Sabtu, 03 Januari 2009
Minggu, 28 Desember 2008
analisis rapor
Bikin macet jalan di depan sekolah.
Itulah secercah akibat dari pembagian rapor sabtu kemarin di kota Bandung.
Saya sebagai orang tua (tua? hiks..) tentu saja ngambil rapornya arif dan sofi.
(rapor itu apa sih? asal katanya report kali ya? -ngereportin orang tua-)
Kebetulan rapor Sofi bisa saya ambil hari rabu. Sementara rapor Arif harus saya ambil kemarin.
Bedanya, pas ngambil rapor sofi saya nungguinnya lamaaaaa banget. Ngantri abis. Saya pengen ambil pagi (siang mesti ke apotek), dan orang tua lain pun berpikir sama, pengen pagi. Jadi ya dapet rapornya sesuai urutan datang lah.
Nunggu sampe 1,5 jam. Sementara menunggu bagi saya adalah pekerjaan paling menyebalkan di muka bumi ini.
Nah, kalo sekolahnya Arif, top deh. Setiap siswa dijadwal, jam berapa rapor diambil.
Arif dikasih waktu pk.08.30 sd 08.45.
Sip. Saya berangkat berdua ma suami, karena anak-anak udah duluan berlibur di eyangnya.
Kami terlambat tiga menit, dan tentu saja bisa langsung ambil rapornya.
Ternyata gurunya Arif presentasi di depan kami, lamaa banget sampe 30 menitan. Dapet waktu luang, karena orang tua berikutnya telat dateng ..hehe..
Udah mah saya dan suami banyak tanya sama bu guru.
Gimana Arif Bu?
--
selingan dulu.. kalo Sofi, rapornya kualitatif, dan baik. Tidak masalah, kecuali masalah mogok sekolahnya itu. Kemarin-kemarin lancar sih, paling pagi-pagi mukanya menunjukkan emoticon ':(' Sediiih banget. Tapi udah nyampe sekolah sih gak apa-apa.
--
Nah, yang rada kompleks.. Arif nih.
Kriteria penilaiannya terbagi dua yaitu A (achievement/prestasi) dam E (effort/usaha)
Dengan rentang nilai 1-5.
Semua nilai ada keterangannya. Intinya sih kalo 1-2 itu agak-agak jelek lah.
Nilai 3, cukup.. butuh usaha lebih keras lagi. Nilai 4 itu bisa, tapi masih butuh dipancing untuk bisa. Dan nilai 5 itu excellent, bisa sendiri tanpa dibantu.
Pencapaian (A) dihargai, begitu pula usaha (E) dari si anak dilihat.
Rapor khas Tunas Unggul terbagi tiga bagian, dengan hasil masing-masing sebagai berikut:
Bagian Pertama: LAPORAN PERKEMBANGAN AKADEMIK SISWA
1a. Time Of Inquiry, dengan tema: Who We Are,
unit of inquiry: I'm incredible,
Focus: social,
Central Idea: AtTiin: 14 (Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya)
Dalam hal ini siswa dituntut untuk bisa mengenal diri dan potensi yang ada dalam dirinya, juga bagaimana berinteraksi dengan teman.
Arif?
Kata Bu Guru, Arif tidak terlalu antusias dengan tema ini.
Tapi ya lumayanlah. Nilainya imbang antara 4 dan 5, dalam hal effort maupun achievement.
1b. Time Of Inquiry, dengan tema: How The World Works,
Unit of Inquiry: The Miracle of Universe,
Focus: science,
Central Idea: Fathir: 13 (Dia memasukkan malam ke dalam siang, dan memasukkan siang ke dalam malam, dan menundukkan matahari dan bulan..dst)
Siswa dituntut untuk bisa memahami tentang bagaimana terjadinya siang dan malam, terjadinya hujan, mengenal planet-planet, dan disadarkan tentang kuasa Nya yang begitu besar.
Arif?
Sangat antusias dengan tema ini. Lebih antusias daripada pengenalannya terhadap diri dan teman-teman. Nilainya tetep imbang antara 4 dan 5.
1c. Bidang Studi
1.c1 Matematika. Arif EXCELLENT, tanpa cela dari sepuluh kriteria penilaiannya.
A maupun E, nilainya 5 semua.
Kelemahannya satu: nulis angka masih kebulak kebalik. Nulis 2 kadang S, nulis 3 kadang sigma.
1.c2 Bahasa Indonesia?
Rada payah nih..
nilai 4 nya buanyakk..
Malah ada nilai 3 nya, dalam hal menyimak cerita pendek atau panjang.
Kata Bu Guru, Arif pikirannya suka ke manaaaa, gitu.
Saat bu guru bercerita, dia kadang lebih asyik mengamati 'fenomena alam' yang ada di kelasnya.
Bukan.. bukan mengamati temen ceweknya.
Tapi, kata bu guru, misal ada benang yang lepas dari karpet, maka Arif akan asik mengamati si benang itu, menelusuri dari celah mana benang itu berasal. Tenggelam dalam dunia perbenangan sampe cerita yang dibacakan bu guru tamat.
Arif biasanya bisa jawab pertanyaan setelah cerita usai, hanya karena dia udah baca sendiri bukunya berulang-ulang.
(Arif mah apa coba.. yang lain kalo istirahat, main di luar, dia mah baca buku di kelas!!!!!!!!!! Oh..God..)
Makanya, apa yang dibacakan bu guru, udah lewat buat dia.
1.c3 Bahasa Inggris?
EXCELLENT, 5 semua untuk A dan E, dari sembilan kriteria penilaiannya.
1.c4 Art..
Banyak nilai 4.
Ada nilai 3 dalam hal membuat karya dua dimensi dengan teknik menggunting dan menempel.
1.c5 Budaya Jabar..
Lumayanlah. Maklum kalo gak terlalu excellent. Darah sunda hanya 50% mengalir di tubuhnya. Selebihnya gabungan Jawa Bali @25%
1.c6 Physical education
paling payah. Achievementnya 4 semua, sementara effortnya mah bagus, 5 semua.
Kata Bu Guru, Arif memang susah banget diajak maen fisik.
Selama di sekolah, Arif keukeuh selalu ada di dalam kelas. Sampe pas istirahat sama bu guru mesti 'diusir-usir' biar keluar kelas.
Setelah diusir gitu Arif baru mau keluar.
Eh, diluar Arif cuma duduk-duduk mengamati teman-temannya main bola atau kejar-kejaran.
Pas pelajaran olah raga di lapangan, Arif kadang-kadang sibuk mengamati bentuk-bentuk batu atau permukaan kayu, sampe harus diingatkan guru, bahwa saat itu dia harus ngikutin pelajaran olah raga.
Besoknya, Arif kembali istirahat di dalam kelas. Akhirnya si bu guru pasrah. Malah minta bantuan Arif untuk membereskan buku-buku dan kertas-kertas di kelas. Arif pun menawarkan diri untuk membersihkan papan tulis.
Yasiiiiiiiin... tau gak. Pas bu guru bilang gitu, saya jadi inget Yasin.
Apa Arif gedenya kayak Om Yasin yah? Postur tubuh kecil, putih, berkacamata, kalem, serius, membantu guru, juara kelas, dan membersihkan papan tulis? hahahaha.. buat saya mah gak banget dah... hahaha.. (100% yakin Yasin gak akan marah gw bilangin kayak gini).
Si Ibu Guru sampe sirik sama kulit putihnya Arif. Ayo dong Rif..keluar.. biar iteman dikit.. kata Bu Guru.
Hihi, wali kelasnya Arif ini emang kocak banget orangnya. Ekspresif, dan membuat saya dan suami kadang terpana, kadang tergelak mendengar dia cerita tentang Arif di kelas.
Bu Guru juga pernah bilang ke Arif, "Arif.. nanti kalo besar masuk teknik aja ya.. jadi insinyur".
Si Arif cuma bengong dan tampak mikir. Mikiiiiir terus.
Pas bubar sekolah, Arif baru tanya Bu Guru.. "Bu.. insinyur itu apa ya?"
-duh, ni anaknya master teknik! wkwkwk..-
'Keluhan' dari guru-gurunya Arif tentang gak mau bergabungnya Arif untuk main di luar kelas ini sudah saya dengar sejak Arif TK A, TK B, dan akhirnya sekarang.. masih.
Waktu TK, pas istirahat, kata gurunya Arif seringkali bermain di kantor guru (tolooooong!!)
Bagian Kedua: LAPORAN PRESTASI RUHIYAH
Terdiri dari tahfizul Qur'an, Do'a, Iqro/tilawah Qur'an, Tsaqafah, dan Praktek Ibadah.
Hasilnya: good.
Bagian Ketiga: NILAI
Yang ini barulah kayak lihat rapor kita dulu. Berarti ini kesimpulan dari dua bagian laporan yang tadi.
1. Pendidikan Agama 9.00
2. Pendidikan Kewarganegaraan 8.00
3. Bahasa Indonesia 7.50
4. Matematika 9.00
5. Ilmu Pengetahuan Alam 8.00
6. Ilmu Pengetahuan Sosial 8.00
7. Seni Budaya dan Ketrampilan 7.5
8. Penjas, Orkes 8.00
9. Bahasa Sunda 8.00
10.Bahasa Inggris 9.00
Oya.. satu lagi, Arif tidak suka berkompetisi.
Dia mah gak pernah ada usaha untuk mengalahkan temen-temennya. Misalnya pertandingan olah raga atau game apaaa gitu di kelasnya.
Arif just cool, 'kumaha aing'. Dapet ya sukuuur, gak juga gak apa-apa.
Dan kata gurunya, Arif bilang apa coba?
"Ah, menang juga kan paling dapet award. Award dari bu guru kan bisa rusak.
Arif mah award dari Alloh aja.."
Gubrak dah.. Bu Guru kehabisan kata-kata buat memotivasi Arif biar mau berjuang mengalahkan teman-temannya.
Si papah cuma tersenyum sambil mengusap-usap janggutnya mendengar bu guru bilang begitu - apa pelajaran aqidahnya ketinggian ya? Haha..
---
Yah gitu deh, laporannya...
Any comment,om? tante?
Arif musti kite gimanain ye?
Barangkali punya pengalaman masa kecil...
***
Itulah secercah akibat dari pembagian rapor sabtu kemarin di kota Bandung.
Saya sebagai orang tua (tua? hiks..) tentu saja ngambil rapornya arif dan sofi.
(rapor itu apa sih? asal katanya report kali ya? -ngereportin orang tua-)
Kebetulan rapor Sofi bisa saya ambil hari rabu. Sementara rapor Arif harus saya ambil kemarin.
Bedanya, pas ngambil rapor sofi saya nungguinnya lamaaaaa banget. Ngantri abis. Saya pengen ambil pagi (siang mesti ke apotek), dan orang tua lain pun berpikir sama, pengen pagi. Jadi ya dapet rapornya sesuai urutan datang lah.
Nunggu sampe 1,5 jam. Sementara menunggu bagi saya adalah pekerjaan paling menyebalkan di muka bumi ini.
Nah, kalo sekolahnya Arif, top deh. Setiap siswa dijadwal, jam berapa rapor diambil.
Arif dikasih waktu pk.08.30 sd 08.45.
Sip. Saya berangkat berdua ma suami, karena anak-anak udah duluan berlibur di eyangnya.
Kami terlambat tiga menit, dan tentu saja bisa langsung ambil rapornya.
Ternyata gurunya Arif presentasi di depan kami, lamaa banget sampe 30 menitan. Dapet waktu luang, karena orang tua berikutnya telat dateng ..hehe..
Udah mah saya dan suami banyak tanya sama bu guru.
Gimana Arif Bu?
--
selingan dulu.. kalo Sofi, rapornya kualitatif, dan baik. Tidak masalah, kecuali masalah mogok sekolahnya itu. Kemarin-kemarin lancar sih, paling pagi-pagi mukanya menunjukkan emoticon ':(' Sediiih banget. Tapi udah nyampe sekolah sih gak apa-apa.
--
Nah, yang rada kompleks.. Arif nih.
Kriteria penilaiannya terbagi dua yaitu A (achievement/prestasi) dam E (effort/usaha)
Dengan rentang nilai 1-5.
Semua nilai ada keterangannya. Intinya sih kalo 1-2 itu agak-agak jelek lah.
Nilai 3, cukup.. butuh usaha lebih keras lagi. Nilai 4 itu bisa, tapi masih butuh dipancing untuk bisa. Dan nilai 5 itu excellent, bisa sendiri tanpa dibantu.
Pencapaian (A) dihargai, begitu pula usaha (E) dari si anak dilihat.
Rapor khas Tunas Unggul terbagi tiga bagian, dengan hasil masing-masing sebagai berikut:
Bagian Pertama: LAPORAN PERKEMBANGAN AKADEMIK SISWA
1a. Time Of Inquiry, dengan tema: Who We Are,
unit of inquiry: I'm incredible,
Focus: social,
Central Idea: AtTiin: 14 (Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya)
Dalam hal ini siswa dituntut untuk bisa mengenal diri dan potensi yang ada dalam dirinya, juga bagaimana berinteraksi dengan teman.
Arif?
Kata Bu Guru, Arif tidak terlalu antusias dengan tema ini.
Tapi ya lumayanlah. Nilainya imbang antara 4 dan 5, dalam hal effort maupun achievement.
1b. Time Of Inquiry, dengan tema: How The World Works,
Unit of Inquiry: The Miracle of Universe,
Focus: science,
Central Idea: Fathir: 13 (Dia memasukkan malam ke dalam siang, dan memasukkan siang ke dalam malam, dan menundukkan matahari dan bulan..dst)
Siswa dituntut untuk bisa memahami tentang bagaimana terjadinya siang dan malam, terjadinya hujan, mengenal planet-planet, dan disadarkan tentang kuasa Nya yang begitu besar.
Arif?
Sangat antusias dengan tema ini. Lebih antusias daripada pengenalannya terhadap diri dan teman-teman. Nilainya tetep imbang antara 4 dan 5.
1c. Bidang Studi
1.c1 Matematika. Arif EXCELLENT, tanpa cela dari sepuluh kriteria penilaiannya.
A maupun E, nilainya 5 semua.
Kelemahannya satu: nulis angka masih kebulak kebalik. Nulis 2 kadang S, nulis 3 kadang sigma.
1.c2 Bahasa Indonesia?
Rada payah nih..
nilai 4 nya buanyakk..
Malah ada nilai 3 nya, dalam hal menyimak cerita pendek atau panjang.
Kata Bu Guru, Arif pikirannya suka ke manaaaa, gitu.
Saat bu guru bercerita, dia kadang lebih asyik mengamati 'fenomena alam' yang ada di kelasnya.
Bukan.. bukan mengamati temen ceweknya.
Tapi, kata bu guru, misal ada benang yang lepas dari karpet, maka Arif akan asik mengamati si benang itu, menelusuri dari celah mana benang itu berasal. Tenggelam dalam dunia perbenangan sampe cerita yang dibacakan bu guru tamat.
Arif biasanya bisa jawab pertanyaan setelah cerita usai, hanya karena dia udah baca sendiri bukunya berulang-ulang.
(Arif mah apa coba.. yang lain kalo istirahat, main di luar, dia mah baca buku di kelas!!!!!!!!!! Oh..God..)
Makanya, apa yang dibacakan bu guru, udah lewat buat dia.
1.c3 Bahasa Inggris?
EXCELLENT, 5 semua untuk A dan E, dari sembilan kriteria penilaiannya.
1.c4 Art..
Banyak nilai 4.
Ada nilai 3 dalam hal membuat karya dua dimensi dengan teknik menggunting dan menempel.
1.c5 Budaya Jabar..
Lumayanlah. Maklum kalo gak terlalu excellent. Darah sunda hanya 50% mengalir di tubuhnya. Selebihnya gabungan Jawa Bali @25%
1.c6 Physical education
paling payah. Achievementnya 4 semua, sementara effortnya mah bagus, 5 semua.
Kata Bu Guru, Arif memang susah banget diajak maen fisik.
Selama di sekolah, Arif keukeuh selalu ada di dalam kelas. Sampe pas istirahat sama bu guru mesti 'diusir-usir' biar keluar kelas.
Setelah diusir gitu Arif baru mau keluar.
Eh, diluar Arif cuma duduk-duduk mengamati teman-temannya main bola atau kejar-kejaran.
Pas pelajaran olah raga di lapangan, Arif kadang-kadang sibuk mengamati bentuk-bentuk batu atau permukaan kayu, sampe harus diingatkan guru, bahwa saat itu dia harus ngikutin pelajaran olah raga.
Besoknya, Arif kembali istirahat di dalam kelas. Akhirnya si bu guru pasrah. Malah minta bantuan Arif untuk membereskan buku-buku dan kertas-kertas di kelas. Arif pun menawarkan diri untuk membersihkan papan tulis.
Yasiiiiiiiin... tau gak. Pas bu guru bilang gitu, saya jadi inget Yasin.
Apa Arif gedenya kayak Om Yasin yah? Postur tubuh kecil, putih, berkacamata, kalem, serius, membantu guru, juara kelas, dan membersihkan papan tulis? hahahaha.. buat saya mah gak banget dah... hahaha.. (100% yakin Yasin gak akan marah gw bilangin kayak gini).
Si Ibu Guru sampe sirik sama kulit putihnya Arif. Ayo dong Rif..keluar.. biar iteman dikit.. kata Bu Guru.
Hihi, wali kelasnya Arif ini emang kocak banget orangnya. Ekspresif, dan membuat saya dan suami kadang terpana, kadang tergelak mendengar dia cerita tentang Arif di kelas.
Bu Guru juga pernah bilang ke Arif, "Arif.. nanti kalo besar masuk teknik aja ya.. jadi insinyur".
Si Arif cuma bengong dan tampak mikir. Mikiiiiir terus.
Pas bubar sekolah, Arif baru tanya Bu Guru.. "Bu.. insinyur itu apa ya?"
-duh, ni anaknya master teknik! wkwkwk..-
'Keluhan' dari guru-gurunya Arif tentang gak mau bergabungnya Arif untuk main di luar kelas ini sudah saya dengar sejak Arif TK A, TK B, dan akhirnya sekarang.. masih.
Waktu TK, pas istirahat, kata gurunya Arif seringkali bermain di kantor guru (tolooooong!!)
Bagian Kedua: LAPORAN PRESTASI RUHIYAH
Terdiri dari tahfizul Qur'an, Do'a, Iqro/tilawah Qur'an, Tsaqafah, dan Praktek Ibadah.
Hasilnya: good.
Bagian Ketiga: NILAI
Yang ini barulah kayak lihat rapor kita dulu. Berarti ini kesimpulan dari dua bagian laporan yang tadi.
1. Pendidikan Agama 9.00
2. Pendidikan Kewarganegaraan 8.00
3. Bahasa Indonesia 7.50
4. Matematika 9.00
5. Ilmu Pengetahuan Alam 8.00
6. Ilmu Pengetahuan Sosial 8.00
7. Seni Budaya dan Ketrampilan 7.5
8. Penjas, Orkes 8.00
9. Bahasa Sunda 8.00
10.Bahasa Inggris 9.00
Oya.. satu lagi, Arif tidak suka berkompetisi.
Dia mah gak pernah ada usaha untuk mengalahkan temen-temennya. Misalnya pertandingan olah raga atau game apaaa gitu di kelasnya.
Arif just cool, 'kumaha aing'. Dapet ya sukuuur, gak juga gak apa-apa.
Dan kata gurunya, Arif bilang apa coba?
"Ah, menang juga kan paling dapet award. Award dari bu guru kan bisa rusak.
Arif mah award dari Alloh aja.."
Gubrak dah.. Bu Guru kehabisan kata-kata buat memotivasi Arif biar mau berjuang mengalahkan teman-temannya.
Si papah cuma tersenyum sambil mengusap-usap janggutnya mendengar bu guru bilang begitu - apa pelajaran aqidahnya ketinggian ya? Haha..
---
Yah gitu deh, laporannya...
Any comment,om? tante?
Arif musti kite gimanain ye?
Barangkali punya pengalaman masa kecil...
***
Rabu, 24 Desember 2008
Mr.Jo: Sepiring Rame-Rame
Berhubung ngefans sama kajian malam sabtu-nya Johe (dulu di kelas dipanggil begitu kan Jo?)
Saya minta izin beliau lagi untuk copy paste notes fb-nya.
-jadi inget ta'lim kelas beliau-
cuma inget.. bukan kasuat-suat =P
Johan Mahardi's Notes
Kajian Malam Sabtu: Sepiring Rame-rame
Share
Mon 11:22pm
Di malam pengajian yg lalu, ada pertanyaan dari seorang ibu...
timing-nya tepaaat bgt di penutupan pengajian, tepat sebelum doa akhir majelis...:P
"Pa ustad, mau tanye!..."
*suara merdu ibu ini langsung disambut keheningan dan tatapan 'jangan coba-coba kasih pertanyaan susah... ini udah malem, bu.. udah waktunya makan malem!' dari sebagian bapak2... kasian si ibu...*
Untungna si ibu cuek aja...
"Pa ustad, kalo kite pergi ke tempat yg mayoritas non-muslim, atawa di hotel, atawa makan di restoran yg ade makanan gak halal... pegimana dgn status piring yg kita pake ye?.. soalnya khan, piring tu ude dipake berkali2 untuk hidangan yg macem-macem... bersi-innya juga caranya beda... pegimane tu, pak ustad?"
*Idih, bener banget ni ibu.. kite bapak-bapak sih kaga pernah mikirin piringnye.. yg ade juge cuman mikir: pokoknye kalo ke luar negri nih, makanannye ikan, sayuran, atawa bawa indomie dari kampung... ude cukup kaga perlu repot2..
salut emang buat para ibu..sampe merhatiin ke piring-piring-nye segale...*
Pak ustad menyunggingkan senyuman...
memandang ke bawah ke arah karpet (tanda berpikir & menyiapkan jawaban)..
menarik nafas... (tanda semakin dalam berpikir)..
berkedip beberapa kali... (tanda memeriksa & memastikan kembali jawabannya)
kemudian menebar pandangannya ke arah jamaah.. (tanda sudah siap dgn jawaban jitunya)
"Ibu yg baik... kapanpun dan dimanapun kita makan... pastikan makanannya adalah makanan yg halal..." kata-kata ustad membahana.
"Dan jangan sekali-kali... saya ulangi, jangan pernah sekalipun... coba-coba makan piringnya!.. "
*jeg-gerr.. satu piring melayang ke arah pa ustad.. jemaah terpana...
Suara tawa sayup-sayup saja terdengar... garing-garing terpaksa... berani-beraninya ustad bercanda di saat lapar begini...
Pak ustad tersenyum lagi...
memandang ke bawah ke arah karpet lagi (tanda berpikir & menyiapkan jawaban lagi)..
menarik nafas lagi... (tanda semakin dalam berpikir lagi)..
berkedip beberapa kali lagi... (tanda memeriksa & memastikan kembali jawabannya lagi)
kemudian menebar pandangannya ke arah jamaah lagi.. (tanda sudah siap dgn jawaban jitunya yang ke-2...:P )
"Statusnya ditentukan dari lahiriyah-nya... kalau memang penampakannya bersih & kering, maka ia tidak bernajis... Praduga & rasa was-was kita tidak akan mengubah status piring tsb..." kata ustad.
Jemaah mengangguk tanda mengerti, dgn tatapan nanar... ke arah tumpukan piring di belakang pak ustad.
Kemudian ustad berkisah ttg kaidah yg melarang terlalu banyak bertanya ttg hal-hal yg gak perlu yg akan mempersulit diri sendiri...
"...kita tidak diminta pertanggungjawaban thdp apa yg tidak kita ketahui,... dan yg penting, jangan lupa baca bismillah, berdoa sebelum makan..."
Jemaah mengangguk-angguk lagi... dan keliatan makin gelisah, karena AC ruangan sudah mulai dimatikan.. seolah jadi pertanda: hidangan di meja sudah mulai dingin dan gak perlu ditambah dingin dg AC lagi...:P
Tetapi... oh, no...
Pak ustad tersenyum lagi!.................
memandang ke bawah ke arah karpet lagi.. *jemaah mulai berdiri satu per satu
menarik nafas lagi... *jemaah membentuk antrian
berkedip beberapa kali lagi... *masing-masing mengambil jatahnya di meja makan
kemudian menebar pandangannya ke arah jamaah lagi.. *jemaah sudah kembali duduk dgn sepiring hidangan di tangan masing2... (haha, bravo! good move!...:D khayal pisan...)
Pak ustad mengingatkan untuk selalu berhati-hati & menjauhi hal-hal yg meragukan..
dan sebetulnya, ada banyak jalan kalau kita memang bener2 niat untuk menjaga diri...
Wallaahu a'lam
PS: Pak ustad ngasih saran untuk liat youtube-nya ustad Ahmad Sarwat ttg masalah ini... tapi sampe skrg saya jg belum nemu...
***
Saya minta izin beliau lagi untuk copy paste notes fb-nya.
-jadi inget ta'lim kelas beliau-
cuma inget.. bukan kasuat-suat =P
Johan Mahardi's Notes
Kajian Malam Sabtu: Sepiring Rame-rame
Share
Mon 11:22pm
Di malam pengajian yg lalu, ada pertanyaan dari seorang ibu...
timing-nya tepaaat bgt di penutupan pengajian, tepat sebelum doa akhir majelis...:P
"Pa ustad, mau tanye!..."
*suara merdu ibu ini langsung disambut keheningan dan tatapan 'jangan coba-coba kasih pertanyaan susah... ini udah malem, bu.. udah waktunya makan malem!' dari sebagian bapak2... kasian si ibu...*
Untungna si ibu cuek aja...
"Pa ustad, kalo kite pergi ke tempat yg mayoritas non-muslim, atawa di hotel, atawa makan di restoran yg ade makanan gak halal... pegimana dgn status piring yg kita pake ye?.. soalnya khan, piring tu ude dipake berkali2 untuk hidangan yg macem-macem... bersi-innya juga caranya beda... pegimane tu, pak ustad?"
*Idih, bener banget ni ibu.. kite bapak-bapak sih kaga pernah mikirin piringnye.. yg ade juge cuman mikir: pokoknye kalo ke luar negri nih, makanannye ikan, sayuran, atawa bawa indomie dari kampung... ude cukup kaga perlu repot2..
salut emang buat para ibu..sampe merhatiin ke piring-piring-nye segale...*
Pak ustad menyunggingkan senyuman...
memandang ke bawah ke arah karpet (tanda berpikir & menyiapkan jawaban)..
menarik nafas... (tanda semakin dalam berpikir)..
berkedip beberapa kali... (tanda memeriksa & memastikan kembali jawabannya)
kemudian menebar pandangannya ke arah jamaah.. (tanda sudah siap dgn jawaban jitunya)
"Ibu yg baik... kapanpun dan dimanapun kita makan... pastikan makanannya adalah makanan yg halal..." kata-kata ustad membahana.
"Dan jangan sekali-kali... saya ulangi, jangan pernah sekalipun... coba-coba makan piringnya!.. "
*jeg-gerr.. satu piring melayang ke arah pa ustad.. jemaah terpana...
Suara tawa sayup-sayup saja terdengar... garing-garing terpaksa... berani-beraninya ustad bercanda di saat lapar begini...
Pak ustad tersenyum lagi...
memandang ke bawah ke arah karpet lagi (tanda berpikir & menyiapkan jawaban lagi)..
menarik nafas lagi... (tanda semakin dalam berpikir lagi)..
berkedip beberapa kali lagi... (tanda memeriksa & memastikan kembali jawabannya lagi)
kemudian menebar pandangannya ke arah jamaah lagi.. (tanda sudah siap dgn jawaban jitunya yang ke-2...:P )
"Statusnya ditentukan dari lahiriyah-nya... kalau memang penampakannya bersih & kering, maka ia tidak bernajis... Praduga & rasa was-was kita tidak akan mengubah status piring tsb..." kata ustad.
Jemaah mengangguk tanda mengerti, dgn tatapan nanar... ke arah tumpukan piring di belakang pak ustad.
Kemudian ustad berkisah ttg kaidah yg melarang terlalu banyak bertanya ttg hal-hal yg gak perlu yg akan mempersulit diri sendiri...
"...kita tidak diminta pertanggungjawaban thdp apa yg tidak kita ketahui,... dan yg penting, jangan lupa baca bismillah, berdoa sebelum makan..."
Jemaah mengangguk-angguk lagi... dan keliatan makin gelisah, karena AC ruangan sudah mulai dimatikan.. seolah jadi pertanda: hidangan di meja sudah mulai dingin dan gak perlu ditambah dingin dg AC lagi...:P
Tetapi... oh, no...
Pak ustad tersenyum lagi!.................
memandang ke bawah ke arah karpet lagi.. *jemaah mulai berdiri satu per satu
menarik nafas lagi... *jemaah membentuk antrian
berkedip beberapa kali lagi... *masing-masing mengambil jatahnya di meja makan
kemudian menebar pandangannya ke arah jamaah lagi.. *jemaah sudah kembali duduk dgn sepiring hidangan di tangan masing2... (haha, bravo! good move!...:D khayal pisan...)
Pak ustad mengingatkan untuk selalu berhati-hati & menjauhi hal-hal yg meragukan..
dan sebetulnya, ada banyak jalan kalau kita memang bener2 niat untuk menjaga diri...
Wallaahu a'lam
PS: Pak ustad ngasih saran untuk liat youtube-nya ustad Ahmad Sarwat ttg masalah ini... tapi sampe skrg saya jg belum nemu...
***
Selasa, 23 Desember 2008
on time? emang susah ya???
Nulis bari kesel yeuh..
Baru dikecewakan dengan sebuah janji yang tidak ditepati.
Semalam saya janjian sama dia, di sebuah tempat jam 9 pagi.
Sejak 8.15 saya udah pastikan lagi via sms, bahwa saya ada di tempat lain yang jaraknya hanya beberapa km dari tempat janjian.
10 menit bisa nyampe dari tempat tsb.
Sms saya- delivered, tapi gak dibalas.
Saya telepon.
Gak diangkat.
Oke.. kalo tidak ada kabar, berarti jadi dong jam 9.
Saya tepat di tempat janjian jam 9.
Dua kali saya telepon lagi dia.
Gak diangkat juga.
Sepuluh menit kemudian baru ada sms.
Mengabarkan bahwa dia masih di rumah (yang jaraknya 1 jam perjalanan!!!!)
Katanya habis mengerjakan sesuatu dan dia belum mandi.
Gubrag!!! !@#$%^&*( !!!!
Please deh..
bukannya itu bisa dia kabarkan sedari tadi??
Hm.. belum tau saya ya!!
Saya bisa menghargai orang dari cara dia menghargai waktu!
Sejak pagi saya dengan seabreg kewajiban dari mulai mandiin dua anak, nyuapin, sampe mengantarkan mereka sekolah, ..
alhamduliLLah.. keduanya tidak pernah ada yang terlambat masuk kelas satu kalipun.
Dan semua bisa, asal diperhitungkan waktunya.
Mudah kan menghitung berapa lama kita makan, mandi, plus dandan?
Tinggal plus berapa lama makan, mandi, dan dandanin anak. Kalo anaknya dua ya dikali dua. Trus ditambah beberapa kemungkinan macet di titik-titik tertentu.
Hiks..
dan kalo diprediksi kita bakal terlambat, kan bisa ngabarin sebelumnya? Minta maaf lah.. atau gimana.
Yah.. meskipun dalam memanfaatkan waktu mah saya gak gimana-gimana amat.
Masih banyak nyanteinya sih. Masih banyak kewajiban yang belom dilakukan.
Tapi kalo kaitannya dengan orang lain mah ya diusahakan aja.
Terbuangnya waktu cukuplah di kita sendiri.
Jangan sampe bikin waktu orang lain terbuang juga gara-gara kita.
Hiks..
masih kesel juga nih.
***
Baru dikecewakan dengan sebuah janji yang tidak ditepati.
Semalam saya janjian sama dia, di sebuah tempat jam 9 pagi.
Sejak 8.15 saya udah pastikan lagi via sms, bahwa saya ada di tempat lain yang jaraknya hanya beberapa km dari tempat janjian.
10 menit bisa nyampe dari tempat tsb.
Sms saya- delivered, tapi gak dibalas.
Saya telepon.
Gak diangkat.
Oke.. kalo tidak ada kabar, berarti jadi dong jam 9.
Saya tepat di tempat janjian jam 9.
Dua kali saya telepon lagi dia.
Gak diangkat juga.
Sepuluh menit kemudian baru ada sms.
Mengabarkan bahwa dia masih di rumah (yang jaraknya 1 jam perjalanan!!!!)
Katanya habis mengerjakan sesuatu dan dia belum mandi.
Gubrag!!! !@#$%^&*( !!!!
Please deh..
bukannya itu bisa dia kabarkan sedari tadi??
Hm.. belum tau saya ya!!
Saya bisa menghargai orang dari cara dia menghargai waktu!
Sejak pagi saya dengan seabreg kewajiban dari mulai mandiin dua anak, nyuapin, sampe mengantarkan mereka sekolah, ..
alhamduliLLah.. keduanya tidak pernah ada yang terlambat masuk kelas satu kalipun.
Dan semua bisa, asal diperhitungkan waktunya.
Mudah kan menghitung berapa lama kita makan, mandi, plus dandan?
Tinggal plus berapa lama makan, mandi, dan dandanin anak. Kalo anaknya dua ya dikali dua. Trus ditambah beberapa kemungkinan macet di titik-titik tertentu.
Hiks..
dan kalo diprediksi kita bakal terlambat, kan bisa ngabarin sebelumnya? Minta maaf lah.. atau gimana.
Yah.. meskipun dalam memanfaatkan waktu mah saya gak gimana-gimana amat.
Masih banyak nyanteinya sih. Masih banyak kewajiban yang belom dilakukan.
Tapi kalo kaitannya dengan orang lain mah ya diusahakan aja.
Terbuangnya waktu cukuplah di kita sendiri.
Jangan sampe bikin waktu orang lain terbuang juga gara-gara kita.
Hiks..
masih kesel juga nih.
***
Jumat, 19 Desember 2008
kulepas mereka..
***
Hari ini bisa dianggap hari bersejarah kali ya, buat saya....
Patut diingat lah, 4 Agustus 2006.
Karena pada hari ini saya mesti tega-tegaan memutuskan salah satu tali tipis keterikatan anak-anak terhadap saya, sebagai ibunya.
Arif yang sudah seminggu sekolah tanpa mau lepas dari pangkuan saya, pada hari ini mulai 'dipaksa' oleh Bu Guru untuk tinggal di kelasnya tanpa saya di sisinya.
Serta putriku -Sofi- yang hari ini mulai lepas ASI berhubung kemarin dia ulang tahun yang kedua.Pagi tadi keduanya sempat menangis meraung-raung meratapi hilangnya sebuah kehangatan yang biasa mereka rasakan.
Tapi alhamduliLlah... tidak lama. Mungkin seiring dengan tekad bulat saya untuk melepas mereka pada waktunya.
Banyak orang bilang, antara ibu dan anak biasanya suka 'terus rasa'. Ya seperti saya dan ibu saya -yang kalau saya sakit, beliau pasti gelisah, dan kalau saya nelepon, beliau sudah hampir selalu bisa memastikan bahwa itu telepon dari saya.-
Tadi pada saat saya meninggalkan Arif di kelas, dalam keadaan mengamuk dan menangis meraung-raung "Sama Umiiiiiii !!! Sama Umiiiiii !!!" .. saya melenggang pergi dengan cukup tenang dan yakin bahwa Arif bisa mengatasi kekalutannya. Dan setengah jam kemudian, ketika saya tengok dari pintu kelasnya (pintu akhirnya dibuka oleh Bu Guru), anakku itu sudah duduk rapi dan sepertinya tidak berniat memburu saya. Hanya dia memandang saya sambil cemberut... entah apa yang ada di pikirannya. Saya hanya mengacungkan jempol saja sambil tersenyum padanya, dan kembali menjauh.
Singkat cerita, pulang sekolah dia dengan giat bercerita pada siapa saja yang dia kenal... bahwa "Hari ini Arif hebat!". Lupalah sudah akan tangisnya tadi pagi. Dan tentu saja saya pun tidak mengoreknya lagi. Happy ending sajalah.
***
Dan tadi siang, sebatang bratawali sudah ada di tangan. Metode konvensional berupa pahit-pahitan di sekitar tempat keluarnya ASI akan saya lakukan. Sedikit pesimis bahwa cara ini bisa berhasil- mengingat ketergantungan Sofi pada ASI cukup tinggi alias 'ngagantel'. Tapi kemudian optimis, saat saya mencoba mencolek dan menjilat getah bratawali itu. Oek... pahit buaaanget!
Saya tunjukkan pada Sofi, bahwa batang inilah yang membuat 'nenen' pahit.
Sofi bawa Dora-nya, dan dia kasih ke saya
"Dora aja yang nenen," katanya.
Saya pura-pura menyusui Dora, dan kemudian saya gerakkan Dora membungkuk-bungkuk, pura-pura muntah dan ambil minum
"Ueeek.... paiiiit... hiiii.... kata Dora".
Sofi sangat terkesan dengan drama itu, sehingga dia bertahan untuk tidak mencobanya walau harus berurai air mata, sampai akhirnya dia tertidur malam ini.
***
Ah lihatlah wajah-wajah lelah Arif-Sofiku yang hari ini telah mencoba berjuang melalui satu episode hidupnya... Kini terlelap, diam...
Nyenyaknya tidur mereka malam ini tidak berarti sudah selesai semua masalah. Bisa jadi besok Arif mogok sekolah, bisa jadi besok Sofi masih berharap kembali bisa menikmati hangatnya ASI. Sehingga bisa jadi mereka akan kembali 'latihan pernapasan'.
Tapi ya biarlah.... semua pasti ada prosesnya. Tinggal saya yang mesti menjaga stamina kesabaran dan keyakinan akan penjagaan Allah bagi mereka.
Akhirnya akan terasalah bahwa saya sebagai ibunya semakin hari akan semakin tidak berarti bagi anak-anak saya. Bukan saya meremehkan peran ibu, tapi sedikit kesadaran bahwa saya tidak mungkin bisa terus-menerus mendampingi dan merawat mereka.
Jadi, pastilah harus ada yang saya kenalkan pada mereka,
bahwa di samping saya -yang notabene saat ini sangat mereka andalkan- ada sesuatu yang jauh lebih berarti, jauh lebih bisa menjaga, jauh lebih bisa diandalkan daripada segala sesuatu di muka bumi ini. Harus saya kenalkan dengan sebenar-benarnya ma'rifat, agar mereka tidak salah tempat bergantung, tidak salah kepada siapa mereka meminta pertolongan. Tidak hanya saat ini, tapi untuk seumur hidup mereka.
Dan untuk bisa benar dalam mengenalkan Dia pada mereka, maka pastilah saya yang terlebih dahulu harus mengenalNya.
Bagi saya, itulah tugas terberat saya sebagai seorang ibu.
Diakhiri dengan...... hikz.... semoga saya bisa. Aamiin.
***
Hari ini bisa dianggap hari bersejarah kali ya, buat saya....
Patut diingat lah, 4 Agustus 2006.
Karena pada hari ini saya mesti tega-tegaan memutuskan salah satu tali tipis keterikatan anak-anak terhadap saya, sebagai ibunya.
Arif yang sudah seminggu sekolah tanpa mau lepas dari pangkuan saya, pada hari ini mulai 'dipaksa' oleh Bu Guru untuk tinggal di kelasnya tanpa saya di sisinya.
Serta putriku -Sofi- yang hari ini mulai lepas ASI berhubung kemarin dia ulang tahun yang kedua.Pagi tadi keduanya sempat menangis meraung-raung meratapi hilangnya sebuah kehangatan yang biasa mereka rasakan.
Tapi alhamduliLlah... tidak lama. Mungkin seiring dengan tekad bulat saya untuk melepas mereka pada waktunya.
Banyak orang bilang, antara ibu dan anak biasanya suka 'terus rasa'. Ya seperti saya dan ibu saya -yang kalau saya sakit, beliau pasti gelisah, dan kalau saya nelepon, beliau sudah hampir selalu bisa memastikan bahwa itu telepon dari saya.-
Tadi pada saat saya meninggalkan Arif di kelas, dalam keadaan mengamuk dan menangis meraung-raung "Sama Umiiiiiii !!! Sama Umiiiiii !!!" .. saya melenggang pergi dengan cukup tenang dan yakin bahwa Arif bisa mengatasi kekalutannya. Dan setengah jam kemudian, ketika saya tengok dari pintu kelasnya (pintu akhirnya dibuka oleh Bu Guru), anakku itu sudah duduk rapi dan sepertinya tidak berniat memburu saya. Hanya dia memandang saya sambil cemberut... entah apa yang ada di pikirannya. Saya hanya mengacungkan jempol saja sambil tersenyum padanya, dan kembali menjauh.
Singkat cerita, pulang sekolah dia dengan giat bercerita pada siapa saja yang dia kenal... bahwa "Hari ini Arif hebat!". Lupalah sudah akan tangisnya tadi pagi. Dan tentu saja saya pun tidak mengoreknya lagi. Happy ending sajalah.
***
Dan tadi siang, sebatang bratawali sudah ada di tangan. Metode konvensional berupa pahit-pahitan di sekitar tempat keluarnya ASI akan saya lakukan. Sedikit pesimis bahwa cara ini bisa berhasil- mengingat ketergantungan Sofi pada ASI cukup tinggi alias 'ngagantel'. Tapi kemudian optimis, saat saya mencoba mencolek dan menjilat getah bratawali itu. Oek... pahit buaaanget!
Saya tunjukkan pada Sofi, bahwa batang inilah yang membuat 'nenen' pahit.
Sofi bawa Dora-nya, dan dia kasih ke saya
"Dora aja yang nenen," katanya.
Saya pura-pura menyusui Dora, dan kemudian saya gerakkan Dora membungkuk-bungkuk, pura-pura muntah dan ambil minum
"Ueeek.... paiiiit... hiiii.... kata Dora".
Sofi sangat terkesan dengan drama itu, sehingga dia bertahan untuk tidak mencobanya walau harus berurai air mata, sampai akhirnya dia tertidur malam ini.
***
Ah lihatlah wajah-wajah lelah Arif-Sofiku yang hari ini telah mencoba berjuang melalui satu episode hidupnya... Kini terlelap, diam...
Nyenyaknya tidur mereka malam ini tidak berarti sudah selesai semua masalah. Bisa jadi besok Arif mogok sekolah, bisa jadi besok Sofi masih berharap kembali bisa menikmati hangatnya ASI. Sehingga bisa jadi mereka akan kembali 'latihan pernapasan'.
Tapi ya biarlah.... semua pasti ada prosesnya. Tinggal saya yang mesti menjaga stamina kesabaran dan keyakinan akan penjagaan Allah bagi mereka.
Akhirnya akan terasalah bahwa saya sebagai ibunya semakin hari akan semakin tidak berarti bagi anak-anak saya. Bukan saya meremehkan peran ibu, tapi sedikit kesadaran bahwa saya tidak mungkin bisa terus-menerus mendampingi dan merawat mereka.
Jadi, pastilah harus ada yang saya kenalkan pada mereka,
bahwa di samping saya -yang notabene saat ini sangat mereka andalkan- ada sesuatu yang jauh lebih berarti, jauh lebih bisa menjaga, jauh lebih bisa diandalkan daripada segala sesuatu di muka bumi ini. Harus saya kenalkan dengan sebenar-benarnya ma'rifat, agar mereka tidak salah tempat bergantung, tidak salah kepada siapa mereka meminta pertolongan. Tidak hanya saat ini, tapi untuk seumur hidup mereka.
Dan untuk bisa benar dalam mengenalkan Dia pada mereka, maka pastilah saya yang terlebih dahulu harus mengenalNya.
Bagi saya, itulah tugas terberat saya sebagai seorang ibu.
Diakhiri dengan...... hikz.... semoga saya bisa. Aamiin.
***
arsip ier 16 Juli 2008 - mulai sekolah
Tadi malam ditelepon sama seorang teman, dia mengingatkan amanah saya, yang mestinya sudah saya kerjakan...
Duh, kacau deh...
Dalam seminggu ini pikiran saya penuh dengan perencanaan dan pemikiran dalam rangka menyiapkan Arif-ku sekolah besok.
Jadi boro-boro kepikiran tentang hal-hal 'kecil' yang berkaitan dengan organisasi tempat aktivitas saya sekarang.
Udah sedikit sharing dengan Lita tentang hal ini, karena saya dan Lita sama-sama akan melalui hidup baru,
yaitu punya anak yang 'sudah sekolah'!
Menemaninya menjelang tidur malam, kali ini saya suka cerita tentang gimana asyiknya sekolah.
Membuat dia senyam-senyum dan bersemangat untuk menjalani kehidupan barunya itu.
Entahlah besok dan seterusnya, apakah dia bisa konsisten dengan semangatnya yang menggebu..
Tadi malam, saya kira dia sudah tidur, taunya matanya sedang menerawang langit-langit kamar.
"Arif mikir apa?"
"Mikir sekolah..." jawabnya
"Mikir seneng atau mikir nggak seneng?" tanya saya agak tegang
"Seneng"
(Fffhhh..... saya lega)
"Kenapa seneng?"... dengan penasaran saya tunggu jawabannya
"Kan nanti jadinya Arif bisa nulis kecil-kecil...."
Saya senyum sendiri mendengar jawaban tak terduga itu....
Soalnya dia kalau nulis - hurufnya tidak bisa lebih pendek dari 5 cm, dan dia kecewa...
"Mi... kenapa Arif nulisnya besar-besar, nggak bisa kecil?"
"Karena Arif masih kecil, belum bisa"
"Oh, jadi kalau Arif kecil hurufnya besar, kalau Ummi besar hurufnya kecil?"
Ah, dunia anak memang ajaib...
Doakan ya kawan-kawan, ini anak yang mau mulai sekolah, malah umminya yang deg-degan...
Khawatir tidak bisa melalui fase penting ini dengan baik.
***
Duh, kacau deh...
Dalam seminggu ini pikiran saya penuh dengan perencanaan dan pemikiran dalam rangka menyiapkan Arif-ku sekolah besok.
Jadi boro-boro kepikiran tentang hal-hal 'kecil' yang berkaitan dengan organisasi tempat aktivitas saya sekarang.
Udah sedikit sharing dengan Lita tentang hal ini, karena saya dan Lita sama-sama akan melalui hidup baru,
yaitu punya anak yang 'sudah sekolah'!
Menemaninya menjelang tidur malam, kali ini saya suka cerita tentang gimana asyiknya sekolah.
Membuat dia senyam-senyum dan bersemangat untuk menjalani kehidupan barunya itu.
Entahlah besok dan seterusnya, apakah dia bisa konsisten dengan semangatnya yang menggebu..
Tadi malam, saya kira dia sudah tidur, taunya matanya sedang menerawang langit-langit kamar.
"Arif mikir apa?"
"Mikir sekolah..." jawabnya
"Mikir seneng atau mikir nggak seneng?" tanya saya agak tegang
"Seneng"
(Fffhhh..... saya lega)
"Kenapa seneng?"... dengan penasaran saya tunggu jawabannya
"Kan nanti jadinya Arif bisa nulis kecil-kecil...."
Saya senyum sendiri mendengar jawaban tak terduga itu....
Soalnya dia kalau nulis - hurufnya tidak bisa lebih pendek dari 5 cm, dan dia kecewa...
"Mi... kenapa Arif nulisnya besar-besar, nggak bisa kecil?"
"Karena Arif masih kecil, belum bisa"
"Oh, jadi kalau Arif kecil hurufnya besar, kalau Ummi besar hurufnya kecil?"
Ah, dunia anak memang ajaib...
Doakan ya kawan-kawan, ini anak yang mau mulai sekolah, malah umminya yang deg-degan...
Khawatir tidak bisa melalui fase penting ini dengan baik.
***
arsip ier 10 Juni 2006 - (sebelum ini jadi kasus besar)
=====
/Catatan Sabtu 10 Juni 2006/
Dapat telepon dari ***,dan sms dari *** kemarin malam, masih
berharap kalau yang mendapat cobaan berat ini bukan Kang Iman yang saya
kenal. Diminta menulis di milis pun saya nggak mau. Terlalu menyedihkan
bila yang ditinggal wafat oleh ketiga anaknya sekaligus adalah orang
yang saya kenal.
Tapi sms pagi tadi dari *** membuat saya terhenyak. Betul, Iman
Abdullah, seseorang yang cukup saya kenal dengan baik. Sms itupun
akhirnya harus saya baca ulang karena mata ini mendadak berair dan buram.
====
Berita ini adalah tamparan keras bagi saya yang seringkali melalaikan
amanahNya. Mungkin ini adalah sedikit sinyal dari-Nya, secercah jawaban
atas do'a-do'a saya selama ini yang memohon kesabaran dalam menghadapi
rewel dan manjanya anak-anak.
Seringkali saya tidak sabar, memakai cara instant agar anak menuruti
yang saya inginkan, entah dengan cara memarahi atau menghukum - dengan
cara dan bentuk yang saya sadari kekeliruannya.
Sementara pagi tadi saya cukup takjub melihat geliat anak-anak saya
bangun dan membuka matanya. Kemudian saya bisa memandikannya,
memakaikannya minyak telon, bedak, dan baju. Meminyaki dan menyisiri
rambut mereka, dan menciuminya kapan saja saya mau.
Alhamdulillah ya Allah, hamba masih diberi kesempatan ini.
Dan apa yang tejadi?
Ketika rasa syukur ini hadir dalam hati, maka tak terbetik sedikitpun
rasa tidak sabar yang biasanya muncul saat anak-anak saya mulai berulah
macam-macam untuk mencari perhatian.
Teori itu bisa jadi saya pahami saat membaca buku tentang mendidik anak,
atau beberapa kejadian yang telah berlalu yang membuat saya bisa
mengambil hikmah tentang syukur. Tapi mungkin karena kerasnya hati
inilah maka berkali-kali Allah harus mengingatkan saya lagi.
Semoga saya, dan yang lainnya bisa mengambil hikmah sebanyak-banyaknya
dari kejadian ini, dan semoga pemahaman kita bisa menjadi pola pikir dan
pola sikap istiqomah yang Allah ridho. Aamiin.
====
Dan mohon maaf, saya agak menyayangkan sikap keluarga Kang Iman yang
tidak mengizinkan jenazah putranya untuk diotopsi. Hal ini membuat saya
dan mungkin ribuan ibu-ibu lainnya menjadi bertanya-tanya, apa penyebab
kematian beruntun ketiga bocah ini. DB? Flu burung? Keracunan? Keracunan
apa? Demam, kemudian sudah minum obat.... apakah karena obat? Sebagai
farmasis saya cukup tersentil dengan adanya kata 'obat' dalam berita di
koran....
Berharap kejadian ini tidak terulang lagi menimpa bocah-bocah lainnya.
Malah tadi sore ketemu akhwat yang bekerja di Al Islam, menyatakan
adanya ciri lain pada tubuh ketiga bocah ini yang tidak terungkap di
media massa.
-ier-
Abu KR wrote:
> Innalillahi wa inna ilaihi raaji'uun...
> Turut berduka yg mendalam atas cobaan berat yg menimpa Kang Iman
> Abdullah dan Keluarga.
> Semoga Allah Swt memberikan kesabaran dan ketabahan untuk Kang Iman
> dan Keluarga.
> Sedih sekali membaca berita dan melihat foto Kang Iman memimpin shalat
> jenazah putra2 beliau di PR hari ini.
> http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/062006/10/0104.htm
>
>
> (Kang Iman GF-Ashkaf dan Mantan Ketua Mahasiswa Islam Fisika-ITB)
/Catatan Sabtu 10 Juni 2006/
Dapat telepon dari ***,dan sms dari *** kemarin malam, masih
berharap kalau yang mendapat cobaan berat ini bukan Kang Iman yang saya
kenal. Diminta menulis di milis pun saya nggak mau. Terlalu menyedihkan
bila yang ditinggal wafat oleh ketiga anaknya sekaligus adalah orang
yang saya kenal.
Tapi sms pagi tadi dari *** membuat saya terhenyak. Betul, Iman
Abdullah, seseorang yang cukup saya kenal dengan baik. Sms itupun
akhirnya harus saya baca ulang karena mata ini mendadak berair dan buram.
====
Berita ini adalah tamparan keras bagi saya yang seringkali melalaikan
amanahNya. Mungkin ini adalah sedikit sinyal dari-Nya, secercah jawaban
atas do'a-do'a saya selama ini yang memohon kesabaran dalam menghadapi
rewel dan manjanya anak-anak.
Seringkali saya tidak sabar, memakai cara instant agar anak menuruti
yang saya inginkan, entah dengan cara memarahi atau menghukum - dengan
cara dan bentuk yang saya sadari kekeliruannya.
Sementara pagi tadi saya cukup takjub melihat geliat anak-anak saya
bangun dan membuka matanya. Kemudian saya bisa memandikannya,
memakaikannya minyak telon, bedak, dan baju. Meminyaki dan menyisiri
rambut mereka, dan menciuminya kapan saja saya mau.
Alhamdulillah ya Allah, hamba masih diberi kesempatan ini.
Dan apa yang tejadi?
Ketika rasa syukur ini hadir dalam hati, maka tak terbetik sedikitpun
rasa tidak sabar yang biasanya muncul saat anak-anak saya mulai berulah
macam-macam untuk mencari perhatian.
Teori itu bisa jadi saya pahami saat membaca buku tentang mendidik anak,
atau beberapa kejadian yang telah berlalu yang membuat saya bisa
mengambil hikmah tentang syukur. Tapi mungkin karena kerasnya hati
inilah maka berkali-kali Allah harus mengingatkan saya lagi.
Semoga saya, dan yang lainnya bisa mengambil hikmah sebanyak-banyaknya
dari kejadian ini, dan semoga pemahaman kita bisa menjadi pola pikir dan
pola sikap istiqomah yang Allah ridho. Aamiin.
====
Dan mohon maaf, saya agak menyayangkan sikap keluarga Kang Iman yang
tidak mengizinkan jenazah putranya untuk diotopsi. Hal ini membuat saya
dan mungkin ribuan ibu-ibu lainnya menjadi bertanya-tanya, apa penyebab
kematian beruntun ketiga bocah ini. DB? Flu burung? Keracunan? Keracunan
apa? Demam, kemudian sudah minum obat.... apakah karena obat? Sebagai
farmasis saya cukup tersentil dengan adanya kata 'obat' dalam berita di
koran....
Berharap kejadian ini tidak terulang lagi menimpa bocah-bocah lainnya.
Malah tadi sore ketemu akhwat yang bekerja di Al Islam, menyatakan
adanya ciri lain pada tubuh ketiga bocah ini yang tidak terungkap di
media massa.
-ier-
Abu KR wrote:
> Innalillahi wa inna ilaihi raaji'uun...
> Turut berduka yg mendalam atas cobaan berat yg menimpa Kang Iman
> Abdullah dan Keluarga.
> Semoga Allah Swt memberikan kesabaran dan ketabahan untuk Kang Iman
> dan Keluarga.
> Sedih sekali membaca berita dan melihat foto Kang Iman memimpin shalat
> jenazah putra2 beliau di PR hari ini.
> http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/062006/10/0104.htm
>
>
> (Kang Iman GF-Ashkaf dan Mantan Ketua Mahasiswa Islam Fisika-ITB)
arsip ier 4 Mei 2005 - maling
Sedikit cerita, rumah saya ‘akhirnya’ kemasukan tamu tak diundang. Saya bilang ‘akhirnya’ karena tetangga depan dan asrama mahasiswa yang terhalang 1 rumah di sebelah, sudah kehilangan tape mobil dan tv dalam rentang waktu 1 bulan kemarin.
Alhamdulillah, ketika dia beraksi di rumah saya, keburu ketauan meskipun sudah berhasil mencongkel 2 jendela dan bisa masuk lewat pintu belakang.
Kejadiannya hari Ahad 1 Mei dini hari. Saya dan keluarga waktu itu tidak ada di rumah. Tetangga depan yang sudah tertimpa musibah, cukup waspada. Melihat ada orang mencurigakan mondar-mandir di depan rumah, dia langsung ngontak tetangga kiri kanan. Mungkin mendengar suara telepon berdering di rumah-rumah, orang yang berniat jahat tsb ambil langkah seribu sebelum sempat mengambil apa-apa.
Hp saya pun berdering, dikabari oleh tetangga bahwa rumah saya sudah dalam keadaan terbuka.
Perasaan saya campur aduk deh, terutama ingat sama komputer, barang yang relatif paling berharga di rumah. Tapi alhamdulillah semua terselamatkan.
Bersyukur sekali saya punya tetangga yang baik hati dan amat perhatian. Kami sekeluarga sangat berhutang budi kepada mereka. Alhamdulillah selama ini hubungan saya dan tetangga2 cukup baik, menyadari bahwa begitu banyak hak tetangga dan sikap kita terhadap tetangga yang telah gamblang disunnahkan oleh Rasulullah SAW. Dalam keadaan gawat darurat, siapa lagi orang yang paling cepat menolong kita selain tetangga?
Makanya buat ibu-ibu, jangan segan2 ikutan arisan, pengajian, sampai kegiatan posyandu di lingkungan kita,, di mana acara2 tersebut bisa menjembatani silaturahmi kita dengan tetangga. Kiriman makanan, sesedikit apa pun bisa menjadi perekat jiwa. Kalo ketemu jangan lupa salam, senyum, dan sapa. Kalau punya tetangga yang baik sama kita, rumah kecil pun akan terasa sangat luas.
Pernah saya dapat kiriman dari tetangga, satu mangkuk kecil bubur kunyit pake santan, “Teteh, ieu kangge Arif (anak saya), punten mung saalit”- Wuih…Kiriman yang secara kuantitas teramat kecil itu ternyata luar biasa besarnya di hati saya.
-----------
Besok saya meninggalkan rumah lagi. Kali ini sudah direncanakan untuk pasang jebakan-jebakan, walau tidak seheboh di home alone, tapi asyik juga jadinya. Tentu saja mudah-mudahan nggak lupa berdo’a, nitip rumah sama Yang Maha Menjaga.
***
Alhamdulillah, ketika dia beraksi di rumah saya, keburu ketauan meskipun sudah berhasil mencongkel 2 jendela dan bisa masuk lewat pintu belakang.
Kejadiannya hari Ahad 1 Mei dini hari. Saya dan keluarga waktu itu tidak ada di rumah. Tetangga depan yang sudah tertimpa musibah, cukup waspada. Melihat ada orang mencurigakan mondar-mandir di depan rumah, dia langsung ngontak tetangga kiri kanan. Mungkin mendengar suara telepon berdering di rumah-rumah, orang yang berniat jahat tsb ambil langkah seribu sebelum sempat mengambil apa-apa.
Hp saya pun berdering, dikabari oleh tetangga bahwa rumah saya sudah dalam keadaan terbuka.
Perasaan saya campur aduk deh, terutama ingat sama komputer, barang yang relatif paling berharga di rumah. Tapi alhamdulillah semua terselamatkan.
Bersyukur sekali saya punya tetangga yang baik hati dan amat perhatian. Kami sekeluarga sangat berhutang budi kepada mereka. Alhamdulillah selama ini hubungan saya dan tetangga2 cukup baik, menyadari bahwa begitu banyak hak tetangga dan sikap kita terhadap tetangga yang telah gamblang disunnahkan oleh Rasulullah SAW. Dalam keadaan gawat darurat, siapa lagi orang yang paling cepat menolong kita selain tetangga?
Makanya buat ibu-ibu, jangan segan2 ikutan arisan, pengajian, sampai kegiatan posyandu di lingkungan kita,, di mana acara2 tersebut bisa menjembatani silaturahmi kita dengan tetangga. Kiriman makanan, sesedikit apa pun bisa menjadi perekat jiwa. Kalo ketemu jangan lupa salam, senyum, dan sapa. Kalau punya tetangga yang baik sama kita, rumah kecil pun akan terasa sangat luas.
Pernah saya dapat kiriman dari tetangga, satu mangkuk kecil bubur kunyit pake santan, “Teteh, ieu kangge Arif (anak saya), punten mung saalit”- Wuih…Kiriman yang secara kuantitas teramat kecil itu ternyata luar biasa besarnya di hati saya.
-----------
Besok saya meninggalkan rumah lagi. Kali ini sudah direncanakan untuk pasang jebakan-jebakan, walau tidak seheboh di home alone, tapi asyik juga jadinya. Tentu saja mudah-mudahan nggak lupa berdo’a, nitip rumah sama Yang Maha Menjaga.
***
Kamis, 18 Desember 2008
arsip ier 23 Maret 2005 - curat coret
Ambillah kertas dan pena.
Buatlah sekedar corat coret….
Menjernihkan pikiran lagi, biar nggak semua jadi disalahkan.
Padahal yang salah adalah diri sendiri.
Yang udah keluar dari jalur tujuan hidup.
Yang udah nggak konsisten lagi dengan disiplin diri.
Yang udah nggak lurus niat lagi.
Coba corat coret lagi.
Sekedar membereskan diri.
Biar nggak ada yang jadi korban dari berantakannya diri ini.
Corat coret lagi.
Untuk menyusun langkah esok hari.
Biar kembali dalam koridor yang benar.
Luangkan waktu sedikit saja.
Untuk sekedar corat coret.
Menerjemahkan aqidah dalam setiap langkah.
Biar rasa lelah ini menjadi berarti.
***
Buatlah sekedar corat coret….
Menjernihkan pikiran lagi, biar nggak semua jadi disalahkan.
Padahal yang salah adalah diri sendiri.
Yang udah keluar dari jalur tujuan hidup.
Yang udah nggak konsisten lagi dengan disiplin diri.
Yang udah nggak lurus niat lagi.
Coba corat coret lagi.
Sekedar membereskan diri.
Biar nggak ada yang jadi korban dari berantakannya diri ini.
Corat coret lagi.
Untuk menyusun langkah esok hari.
Biar kembali dalam koridor yang benar.
Luangkan waktu sedikit saja.
Untuk sekedar corat coret.
Menerjemahkan aqidah dalam setiap langkah.
Biar rasa lelah ini menjadi berarti.
***
Langganan:
Postingan (Atom)

