***
Tiba-tiba kepikiran untuk mikirin apa aja yang saya dapet di 2011.
***
Semua proses yang saya alami di 2011, membuat saya bisa (saat ini) berada dalam posisi nyaman. Yaitu saya tau apa yang saya mau, dan tau apa yang saya bisa untuk membuat saya bahagia dan tenang hati.
Wajar juga kali ya, karena 2012 yang akan datang saya sudah memasuki usia 35 tahun.
Ya ampun, gak kebayang gue nyebutin umur tiga puluh lima tahun walau saya melaluinya dalam tahap perkembangan manusia yang cukup ideal (sudah menikah, punya anak sudah menjelang remaja, punya rumah, kendaraan, dinafkahi, dan rukun dengan suami). Tapi tetep we ketar ketir denger usia 35 ini.
Saya banyak mengenali diri karena saya punya teman-teman yang rajin mengomentari saya, yang kemudian komentar-komentarnya itu saya masukin ke hati. Bukan buat menyakiti diri, tapi untuk saya renungkan.
Bukan komentar di jejaring sosial lho ya, tapi celetukan-celetukan yang bilang "elu itu gini gini gini.. kamu itu gitu gitu gitu", baik memuji maupun mengkritik. Secara lisan, maupun tulisan berupa chat/sms.
Hasilnya adalah luar biasa membuat saya bisa nyadar siapa saya, apa potensi saya, apa kelemahan saya. Atau minimal membuat saya tau, kalau saya galau, itu saya mesti ngapain biar gak berlanjut galaunya :)
Eh, kemaren kan ada yang bilang gue itu tingkahnya kayak monyet.. heuuuh :D :D
Oya taun 2011 ini kan saya berhasil nerbitin buku yaaa, walaupun pake self publisher. Keroyokan pula.
Tapi saya suka sambutan teman-teman atas buku itu. Malah seriiiiing banget ada yang nanya, kapan bikin buku lagi. Padahal target saya bikin buku ya hanya untuk membukukan pemikiran saya aja. Berharap anak cucu sampai cicit saya nanti bisa tetap membacanya.
2012 saya bertarget membuat satu buku lagi. Dengan tujuan yang sama saja seperti kemarin, membukukan pemikiran. Pengen anak saya nanti bisa mengkoleksi buku ibunya. Cucu saya nanti bisa mengkoleksi buku neneknya. Dan seterusnya.
Do'a saya atas buku itu juga sama seperti kemarin. Bila isinya membawa kebaikan, mohon sebarkanlah, banyaklah orang yang baca. Bila membawa keburukan,mohon tahanlah, biar sedikit saja orang yang membacanya.
Dann 2011 ini, saya mulai renovasi rumah teaaaaa :)
Tadinya impian, tapi bila Allah menghendaki memang akan mudah jadi kenyataan :)
Semoga rumahnya cepet selesai, dan barokah :)
Mau nulis terus, tapi nguantukkknyaaa luar biasa.
***
Jumat, 30 Desember 2011
Senin, 12 Desember 2011
UAS ( 2)
***
Katakanlah namanya Cici, satu lagi Ayu. Mereka berdua adalah anak kelas 2 SMP yang bertugas membantu saya di ruang obat, saat sekolah mereka menyelenggarakan pengobatan gratis. Saya adalah apoteker penanggungjawab obat pada saat acara tersebut berlangsung. Tidak diminta hadir untuk persiapan sebelumnya, dan tidak pula dimintai laporan pertanggungjawaban setelahnya.
Perkiraan pasien katanya 60 orang, sementara saya apotekernya cuma sendirian, dan hanya dibantu kedua anak itu.
Gak apalah. Memang kondisi seperti itu kerap saya alami, saat saya hanya dibantu oleh 'asisten apoteker' yang tidak tau apa-apa. Training kilat pun dilakukan. Cara menulis etiket, cara membaca resep, dll. Sederhana, karena semua tinggal bungkus dan tulis. Gak ada obat racikan.
Kedua anak itu pun mengangguk ragu. Saya bilang tenang aja, ada saya yang bisa mereka tanyai. Dan kalaupun salah, toh obatnya lewat tangan saya dulu. Bisa saya periksa dulu. Setelah lima resep bisa, pasti ke sananya gampanglah. Kata saya pada mereka meyakinkan.
Satu pasien, dua pasien, lima pasien, sepuluh pasien... semua terlayani dengan baik. Sampai akhirnya lima sampai enam orang pasien berjejer di deretan kursi di depan kami, menunggu dilayani. Tidak berimbang memang tenaga di pengobatan gratis ini. Dokternya ada dua, sementara apoteker cuma satu. Jadi pasien terlalu cepat hadir di ruang obat, menyerahkan resep dari dokter.
“Tunggu ya Bu, Pak,” sapa saya pada para pasien itu yang semuanya wulan. Warga usia lanjut.
Dua puluh pasien terlayani, tiga puluh terlayani, empat puluh ....dan masih berlanjut.....
“Yoo.. tenang ajaaa...”, kata saya pada kedua asisten kecil saya sambil membantu mereka membungkus dan menuliskan etiket.
Meja obat mulai amburadul.
“Emmm.....,”... Ayu tampak kebingungan mencari nama obat yang sebenernya ada persis di depannya.
Saya tau dia mulai panik, sekaligus lelah.
Sementara Cici, dia bekerja cepat dan sigap, walau tampak panik juga melihat jumlah pasien yang nunggu semakin banyak. Sesekali Cici membantu Ayu yang tampak bingung dan bengong.
“PCT ituuuu... apa yaaa...”, gumam Ayu
“Paracetamol !!!”, kata Cici sambil tangannya terus bekerja.
Heaaaa... dari awal itu saya kasi tau kalo PCT itu paracetamol dan puluhan resep PCT sebenernya sudah dikerjakan sejak awal, dan kemudian Ayu blank pada saat hectic seperti ini. Malah lebih parah lagi... tampak malas.
“Ayo Ayuuuu... ,” kata saya menyemangati sang Ayu. Dia cemberut.
Ya sudahlah.
Pengemasan obat dan penyerahan terus berlangsung, dan akhirnya beres. Lima puluh sembilan resep dalam dua jam tanpa henti. Fyuh.
Cici membantu saya mengepak obat sisa, sementara Ayu terkulai. Kepalanya menelungkup di meja.
Hoho. Jangankan dia, ...saya pun capek dan lapar.
Saya lirik Cici. Dia tampak semangat dan ceria, seperti tak terjadi apa-apa tadi.
Kagum juga saya sama anak itu. Sepertinya dia cukup tangguh menghadapi tekanan dan pandai menguasai diri.
Sementara Ayu? Saya tidak menyalahkan Ayu yang begitu ekspresif. Capek ya capek. Sudah. Terserah kalian mau ngomong apa. Mungkin gitu dalam hatinya.
Orang seperti itu biasanya tak menyimpan beban di hati ya? Bebannya keluar semua hingga permukaan, dan mudah-mudahan dengan begitu hatinya tidak terlalu galau.
Setelah semua beres, Ayu ngeloyor pergi, sementara Cici mencium tangan saya sambil bilang terimakasih. (Oooh.. so sweet.. hahaha)
Kalo lihat anak orang, saya suka inget anak sendiri. Jadi mikir gimana agar anak-anak saya bisa tangguh menghadapi tekanan. Gak mudah stress, dan pandai menguasai diri. Tangguh tak hanya dalam penampakan, tapi bersumber dari jiwa yang pantang menyerah.
Ihhh... asik ya punya anak yang seperti itu?
Momen UAS, atau ujian sekolah anak sebenernya bisa kita sikapi sebagai simulasi, bagaimana anak menghadapi tantangan.
Sejauh mana usahanya, sejauh mana tanggungjawabnya, dan sejauh mana daya tahannya dalam kejenuhan rutinitas belajar.
Nilai juga bisa dijadikan simulasi, sebagai hasil dari apa yang telah anak usahakan, karena biasanya memang berbanding lurus walau tidak selalu.
Di note yang lalu saya sempat bingung bagaimana agar anak bisa belajar mandiri. Komen dari Mbak Nina Estanto cukup menjawab kebingungan saya. Kata beliau, kita harus berani menghadapi kegagalan anak di sekolah karena hasil usaha si anak sendiri. Biarkan mereka mendapatkan konsekuensi dari kemalasan dan kelalaiannya. Mudah-mudahan mereka bisa belajar dari sana.
Sungguh berat bagi saya kalau harus membiarkan anak-anak saya menerima nilai jelek, buku ketinggalan, gak ngerjain peer, misalnya. Walau secara kasat mata itu justru meringankan saya. Kan cuekin aja gitu. Hehe.
Sementara selama ini saya biasanya gak banyak omong. Seragam siapin, yang ketinggalan-ketinggalan gitu saya masukkan sendiri ke tas anak. Ngerjain peer ditungguin, bahan belajar saya siapin. Doooh....
Memang kalo begitu terus caranya, kapan anak-anak saya bisa mandiri dan menghadapi tantangan hidupnya sendiri ya? Kapan anak-anak saya bisa tahan menghadapi tekanan pelajaran dan tugas-tugas sekolahnya tanpa saya temani?
Kebayangnya sama saya mah, kita memang hanya berkewajiban mengingatkan, dan memberi contoh. Saat anak belajar, kitanya jangan nonton pelem. Saat anak ngerjain peer, kitanya jangan banyak ngobrol. Tetap menemani, siap ditanyai bila mereka menghadapi kesulitan, tapi biarkan mereka mengerjakan sendiri. Dan di kehidupan sehari-hari, kitanya jangan pernah kelihatan mengeluh, marah-marah, gampangan sedih, atau menyerah.
Bukankah anak akan meniru bagaimana cara orangtua mereka menyelesaikan masalah?
Hari ini hari terakhir anak-anak UAS. Saya pun lega. Karena diam-diam saya jenuh juga melayani mereka belajar.
Nah, mulai semeseter depan, siap-siap aja ya Arif dan Sofi, siapkan segala kewajibanmu sendiri. Lalu kita lihat apa yang terjadi.
***
Katakanlah namanya Cici, satu lagi Ayu. Mereka berdua adalah anak kelas 2 SMP yang bertugas membantu saya di ruang obat, saat sekolah mereka menyelenggarakan pengobatan gratis. Saya adalah apoteker penanggungjawab obat pada saat acara tersebut berlangsung. Tidak diminta hadir untuk persiapan sebelumnya, dan tidak pula dimintai laporan pertanggungjawaban setelahnya.
Perkiraan pasien katanya 60 orang, sementara saya apotekernya cuma sendirian, dan hanya dibantu kedua anak itu.
Gak apalah. Memang kondisi seperti itu kerap saya alami, saat saya hanya dibantu oleh 'asisten apoteker' yang tidak tau apa-apa. Training kilat pun dilakukan. Cara menulis etiket, cara membaca resep, dll. Sederhana, karena semua tinggal bungkus dan tulis. Gak ada obat racikan.
Kedua anak itu pun mengangguk ragu. Saya bilang tenang aja, ada saya yang bisa mereka tanyai. Dan kalaupun salah, toh obatnya lewat tangan saya dulu. Bisa saya periksa dulu. Setelah lima resep bisa, pasti ke sananya gampanglah. Kata saya pada mereka meyakinkan.
Satu pasien, dua pasien, lima pasien, sepuluh pasien... semua terlayani dengan baik. Sampai akhirnya lima sampai enam orang pasien berjejer di deretan kursi di depan kami, menunggu dilayani. Tidak berimbang memang tenaga di pengobatan gratis ini. Dokternya ada dua, sementara apoteker cuma satu. Jadi pasien terlalu cepat hadir di ruang obat, menyerahkan resep dari dokter.
“Tunggu ya Bu, Pak,” sapa saya pada para pasien itu yang semuanya wulan. Warga usia lanjut.
Dua puluh pasien terlayani, tiga puluh terlayani, empat puluh ....dan masih berlanjut.....
“Yoo.. tenang ajaaa...”, kata saya pada kedua asisten kecil saya sambil membantu mereka membungkus dan menuliskan etiket.
Meja obat mulai amburadul.
“Emmm.....,”... Ayu tampak kebingungan mencari nama obat yang sebenernya ada persis di depannya.
Saya tau dia mulai panik, sekaligus lelah.
Sementara Cici, dia bekerja cepat dan sigap, walau tampak panik juga melihat jumlah pasien yang nunggu semakin banyak. Sesekali Cici membantu Ayu yang tampak bingung dan bengong.
“PCT ituuuu... apa yaaa...”, gumam Ayu
“Paracetamol !!!”, kata Cici sambil tangannya terus bekerja.
Heaaaa... dari awal itu saya kasi tau kalo PCT itu paracetamol dan puluhan resep PCT sebenernya sudah dikerjakan sejak awal, dan kemudian Ayu blank pada saat hectic seperti ini. Malah lebih parah lagi... tampak malas.
“Ayo Ayuuuu... ,” kata saya menyemangati sang Ayu. Dia cemberut.
Ya sudahlah.
Pengemasan obat dan penyerahan terus berlangsung, dan akhirnya beres. Lima puluh sembilan resep dalam dua jam tanpa henti. Fyuh.
Cici membantu saya mengepak obat sisa, sementara Ayu terkulai. Kepalanya menelungkup di meja.
Hoho. Jangankan dia, ...saya pun capek dan lapar.
Saya lirik Cici. Dia tampak semangat dan ceria, seperti tak terjadi apa-apa tadi.
Kagum juga saya sama anak itu. Sepertinya dia cukup tangguh menghadapi tekanan dan pandai menguasai diri.
Sementara Ayu? Saya tidak menyalahkan Ayu yang begitu ekspresif. Capek ya capek. Sudah. Terserah kalian mau ngomong apa. Mungkin gitu dalam hatinya.
Orang seperti itu biasanya tak menyimpan beban di hati ya? Bebannya keluar semua hingga permukaan, dan mudah-mudahan dengan begitu hatinya tidak terlalu galau.
Setelah semua beres, Ayu ngeloyor pergi, sementara Cici mencium tangan saya sambil bilang terimakasih. (Oooh.. so sweet.. hahaha)
Kalo lihat anak orang, saya suka inget anak sendiri. Jadi mikir gimana agar anak-anak saya bisa tangguh menghadapi tekanan. Gak mudah stress, dan pandai menguasai diri. Tangguh tak hanya dalam penampakan, tapi bersumber dari jiwa yang pantang menyerah.
Ihhh... asik ya punya anak yang seperti itu?
Momen UAS, atau ujian sekolah anak sebenernya bisa kita sikapi sebagai simulasi, bagaimana anak menghadapi tantangan.
Sejauh mana usahanya, sejauh mana tanggungjawabnya, dan sejauh mana daya tahannya dalam kejenuhan rutinitas belajar.
Nilai juga bisa dijadikan simulasi, sebagai hasil dari apa yang telah anak usahakan, karena biasanya memang berbanding lurus walau tidak selalu.
Di note yang lalu saya sempat bingung bagaimana agar anak bisa belajar mandiri. Komen dari Mbak Nina Estanto cukup menjawab kebingungan saya. Kata beliau, kita harus berani menghadapi kegagalan anak di sekolah karena hasil usaha si anak sendiri. Biarkan mereka mendapatkan konsekuensi dari kemalasan dan kelalaiannya. Mudah-mudahan mereka bisa belajar dari sana.
Sungguh berat bagi saya kalau harus membiarkan anak-anak saya menerima nilai jelek, buku ketinggalan, gak ngerjain peer, misalnya. Walau secara kasat mata itu justru meringankan saya. Kan cuekin aja gitu. Hehe.
Sementara selama ini saya biasanya gak banyak omong. Seragam siapin, yang ketinggalan-ketinggalan gitu saya masukkan sendiri ke tas anak. Ngerjain peer ditungguin, bahan belajar saya siapin. Doooh....
Memang kalo begitu terus caranya, kapan anak-anak saya bisa mandiri dan menghadapi tantangan hidupnya sendiri ya? Kapan anak-anak saya bisa tahan menghadapi tekanan pelajaran dan tugas-tugas sekolahnya tanpa saya temani?
Kebayangnya sama saya mah, kita memang hanya berkewajiban mengingatkan, dan memberi contoh. Saat anak belajar, kitanya jangan nonton pelem. Saat anak ngerjain peer, kitanya jangan banyak ngobrol. Tetap menemani, siap ditanyai bila mereka menghadapi kesulitan, tapi biarkan mereka mengerjakan sendiri. Dan di kehidupan sehari-hari, kitanya jangan pernah kelihatan mengeluh, marah-marah, gampangan sedih, atau menyerah.
Bukankah anak akan meniru bagaimana cara orangtua mereka menyelesaikan masalah?
Hari ini hari terakhir anak-anak UAS. Saya pun lega. Karena diam-diam saya jenuh juga melayani mereka belajar.
Nah, mulai semeseter depan, siap-siap aja ya Arif dan Sofi, siapkan segala kewajibanmu sendiri. Lalu kita lihat apa yang terjadi.
***
Sabtu, 10 Desember 2011
UAS
***
Iseng menulis di tengah kejenuhan menemani anak-anak belajar untuk UAS. Baru kali ini rasanya saya agak-agak eungap gitu ngadepinnya. Sofi masih mending banget. Kelas 2 masih cetek lah. Sepertinya tanpa belajar pun dia sudah bisa mendapat nilai bagus karena dia tampak menyimak apa yang diajarkan guru di kelasnya. Melihat LKS-LKSnya Sofi, nilainya 90-100. Sama seperti Arif dulu. Asal masuk sekolah dan menyimak, bereslah.
Kelas 4 rupanya lain ya? Lain banget dibanding kelas 3 dan sebelumnya.
Bagi yang ngikutin status FB saya semester ini barangkali pernah melihat saya cukup megap megap melihat kurikulum kelas 4 SD yang sama dengan pelajaran saya waktu SMP.
Bukan masalah bisa atau tidaknya, karena dulu saya SMP, ya lumayanlah gitu, masih ada di itungan juara kelas...... Jadi ya saya bisa mah .. ya bisa.
Sekali lagi ini bukan masalah bisa atau tidaknya, tapi bagaimana agar Arif enjoy belajarnya. Bisa mengerti tidak hanya menghafal. Tahan dengan kejenuhan, dan pantang stress.
Saya pikir ini dulu saya belajar yang kayak gini dengan jiwa daya tahan seorang remaja 13 tahun dengan lingkungan sebuah sekolah menengah. Dan sekarang pelajaran ini dihadapkan pada jiwa seorang anak 9 tahun dengan lingkungan sekolah dasar yang masih jadi lingkungan bermain.
Bagaimana saya bisa berempati dan menyesuaikan cara mengajar?
Saya bilang cara mengajar karena saya kasihan banget kalo kita serahkan semua pada guru di sekolah. Kurikulumnya seabreg gitu.
Tentunya kita sebagai orang tua harus bantu juga ya mengajar anak. Dengan bahasa kita yang mungkin lebih dipahami anak.
Mungkin loh.
Mungkin lebih dipahami kalau kita mengajarnya dengan emosi yang stabil. Da kadang ngajarin anak di rumah teh keselnya luar biasa. Lah kita sendiri harus ngerjain ini itu, anak tergoda ini itu, susah juga untuk bisa mengumpulkan serpihan konsentrasi baik dari ibunya maupun anaknya.
Makanya tadi pagi saya bilang di status FB bahwa beban pelajaran anak sekarang sudah luar biasa beratnya, jangan ditambahi bebannya dengan melihat orang tua mereka galau apalagi bertengkar di hadapan anak.
Saya sudah takut sebenernya ada yang mengartikan saya pasang status begitu seperti menunjukkan bahwa saya dan suami diam-diam ada masalah.
Eh.. taunya bener aja ada yang komen jail. Dodol pisan.Gitu tuh kalo pasang status. Maknanya bisa diartikan lain oleh yang beda kepala dan beda sudut pandang.
Sebenernya dengan status itu saya cuma mengingatkan pada diri sendiri dan teman-teman bahwa hal yang paling menyedihkan bagi anak adalah ketika melihat orang tua mereka galau. Dan yang paling jadi beban berat di hati anak adalah ketika menyaksikan kedua orang tua mereka bertengkar.
Kalau mereka sedih, dan orang tua sedih, lantas pelajaran apa yang bisa diajarkan orang tua dan diserap oleh anak selain kegalauan demi kegalauan??
Sudahlah, saya tidak akan membahas masalah orang tua dalam notes ini. Sing ngarti we wahai para orang tua. Dewasalah. Inget umur, inget anak.
Emm..di sini saya cuma ingin menyalurkan kebingungan bagaimana agar Arif bisa belajar mandiri.
Dalam benak saya, belajar secara mandiri adalah belajar sendiri tanpa harus selalu saya temani. Bisa tau bagian-bagian mana saja yang harus dia pelajari, dan menanyakan hal-hal tertentu saja kepada saya atau ayahnya. Jadi saya bisa bebas mengerjakan hal lain tanpa harus berdiam dengan jarak kurang dari dua meter dengannya saat belajar.
Apa benar pengertian saya tentang belajar mandiri itu? Dan apakah kemampuan belajar mandiri seperti itu sudah waktunya dimiliki oleh seorang anak 4 SD? Dengan beban pelajaran SMP kita dulu? Saya kok pesimis ya?
Karena kalau saya tinggal, Arif pasti bawaannya main. Entah itu menggambar, main bola, main boneka power rangernya, dll. Berdiam lebih dari 10 menit untuk membaca pelajaran adalah luar biasa. Selebihnya pasti dia sudah ke mana.
Senin 12 Desember adalah UAS terakhir dia, pelajaran IPS.
Ya Alloooh ..betapa sulitnya membuat dia konsentrasi. Untuk mengkaji kembali apa itu koperasi, macam-macam koperasi, pengertiannya, arti lambang koperasi, terus kebudayaan daerah, peninggalan prasejarah, .. tentang kepahlawanan, patriotisme... nama pahlawan, tari daerah, rumah adat, ...glugh glugh...
Sementara saya tau persis kemampuan dia bukan pada pelajaran seperti ini. Dia hanya suka matematika, matematika, dan matematika. Terbukti memang UAS matematika dia selasa lalu mendapat nilai sempurna. Seratus koma nol nol. AlhamduliLlah.
Akhirnya ini untuk IPS saya buat kuis-kuisan aja, dan dia lumayan jadi semangat. Saya buat pertanyaan di kertas-kertas kecil yang dinomori. Dia pilih nomornya, dan saya bacakan pertanyaannya, kemudian dibahas.
Beberapa nomor saya tulisi di kertasnya: Main UNO.
Berarti kalau kebetulan dia pilih kertas itu, dia boleh main kartu UNO sama saya dan Sofi.
Hasilnya, saya hari ini gak sempet ngapa-ngapain selain belajar.
Asli suntuknyaaaaaaaaaaaa... ..hoahhhmmm.....
Kebetulan saya ini masih numpang di rumah mamah karena rumah cipadung belum kelar direnovasi. Jadi ya masak sama mamah, nyetrika cuma dikit sisanya sama mamah, lain-lain sama mamah. Doooh.....
Syukurlah suami saya ke luar kota seharian ini, jadi tak ada beban pelayanan.. Hahah.
Dan dalam hati kubertanya.... Kapan ya Arif bisa belajar untuk UASnya tanpa saya temani?
-________-
Cisaranten, 10 Desember 2011
Jelang Malam
Membosankan sekali.
Iseng menulis di tengah kejenuhan menemani anak-anak belajar untuk UAS. Baru kali ini rasanya saya agak-agak eungap gitu ngadepinnya. Sofi masih mending banget. Kelas 2 masih cetek lah. Sepertinya tanpa belajar pun dia sudah bisa mendapat nilai bagus karena dia tampak menyimak apa yang diajarkan guru di kelasnya. Melihat LKS-LKSnya Sofi, nilainya 90-100. Sama seperti Arif dulu. Asal masuk sekolah dan menyimak, bereslah.
Kelas 4 rupanya lain ya? Lain banget dibanding kelas 3 dan sebelumnya.
Bagi yang ngikutin status FB saya semester ini barangkali pernah melihat saya cukup megap megap melihat kurikulum kelas 4 SD yang sama dengan pelajaran saya waktu SMP.
Bukan masalah bisa atau tidaknya, karena dulu saya SMP, ya lumayanlah gitu, masih ada di itungan juara kelas...... Jadi ya saya bisa mah .. ya bisa.
Sekali lagi ini bukan masalah bisa atau tidaknya, tapi bagaimana agar Arif enjoy belajarnya. Bisa mengerti tidak hanya menghafal. Tahan dengan kejenuhan, dan pantang stress.
Saya pikir ini dulu saya belajar yang kayak gini dengan jiwa daya tahan seorang remaja 13 tahun dengan lingkungan sebuah sekolah menengah. Dan sekarang pelajaran ini dihadapkan pada jiwa seorang anak 9 tahun dengan lingkungan sekolah dasar yang masih jadi lingkungan bermain.
Bagaimana saya bisa berempati dan menyesuaikan cara mengajar?
Saya bilang cara mengajar karena saya kasihan banget kalo kita serahkan semua pada guru di sekolah. Kurikulumnya seabreg gitu.
Tentunya kita sebagai orang tua harus bantu juga ya mengajar anak. Dengan bahasa kita yang mungkin lebih dipahami anak.
Mungkin loh.
Mungkin lebih dipahami kalau kita mengajarnya dengan emosi yang stabil. Da kadang ngajarin anak di rumah teh keselnya luar biasa. Lah kita sendiri harus ngerjain ini itu, anak tergoda ini itu, susah juga untuk bisa mengumpulkan serpihan konsentrasi baik dari ibunya maupun anaknya.
Makanya tadi pagi saya bilang di status FB bahwa beban pelajaran anak sekarang sudah luar biasa beratnya, jangan ditambahi bebannya dengan melihat orang tua mereka galau apalagi bertengkar di hadapan anak.
Saya sudah takut sebenernya ada yang mengartikan saya pasang status begitu seperti menunjukkan bahwa saya dan suami diam-diam ada masalah.
Eh.. taunya bener aja ada yang komen jail. Dodol pisan.Gitu tuh kalo pasang status. Maknanya bisa diartikan lain oleh yang beda kepala dan beda sudut pandang.
Sebenernya dengan status itu saya cuma mengingatkan pada diri sendiri dan teman-teman bahwa hal yang paling menyedihkan bagi anak adalah ketika melihat orang tua mereka galau. Dan yang paling jadi beban berat di hati anak adalah ketika menyaksikan kedua orang tua mereka bertengkar.
Kalau mereka sedih, dan orang tua sedih, lantas pelajaran apa yang bisa diajarkan orang tua dan diserap oleh anak selain kegalauan demi kegalauan??
Sudahlah, saya tidak akan membahas masalah orang tua dalam notes ini. Sing ngarti we wahai para orang tua. Dewasalah. Inget umur, inget anak.
Emm..di sini saya cuma ingin menyalurkan kebingungan bagaimana agar Arif bisa belajar mandiri.
Dalam benak saya, belajar secara mandiri adalah belajar sendiri tanpa harus selalu saya temani. Bisa tau bagian-bagian mana saja yang harus dia pelajari, dan menanyakan hal-hal tertentu saja kepada saya atau ayahnya. Jadi saya bisa bebas mengerjakan hal lain tanpa harus berdiam dengan jarak kurang dari dua meter dengannya saat belajar.
Apa benar pengertian saya tentang belajar mandiri itu? Dan apakah kemampuan belajar mandiri seperti itu sudah waktunya dimiliki oleh seorang anak 4 SD? Dengan beban pelajaran SMP kita dulu? Saya kok pesimis ya?
Karena kalau saya tinggal, Arif pasti bawaannya main. Entah itu menggambar, main bola, main boneka power rangernya, dll. Berdiam lebih dari 10 menit untuk membaca pelajaran adalah luar biasa. Selebihnya pasti dia sudah ke mana.
Senin 12 Desember adalah UAS terakhir dia, pelajaran IPS.
Ya Alloooh ..betapa sulitnya membuat dia konsentrasi. Untuk mengkaji kembali apa itu koperasi, macam-macam koperasi, pengertiannya, arti lambang koperasi, terus kebudayaan daerah, peninggalan prasejarah, .. tentang kepahlawanan, patriotisme... nama pahlawan, tari daerah, rumah adat, ...glugh glugh...
Sementara saya tau persis kemampuan dia bukan pada pelajaran seperti ini. Dia hanya suka matematika, matematika, dan matematika. Terbukti memang UAS matematika dia selasa lalu mendapat nilai sempurna. Seratus koma nol nol. AlhamduliLlah.
Akhirnya ini untuk IPS saya buat kuis-kuisan aja, dan dia lumayan jadi semangat. Saya buat pertanyaan di kertas-kertas kecil yang dinomori. Dia pilih nomornya, dan saya bacakan pertanyaannya, kemudian dibahas.
Beberapa nomor saya tulisi di kertasnya: Main UNO.
Berarti kalau kebetulan dia pilih kertas itu, dia boleh main kartu UNO sama saya dan Sofi.
Hasilnya, saya hari ini gak sempet ngapa-ngapain selain belajar.
Asli suntuknyaaaaaaaaaaaa... ..hoahhhmmm.....
Kebetulan saya ini masih numpang di rumah mamah karena rumah cipadung belum kelar direnovasi. Jadi ya masak sama mamah, nyetrika cuma dikit sisanya sama mamah, lain-lain sama mamah. Doooh.....
Syukurlah suami saya ke luar kota seharian ini, jadi tak ada beban pelayanan.. Hahah.
Dan dalam hati kubertanya.... Kapan ya Arif bisa belajar untuk UASnya tanpa saya temani?
-________-
Cisaranten, 10 Desember 2011
Jelang Malam
Membosankan sekali.
Rabu, 30 November 2011
Ke mana ajyaaaa???
***
Saya. Dibilang kerja engga, dibilang nganggur engga. Dibilang IRT bukan, dibilang wanita karier juga bukan. Lantas Irma ke mana ajyaa ?? Dapet duit dari manaa??
1. Suplier obat-obatan ke sebuah Balai Besar.
Udah 2 tahun saya jalani usaha ini. Lumayanlah. Dalam 1 tahun saya menyuplai obat-obatan ke balai besar ini bisa sampai 4-5x orderan. Saya yang nerima orderan, saya yang pesan ke PBF dan saya juga yang antar. Ini bisa berjalan karena saya kenal baik dengan dokter di balai besar itu, dan dalam menyuplainya saya dibantu oleh apotek teman saya. Bagi hasil lah jadinya.
2. Administrasi sebuah apotek.
Apotek teman saya. Saya ditugasi untuk mengurus segala tetek bengek administrasinya dalam tataran ide dan pengawasan. Palingan di apotek ini kerja saya cuma seminggu sekali. Dan kadang kerja lembur juga kalau dibutuhkan. Dapetlah saya bayaran dari sini.
3. Spesialis Pengobatan Gratis.
Sudah dikontrak oleh sebuah Yayasan, jadi apoteker di pengobatan gratis yang rutin mereka adakan sebulan sekali. Dari sini juga dapet fee.
4. Deputi SDM dan Kelembagaan Depkes Yayasan *BM.
Sebuah yayasan di mana saya dan suami berkecimpung. Di sini masih banyak kerjabaktinya, gak dapet fee. Tapi sebagian besar pengeluaran saya untuk yayasan ini diganti secara materi. Jadi ya cingcaylah. Mudah-mudahan ke depannya Yayasan ini bisa lebih menjanjikan baik secara materi maupun immateri. Toh saya dan suami mendapatkan lingkungan yang menyenangkan di sini.
5. Menulis
Aihh.. banyak yang bilang saya penulis. Padahal kemaren juga dapet royalti, duitnya dikiiit.
Itu mah ngegantiin biaya produksi aja. Hahaha.
Tapi bolehlah suatu saat tulisan saya dihargai dengan materi juga ya? Baik langsung maupun tidak langsung.
Sooo... dengan kelima pekerjaan itu, maka penghasilan saya... bisa kecil bisa besar. Relatif.
Kalau ada biasanya dipake buat jajan anak. Shodaqoh. Dan.. habis. Hehehe.
***
Saya. Dibilang kerja engga, dibilang nganggur engga. Dibilang IRT bukan, dibilang wanita karier juga bukan. Lantas Irma ke mana ajyaa ?? Dapet duit dari manaa??
1. Suplier obat-obatan ke sebuah Balai Besar.
Udah 2 tahun saya jalani usaha ini. Lumayanlah. Dalam 1 tahun saya menyuplai obat-obatan ke balai besar ini bisa sampai 4-5x orderan. Saya yang nerima orderan, saya yang pesan ke PBF dan saya juga yang antar. Ini bisa berjalan karena saya kenal baik dengan dokter di balai besar itu, dan dalam menyuplainya saya dibantu oleh apotek teman saya. Bagi hasil lah jadinya.
2. Administrasi sebuah apotek.
Apotek teman saya. Saya ditugasi untuk mengurus segala tetek bengek administrasinya dalam tataran ide dan pengawasan. Palingan di apotek ini kerja saya cuma seminggu sekali. Dan kadang kerja lembur juga kalau dibutuhkan. Dapetlah saya bayaran dari sini.
3. Spesialis Pengobatan Gratis.
Sudah dikontrak oleh sebuah Yayasan, jadi apoteker di pengobatan gratis yang rutin mereka adakan sebulan sekali. Dari sini juga dapet fee.
4. Deputi SDM dan Kelembagaan Depkes Yayasan *BM.
Sebuah yayasan di mana saya dan suami berkecimpung. Di sini masih banyak kerjabaktinya, gak dapet fee. Tapi sebagian besar pengeluaran saya untuk yayasan ini diganti secara materi. Jadi ya cingcaylah. Mudah-mudahan ke depannya Yayasan ini bisa lebih menjanjikan baik secara materi maupun immateri. Toh saya dan suami mendapatkan lingkungan yang menyenangkan di sini.
5. Menulis
Aihh.. banyak yang bilang saya penulis. Padahal kemaren juga dapet royalti, duitnya dikiiit.
Itu mah ngegantiin biaya produksi aja. Hahaha.
Tapi bolehlah suatu saat tulisan saya dihargai dengan materi juga ya? Baik langsung maupun tidak langsung.
Sooo... dengan kelima pekerjaan itu, maka penghasilan saya... bisa kecil bisa besar. Relatif.
Kalau ada biasanya dipake buat jajan anak. Shodaqoh. Dan.. habis. Hehehe.
***
Rabu, 23 November 2011
Berubah yaaa... :)
***
November 2011. Beda dengan November 2010. Beda dengan November 2009, dan beda dengan November tahun-tahun sebelumnya. Berbeda berarti hidup. Perubahan adalah keniscayaan.
Tapi ada yang sangat aneh di November kali ini (istilah 'sangat' hanya untuk melebaykan)
Saya merasa berubah, tapi gak ada satupun yang bilang saya berubah. Barangkali juga gak ada yang memperhatikan? Atau memang sebenernya bukan saya yang berubah?
Setelah ngobrol bentar dengan Teman A, memang rasanya bukan saya yang berubah sih, tapi diawali dari lingkungan saya yang lain dari biasanya. Teman-teman saya yang berganti kesibukan, yang ternyata pengaruhnya lumayan buat saya.
Gak banyak yang beda, cuma jadi agak agak males pasang status FB. Kenapa? Karena saya biasanya kalo pasang status, ngarep komen dari Teman A, Teman B, Teman C, atau Teman D...Ehhh, taunya mereka pada diemmm semua.. hahaha.. geus teu usum tea barangkali ya komen-komenan.
Yang komen jadinya siapa? Gak tauuu.... :))...kadang saya gak kenal siapa itu yang komen. Karena sejak buku saya terbit, saya sering confirm-confirm saja siapapun yang ngeadd saya untuk jadi friendnya di FB, asal namanya gak alay dan profpicnya sopan.
Pernah ada yang komen, cowo, dan saya gak kenal, tapi dia kok ya rada sok akrab gitu komennya. Heu. Saya bingung. Biasanya kalo saya ngerasa gak enak sama komen orang, saya kirim message ke dia untuk meluruskan. Tapi kalo gak kenal? Euuu.. masa iya saya bilang “Komennya jangan kecentilan gitu dong, saya kan perempuan, udah nikah, lebih tua dari kamu, kamu cowo, dan saya gak kenal kamu … “
Terusss? Hahah .. daripada bingung, saya block aja itu orang... maap. Rada mengganggu soalnya.
Sementara orang-orang yang saya harapkan komennya,.. diam seribu bahasa :)
Saya melihat teman-teman A sampai D saya itu lagi pada seriussss.. aslina.
Teman A asyik dengan... apa... gak tau.. rada misterius memang Teman A ini. Tapi dia satu-satunya yang saya pikir gak berubah. Ya mungkin saya aja gak tau, karena cuma kenal luarnya aja. Chatting hanya untuk haha hihi dan bertukar quote of the day. Seringkali saya gak tau masalah dia apa dan dia juga gak tau masalah saya apa. Cuma kata Teman A, sekarang Teman A tsb sungkan ngomen status saya karena gak kenal sama para komentator lainnya. Wkwk. Iya sih, biasanya tik tok kayak pingpong kalo udah komen2an sama yang laen di wall saya :)
Teman B, lagi hamil. Sejak hamil dia agak-agak berubah. Pengaruh hormon kali ye. Rada-rada berkurang gitu gejenya, tapi chatting jalan terus, hampir tiap hari. Sebenernya dia masih geje, tapi gak separah dulu. Hahaha. Congratz yaa :)
Biasanya kami geje bareng di FB, tapi kali ini saya tidak punya teman geje lagi. Mun geje sorangan, ngerakeun :))
Kalo lagi hamil, ya gitu kayaknya, chattingan dikit, mual. Ngobrol kesana dikit, pas kemarinya mulai gak enak badan. Komen status? Hampir gak pernah cuuuyyy... Hadeuuuh.... mangga dikulemkeun we atuh. Biar saya hangout saja sama yang laen :D
Teman C, sejak punya bayi memang rada riweuh. Maklumlah...sangat saya maklum.
Tiap diajak chat, ngegantung terus, jarang selesai. Jadi sering di twitter dia sekarang, dan dihubung ke FB. Dan kalo ngetwit. Super bijak. Memang pada dasarnya dia orang bijak, makin diam, makin terasa bijaknya.
Ngomen status saya? Hampir gak pernah juga. Ya gapapa juga.
Tapi kadang saya butuh sarannya dalam hal-hal kecil lah.. YM dia udah hampir seminggu ini mati. Kalo nyengajain nelpon/sms, asa garing. Gak penting kok.
Hmmm...bisa jadi karena dia mempraktekkan tulisan di blognya, yaitu ingin fokus, tidak lagi multitasking :D Dan tulisan terbarunya adalah tentang me time, your time, dan our time yang membahas tentang waktu untuk diri sendiri dan keluarga. Saya? Butuh tambahan waktu, yaitu friends time. Makhluk macam saya gak bisa cuma berkutat di diri sendiri dan keluarga. Tiap hari butuh teman berbagi.
Teman D, sejak masuk kuliah S2, kerasa pisan berubahnya. Mungkin karena kuliah sambil kerja, jadi sibuk berat. Gak kepikir lagi buat haha hihi apalagi ngomen status saya. Kalo ditanya juga jawabannya gak jauh dari “Yes” paling banter diiringi jawaban singkat nan serius. Sekalinya nanggepin status, seriusnya luar biasa. Pas ketemu juga kerasa banget gak serunya (tampak stress? Enggak juga. Tapi dia bukan Teman D yang selama ini saya kenal, yang murah senyum. Mati rasa? Semoga tidak). Mmm..barangkali juga karena punya teman menggalau baru dan teman-teman ngerandom yang asik, sehingga dia tidak lagi menjadikan saya tempat berbagi ya? Hahaha.. biarlah. Belom ada yang cocok buat diceritain ke saya barangkali. Saya kan serba gak ngerti tea. Ceritanya tau diri saja sayanya. Inget umur inget anak. Mudah-mudahan RT dia dari @RadioGalauFM bukan buat saya .. hehe... gini katanya: RT @RadioGalauFM: Udah dapet yang baru, gak usah ngurusin yang lama lagi lah. Apaan banget sih.
Huahaha.. kenapa juga gue yang ngerasa kesindir. Apaan banget sih.
Menghadapi teman-teman dari A sampai D ini kadang saya bingung.. kudu kumaha. Padahal sebenernya baik-baik aja, gak harus kumaha-kumaha sayanya. Toh setiap saya tanya kabar, mereka nyaut, dan kabar mereka baik-baik saja. Dan (mudah-mudahan) tidak ada masalah dengan saya. Meureun. Sugan. Gak tau deh. Gak ada masalah dengan saya kan ya?
Cumaaaaa saya ngerasa kepo aja. Dikit-dikit nanya. Jawabannya juga jadinya emang dikit-dikit. 100% kepo dah gue. Menyebalkan sekali bukan.
Terus sekarang saya lagi deket sama siapa? Ya sama Teman A sampai D ituh.. siapa lagi...
Temen main, temen chat, temen komen2an, temen kerja, temen ngacaprak sih banyakkk, tenang aja. Temen tidur juga kan ada. Saya tidak pernah merasa kesepian. Ini mah cuma lagi inget Teman A-D aja, lagi melo melo... Karena hujan kali ya dan akhir tahun, jadi asa pengen kaleidoskop gitu.
Palingan saya jadi ragu aja untuk sekedar cerita hal-hal kecil ke Si Teman A-D. Takut jawabannya gak sepanjang harapan saya, atau bahkan tidak ditanggapi sama sekali...atau takut membuat mereka kebingungan harus komen apa karena gak ada hal yang dirasa penting untuk diungkapkan terlintas di pikiran mereka. Saking gak pentingnya cerita saya...--- Melag itu teh, yu nau...Hahahaha...
Jadi memang mestinya gak berharap apa-apa, biar gak kecewa.
Ya barangkali cinta saya pada teman-teman yang udah saya anggap sahabat, sedang diuji. #eeeaaa.. Sayanya harus ikhlas, gak nuntut balas. Cuma.. mm.. dengan tulisan ini saya pengen kalian tau, kalo saya sering ingat kalian, memantau kalian, dan selalu ingin tau kabar kalian.
Kalian yang --(dulu)--- bisa meramaikan dunia maya saya :)
Ayo mana senyumnyaaaaa????? Fiuuuhhh.. serius semua tu tampangnya. Cape deh.
HP saya online 24 jam, nomor masih yang lama. Facebook, twitter dan email masih saya cek setiap hari. Jejaring sosial lain saya ikut, tapi bingung mo ngapain di sana jadi gak dibuka2.
Silahkan kontak saya lewat apapun, asal jangan via BB, karena sampai saat ini memang belom punya---- bila kalian butuh bantuan saya, kapan saja, insyaa Allah saya akan berusaha bantu.
Semoga kesibukan kalian barokah, dan segalanya berubah ke arah yang lebih baik. Aamiiin.... *cross my finger*
***
November 2011. Beda dengan November 2010. Beda dengan November 2009, dan beda dengan November tahun-tahun sebelumnya. Berbeda berarti hidup. Perubahan adalah keniscayaan.
Tapi ada yang sangat aneh di November kali ini (istilah 'sangat' hanya untuk melebaykan)
Saya merasa berubah, tapi gak ada satupun yang bilang saya berubah. Barangkali juga gak ada yang memperhatikan? Atau memang sebenernya bukan saya yang berubah?
Setelah ngobrol bentar dengan Teman A, memang rasanya bukan saya yang berubah sih, tapi diawali dari lingkungan saya yang lain dari biasanya. Teman-teman saya yang berganti kesibukan, yang ternyata pengaruhnya lumayan buat saya.
Gak banyak yang beda, cuma jadi agak agak males pasang status FB. Kenapa? Karena saya biasanya kalo pasang status, ngarep komen dari Teman A, Teman B, Teman C, atau Teman D...Ehhh, taunya mereka pada diemmm semua.. hahaha.. geus teu usum tea barangkali ya komen-komenan.
Yang komen jadinya siapa? Gak tauuu.... :))...kadang saya gak kenal siapa itu yang komen. Karena sejak buku saya terbit, saya sering confirm-confirm saja siapapun yang ngeadd saya untuk jadi friendnya di FB, asal namanya gak alay dan profpicnya sopan.
Pernah ada yang komen, cowo, dan saya gak kenal, tapi dia kok ya rada sok akrab gitu komennya. Heu. Saya bingung. Biasanya kalo saya ngerasa gak enak sama komen orang, saya kirim message ke dia untuk meluruskan. Tapi kalo gak kenal? Euuu.. masa iya saya bilang “Komennya jangan kecentilan gitu dong, saya kan perempuan, udah nikah, lebih tua dari kamu, kamu cowo, dan saya gak kenal kamu … “
Terusss? Hahah .. daripada bingung, saya block aja itu orang... maap. Rada mengganggu soalnya.
Sementara orang-orang yang saya harapkan komennya,.. diam seribu bahasa :)
Saya melihat teman-teman A sampai D saya itu lagi pada seriussss.. aslina.
Teman A asyik dengan... apa... gak tau.. rada misterius memang Teman A ini. Tapi dia satu-satunya yang saya pikir gak berubah. Ya mungkin saya aja gak tau, karena cuma kenal luarnya aja. Chatting hanya untuk haha hihi dan bertukar quote of the day. Seringkali saya gak tau masalah dia apa dan dia juga gak tau masalah saya apa. Cuma kata Teman A, sekarang Teman A tsb sungkan ngomen status saya karena gak kenal sama para komentator lainnya. Wkwk. Iya sih, biasanya tik tok kayak pingpong kalo udah komen2an sama yang laen di wall saya :)
Teman B, lagi hamil. Sejak hamil dia agak-agak berubah. Pengaruh hormon kali ye. Rada-rada berkurang gitu gejenya, tapi chatting jalan terus, hampir tiap hari. Sebenernya dia masih geje, tapi gak separah dulu. Hahaha. Congratz yaa :)
Biasanya kami geje bareng di FB, tapi kali ini saya tidak punya teman geje lagi. Mun geje sorangan, ngerakeun :))
Kalo lagi hamil, ya gitu kayaknya, chattingan dikit, mual. Ngobrol kesana dikit, pas kemarinya mulai gak enak badan. Komen status? Hampir gak pernah cuuuyyy... Hadeuuuh.... mangga dikulemkeun we atuh. Biar saya hangout saja sama yang laen :D
Teman C, sejak punya bayi memang rada riweuh. Maklumlah...sangat saya maklum.
Tiap diajak chat, ngegantung terus, jarang selesai. Jadi sering di twitter dia sekarang, dan dihubung ke FB. Dan kalo ngetwit. Super bijak. Memang pada dasarnya dia orang bijak, makin diam, makin terasa bijaknya.
Ngomen status saya? Hampir gak pernah juga. Ya gapapa juga.
Tapi kadang saya butuh sarannya dalam hal-hal kecil lah.. YM dia udah hampir seminggu ini mati. Kalo nyengajain nelpon/sms, asa garing. Gak penting kok.
Hmmm...bisa jadi karena dia mempraktekkan tulisan di blognya, yaitu ingin fokus, tidak lagi multitasking :D Dan tulisan terbarunya adalah tentang me time, your time, dan our time yang membahas tentang waktu untuk diri sendiri dan keluarga. Saya? Butuh tambahan waktu, yaitu friends time. Makhluk macam saya gak bisa cuma berkutat di diri sendiri dan keluarga. Tiap hari butuh teman berbagi.
Teman D, sejak masuk kuliah S2, kerasa pisan berubahnya. Mungkin karena kuliah sambil kerja, jadi sibuk berat. Gak kepikir lagi buat haha hihi apalagi ngomen status saya. Kalo ditanya juga jawabannya gak jauh dari “Yes” paling banter diiringi jawaban singkat nan serius. Sekalinya nanggepin status, seriusnya luar biasa. Pas ketemu juga kerasa banget gak serunya (tampak stress? Enggak juga. Tapi dia bukan Teman D yang selama ini saya kenal, yang murah senyum. Mati rasa? Semoga tidak). Mmm..barangkali juga karena punya teman menggalau baru dan teman-teman ngerandom yang asik, sehingga dia tidak lagi menjadikan saya tempat berbagi ya? Hahaha.. biarlah. Belom ada yang cocok buat diceritain ke saya barangkali. Saya kan serba gak ngerti tea. Ceritanya tau diri saja sayanya. Inget umur inget anak. Mudah-mudahan RT dia dari @RadioGalauFM bukan buat saya .. hehe... gini katanya: RT @RadioGalauFM: Udah dapet yang baru, gak usah ngurusin yang lama lagi lah. Apaan banget sih.
Huahaha.. kenapa juga gue yang ngerasa kesindir. Apaan banget sih.
Menghadapi teman-teman dari A sampai D ini kadang saya bingung.. kudu kumaha. Padahal sebenernya baik-baik aja, gak harus kumaha-kumaha sayanya. Toh setiap saya tanya kabar, mereka nyaut, dan kabar mereka baik-baik saja. Dan (mudah-mudahan) tidak ada masalah dengan saya. Meureun. Sugan. Gak tau deh. Gak ada masalah dengan saya kan ya?
Cumaaaaa saya ngerasa kepo aja. Dikit-dikit nanya. Jawabannya juga jadinya emang dikit-dikit. 100% kepo dah gue. Menyebalkan sekali bukan.
Terus sekarang saya lagi deket sama siapa? Ya sama Teman A sampai D ituh.. siapa lagi...
Temen main, temen chat, temen komen2an, temen kerja, temen ngacaprak sih banyakkk, tenang aja. Temen tidur juga kan ada. Saya tidak pernah merasa kesepian. Ini mah cuma lagi inget Teman A-D aja, lagi melo melo... Karena hujan kali ya dan akhir tahun, jadi asa pengen kaleidoskop gitu.
Palingan saya jadi ragu aja untuk sekedar cerita hal-hal kecil ke Si Teman A-D. Takut jawabannya gak sepanjang harapan saya, atau bahkan tidak ditanggapi sama sekali...atau takut membuat mereka kebingungan harus komen apa karena gak ada hal yang dirasa penting untuk diungkapkan terlintas di pikiran mereka. Saking gak pentingnya cerita saya...--- Melag itu teh, yu nau...Hahahaha...
Jadi memang mestinya gak berharap apa-apa, biar gak kecewa.
Ya barangkali cinta saya pada teman-teman yang udah saya anggap sahabat, sedang diuji. #eeeaaa.. Sayanya harus ikhlas, gak nuntut balas. Cuma.. mm.. dengan tulisan ini saya pengen kalian tau, kalo saya sering ingat kalian, memantau kalian, dan selalu ingin tau kabar kalian.
Kalian yang --(dulu)--- bisa meramaikan dunia maya saya :)
Ayo mana senyumnyaaaaa????? Fiuuuhhh.. serius semua tu tampangnya. Cape deh.
HP saya online 24 jam, nomor masih yang lama. Facebook, twitter dan email masih saya cek setiap hari. Jejaring sosial lain saya ikut, tapi bingung mo ngapain di sana jadi gak dibuka2.
Silahkan kontak saya lewat apapun, asal jangan via BB, karena sampai saat ini memang belom punya---- bila kalian butuh bantuan saya, kapan saja, insyaa Allah saya akan berusaha bantu.
Semoga kesibukan kalian barokah, dan segalanya berubah ke arah yang lebih baik. Aamiiin.... *cross my finger*
***
Kamis, 27 Oktober 2011
Renovasi Rumah (4)
Tulisan sebelumnya: Renovasi Rumah satu(1), dua(2), dan tiga(3)
***
Yang namanya pindahan rumah, ternyata luarr biasa. Saya jadi tau barang apa saja yang tersimpan di rumah saya selama 8 tahun belakangan ini (sejak 2003). Wuihhh.. SubhanaLloh, ternyata banyaaak sekali harta saya. Baju, tas, sepatu, mainan, dan barang-barang kecil lainnya, yang barangkali selama ini hanya 40% saja yang terpakai.
Biasalah kalo punya barang maunya disimpenin. Dipake engga, dibuang sayang.
Beberapa barang akhirnya saya relakan untuk dibuang. Lebih tepatnya diberikan pada yang perlu. Siapa yang perlu? Mestinya ada. Karena apa saja yang saya taruh di depan rumah, hanya bertahan beberapa jam, setelah itu menghilang. Pasti diambil sama pemulung yang lewat. Ya seperti toples-toples plastik, atau wadah bekal makan/minum anak-anak yang sudah kotor berdebu, juga beberapa piring/gelas melamin yang sudah rusak. Pakaian-pakaian yang sudah bertahun-tahun terbukti tidak pernah dipakai dan terdapat semacam noda 'usang' gitu, saya pisahkan dan saya serahkan ke mamah. Mamah punya banyak kenalan orang kelas ekonomi tingkat bawah. Masih layak kok dipakai. Mudah -mudahan bermanfaat.
Setelah disortir.. masih banyak jugaa barang saya yang saya masih membingungkan. Buang jangan buang jangan.
Akhirnya hampir semua barang diangkut ke rumah mamah, bikin rumah mamah padat oleh harta kekayaan yang saya punya, kecuali lemari, kursi dan tempat tidur.
Dan buku.. berkilo-kilo buku punya suami saya itu saya simpan di kamarnya, di rumah orang tuanya. Hehe. Kalau milik suami, saya gak berani buang/ sumbangkan.
Dan hari ini, adalah hari ke 4 saya tinggal di sini, di rumah orang tua saya, dengan penuh kepadatan barang. Maklumlah rumah orang tua saya tidak terlalu luas. Takapa. Yang penting masih ada tempat bagi kami untuk tidur dengan nyaman.
Renovasi rumah sudah dimulai karena rancangan dari Bu Arsitek sudah jadi. Uang pinjaman sudah cair, dan para pekerja sudah siap.
Oya itu yang namanya pinjam uang dari bank, prosedurnya luarrr biasa. Saya dan suami merasa 'akad nikah' lagi di depan penghulu, namun kali ini akad pinjaman di depan notaris dan petugas bank.
Begitu banyak yang harus kami tandatangan, karena pinjaman suami untuk renovasi ini harus diketahui oleh istri. Dua puluh kali tandatangan ada lah, dan entah berapa kali juga kami harus mengeluarkan KTP selama proses ini.
Dan yang lucu, waktu suami ngeluarin buku nikah, si petugas banknya sampe harus mengamati kami satu-satu, meyakinkan bahwa foto yang tertera pada buku nikah itu adalah wajah-wajah asli Tn. Wiska dan Ny. Irma. Hahaha.. Bae ah yang penting wajah-wajah innocent kami ini bisa mencairkan sekian juta rupiah =)
BismiLlah.. 10 tahun ke depan, kami akan berkutat dengan pembayaran utang setiap bulannya. Mohon do'a semoga kami bisa melunasinya sebelum akhir hayat. Insyaa Allah. Amiin.
***
***
Yang namanya pindahan rumah, ternyata luarr biasa. Saya jadi tau barang apa saja yang tersimpan di rumah saya selama 8 tahun belakangan ini (sejak 2003). Wuihhh.. SubhanaLloh, ternyata banyaaak sekali harta saya. Baju, tas, sepatu, mainan, dan barang-barang kecil lainnya, yang barangkali selama ini hanya 40% saja yang terpakai.
Biasalah kalo punya barang maunya disimpenin. Dipake engga, dibuang sayang.
Beberapa barang akhirnya saya relakan untuk dibuang. Lebih tepatnya diberikan pada yang perlu. Siapa yang perlu? Mestinya ada. Karena apa saja yang saya taruh di depan rumah, hanya bertahan beberapa jam, setelah itu menghilang. Pasti diambil sama pemulung yang lewat. Ya seperti toples-toples plastik, atau wadah bekal makan/minum anak-anak yang sudah kotor berdebu, juga beberapa piring/gelas melamin yang sudah rusak. Pakaian-pakaian yang sudah bertahun-tahun terbukti tidak pernah dipakai dan terdapat semacam noda 'usang' gitu, saya pisahkan dan saya serahkan ke mamah. Mamah punya banyak kenalan orang kelas ekonomi tingkat bawah. Masih layak kok dipakai. Mudah -mudahan bermanfaat.
Setelah disortir.. masih banyak jugaa barang saya yang saya masih membingungkan. Buang jangan buang jangan.
Akhirnya hampir semua barang diangkut ke rumah mamah, bikin rumah mamah padat oleh harta kekayaan yang saya punya, kecuali lemari, kursi dan tempat tidur.
Dan buku.. berkilo-kilo buku punya suami saya itu saya simpan di kamarnya, di rumah orang tuanya. Hehe. Kalau milik suami, saya gak berani buang/ sumbangkan.
Dan hari ini, adalah hari ke 4 saya tinggal di sini, di rumah orang tua saya, dengan penuh kepadatan barang. Maklumlah rumah orang tua saya tidak terlalu luas. Takapa. Yang penting masih ada tempat bagi kami untuk tidur dengan nyaman.
Renovasi rumah sudah dimulai karena rancangan dari Bu Arsitek sudah jadi. Uang pinjaman sudah cair, dan para pekerja sudah siap.
Oya itu yang namanya pinjam uang dari bank, prosedurnya luarrr biasa. Saya dan suami merasa 'akad nikah' lagi di depan penghulu, namun kali ini akad pinjaman di depan notaris dan petugas bank.
Begitu banyak yang harus kami tandatangan, karena pinjaman suami untuk renovasi ini harus diketahui oleh istri. Dua puluh kali tandatangan ada lah, dan entah berapa kali juga kami harus mengeluarkan KTP selama proses ini.
Dan yang lucu, waktu suami ngeluarin buku nikah, si petugas banknya sampe harus mengamati kami satu-satu, meyakinkan bahwa foto yang tertera pada buku nikah itu adalah wajah-wajah asli Tn. Wiska dan Ny. Irma. Hahaha.. Bae ah yang penting wajah-wajah innocent kami ini bisa mencairkan sekian juta rupiah =)
BismiLlah.. 10 tahun ke depan, kami akan berkutat dengan pembayaran utang setiap bulannya. Mohon do'a semoga kami bisa melunasinya sebelum akhir hayat. Insyaa Allah. Amiin.
***
Selasa, 18 Oktober 2011
Renovasi Rumah (3)
Sambungan dari : Renovasi Rumah (1) dan Renovasi Rumah (2)
***
Jual mobil VW safari itu susah-susah gampang. Taun berapa itu ya. Keluaran Jerman 1974? Eh.. gak tau ah. Pokonya itu mobil tua. Bodinya udah gak enak dipandang mata, tapi mesin masih mulus. Saya yang gak ngerti urusan mobil apalagi mobil kuno, sempet pesimis, apa iya ada yang mau? Kalo dijual berapa ya? Dapet 5 juta juga lumayan kayaknya. Hehe.
Suamiku pasang tarif XX juta.. Hmm.. lumayan juga ternyata ya? Emang ada yang mau segitu -__-
Nawarin ke orang pertama, temen suami, tadinya mau, tapi batal karena uangnya mau dipake keperluan lain katanya.
Nawarin ke orang kedua, temen bapak, setelah lihat-lihat jadi gak minat.
Nawarin ke orang ketiga, tetangga, gak ada respon.
Nawarin ke orang keempat, kenalannya mertua.. ehhh.. mauuu katanya, walau hanya dapet 75% dari penawaran semula. Tak apalah.
Heee.. dipikir-pikir terharu juga lihat mobil itu dibawa pergi...
Gitu deh ya, kalo ada didiemin, kalo diambil orang langsung hati berdesir.. #eeaaa
Lumayan lah hasil jual mobil buat nambah-nambah ongkos pintu dan jendela rumah. Xixi.
Mobilku tinggallah si Mbahnya Carry, si Putih, si.. eta lah. Yang penting masih jalaaan. Kalem weh. Mun udah butuh mah engke jadi CRV lah, insyaa Allah.
Bagi Allah gak ada yang gak mungkin.
****
Sementara Bu Arsitek bekerja, saya beberes rumah sambil bingung.. ini kami ngungsi ke mana yaa selama renovasi.
Pengennya gak ke mamah, gak ke mertua juga...
Sempet nyari tempat penampungan,
Ke temen pertama yang rumahnya gak jauh dari rumah sini, denger-denger mau ke Australia bulan depan. Saya telpon dia, rumahnya dikontrakin ke saya deh... Dia bilang udah mau ditempatin adiknya.
Ke temen kedua yang rumahnya juga gak jauh yang punya beberapa ruko, dia bilang .. ada tempat di sini, tapi gudang.
Ke temen ketiga, nawarinnya gudang juga. Gudang yang bersih katanya. Hoho. Engga ah.
Ya sudah, diputuskan ke rumah mamah sadja... Ortu saya bersedia menampung kami. Huhu.. orang tua mana yang membiarkan anaknya tak punya tempat tinggal. Apalagi ini cuma sementara.
Oya sempet survei juga ke rumah ortunya Ipin yang baru renovasi setahun lalu. Dalam rangka studi banding juga. Lumayan banyak masukan. Tapi ngobrol sama ibunya, kok bisa ya mereka gak ngungsi? Mungkin karena rumahnya lebih gede, jadi ada tempat bernaung sementara area lain sedang dibangun.. hmmm.. riweuh kayaknya kalo saya gak ngungsi mah. Geus mah saya pan punya anak kecil..
Ya suud... beberes pun.. dimulai. Segala macem diangkutin ke rumah mamah.
Dooooh.. repot juga ya ternyata ngungsi teh...
(BERSAMBUNG)
***
Jual mobil VW safari itu susah-susah gampang. Taun berapa itu ya. Keluaran Jerman 1974? Eh.. gak tau ah. Pokonya itu mobil tua. Bodinya udah gak enak dipandang mata, tapi mesin masih mulus. Saya yang gak ngerti urusan mobil apalagi mobil kuno, sempet pesimis, apa iya ada yang mau? Kalo dijual berapa ya? Dapet 5 juta juga lumayan kayaknya. Hehe.
Suamiku pasang tarif XX juta.. Hmm.. lumayan juga ternyata ya? Emang ada yang mau segitu -__-
Nawarin ke orang pertama, temen suami, tadinya mau, tapi batal karena uangnya mau dipake keperluan lain katanya.
Nawarin ke orang kedua, temen bapak, setelah lihat-lihat jadi gak minat.
Nawarin ke orang ketiga, tetangga, gak ada respon.
Nawarin ke orang keempat, kenalannya mertua.. ehhh.. mauuu katanya, walau hanya dapet 75% dari penawaran semula. Tak apalah.
Heee.. dipikir-pikir terharu juga lihat mobil itu dibawa pergi...
Gitu deh ya, kalo ada didiemin, kalo diambil orang langsung hati berdesir.. #eeaaa
Lumayan lah hasil jual mobil buat nambah-nambah ongkos pintu dan jendela rumah. Xixi.
Mobilku tinggallah si Mbahnya Carry, si Putih, si.. eta lah. Yang penting masih jalaaan. Kalem weh. Mun udah butuh mah engke jadi CRV lah, insyaa Allah.
Bagi Allah gak ada yang gak mungkin.
****
Sementara Bu Arsitek bekerja, saya beberes rumah sambil bingung.. ini kami ngungsi ke mana yaa selama renovasi.
Pengennya gak ke mamah, gak ke mertua juga...
Sempet nyari tempat penampungan,
Ke temen pertama yang rumahnya gak jauh dari rumah sini, denger-denger mau ke Australia bulan depan. Saya telpon dia, rumahnya dikontrakin ke saya deh... Dia bilang udah mau ditempatin adiknya.
Ke temen kedua yang rumahnya juga gak jauh yang punya beberapa ruko, dia bilang .. ada tempat di sini, tapi gudang.
Ke temen ketiga, nawarinnya gudang juga. Gudang yang bersih katanya. Hoho. Engga ah.
Ya sudah, diputuskan ke rumah mamah sadja... Ortu saya bersedia menampung kami. Huhu.. orang tua mana yang membiarkan anaknya tak punya tempat tinggal. Apalagi ini cuma sementara.
Oya sempet survei juga ke rumah ortunya Ipin yang baru renovasi setahun lalu. Dalam rangka studi banding juga. Lumayan banyak masukan. Tapi ngobrol sama ibunya, kok bisa ya mereka gak ngungsi? Mungkin karena rumahnya lebih gede, jadi ada tempat bernaung sementara area lain sedang dibangun.. hmmm.. riweuh kayaknya kalo saya gak ngungsi mah. Geus mah saya pan punya anak kecil..
Ya suud... beberes pun.. dimulai. Segala macem diangkutin ke rumah mamah.
Dooooh.. repot juga ya ternyata ngungsi teh...
(BERSAMBUNG)
Sabtu, 15 Oktober 2011
Renovasi Rumah (2)
***
Tulisan sebelumnya: Renovasi Rumah (1)
Setelah lebaran, saya, suami dan anak-anak berkunjung ke rumah sepupu. Putrinya bibi saya, namanya Teh Novi. Dia baru bangun rumah. Ceritanya studi banding gitu. Pengen tau aja rumahnya kayak gimana, dan berapa biayanya, dan lain-lain.
Hmmm... bagus juga rumahnya... dia renovasi juga. Bertingkat. Katanya habis xxx jutaan. Wew...
Kebetulan di sana ketemu juga sama kakak iparnya Teh Novi, namanya Kang Wenda. Dia yang ngerjain rumah itu, karena memang kerjaannya ya itu.. jadi mandor borongan :) Apa sih istilahnya. Pokonya masalah bangun properti, dia ahlinya.
Ngobrollah suamiku dengan suaminya Teh Novi, Kang Budi, dan Kang Wenda.
Pulang dari sana, suamiku jadi ngitung-ngitung, apa dengan biaya xxx juta (lebih kecil dari biaya renov rumahnya Teh Novi) cukup untuk bikin kamar dua di atas, kamar mandi dan ruang keluarga tambahan?
Mas Wiska jadinya minta saya ngontak temen saya yang arsitek, dan ngontak juga temen saya yang jadi kepala cabang sebuah bank syariah.
Kepentingannya tentu saja, gambar rancangan rumah sesuai biaya dan kemungkinan pinjam uang ke bank.
Kontak mengontak pun berjalan dengan baik.
Teh Irma (nama arsiteknya) adalah teman saya waktu SMA. Kakak kelas, tepatnya. Dia dulu jadi pelanggan apotek saya. Rumahnya memang dekat dari apotek, jadi silaturahim antara saya dan dia cukup terjaga. Dia bersedia datang ke rumah saya untuk sekedar lontar ide.
Andri (nama kepala cabang bank syariahnya) adalah teman saya waktu SMA juga. Beda kelas tapinya. Dulu deketnya karena sama-sama suka ke Salman waktu kelas 1. Nyambungnya lagi tentu karena facebook.
Dia langsung ngontak stafnya agar melayani saya. Huhuy dah. Dalam hitungan menit saya sudah ditelpon oleh seorang mbak-mbak stafnya Andri.
Segala sesuatu berjalan paralel...
Teh Irma dipastikan bisa menangani rancangan rumah yang kami inginkan, dengan perkiraan biaya xxx juta itu.
Dan bank syariah memberi penawaran yang bagus juga. Emm.. setidaknya cicilan pembayarannya cukup terjangkau selama 10 tahun..walau... heuuu...
Suami meminta saya mulai berhemat. Uang belanja harus dikurangi sekian ratus ribu rupiah per bulannya agar bisa membayar cicilan tepat waktu. Hiks hiks..
Beraaat.. tapi mestinya bisa..
Suamiku nanya lagi.. Bisa engga uang belanjanya dikurangi?
Saya jawab... bisaaaa (lah), insyaa Allah...
Laa haula sajalah.. Niatnya kan baik. Pun pinjamnya ke bank syariah yang semoga, halal.
BismiLlaah (lagi)..
Lanjut kontak Kang Wenda buat penjajagan, apa kira-kira dia bisa menangani renovasi rumah saya. Katanya bisa.
Terus .. tampaknya butuh dana tambahan nih..
Opsi berikutnya memang jatuh pada menjual mobil VW...
Baru tau ya saya dan suami punya mobil VW? Xixixi...
iya itu dia mobil kenangan.
Mobil yang dipake suami saya dulu buat datang ke rumah, ketemu bapak saya untuk pertama kali, yang datengnya bukan buat sekedar pdkt, tapi bener-bener to the point menyatakan maksud ingin melamar saya :)
Mobil yang mengantarkan saya kuliah saat masih pengantin baru.
Mobil yang membawa saya, Arif, dan Sofi, hingga tahun ke-7 pernikahan kami ...
Dan lebih-lebih lagi untuk suami saya, mobil itu adalah kenangan masa kecilnya bersama kedua orang tuanya :)
(BERSAMBUNG)
Tulisan sebelumnya: Renovasi Rumah (1)
Setelah lebaran, saya, suami dan anak-anak berkunjung ke rumah sepupu. Putrinya bibi saya, namanya Teh Novi. Dia baru bangun rumah. Ceritanya studi banding gitu. Pengen tau aja rumahnya kayak gimana, dan berapa biayanya, dan lain-lain.
Hmmm... bagus juga rumahnya... dia renovasi juga. Bertingkat. Katanya habis xxx jutaan. Wew...
Kebetulan di sana ketemu juga sama kakak iparnya Teh Novi, namanya Kang Wenda. Dia yang ngerjain rumah itu, karena memang kerjaannya ya itu.. jadi mandor borongan :) Apa sih istilahnya. Pokonya masalah bangun properti, dia ahlinya.
Ngobrollah suamiku dengan suaminya Teh Novi, Kang Budi, dan Kang Wenda.
Pulang dari sana, suamiku jadi ngitung-ngitung, apa dengan biaya xxx juta (lebih kecil dari biaya renov rumahnya Teh Novi) cukup untuk bikin kamar dua di atas, kamar mandi dan ruang keluarga tambahan?
Mas Wiska jadinya minta saya ngontak temen saya yang arsitek, dan ngontak juga temen saya yang jadi kepala cabang sebuah bank syariah.
Kepentingannya tentu saja, gambar rancangan rumah sesuai biaya dan kemungkinan pinjam uang ke bank.
Kontak mengontak pun berjalan dengan baik.
Teh Irma (nama arsiteknya) adalah teman saya waktu SMA. Kakak kelas, tepatnya. Dia dulu jadi pelanggan apotek saya. Rumahnya memang dekat dari apotek, jadi silaturahim antara saya dan dia cukup terjaga. Dia bersedia datang ke rumah saya untuk sekedar lontar ide.
Andri (nama kepala cabang bank syariahnya) adalah teman saya waktu SMA juga. Beda kelas tapinya. Dulu deketnya karena sama-sama suka ke Salman waktu kelas 1. Nyambungnya lagi tentu karena facebook.
Dia langsung ngontak stafnya agar melayani saya. Huhuy dah. Dalam hitungan menit saya sudah ditelpon oleh seorang mbak-mbak stafnya Andri.
Segala sesuatu berjalan paralel...
Teh Irma dipastikan bisa menangani rancangan rumah yang kami inginkan, dengan perkiraan biaya xxx juta itu.
Dan bank syariah memberi penawaran yang bagus juga. Emm.. setidaknya cicilan pembayarannya cukup terjangkau selama 10 tahun..walau... heuuu...
Suami meminta saya mulai berhemat. Uang belanja harus dikurangi sekian ratus ribu rupiah per bulannya agar bisa membayar cicilan tepat waktu. Hiks hiks..
Beraaat.. tapi mestinya bisa..
Suamiku nanya lagi.. Bisa engga uang belanjanya dikurangi?
Saya jawab... bisaaaa (lah), insyaa Allah...
Laa haula sajalah.. Niatnya kan baik. Pun pinjamnya ke bank syariah yang semoga, halal.
BismiLlaah (lagi)..
Lanjut kontak Kang Wenda buat penjajagan, apa kira-kira dia bisa menangani renovasi rumah saya. Katanya bisa.
Terus .. tampaknya butuh dana tambahan nih..
Opsi berikutnya memang jatuh pada menjual mobil VW...
Baru tau ya saya dan suami punya mobil VW? Xixixi...
iya itu dia mobil kenangan.
Mobil yang dipake suami saya dulu buat datang ke rumah, ketemu bapak saya untuk pertama kali, yang datengnya bukan buat sekedar pdkt, tapi bener-bener to the point menyatakan maksud ingin melamar saya :)
Mobil yang mengantarkan saya kuliah saat masih pengantin baru.
Mobil yang membawa saya, Arif, dan Sofi, hingga tahun ke-7 pernikahan kami ...
Dan lebih-lebih lagi untuk suami saya, mobil itu adalah kenangan masa kecilnya bersama kedua orang tuanya :)
(BERSAMBUNG)
Rabu, 12 Oktober 2011
Renovasi Rumah (1)
***
Gak pernah terbayang uang dari mana itu saya dan suami bisa renovasi rumah. Duit abis melulu untuk keperluan sehari-hari dan anak sekolah. Boro-boro nabung. Tapi yang penting memang niat, dan meluruskan niat tersebut.
Niat utamanya satu, yaitu nambah kamar untuk anak, mengingat Arif/Sofi udah pada besar, dan sudah seharusnya kami memberi kamar yang berbeda untuk mereka.
Tapi kapan?
***
Namun jalan itu akan selalu Allah bentangkan pada saat kita memang benar-benar perlu dan benar-benar berniat.
Suatu hari sebelum bulan puasa, ibu mertua ngajak saya dan suami bicara. Katanya ingin mengajak kami umrah. Bertiga saja. Saya, suami, dan ibu.
"Tapi ibu denger katanya mau bangun kamar? Terserah mau dipake umrah atau bikin kamar uangnya?"
Hmmm.. gimana ya...
Kami pun minta waktu untuk berpikir.
Betapa inginnya saya menginjak tanah suci Makkah..
Mana saya belom pernah naik pesawat juga..
Terus kan ntar berdo'alah di sana sewaktu umrah..
Minta rumah bagus, mobil bagus..hehe..kan Insyaa Allah diijabah ntar..
Tapi kok ya rasanya aneh ya, saya terbang ke Makkah, sementara anak-anak memang sudah butuh kamar sendiri? Meninggalkan berbagai kebutuhan yang memang sudah penting untuk diadakan?
Saya lebih berat ke bikin kamar. Saya bilang ke suami, dan setelah suami sepakat, saya bilang sama Ibu, uangnya mau saya pake bikin kamar aja..
Giliran ibu yang mikir...
Rupanya Ibu ingin berangkat (lagi) ke Tanah Suci, tapi kali ini ingin ngajak putranya. Adik ipar saya udah jadi haji beberapa tahun lalu bersama suaminya. Ibu ingin melihat kedua anaknya bisa menginjak Tanah Suci Makkah.
Ibu jadinya bilang lagi "Ibu ajak Wiska aja umrah gak apa-apa ya, gak sama Irma? Jatah untuk Irma ibu jadiin buat bikin kamar"...
Ibu bilang, uang tunai yang ibu punya buat 'jatah' saya itu adalah sekian juta rupiah.. hmmm... memang cukup buat bikin satu kamar yang bagus.
--- baiklah Ibu, terimakasih banyakkk... banyak sekali----
Setelah itu suamiku jadi mikir jauh...
Ya bisa sih bikin kamar aja mah, tapi apa pantas naro kamar gitu aja di belakang?
Hmmm...
Keliatan deh kalo suamiku lagi mikir itu.. bawaannya bolak balik jalan jalan dari pintu dapur ke pintu ruang tamu, masuk kamar .. ke dapur lagi.. balik lagi.. Mirip setrikaan.
Maka keluarlah keputusan dari mulut suamiku..
RENOVASI TOTAL !!
BismiLlaah... hmmmm.... uangnya?
Uangnya dari mana, Mas? Sementara Ibu 'cuma' ngasih seperlima dari biaya yang kami butuhkan untuk renovasi total rumah....
(BERSAMBUNG)
Gak pernah terbayang uang dari mana itu saya dan suami bisa renovasi rumah. Duit abis melulu untuk keperluan sehari-hari dan anak sekolah. Boro-boro nabung. Tapi yang penting memang niat, dan meluruskan niat tersebut.
Niat utamanya satu, yaitu nambah kamar untuk anak, mengingat Arif/Sofi udah pada besar, dan sudah seharusnya kami memberi kamar yang berbeda untuk mereka.
Tapi kapan?
***
Namun jalan itu akan selalu Allah bentangkan pada saat kita memang benar-benar perlu dan benar-benar berniat.
Suatu hari sebelum bulan puasa, ibu mertua ngajak saya dan suami bicara. Katanya ingin mengajak kami umrah. Bertiga saja. Saya, suami, dan ibu.
"Tapi ibu denger katanya mau bangun kamar? Terserah mau dipake umrah atau bikin kamar uangnya?"
Hmmm.. gimana ya...
Kami pun minta waktu untuk berpikir.
Betapa inginnya saya menginjak tanah suci Makkah..
Mana saya belom pernah naik pesawat juga..
Terus kan ntar berdo'alah di sana sewaktu umrah..
Minta rumah bagus, mobil bagus..hehe..kan Insyaa Allah diijabah ntar..
Tapi kok ya rasanya aneh ya, saya terbang ke Makkah, sementara anak-anak memang sudah butuh kamar sendiri? Meninggalkan berbagai kebutuhan yang memang sudah penting untuk diadakan?
Saya lebih berat ke bikin kamar. Saya bilang ke suami, dan setelah suami sepakat, saya bilang sama Ibu, uangnya mau saya pake bikin kamar aja..
Giliran ibu yang mikir...
Rupanya Ibu ingin berangkat (lagi) ke Tanah Suci, tapi kali ini ingin ngajak putranya. Adik ipar saya udah jadi haji beberapa tahun lalu bersama suaminya. Ibu ingin melihat kedua anaknya bisa menginjak Tanah Suci Makkah.
Ibu jadinya bilang lagi "Ibu ajak Wiska aja umrah gak apa-apa ya, gak sama Irma? Jatah untuk Irma ibu jadiin buat bikin kamar"...
Ibu bilang, uang tunai yang ibu punya buat 'jatah' saya itu adalah sekian juta rupiah.. hmmm... memang cukup buat bikin satu kamar yang bagus.
--- baiklah Ibu, terimakasih banyakkk... banyak sekali----
Setelah itu suamiku jadi mikir jauh...
Ya bisa sih bikin kamar aja mah, tapi apa pantas naro kamar gitu aja di belakang?
Hmmm...
Keliatan deh kalo suamiku lagi mikir itu.. bawaannya bolak balik jalan jalan dari pintu dapur ke pintu ruang tamu, masuk kamar .. ke dapur lagi.. balik lagi.. Mirip setrikaan.
Maka keluarlah keputusan dari mulut suamiku..
RENOVASI TOTAL !!
BismiLlaah... hmmmm.... uangnya?
Uangnya dari mana, Mas? Sementara Ibu 'cuma' ngasih seperlima dari biaya yang kami butuhkan untuk renovasi total rumah....
(BERSAMBUNG)
Sabtu, 01 Oktober 2011
apakah saya emak2 gauuuulll??
***
Banyak yang bilang saya adalah ibu-ibu gaul. Pasalnya hanya karena saya rajin facebookan. Beuuh... alasan yang sudah tidak usum pisan.
Sementara saya merasa gak gaul, karena kalo ditanya soal lagu ama pelem, saya cengo. Hah? Lagu apaan? Pelem apa tu?
Bukannya saya sok alim gak suka pelem gak suka lagu. Saya suka nongton pelem, tapi sok gak peduli itu judulnya apa. Saya juga suka denger lagu tapi suka gak tau juga judulnya apa. Pokona nu kitu weh. Yang saya tau cuma rame dan tidak, enakeun dan tidak. Komo deui kalo harus hapal syair sama artis-artisnya mah.. ahhh teuing lah.
Mestinya mungkin juga gaul itu berarti berwawasan luas. Diajak ngobrol A sampai Z, nyambuuuung terus. Ngobrol tentang anak nyambung, ngobrol tentang ular nyambung, ngobrol tentang pecinta batik yang besok jalan di kawasan dago nyambung (nyontek ti @infobandung 54 detik yang lalu).
Ah bila gaul itu berarti berwawasan luas, itu bukan saya juga dong.
Saya mah da nyambungnya kalo udah ngomong masalah facebook dan twitter aja. Selain itu mah calangap weh.
Daripada saya ngukur-ngukur sendiri, saya ibu-ibu gaul apa bukan, lebih baik saya pasang status di FB, begini bunyinya:
Sedang nulis tentang "IBU IBU GAUL".. ayo kasih masukan, menurutmu IBU IBU GAUL itu ciri-cirinya apa sih?
Toga yang pertama komen, katanya 3B: bermobil, berbehel, dan berBB...
Bermobil, oke... aku (halah .. aku) bermobil. Tapi mobil saya mah da hijet 1000, embahnya carry kalo kata Bu Mita. Apakah itu gaul? Kayaknya galau itu mah ya? Mestinya honda jazz gitu loh, kalo ibu-ibu gaul. Kayak Bu Rena tuh.. hehehe.. *kiceup Renaaa, colek Honda Jazznyaa...
Berbehel? Ha? Apa behel memang jadi standar gaul ya? Hihihi.. #nutupmulut. Malu.
Saya pake 3 gigi geraham palsu. Apakah pake gigi palsu adalah gaul? Hahaha itu sih tanda-tanda penuaan.
BBMan? Iya saya suka isi BBM ke pom bensin. Sekian. No further comment.
Sementara Om Ipin bilang: Gak Galaw Gak Gaul.
Pembahasan: Urusan galau sih seriiiing... berarti saya gaul dooong. Hidup Galau!!
RT @RadioGalauFM Menceriana in galaure sano. Dalam Badan yang ceria, terdapat hati yang galau.
Terus kata Mas Eko, kalo ketemu temen lama, yang ditanya bukan nomer HP lagi tapi PIN BB..
Gubrag eta BB, keukeuh nya... hiks. "GUE KAGAK PUNYA BEBEEEE.. !!! beee....beee..." (adegan: teriak-teriak di tengah jurang, dengan suara memantul-mantul)
Usulan dari Dik Titi.. Ibu-ibu gaul adalah yang sering namu ke mall/ cafe? Emmm.. gak tau ya kalo pake standar yang ini, bisa jadi .. mm, saya setengah gaul. Coba saya data tempat makan yang pernah saya datengin di Bandung ya. 1. Warung Pasta 2. Baso Akung 3. Kopi Mata Angin 4. Atmosphere 5. Sushi Den 6. S28 7. Sebelahnya Sushi Den 8. Apa tu yang kambing-kambing itu di Riau 9. Kopi Lay 10. Steak..apa tu ya 11.Ada tempat steak lagi, gtau ah namanya 12. Timbel Jalan Mangga 12. Bloemen 13. Bale Gazeebo 14.Sebelahnya Bale Gazeebo 15. Ayam Goreng Suharti 16. Pizza Hut 17.KFC 18.McD 19.Bubur Ayam Mang Oyo 20. Bubur Ayam Pak Imon 21. Ampera 22. Makan-makan 23.Ten to ten 24. Ada lagi tempat steak yang di jalan Sumatra 25. Resep Moyang 26. Steak yang di Dipati Ukur .. hmm.. apa lagi ya.
Gaul engga tuh? hehehe... rata-rata saya ke situ karena ditraktir oleh para dermawan dermawati di kota Bandung yang diam-diam dalam hatinya mungkin bertekad mencanangkan "Menuju Irma Gemuk 2012"
Apa katamu WitRi? Suka arisan? Yang arisan di sana sini mah biasana kerjaan ibu-ibu 50 tahun ke atas yang pengen aktualisasi diri di luar pengajian. Saya gak gaul kalo urusan arisan. Arisan cuma ikut yang di RT. Itu pun dengan niat silaturahim sama tetangga. Hoho. Sungguh niat yang mulia.
Ada yang dalem nih kata Mbak Nina.. coba disimaks semaksimal mungkins:
Kalau siang hangout di mall, ngumpul2 dan makan2, kerja part timer atau full ibu rt..suaminya kaya, anak2 sekolah di full day school, itu sebabnya siang bisa hangout, ngerti bgt soal 'kekinian', selalu ikut pendapat terbanyak, semuanya diukur pakai 'gengsi' tapi itu ibu gaul dari sudut pandang lifestyle ya..
Nah ada juga dari sudut pandang anak, kalo menrt anak ibu gaul itu ibu yg ngerti jalan pikirnya anak, memahami dunia anak2nya, kalo jalan sm anak selalu milih ke tempat favorit anak, nyambung kalo diajak gosip soal Hanna Montana, Bruno Mars, seleranya dalam milihin baju anaknya pas bgt dengan selera anak, seringya sih ibu gaul model begini justru bukan tergolong ibu rumpi di sekolah anaknya, karena dia percaya anaknya bisa jaga diri di sekolaj..Nah, sekarang tinggal Irma mau nulis Ibu Gaul yg mana..hehehe..
Hm..Nulis ibu gaul yang mana ya? Ya saya copas aja lah komennya Mbak Nina, karena suami saya bukan orang kaya. Suami saya kaya hati karena sering makan ati (punya istri kayak saya gitu loh). Trus saya gak ngerti soal kekinian, dan saya pun harus googling dulu siapa itu Hana Montana dan Bruno Mars. (OMG.. betapa tidak gaulnya diriku).
Tampaknya status saya sudah menghilang dari beranda teman-teman atau mereka tidak ada ide sehingga tidak ada lagi itu komen tentang definisi ibu-ibu gaul.
Saya sendiri sih sebenernya pengen banget jadi ibu-ibu gaul dalam artian PUNYA BANYAK TEMAN.
Teman yang gak sekedar diukur dari bertambahnya friend list di facebook atau banyaknya follower. Tapi saya ingin punya banyak teman yang peduli dan menemani kita saat suka dan duka. Teman yang bertanya kabar walau sedang tidak butuh bantuan kita.
Saya mestinya gak terlalu peduli pada pandangan orang tentang betapa sempitnya wawasan saya tentang film, lagu, artis, politik, headline news, sepakbola...
Toh saya memang sebelas tahun terakhir berkutatnya cuman di urusan anak, suami, dan setrikaan. Sulit bagi saya untuk mencerna sebuah film dari awal sampai akhir jika yang ada di benak ini adalah urusan ntar anak dan suami saya makan apa, anak udah mandi apa belom, besok bekel apa buat anak-anak sekolah, etc etc.
Makanya memang saya nyambungnya seringkali jadi hanya dengan ibu-ibu, yang pertanyaannya gak jauh dari "Hari ini masak apa?", dan selanjutnya membahas pelajaran sekolah dasar.
Namun sungguh, bergaul dengan ibu-ibu di dunia maya itu membuat saya merasa bergaul pada tempatnya dan pada kapasitasnya.
Sekali-sekali memang saya suka juga ngobrol sama anak-anak muda. Tapi udahnya kadang bikin saya sedih juga. Kenapa saya asa teu nyambung. Pengen melipir nyusur pager terus kabur. Begitulah kira-kira rasanya.
Diskusi dengan Bu Mita (yang notabene ini anak muda juga loh, tapi tingkat kedewasaannya melebihi saya). Kata Bu Mita, gak ada orang yang bener-bener punya wawasan luas. Bisa jadi orang tampak cerdas dan berwawasan luas karena mereka pandai bicara, punya gaya bicara yang menarik sehingga menguasai publik yang mendengarnya, sehingga seolah-olah dia tau semua yang terjadi di muka bumi ini.
Sementara saya? Saya cuma pandai bicara dalam tulisan, karena gak ada yang bisa nyela saya, dalam note ini misalnya.
Di alam nyata saya lebih suka banyak mendengar. Jadinya tampak gak berwawasan luas. Padahal saya teh berwawasan wiyata mandala tau! #maksudlo -_-!
Ya gitu deh. Pokona buat saya mah, mau gaul mau galau, yang penting saya punya banyak teman yang peduli.
Adakah yang peduli padaku? #drama #sinetron #lebay #garing
Sori nya mun teu puguh. Da ini mah ngacaprak wungkul, berhubung tadi siang saya kebanyakan tidur, dan malam ini Bandung hareudang luar biasa.
Irma yang nyungsep di pedalaman rumah mertua, @Dago
malem minggu gak gaul gak maen padahal di Dago.
Posting di waktu dan tanggal yang cantik: 11.00 PM - 01102011.
Banyak yang bilang saya adalah ibu-ibu gaul. Pasalnya hanya karena saya rajin facebookan. Beuuh... alasan yang sudah tidak usum pisan.
Sementara saya merasa gak gaul, karena kalo ditanya soal lagu ama pelem, saya cengo. Hah? Lagu apaan? Pelem apa tu?
Bukannya saya sok alim gak suka pelem gak suka lagu. Saya suka nongton pelem, tapi sok gak peduli itu judulnya apa. Saya juga suka denger lagu tapi suka gak tau juga judulnya apa. Pokona nu kitu weh. Yang saya tau cuma rame dan tidak, enakeun dan tidak. Komo deui kalo harus hapal syair sama artis-artisnya mah.. ahhh teuing lah.
Mestinya mungkin juga gaul itu berarti berwawasan luas. Diajak ngobrol A sampai Z, nyambuuuung terus. Ngobrol tentang anak nyambung, ngobrol tentang ular nyambung, ngobrol tentang pecinta batik yang besok jalan di kawasan dago nyambung (nyontek ti @infobandung 54 detik yang lalu).
Ah bila gaul itu berarti berwawasan luas, itu bukan saya juga dong.
Saya mah da nyambungnya kalo udah ngomong masalah facebook dan twitter aja. Selain itu mah calangap weh.
Daripada saya ngukur-ngukur sendiri, saya ibu-ibu gaul apa bukan, lebih baik saya pasang status di FB, begini bunyinya:
Sedang nulis tentang "IBU IBU GAUL".. ayo kasih masukan, menurutmu IBU IBU GAUL itu ciri-cirinya apa sih?
Toga yang pertama komen, katanya 3B: bermobil, berbehel, dan berBB...
Bermobil, oke... aku (halah .. aku) bermobil. Tapi mobil saya mah da hijet 1000, embahnya carry kalo kata Bu Mita. Apakah itu gaul? Kayaknya galau itu mah ya? Mestinya honda jazz gitu loh, kalo ibu-ibu gaul. Kayak Bu Rena tuh.. hehehe.. *kiceup Renaaa, colek Honda Jazznyaa...
Berbehel? Ha? Apa behel memang jadi standar gaul ya? Hihihi.. #nutupmulut. Malu.
Saya pake 3 gigi geraham palsu. Apakah pake gigi palsu adalah gaul? Hahaha itu sih tanda-tanda penuaan.
BBMan? Iya saya suka isi BBM ke pom bensin. Sekian. No further comment.
Sementara Om Ipin bilang: Gak Galaw Gak Gaul.
Pembahasan: Urusan galau sih seriiiing... berarti saya gaul dooong. Hidup Galau!!
RT @RadioGalauFM Menceriana in galaure sano. Dalam Badan yang ceria, terdapat hati yang galau.
Terus kata Mas Eko, kalo ketemu temen lama, yang ditanya bukan nomer HP lagi tapi PIN BB..
Gubrag eta BB, keukeuh nya... hiks. "GUE KAGAK PUNYA BEBEEEE.. !!! beee....beee..." (adegan: teriak-teriak di tengah jurang, dengan suara memantul-mantul)
Usulan dari Dik Titi.. Ibu-ibu gaul adalah yang sering namu ke mall/ cafe? Emmm.. gak tau ya kalo pake standar yang ini, bisa jadi .. mm, saya setengah gaul. Coba saya data tempat makan yang pernah saya datengin di Bandung ya. 1. Warung Pasta 2. Baso Akung 3. Kopi Mata Angin 4. Atmosphere 5. Sushi Den 6. S28 7. Sebelahnya Sushi Den 8. Apa tu yang kambing-kambing itu di Riau 9. Kopi Lay 10. Steak..apa tu ya 11.Ada tempat steak lagi, gtau ah namanya 12. Timbel Jalan Mangga 12. Bloemen 13. Bale Gazeebo 14.Sebelahnya Bale Gazeebo 15. Ayam Goreng Suharti 16. Pizza Hut 17.KFC 18.McD 19.Bubur Ayam Mang Oyo 20. Bubur Ayam Pak Imon 21. Ampera 22. Makan-makan 23.Ten to ten 24. Ada lagi tempat steak yang di jalan Sumatra 25. Resep Moyang 26. Steak yang di Dipati Ukur .. hmm.. apa lagi ya.
Gaul engga tuh? hehehe... rata-rata saya ke situ karena ditraktir oleh para dermawan dermawati di kota Bandung yang diam-diam dalam hatinya mungkin bertekad mencanangkan "Menuju Irma Gemuk 2012"
Apa katamu WitRi? Suka arisan? Yang arisan di sana sini mah biasana kerjaan ibu-ibu 50 tahun ke atas yang pengen aktualisasi diri di luar pengajian. Saya gak gaul kalo urusan arisan. Arisan cuma ikut yang di RT. Itu pun dengan niat silaturahim sama tetangga. Hoho. Sungguh niat yang mulia.
Ada yang dalem nih kata Mbak Nina.. coba disimaks semaksimal mungkins:
Kalau siang hangout di mall, ngumpul2 dan makan2, kerja part timer atau full ibu rt..suaminya kaya, anak2 sekolah di full day school, itu sebabnya siang bisa hangout, ngerti bgt soal 'kekinian', selalu ikut pendapat terbanyak, semuanya diukur pakai 'gengsi' tapi itu ibu gaul dari sudut pandang lifestyle ya..
Nah ada juga dari sudut pandang anak, kalo menrt anak ibu gaul itu ibu yg ngerti jalan pikirnya anak, memahami dunia anak2nya, kalo jalan sm anak selalu milih ke tempat favorit anak, nyambung kalo diajak gosip soal Hanna Montana, Bruno Mars, seleranya dalam milihin baju anaknya pas bgt dengan selera anak, seringya sih ibu gaul model begini justru bukan tergolong ibu rumpi di sekolah anaknya, karena dia percaya anaknya bisa jaga diri di sekolaj..Nah, sekarang tinggal Irma mau nulis Ibu Gaul yg mana..hehehe..
Hm..Nulis ibu gaul yang mana ya? Ya saya copas aja lah komennya Mbak Nina, karena suami saya bukan orang kaya. Suami saya kaya hati karena sering makan ati (punya istri kayak saya gitu loh). Trus saya gak ngerti soal kekinian, dan saya pun harus googling dulu siapa itu Hana Montana dan Bruno Mars. (OMG.. betapa tidak gaulnya diriku).
Tampaknya status saya sudah menghilang dari beranda teman-teman atau mereka tidak ada ide sehingga tidak ada lagi itu komen tentang definisi ibu-ibu gaul.
Saya sendiri sih sebenernya pengen banget jadi ibu-ibu gaul dalam artian PUNYA BANYAK TEMAN.
Teman yang gak sekedar diukur dari bertambahnya friend list di facebook atau banyaknya follower. Tapi saya ingin punya banyak teman yang peduli dan menemani kita saat suka dan duka. Teman yang bertanya kabar walau sedang tidak butuh bantuan kita.
Saya mestinya gak terlalu peduli pada pandangan orang tentang betapa sempitnya wawasan saya tentang film, lagu, artis, politik, headline news, sepakbola...
Toh saya memang sebelas tahun terakhir berkutatnya cuman di urusan anak, suami, dan setrikaan. Sulit bagi saya untuk mencerna sebuah film dari awal sampai akhir jika yang ada di benak ini adalah urusan ntar anak dan suami saya makan apa, anak udah mandi apa belom, besok bekel apa buat anak-anak sekolah, etc etc.
Makanya memang saya nyambungnya seringkali jadi hanya dengan ibu-ibu, yang pertanyaannya gak jauh dari "Hari ini masak apa?", dan selanjutnya membahas pelajaran sekolah dasar.
Namun sungguh, bergaul dengan ibu-ibu di dunia maya itu membuat saya merasa bergaul pada tempatnya dan pada kapasitasnya.
Sekali-sekali memang saya suka juga ngobrol sama anak-anak muda. Tapi udahnya kadang bikin saya sedih juga. Kenapa saya asa teu nyambung. Pengen melipir nyusur pager terus kabur. Begitulah kira-kira rasanya.
Diskusi dengan Bu Mita (yang notabene ini anak muda juga loh, tapi tingkat kedewasaannya melebihi saya). Kata Bu Mita, gak ada orang yang bener-bener punya wawasan luas. Bisa jadi orang tampak cerdas dan berwawasan luas karena mereka pandai bicara, punya gaya bicara yang menarik sehingga menguasai publik yang mendengarnya, sehingga seolah-olah dia tau semua yang terjadi di muka bumi ini.
Sementara saya? Saya cuma pandai bicara dalam tulisan, karena gak ada yang bisa nyela saya, dalam note ini misalnya.
Di alam nyata saya lebih suka banyak mendengar. Jadinya tampak gak berwawasan luas. Padahal saya teh berwawasan wiyata mandala tau! #maksudlo -_-!
Ya gitu deh. Pokona buat saya mah, mau gaul mau galau, yang penting saya punya banyak teman yang peduli.
Adakah yang peduli padaku? #drama #sinetron #lebay #garing
Sori nya mun teu puguh. Da ini mah ngacaprak wungkul, berhubung tadi siang saya kebanyakan tidur, dan malam ini Bandung hareudang luar biasa.
Irma yang nyungsep di pedalaman rumah mertua, @Dago
malem minggu gak gaul gak maen padahal di Dago.
Posting di waktu dan tanggal yang cantik: 11.00 PM - 01102011.
Langganan:
Postingan (Atom)
