Senin, 14 Januari 2013

Si Mbah

***
Si Mbah. Nama itu muncul tepat setelah Arif lahir, untuk membuat Arif kecil memangil perempuan separuh baya itu dengan sebutan "Mbah", sementara kami tetap memanggilnya "Bibi". Dia adalah pembantu rumah tangga di rumah mertua saya. Bahasa kerennya kalau sekarang adalah ART. Asisten Rumah Tangga. Mau disebut ART mau disebut pembantu, tetap saja kerjaannya adalah sebagai orang suruhan di rumah. Dari mulai nyapu, ngepel, nyuci, nyetrika, pergi ke warung, dan bisa jadi sampai masak. Tidak berubah.

"Di belakang wanita karier yang sukses, terdapat pembantu rumah tangga yang hebat"

Itu quote yang saya buat, terinspirasi dari sebuah quote: di belakang lelaki yang sukses, terdapat istri yang hebat. Ataupun di belakang istri yang sukses, terdapat lelaki yang menderita, dst.
Ya intinya mah siapapun yang sukses, pasti ada pihak lain yang berkorban. Entah itu pasangan, anak, orang tua, dan bisa jadi pembantu.

Yang jelas keluarga suami saya, termasuk keluarga yang sukses dalam karier. Dari bapak dan ibu yang keduanya jadi dosen, suami yang.. lumayanlah kerjaannya, dan adik ipar yang meraih gelar doktor biokimia dalam usia tidak lebih dari 30 tahun, kemudian jadi dosen pula. Juga saya yang bisa bergelar apoteker dalam keadaaan punya anak bernama Arif yang berusia 1,5 tahun. Hihi. Keren gak yaaa...
Dan semua saya yakin tidak lepas dari jasa Si Mbah ini. Seorang janda ditinggal wafat oleh suami, beranak empat yang sekarang anak anaknya itu sudah menikah semua, dan jadi orang baik baik semuanya.

Si Mbah, atau Si Bibi, yang entah saya tidak tau nama aslinya itu pertama kali saya temui sekitar 5-6 bulan sebelum saya menikah, tahun 2000. Waktu itu pertama kali saya berkunjung ke rumah (calon) suami. Berkenalan dengan (calon) mertua, dan ternyata sekaligus berkenalan dengan (calon) pembantu. Hehe.
Waktu itu katanya dia sudah bekerja di rumah mertua saya selama 10 tahun. Wow.
Rumahnya di Cihaur. Tidak jauh dari kanayakan tempat mertua saya tinggal. Jadi Si Bibi datang jam 8 pagi, pulang lewat magrib. Begitu tiap hari, tanpa hari libur. Baru sekarang-sekarang saja Bibi dapat jatah libur setiap hari Senin.

Dan kemudian saya menikah, dan kemudian saya hamil, waktu itu saya masih tinggal di rumah mertua, dan di rumah cuma ada Si Bibi ini, karena ibu bapak mertua masih aktif mengajar, dan adik ipar sedang sekolah di Belanda.
Saya ingat benar waktu saya masih menyelesaikan tugas akhir S1. Waktu itu saya sedang hamil muda, pulang dari bimbingan TA, sampai rumah muntah-muntah.
Bibi lah yang memijat dan mengusap usap punggung saya, dan waktu itu saya sampai minta dikerokin.
Bibi bener-bener melayani saya sepenuh hati selama di rumah mertua, dan selama saya jadi menantu baru, dia rasanya jadi teman sejati saya. Ngajarin ini itu :)

Sampai akhirnya Arif lahir, kemudian saya lanjut kuliah apoteker, masih Bibi juga yang mencucikan baju-baju Arif bayi. Yang kena ompol lah, pupup lah, olab lah, .. Lagian sampe sekarang mertua saya lebih percaya tangan bibi ketimbang mesin cuci. Fyuuhh.

Arif kecil jarang dipegang Si Mbah ini. Jadi kalo saya kuliah, Arif dipegang mertua saya, atau saya titip ke rumah orang tua. Tapi pernah juga saya terpaksa nitip Arif ke si Mbah. Dan it's ok.Semua baik baik saja.

Setelah kuliah selesai barulah saya pindah ke rumah sendiri, kemudian hamil Sofi.
Barulah terasa sulitnya menemukan pembantu rumah tangga sebaik Si Mbah. Yang setia, yang bekerja sepenuh hati (kandidat cagub pisan), yang gak banyak omong, yang jarang pinjem duit, yang jujur sangat, yang lebih memikirkan majikan ketimbang dirinya sendiri.

Sampai sekarang pun Si Mbah masih kerja. Pindah pindah antara rumah mertua dan rumah adik ipar. Kalo saya dekat sana barangkali akan saya pinjam juga itu Si Mbah. Butuh euy kadang-kadang :(
Ibu mertua saya saat ini masih belum juga menemukan gantinya. Adik ipar juga sudah berusaha cari ke sana kemari tapi belum juga ada yang mau. Jangankan cari yang sebaik Si Mbah. Yang mau saja, hampir tidak ada. Pernah ada yang mau, cuma betah seminggu, abis gitu banyak alasan yang membuatnya berhenti kerja.

Sofi, Thaariq, hingga cucu yang paling kecil Shiddiq, semua kenal dekat dengan Si Mbah. Si Mbah yang kini usianya barangkali sudah kepala 6, dan bekerja di rumah mertua saya berarti sudah lebih dari 20 tahun. Rambutnya sudah putih semua. Sejak dulu kurang dengar,tidak bisa membaca, tapi setia luar biasa.
Sampai-sampai saya sering berpikir, barangkali di rumah mertua saya, Si Mbah lah yang paling dulu masuk surga, karena hisabnya paling cepat.
Orang-orang sibuk dihisab hartanya, ilmunya, pendengarannya, penglihatannya, dan apa yang telah dia perbuat. Sementara Si Mbah kurang dengar, yang dilihat cuma kerjaan, setia menjanda, diajari baca gak bisa bisa, hartanya tidak seberapa, tapi bekerja dengan jujur dan amanah. Saya pikir ya kok celah dosanya dikit banget. Wallahu a'lam.

Dengan tulisan ini, saya ingin menyebut kebaikan-kebaikan Si Mbah yang hingga kini masih saya rasakan tiap kali saya ke rumah mertua. Semoga benar apa yang saya pikirkan. Si Mbah masuk surga duluan ketimbang saya. Rela kok.. bener. Kan mau duluan mau belakangan, yang penting masuk surga. Saya mau jadi pembantunya Mbah deh di surga nanti. Bae rek dititah ngepel oge, mun di surga mah pan ngepelna tinggal kiceup sugan? Haha.

Nuhun ya Mbah, hanya Allah yang bisa membalas :)
***

Tidak ada komentar: