Selasa, 25 Agustus 2009

Ramadhan 4 -- ingin anakku kuat

***
Setiap kali kagum dengan seseorang, biasanya yang pertama kali saya pikirkan adalah diri sendiri. Setelah itu, Arif dan Sofi.
Bagaimana sedikit banyak saya bisa menirunya, dan bagaimana saya mendidik anak-anak saya agar bisa seperti dia.

Yang saya kagumi dari seseorang biasanya bukan masalah fisik, bukan prestasi atau jabatan,apalagi kekayaan. Tapi attitude.
Begitu pula yang seringkali saya tak suka. Bukan masalah fisik, tapi mental seseorang.

Adik ipar saya adalah termasuk orang yang saya kagumi. Bukan masalah prestasinya yang lebih dari segudang, bukan masalah cantik dan kayanya. Tapi yang saya kagumi adalah mentalnya yang tangguh, kerendahan hatinya, senyumnya yang selalu mengembang dari bibirnya.. dan berjuta kebaikan lainnya yang dia miliki. Ah, kalau prestasi sih, dia gak bisa saya saingi. Jauuuuuuh... Gak kepikiran buat saya mengejar apa yang telah dia raih. Coba saja googling namanya. Maka puluhan media telah memuat namanya dalam berbagai artikel, sebagai seorang wanita yang berprestasi tinggi di bidang sains dan teknologi.

Saya ingin setangguh dia, sebaik dia, serendah hati dia. Kalaupun akhirnya saya menyerah, saya tak kan menyerah untuk mendidik anak-anak saya agar seperti dia.

Di sisi lain saya bertemu pula dengan orang-orang yang saya kenal hanyalah keluh kesahnya, marahnya, bercandanya yang berlebihan, ataupun yang selalu menceritakan dirinya sendiri tanpa peduli orang lain.

Ah, lagi-lagi saya tidak ingin seperti dia, dan anak-anakku akan kudidik agar tidak seperti dia.

Mendidik mental anak ternyata tidak semudah saya mengetik kalimat-kalimat di atas.
Semua pendidikan mental anak -yang saya rasakan- adalah didominasi mental dan karakter orang tuanya.

Saya menyadari bahwa saya punya sejumlah sifat baik, dan sejumlah sifat buruk.
Hmmm...tahukah anda bahwa segala sifat yang saya punya, karakter saya, cara bicara saya, adalah fotokopi plus sedikit modifikasi dari sifat dan karakter kedua orang tua saya? Dan saya tidak memiliki sejumlah sifat baik karena saya merasa saya kurang dilatih untuk itu.

Nah,tampaknya saat ini Arif Sofiku mewarisi sifat baik dari ayahnya.. dan mewarisi sifat buruk ibunya yaitu saya.
Ha..ha..ha (cara membaca: ketawa mbah surip) :D

Ah, berarti memang tugas sayalah, menghapuskan semua sifat buruk dan memunculkan yang baik-baik untuk anak-anakku.

Jangan marah, jangan suka nangis, jangan cepat putus asa.
Tangguhlah nak, seperti ayahmu, dan do'akan agar ibumu ini insyaf :)

***

Tidak ada komentar: