannya ya, salah, jika niat dia jaim adalah untuk berharap ridho manusia.
Jawabannya tidak, tidak salah, jika niat akhwat tersebut bersikap jaim adalah karena inginkan ridho Allah SWT.
Masalah niat, hanya akhwat tersebut yang mengetahuinya.
Kadang memang pacampur-campur antara inginkan ridho manusia, dan inginkan ridho Allah. Tapi satu sajalah yang dirasakan saat berjaim karena inginkan ridho Allah ta'ala... yaitu ketenangan hati saat menjalaninya. Karena berharap ridho manusia itu manalah tenang? Adakah hati yang tenang saat pujian manusia menjadi tujuannya?

Akhwat jaim saya definisikan sebagai seorang muslimah yang berhijab atau berbatas.
Adapun cara terbentuknya bisa karena terpaksa, bila terus menerus berada dalam lingkungan seperti yang saya ceritakan pada akhwat jaim bagian pertama. Salah sedikit dimarahi, deket ma cowo langsung diingatkan. Namun bisa juga mengalir dan tanpa pemaksaan seperti yang saya ceritakan pada akhwat jaim bagian kedua. Di bagian kedua ini sang akhwat (baca: si nu boga lalakon, saya, ier) memang sudah menikmati dirinya yang berhijab.

Adapun tingkat kejaiman bisa berubah tatkala sang akhwat memasuki babak baru kehidupannya. Misal: menikah, seperti yang saya ceritakan pada akhwat jaim bagian ketiga dan keempat ini.
Atau bagi akhwat lain barangkali tingkat kejaiman berubah saat dia memasuki dunia perkuliahan ataupun dunia kerja yang lingkungannya sebagian besar laki-laki.

Dan di dunia maya seperti facebook dan YM, seperti yang saya ceritakan di akhwat jaim bagian ketiga, standar jaim bisa sangat berbeda dengan dunia nyata.
Dunia maya seakan bisa menunjukkan pada dunia bagaimana 'asli' nya kita, atau bahkan bisa kebalikannya sama sekali... di sana kita bisa menunjukkan kepalsuan kita sepalsu palsunya.

Jadi harus bagaimana seorang akhwat berhijab di dunia maya, nyata, darat ataupun laut?
Kuncinya ada dua. Yang pertama dan utama adalah ilmu, dan yang kedua seringlah bertanya pada hati nurani, pada hati kita yang terdalam. Dia tak kan bisa memungkiri, apakah kita benar atau salah dalam bersikap.

Semoga kita semua masih dikaruniai hati nurani yang ada dalam penjagaan Nya.

***

Melag nteu mun saya tamatkan serial ini?
Ya sudahlah.. tamat gak tamatnya saya tunggu komentar dari para penggemar (beu..angger eta geer)


***

Rabu, 28 Juli 2010

"akhwat jaim" -- (bagian ketiga)

Sambungan dari "akhwat jaim" -- (bagian pertama) dan (bagian kedua)

***
Bertemu dengan suami, adalah babak yang benar-benar baru dalam hidup saya. Sempat terkaget-kaget dengan segala perubahan, tapi saya menikmatinya.
Suami membawa saya untuk menemukan sosok yang baru dengan membawa diri ini ke dalam lingkungannya.

Ternyata lingkungan yang saya masuki di antaranya adalah bukanlah lingkungan baru. Setelah bertaaruf dan kemudian menikah, saya dan suami baru ngeh kalau punya teman yang sama. Yang bagi saya orang itu adalah sahabat, sementara bagi suami orang itu hanya kenalan. Begitu pula orang yang saya anggap sebagai kenalan, ternyata berteman baik dengan suami.

Tidak heran ketika kami bertemu orang-orang itu.. mereka langsung menyalami kami dengan akrab, karena mereka tau siapa saya, dan tau siapa suami saya. Maklumlah memang kami satu almamater SMA dan satu almamater kuliahan. Cuma 'klik'nya aja gak pas lagi di sekolah ataupun kampus.

Dan tau nggak.. hehe.. ternyata orang-orang yang saya anggap kenalan dan ternyata berteman baik dengan suami, itu adalah orang-orang yang saya anggap 'bukan saya' di masa lalu. Yang saya anggap beda level. Tak usah dibahas level siapa yang lebih tinggi, tapi yang jelas saya ngerasa beda aja.

Karena kini saya menjadi bagian dari suami, mau gak mau saya jadi kembali bertegur sapa dengan mereka, dan bisa melihat mereka dari dekat.
Entah kenapa saya jadi merasa berbeda.
Hmmm... bukan sayanya barangkali ya,
tapi cara pandang saya.

Ibarat kacamata, mata masih mata saya, tapi kalau ganti kacamata dari kacamata biru ke kacamata merah, atau dari kacamata minus ke kacamata plus, pasti tampak berbeda.

Kalau saya barangkali seperti pindah dari kacamata kuda ke lensa kontak
(jauh amat?!)
Saya jadi bisa melihat segala sesuatu menjadi jelas dan terang benderang. Bisa melihat sisi baik dan sisi buruknya dan bisa menempatkan diri lebih baik. Nyaman bagi mereka dan bagaimana memandang mereka agar tampak menyamankan bagi saya.

Karena lebih mengenal, makanya saya jadi bisa lebih mengerti, kenapa mereka melakukan hal-hal yang bagi saya dulu adalah 'bukan saya'. Toh bagi mereka juga - saya - mungkin- adalah bukan mereka. Tapi ternyata kami bisa juga menemukan satu sisi yang sama. Namanya juga sama-sama manusia ya?

Suami juga mengenalkan saya pada level level lainnya dan saya punya perasaan yang sama, yaitu nyaman dan baik-baik saja. Pun saya membawa suami ke lingkungan saya, dan semua kekhawatiran lenyap begitu saja. Kekhawatiran bila suami tidak nyaman dengan lingkungan yang saya kenalkan padanya.

Barangkali karena suami juga saya jadi bisa lebih 'bijak' seperti itu.

Seperti dituliskan di posting blog ini terdahulu, bahwa orang paling istiqomah yang pernah saya kenal adalah Mas-ku itu. Teguh dengan pendiriannya, tapi tidak cocok juga kalau disebut keras kepala. Di lingkungan manapun dia berada, maka sosoknya tampak tak pernah berubah. Gak ikut-ikutan. Stabil. Tampil sebagai dirinya sendiri. Gak pernah terlihat marah, gak pernah terlihat sedih ataupun kecewa. Kalau terlihat bahagia tentu saja sering, tapi gak berlebihan juga.

Saya yang labil, yang sering terbawa emosi, yang sering berubah-ubah karakter seperti bunglon, jadi bisa belajar banyak pada beliau.

Kuncinya ternyata adalah... bagaimana mengenali diri, dan bagaimana mengenal Allah. Siapa kita, siapa pencipta kita, dan untuk apa kita hidup.
Ah.. semoga kalian paham apa yang saya maksud.

Yang jelas.. pada akhirnya.. dengan mengenal diri dan Sang Pencipta, saya jadi merasa sejajar dengan siapapun manusia di muka bumi ini. Orang kaya? Orang miskin? Cantik? Jelek? Jahat? Tampak sholeh? Cacat? Sempurna? Aktivis masjid? Aktivis himpunan? Siapapun itu... saya jadi merasa tak bersekat lagi, tak ada benteng lagi kecuali apa yang telah dibedakan dan ditetapkan batas-batasnya oleh syariat Islam.

Bukan berarti saya paham 100%. Sampai saat ini pun saya masih belajar. Terus berkenalan dengan banyak orang dengan berbagai level dan lingkungannya, tapi berusaha terus menerus agar sadar diri. Siapa saya, siapa teman saya, siapa pencipta saya, siapa pencipta teman saya, dan untuk apa kami hidup.

Dengan siapapun saya bertemu dan bicara, saya merasa gak canggung sama sekali. Gak ada perasaan merendahkan, ataupun meninggikan. Tapi saya menaruh hormat dengan hanya melihat bahwa seseorang itu telah dihadirkan-Nya di hadapan saya untuk saya pelajari kelebihannya, untuk saya hisap manfaatnya baik materil (ahahaha) maupun immateril.

Melalui email, blog, ym, dan kemudian facebook plus twitter, saya menampilkan diri saya (kembali), setelah menikah.

Bahasa tulisan memang membuat saya lebih ekspresif. Tidak seekspresif kenyataannya. Tapi bolehlah dicoba bertemu dengan saya, apakah anda merasa nyaman atau tidak. Mungkin juga kalau bertemu langsung, anda masih melihat saya sebagai sosok masa lalu yang penuh batas dan standar. Yang orang kebanyakan bilang saya “jaim”.

Tentu saja begitu, kawan...

Karena bahasa tulisan dan bahasa tubuh itu bagi saya amatlah berbeda.
Apa mungkin saya tertawa seperti ini , atau katakanlah bersuara .. HA HA HA... di hadapan kalian?

Irma yang aneh, bukan?

Apa mungkin saat kopi darat saya bercerita panjang lebar seperti di blog ini tanpa memberi kesempatan pada lawan bicara saya untuk menanggapi atau bercerita balik?
Tentu saja tidak.

Dan apa bisa saya marah seperti ini... .. tepat di hadapan kalian?

Ahahay.. dunia maya memang ajaib ya.

Tidak sedikit teman lama yang bilang kalau saya berubah. Tidak seperti orang yang mereka kenal waktu saya SMA dulu atau kuliahan dulu.

Kalaupun harus dijawab, jawabannya bisa YA ataupun TIDAK.

Ya, saya berubah, dengan cara pandang saya yang mencoba untuk bisa lebih memahami teman-teman saya.

Tidak, saya tidak berubah, karena dari dulu juga memang sebetulnya saya ekspresif dan banyol. Salah besar bila saya tampak anggun dan berwibawa....
*anggun dan berwibawa? .. weks.. buat yang mengenal saya dengan baik, silahkan muntah.
Hanya ya itulah... itu... emoticon membuat saya lebih beremotion .. itu saja.


Nanti, akhir dari serial ini, saya ingin menyimpulkan, apa itu 'akhwat jaim'. Menurut saya tentunya.
Tapi di postingan berikutnya lagi aja yaaa...

******

Diakhiri dengan iklan dulu ah....
Kemarin dapet email niy:

Dear Pemenang Audisi Crazy Moments Leutika 2010

Selamat kepada para pemenang Audisi Crazy Moments Leutika 2010!

Buku CrazMo akan segera masuk produksi. Hadiah akan dikirimkan setelah
buku jadi (termasuk sertifikat - hardcopy).

Terimakasih atas seluruh atensinya. Keep writing! Sampai ketemu di next
event Leutika.


Best Regards

redaksi Leutika


NB: Dimohon tidak mempublikasikan hasil karya kepada siapa pun dalam
bentuk apa pun.


***

AlhamduliLlaah.. hehe.. ternyata ada juga yang suka dengan banyolan saya yah... judul bukunya aja "Crazy Moment"...wkwk... dari segala arah juga tampak jauh dari istilah "jaim"... --- wekwew dah.

Mudah-mudahan jadi pemicu semangat saya untuk terus menjalankan motto "lebih baik menulis daripada melamun"

***

Senin, 19 Juli 2010

"akhwat jaim" -- (bagian kedua)

Sambungan dari "akhwat jaim" - (bagian pertama)

Yahhh.. barangkali hal-hal seperti itulah yang seringkali membuat saya merasa 'terjaga' sewaktu muda dulu. Selain ada juga hal-hal sepele yang mempengaruhi tingkah laku saya. Misalnya,
saya loncat-loncat karena senang... langsung dibilangin "Husy.. ada ikhwan! Jangan centil gitu!"
Saya ngakak dikit langsung disenggol atau dikiceupan oleh sesama akhwat... lagi-lagi karena ada ikhwan. Halaaah....

Ya sudahlah.. mari kita anggun c. sasmi demi para ikhwan tercinta.

Maka, kemudian saya dikenal sebagai akhwat manis, anggun, baik budi, tidak sombong, terjaga hijab, serta auratnya.
Kurang lebih tampak seperti ini lah....



Wew.. saha eta? Ada yang kenal?

Nyaman dengan penampilan seperti itu?
Yuppp.. Nyaman!

Salahkah saya bergaya seperti itu?
Barangkali pengikut syaithan yang bilang kalau itu salah.

Betul teman, saya nyaman.
Tapi sayangnya karena saya merasa nyaman dengan pandangan orang.

Menjaga diri?
Betul, tapi karena manusia.

Saya merasa saat itu saya dituntut manusia untuk berpakaian seperti itu.
Saya diminta manusia untuk berlaku anggun seperti itu.
Saya melakukan semuanya demi pandangan teman-teman saya yang aktivis.

Allah mana? Allah ada. Tapi Dia tak ada di hati dan pikiran saya.

***

Tapi tetap saya sadar bahwa inilah yang diperintahkan Allah bagi hamba-Nya yang ingin menjaga diri. 'Kesadaran' saya ini teruji saat saya harus berinteraksi dengan teman-teman di kampus (baca: himpunan).

Wah.. maap maap nih buat temen-temen himpunan (dulu ya.. gak tau sekarang). Saya gak nyaman juga di sana. Melihat teman-teman saya laki-laki dan perempuan bercampur baur dan kadang duduk berdesakan. Ketawa ketiwi dan bercanda tak berujung pangkal. Katanya rapat tapi ya kok banyak ngelanturnya. Yang diurusi penting, tapi komitmen diragukan.
Tak seperti di masjid tempat saya beraktivitas (juga) saat itu. Kalau sudah janji.. ya ditepati. Kalau sudah punya komitmen, ya ditunaikan. Bertahan pula hingga bertahun-tahun demi menjalankan sebuah program. Ancaman yang dilontarkan satu saja : Allah Melihat kerja dan komitmen kita. Dan semua tetap maju bersama. Yang gak kerja, melaut dengan sendirinya.

Padahal sebenarnya di lingkungan himpunan saya bisa loncat-loncat ataupun ketawa ngakak dan gak ada yang bilang "Husy! Ada ikhwan!"
Tapi tetap saja saya tidak bisa centil-centilan. Kenapa ya? Gak tau. Gak enak aja. Berasa tidak etis bila saya harus ngakak dan centil-centilan dengan jilbab panjang plus rok atau gamis yang saya kenakan. Saya merasa membawa nama besar yang harus saya junjung tinggi. Yaitu: saya muslimah.
Jadi bukannya saya menahan diri untuk gak centil. Tapi karena gak mau aja. Gak mood.

Pada akhirnya saya tak bisa berlama-lama aktif di himpunan. Benar-benar saya merasa menderita bila berada di sana. Habitat saya adalah di tempat yang pandangan para ikhwannya menyapu lantai saat bicara dengan saya, dan pandangan para akhwatnya menjaga perilaku saya. Saya telah terbiasa dalam lingkungan itu. Dan perlahan saya menikmatinya.

Di SMA pun saya mengalami hal yang hampir sama.
Tengah aktif di DKM, tapi saya terseret ke dalam habitat yang 'bukan saya'. Sebuah kelompok eksklusif yang dengan seleksi tertentu saya bisa masuk ke dalamnya.

Demi bisa gaul dengan kelompok ini baik seangkatan maupun beda angkatan, maka saya memaksakan diri untuk ikut ke manapun mereka pergi. Diajak naik mobil pribadi ke sana ke mari rame-rame. Mampir ke rumah-rumah mereka yang bak istana. Disuguhi makanan yang entah apa namanya. Ngomongin film-film dan lagu-lagu. Huduuuuhhhh.... saya memang suka lagu, suka film. Tapi ya kalau dijadikan tema pokok obrolan, rasanya gimanaaa gitu. Dan utamanya barangkali karena saya gak tau apa-apa.
Mereka gak berbuat macam-macam kok. Cuma perasaan saya saja barangkali, kalau di kelompok ini saya ngerasa minder buanget. Merasa jadi orang paling miskin, paling bodoh, paling ketinggalan jaman, paling oon... hiks.. walau tentu saja mereka gak pernah menyinggung sama sekali tentang hal ini, tapi segala gaya dan penampilan mereka membuat saya merasa terdepak ke pinggir lapangan. Out! Dari habitat itu pun saya keluar. Datang bila diundang rapat saja di sekrektariatnya.

Kemudian saya pun kembali seratus persen ke musholla tercinta yang bagaikan cadbury pemberian ibu mertua. Enak di lidah, nyaman di hati. Yang ukurannya bukan materi atau penampilan. Yang ukurannya bukan bisa ngabodor atau ngagaring.Yang ukurannya bukan pintar atau tidak.
Musholla memberi saya lingkungan di mana saya tidak merasa diukur, karena di sana semua tahu, yang berhak menilai amal hanyalah DIA.
Di lingkungan yang bisa mengingatkan saya untuk tetap hidup mengejar akhirat. Dan barangsiapa yang mengejar akhirat, dunia pasti ada di tangannya.

(bersambung)

***