Tampilkan postingan dengan label ngacaprak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ngacaprak. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Desember 2010

hidup adalah pilihan (2)

Tulisan sebelumnya: hidup adalah pilihan

*dengan backsound Iwan Fals : "jangan pernah memilih.... aku bukan pilihan... aku lelaki bukan tuk dipilih... "

Hahaha... kenapa harus lagu ini yang diputar di Delta FM, saat saya menulis dengan tema Hidup adalah Pilihan?

OOT, Delta adalah stasiun radio pilihan saya terutama sejak jam 5 pagi sampai jam 12 siang. Ya barangkali stasiun itu pas aja dengan usia saya yang sudah kepala tiga, plus gak sholeh-sholeh teuing, jadinya gak manteng di radio Islami.
Juga terutama karena ada Farhan, Shahnaz Haq, dan Gilang Pambudi yang cerdas tapi lucu. Lucunya gak garing, gak alay. walau yeahhh.. ada juga ngeresnya.. Heuheu.. Bagian ngeresnya mah saya senyum-senyum aja. Ngarti. Udah nikah ini. Suami juga ada setiap malam. Gak penasaran. Dan jam segitu aman, gak ada Arif Sofi di rumah, jadi gak ikut denger.

Sedang ada di tengah pikiran yang pabaliut. Pikiran yang datang dengan sendirinya, yang barangkali diinisiasi oleh curhat telpon seorang sahabat tadi pagi sampai chat di siang bolong ini. Jadi aja pikiran saya ke mana-mana.

Kadang heran, kenapa saya tidak seperti teman-teman yang masalahnya berat-berat.
Orang tua cerai, bertengkar dengan suami, suami kurang ajarrrr @#$%!!!, punya anak nakal, susah jodoh, ditinggal kawin, dililit utang puluhan juta....
Apakah itu akibat dari pilihan mereka sendiri? Mereka salah pilih? Salah memutuskan? Sementara pilihan saya semua benar?

Saya seringkali pusing bila diajak diskusi dan mengkaji bagaimana peran kuasanya Allah dalam hidup kita. Muntah dah kalo udah harus berfikir sufistik.

Seperti Arif yang pernah bertanya,
kenapa seseorang yang dia sayangi, belum masuk Islam.
Saya bilang, beliau belum diberi hidayah sama Allah.

Hidayah itu apa? tanya Arif lagi.
Hidayah itu kemampuan orang buat mikir mana yang benar, terus mau melakukannya.

Jadi.. sebenernya kita yang mikir atau Allah yang mikir? Arif mencecar.
Kita yang mikir, berusaha belajar,... dan masalah jadi tau atau tidak, jadi benar atau tidak, itu Allah yang menentukan..

Halaaaaaaah... ngarti nteu nya si Arif? Dia gak nanya lagi sih.

Tapi memang pertanyaan terakhir dari Arif bener-bener dalem. Apakah kita yang memilih? Atau menunggu untuk dipilihkan? Hmmmmmmmm.... hm yang panjang, teman. Pertanda mikirnya gak bisa asal.

Bukan kapasitas blog saya untuk membahas hal ini, bisi blognya error siga kamari-kamari. Mangga direnungkan dan dikaji masing-masing saja ya.

Yang jelas, bila saya diberi-Nya damai dan penuh cinta, adalah tugas saya untuk membagi kedamaian ini pada yang lain. Adalah kewajiban saya untuk bersyukur. Kewajiban saya untuk segala yang baik ini membawa kebaikan bagi semua. Dan itu adalah sinyal bahwa saya harus memikirkan dan melakukan hal-hal lain yang bermanfaat, yang tidak sempat terpikirkan oleh kebanyakan orang 'bermasalah', yang memikirkan diri sendiri saja sudah pusing tujuh keliling, boro-boro mikirin kemaslahatan umat.

Tentu saja bukan saya tak punya masalah. Toh mata saya juga sering mengeluarkan air mata. Tapi terasa bahwa masalah saya tak ada artinya dibanding masalah teman-teman semua. Atau saya memang tipikal orang sunda asli yang tidak suka tantangan dan mudah sekali bersyukur? Hehe.. itu mah kata teman saya yang orang Arab tulen.. (peace, Nay!) :P

Yu lah kalau mau bersenang-senang mah sama saya saja yu.
I'm easy like sunday morning... wow wow woooow....

Ya Allah, semoga orang 'tanpa masalah' seperti hamba ini tidak berarti hamba tak layak masuk syurga-Mu...
Haruskah saya cari masalah biar dapat soal ujian, terus dapat nilai tinggi dan masuk syurga? Enggak kan ya....
Toh sekali lagi, hidup adalah pilihan, sehingga setiap waktu pun saya sebetulnya sedang mengerjakan soal pilihan ganda itu. Bisa jadi gak kerasa sebagai ujian karena gue kaga' mikir... hahahah..

Biar saya kutip aja komen seorang teman saya, Tri Astuti, di status saya beberapa waktu lalu:

Irma mintalah pada Allah untuk dikuatkan pundakmu untuk menghadapi segala masalah. Karena masalah adalah sarapan buat orang biar tambah hebat. Kalo masalahnya ringan2 aja gak seru..Tenang aja dunia ini cuma permainan dan senda gurau saja.

Two thumbs up buat Astut... gak heran kalau kamu jadi pengusaha sukses seperti sekarang
***

Kamis, 02 Desember 2010

hidup adalah pilihan

***
Kenapa saya memutuskan detik ini menulis? Karena saya memilih untuk menulis. Duduk manis di depan laptop, dan memutuskan untuk menunda saja pekerjaan menyapu dan mengepel. Bahkan mestinya saya memasak, saudara! Tapi ya begitulah. Hati dan pikiran saya sedang ingin menulis, dan tampaknya perlu segera disalurkan.

Resikonya saya tau, setelah saya posting blog, saya tidak bisa tidur siang. Saya harus .. minimal masak. Nyapu ngepel mah keun we sakasampeurna. Ngeres saeutik mah teu nanaon lah, asal ulah ngeres hate.

Setiap pilihan pasti ada konsekuensinya.
Setiap kita memutuskan sebuah pilihan, maka kita harus sadar apa akibatnya.
Dari hal-hal kecil seperti milih baju yang akan dipakai, sampai hal besar seperti memutuskan untuk menerima seorang lelaki sebagai pendamping hidup kita.

Memilih bisa jadi bukan suatu proses yang rumit, ketika kita sudah punya pendirian, sudah mengenali diri, dan sudah memiliki pola pikir yang jelas.
Contohnya saja dalam hal memilih kerudung di toko. Dari sekian banyak model, ada yang dengan begitu saja tidak kita lihat lagi. Paling pada akhirnya tinggal 2 atau 3 model pilihan yang salah satunya kita putuskan untuk membelinya.
Itu karena kita sudah mengenali diri, bahwa kita tidak akan pantas memakai kerudung yang di rak sana dan rak sana. Saya cocoknya pake kerudung yang di rak ini saja.

Bukan sesuatu yang rumit untuk menyisihkan sesuatu yang memang kita tahu tak pantas untuk kita.

Sekolah lagi Ier?
Kalo ditanya kayak gitu... saya langsung bilang TIDAK.
Kenapa?
Ya saya tau diri.. heheh.

Entah karena hidup saya yang memang diberi-Nya damai tanpa gejolak yang berarti, atau karena saya memang sudah kenal diri, sehingga saya jarang sekali dihadapkan pada pilihan yang sulit. Begitu mudah untuk memutuskan sesuatu berdasarkan apa yang saya faham. Atau bisa jadi karena pilihan yang tersodor memang bukan suatu bandingan. Rasanya tidak sesulit pilihan ganda, tapi hanya soal benar atau salah saja, (yang belum tentu juga lebih mudah ya?)

Dan memang dengan adanya suami, proses memilih inipun jadi lebih mudah lagi. Seperti halnya soal ujian yang dikerjakan bareng, pasti jauh lebih mudah dan tenang daripada dikerjakan sendiri.
Enaknya istri kan begini... tinggal tanya suami, kemudian pasrah dan nurut saja dengan jawabannya, maka pahala berlipatlah hadiahnya buat kita.

Hihi.. iya ya, dipikir-pikir sering banget saya tanya suami,
"Pah.. boleh gak?"
"Pah.. kata papah mending gimana?"

Udah gitu saya tinggal diem.. suami yang berpikir keras, dan mengeluarkan jawaban, terus saya nurut. Asiknya :))

Begini barangkali ya enaknya punya suami yang bisa kita percaya lahir dan batinnya. *Gak nyesel memutuskan memilih dia.. gyahaha... alhamduliLlah.. :)

Dalam hal pilihan ini, saya berharap semoga saya tidak pernah dihadapkan pada pilihan sulit hingga tak ada lagi yang bisa saya pilih kecuali berbuat dosa.
Hikkkkksss... mestinya tak ada pilihan seperti itu, karena mestinya saya memilih mati ya daripada menentang-Nya? Toh mati pun adalah pilihan.

Kalau saya mati karena rindu gimana?
Halaaaaaaaaaaaaaaaaaaah.... hahaha...
dangdut eta mah..wew

***

Kamis, 04 November 2010

benar, memang sulit untuk ikhlas

***

Ngaku-ngakunya aja ternyata ya, kalau saya bisa bersahabat dengan tulus, mencintai dengan tulus, bahagia atas kebahagiaan orang lain, bisa berempati, dan sebagainya.

Ternyata sekalinya saya tidak mendapatkan balasan perhatian, saya kecewa.
Sekalinya kepedulian saya dianggap mengganggu, saya kecewa.
Ketika ada dan tidak adanya saya sama saja, saya kecewa.
Saat tidak adanya saya bahkan membuat gembira, saya kecewa.
Saat kehadiran saya dianggap membuat rusak suasana, saya kecewa.

Pertanyakanlah kembali keikhlasanmu dalam bersahabat Ier, bila ternyata kekecewaan itu ternyata masih ada di hatimu.
Jangan menuntut banyak pada orang lain.
Limpahkan saja cintamu dan tak perlulah kau lihat apa balasannya.

Berharap pada makhluk memang sangat melelahkan.
Hanya cinta pada Sang Khalik yang layak kita harapkan.

Cintailah mereka karena dirimu berharap cinta-Nya.
Itulah ikhlas.

Nulisnya aja nih yang gampang

***

Selasa, 02 November 2010

sungguh ini menyebalkan

***
Sedang punya pikiran sesat... materialistis...nyebelin.
Kayaknya orang tu' suka ya jadi temennya orang cantik, kaya, dan cerdas?
Sementara saya merasa tidak memiliki semua itu ... HIKS !!!! (gak sampai hati untuk bilang SIAL !!! )

Cantik? Enggak !!
Kaya? Enggak !!
Cerdas? Enggak !!

Itu, jawaban ENGGAK itu.. sungguh jawaban dari hati terdalam.. bukan basa-basi ..

Huuuuu.. maafkan teman, kalau saya tidak memiliki apa yang kalian mau.

Entah pikiran ini datang dari mana. Barangkali karena saya punya ekspektasi yang tinggi terhadap arti saya sebagai seorang sahabat.

Saya ingin cantik... biar sahabat-sahabat saya nyaman mata melihat saya. Ngeliat yang cantik atau ganteng kan belum apa-apa udah bikin orang bahagia dan tenang hati.

Saya ingin kaya... biar sahabat-sahabat saya nanti saya traktir semua tanpa kecuali. Beliin coklat tiap ketemu. Kasih hadiah dengan apa yang mereka mau. Gak usah pinjem duit, saya kasih aja nih... Perlu berapa sih??

Saya ingin cerdas.. biar kalo sahabat-sahabat saya punya kesulitan, buntu pikiran, saya bisa cari jalan keluarnya dengan tepat, seratus persen menyenangkan dan membantu keluar dari segala kesulitannya.

Tapi kalo dikembalikan lagi kepada diri sendiri...
Saya ingin punya sahabat seperti apa?

Ternyata keinginan saya cuma satu.
Saya ingin sahabat itu selalu hadir saat saya perlu ataupun tidak. Menemani saya saat susah maupun senang.

Itu saja....

Gak peduli dia punya harta sebanyak apa, cerdas apa oon, punya kecantikan atau kegantengan yang menawan maupun sebaliknya ...

Jadi...
sahabat macam apa saya?????

SAYA INI LAYAK JADI SAHABAT GAK SIH BUAT KALIAN ??????

----- ihhhh.. nyebelin ya tulisan ini? Iya ..
----- ihhhh.. Ier ngebosenin ya orangnya? Iya..
----- ihhhh.. mending cari temen lain aja yu yang asik? Yuuuu

***

Selasa, 12 Oktober 2010

tiap ibu beda gaya

***
Stress kalo ngebandingin saya dan mamah. Secara posisi kami saat ini sama. Sebagai ibu rumah tangga. Tapi bagaimanapun saya beda. Saya senang menulis, mamah enggak. Saya senang chatting dan fesbukan, mamah enggak. Otomatis seluruh aktivitasnya dari dini hari hingga malam hanya untuk rumah rumah dan rumah.

Seandainya saya punya pembantu ya.. barangkali saya punya lebih banyak waktu buat menulis. Tapi kebetulan saya adalah orang yang gampang stress kalo ada pembantu di rumah. Gak percayaan, merasa urusan rumah tangga saya dicampuri orang lain, jadi malah kepikiran. Jadi ya mending gak usah aja. Kecuali kalo punya bayi lagi kali.

Hua... lagi pusing aja ini ngatur waktu. Pengen segalanya jalan sesuai rencana. Dan sungguh banyak yang ingin saya tulis. Tapi tiap menulis, selalu tidak fokus. Kalo saya nulis terpotong potong, malah garing pas mau diterbitin karena kelamaan, keburu basi. Hiyyaaa.....

***

Kamis, 30 September 2010

rindu menulis

***
Rindu menulis, rindu menggerakkan jari ini di atas keyboard. Itu saja motivasi saya menulis kali ini. Khawatir kemampuan saya mengetik sepuluh jari luruh. Khawatir gak bisa lagi melepas penat dengan menulis dan mengucapkan do'a-do'a dan harapan saya di blog ini.

Buku yang di antara bab-nya memuat tulisan saya, rupanya telah terbit. Peduli amat.. haha.. Tujuan saya menulis bukan untuk diterbitkan, apalagi untuk dapat duit. Pure hanya untuk melepas beban hati saja. Laku sukur, gak laku biarin aja.

Ke depannya mudah-mudahan bisa lebih sering lagi menulis. Menulis apa saja, dan tentu saja tak sekedar update status. Semoga bermanfaat untuk saya sendiri. Dan semoga Allah ridha.

***

Jumat, 20 Agustus 2010

ada dirimu dalam do'aku

***
Baru nyadar (sedikit), ternyata mendo'akan orang lain jauh lebih nikmat daripada berdo'a untuk diri sendiri.

Entah angin dari mana yang membuat saya malam ini ba'da shalat bisa komat-kamit mendo'akan orang lain. Dan entah kenapa pula tiba-tiba bulir-bulir air mata deras banget mengalir saat saya menyebutkan satu persatu orang yang saya cintai.
Mungkin karena hujan deras.. malam sepi.. dan Ramadhan yang mau gimana-gimana juga suasananya sejuk di hati..

dooh..nangis lagi deh nih...

Tentu saja takkan saya sebutkan siapa saja yang saya do'akan dan apa do'a saya untuk mereka. Biarlah Allah dan para malaikatNya mencatat, karena saya ingin do'a saya barusan diaminkan oleh para malaikat, hingga insyaa Allah terkabul... seperti apa yang disebutkan dalam hadits... (mm.. belum nemu teks haditsnya nih)

yang jelas, dalam sebuah link, disebutkan bahwa
.... hanya saja satu batasan yang disebutkan dalam hadits -agar malaikat meng’amin’kan- adalah saudara kita itu tidak mengetahui kalau kita sedang mendoakan kebaikan untuknya. Jika dia mengetahui bahwa dirinya didoakan maka lahiriah hadits menunjukkan malaikat tidak meng’amin’kan, walaupun tetap saja orang yang berdoa mendapatkan keutamaan karena telah mendoakan saudaranya. Hanya saja kita mendoakannya tanpa sepengetahuannya lebih menjaga keikhlasan dan lebih berpengaruh dalam kasih sayang dan kecintaan....


Heu.. dengan menuliskan ini pun mudah-mudahan tidak jadi 'pembatal amin'-nya para malaikat, soalnya pan mestinya cuma saya dan Allah yang tau kalau saya udah mendo'akan ya? Ari saya kalahka bilang-bilang...

Iya deh lain kali kalo ngedo'ain orang lain lagi saya gak akan bilang-bilang.
Ini mah... sekali iniiii ajah..


Eits..naha jadi seuri?.. dasar geje.

***

Jumat, 18 Juni 2010

saya menulis

***
Tertarik dengan buku-buku terbitan Lingkar Pena asuhan Mbak Asma Nadia, maka saya pun melengkapi koleksinya. Hingga akhirnya saya sampai ke salah satu bukunya yang berjudul "muhasabah cinta seorang istri". Judul itu satu-satunya dari sekian buku yang pernah saya baca yang menurut saya agak mengecewakan. Tema yang diangkat di setiap babnya terlalu 'biasa' dengan gaya penulisan yang biasa pula. Biasa dalam buku itu artinya tentu saja jauh lebih hebat dari seluruh tulisan saya di blog ini.
Hanya saja untuk diterbitkan sebagai sebuah buku, saya sebagai pembaca agak menyesal membelinya.

Tak apalah.. setidaknya dari buku itu saya bisa ambil hikmahnya walau agak jauh. "muhasabah cinta seorang istri" berisi tulisan-tulisan para wanita muda, mapan, berpendidikan, dan beranak satu atau dua saja, yang punya kesempatan dan kemampuan menulis, menceritakan pengalaman 'indah'nya.

Gak apa-apa kan? ..iya gak apa-apa...

Cuma saya ko jadi inget temen-temenku yang dikaruniai kemampuan dan keikhlasan untuk punya anak banyak, tapi terpendam di rumahnya tanpa sempat akses jejaring sosial manapun. Entah karena tak punya fasilitas, ataupun memang gak kepikiran.
Ataupun kebalikannya.. yang sibukkk bekerja di luar rumah pergi pagi pulang petang tanpa sempat berlama-lama dengan putra-putrinya, apalagi menulis.
Atauuuuu... yang sedang stress karena tak kunjung dikaruniai anak... tapi tetep dia gak bisa nulis juga.

Saya merasa kalau setiap wanita itu butuh bercerita dan/atau mendengarkan cerita orang lain. Karena jadi perempuan itu bisa dibilang stressnya luar biasa kalau dipendam sendiri. Beban banyak peran yang mengharuskan dia multiasking dan multitasking. Capeeeee...

Ya kalaupun dia gak bisa cerita, baik menulis maupun ngobrol, mungkin keimanan yang tinggilah yang membuat dia bisa survive, sehingga dia telah sampai pada kenikmatan mengadu pada-Nya.
Saya? belum bisa seperti itu.

Bersyukur saya mungkin jadi salah satu wanita yang seperti tadi saya bilang, kategori wanita yang punya cukup fasilitas, kemauan (entah kalau kemampuan) untuk menulis, dan punya kesempatan untuk itu.
Walau sekalinya menulis, tak urung beberapa tugas lain tak bisa saya selesaikan dengan baik. Habis menulis rasanya legaaaaa... kalo terlalu narsis ya saya simpan di blog ini saja. Tapi kalo cukup lucu dan bermakna, ya bole de share di ef be ..

Khas tulisan saya (kata orang) adalah menghibur. Kocak. Bikin ngakak.

Fyuhhhh... barangkali saking kosongnya otak saya sampai saya gak bisa nulis yang ilmiah dikiiiittt aja, yang bikin orang jadi tau dan mikir gitu. Bukannya cuma ngakak. Katanya lulusan SMA 3 Buandduuungg, plus bergelar sarjana I Te Bueee, tapi ya kok tulisan gitu-gitu doang.

Waktu SMP, bikin tulisan di mading... ehhh.. temen-temen pada senyam senyum.
Gak jauh juga waktu SMA nulis di mading, majalah sekolah, majalah DKM, sampe ke buletin kelas... masih juga bikin ketawa ketiwi temen-temen.
Parahnya pas jadi aktivis salman dan notabene kuliah di ITB, saya nulis di bukom karisma, dan buletin karisma salman, ... weleeeeh.. pada ngakak juga tu orang-orang.

Dan di jaman fesbukan geneeeee... ada yang iseng ngeYM saya: "Teteh, status teteh lucu-lucu ihhh.. pengen ketawa aja bacanya"
Beu.. cik atuh sekali-kali ada yang bilang tulisan saya menyentuh, sarat hikmah, dan mengharukan... wkwkwk...

Ya sudahlah, barangkali kapasitas tulisan saya memang buat jadi lawakan aja..
Karena memang buat saya hidup itu kalo dilihat-lihat ya kok banyak lucunya. Saya seneng aja kalo orang bisa lihat sisi sisi lucu dari hidup ini.. halah.

Menulis juga buat saya adalah rekaman kehidupan saya dan orang-orang di sekitar saya. Membaca tulisan-tulisan saya di masa lalu sama menyenangkannya dengan melihat foto-foto kenangan.
Selalu ingat perasaan saya saat itu, settingnya, para pelakunya, dan diam-diam saya pun terkikik-kikik sendiri. Pengalaman kacrut bikin saya malu. Perasaan mellow meledak-ledak yang bikin saya mesem-mesem sendiri. Dan tak lupa juga hikmahnya yang sering tak terungkap di tulisan atau foto itu sendiri.

Ikut latihan kepenulisan? Udah daftar. Pelaksanaannya besok. Dan ikutan yang biasa aja, 50 ribu rupiah untuk beberapa jam. Bukan pelatihannya Asma Nadia yang 350ribu.

Tujuannya dua: membuat saya semakin semangat menulis, dan ingin tau bagaimana caranya nembus penerbit.
Jadi penulis dan tulisannya diterbitkan?
dibaca publik?
siapa yang gak mau. Apalagi kalau memang dapet duitnya, honor menulis.
Jadi inget ada satu-satunya.. sekali-kalinya... tulisan saya diterbitkan oleh PR kecil, dapet duit 25rebu jaman SMP... seneeeeeng pisan.

Tapi itu bukan .. sama sekali bukan tujuan utama saya menulis selama ini.

Gak kebayang kalau tulisan saya dikasih deadline, dan saya harus mengungkapkan hal-hal 'bermutu' agar layak dibaca, yang barangkali tidak se'mutu' saya sendiri pada aslinya.. hahaha..

***

Selasa, 27 April 2010

diremove...

***
FBku ternyata diremove sama .. sama.. "mantan" (?????)
Padahal gak pernah ngapa-ngapain.. nyapa gak pernah ngomen gak pernah..
Heu... kenapa oh kenapa...
Biarin aja deh, semoga bukan karena dia membenciku.
Tapi karena sebaliknya..
------------------------------- nah loh!
***

Minggu, 25 April 2010

jadi diri sendiri

***
Semoga saya tak pernah terbebani untuk menjadi sosok yang bukan saya.
Menjadi diri sendiri memang membuat hidup ini tanpa beban.
Bilang saja dengan cara yang baik, maka orang akan segera mengerti tanpa menyisakan prasangka.
Semelenceng-melencengnya niat, kadang saya hanya ingin jadi sosok yang tak mudah dilupakan orang.

Dan semoga dirimu tak pernah lupakan aku...

***

nyemangati diri

caranya biasanya dengan:

1. Nyusun rencana seminggu ke depan
2. Ngobrol sama orang yang keliatannya lagi semangat 'tanya kenapa'
3. Baca buku yang oke
4. Yang penting bergerak ngelakuin sesuatu, gak banyak ngelamun
5. Melupakan -sesuatu- *ini yang paling susah
6. Berdo'a

***

Senin, 22 Maret 2010

ternyata ngarep anak ketiga itu....

... antara mau dan tidak, apalagi udah punya anak laki-laki dan perempuan.
Sibuk meluruskan niat... untuk apa saya punya anak lebih dari dua.
Berbagai kekhawatiran muncul.. tapi bisa ditepis dengan optimis pada do'a.

Semuanya belum pasti kok... cuma sampai hari ini, saya masih belum dapet juga ..
heu..heu.. berani pake testpack gak yaa besok pagi??

Berharap yang terbaik saja dari-Nya.
Minta perlindungan, pertolongan, cinta, dan sayang-Nya saja atas apapun yang terjadi.

***

Sabtu, 06 Februari 2010

>>>>

****
Kenapa saat ini saya merasa bisa membaca jalan pikirannya ya?
Merasakan apa yang dirasakannya
Memikirkan apa yang dipikirkannya
Hiiiiyyyy... jadi takutttt....

****

-menitipkan dirinya padaMu-

Saya tau beres sajalah, ya Allah?
Karena sesungguhnya hanya Engkau yang mengerti dirinya...
saya cuma sotoy ajaah.....heuheu...

****

labil

***
18.30
Hari ini sedang merasa labil
Mudah tersulut, mudah lelah hanya karena hal-hal kecil
Biasanya ada sesuatu yang mesti dibereskan
atau ada amanah yang belum saya tunaikan

Mesti saya urai benang kusutnya malam ini
barangkali mesti dimulai dengan sesuatu yang bikin segar fisik dan pikiran
Hmmmm...
Mandi? hehe.. mungkin juga..
rasanya penat, memang karena lupa mandi sore

Setelah itu mesti saya ambil bolpen dan agenda corat-coret saya
yang penuh dengan rencana dan target
yang kadang hanya sebagian yang saya tunaikan
tak apalah
yang penting saya bisa melihat apa yang jadi masalah saya di atas selembar kertas
memetakan sesuatu yang membuat kepala saya terasa berat sore ini

Dimulai dengan mandi dulu?
okay

19.00
sudah mandinya..
sekarang...
dandan dulu lah...
sedikit aromaterapi mungkin..hehe.. dengan Lancome Parfume from Paris.
Oleh-oleh dari sang suami tercinta
Oya.. suamiku malam ini ada keperluan di luar
saya cuma bertiga sama anak-anak
Yang masing-masing dengan keasyikannya sendiri-sendiri
.............
sekarang saya cari dulu agendanya
dan mulai menulis di sana

Dimulai dengan penyusunan agenda besar yang akan saya lakukan mulai besok hingga sabtu depan
.............
Heu.. ternyata ada enam agenda besar !!!
Mungkin memang tidak harus selesai pekan ini.
Tapi apa yang akan saya lakukan akan mengarah ke sana...

wooh.. sahabat saya online.. janjian ym.
buyar dah.

***

Minggu, 31 Januari 2010

atur jadwal

***
Senangnya hari Minggu saat berbenah dan mengatur jadwal baru.
Kesibukan tidak terlalu padat di pekan depan. Tapi akan padat bila kita gak cerdas ngatur waktunya. Jangan sampe urusan runyam, karena menunda pekerjaan, lupa naruh barang, atau gak tepat waktu.
Sebagai istri yang urusan anak sampe mobil, SPP sampe lauk nasi, ngepel sampe nyuci, dipercayakan sepenuhnya oleh suami, ya saya musti amanah dong.

Terdengar sederhana tapi ternyata semuanya butuh kecerdasan emosi maupun kecerdasan intelektual untuk menjalaninya tanpa menzhalimi siapapun. Gimana caranya biar hubungan baik dengan tetangga tetap terjalin, siap jadi wakil suami di manapun, gimana juga silaturahim dengan keluarga tetap terjaga.

Ah, sampai sampai... apapun posting seorang istri di dunia maya, mesti juga dijaga.
Apapun yang dikatakan istri, suami biasanya kena pujiannya ataupun kena batunya.
Sampai saat ini suami saya sudah jadi 'pakaian' yang baik untuk saya. Dan sebaliknya, saya juga mesti jadi 'pakaian' yang baik bagi suami saya.
Mestinya... semoga.

Berencana dengan matang, dan lakukanlah dengan cerdas.
Itulah gunanya saya punya pendidikan tinggi.
***

Sabtu, 30 Januari 2010

mati kutu

***
Gilirannya nulis sekarang saya kok mati kutu.
Lagi senang kerja dan ngomong kali ya (dan pasang status secara lebay)
jadi weh...

Hmm. tapi bener.. saya sekarang lagi senang kerja.
Workaholic.
***

Minggu, 27 Desember 2009

wekekeke....

***

Ketawa di malam buta begini... sakit perut biar ketawanya gak ngakak....
gara-gara bergosip sementara suami-suami kami tidur dan anak-anak kami di rumah kakek neneknya.....
gyahahahaha....gosip positip yu nou !!

--
Allah.. Ya Rahman Ya Rahiim...
Betapa semua sudah jadi takdir dari Mu,
memberikan sahabat-sahabat yang baik untuk saya =)

Semoga saya diberi kekuatan untuk menjalani semuanya,
tak ada yang perlu ditakutkan, dengan hadir-Mu
dan orang-orang yang kaudekatkan padaku ini.

-semakin semangat menjalani 2010-
semangat gigi empat-
ngebut coy!!! jyihhaa.... :)

***

Hmm.. tapi sebuah gantungan kunci keledai Eeyore mengingatkanku pada Sofi.
Eeyore, sahabat Winnie the Pooh.. yang baru saya belikan tadi siang saat jalan-jalan berdua dengan suamiku. Nanti biar jadi surprise buat Sofi saat pulang ke rumah.

Ke mana saja saya berjalan di area pertokoan, yang saya cari jadinya cuma satu: segala yang ada hubungannya dengan Winnie the Pooh.
Suamiku juga ikut-ikutan. Dia kemarin sempat belanja produk tertentu seharga lebih dari tiga puluh lima ribu rupiah demi mendapatkan sebuah mug Winnie.
Keluarga ini sedang demam Winnie....

Huks.. kangen anak-anak jadinya.... =(



***

Sabtu, 26 Desember 2009

ngapain ketemu...

***

Gak banyak waktu saya untuk menulis berpanjang-panjang saat ini. Sibuk? Iya, masih sibuk. Menyelesaikan segala administrasi akhir tahun, sampai akhirnya mudah-mudahan saya bisa bernafas lega 1 Januari 2010 nanti.

Hanya saja hari ini saya menyempatkan silaturahmi pada beberapa orang teman, dan sempat YM-an juga dengan seorang sahabat. Cukup lama dan panjang.
Hmm.. dari pertemuan di dunia nyata dan maya itu setitik membuat saya tersadar akan manfaat saya bagi orang lain.
Entah apakah saya bisa seperti mereka yang bisa membuat saya sebagai orang yang menemuinya, sejuk hati.

Tentu saja saya tetap akan jadi saya yang seperti ini. Tak terbersit pemikiran untuk berubah menjadi seorang yang bergaya kalem dan pendiam serta ucapannya sarat hikmah.
Xixi.. seluruh dunia bisa menatap saya dengan heran kalo saya jadi gitu.

Ah, sebelum saya berpikir bagaimana saya menebar manfaat kepada orang lain, di posting ini saya hanya ingin mensyukuri saja kalau saya punya teman-teman yang begitu menyenangkan. Begitu memperhatikan apa yang saya butuhkan. Bisa saya kontak 24 jam hanya untuk melampiaskan kesedihan, dan seketika itu juga bisa membuat saya tertawa terbahak-bahak.

Dan baru saja suami saya berbicara tentang cinta.

Hihi..getek.

Katanya sekarang banyak orang yang bingung mengartikan cinta. Kaditu bogoh kadieu bogoh tungtungna teu kawin-kawin, gitu katanya.
Yang bikin orang bingung memang konon katanya karena tak bisa melandaskan cinta pada sesuatu yang kokoh. Akhirnya tampak plin plan dan mudah terbawa angin. Akhirnya jatuh dalam kegamangan, dan siap dibawa angin lagi, tanpa tujuan.

Saya sadari saat ini selain suamiku, banyak orang yang tengah mencintai saya dengan landasan yang kokoh itu. Yang siap menempeleng saya saat saya berbuat salah, siap menemani saya dalam keadaan paling sulit sekalipun, senang kalau mereka dimintai tolong, dan malah marah kalau saya tak menceritakan masalah yang sedang saya hadapi.

Semoga kehadiran saya pun bisa memberi makna yang sama bagi mereka. Amiin :)

***

Jumat, 27 November 2009

diem di rumah

***
Judulnya lagi geje.
Libur panjang Idul Adha. Jum'at, Sabtu, Minggu.
Mestinya banyak yang bisa saya kerjakan saat saya gak mesti ke apotek, dan diam-diam saja di rumah seperti sekarang.
Tapi memang ujian waktu luang itu adalah ujian berat.
Ternyata segala macem jadi males. Mo ngapa-ngapain males.

Sebetulnya udah bawa kerjaan dari apotek ke rumah. Dan, alhamduliLlah selesai.
Sekarang udah online YM, online FB, tapi tak kunjung ada yang ngajak chatting.
Hahaha... gak laku gw.
Nyapa duluan? Yang onlen lagi pada gak asik...:P

Herannya saat kerjaan saya numpuk, online di apotek, adaaa aja yang nyapa, curhat, nanya, ngajak ngobrol...

Kalo lagi diem-diem di rumah dan mati gaya begini (buat yang saya ambil statusnya hari ini tolong jangan protes), saya sering terkagum-kagum sama ibu rumah tangga 'sejati' yang sepanjang harinya diam di rumah, ataupun bisnis di rumah.. pokonya selalu di rumah, tapi tampak survive.
Huhu... saya sih bakal ngehang tuh kalo kayak gitu.
Sejak SMP saya selalu beredar ke mana-mana dan terkesan pantang diam di rumah. Ngiderrr terusss.. sampe sekarang.

Dulu pernah beberapa bulan jadi orang rumahan, tapi itu waktu Arif/Sofi bayi. Taulah kalo ngurus bayi, pagi sampe malem rasanya sibuk terus.

Yup.. sekarang masih mending saya mau nulis juga walau ngacaprak begini..

Rindu hari kerja, saat saya merasa dikejar waktu.
Mengejar deadline yang dibuat sendiri kok ya rasanya kurang greget....

(halah. deadline?? nyontek istilah siapa lagi tuh??)

***

Kamis, 15 Oktober 2009

Ci(N)Ta -2-

***
mencoba mengerti apa artiku bagi dirinya
mungkin bukan apa-apa
ada tidak adanya diriku akan sama saja baginya

kalau bukan karena cinta , aku tak kan peduli
tapi aku peduli..

dan aku tidak akan pernah meninggalkannya
walau berjuta kali dia menyakitiku..

***

... lebayyyy !!!

***