Jumat, 04 Februari 2011

anaknanyakamuyangtanggungjawabya!

***
“Konsumsi itu apa Mi?”, tanya Sofi sambil mengalihkan pandangannya dari sebuah brosur ke arah saya.
“Makanan”, jawab saya cepat.

Sofi kembali membaca brosur suplemen kalsium yang sedari tadi dipegangnya.

“Kopi itu kan minuman? Masa dimakan?”, tanya dia lagi.
“Kalimatnya gimana?”, tanya saya (yang akhirnya) memberi perhatian penuh padanya.

“KURANGI KONSUMSI KOPI”, Sofi membacakan.
“Oh iya... konsumsi itu bisa makan atau minum”, jawab saya lagi.
"hehehe.. kurangi konsumsi kopi... hehehe", kata Sofi sambil melirik ke arah saya. Dia tau saya penggemar berat kopi. Phew..

“Fashion itu apa Mi?” tanya Sofi lagi.
Dia membaca salah satu spanduk di depan sebuah factory outlet.
“Baju.. model baju.. seperti itulah..”, jawab saya.
Sofi diam lagi.

“Apartemen itu apa Mi?”
“Banyak rumah, tapi ada di satu gedung, Kalo kita masuk apartemen kayak kita masuk hotel gitu. Tiap kamar, itu rumahnya.. Tuh.. itu tuh apartemennya”, jawab saya menunjuk keluar jendela mobil.
“Aneh..”, komentar Sofi singkat.

Tiga pertanyaan itu terlontar hanya pada sekali jalan waktu kami berangkat ke kolam renang kemarin siang. Sofi membaca brosur yang tergeletak di mobil, dan membaca hampir semua tulisan yang dia lihat dari balik kaca jendela.

Dan Baru kemarin itulah saya ngeh, ternyata banyak sekali yang Arif Sofi tanyakan akhir-akhir ini. Beberapa bulan terakhir ini lah, terutama sejak Sofi kelas satu, dan mulai rajin membaca.
Pertanyaan hanya dari Arif saja cukup bisa saya jawab dan lupakan. Tapi setelah Sofi memulai aksi wawancaranya, mulai kerasa tiap hari saya harus menjawab minimal 5 buah pertanyaan dari mereka berdua.

Sofi masih bertanya definisi dengan kata tanya “apa”.
Arif mulai bertanya tentang hubungan antar kejadian (mengamati fenomena) dengan kata tanya “kenapa”.
Saya lupa apa pertanyaan Arif. Tapi ya semacam yang di serial note saya yang judulnya: Ariif.. Arif ^^ gitulah. Kadang Arif mah udah campur tebak-tebakan juga, jadi lieur saya.

Saat mereka bertanya, saya terpaksa harus berpikir cepat.
Kata-kata yang biasa terlontar, ataupun fenomena yang biasa terlihat, kini harus saya definisikan dan dijelaskan dalam bahasa anak.

Saat mereka bertanya apa artinya ciut, limit, air mani, maulid, wahyu.. dst dsb dll, seakan otak ini harus “searching” dengan cepat. Ditunggu oleh tatapan mata anak... ohh.. come on! Ummi ini bukan google, wikipedi, tau ensiklopedi! Plis diiih...
Tapi apa daya... masa iya anak di perjalanan bertanya lantas kita bilang “nanti di rumah kita search di internet ya!” .. Euh atuh ka maaana internet? kaburu poho budakna oge.

Usia Arif (8 tahun) dan Sofi (6 tahun), memang secara fisik saya bisa santai. Mereka sudah tidak lagi harus diawasi jika naik tangga, naik kursi, ke kamar mandi, buka pintu rumah, dsb. Tapi ternyata saya harus beralih pada pengawasan terhadap hal-hal lain yang tidak kasat mata, yaitu jalan pikiran serta manajemen emosi mereka. Heu... beratnya karena jalan pikiran dan manajemen emosi saya sendiri sebagai uminya juga sama-sama harus dijaga..

Pas kita baca situs-situs parenting, dan juga dengar kajian parenting... kelihatannya ya kok asik ya, tinggal gitu aja. Apalagi pas ikut kajian offline … wuiiihhh.... SEMANGAATTTT IBU IBUUU!!! Kadang sampai berurai-urai air mata gitu kita saking lebaynya.

Yeee, ai pek teh...pas nyampe rumah … ketemu anak... pas anaknya lagi nyebelin, pas kitanya cape, pas suami lagi banyak maunya... heuuuu... gubrak dah.
Bener kata seorang ustadzah, jadi ibu itu bukan teori, tapi aplikasi.
Aplikasi butuh teori. Teori juga butuh aplikasi.

