Rabu, 14 Juli 2010

ketemu polanya (semoga)

***

Arif Sofi kembali ke sekolah, dan roda waktu rasanya berputar kembali dengan normal. Sungguh saya sampai turun berat badan 3kg selama anak-anak liburan karena jadwal acak-acakan. Masak gak puguh, dan makan pun jadi gak nyaman. Saya pindah-pindah antara rumah orang tua, rumah mertua dan rumah sendiri. Banyak capeknya dan banyak makan ati.

Dan saat kembali ke sekolah ini, karena Sofi sudah satu sekolah dengan Arif, maka rasanya segala sesuatu lebih mudah diatur. Mungkin juga karena mereka sudah lebih paham aturan dan konsekuensinya.

Saya setting keberangkatan anak-anak dari rumah, yaitu teng jam 06.30. Setelah dicoba tiga hari, alhamduliLlah kami tidak menemui kemacetan yang berarti selama perjalanan.
Resikonya memang Arif Sofi datang kepagian karena jam masuk sekolah baru jam 07.45 sementara mereka sudah hadir 40 menit sebelumnya.
Dari opsi yang saya ajukan ke mereka "mending kesiangan atau kepagian?" dan "mending macet atau kepagian?", jawabnya tentu saja... mending kepagian.

Arif pun memberikan kesaksiannya kalau datang paling pagi itu rasanya lebih nyaman di hatinya. Baiklah. Toh kalaupun teman-teman mereka belum datang, Arif Sofi bisa saling menemani.

Dari jam pergi pukul 06.30 itu, akhirnya saya sepakat dengan Arif Sofi untuk sama-sama membuat jadwal harian. Jam berapa bangun.. jam berapa mandi, makan, main, belajar, sholat, dan tidur.
Jadwal yang mereka buat saya jadikan acuan untuk membuat jadwal saya sendiri... katakanlah kapan saya masak, kapan saya online, dan kapan saya mengupdate ilmu farmasi di apotek orang... hehehe....

Hasilnya? Not bad. Semangat di mereka, semangat pula di saya.
Seumur hidup Arif Sofi, baru kali ini mereka bikin jadwal.
Dan seumur hidup saya, sudah berpuluh kali saya membuat jadwal dan menjadwal ulang. Tapi baru kali ini saya merasa lebih teratur dari biasanya.
Barangkali karena sekarang manusia-manusia kecil yang sangat berarti dalam hidup saya itu mulai bisa mengatur diri.

Semoga jadwal yang kami rancang dan kami sepakati ini tidak menciptakan sekat yang membuat hidup kami kaku dan merasa penuh dengan aturan. Tapi justru membuat hidup kami lebih indah karena kami pandai mengatur diri.

Untuk urusan mengatur dan mendisiplinkan diri, Ummi juga masih belajar, Nak...
Bareng-bareng lah yaaa....

***

1 komentar:

Lita Edia mengatakan...

Cerita yang beda dengan saya yang pagujud di hari-hari pertama sampe ka nangis (bukan lagi pengen nangis...hiks...hiks)