Tapi jangan terlalu cemas juga karena sampai saat ini memang sekolah parenting sulit dicari. Kalaupun ada biayanya mahal. Seminar parenting? Biayanya seringkali sampai ratusan ribu rupiah!
” Sok we seminar.... ari budak dahar naon?,” ujar seorang ibu rumah tangga berwajah innocent bernama Irma Vitriani Susanti. Hahah.

Sebenarnya setiap kita bisa, karena kita dikaruniai insting sebagai ibu.
Tanpa teori parenting itu pun, seorang ibu bisa kok mendidik anak-anaknya dengan baik. Saya terkadang mengistilahkan teori parenting itu dengan “ilmiahisasi insting”. Hahaha.

Kalau hati ibu sudah bersih, ikhlas, bertauhid (tak usahlah peduli pada tingkat pendidikan formal), insyaa Allah anak-anaknya jadi anak yang shalih dan shalihah. Bukankah itu yang kita semua mau ya?
Ah, silahkan saja didebat pernyataan saya ini oleh rekan-rekan sejawat.

Saya memang harus bersyukur bila Arif dan Sofi masih percaya untuk bertanya pada saya tentang apapun. Karena mereka belum bisa kayak saya, yang kalau nanya tentang penyakit, ya ke temen saya yang dokter. Kalau nanya tentang masalah psikologi, ya ke temen saya yang sekolahnya di psikologi. Kalau saya tanya tentang cetakan, ya ke temen saya yang di percetakan.

Kalau anak? “Meneketehe?” ceuk Arif Sofi teh . Di depan mereka adanya umi, ya tanya ke umi... adanya papah, ya ke papah,...kalau adanya nenek, ya ke nenek... kalau adanya aki ya tanya ke aki..
Mamah saya tuh yang sering ngadu ke saya kalo udah cape ngelayanin pertanyaan Arif, pas saya tinggal Arif bareng neneknya itu.
“Ntar tanya aja ke umi”, kata mamah menyerah.

Bagaimana kalau yang ada si mbak pengasuh? Mungkin bertanya pada mbaknya itu ya?

Masih mending bertanya deng. Barangkali lebih khawatir lagi kalau anak memendam pertanyaannya sendiri, mencari sendiri, dan menyimpulkan sendiri. Mending kalau sebatas bertanya tentang 'konsumsi'. Bagaimana kalau pertanyaan Arif yang kemaren-kemaren itu tentang 'sperma' atau 'haid'? Atau yang semacam itulah yang bisa jadi mengarahnya ke arah yang gelap.. hihi.
Lha kalau search di google image dengan kata 'bunga' saja yang keluarnya foto BCL syurr... apalagi search istilah yang sudah 'mengarah' begitu yak...(eit eitt... yang tidak berkepentingan dilarang search lho ya... hahahaha)

Beberapa waktu lalu saya ikut kajian parenting tentang pentingnya mendampingi anak dalam masa kritis. Yaitu saat

1. anak sakit
2. anak memiliki masalah
3. anak menuju baligh
4. anak menghadapi test/ ujian
5. anak menjelang pernikahan

Selasa kemarin baru membahas poin 1-4... kemungkinan selasa yang akan datang, akan dibahas poin 5.

Intinya memang bagaimana sang anak bisa percaya penuh pada orangtuanya, dan menjadikan orang tua sebagai tempat mereka kembali.

Fiuuuhhh....masalah parenting, seringkali melahirkan rasa paranoid. Ketakutan yang berlebihan saat kita menyadari bahwa ternyata kehadiran kita sangat dibutuhkan oleh anak untuk menjaga setiap langkahnya. Mana bisa?
Bila demikian, satu saja yang kita andalkan, yaitu do'a. Mohonkanlah penjagaan Allah atas pendengaran, penglihatan, lisan, dan hati anak-anak kita. Bila Allah telah menjaganya, tak kan ada lagi yang bisa mengganggunya.

Hmmm..... baiklah. Kita tarik ulur aja anak kita ya? Kayak maen layangan gitu....

tarik tarik tarikk... bila mulai terlihat meluncur jatuh....
dan ulur-ulur ulur..... biarkan... layangan itu meninggi... menikmati anginnya....
bila ada layangan lain mendekat, kita waspada...
bila sudah mantap, kita tinggal manteng aja...
bagaimanapun layangan tetap jauh di atas, tertiup angin kencang, tapi talinya tetap kita pegang.
Dan bila matahari hampir tenggelam... tariklah dia, bawalah dia kembali ke rumah.

Semoga layangan kita tak putus diambil orang.

--Lohhh... kalau gitu Arif dan Sofi.. 4nak L4Yangan doooong? … jhahaha cpde---

***

Tidak ada komentar: