***
Ini palingan lagi mellow. Biarlah karena saya ingin ngantuk.
Di rumah.
Rumah yang saya tempati sejak tahun 2003.
Begitu banyak kenangan di rumah ini, yang indah tentu saja.
Tentang suamiku.. tentang Arif, tentang Sofi..
Arif yang pertama pindah ke sini dikangenin sama bapak mertua.
Arif yang lagi seneng2nya sama kereta api, sampe buku keretanya sobek sobek.
Arif yang lagi suka sukanya sama mobil VW
dan mobil tukang roti tip top yang tiap pagi lewat.
Film favoritnya adalah dora the explorer dan telettubies
Saya, adalah saya yang masih belajar memasak
Belom musim internet sehingga saya kesulitan mencari resep
Telpon mamah tentu saja untuk nanyain resep ini itu.
Bersyukur waktu itu kami masih bisa makan.
Karena rasanya makanan saya tidak layak dimakan.
Kemudian lahirlah Sofi.
Si anak umi yang periang.
Lesung pipitnya di kiri kanan.
Arif jadi punya teman.
Mereka ke sana kemari selalu berdua.
Arif yang sudah bisa baca, diikuti oleh Sofi yang pura-pura bisa baca.
Saya ngikik sendiri denger Sofi ngarang cerita.
Suamiku.
Suamiku yang gak pernah berubah.
Tetap dengan istiqomahnya.
Yang saya selalu tentram ada di sampingnya
Eh, gini aja nangis ya.
Tapi sungguh, hari ini juga pasti jadi kenangan di masa datang
Saat Sofi yang jelang 8 tahun, dan Arif yang jelang 10 tahun.
Yang mereka masih berkumpul di rumah ini
Yang membuat saya tertawa, ataupun marah di rumah ini.
Suatu saat mereka akan pergi
bersama kehidupannya sendiri.
Semoga pada hari saat saya melepaskan kedua anak panah ini,
Saya menjadi busur dengan tarikan terbaik
sehingga mereka bisa meluncur, tepat di sasarannya
tanpa jatuh, tanpa berbelok
Kalau boleh memilih, barangkali saya ingin mereka selalu ada dalam dekapan saya
seperti malam ini.
ada Arif, ada Sofi, ada suamiku
Indahnya adalah luar biasa
jika kami bisa terus bersama
sampai di surga
selamanya
Tampilkan postingan dengan label family. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label family. Tampilkan semua postingan
Selasa, 27 Maret 2012
Sabtu, 03 September 2011
Mata Anakku Minus Enam ???!!!! (Part II)
Duh, telat banget ya ini postingnya, soalnya diupdatenya di kompasiana siiih.. Biarlah...
Kemarin, Kamis 4 Agustus 2011, Arif sudah saya bawa lagi ke dokter mata, istilahnya adalah untuk ‘koreksi’.
Dia diminta duduk di depan slide huruf dan coba-coba lagi lensa hingga titik optimalnya. Koreksinya dilakukan oleh perawat, dan dicek lagi oleh dokter.
Tidak 100% dia menjawab dengan benar hingga huruf terkecil, meskipun kedua mata dibuka dan menggunakan lensa.
Kesimpulannya, Arif menderita astigmatisme-miopi… eits… bener gak namanya itu ya?.. pokonya silindris campur minus gitu lah. Kiri: -1/4 sildr ½, sementara mata kanan: -5,75 sildr 2.
Komen saya? InnaliLlahii wa inna ilaihi raaji’uun. Sebagian kecil kenikmatan penglihatan mata Arif telah diambil oleh-Nya.
Saya tidak sepanik hari selasa kemarin. Kali ini lebih siap, dan biasa-biasa aja.
Kata dokter, Arif harus pakai kacamata terus. Boleh dibuka waktu mandi dan tidur.
“Kalo sholat?”, tanya Arif.
“Iya waktu sholat boleh dilepas”, kata Bu Dokter sambil tersenyum.
Arif tampak baik-baik saja. Semoga seterusnya pun begitu setelah dia pakai kacamata.
Resep kacamata pun ditulis dan barulah saya banyak nanya Bu Dokter.
Pertama saya minta saran dari dokter buat Arif, berhubung dia senang sekali maen laptop.
Kata dokter, yang penting jangan lebih dari 1 jam terus menerus. Kalo udah 1 jam, istirahatlah dulu barang 5 menit, lihat yang jauh-jauh, baru boleh lihat layar lagi.
Insyaa Allah gak sulit. Arif gak sampai segitunya kok, gak sampai manteng laptop lebih dari 1 jam tanpa istirahat. Nonton TV pun hampir tidak, karena di rumah sinyal TV gak bagus.
Kedua, saya tanya vitamin mata apa yang bisa dimakan untuk bantu mengurangi minus mata. Hmm.. dokter bilang, tak ada satupun suplemen yang bisa mencegah mata miop (ini persis seperti jawaban dokter mata saya dulu). Yang bisa dilakukan hanya membangun kebiasaan baik seperti baca sambil duduk di tempat terang, tidak sambil tiduran. Nonton TV dengan jarak cukup (juga tidak sambil tiduran), dsb. Adapun makanan, sayuran dsb itu bisa memperkuat syaraf mata dalam masa pertumbuhannya. Bukan ke masalah miopnya.
Yang jadi tujuan dari kacamata Arif sekarang adalah melatih syaraf mata (terutama kanan), agar minus berapapun dia nanti, dia bisa melihat sama baiknya dengan yang lain.
Yup, saya cukup faham apa yang dokter bilang.
Saat ini, - saya-, mau dipakein minus berapa juga.. tetep kalo lihat huruf kecil-kecil itu gak bisa. Salaah melulu. Tapi karena saya udah gak kuliah lagi, gak perlu terpaksa atau dipaksa duduk di belakang dan melihat papan tulis, maka hal itu jadi tidak masalah buat saya.
Dokter palingan cuma bisa ngasih ukuran terbaik buat saya, tapi tidak maksimal. Itulah barangkali yang namanya syaraf lemah.
Berbeda dengan Sofi kemarin, yang dia mantaaap nyebutin huruf sampe yang terkecil baik mata kanan maupun kiri. Berarti mata dia plus syarafnya insyaa Allah 100% normal. Semoga seterusnya ya Fi, amiiin.
Nah, Arif punya waktu 3 tahun untuk memperbaiki syaraf ini karena dia sedang masa pertumbuhan. Masalah rabun jauhnya sih, wallahu a’lam, cuma mukjizat… atau kelak semacam operasi lasik yang bisa menurunkan angka minusnya.
Jadi begini lho, kata dokter, mata kanan Arif itu terbiasa melihat jelas hanya dalam jarak sekitar 2 meter. Dan otaknya tidak mendapat informasi kalau mata kanan normal itu bisa lihat lebih jauh dari itu, sehingga memang tidak akan ada keluhan dari Arif. Apakah ini yang dinamakan Lazy Eye yah? Baru baca barusan tentang Lazy Eye ini.
Sekarang oleh kacamatanya (yang akan Arif pakai nanti) si syaraf mata kanan dikasih tau kalo dia tu mestinya bisa lihat jauh.
Dokter minta, 3 bulan setelah pake kacamata, kontrol lagi. “Nanti kita lihat apa ada perbaikan pada syaraf matanya”, gitu dokter bilang.
(Di atas sudah terangkum pertanyaan ketiga dari saya tentang maksud dari syaraf lemah).
Pertanyaan keempat adalah tentang kacamata pinhole, yang bisa menguatkan syaraf/ mengurangi minus (?). Jawabannya, tidak usah. Dokter menjawabnya seakan-akan kacamata pinhole itu hanya sebuah tahyul. Gtau deh…
Ya sekarang tinggal menyiapkan mental Arif untuk berkacamata.
Kerasa banget dulu saya berasa bener jadi orang yang tidak normal, karena ketika saya bilang ..
“minus lima.. enam.. tujuh… dst”, tanggapan orang adalah … “HAAA??”
So what gitu loh.. mending nanya mah nanya aja kagak usah pake HA :(
Trus dulu saya paling maleees kalo dibawa mamah/bapak ke RS. Cicendo setahun sekali sejak kelas 1 SD.
Ngantri, lama, lapar, tunduh, hareudang (ini dulu ya, gak tau kalo sekarang), dah gitu dapet vonis penambahan minus pula, dan saya harus ganti lagi kacamata dengan lensa yang lebih tebal, terus ntar makin banyak orang yang nanya deh… “minus berapa?” .. “Haaa?” …. Sebeeellll…
Penderitaan saya berakhir saat seorang dokter mata di tempat praktek pribadinya menyarankan saya menggunakan lensa kontak. Sejak berlensa kontak, penambahan minus mata saya tidak terlalu pesat, dan saya merasa menjadi orang normal. Hehe. AlhamduliLlah.
Berkaca dari pengalaman itu ya berarti saya harus berempati sama Arif dengan cara yang sebaik-baiknya. Seperti halnya saya ingin diperlakukan oleh orang lain. Arif kan belom bisa pake lensa kontak.
Orang tua saya alhamduliLlah sikapnya baik terhadap kekurangan saya ini. Bilang kalo saya lebih baik pasrah saja atas kehendak Allah, banyak bersyukur, dsb dst yang bikin saya tenang hati.
Nanti juga ke Arif saya mau gitu aja. Anggap biasa aja. Dan saya jadinya selalu bilang, “Umi dulu juga gitu”.
Kalo saya bilang gitu, seneng deh lihat rona wajah Arif yang tampak lega. Toh dia melihat kini umminya baik-baik saja walau tetap harus dengan lensa kontak :)
Ayo ARIF !! Tetap SEMANGAT ya Nak !! \m/
***
Kemarin, Kamis 4 Agustus 2011, Arif sudah saya bawa lagi ke dokter mata, istilahnya adalah untuk ‘koreksi’.
Dia diminta duduk di depan slide huruf dan coba-coba lagi lensa hingga titik optimalnya. Koreksinya dilakukan oleh perawat, dan dicek lagi oleh dokter.
Tidak 100% dia menjawab dengan benar hingga huruf terkecil, meskipun kedua mata dibuka dan menggunakan lensa.
Kesimpulannya, Arif menderita astigmatisme-miopi… eits… bener gak namanya itu ya?.. pokonya silindris campur minus gitu lah. Kiri: -1/4 sildr ½, sementara mata kanan: -5,75 sildr 2.
Komen saya? InnaliLlahii wa inna ilaihi raaji’uun. Sebagian kecil kenikmatan penglihatan mata Arif telah diambil oleh-Nya.
Saya tidak sepanik hari selasa kemarin. Kali ini lebih siap, dan biasa-biasa aja.
Kata dokter, Arif harus pakai kacamata terus. Boleh dibuka waktu mandi dan tidur.
“Kalo sholat?”, tanya Arif.
“Iya waktu sholat boleh dilepas”, kata Bu Dokter sambil tersenyum.
Arif tampak baik-baik saja. Semoga seterusnya pun begitu setelah dia pakai kacamata.
Resep kacamata pun ditulis dan barulah saya banyak nanya Bu Dokter.
Pertama saya minta saran dari dokter buat Arif, berhubung dia senang sekali maen laptop.
Kata dokter, yang penting jangan lebih dari 1 jam terus menerus. Kalo udah 1 jam, istirahatlah dulu barang 5 menit, lihat yang jauh-jauh, baru boleh lihat layar lagi.
Insyaa Allah gak sulit. Arif gak sampai segitunya kok, gak sampai manteng laptop lebih dari 1 jam tanpa istirahat. Nonton TV pun hampir tidak, karena di rumah sinyal TV gak bagus.
Kedua, saya tanya vitamin mata apa yang bisa dimakan untuk bantu mengurangi minus mata. Hmm.. dokter bilang, tak ada satupun suplemen yang bisa mencegah mata miop (ini persis seperti jawaban dokter mata saya dulu). Yang bisa dilakukan hanya membangun kebiasaan baik seperti baca sambil duduk di tempat terang, tidak sambil tiduran. Nonton TV dengan jarak cukup (juga tidak sambil tiduran), dsb. Adapun makanan, sayuran dsb itu bisa memperkuat syaraf mata dalam masa pertumbuhannya. Bukan ke masalah miopnya.
Yang jadi tujuan dari kacamata Arif sekarang adalah melatih syaraf mata (terutama kanan), agar minus berapapun dia nanti, dia bisa melihat sama baiknya dengan yang lain.
Yup, saya cukup faham apa yang dokter bilang.
Saat ini, - saya-, mau dipakein minus berapa juga.. tetep kalo lihat huruf kecil-kecil itu gak bisa. Salaah melulu. Tapi karena saya udah gak kuliah lagi, gak perlu terpaksa atau dipaksa duduk di belakang dan melihat papan tulis, maka hal itu jadi tidak masalah buat saya.
Dokter palingan cuma bisa ngasih ukuran terbaik buat saya, tapi tidak maksimal. Itulah barangkali yang namanya syaraf lemah.
Berbeda dengan Sofi kemarin, yang dia mantaaap nyebutin huruf sampe yang terkecil baik mata kanan maupun kiri. Berarti mata dia plus syarafnya insyaa Allah 100% normal. Semoga seterusnya ya Fi, amiiin.
Nah, Arif punya waktu 3 tahun untuk memperbaiki syaraf ini karena dia sedang masa pertumbuhan. Masalah rabun jauhnya sih, wallahu a’lam, cuma mukjizat… atau kelak semacam operasi lasik yang bisa menurunkan angka minusnya.
Jadi begini lho, kata dokter, mata kanan Arif itu terbiasa melihat jelas hanya dalam jarak sekitar 2 meter. Dan otaknya tidak mendapat informasi kalau mata kanan normal itu bisa lihat lebih jauh dari itu, sehingga memang tidak akan ada keluhan dari Arif. Apakah ini yang dinamakan Lazy Eye yah? Baru baca barusan tentang Lazy Eye ini.
Sekarang oleh kacamatanya (yang akan Arif pakai nanti) si syaraf mata kanan dikasih tau kalo dia tu mestinya bisa lihat jauh.
Dokter minta, 3 bulan setelah pake kacamata, kontrol lagi. “Nanti kita lihat apa ada perbaikan pada syaraf matanya”, gitu dokter bilang.
(Di atas sudah terangkum pertanyaan ketiga dari saya tentang maksud dari syaraf lemah).
Pertanyaan keempat adalah tentang kacamata pinhole, yang bisa menguatkan syaraf/ mengurangi minus (?). Jawabannya, tidak usah. Dokter menjawabnya seakan-akan kacamata pinhole itu hanya sebuah tahyul. Gtau deh…
Ya sekarang tinggal menyiapkan mental Arif untuk berkacamata.
Kerasa banget dulu saya berasa bener jadi orang yang tidak normal, karena ketika saya bilang ..
“minus lima.. enam.. tujuh… dst”, tanggapan orang adalah … “HAAA??”
So what gitu loh.. mending nanya mah nanya aja kagak usah pake HA :(
Trus dulu saya paling maleees kalo dibawa mamah/bapak ke RS. Cicendo setahun sekali sejak kelas 1 SD.
Ngantri, lama, lapar, tunduh, hareudang (ini dulu ya, gak tau kalo sekarang), dah gitu dapet vonis penambahan minus pula, dan saya harus ganti lagi kacamata dengan lensa yang lebih tebal, terus ntar makin banyak orang yang nanya deh… “minus berapa?” .. “Haaa?” …. Sebeeellll…
Penderitaan saya berakhir saat seorang dokter mata di tempat praktek pribadinya menyarankan saya menggunakan lensa kontak. Sejak berlensa kontak, penambahan minus mata saya tidak terlalu pesat, dan saya merasa menjadi orang normal. Hehe. AlhamduliLlah.
Berkaca dari pengalaman itu ya berarti saya harus berempati sama Arif dengan cara yang sebaik-baiknya. Seperti halnya saya ingin diperlakukan oleh orang lain. Arif kan belom bisa pake lensa kontak.
Orang tua saya alhamduliLlah sikapnya baik terhadap kekurangan saya ini. Bilang kalo saya lebih baik pasrah saja atas kehendak Allah, banyak bersyukur, dsb dst yang bikin saya tenang hati.
Nanti juga ke Arif saya mau gitu aja. Anggap biasa aja. Dan saya jadinya selalu bilang, “Umi dulu juga gitu”.
Kalo saya bilang gitu, seneng deh lihat rona wajah Arif yang tampak lega. Toh dia melihat kini umminya baik-baik saja walau tetap harus dengan lensa kontak :)
Ayo ARIF !! Tetap SEMANGAT ya Nak !! \m/
***
Selasa, 02 Agustus 2011
Mata Anakku Minus Enam ???!!!! (Part I)
***
Tulisan ini saya terbitkan di kompasiana, jadi bahasanya agak laen.. xixixi...
Sudah cukup lama sebetulnya saya berniat membawa anak saya Arif (9th) ke dokter spesialis mata. Dasar pemikirannya hanya karena saya sendiri penderita rabun jauh, begitu pula dengan suami. Saya minus sepuluh loh, berlensa kontak, dan suamiku minus tiga berkacamata. Kami sama-sama mengenakan kacamata sejak SD.
Dari informasi sekilas yang saya dapat, mata minus itu bisa menurun ke anak. Makanya saya udah niat aja bawa Arif ke dokter mata, ada keluhan ataupun tidak.
Tapi niat tinggallah niat. Selalu saja saya urungkan, karena memang Arif tidak mengeluh apa-apa. Tak ada yang aneh, tak ada pula laporan dari gurunya. Prestasi di sekolah pun bagus.
Hanya saja waktu Arif liburan kemarin, dia banyak maen game di laptop, dan jarak antara matanya dengan laptop menurut saya terlalu dekat. Begitu pula menonton TV. Berkali-kali saya menyuruhnya untuk mundur, tapi dia maju lagi maju lagi. Posisi saat dia membaca buku pun begitu. Terlalu dekat.
Yang membuat saya tidak terlalu risau adalah karena saat dia menjauh pun, dia masih tampak bisa melihat/ membaca.
Barulah tadi siang saya membawa dia ke dokter spesialis mata. Kebetulan sekolahnya masih libur. Niatnya ngabuburit sajalah. Sebelumnya cek gigi pula. Gigi oke, alhamduliLlah.
Sesampainya di klinik spesialis mata, tanpa menunggu lama Arif dipanggil untuk duduk di kursi dan melihat slide huruf kapital. Dan kagetlah saya ketika mata kirinya ditutup oleh perawat, dia tidak bisa membaca satu huruf pun, padahal ukurannya udah yang paling gede. Berkali-kali saya berpandangan dengan Sofi (7th), adiknya Arif. Heran. Kok Mas Arif gak bisa baca sih.
Beberapa lensa dicoba dan dia hanya mencapai kemajuan sampai huruf pertengahan, tidak sampai yang terkecil.
Kemudian pindah tutup mata kanan, mata kiri yang melihat. Yang ini sebentar saja, tampak tak ada masalah berarti.
Kemudian perawat membawanya ke sebuah alat.. emm.. komputer dia bilang (duh.. apa namanya ya?). Arif duduk menempelkan dagu dan keningnya di alat tersebut dan melihat ke sebuah lensa tanpa boleh berkedip. Setelah mata kiri, kemudian mata kanan, dan keluarlah hasilnya berupa print out.
Perawat kembali meminta Arif duduk di kursi tadi. Coba-coba lagi beberapa lensa. Diputar, diganti, dan Arif ditanya. Tetap hasilnya tidak memuaskan.
Perawat pun memanggil saya dan menjelaskan... deg deg deg...
"Ibu, menurut hasil pengukuran komputer, mata Arif ini yang kiri hanya minus 1/4, tapi yang kanan, jauh sekali Bu.. minus 6. Sebentar ya Bu saya panggil dokternya dulu"
Haaa???.. Minus ENAM? Ya Allaaah.. sungguh saya nyesel beribu kali nyesel kenapa saya gak bawa Arif sejak dulu untuk periksa mata.... Dan saya heran kenapa selama ini Arif gak bilang sama saya... pun saya gak melihat gelagat yang terlalu gimanaaa gitu dari Arifnya sendiri. Toh saya kan sering di rumah, dan gerak-gerik Arif cukup teramati oleh saya. Minus ENAM... saya tau seberapa buram itu minus enam. Itu minus saya kelas 3 SMP !!
Dan dokter pun datang.
Beberapa lensa beliau coba lagi di mata kanan. Hasilnya masih kurang memuaskan juga. Sampai pasien di sebelah saya tanya, "Anak ibu udah bisa baca kan Bu?" .. hiks.
Dokter memanggil saya, dan menjelaskan seperti halnya perawat tadi. Dia sama sekali tidak menyalahkan saya. Dia bilang bahwa kasus seperti ini amat besar kemungkinannya untuk terlambat diketahui, karena anak tidak mengeluh, dan orang tua seringkali tidak sadar. Arif selama ini mengandalkan mata kirinya untuk melihat. Tanpa disadari mata kanannya jadi tidak optimal bekerja, sehingga syarafnya melemah. Oow..
Dokter bilang, masih ada waktu 3 tahun lagi (hingga Arif berusia 12 tahun) untuk bisa menguatkan kembali syaraf mata kanannya.
Dokter kemudian memberi Arif obat tetes mata untuk melebarkan pupil (?) -maaf saya tidak yakin kegunaan obat tetes tadi-, dan meminta saya menunggu satu jam untuk kemudian mata Arif dicek kembali di komputer.
Sambil menunggu, saya telpon suami, dan suami menyuruh saya memeriksakan Sofi juga. Khawatir.
AlhamduliLlah setelah dites huruf dan cek komputer, mata Sofi 100% normal. Dokter bilang cek lagi tahun depan. Insyaa Allah..
Saya membawa anak-anak ke dokter mata memang niatnya hanya memeriksakan Arif dulu saja. Feelingnya agak lain soalnya... Dan, saya mau lihat-lihat tarif dulu.. ke spesialis mata berapa sih sekarang. Hehe.
Satu jam kemudian, setelah cek komputer, Arif boleh pulang dan kembali lagi dalam 2 hari. Mudah-mudahan bisa ditentukan ukuran lensa yang pas untuk Arif nanti, dan mudah-mudahan gak sampai 6 lah.
-pengen nawar sama Allah .. huhu..
Sore tadi jadinya saya sediiih.. pisaaaaan.. nyeseeeeel... hik hik.... Plus sedihnya membayangkan Arif nanti harus jomplang kacamatanya. Gak ngerti saya ntar bagusnya gimana. Enam itu kan tebal, sementara seperempat itu tipis. Saya tau lah, saya sendiri sejak SD gitu lo berkacamata, hingga saya pindah ke lensa kontak kelas 2 SMA, saat saya minus 7.
Tapi ya gimana lagi, tetep ada sisi syukurnya sih. Bersyukur karena bagaimanapun Arif masih punya waktu untuk bisa melatih lagi otot syaraf mata kanannya. Bersyukur saya tadi diberi niat dan kekuatan untuk melangkah ke klinik. Bersyukur karena saya dan suami insyaa Allah masih diberi rejeki buat periksa mata anak sekaligus nanti biaya kacamatanya Arif.
Arif tadi tampak sedih juga. Dia menghibur diri dengan bilang "Biarlah, setiap orang kan ada sakitnya ya.."
Mungkin maksud dia, setiap orang punya kelemahan.
Iya bener Rif.
Tinggal saya yang harus menguatkan hati, jangan lebay, jangan sampe memperlihatkan ekspresi bahwa kita sedih kalau anak harus pake kacamata tebal.
Saya merasakan sendiri. Bila ekspresi mamah saya baik-baik saja, maka saya pun akan baik-baik saja. Bila mamah tampak cemas, maka saya akan cemas. Bila mamah tampak bersyukur dan berpikir positif, saya terbantu untuk bisa berpikir demikian.
Saya mesti gitu juga di depan Arif. Everything will be better with your glasses, Son! Mari kita jalani saja tiap episode kehidupan kita. Masih banyak kok ... masih banyak buangetttt yang bisa kita syukuri.
Mata minus bukankah jauhhhhh lebih baik.. jauh sekali lebih baik daripada kehilangan penglihatan sama sekali? Na'udzubillahi min dzalik. Semoga Allah melindungi kita dari cobaan berat yang kita tidak sanggup untuk memikulnya.
Di Part II nanti insyaa Allah akan saya tulis eksekusi dokter atas mata Arif, minus berapakah mata kanan dia sebenarnya.
Saya mohon do'a, mohon share pengalaman, dan mohon saran, barangkali ada yang bisa saya lakukan untuk Arif.
Terimakasih telah membaca artikel ini.
***
Tulisan ini saya terbitkan di kompasiana, jadi bahasanya agak laen.. xixixi...
Sudah cukup lama sebetulnya saya berniat membawa anak saya Arif (9th) ke dokter spesialis mata. Dasar pemikirannya hanya karena saya sendiri penderita rabun jauh, begitu pula dengan suami. Saya minus sepuluh loh, berlensa kontak, dan suamiku minus tiga berkacamata. Kami sama-sama mengenakan kacamata sejak SD.
Dari informasi sekilas yang saya dapat, mata minus itu bisa menurun ke anak. Makanya saya udah niat aja bawa Arif ke dokter mata, ada keluhan ataupun tidak.
Tapi niat tinggallah niat. Selalu saja saya urungkan, karena memang Arif tidak mengeluh apa-apa. Tak ada yang aneh, tak ada pula laporan dari gurunya. Prestasi di sekolah pun bagus.
Hanya saja waktu Arif liburan kemarin, dia banyak maen game di laptop, dan jarak antara matanya dengan laptop menurut saya terlalu dekat. Begitu pula menonton TV. Berkali-kali saya menyuruhnya untuk mundur, tapi dia maju lagi maju lagi. Posisi saat dia membaca buku pun begitu. Terlalu dekat.
Yang membuat saya tidak terlalu risau adalah karena saat dia menjauh pun, dia masih tampak bisa melihat/ membaca.
Barulah tadi siang saya membawa dia ke dokter spesialis mata. Kebetulan sekolahnya masih libur. Niatnya ngabuburit sajalah. Sebelumnya cek gigi pula. Gigi oke, alhamduliLlah.
Sesampainya di klinik spesialis mata, tanpa menunggu lama Arif dipanggil untuk duduk di kursi dan melihat slide huruf kapital. Dan kagetlah saya ketika mata kirinya ditutup oleh perawat, dia tidak bisa membaca satu huruf pun, padahal ukurannya udah yang paling gede. Berkali-kali saya berpandangan dengan Sofi (7th), adiknya Arif. Heran. Kok Mas Arif gak bisa baca sih.
Beberapa lensa dicoba dan dia hanya mencapai kemajuan sampai huruf pertengahan, tidak sampai yang terkecil.
Kemudian pindah tutup mata kanan, mata kiri yang melihat. Yang ini sebentar saja, tampak tak ada masalah berarti.
Kemudian perawat membawanya ke sebuah alat.. emm.. komputer dia bilang (duh.. apa namanya ya?). Arif duduk menempelkan dagu dan keningnya di alat tersebut dan melihat ke sebuah lensa tanpa boleh berkedip. Setelah mata kiri, kemudian mata kanan, dan keluarlah hasilnya berupa print out.
Perawat kembali meminta Arif duduk di kursi tadi. Coba-coba lagi beberapa lensa. Diputar, diganti, dan Arif ditanya. Tetap hasilnya tidak memuaskan.
Perawat pun memanggil saya dan menjelaskan... deg deg deg...
"Ibu, menurut hasil pengukuran komputer, mata Arif ini yang kiri hanya minus 1/4, tapi yang kanan, jauh sekali Bu.. minus 6. Sebentar ya Bu saya panggil dokternya dulu"
Haaa???.. Minus ENAM? Ya Allaaah.. sungguh saya nyesel beribu kali nyesel kenapa saya gak bawa Arif sejak dulu untuk periksa mata.... Dan saya heran kenapa selama ini Arif gak bilang sama saya... pun saya gak melihat gelagat yang terlalu gimanaaa gitu dari Arifnya sendiri. Toh saya kan sering di rumah, dan gerak-gerik Arif cukup teramati oleh saya. Minus ENAM... saya tau seberapa buram itu minus enam. Itu minus saya kelas 3 SMP !!
Dan dokter pun datang.
Beberapa lensa beliau coba lagi di mata kanan. Hasilnya masih kurang memuaskan juga. Sampai pasien di sebelah saya tanya, "Anak ibu udah bisa baca kan Bu?" .. hiks.
Dokter memanggil saya, dan menjelaskan seperti halnya perawat tadi. Dia sama sekali tidak menyalahkan saya. Dia bilang bahwa kasus seperti ini amat besar kemungkinannya untuk terlambat diketahui, karena anak tidak mengeluh, dan orang tua seringkali tidak sadar. Arif selama ini mengandalkan mata kirinya untuk melihat. Tanpa disadari mata kanannya jadi tidak optimal bekerja, sehingga syarafnya melemah. Oow..
Dokter bilang, masih ada waktu 3 tahun lagi (hingga Arif berusia 12 tahun) untuk bisa menguatkan kembali syaraf mata kanannya.
Dokter kemudian memberi Arif obat tetes mata untuk melebarkan pupil (?) -maaf saya tidak yakin kegunaan obat tetes tadi-, dan meminta saya menunggu satu jam untuk kemudian mata Arif dicek kembali di komputer.
Sambil menunggu, saya telpon suami, dan suami menyuruh saya memeriksakan Sofi juga. Khawatir.
AlhamduliLlah setelah dites huruf dan cek komputer, mata Sofi 100% normal. Dokter bilang cek lagi tahun depan. Insyaa Allah..
Saya membawa anak-anak ke dokter mata memang niatnya hanya memeriksakan Arif dulu saja. Feelingnya agak lain soalnya... Dan, saya mau lihat-lihat tarif dulu.. ke spesialis mata berapa sih sekarang. Hehe.
Satu jam kemudian, setelah cek komputer, Arif boleh pulang dan kembali lagi dalam 2 hari. Mudah-mudahan bisa ditentukan ukuran lensa yang pas untuk Arif nanti, dan mudah-mudahan gak sampai 6 lah.
-pengen nawar sama Allah .. huhu..
Sore tadi jadinya saya sediiih.. pisaaaaan.. nyeseeeeel... hik hik.... Plus sedihnya membayangkan Arif nanti harus jomplang kacamatanya. Gak ngerti saya ntar bagusnya gimana. Enam itu kan tebal, sementara seperempat itu tipis. Saya tau lah, saya sendiri sejak SD gitu lo berkacamata, hingga saya pindah ke lensa kontak kelas 2 SMA, saat saya minus 7.
Tapi ya gimana lagi, tetep ada sisi syukurnya sih. Bersyukur karena bagaimanapun Arif masih punya waktu untuk bisa melatih lagi otot syaraf mata kanannya. Bersyukur saya tadi diberi niat dan kekuatan untuk melangkah ke klinik. Bersyukur karena saya dan suami insyaa Allah masih diberi rejeki buat periksa mata anak sekaligus nanti biaya kacamatanya Arif.
Arif tadi tampak sedih juga. Dia menghibur diri dengan bilang "Biarlah, setiap orang kan ada sakitnya ya.."
Mungkin maksud dia, setiap orang punya kelemahan.
Iya bener Rif.
Tinggal saya yang harus menguatkan hati, jangan lebay, jangan sampe memperlihatkan ekspresi bahwa kita sedih kalau anak harus pake kacamata tebal.
Saya merasakan sendiri. Bila ekspresi mamah saya baik-baik saja, maka saya pun akan baik-baik saja. Bila mamah tampak cemas, maka saya akan cemas. Bila mamah tampak bersyukur dan berpikir positif, saya terbantu untuk bisa berpikir demikian.
Saya mesti gitu juga di depan Arif. Everything will be better with your glasses, Son! Mari kita jalani saja tiap episode kehidupan kita. Masih banyak kok ... masih banyak buangetttt yang bisa kita syukuri.
Mata minus bukankah jauhhhhh lebih baik.. jauh sekali lebih baik daripada kehilangan penglihatan sama sekali? Na'udzubillahi min dzalik. Semoga Allah melindungi kita dari cobaan berat yang kita tidak sanggup untuk memikulnya.
Di Part II nanti insyaa Allah akan saya tulis eksekusi dokter atas mata Arif, minus berapakah mata kanan dia sebenarnya.
Saya mohon do'a, mohon share pengalaman, dan mohon saran, barangkali ada yang bisa saya lakukan untuk Arif.
Terimakasih telah membaca artikel ini.
***
Setelah Sebelas Tahun Menikah
***
"Sebelas tahun nikah itu hebat loh!", ujar seorang bujangan kepada kami. Kepada saya dan suami pada hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-11, 30 Juli 2011 sabtu kemarin.
Saya langsung nyaut sambil terheran-heran,"Heh? Hebat ya? Perasaan biasa aja deh"
Suami saya pun bilang dengan gaya bijaknya tea,"Masih banyak yang lebih berprestasi"
Sebelas taun dibilang hebat? Anak masih SD gini, belom jadi apa-apa kalipun. Ya ibu bapak kami lah rasanya yang lebih layak dibilang hebat. Puluhan tahun hidup bersama, dan bisa membesarkan putra-putrinya dengan baik.
Sungguh memang ibu bapak saya dan ibu bapak mertua saya telah memberi contoh yang baik untuk sebuah kehidupan rumah tangga. Sehingga kami putra putrinya bisa meniru mereka dalam gaya saling asah asih dan asuhnya, bahkan meniru gaya 'bertengkar'nya. Bertengkar yang tidak berlebihan, yang kemudian saling mengalah. Bertengkar yang tidak serius. Marah karena sayang, dan untuk kebaikan. Bukan marah untuk melepas ego.
Rasa hati di malam tahun kesebelas, memang tak sama dengan rasa hati di malam pertama. Tak ada lagi desir rasa yang menggebu, tak ada lagi rindu yang membara. Halah. Tapi, apa ya? Sulit diungkapkan rasa hati ini. Hanya tenang, tentram, bahagia..
Suamiku bukanlah lelaki paling ganteng di dunia ini. Paling sholeh ya engga juga. Paling baik, bukan juga. Segala kekurangannya sudah tampak begitu jelas di mata saya, tapi saya suka. Saya tenang bila bersamanya, saya merasa kehilangan jika dia tidak ada, dan saya takut membuatnya marah. Itu saja.
Saya juga gak tau apa yang membuat saya bertahan hidup bersama dengan orang yang sama, tanpa merasa bosan dan tanpa pernah berpikir untuk mencari gantinya. Yang jelas memang karena Allah yang memberi kami ketentraman. Yang bisa saya lakukan untuk meraih barokah-Nya berupa sakinah, mawaddah, wa rahmah memang ada, tapi rasanya masih sedikit juga usaha saya itu. Ini pure bener Allah yang kasih rasa.
Yang keingetan mah, pokonya saya gak boleh ngomongin aib suami di depan orang lain. Sementara ini hal-hal yang bikin saya kesel, biar saya telen sendiri aja bulat-bulat, dan diomongin langsung ke suami. Biar sambil nangis-nangis juga yang penting saya ngomong. Sehingga suami tau apa yang jadi kekesalan saya padanya. Lha kalo kita ngomongnya ke orang, mana suami bisa tau? Minimal tau dulu lah. Ngerti biar belakangan. Hehe.
Duh, sedikit aja saya 'ngejelekin' suami di depan orang lain, sekalipun itu sahabat saya, rasanya kok seperti cakar-cakar muka sendiri. Engga banget gitu loh. Rasanya seluruh dunia ngomong: "kalo suami elu jelek, lantas kenape elu mau sama dia?" Hihi.
Tau engga, kalo dikit-dikit aja kejelekan orang diomongin, rasanya orang itu jadi beneran paling jelek di dunia ini, dan kita adalah orang yang paling menderita karena terzholimi oleh kejelekannya. Sing demi, begitulah.
Ya saya juga kalo kira-kiranya udah parah banget mah, curhat kali sama sahabat. Yang tujuannya untuk cari solusi dan melegakan hati. Bukan asal curhat dan mencari pembenaran untuk diri kita sendiri. Tapi alhamduliLlah sampai saat ini belum ada yang membuat saya nangis-nangis ngaduin suami ke sahabat terdekat saya sekalipun. Berjuta kali hamdalah pokonya.
Usaha saya yang laen adalah menampilkan diri apa adanya di depan suami. Gak jaim, gak sok jadi istri sholehah, tapi gak juga gampangan marah. Pokona mah jamedud ya jamedud, ngakak ya ngakak. Dan ke suami memang harus banyak maklumnya. Toh kita juga bukan cewek yang sempurna.
Bersyukur saya beneran, punya suami botak jenggotan. Pendiem juga. Mana gaulnya cuman di milis, bukan di facebook atao twitter. Rajin ke kantor dan rapat yayasan, bukan ke tempat-tempat makan. Hahahaha.
Eh, jangan ngetawain. Dengan begitu gak banyak cewe yang mau sama dia, yang ada cuma segen campur takut. Jadi kan gue tenang tuh dia takkan nyamber atau disamber! (.... petir kali -_-"). Pokona suami saya teu centil gitu lah. Gak tebar pesona di hadapan publik.
Kepercayaan dari istri/suami di jaman sekarang tu mahal loh. Susah dapetinnya. Orang bisa selingkuh dengan cara bervariasi. Makanya sekalinya saya dipercaya suami, dan suami dipercaya sama saya, rasanya sayang banget kalo kita sampe mengkhianatinya. Jadi salah satu kunci rumah tangga rukun memang salah satunya adalah saling percaya dan saling menjaga kepercayaan. Jangan cemburu berlebihan karena itu akan membuat sebal. Cemburu tanda kita gak percaya diri. Percayalah bahwa pasangan gak akan mengkhianati, dan percaya dirilah bahwa kita layak untuk dicintai. Selebihnya, titipkanlah pasangan kita pada Allah, karena sesungguhnya Dia-lah Yang Menjaganya.
Usaha lainnya lagi adalah dengan tidak membanding-bandingkan. Membandingkan suami dengan lelaki lain, atau membandingkan rumah tangga kita dengan rumah tangga orang lain. Dilarang sirik, dilarang dengki dan iri hati.
Allah menciptakan orang dengan karakter, pesona, dan warna berbeda. Banyak-banyaklah lihat kelebihan suami kita, dan banyak-banyaklah melihat kekurangan lelaki lain. Whahaha.
Pun namanya rumah tangga dan pasangan, punya cara sendiri untuk menikmati kebersamaannya. Kita carilah gaya kita sendiri bagaimana. Sesuaikan dengan karakter dan kantong masing-masing. Kalo suami orang ngajak istrinya jalan-jalan ke singapur, ya kalo suami kita kering kerontang mah ajaklah suami jalan-jalan ke situ aja, ke depan halaman, terus nyapu bareng, cuci mobil bareng. Pasti tetangga kita lihat kalo kita adalah pasangan romantis da. Suer.
Dalam urusan ajak mengajak gini, jangan andelin suami buat ngajak duluan. Kadang suami mah gak kepikiran. Yang kepikiran sama dia bisa jadi cuma tidur ato nonton bola. Kita aja sebagai istri yang duluan ngajak dan berinisiatif dengan hati happy. Kalo suami lihat kita hepi, sumringah, dan bersemangat, pasti dia semangat juga.
Ya wallahu a'lam, kita cuma bisa usaha gitu doang. Tapi dengan niat ikhlas, insyaa Allah, nanti Allah yang akan menurunkan ketenangan itu ke hati kita semua. Semoga saja. Amiin.
***
"Sebelas tahun nikah itu hebat loh!", ujar seorang bujangan kepada kami. Kepada saya dan suami pada hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-11, 30 Juli 2011 sabtu kemarin.
Saya langsung nyaut sambil terheran-heran,"Heh? Hebat ya? Perasaan biasa aja deh"
Suami saya pun bilang dengan gaya bijaknya tea,"Masih banyak yang lebih berprestasi"
Sebelas taun dibilang hebat? Anak masih SD gini, belom jadi apa-apa kalipun. Ya ibu bapak kami lah rasanya yang lebih layak dibilang hebat. Puluhan tahun hidup bersama, dan bisa membesarkan putra-putrinya dengan baik.
Sungguh memang ibu bapak saya dan ibu bapak mertua saya telah memberi contoh yang baik untuk sebuah kehidupan rumah tangga. Sehingga kami putra putrinya bisa meniru mereka dalam gaya saling asah asih dan asuhnya, bahkan meniru gaya 'bertengkar'nya. Bertengkar yang tidak berlebihan, yang kemudian saling mengalah. Bertengkar yang tidak serius. Marah karena sayang, dan untuk kebaikan. Bukan marah untuk melepas ego.
Rasa hati di malam tahun kesebelas, memang tak sama dengan rasa hati di malam pertama. Tak ada lagi desir rasa yang menggebu, tak ada lagi rindu yang membara. Halah. Tapi, apa ya? Sulit diungkapkan rasa hati ini. Hanya tenang, tentram, bahagia..
Suamiku bukanlah lelaki paling ganteng di dunia ini. Paling sholeh ya engga juga. Paling baik, bukan juga. Segala kekurangannya sudah tampak begitu jelas di mata saya, tapi saya suka. Saya tenang bila bersamanya, saya merasa kehilangan jika dia tidak ada, dan saya takut membuatnya marah. Itu saja.
Saya juga gak tau apa yang membuat saya bertahan hidup bersama dengan orang yang sama, tanpa merasa bosan dan tanpa pernah berpikir untuk mencari gantinya. Yang jelas memang karena Allah yang memberi kami ketentraman. Yang bisa saya lakukan untuk meraih barokah-Nya berupa sakinah, mawaddah, wa rahmah memang ada, tapi rasanya masih sedikit juga usaha saya itu. Ini pure bener Allah yang kasih rasa.
Yang keingetan mah, pokonya saya gak boleh ngomongin aib suami di depan orang lain. Sementara ini hal-hal yang bikin saya kesel, biar saya telen sendiri aja bulat-bulat, dan diomongin langsung ke suami. Biar sambil nangis-nangis juga yang penting saya ngomong. Sehingga suami tau apa yang jadi kekesalan saya padanya. Lha kalo kita ngomongnya ke orang, mana suami bisa tau? Minimal tau dulu lah. Ngerti biar belakangan. Hehe.
Duh, sedikit aja saya 'ngejelekin' suami di depan orang lain, sekalipun itu sahabat saya, rasanya kok seperti cakar-cakar muka sendiri. Engga banget gitu loh. Rasanya seluruh dunia ngomong: "kalo suami elu jelek, lantas kenape elu mau sama dia?" Hihi.
Tau engga, kalo dikit-dikit aja kejelekan orang diomongin, rasanya orang itu jadi beneran paling jelek di dunia ini, dan kita adalah orang yang paling menderita karena terzholimi oleh kejelekannya. Sing demi, begitulah.
Ya saya juga kalo kira-kiranya udah parah banget mah, curhat kali sama sahabat. Yang tujuannya untuk cari solusi dan melegakan hati. Bukan asal curhat dan mencari pembenaran untuk diri kita sendiri. Tapi alhamduliLlah sampai saat ini belum ada yang membuat saya nangis-nangis ngaduin suami ke sahabat terdekat saya sekalipun. Berjuta kali hamdalah pokonya.
Usaha saya yang laen adalah menampilkan diri apa adanya di depan suami. Gak jaim, gak sok jadi istri sholehah, tapi gak juga gampangan marah. Pokona mah jamedud ya jamedud, ngakak ya ngakak. Dan ke suami memang harus banyak maklumnya. Toh kita juga bukan cewek yang sempurna.
Bersyukur saya beneran, punya suami botak jenggotan. Pendiem juga. Mana gaulnya cuman di milis, bukan di facebook atao twitter. Rajin ke kantor dan rapat yayasan, bukan ke tempat-tempat makan. Hahahaha.
Eh, jangan ngetawain. Dengan begitu gak banyak cewe yang mau sama dia, yang ada cuma segen campur takut. Jadi kan gue tenang tuh dia takkan nyamber atau disamber! (.... petir kali -_-"). Pokona suami saya teu centil gitu lah. Gak tebar pesona di hadapan publik.
Kepercayaan dari istri/suami di jaman sekarang tu mahal loh. Susah dapetinnya. Orang bisa selingkuh dengan cara bervariasi. Makanya sekalinya saya dipercaya suami, dan suami dipercaya sama saya, rasanya sayang banget kalo kita sampe mengkhianatinya. Jadi salah satu kunci rumah tangga rukun memang salah satunya adalah saling percaya dan saling menjaga kepercayaan. Jangan cemburu berlebihan karena itu akan membuat sebal. Cemburu tanda kita gak percaya diri. Percayalah bahwa pasangan gak akan mengkhianati, dan percaya dirilah bahwa kita layak untuk dicintai. Selebihnya, titipkanlah pasangan kita pada Allah, karena sesungguhnya Dia-lah Yang Menjaganya.
Usaha lainnya lagi adalah dengan tidak membanding-bandingkan. Membandingkan suami dengan lelaki lain, atau membandingkan rumah tangga kita dengan rumah tangga orang lain. Dilarang sirik, dilarang dengki dan iri hati.
Allah menciptakan orang dengan karakter, pesona, dan warna berbeda. Banyak-banyaklah lihat kelebihan suami kita, dan banyak-banyaklah melihat kekurangan lelaki lain. Whahaha.
Pun namanya rumah tangga dan pasangan, punya cara sendiri untuk menikmati kebersamaannya. Kita carilah gaya kita sendiri bagaimana. Sesuaikan dengan karakter dan kantong masing-masing. Kalo suami orang ngajak istrinya jalan-jalan ke singapur, ya kalo suami kita kering kerontang mah ajaklah suami jalan-jalan ke situ aja, ke depan halaman, terus nyapu bareng, cuci mobil bareng. Pasti tetangga kita lihat kalo kita adalah pasangan romantis da. Suer.
Dalam urusan ajak mengajak gini, jangan andelin suami buat ngajak duluan. Kadang suami mah gak kepikiran. Yang kepikiran sama dia bisa jadi cuma tidur ato nonton bola. Kita aja sebagai istri yang duluan ngajak dan berinisiatif dengan hati happy. Kalo suami lihat kita hepi, sumringah, dan bersemangat, pasti dia semangat juga.
Ya wallahu a'lam, kita cuma bisa usaha gitu doang. Tapi dengan niat ikhlas, insyaa Allah, nanti Allah yang akan menurunkan ketenangan itu ke hati kita semua. Semoga saja. Amiin.
***
Rabu, 22 Juni 2011
analisis rapor (part 2)
***
Senyum-senyum sendiri baca tulisan yang dulu, tentang analisis rapor Arif.
Tulisan tiga tahun lalu yang ternyata sekarang sudah jauh berbeda keadaannya.
Arif nilainya tetap baik dengan nilai Tes Kemampuan Dasar (TKD) Matematika tertinggi di kelasnya, tapi dengan catatan Pak Tahyan dan Bu Aat:
Arif suka ngobrol kalo di kelas.
Tetoooot...
Sekarang fokusnya maiiiin terus...
Tetoooot...
Kalo di kelas suka gak perhatian sama guru, ka mana wae...
Tetoooot...
Sesampai di rumah, saya tanya Arif: kata Bu Aat suka kayak gitu?
Jawaban Arif:
Karena satu kalimat bisa menjadi beberapa kalimat
(naon coba maksudna?)
Misal ada yang bilang "Tadi malem pertandingan Barcelona lawan MU", nah... dari situ kan bisa jadi rame
(ooooh...)
Terus... Bu Guru suka ngulang-ngulang jadi Arif bosen..
Catatan Pak Tahyan dan Bu Aat lagi, Arif di kelas itu ceriaaaa pisan.
Kalo Sofi gimana Sofi?
Waaah Sofi mah no problemo pisan eta budak. Kata Bu Dina dan Bu Merry, Sofi nilainya bagus, anaknya kalem, responsif, antusias, dan stabil..... Palingan kalo berenang masih suka takut-takut.
Yang paling membuat saya bersyukur adalah karena sikap Arif dan Sofi baik di rumah maupun di sekolah sama persis. Jadi saya gak kaget lagi dengan uraian Pak Tahyan, Bu Aat, Bu Dina dan Bu Merry tentang mereka.
Arif kalo di rumah dari mulai bangun sampe tidur, mulutnya hampir gak pernah berhenti ngomong. Entah itu cerita, ngacaprak, atau nyanyi. Bahkan ngegame di laptop pun ada soundtrack dari mulutnya.
Urusan logika dia cerdas. Matematika memang sudah tampak sudah jadi kesenangan sekaligus keahliannya. Tapi kalo disuruh ngarang, dia malas.
Sofi ya gitu deh. Lebih banyak bekerja daripada bicara. Kalem dan berdisiplin tinggi.
Kemampuan matematika standar, tapi kalo urusan imajinasi dia mantap. Senang membaca, senang menulis, senang menggambar, senang tampil, dan jiwa sosialnya tinggi.
AlhamduliLlah..
Semoga mereka kelak menemukan jalan hidup sesuai dengan hati nuraninya, keahliannya, kesenangannya, sehingga mereka bisa banyak beribadah dengan semua itu, banyak bersyukur, dan memberi manfaat banyak pula bagi umat. Amiin.
Tinggal emaknya nih...
*enaknya ngapain ya gue...??*
Hahaha.. dasar Irma Labil.. :D :D :D
***
Senyum-senyum sendiri baca tulisan yang dulu, tentang analisis rapor Arif.
Tulisan tiga tahun lalu yang ternyata sekarang sudah jauh berbeda keadaannya.
Arif nilainya tetap baik dengan nilai Tes Kemampuan Dasar (TKD) Matematika tertinggi di kelasnya, tapi dengan catatan Pak Tahyan dan Bu Aat:
Arif suka ngobrol kalo di kelas.
Tetoooot...
Sekarang fokusnya maiiiin terus...
Tetoooot...
Kalo di kelas suka gak perhatian sama guru, ka mana wae...
Tetoooot...
Sesampai di rumah, saya tanya Arif: kata Bu Aat suka kayak gitu?
Jawaban Arif:
Karena satu kalimat bisa menjadi beberapa kalimat
(naon coba maksudna?)
Misal ada yang bilang "Tadi malem pertandingan Barcelona lawan MU", nah... dari situ kan bisa jadi rame
(ooooh...)
Terus... Bu Guru suka ngulang-ngulang jadi Arif bosen..
Catatan Pak Tahyan dan Bu Aat lagi, Arif di kelas itu ceriaaaa pisan.
Kalo Sofi gimana Sofi?
Waaah Sofi mah no problemo pisan eta budak. Kata Bu Dina dan Bu Merry, Sofi nilainya bagus, anaknya kalem, responsif, antusias, dan stabil..... Palingan kalo berenang masih suka takut-takut.
Yang paling membuat saya bersyukur adalah karena sikap Arif dan Sofi baik di rumah maupun di sekolah sama persis. Jadi saya gak kaget lagi dengan uraian Pak Tahyan, Bu Aat, Bu Dina dan Bu Merry tentang mereka.
Arif kalo di rumah dari mulai bangun sampe tidur, mulutnya hampir gak pernah berhenti ngomong. Entah itu cerita, ngacaprak, atau nyanyi. Bahkan ngegame di laptop pun ada soundtrack dari mulutnya.
Urusan logika dia cerdas. Matematika memang sudah tampak sudah jadi kesenangan sekaligus keahliannya. Tapi kalo disuruh ngarang, dia malas.
Sofi ya gitu deh. Lebih banyak bekerja daripada bicara. Kalem dan berdisiplin tinggi.
Kemampuan matematika standar, tapi kalo urusan imajinasi dia mantap. Senang membaca, senang menulis, senang menggambar, senang tampil, dan jiwa sosialnya tinggi.
AlhamduliLlah..
Semoga mereka kelak menemukan jalan hidup sesuai dengan hati nuraninya, keahliannya, kesenangannya, sehingga mereka bisa banyak beribadah dengan semua itu, banyak bersyukur, dan memberi manfaat banyak pula bagi umat. Amiin.
Tinggal emaknya nih...
*enaknya ngapain ya gue...??*
Hahaha.. dasar Irma Labil.. :D :D :D
***
Selasa, 31 Mei 2011
anak UAS umi HEPI
***
Beneran euy, pelajaran anak SD sekarang tak sama dengan pelajaran SD jaman kita dulu tahun 80-an. Saya sendiri gak tau persis bedanya apa karena buku-buku SD saya saat ini barangkali udah membusuk berkalang tanah. Yang jelas beda perasaan aja.
Sekarang kalau lihat Sofi yang kelas 1, misalnya, dia ternyata dituntut mesti bisa membaca, melafalkan, dan menuliskan sebuah benda dalam bahasa Inggris.
Membaca dan melafalkan dia sudah lancar. Tapi ketika menuliskan dia masih agak bingung. Misal saat dia mesti menulis yellow, yang dia tulis yelou. Atau elephant yang dia tulis elephen.
Jaman saya dulu, teman kelas dua saja ada yang masih terbata-bata membaca bacaan Bahasa Indonesia. Kelas 1, setengah kelas lancar membaca, setengahnya lagi belum bisa baca.
Arif kelas 3 sekarang udah belajar satuan waktu, berat, panjang, seperti meter dikonversi ke kilometer, ons dikonversi ke kilogram, pecahan beda penyebut, luas dan keliling bangun datar....
Jaman saya kelas 3, kok ya rasanya belom belajar yang begitu?
Kelas 3 mah jaman saya main lompat tali sama boy-boyan.. eta we nu inget teh.
Jadi kalau menghadapi Arif dan Sofi UAS, ya beginilah. Sayanya jadi dituntut untuk belajar juga.
Pengen rasanya ngantep, gak usah nyuruh belajar. Da dulu waktu SD juga saya asa gak pernah belajar kecuali pas mau EBTANAS. Belajarnya juga dulu belajar sendiri gak pake ditemenin mamah bapa. Hasilnya juga alhamduliLlah gak jelek-jelek amat.
Tapi ya karena jaman udah beda, saya jadi memaksakan diri nemenin anak-anak belajar menjelang UAS.
Masalahnya memang Arif Sofi tidak pegang buku paket. Jadi kayak jaman kuliah saya dulu. Pake modul-modul fotokopian yang dibuat oleh gurunya sendiri. Itupun dibagikan sebulan atau dua bulan sekali. Jadi kalau tiap hari belajar saya bingung sumbernya dari mana. Ngandelin pengerjaan PR aja jadinya.
PR pun gampang-gampang. Bisa dikerjakan anak-anakku dalam waktu 5-10 menit saja.
Meskipun modul yang datang jadinya seabreg di akhir semester, alhamduliLlah Arif Sofi sudah cukup menguasai semua materi. Setidaknya sebagian besar hafal lah.
Jadi sebenernya udah gak begitu masalah. Tinggal penyempurnaan saja.
Pada proses penyempurnaan itulah ketauan bolong-bolongnya. Misal Arif yang faham tapi tidak teliti, dan Sofi yang kalau gak pake dinyanyiin sulit hafalnya. Hehe.
Terus kadang memahami bahasa soal pun perlu latihan.
Misal "Kerjakan soal pembagian ini dengan cara panjang dan cara bersusun!"
Nah loh.. Arif bingung, cara panjang seperti apa? Cara bersusun seperti apa? Padahal dia tau caranya. Cuma gak tau aja kalau itu namanya cara bersusun atau cara panjang.
Ini sedikit tips sotoy dari saya untuk ibu-ibu yang suka bingung menghadapi anak UAS:
1. Kalau anak tidak bisa, jangan panik, jangan marah
Biasa aja kali Bu, budak SD ieuh. Saya pengen di SD itu anak senang belajar. Kalau menghadapi modul segitu aja udah dibawa rieut, kasihan nanti kalo harus menghadapi buku-buku tebal di kemudian hari. Geus mah rieut, budak dicarekan. Mun budak pundung urang beuki rieut.
2. Yang susah dibawa senang
Kasih contoh, penjelasan, soal, yang melibatkan kehidupan mereka sehari-hari. Atau yang kocak-kocak. Beruntunglah Arif dan Sofi yang memiliki seorang Umi geje. Yang geje itu biasanya lucu dan tidak membosankan. Wew.
Seneng deh kalo lihat Arif Sofi yang ketawa terbahak-bahak saat belajar. Dan kalau papanya yang sotoy itu nimbrung, biasanya lebih seru lagi :)
3. Beri kritik sekaligus pujian
Misal saya bilang "Arif bisa tapi suka gak teliti. Ntar yang teliti yaaa...."
Kalau Sofi biasa saya jempolin aja kalau berhasil nyebutin sebuah urutan ataupun definisi walaupun dengan cara menyanyi.
Kalau ada yang salah, koreksinya mesti membangun semangat, dan tidak bernada merendahkan atau menyalahkan.
Mereka harus yakin kalau mereka mampu dan bisa.
4. Yang ngajar harus senang lahir batin
Poin ini nih yang paling utama. Jadi ibu itu harus senang. Kalau ada masalah, ngajarin anak biasanya kacau balau. Karena ninggalin masalah itu sulit, lebih baik jangan buat masalah di luar ya. Apalagi kalau bermasalah dengan suami. Arrrgghh.. jangan deh. Beresin dulu semuanya sebelum UAS, dan mudah-mudahan gak ada masalah lagi setelah UAS =P
5. Do'akan anak
Sejak dulu tiap saya dido'akan mamah secara lisan sebelum berangkat sekolah, seakan memberi semangat dan kepercayaan diri yang luar biasa. Jadinya saya pengen juga anak-anak mendapatkan semangat itu lewat do'a saya secara lisan di depan mereka.
Sebutkan saja harapan-harapan kita, bukan pada anak, tapi pada Allah, dan anak mendengarnya.
Do'a tulus ibu, insyaa Allah diijabah.
6. Apapun hasilnya .. it's OK...
Itu seperti sikap mamah bapak juga pada saya selama sekolah. Apapun hasilnya yakin itu yang terbaik. Yang penting kan udah belajar, titik. Cara belajarnya aja nanti barangkali yang sama-sama mesti diperbaiki.
Yuks ah, ibu-ibu bapa-bapa siapa yang punya anak, jangan tularkan keluh kesah, panik, dan bosan kita seperti halnya kita belajar jaman dulu. Tawarkan kesenangan saat belajar. Kalau ingin menularkan senang, kitanya juga harus senang.
Jadi mari kita bersenang-senang.
***
Beneran euy, pelajaran anak SD sekarang tak sama dengan pelajaran SD jaman kita dulu tahun 80-an. Saya sendiri gak tau persis bedanya apa karena buku-buku SD saya saat ini barangkali udah membusuk berkalang tanah. Yang jelas beda perasaan aja.
Sekarang kalau lihat Sofi yang kelas 1, misalnya, dia ternyata dituntut mesti bisa membaca, melafalkan, dan menuliskan sebuah benda dalam bahasa Inggris.
Membaca dan melafalkan dia sudah lancar. Tapi ketika menuliskan dia masih agak bingung. Misal saat dia mesti menulis yellow, yang dia tulis yelou. Atau elephant yang dia tulis elephen.
Jaman saya dulu, teman kelas dua saja ada yang masih terbata-bata membaca bacaan Bahasa Indonesia. Kelas 1, setengah kelas lancar membaca, setengahnya lagi belum bisa baca.
Arif kelas 3 sekarang udah belajar satuan waktu, berat, panjang, seperti meter dikonversi ke kilometer, ons dikonversi ke kilogram, pecahan beda penyebut, luas dan keliling bangun datar....
Jaman saya kelas 3, kok ya rasanya belom belajar yang begitu?
Kelas 3 mah jaman saya main lompat tali sama boy-boyan.. eta we nu inget teh.
Jadi kalau menghadapi Arif dan Sofi UAS, ya beginilah. Sayanya jadi dituntut untuk belajar juga.
Pengen rasanya ngantep, gak usah nyuruh belajar. Da dulu waktu SD juga saya asa gak pernah belajar kecuali pas mau EBTANAS. Belajarnya juga dulu belajar sendiri gak pake ditemenin mamah bapa. Hasilnya juga alhamduliLlah gak jelek-jelek amat.
Tapi ya karena jaman udah beda, saya jadi memaksakan diri nemenin anak-anak belajar menjelang UAS.
Masalahnya memang Arif Sofi tidak pegang buku paket. Jadi kayak jaman kuliah saya dulu. Pake modul-modul fotokopian yang dibuat oleh gurunya sendiri. Itupun dibagikan sebulan atau dua bulan sekali. Jadi kalau tiap hari belajar saya bingung sumbernya dari mana. Ngandelin pengerjaan PR aja jadinya.
PR pun gampang-gampang. Bisa dikerjakan anak-anakku dalam waktu 5-10 menit saja.
Meskipun modul yang datang jadinya seabreg di akhir semester, alhamduliLlah Arif Sofi sudah cukup menguasai semua materi. Setidaknya sebagian besar hafal lah.
Jadi sebenernya udah gak begitu masalah. Tinggal penyempurnaan saja.
Pada proses penyempurnaan itulah ketauan bolong-bolongnya. Misal Arif yang faham tapi tidak teliti, dan Sofi yang kalau gak pake dinyanyiin sulit hafalnya. Hehe.
Terus kadang memahami bahasa soal pun perlu latihan.
Misal "Kerjakan soal pembagian ini dengan cara panjang dan cara bersusun!"
Nah loh.. Arif bingung, cara panjang seperti apa? Cara bersusun seperti apa? Padahal dia tau caranya. Cuma gak tau aja kalau itu namanya cara bersusun atau cara panjang.
Ini sedikit tips sotoy dari saya untuk ibu-ibu yang suka bingung menghadapi anak UAS:
1. Kalau anak tidak bisa, jangan panik, jangan marah
Biasa aja kali Bu, budak SD ieuh. Saya pengen di SD itu anak senang belajar. Kalau menghadapi modul segitu aja udah dibawa rieut, kasihan nanti kalo harus menghadapi buku-buku tebal di kemudian hari. Geus mah rieut, budak dicarekan. Mun budak pundung urang beuki rieut.
2. Yang susah dibawa senang
Kasih contoh, penjelasan, soal, yang melibatkan kehidupan mereka sehari-hari. Atau yang kocak-kocak. Beruntunglah Arif dan Sofi yang memiliki seorang Umi geje. Yang geje itu biasanya lucu dan tidak membosankan. Wew.
Seneng deh kalo lihat Arif Sofi yang ketawa terbahak-bahak saat belajar. Dan kalau papanya yang sotoy itu nimbrung, biasanya lebih seru lagi :)
3. Beri kritik sekaligus pujian
Misal saya bilang "Arif bisa tapi suka gak teliti. Ntar yang teliti yaaa...."
Kalau Sofi biasa saya jempolin aja kalau berhasil nyebutin sebuah urutan ataupun definisi walaupun dengan cara menyanyi.
Kalau ada yang salah, koreksinya mesti membangun semangat, dan tidak bernada merendahkan atau menyalahkan.
Mereka harus yakin kalau mereka mampu dan bisa.
4. Yang ngajar harus senang lahir batin
Poin ini nih yang paling utama. Jadi ibu itu harus senang. Kalau ada masalah, ngajarin anak biasanya kacau balau. Karena ninggalin masalah itu sulit, lebih baik jangan buat masalah di luar ya. Apalagi kalau bermasalah dengan suami. Arrrgghh.. jangan deh. Beresin dulu semuanya sebelum UAS, dan mudah-mudahan gak ada masalah lagi setelah UAS =P
5. Do'akan anak
Sejak dulu tiap saya dido'akan mamah secara lisan sebelum berangkat sekolah, seakan memberi semangat dan kepercayaan diri yang luar biasa. Jadinya saya pengen juga anak-anak mendapatkan semangat itu lewat do'a saya secara lisan di depan mereka.
Sebutkan saja harapan-harapan kita, bukan pada anak, tapi pada Allah, dan anak mendengarnya.
Do'a tulus ibu, insyaa Allah diijabah.
6. Apapun hasilnya .. it's OK...
Itu seperti sikap mamah bapak juga pada saya selama sekolah. Apapun hasilnya yakin itu yang terbaik. Yang penting kan udah belajar, titik. Cara belajarnya aja nanti barangkali yang sama-sama mesti diperbaiki.
Yuks ah, ibu-ibu bapa-bapa siapa yang punya anak, jangan tularkan keluh kesah, panik, dan bosan kita seperti halnya kita belajar jaman dulu. Tawarkan kesenangan saat belajar. Kalau ingin menularkan senang, kitanya juga harus senang.
Jadi mari kita bersenang-senang.
***
Rabu, 02 Februari 2011
Hah? Udah jam 12 lagi???
***
Saya sering berteriak seperti itu. Tentu saja dalam hati, demi melihat jarum panjang dan jarum pendek berebut berdekatan dengan angka 12. Dan tentu saja siang. Kalau jam 12 malam mah saya tak pernah begitu, berhubung tidak ada perubahan pada diri saya saat jam 12 malam. Entah bila di antara kalian yang cantik dan ganteng ada yang berubah jadi kodok. Mungkin berteriak juga “Hah? udah jam 12 lagi???”.
Saya mau cerita apa tadi ya? Jadi lupa...
Oh iya... ya gitu deh.. setiap kali saya lihat jam... saya panik dodol piknik, karena merasa belum melakukan apa-apa padahal udah jam segitu.
Dari tadi gue ngapain aja ya?... euuuh.. taunya abis waktu cuma buat komen-komenan, buka wall orang, atau chatting gak penting gitulah sama temen. Huks...
Emmmm...salah? Ya enggak juga kan.... apa salahnya saya komen? Apa salahnya saya chatting? Yang bikin saya merasa bersalah seringkali karena hal-hal tersebut ternyata mengalahkan semua pekerjaan saya yang lebih penting untuk segera dikerjakan. Misalnya.. misalnya.. apa ya? Ada yang penting gitu? Hehe..
Dan lebih seringnya sih karena niatnya gak jelas saat kita kuman komen dan chatting begitu. Nyari ilmu engga, dapet manfaat juga engga, silaturahmi juga...emmm.. dia lagi dia lagi yang disilaturahmii...hihi... Cuma asik aja gitu.
Saya cuma mau berbagi di note ini. Ada tips yang saya lakukan agar setiap detik saya berjalan efektif dan always back on the track, yaitu dengan membuat joblist... jobdesc.. ya sabangsaning gitulah.
Maklum saya sejak SMA terdidik jadi seorang yang mesti hitam di atas putih. Kerjaannya menggodok AD/ART yang dibikin sama senior, target jangka panjang, menengah, pendek, dan berbagai perjanjian di atas materai. Bahkan sholat malam apa tidak pun dulu pake checklist biar dilihat sama teteh mentor.
Bukan kepaksa, bukan juga kepengen. Tapi saya suka aja dikerjain kayak gitu.
Halah.. baru kerasa ya gue dikerjain? =P
Jadi... jadi... yang saya lakukan adalah membuat joblist tadi.. bener-bener hitam di atas putih. Pake pulpen di atas kertas. Ditulis di atas kertas maksudnya. Duh ribet amat ngomongnya.
Tujuan tak perlu lah kita tulis lagi. Itu akan membuat kita stress 24 jam.
Tujuannya membuat rumah saya rapi dan bersih (oh sungguh mulia, bukan?)
Tapi terbayang tidak bagaimana caranya saya membuat rumah rapi dan bersih itu? Bila ternyata saya kalahka pusing, maka susunlah langkah-langkahnya.
Maksimal 10 langkah saja yang saya tulis, untuk dikerjakan selama anak dan suami tak ada di rumah.
Kenapa 10? Biar malaikat gampang ngasih nilainya.
Contoh nih ya:
1. Nyapu
2. Ngepel
3. Nyuci piring
4. Nyeuseuh
5. Masak
6. Nyapu teras depan
7. Nyapu teras belakang
8. Ngepel teras depan
9. Ngepel teras belakang
10. Nyetrika
Nah.. model seperti di atas setelah saya coba ternyata paling gede nilainya cuman 5 (lima). Tentu saja saya tidak puas.
Eh, tau kan caranya menilainya? Kalo udah dikerjain, checklist, gitu aja. Satu nomor nilainya satu. Kalo dikerjain cuma 4 nomor, berarti nilainya empat. Ah masa gak ngerti gitu aja.
Hari selanjutnya saat saya di rumah, biar nilai saya gede, saya turunkan lagi jobdescnya jadi begini:
1. Nyapu
2. Ngepel
3. Rendam baju
4. Putar mesin cuci
5. bilas
6. keringkan
7. jemur
8. Nyapu halaman depan
9. Nyapu halaman belakang
10. Nyetrika
Nah, kalau lebih detil seperti ini, nilai saya bisa sampe 7 lah. Jadi gak masak, dan juga gak sampe nyetrika.. hahaha...
Tapi taukah kalian, jika dengan seperti ini, maka saya punya kesenangan tersendiri saat saya lihat jam … dan lihat list.... owh.. ternyata ada juga ya yang saya kerjakan... hihi.
Dapet nilai juga! Hore!
Dan tiap kali saya diganggu, terganggu, atau mengganggu orang lain dengan berbagai cara, maka kertas tadi jadi saksi, bahwa saya harus kembali pada pekerjaan yang tertulis di atasnya.
Terusss... online gak?... ah.. bagian ini saya tulis kapan-kapan lagi aja ya. Kan kalo note kepanjangan suka jadi pada males bacanya.
Catatan: hari ini kerjaan saya cuma nulis note, nyuci piring, sama nyuci baju. Dan nilainya SERATUS DUA PULUH !! (terserah saya dong mau apa kerjaannya, berapa biji, dan gimana ngasih nilainya)
* * *
Saya sering berteriak seperti itu. Tentu saja dalam hati, demi melihat jarum panjang dan jarum pendek berebut berdekatan dengan angka 12. Dan tentu saja siang. Kalau jam 12 malam mah saya tak pernah begitu, berhubung tidak ada perubahan pada diri saya saat jam 12 malam. Entah bila di antara kalian yang cantik dan ganteng ada yang berubah jadi kodok. Mungkin berteriak juga “Hah? udah jam 12 lagi???”.
Saya mau cerita apa tadi ya? Jadi lupa...
Oh iya... ya gitu deh.. setiap kali saya lihat jam... saya panik dodol piknik, karena merasa belum melakukan apa-apa padahal udah jam segitu.
Dari tadi gue ngapain aja ya?... euuuh.. taunya abis waktu cuma buat komen-komenan, buka wall orang, atau chatting gak penting gitulah sama temen. Huks...
Emmmm...salah? Ya enggak juga kan.... apa salahnya saya komen? Apa salahnya saya chatting? Yang bikin saya merasa bersalah seringkali karena hal-hal tersebut ternyata mengalahkan semua pekerjaan saya yang lebih penting untuk segera dikerjakan. Misalnya.. misalnya.. apa ya? Ada yang penting gitu? Hehe..
Dan lebih seringnya sih karena niatnya gak jelas saat kita kuman komen dan chatting begitu. Nyari ilmu engga, dapet manfaat juga engga, silaturahmi juga...emmm.. dia lagi dia lagi yang disilaturahmii...hihi... Cuma asik aja gitu.
Saya cuma mau berbagi di note ini. Ada tips yang saya lakukan agar setiap detik saya berjalan efektif dan always back on the track, yaitu dengan membuat joblist... jobdesc.. ya sabangsaning gitulah.
Maklum saya sejak SMA terdidik jadi seorang yang mesti hitam di atas putih. Kerjaannya menggodok AD/ART yang dibikin sama senior, target jangka panjang, menengah, pendek, dan berbagai perjanjian di atas materai. Bahkan sholat malam apa tidak pun dulu pake checklist biar dilihat sama teteh mentor.
Bukan kepaksa, bukan juga kepengen. Tapi saya suka aja dikerjain kayak gitu.
Halah.. baru kerasa ya gue dikerjain? =P
Jadi... jadi... yang saya lakukan adalah membuat joblist tadi.. bener-bener hitam di atas putih. Pake pulpen di atas kertas. Ditulis di atas kertas maksudnya. Duh ribet amat ngomongnya.
Tujuan tak perlu lah kita tulis lagi. Itu akan membuat kita stress 24 jam.
Tujuannya membuat rumah saya rapi dan bersih (oh sungguh mulia, bukan?)
Tapi terbayang tidak bagaimana caranya saya membuat rumah rapi dan bersih itu? Bila ternyata saya kalahka pusing, maka susunlah langkah-langkahnya.
Maksimal 10 langkah saja yang saya tulis, untuk dikerjakan selama anak dan suami tak ada di rumah.
Kenapa 10? Biar malaikat gampang ngasih nilainya.
Contoh nih ya:
1. Nyapu
2. Ngepel
3. Nyuci piring
4. Nyeuseuh
5. Masak
6. Nyapu teras depan
7. Nyapu teras belakang
8. Ngepel teras depan
9. Ngepel teras belakang
10. Nyetrika
Nah.. model seperti di atas setelah saya coba ternyata paling gede nilainya cuman 5 (lima). Tentu saja saya tidak puas.
Eh, tau kan caranya menilainya? Kalo udah dikerjain, checklist, gitu aja. Satu nomor nilainya satu. Kalo dikerjain cuma 4 nomor, berarti nilainya empat. Ah masa gak ngerti gitu aja.
Hari selanjutnya saat saya di rumah, biar nilai saya gede, saya turunkan lagi jobdescnya jadi begini:
1. Nyapu
2. Ngepel
3. Rendam baju
4. Putar mesin cuci
5. bilas
6. keringkan
7. jemur
8. Nyapu halaman depan
9. Nyapu halaman belakang
10. Nyetrika
Nah, kalau lebih detil seperti ini, nilai saya bisa sampe 7 lah. Jadi gak masak, dan juga gak sampe nyetrika.. hahaha...
Tapi taukah kalian, jika dengan seperti ini, maka saya punya kesenangan tersendiri saat saya lihat jam … dan lihat list.... owh.. ternyata ada juga ya yang saya kerjakan... hihi.
Dapet nilai juga! Hore!
Dan tiap kali saya diganggu, terganggu, atau mengganggu orang lain dengan berbagai cara, maka kertas tadi jadi saksi, bahwa saya harus kembali pada pekerjaan yang tertulis di atasnya.
Terusss... online gak?... ah.. bagian ini saya tulis kapan-kapan lagi aja ya. Kan kalo note kepanjangan suka jadi pada males bacanya.
Catatan: hari ini kerjaan saya cuma nulis note, nyuci piring, sama nyuci baju. Dan nilainya SERATUS DUA PULUH !! (terserah saya dong mau apa kerjaannya, berapa biji, dan gimana ngasih nilainya)
* * *
Sabtu, 30 Oktober 2010
Ariif.. Arif ^^ (12) -maafkan Umi-
***
Capek rasanya pagi ini. Cape hate hanya karena saya gak bisa nahan marah sama Arif. Tak terhitung berapa banyak kami 'bertengkar' karena hal-hal sepele. Kadang saya marah melibatkan emosi, kadang bisa juga dengan kepala dingin.
Tadi pagi barangkali adalah satu dari sekian saat saya dan Arif rewel bersama. Masalahnya sepele juga, cuma karena saya merasa kesiangan bangun. Saya bangun jam empat padahal, tapi memang udah mepet banget waktu shubuh. Shubuh sekarang kan jam tiga lebih lima puluh sembilan menit... jiah... beneran tadi memang bukan mepet lagi, tapi pas shubuh saya bangun.
Ya gitu deh.. langsung pak pik pek ... gedubrak kecebur srok srek... asa riweuh, padahal ya mestinya biasa aja.Toh walaupun matahari terbit lebih cepat, jam mah tetep semenit enam puluh detik.
Arif bangun sendiri jam lima pagi, tapi entah kenapa langsung bete gitu tampangnya. Huh...nyebelin lah.
(padahal mun ngaca sigana Si Umi leuwih bete deui).
Jam lima lebih dua puluh menit, saya nyuruh Arif mandi.
Biasanya saya samperin dia ... tapi tadi berhubung lagi menggoreng-goreng, saya teriak dari dapur....
"Rif. mandi Riiiif... !!!".. berkali-kali gak ada sahutan. "RIIIF MANDI RIIIIF !!!"
Kayaknya sesudah sholat shubuh barusan, Arif tidur lagi.
Saya males banget nyamperin dia ke kamar dan jadinya memilih untuk tetap ....
B E R T E R I A K.
Rupanya Arif yang dasarnya lagi bete itu, kesel juga diteriakin sama uminya. Dia balas teriak juga dari kamar.
Heuuuuuu...saya gak denger apa yang dia omongin.... saya balas teriak lagi aja.... BLA BLA BLA....!!!
(sementara papanya anteng tidur lagi juga tadi abis sholat subuh.... teriak-teriak mah gak akan sampe ngebangunin dia lah.. hahaha... sementara standar saya sebagai istri yang baik adalah menjaga makan dan tidurnya suami, jangan keganggu sedikitpun)
Kembali ke Arif, ...
pokonya tadi jadi bertengkar aja lah pagi-pagi teh... sama-sama emosi, marah-marah, saling nyolot.... huahahah.. gak separah itu deng... pokonya gak enak hati banget karena Arif akhirnya tampak kalah dan ketakutan... xixixi....
Setelah Arif mengalah, barulah semua mereda. Yang tinggal hanyalah saya yang semakin bete karena merasa bersalah udah neriakin si Arif.
Arifnya kalem-kalem aja setelah mandi, dan seakan melupakan semua pertengkaran tadi.
Sofi? Sofi kalem weee... dia mah secara emosi memang nurun banget dari bapaknya. Kalem dan selalu tau apa yang dia mau alias tara rewel, tapi kalo disuruh ngitung... mikirnya lama.
Arif mah cerdas kayak bapaknya, jago matematika. Tapi kalo masalah emosi, uminya pisaaaannnn....
Wew lah pokonya keluarga ini... subsidi silang .... (yang jelek berasal dari uminya dan yang bagus pasti dari bapaknya).
Akhirnya tadi pas saya antar Arif sekolah, sebelum dia turun saya minta maaf dulu sama dia.
"Maafin Umi ya Rif, tadi Umi marah-marah"
"Iya Mi.. Arif juga minta maaf", jawab dia sambil matanya sedikit menerawang jauh
(mikir apa dia ya?).
Saya cium dia, juga Sofi.... dan berjanji (lageeee) dalam hati untuk gak teriakin mereka lagi....
Sesudah prosesi itu rasanya memang sedikit lega....
Dan mudah-mudahan dengan nulis note ini saya bisa lebih lega lagi....
Jangan marah-marah lagi ya Mi....
Enya lah... isukan mah moal ngambek deui...
meureun...
mun teu hujan....
hahahaha :D
***
Capek rasanya pagi ini. Cape hate hanya karena saya gak bisa nahan marah sama Arif. Tak terhitung berapa banyak kami 'bertengkar' karena hal-hal sepele. Kadang saya marah melibatkan emosi, kadang bisa juga dengan kepala dingin.
Tadi pagi barangkali adalah satu dari sekian saat saya dan Arif rewel bersama. Masalahnya sepele juga, cuma karena saya merasa kesiangan bangun. Saya bangun jam empat padahal, tapi memang udah mepet banget waktu shubuh. Shubuh sekarang kan jam tiga lebih lima puluh sembilan menit... jiah... beneran tadi memang bukan mepet lagi, tapi pas shubuh saya bangun.
Ya gitu deh.. langsung pak pik pek ... gedubrak kecebur srok srek... asa riweuh, padahal ya mestinya biasa aja.Toh walaupun matahari terbit lebih cepat, jam mah tetep semenit enam puluh detik.
Arif bangun sendiri jam lima pagi, tapi entah kenapa langsung bete gitu tampangnya. Huh...nyebelin lah.
(padahal mun ngaca sigana Si Umi leuwih bete deui).
Jam lima lebih dua puluh menit, saya nyuruh Arif mandi.
Biasanya saya samperin dia ... tapi tadi berhubung lagi menggoreng-goreng, saya teriak dari dapur....
"Rif. mandi Riiiif... !!!".. berkali-kali gak ada sahutan. "RIIIF MANDI RIIIIF !!!"
Kayaknya sesudah sholat shubuh barusan, Arif tidur lagi.
Saya males banget nyamperin dia ke kamar dan jadinya memilih untuk tetap ....
B E R T E R I A K.
Rupanya Arif yang dasarnya lagi bete itu, kesel juga diteriakin sama uminya. Dia balas teriak juga dari kamar.
Heuuuuuu...saya gak denger apa yang dia omongin.... saya balas teriak lagi aja.... BLA BLA BLA....!!!
(sementara papanya anteng tidur lagi juga tadi abis sholat subuh.... teriak-teriak mah gak akan sampe ngebangunin dia lah.. hahaha... sementara standar saya sebagai istri yang baik adalah menjaga makan dan tidurnya suami, jangan keganggu sedikitpun)
Kembali ke Arif, ...
pokonya tadi jadi bertengkar aja lah pagi-pagi teh... sama-sama emosi, marah-marah, saling nyolot.... huahahah.. gak separah itu deng... pokonya gak enak hati banget karena Arif akhirnya tampak kalah dan ketakutan... xixixi....
Setelah Arif mengalah, barulah semua mereda. Yang tinggal hanyalah saya yang semakin bete karena merasa bersalah udah neriakin si Arif.
Arifnya kalem-kalem aja setelah mandi, dan seakan melupakan semua pertengkaran tadi.
Sofi? Sofi kalem weee... dia mah secara emosi memang nurun banget dari bapaknya. Kalem dan selalu tau apa yang dia mau alias tara rewel, tapi kalo disuruh ngitung... mikirnya lama.
Arif mah cerdas kayak bapaknya, jago matematika. Tapi kalo masalah emosi, uminya pisaaaannnn....
Wew lah pokonya keluarga ini... subsidi silang .... (yang jelek berasal dari uminya dan yang bagus pasti dari bapaknya).
Akhirnya tadi pas saya antar Arif sekolah, sebelum dia turun saya minta maaf dulu sama dia.
"Maafin Umi ya Rif, tadi Umi marah-marah"
"Iya Mi.. Arif juga minta maaf", jawab dia sambil matanya sedikit menerawang jauh
(mikir apa dia ya?).
Saya cium dia, juga Sofi.... dan berjanji (lageeee) dalam hati untuk gak teriakin mereka lagi....
Sesudah prosesi itu rasanya memang sedikit lega....
Dan mudah-mudahan dengan nulis note ini saya bisa lebih lega lagi....
Jangan marah-marah lagi ya Mi....
Enya lah... isukan mah moal ngambek deui...
meureun...
mun teu hujan....
hahahaha :D
***
Jumat, 16 Juli 2010
perlu untuk merasa diperlukan
**
Takjubnya saya, ketika pada suatu hari dipertemukan dengan teman-teman para ibu-ibu karier. Begitulah pentingnya silaturahmi ya. Kita jadi tak merasa sendiri. Tak merasa waras sendiri, sholeh sendiri, ataupun gila sendiri. Toh ternyata ada teman kita yang lebih waras, ataupun lebih gila dari kita.
Ibu-ibu itu tak lain tiga orang dokter dan satu orang apoteker teman sejawat saya.
Dokter pertama, aktivitasnya menjadi dosen di sebuah universitas swasta, dan baru saja ditinggal oleh pembantunya dengan alasan menikah. Padahal sang pembantu amat dia andalkan untuk mengurus ketiga anaknya sehari-hari.
Suami bekerja di luar provinsi, dan pulang hanya dua-tiga minggu sekali.
Walhasil... dia bener-bener hidup sudah seperti robot. Tanpa nada, tanpa rasa. Pergi pagi pulang sore, anak-anaknya yang sudah SD 'terpaksa' mandiri di rumah, dan anaknya satu lagi yang masih balita dititip di PAUD, berlanjut di tetangga.
Dokter kedua, aktivitasnya praktek sehari dalam seminggu saja di sebuah instansi. Tapi anaknya enam. Huihihi... kalo saya ke rumahnya, ampuuuun deh... rumah berantakan dan setiap kami ngobrol, selalu direcoki tiga anak balitanya. Syukurlah yang tiga lagi sudah sekolah full day.
Dokter satu lagi dan seorang apoteker cenderung tanpa masalah berarti. Masalahnya satu saja: masih tinggal di orang tua/ mertua, dengan konsekuensi yang tidak lebih ringan dari yang lain.
Akhirnya masalah rumah tangga masing-masing, jadi topik pembicaraan yang hangat dan cenderung memanas.
Kami mendiskusikan bagaimana bila kami keluar dari pekerjaan di luar rumah yang mengikat, kemudian fokus pada anak dan rumah tangga saja. Toh sebenarnya masalah nafkah ya alhamduliLlah kami sudah merasa tercukupi dengan gaji suami.
Namun tercetus suatu kalimat dari salah seorang dari kami, yang sebetulnya terpikir di kepala, tapi segan untuk terungkapkan, yang terbukti setelah kalimat itu terucap, semua ternyata mengiyakan:
yaitu ... "saya butuh untuk merasa dibutuhkan"
Teman saya yang dosen itu, merasa berharga tatkala ada mahasiswa yang meminta bimbingannya menyelesaikan skripsi. Teman saya yang praktek di sana-sini merasa berharga saat ada pasien yang berobat padanya. Dan teman saya yang bekerja di pabrik, memang baru saja promosi jabatan. Dan dia pun merasa berharga kerenanya.
Masing-masing merasa dibutuhkan oleh banyak orang, dan itu menyenangkan.
Rasanya masalah uang tak seberapa dibanding dengan *kesenangan saat dibutuhkan* itu.
Bagaimana dengan seorang ibu yang dibutuhkan oleh suami dan anak-anaknya?
Haduuuuuuuuuuuhhh... bukan hal yang mudah menerapkan hal itu di hati, ternyata.
Mungkin karena itu hanyalah kebutuhan yang sifatnya naluriah? alamiah?
Yang namanya ibu itu kan tak ada sekolahnya. Tak ada gelarnya. Tak ada pula gajinya.
(Dan herannya.. secara tidak langsung kami sepakat pula akan hal itu).
Bukaan.. bukan lantas kami menyepelekan beban sebagai seorang ibu.
Tapi kami sama-sama berpikir bagaimana menjadikan semua amanah itu bisa berjalan bersama-sama. Kebutuhan berkarir jalan terus, tapi tetap jadi ibu yang baik bagi anak-anak.
Salah satu solusi paling bodoh yang terlontar (tapi sekali lagi diamini oleh semuanya) adalah .. menurunkan ekspektasi terhadap keterpeliharaan rumah dan segala benda mati yang ada di dalamnya...
whahahaha....
Artinya.. cobalah untuk tidak terlalu peduli dengan cucian dan setrikaan yang menumpuk, dan biarlah rumah kita dipel seminggu sekali saja.
Yang penting kita tetap bisa konsentrasi pada anak-anak selama di rumah, dan kita bisa makan serta istirahat dengan cukup.
Soalnya kalau kita tetap punya standar tinggi terhadap kerapian rumah, sementara pembantu tak ada, suami sibuk, anak-anak masih kecil, dan amanah karir kita menanti, hasilnya hanya stress.
Oya.. lebih bagus lagi kalau anak-anak dibiasakan untuk membantu ibunya...
Sekali lagi kami bersyukur, masing-masing punya suami yang amat teramat sangat pengertian..
Wah.. jangankan teman-teman saya itu yang berkarir ya.
Saya yang hampir full di rumah aja udah paciweuh riweuh.
Kalau sempet nyuci dan nyetrika, berarti gak sempet masak yang susah-susah. Cuma sempet masak yang praktis aja, atau beli.
Kalau sempet nyapu ngepel, berarti gak sempet nyuci nyetrika.
Kalau sempet chatting berlama-lama, berarti gak sempet nyuci piring.
Kalau sempet nulis blog begini.. itu karena masakan yang kemaren masih ada. Tinggal diangetin. Tapi.. rumah berantakan...
Tak apalah.. yang penting hepi...
Jadiii.. kesalahan apapun yang dilakukan seorang ibu, katakanlah itu hanya "telat bangun", maka akan selalu ada konsekuensi yang menyertai. Mendinglah kalau kenanya cuma pada diri sendiri, ini sih.. pasti suami dan anak-anak ikut kena getahnya juga.
Hummm... memang tak kan pernah ada waktu yang cukup bagi seorang ibu.
Saya pun kalau ditanya "Sibuk, Ier?" jawaban saya pasti sibuk.
Jadi mending gak usah tanya lah...
Buat teman-teman saya, keluarga saya, siapapun yang butuh saya, maka saya selalu ada. Karena kembali pada postulat yang tadi. Setiap orang butuh untuk merasa dibutuhkan. Perlu untuk merasa diperlukan.
You need me and I need you too
***
Takjubnya saya, ketika pada suatu hari dipertemukan dengan teman-teman para ibu-ibu karier. Begitulah pentingnya silaturahmi ya. Kita jadi tak merasa sendiri. Tak merasa waras sendiri, sholeh sendiri, ataupun gila sendiri. Toh ternyata ada teman kita yang lebih waras, ataupun lebih gila dari kita.
Ibu-ibu itu tak lain tiga orang dokter dan satu orang apoteker teman sejawat saya.
Dokter pertama, aktivitasnya menjadi dosen di sebuah universitas swasta, dan baru saja ditinggal oleh pembantunya dengan alasan menikah. Padahal sang pembantu amat dia andalkan untuk mengurus ketiga anaknya sehari-hari.
Suami bekerja di luar provinsi, dan pulang hanya dua-tiga minggu sekali.
Walhasil... dia bener-bener hidup sudah seperti robot. Tanpa nada, tanpa rasa. Pergi pagi pulang sore, anak-anaknya yang sudah SD 'terpaksa' mandiri di rumah, dan anaknya satu lagi yang masih balita dititip di PAUD, berlanjut di tetangga.
Dokter kedua, aktivitasnya praktek sehari dalam seminggu saja di sebuah instansi. Tapi anaknya enam. Huihihi... kalo saya ke rumahnya, ampuuuun deh... rumah berantakan dan setiap kami ngobrol, selalu direcoki tiga anak balitanya. Syukurlah yang tiga lagi sudah sekolah full day.
Dokter satu lagi dan seorang apoteker cenderung tanpa masalah berarti. Masalahnya satu saja: masih tinggal di orang tua/ mertua, dengan konsekuensi yang tidak lebih ringan dari yang lain.
Akhirnya masalah rumah tangga masing-masing, jadi topik pembicaraan yang hangat dan cenderung memanas.
Kami mendiskusikan bagaimana bila kami keluar dari pekerjaan di luar rumah yang mengikat, kemudian fokus pada anak dan rumah tangga saja. Toh sebenarnya masalah nafkah ya alhamduliLlah kami sudah merasa tercukupi dengan gaji suami.
Namun tercetus suatu kalimat dari salah seorang dari kami, yang sebetulnya terpikir di kepala, tapi segan untuk terungkapkan, yang terbukti setelah kalimat itu terucap, semua ternyata mengiyakan:
yaitu ... "saya butuh untuk merasa dibutuhkan"
Teman saya yang dosen itu, merasa berharga tatkala ada mahasiswa yang meminta bimbingannya menyelesaikan skripsi. Teman saya yang praktek di sana-sini merasa berharga saat ada pasien yang berobat padanya. Dan teman saya yang bekerja di pabrik, memang baru saja promosi jabatan. Dan dia pun merasa berharga kerenanya.
Masing-masing merasa dibutuhkan oleh banyak orang, dan itu menyenangkan.
Rasanya masalah uang tak seberapa dibanding dengan *kesenangan saat dibutuhkan* itu.
Bagaimana dengan seorang ibu yang dibutuhkan oleh suami dan anak-anaknya?
Haduuuuuuuuuuuhhh... bukan hal yang mudah menerapkan hal itu di hati, ternyata.
Mungkin karena itu hanyalah kebutuhan yang sifatnya naluriah? alamiah?
Yang namanya ibu itu kan tak ada sekolahnya. Tak ada gelarnya. Tak ada pula gajinya.
(Dan herannya.. secara tidak langsung kami sepakat pula akan hal itu).
Bukaan.. bukan lantas kami menyepelekan beban sebagai seorang ibu.
Tapi kami sama-sama berpikir bagaimana menjadikan semua amanah itu bisa berjalan bersama-sama. Kebutuhan berkarir jalan terus, tapi tetap jadi ibu yang baik bagi anak-anak.
Salah satu solusi paling bodoh yang terlontar (tapi sekali lagi diamini oleh semuanya) adalah .. menurunkan ekspektasi terhadap keterpeliharaan rumah dan segala benda mati yang ada di dalamnya...
whahahaha....
Artinya.. cobalah untuk tidak terlalu peduli dengan cucian dan setrikaan yang menumpuk, dan biarlah rumah kita dipel seminggu sekali saja.
Yang penting kita tetap bisa konsentrasi pada anak-anak selama di rumah, dan kita bisa makan serta istirahat dengan cukup.
Soalnya kalau kita tetap punya standar tinggi terhadap kerapian rumah, sementara pembantu tak ada, suami sibuk, anak-anak masih kecil, dan amanah karir kita menanti, hasilnya hanya stress.
Oya.. lebih bagus lagi kalau anak-anak dibiasakan untuk membantu ibunya...
Sekali lagi kami bersyukur, masing-masing punya suami yang amat teramat sangat pengertian..
Wah.. jangankan teman-teman saya itu yang berkarir ya.
Saya yang hampir full di rumah aja udah paciweuh riweuh.
Kalau sempet nyuci dan nyetrika, berarti gak sempet masak yang susah-susah. Cuma sempet masak yang praktis aja, atau beli.
Kalau sempet nyapu ngepel, berarti gak sempet nyuci nyetrika.
Kalau sempet chatting berlama-lama, berarti gak sempet nyuci piring.
Kalau sempet nulis blog begini.. itu karena masakan yang kemaren masih ada. Tinggal diangetin. Tapi.. rumah berantakan...
Tak apalah.. yang penting hepi...
Jadiii.. kesalahan apapun yang dilakukan seorang ibu, katakanlah itu hanya "telat bangun", maka akan selalu ada konsekuensi yang menyertai. Mendinglah kalau kenanya cuma pada diri sendiri, ini sih.. pasti suami dan anak-anak ikut kena getahnya juga.
Hummm... memang tak kan pernah ada waktu yang cukup bagi seorang ibu.
Saya pun kalau ditanya "Sibuk, Ier?" jawaban saya pasti sibuk.
Jadi mending gak usah tanya lah...
Buat teman-teman saya, keluarga saya, siapapun yang butuh saya, maka saya selalu ada. Karena kembali pada postulat yang tadi. Setiap orang butuh untuk merasa dibutuhkan. Perlu untuk merasa diperlukan.
You need me and I need you too
***
Rabu, 14 Juli 2010
ketemu polanya (semoga)
***
Arif Sofi kembali ke sekolah, dan roda waktu rasanya berputar kembali dengan normal. Sungguh saya sampai turun berat badan 3kg selama anak-anak liburan karena jadwal acak-acakan. Masak gak puguh, dan makan pun jadi gak nyaman. Saya pindah-pindah antara rumah orang tua, rumah mertua dan rumah sendiri. Banyak capeknya dan banyak makan ati.
Dan saat kembali ke sekolah ini, karena Sofi sudah satu sekolah dengan Arif, maka rasanya segala sesuatu lebih mudah diatur. Mungkin juga karena mereka sudah lebih paham aturan dan konsekuensinya.
Saya setting keberangkatan anak-anak dari rumah, yaitu teng jam 06.30. Setelah dicoba tiga hari, alhamduliLlah kami tidak menemui kemacetan yang berarti selama perjalanan.
Resikonya memang Arif Sofi datang kepagian karena jam masuk sekolah baru jam 07.45 sementara mereka sudah hadir 40 menit sebelumnya.
Dari opsi yang saya ajukan ke mereka "mending kesiangan atau kepagian?" dan "mending macet atau kepagian?", jawabnya tentu saja... mending kepagian.
Arif pun memberikan kesaksiannya kalau datang paling pagi itu rasanya lebih nyaman di hatinya. Baiklah. Toh kalaupun teman-teman mereka belum datang, Arif Sofi bisa saling menemani.
Dari jam pergi pukul 06.30 itu, akhirnya saya sepakat dengan Arif Sofi untuk sama-sama membuat jadwal harian. Jam berapa bangun.. jam berapa mandi, makan, main, belajar, sholat, dan tidur.
Jadwal yang mereka buat saya jadikan acuan untuk membuat jadwal saya sendiri... katakanlah kapan saya masak, kapan saya online, dan kapan saya mengupdate ilmu farmasi di apotek orang... hehehe....
Hasilnya? Not bad. Semangat di mereka, semangat pula di saya.
Seumur hidup Arif Sofi, baru kali ini mereka bikin jadwal.
Dan seumur hidup saya, sudah berpuluh kali saya membuat jadwal dan menjadwal ulang. Tapi baru kali ini saya merasa lebih teratur dari biasanya.
Barangkali karena sekarang manusia-manusia kecil yang sangat berarti dalam hidup saya itu mulai bisa mengatur diri.
Semoga jadwal yang kami rancang dan kami sepakati ini tidak menciptakan sekat yang membuat hidup kami kaku dan merasa penuh dengan aturan. Tapi justru membuat hidup kami lebih indah karena kami pandai mengatur diri.
Untuk urusan mengatur dan mendisiplinkan diri, Ummi juga masih belajar, Nak...
Bareng-bareng lah yaaa....
***
Arif Sofi kembali ke sekolah, dan roda waktu rasanya berputar kembali dengan normal. Sungguh saya sampai turun berat badan 3kg selama anak-anak liburan karena jadwal acak-acakan. Masak gak puguh, dan makan pun jadi gak nyaman. Saya pindah-pindah antara rumah orang tua, rumah mertua dan rumah sendiri. Banyak capeknya dan banyak makan ati.
Dan saat kembali ke sekolah ini, karena Sofi sudah satu sekolah dengan Arif, maka rasanya segala sesuatu lebih mudah diatur. Mungkin juga karena mereka sudah lebih paham aturan dan konsekuensinya.
Saya setting keberangkatan anak-anak dari rumah, yaitu teng jam 06.30. Setelah dicoba tiga hari, alhamduliLlah kami tidak menemui kemacetan yang berarti selama perjalanan.
Resikonya memang Arif Sofi datang kepagian karena jam masuk sekolah baru jam 07.45 sementara mereka sudah hadir 40 menit sebelumnya.
Dari opsi yang saya ajukan ke mereka "mending kesiangan atau kepagian?" dan "mending macet atau kepagian?", jawabnya tentu saja... mending kepagian.
Arif pun memberikan kesaksiannya kalau datang paling pagi itu rasanya lebih nyaman di hatinya. Baiklah. Toh kalaupun teman-teman mereka belum datang, Arif Sofi bisa saling menemani.
Dari jam pergi pukul 06.30 itu, akhirnya saya sepakat dengan Arif Sofi untuk sama-sama membuat jadwal harian. Jam berapa bangun.. jam berapa mandi, makan, main, belajar, sholat, dan tidur.
Jadwal yang mereka buat saya jadikan acuan untuk membuat jadwal saya sendiri... katakanlah kapan saya masak, kapan saya online, dan kapan saya mengupdate ilmu farmasi di apotek orang... hehehe....
Hasilnya? Not bad. Semangat di mereka, semangat pula di saya.
Seumur hidup Arif Sofi, baru kali ini mereka bikin jadwal.
Dan seumur hidup saya, sudah berpuluh kali saya membuat jadwal dan menjadwal ulang. Tapi baru kali ini saya merasa lebih teratur dari biasanya.
Barangkali karena sekarang manusia-manusia kecil yang sangat berarti dalam hidup saya itu mulai bisa mengatur diri.
Semoga jadwal yang kami rancang dan kami sepakati ini tidak menciptakan sekat yang membuat hidup kami kaku dan merasa penuh dengan aturan. Tapi justru membuat hidup kami lebih indah karena kami pandai mengatur diri.
Untuk urusan mengatur dan mendisiplinkan diri, Ummi juga masih belajar, Nak...
Bareng-bareng lah yaaa....
***
Rabu, 03 Februari 2010
Ariiif.. Arif.. ^^ (1)
Today at 3:19pm | Edit Note | Delete
Uploaded via Facebook Mobile
"Allah itu Maha Adil ya Mi", kata Arif tiba-tiba, dengan mata tak lepas dari tayangan TPI tentang ulat sutra.
"Iya.. Memang kenapa?", tanya saya excited. Bangga dalam hati, anakku bisa menyimpulkan sesuatu tentang Allah dari tayangan ulat sutra tadi. Dan berharap dari mulut Arif anakku ini, meluncur alasan-alasan menakjubkan tentang keMahaAdilan Allah di matanya. Nanti kan bisa saya upload di note atau blog.. Dan nanti komentar2nya pastilah cukup membuat saya sebagai ibunya, berbangga hati.
Tapi alangkah kecewanya saya tatkala Arif menjawab dengan tatapan heran ke arah saya:
"Ya Allah Maha Adil aja. Emangnya engga??"
*(%&@€£>!!!
Updated 41 minutes ago · Comment · LikeUnlike
Akhmad Mukhamad Arifin
bagus rif..telak sekali! om bangga =D wkakakaakaka!!
35 minutes ago ·
Lia Apriliani
lahhhh....sy juga ikut berharap ^_^
30 minutes ago ·
***
Uploaded via Facebook Mobile
"Allah itu Maha Adil ya Mi", kata Arif tiba-tiba, dengan mata tak lepas dari tayangan TPI tentang ulat sutra.
"Iya.. Memang kenapa?", tanya saya excited. Bangga dalam hati, anakku bisa menyimpulkan sesuatu tentang Allah dari tayangan ulat sutra tadi. Dan berharap dari mulut Arif anakku ini, meluncur alasan-alasan menakjubkan tentang keMahaAdilan Allah di matanya. Nanti kan bisa saya upload di note atau blog.. Dan nanti komentar2nya pastilah cukup membuat saya sebagai ibunya, berbangga hati.
Tapi alangkah kecewanya saya tatkala Arif menjawab dengan tatapan heran ke arah saya:
"Ya Allah Maha Adil aja. Emangnya engga??"
*(%&@€£>!!!
Updated 41 minutes ago · Comment · LikeUnlike
Akhmad Mukhamad Arifin
bagus rif..telak sekali! om bangga =D wkakakaakaka!!
35 minutes ago ·
Lia Apriliani
lahhhh....sy juga ikut berharap ^_^
30 minutes ago ·
***
Minggu, 29 November 2009
tak seindah dulu
***
Baru pulang dari pangalengan buat bagi-bagi daging hewan qurban.
Sejak gempa di bulan Ramadhan kemarin, saya baru ke sana lagi, melihat-lihat lagi situasi di sana.
Banyak rumah roboh yang belum juga dibangun, dan masih banyak pula ternyata orang-orang yang masih tinggal di tenda. Tendanya cukup bagus dan tertutup rapat. Tapi bagaimanapun itu adalah tenda. Berdiri di sebelah bangunan yang telah luluh lantak.
Tak berlama-lama tadi saya mengajak Sofi mengelilingi rumah nenek yaitu rumah uyutnya Sofi yaitu rumah mamahku sewaktu kecil ini. Hujan rintik-rintik membuat kami segera kembali ke dalam rumah.

Tidak ada hal aneh yang saya tunjukkan pada Sofi, kecuali cerita berulang yang saya sampaikan padanya, kalau dulu.. di sebelah kanan rumah ini, yang kini jadi lapangan voli itu adalah kolam ikan berhiaskan teratai. Ikannya besar, sebesar betis papa.
Nah.. di halaman depan.. dulu banyak bunga borondong dan bunga aster, juga mawar berwarna-warni, sementara sekeliling rumah dipagari bunga bakung dan melati. Kalau di sebelah kiri rumah, yang kini jadi kebun tak terurus, itu dulunya kebun strawberry dan di sebelah sananya kebun nanas dan waluh. Mau kentang? tomat? wortel? kol? Tinggal naik agak ke atas, ke dekat makam keluarga.
Ah.. ke mana pula pohon jambu dan alpukatnya sekarang ya?
.. yang ini rumah yang di belakang ini.. dulunya kandang ayam. Dan di atas itu ada kandang sapi dan domba.
Saya sibuk mengenang saat-saat saya bermain di sekeliling rumah nenekku ini.. sementara barangkali Sofi tak bisa membayangkan, bagaimana bentuknya bunga aster, bakung, borondong, apalagi teratai .. juga bagaimana bentuknya pohon waluh yang merambat, pohon nanas yang bentuknya begitu itu.. pohon alpukat.. dan bahkan ada pohon manggis dan delima.
Tak ada larangan pula untuk main air di sini. Air dari pancuran mengalir tanpa henti 24 jam. Aliran air yang cukup besar dari lubang berdiameter 5 cm. Dijamin puas main perahu kertas di selokan kecil sekeliling rumah.
Sofi tampak takjub juga ketika saya ceritakan betapa satu ruangan penuh sebesar dua kali kamar di rumah, isinya ratusan ekor ayam yang berderet-deret, dan setiap pagi nenek ngambilin telurnya yang udah menggelinding ke depan ayam.
Bahkan Arif tak percaya saat mamahku cerita kalo kamar di depan itu dulunya jadi tempat beternak ulat sutra. Satu kamar penuh isinya ulat.
Huhuhuu.. rindu saya membuncah pada emah dan pa aki. Nenekku almarhumah, dan kakekku almarhum.
Sosok-sosok sederhana yang asli orang desa.
Mereka adalah petani ulung yang tidak sempat sekolah tinggi, tapi dapat ilmu turun temurun saja dan bekerja keras sepanjang hari untuk menyekolahkan kesembilan putra putri mereka di kota.
Pa Aki, yang bahkan suaranya saya lupa-lupa ingat karena pendiamnya, tiap harinya memakai pakaian amat seadanya. Berlapis-lapis khas petani pangalengan yang bekerja di tengah suhu rendah.
Celana panjang lusuh, kemeja lengan pendek kumal, kaos kaki yang ditarik hingga menutupi celana panjangnya sampai lutut, sepatu boot, sarung tangan, plus topi petani. Tak lupa sebatang djarum coklat selalu menempel di sudut kanan bibirnya. Dilepas hanya pada saat beliau tidur, makan, dan ke kamar mandi.
Bicara? tetap dengan sebatang rokok itu di bibirnya.
Cangkul, arit, pisau, dan golok melengkapi penampilannya. Perawakannya kecil, tapi tampak gesit.
Benar-benar beliau jarang sekali bicara. Saya hanya menontonnya saja setiap beliau bekerja sambil sesekali memakan buah yang beliau lemparkan pada saya.
Emah, nenekku, khasnya adalah mengecek, apakah semua yang ada di rumah sudah makan atau belum. Nyuruh makan terus. Makan lagi, makan lagi.
Memang di sana segala ada sih.. mau daging ayam tinggal potong, telur selalu tersedia, sayuran tinggal pilih, susu tinggal peras, bahkan camilan? Tinggal nyomotin caramel dari dapur. Dulu di rumah nenekku itu juga memproduksi permen susu caramel. Hmm...
Arif sampe bilang "Kok Ummi tau cara bikin permen caramel?"
Haa.. dulu Umi memang diajari sama Uyut, dari mulai mengolah, sampe ngebungkusin satu-satu. Arif tampak 'kabita', membayangkan bila di sekitar saya dulu dikelilingi ratusan permen caramel.
Saya paling suka juga kalau ikut emah ngasih makan ayam. Tiap pintu kandang dibuka, ratusan ayam itu bangkit dan berpetok petok riuh minta diberi makan.
Saya yang saat itu masih TK-SD, selalu merasa jadi artis tiap masuk kandang ayam.
Ingin rasanya saya membawa Arif dan Sofi ke masa lalu saat saya menjadikan halaman ini sebagai tempat bermain yang luar biasa mengasyikkan.
Dulu ke sini saya selalu membawa boneka kertas saya, dan berimajinasi dengan memainkannya di dekat pohon strawberry, sambil memetiki buah-buahnya yang sudah merah.
Sementara ini, adalah pemandangan kebun teh yang bisa saya nikmati lewat jendela kamar tidur:

Embun..
Wah.. saya jadi mikir nih.. anakku tau embun gak ya?
Dulu saya senang bermain embun.
Di sana itu.. di tengah kebun teh yang terhampar luas tepat di depan rumah.
Tinggal jalan 500 meter ke arah utara, maka saya sudah berada di tengah kebun teh.
Jam tujuh pagi, setiap kali saya menginap di sini, bisa dipastikan saya sudah ada di tengah sana, berbasah-basah dengan embun.
Segar.
Ugh.. para keponakanku tadi, malah sibuk dengan playstationnya di ruang tengah rumah nenekku ini. Kalau dulu.. nonton TV saja rasanya rugi. Di sini mending dipake main di luar daripada diam diam di rumah.
Sekarang mau gimana lagi.. di luar udah gak ada yang asyik.
Sejak kakek dan nenek saya meninggal, sapi dan domba dijual satu persatu.. ayam rasanya kok menghilang begitu saja. Pohon-pohon tak terurus.
Tak ada penerus tahta kerajaan pertanian dan peternakan di sana. Semua jadi pegawai kantoran dan tinggal di kota. Tersisa paman dan bibi yang kerja di kelurahan saja sekarang.
Dan gempa kemarin seakan jadi puncak kerusakan, sampai-sampai acara lebaran pun pindah tempat jadi ke rumah orang tua saya, padahal seumur hidup barangkali ya.. saya menghabiskan lebaran di pangalengan.

Teman-teman SMA saya, sekitar 25 orang setidaknya masih bisa menikmati rumah ini, tahun 1995an... kita sempat menginap dan berjalan-jalan mengitari kebun tehnya.
Dulu itu masih lumayanlah... tak serusak sekarang.
Makanya saat saya upload foto gempa di fb kemarin, banyak teman sekelas saya yang menyatakan turut belasungkawa. Tengkyu...
***
(Foto-foto di atas diambil setahun yang lalu, 2008)
Baru pulang dari pangalengan buat bagi-bagi daging hewan qurban.
Sejak gempa di bulan Ramadhan kemarin, saya baru ke sana lagi, melihat-lihat lagi situasi di sana.
Banyak rumah roboh yang belum juga dibangun, dan masih banyak pula ternyata orang-orang yang masih tinggal di tenda. Tendanya cukup bagus dan tertutup rapat. Tapi bagaimanapun itu adalah tenda. Berdiri di sebelah bangunan yang telah luluh lantak.
Tak berlama-lama tadi saya mengajak Sofi mengelilingi rumah nenek yaitu rumah uyutnya Sofi yaitu rumah mamahku sewaktu kecil ini. Hujan rintik-rintik membuat kami segera kembali ke dalam rumah.
Tidak ada hal aneh yang saya tunjukkan pada Sofi, kecuali cerita berulang yang saya sampaikan padanya, kalau dulu.. di sebelah kanan rumah ini, yang kini jadi lapangan voli itu adalah kolam ikan berhiaskan teratai. Ikannya besar, sebesar betis papa.
Nah.. di halaman depan.. dulu banyak bunga borondong dan bunga aster, juga mawar berwarna-warni, sementara sekeliling rumah dipagari bunga bakung dan melati. Kalau di sebelah kiri rumah, yang kini jadi kebun tak terurus, itu dulunya kebun strawberry dan di sebelah sananya kebun nanas dan waluh. Mau kentang? tomat? wortel? kol? Tinggal naik agak ke atas, ke dekat makam keluarga.
Ah.. ke mana pula pohon jambu dan alpukatnya sekarang ya?
.. yang ini rumah yang di belakang ini.. dulunya kandang ayam. Dan di atas itu ada kandang sapi dan domba.
Saya sibuk mengenang saat-saat saya bermain di sekeliling rumah nenekku ini.. sementara barangkali Sofi tak bisa membayangkan, bagaimana bentuknya bunga aster, bakung, borondong, apalagi teratai .. juga bagaimana bentuknya pohon waluh yang merambat, pohon nanas yang bentuknya begitu itu.. pohon alpukat.. dan bahkan ada pohon manggis dan delima.
Tak ada larangan pula untuk main air di sini. Air dari pancuran mengalir tanpa henti 24 jam. Aliran air yang cukup besar dari lubang berdiameter 5 cm. Dijamin puas main perahu kertas di selokan kecil sekeliling rumah.
Sofi tampak takjub juga ketika saya ceritakan betapa satu ruangan penuh sebesar dua kali kamar di rumah, isinya ratusan ekor ayam yang berderet-deret, dan setiap pagi nenek ngambilin telurnya yang udah menggelinding ke depan ayam.
Bahkan Arif tak percaya saat mamahku cerita kalo kamar di depan itu dulunya jadi tempat beternak ulat sutra. Satu kamar penuh isinya ulat.
Huhuhuu.. rindu saya membuncah pada emah dan pa aki. Nenekku almarhumah, dan kakekku almarhum.
Sosok-sosok sederhana yang asli orang desa.
Mereka adalah petani ulung yang tidak sempat sekolah tinggi, tapi dapat ilmu turun temurun saja dan bekerja keras sepanjang hari untuk menyekolahkan kesembilan putra putri mereka di kota.
Pa Aki, yang bahkan suaranya saya lupa-lupa ingat karena pendiamnya, tiap harinya memakai pakaian amat seadanya. Berlapis-lapis khas petani pangalengan yang bekerja di tengah suhu rendah.
Celana panjang lusuh, kemeja lengan pendek kumal, kaos kaki yang ditarik hingga menutupi celana panjangnya sampai lutut, sepatu boot, sarung tangan, plus topi petani. Tak lupa sebatang djarum coklat selalu menempel di sudut kanan bibirnya. Dilepas hanya pada saat beliau tidur, makan, dan ke kamar mandi.
Bicara? tetap dengan sebatang rokok itu di bibirnya.
Cangkul, arit, pisau, dan golok melengkapi penampilannya. Perawakannya kecil, tapi tampak gesit.
Benar-benar beliau jarang sekali bicara. Saya hanya menontonnya saja setiap beliau bekerja sambil sesekali memakan buah yang beliau lemparkan pada saya.
Emah, nenekku, khasnya adalah mengecek, apakah semua yang ada di rumah sudah makan atau belum. Nyuruh makan terus. Makan lagi, makan lagi.
Memang di sana segala ada sih.. mau daging ayam tinggal potong, telur selalu tersedia, sayuran tinggal pilih, susu tinggal peras, bahkan camilan? Tinggal nyomotin caramel dari dapur. Dulu di rumah nenekku itu juga memproduksi permen susu caramel. Hmm...
Arif sampe bilang "Kok Ummi tau cara bikin permen caramel?"
Haa.. dulu Umi memang diajari sama Uyut, dari mulai mengolah, sampe ngebungkusin satu-satu. Arif tampak 'kabita', membayangkan bila di sekitar saya dulu dikelilingi ratusan permen caramel.
Saya paling suka juga kalau ikut emah ngasih makan ayam. Tiap pintu kandang dibuka, ratusan ayam itu bangkit dan berpetok petok riuh minta diberi makan.
Saya yang saat itu masih TK-SD, selalu merasa jadi artis tiap masuk kandang ayam.
Ingin rasanya saya membawa Arif dan Sofi ke masa lalu saat saya menjadikan halaman ini sebagai tempat bermain yang luar biasa mengasyikkan.
Dulu ke sini saya selalu membawa boneka kertas saya, dan berimajinasi dengan memainkannya di dekat pohon strawberry, sambil memetiki buah-buahnya yang sudah merah.
Sementara ini, adalah pemandangan kebun teh yang bisa saya nikmati lewat jendela kamar tidur:
Embun..
Wah.. saya jadi mikir nih.. anakku tau embun gak ya?
Dulu saya senang bermain embun.
Di sana itu.. di tengah kebun teh yang terhampar luas tepat di depan rumah.
Tinggal jalan 500 meter ke arah utara, maka saya sudah berada di tengah kebun teh.
Jam tujuh pagi, setiap kali saya menginap di sini, bisa dipastikan saya sudah ada di tengah sana, berbasah-basah dengan embun.
Segar.
Ugh.. para keponakanku tadi, malah sibuk dengan playstationnya di ruang tengah rumah nenekku ini. Kalau dulu.. nonton TV saja rasanya rugi. Di sini mending dipake main di luar daripada diam diam di rumah.
Sekarang mau gimana lagi.. di luar udah gak ada yang asyik.
Sejak kakek dan nenek saya meninggal, sapi dan domba dijual satu persatu.. ayam rasanya kok menghilang begitu saja. Pohon-pohon tak terurus.
Tak ada penerus tahta kerajaan pertanian dan peternakan di sana. Semua jadi pegawai kantoran dan tinggal di kota. Tersisa paman dan bibi yang kerja di kelurahan saja sekarang.
Dan gempa kemarin seakan jadi puncak kerusakan, sampai-sampai acara lebaran pun pindah tempat jadi ke rumah orang tua saya, padahal seumur hidup barangkali ya.. saya menghabiskan lebaran di pangalengan.
Teman-teman SMA saya, sekitar 25 orang setidaknya masih bisa menikmati rumah ini, tahun 1995an... kita sempat menginap dan berjalan-jalan mengitari kebun tehnya.
Dulu itu masih lumayanlah... tak serusak sekarang.
Makanya saat saya upload foto gempa di fb kemarin, banyak teman sekelas saya yang menyatakan turut belasungkawa. Tengkyu...
***
(Foto-foto di atas diambil setahun yang lalu, 2008)
Jumat, 06 November 2009
mual muntah pada ibu (tidak hamil)
***
"Nay, saya mual-mual Nay..."
"Waaaah... Teteeeeehhh..... selamaaaat!!"
"Diem Nay... saya serius !! mual banget.."
Saya pun langsung lari ke toilet apotek yang agak jauh di belakang...
memuntahkan seluruh makanan yang baru beberapa suap saya telan.
Pucat pasi saya kembali ke ruang racik.
Inay, apoteker magang yang siang itu menemani saya jaga, menatap saya penuh tanya.
"Kayaknya... gara-gara bekel makan saya nih Nay..."
kata saya, mencoba menjawab tatapan Inay sekaligus menepis dugaan dia bahwa saya hamil.
Syukurlah siang itu ada Inay. Kalau enggak, maka saya akan muntah-muntah di depan para pelanggan apotek.
Enam kali saya bolak-balik ke toilet memuntahkan segala yang masih ada di lambung, sampai ke dasar-dasarnya.
Tiap Inay bertanya sesuatu, saya muntah. Tiap saya berdiri, saya muntah. Saya ingat terakhir saya mual muntah begini sewaktu hamil Arif. Sepulang dari bimbingan tugas akhir saat draft saya diobrak-abrik oleh Pak Charles alm. Syukurlah saya gak muntah di ruangan beliau saat itu. (Hati-hati untuk para dosen yang punya mahasiswi bimbingan tengah hamil muda, salah omong bisa jadi anda dimuntahi).
Di ruang dokter gigi apotek siang itu saya terkapar, menyesali apa yang telah saya makan, seraya berpikir bagaimana cara saya pulang, karena metoklopramid yang saya minum pun termuntahkan kembali.
Emang salah makan apa Ier?
Dasar ibu-ibu ya... perutnya emang udah biasa jadi tong sampah. Sejak Arif Sofi makan makanan padat, makanan mereka seringkali mampir di perut saya kalau tidak habis. Sampai sekarang.
Pada hari naas itu, pagi-pagi, di rumah saya menggoreng nasi tanakan kemarin, untuk sarapan suami dan anak-anak.
Enak, alhamduliLlah.. tapi saking riweuhnya saya sendiri hanya makan sesuap dua suap.
Sisa nasi goreng yang masih ada di katel saya bawa dengan niat dimakan di apotek. Sedikit lagi sih, tapi sayang kalau dibuang.
Ternyata kelupaan. Setibanya di apotek saya malah asyik ngurus segala faktur, orderan, dan utang piutang. Si Nasi Goreng tak berdaya.. nyungsep di dalam mobil yang semakin siang semakin tinggi suhu ruangnya.
Saya mulai lapar jam 10.30.
Ingat nasi yang lupa saya turunkan dari mobil.
Hmmm... saya buka tutup rantangnya dan gak saya hiraukan 'wangi' nasi yang menyeruak gak karuan, secara saya lapar sekali saat itu.
"Makan Nay"
"Iya Teh"
Cuma basa-basi seperti biasanya, karena saya tau Inay gak akan ikut makan bekel saya.
Hup.. hap... hup... hap.... serasa makan nasi goreng, padahal di dalamnya sudah muncul berbagai mikroorganisme. Sehingga memang saya benar-benar makan nasi 'goreng'....
Syukurlah Allah masih memberi saya autoimun sehingga ketika ada makhluk asing mampir di tubuh saya, saya langsung menolaknya. Muntah.
Biarlah.. mending muntah ini tak usah saya hentikan, biar semuanya racunnya keluar.
Kecemasan pada suami dan anak-anakku pun langsung muncul.
Sembari menahan mual, saya nelpon mamah, tanya kabar Sofi, apa dia baik-baik saja, karena tadi pagi kan dia makan nasi yang sama dengan yang saya makan.
AlhamduliLlah Sofi baik. Anak dan suamiku memang makannya tadi pagi, saat nasi masih fresh from katel. Mamahku jadi cemas karena saya lapor kalau saya muntah-muntah di apotek dan belom bisa pulang.
Giliran nelpon suamiku...
AlhamduliLlah suamiku baik-baik juga. Dan suamiku jadi ikutan khawatir mendengar lemahnya suara saya di telepon.
Demi mendengar kabar anak dan suamiku baik-baik saja (semoga Arif juga.. setidaknya gak ada telpon dari gurunya), mual saya berkurang. Kalau saja anak dan suamiku bermasalah dengan perutnya, betapa merasa bersalahnya saya.
Muntah yang ke enam kali, saya mulai khawatir pada diri sendiri. Takut mesti masuk rumah sakit untuk diinfus karena minum pun airnya termuntahkan kembali.
Sudahlah.. saya tenggak sebutir deminhidrinat dan langsung pamit pada Inay, pulang duluan. BismiLlah... kalo mual lagi paling berenti pinggir selokan...
Saya sampai ke rumah mamah dengan selamat dan Arif pun udah pulang. Dia oke.
Arif Sofi ribut bertanya "Umi kenapa.. Umi kenapa"
Saya jawab sekenanya.
Efek dari dimenhidrinat, saya gak muntah lagi... tapi ngantuk luar biasa.
Saya terkapar di kamar dan tidur. Sebelumnya saya bilang dulu ke mamah biar anak-anak gak usah mandi sore aja... Saya suka merasa bersalah kalau anak-anak dimandiin neneknya sementara saya 'cuma' tiduran.
Saya terbangun setelah beberapa menit terlelap. Kali ini karena sakit perut.
Walhasil... diare... empat kali bolak-balik ke belakang.
Fuhhhhh....rasanya hari itu saya turun berat badan berkilo-kilo.
Bada maghrib saya baru bisa merasakan lapar lagi, dan memakan biskuit sambil menunggu suami menjemput. AlhamduliLlah setelah itu sembuh.
Makanan memang selain musti halal... juga mesti thayyib. Penyakit juga biasanya kan berawal dari mulut. Kalo gak salah makan, ya salah omong.
Dan baru kemarin pula saya nelpon seorang teman, ibu-ibu juga.
Telpon saya disambut dengan suara lemah. Ternyata dia sedang diare parah. Gara-gara makan keju jamuran.
Punya keju di kulkas, jamuran.
Dia potong bagian jamurnya, dan disimpan lagi di kulkas.
Jamuran, potong lagi... simpan lagi...
Sampai dia berpikir.. kenapa gak dimakan aja.
Hap... haaaa... si kuman rasa keju terjun bebas ke lambung dan ususnya.
Akhirnya obat juga yang turun tangan setelah diarenya gak sembuh sampai dua hari.
Dibom dengan metronidazol+sulfametoksazol+trimetoprim... barulah si kuman mati.

Makanya Ibu-ibu... kalo sayang sama makanan jangan kelewatan ya....
mending makanan basi mah dijadikan sedekah buat cacing tanah atau kucing setempat. Itupun kalo kucingnya mau.
***
"Nay, saya mual-mual Nay..."
"Waaaah... Teteeeeehhh..... selamaaaat!!"
"Diem Nay... saya serius !! mual banget.."
Saya pun langsung lari ke toilet apotek yang agak jauh di belakang...
memuntahkan seluruh makanan yang baru beberapa suap saya telan.
Pucat pasi saya kembali ke ruang racik.
Inay, apoteker magang yang siang itu menemani saya jaga, menatap saya penuh tanya.
"Kayaknya... gara-gara bekel makan saya nih Nay..."
kata saya, mencoba menjawab tatapan Inay sekaligus menepis dugaan dia bahwa saya hamil.
Syukurlah siang itu ada Inay. Kalau enggak, maka saya akan muntah-muntah di depan para pelanggan apotek.
Enam kali saya bolak-balik ke toilet memuntahkan segala yang masih ada di lambung, sampai ke dasar-dasarnya.
Tiap Inay bertanya sesuatu, saya muntah. Tiap saya berdiri, saya muntah. Saya ingat terakhir saya mual muntah begini sewaktu hamil Arif. Sepulang dari bimbingan tugas akhir saat draft saya diobrak-abrik oleh Pak Charles alm. Syukurlah saya gak muntah di ruangan beliau saat itu. (Hati-hati untuk para dosen yang punya mahasiswi bimbingan tengah hamil muda, salah omong bisa jadi anda dimuntahi).
Di ruang dokter gigi apotek siang itu saya terkapar, menyesali apa yang telah saya makan, seraya berpikir bagaimana cara saya pulang, karena metoklopramid yang saya minum pun termuntahkan kembali.
Emang salah makan apa Ier?
Dasar ibu-ibu ya... perutnya emang udah biasa jadi tong sampah. Sejak Arif Sofi makan makanan padat, makanan mereka seringkali mampir di perut saya kalau tidak habis. Sampai sekarang.
Pada hari naas itu, pagi-pagi, di rumah saya menggoreng nasi tanakan kemarin, untuk sarapan suami dan anak-anak.
Enak, alhamduliLlah.. tapi saking riweuhnya saya sendiri hanya makan sesuap dua suap.
Sisa nasi goreng yang masih ada di katel saya bawa dengan niat dimakan di apotek. Sedikit lagi sih, tapi sayang kalau dibuang.
Ternyata kelupaan. Setibanya di apotek saya malah asyik ngurus segala faktur, orderan, dan utang piutang. Si Nasi Goreng tak berdaya.. nyungsep di dalam mobil yang semakin siang semakin tinggi suhu ruangnya.
Saya mulai lapar jam 10.30.
Ingat nasi yang lupa saya turunkan dari mobil.
Hmmm... saya buka tutup rantangnya dan gak saya hiraukan 'wangi' nasi yang menyeruak gak karuan, secara saya lapar sekali saat itu.
"Makan Nay"
"Iya Teh"
Cuma basa-basi seperti biasanya, karena saya tau Inay gak akan ikut makan bekel saya.
Hup.. hap... hup... hap.... serasa makan nasi goreng, padahal di dalamnya sudah muncul berbagai mikroorganisme. Sehingga memang saya benar-benar makan nasi 'goreng'....
Syukurlah Allah masih memberi saya autoimun sehingga ketika ada makhluk asing mampir di tubuh saya, saya langsung menolaknya. Muntah.
Biarlah.. mending muntah ini tak usah saya hentikan, biar semuanya racunnya keluar.
Kecemasan pada suami dan anak-anakku pun langsung muncul.
Sembari menahan mual, saya nelpon mamah, tanya kabar Sofi, apa dia baik-baik saja, karena tadi pagi kan dia makan nasi yang sama dengan yang saya makan.
AlhamduliLlah Sofi baik. Anak dan suamiku memang makannya tadi pagi, saat nasi masih fresh from katel. Mamahku jadi cemas karena saya lapor kalau saya muntah-muntah di apotek dan belom bisa pulang.
Giliran nelpon suamiku...
AlhamduliLlah suamiku baik-baik juga. Dan suamiku jadi ikutan khawatir mendengar lemahnya suara saya di telepon.
Demi mendengar kabar anak dan suamiku baik-baik saja (semoga Arif juga.. setidaknya gak ada telpon dari gurunya), mual saya berkurang. Kalau saja anak dan suamiku bermasalah dengan perutnya, betapa merasa bersalahnya saya.
Muntah yang ke enam kali, saya mulai khawatir pada diri sendiri. Takut mesti masuk rumah sakit untuk diinfus karena minum pun airnya termuntahkan kembali.
Sudahlah.. saya tenggak sebutir deminhidrinat dan langsung pamit pada Inay, pulang duluan. BismiLlah... kalo mual lagi paling berenti pinggir selokan...
Saya sampai ke rumah mamah dengan selamat dan Arif pun udah pulang. Dia oke.
Arif Sofi ribut bertanya "Umi kenapa.. Umi kenapa"
Saya jawab sekenanya.
Efek dari dimenhidrinat, saya gak muntah lagi... tapi ngantuk luar biasa.
Saya terkapar di kamar dan tidur. Sebelumnya saya bilang dulu ke mamah biar anak-anak gak usah mandi sore aja... Saya suka merasa bersalah kalau anak-anak dimandiin neneknya sementara saya 'cuma' tiduran.
Saya terbangun setelah beberapa menit terlelap. Kali ini karena sakit perut.
Walhasil... diare... empat kali bolak-balik ke belakang.
Fuhhhhh....rasanya hari itu saya turun berat badan berkilo-kilo.
Bada maghrib saya baru bisa merasakan lapar lagi, dan memakan biskuit sambil menunggu suami menjemput. AlhamduliLlah setelah itu sembuh.
Makanan memang selain musti halal... juga mesti thayyib. Penyakit juga biasanya kan berawal dari mulut. Kalo gak salah makan, ya salah omong.
Dan baru kemarin pula saya nelpon seorang teman, ibu-ibu juga.
Telpon saya disambut dengan suara lemah. Ternyata dia sedang diare parah. Gara-gara makan keju jamuran.
Punya keju di kulkas, jamuran.
Dia potong bagian jamurnya, dan disimpan lagi di kulkas.
Jamuran, potong lagi... simpan lagi...
Sampai dia berpikir.. kenapa gak dimakan aja.
Hap... haaaa... si kuman rasa keju terjun bebas ke lambung dan ususnya.
Akhirnya obat juga yang turun tangan setelah diarenya gak sembuh sampai dua hari.
Dibom dengan metronidazol+sulfametoksazol+trimetoprim... barulah si kuman mati.
Makanya Ibu-ibu... kalo sayang sama makanan jangan kelewatan ya....
mending makanan basi mah dijadikan sedekah buat cacing tanah atau kucing setempat. Itupun kalo kucingnya mau.
***
Sabtu, 03 Oktober 2009
bobogohan tapi riweuh
***
Lagi di rumah niy.. cuma berdua sama suami. Arif dan Sofi dijemput eyangnya kemaren sore, dan akan saya jemput paling besok siang.
Suamiku lagi tidur sekarang. Hmmm... malah jadi bingung mo ngapain.
Nulis aja..
Nulis kejadian yang rada heboh waktu bulan puasa kemarin, tapi belum sempet saya abadikan di blog ini.
Di malam ramadhan itu..seperti sekarang ini, Arif dan Sofi bermalam di rumah eyangnya.
Suamiku yang baru dapet THR saat itu ngajak saya buka puasa di luar. Ke sebuah restoran yang bagi saya.. cukup mewah.
Cukuplah beberapa tahun lalu saya dan teman-teman farmasi 96 buka bersama di sana, dan ternyata saya harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit. Hiks..
Tapi yo masa' saya nolak diajak makan sama suami sendiri? Lagian tempatnya memang romantis. Huhuy lah pokonya.
Apa boleh buat, .. hayu lah... kapan lagi coba..
Dengan sedikit memanfaatkan kesempatan, saya nyoba merayu suamiku buat sekalian beliin sepatu lebaran. Cewe matre..cewe matre..
Suamiku yang baik hati itu pun mengangguk. YESS...!!!
Selera saya dalam hal pakaian dan aksesoris kan memang murahan. So.. beli sepatu pun ke carrefour aja ah.
Carrefour Kiaracondong yang jadi tujuan kami.
BismiLlah.. kami pergi dari rumah pukul 16.00.
Keriweuhan pertama dimulai saat kami terjebak macet menjelang perempatan kircon.
Tidak tanggung-tanggung.. empat puluh lima menit harus kami habiskan di jalan, hanya dari cibiru sampai kircon, yang biasa ditempuh 15 menit saja melalui bypass.
Penyebabnya selain karena lampu merah yang lama merahnya, kendaraan padat berisi manusia-manusia lapar, juga ada mobil mogok di jalur kanan. Soooo... whew...
Sampai ke Carrefour, kami berjalan cepat ke arah swalayan. Di dekat pintu masuk sudah berjejer obralan sepatu. Kebetulan mereknya cukup terkenal dan sedang obral. Pilihan saya langsung jatuh pada sepatu di deretan pertama. Mudah saja.
Kebetulan pula sudah sepasang, sehingga ketika saya coba salah satunya di kaki kanan dan pas, saya pun langsung membawanya ke kasir, bersama dengan sepatu kirinya.
Menjelang kasir, saya iseng lihat nomornya. Lho.. koq beda.. kanan 37, kiri 38.
Saya langsung konfirmasi pada pelayannya.
"Mbak.. ini tolong carikan yang 37, soalnya pasangannya kok 38 ya?"
Kami menunggu beberapa lama... dan ternyata lama...
Si pelayan akhirnya muncul juga...
"Mbak..maaf.. 37 ini gak ada pasangannya"
Fuuuh... padahal saya udah cocok banget dengan modelnya...
Ya udah deh..
Lihat kanan, ada counter sepatu bata.
"Ke bata aja ..", kata saya sambil narik tangan suamiku.
Tidak lama saya milih, langsung ada yang cocok dan pas juga.
Nomor 4.
Di rak cuma ada yang kiri.
"Mas, tolong carikan pasangan yang ini", pinta saya pada pelayan yang kebetulan lewat.
Lama lagi saya menunggu.
10 menitan menjelang adzan, si mas tadi menghampiri saya..
"Maaf Bu.. yang ini gak ada pasangannya..."
"Wah? Masa sih?",
"Iya Bu.. gak ketemu ketemu..."
Pelayan itu nampak capek. Maklumlah menjelang lebaran, toko itu memang penuh sesak.
Sambil nahan ketawa saya hampiri suami yang lagi lihat-lihat barang di counter lain.
"Hahahaha... MasKa!! gak ada pasanganannya lagi!!!"
.. dasarrrrr....
Sebagai usaha terakhir, suamiku ngajak ke sebuah counter sepatu lain yang tampak sedikit lengang.
Tengok sana pegang sini, dan baru juga lihat harganya, saya sudah menggeleng.
MAHAL!
Masa' barang buat diinjek-injek gitu aja harganya 300 rebu.
Gak usah deh... bisa-bisa saya tenteng tu' sepatu ke mana-mana. Sayang kalo dipake di kaki.
"Ya udah, cari buat ngebatalin aja yuk di atas", suamiku ikutan nyerah, dan ngajak ke swalayannya carrefour. Di sana kami cuma nyari minuman ringan..
Adzan pun berkumandang, dan alhamduliLlah.. minuman sudah di tangan.
Tapi.. maaaasya Allaaaah..itu antrean kasirrr!!!
Mending kalo masing-masing pembeli belanjaannya dikit. Ini mah masing2 setroli besar penuh pulaa!
Yeahhhhh...
ya sudahlah.. kami akhirnya meminum minuman itu sebelum bayar, sembari mengantre di kasir.
Beli minuman doang.. sampe 15 menit ngantre di kasirnya..
Lepas dari carrefour, tentunya kami laper abis.
La..la...la.. sik asik asik.. tinggal makan neeeeh... saya mencoba menghibur diri untuk melupakan kekesalan demi kekesalan yang tadi kami lalui.
Syukurlah saya dan suami sama-sama easy going.. pantang mengeluh kalo udah ketiban 'sialnya' macet ataupun menunggu... ngeluh itu kan merusak suasana.
Duuu..duuu...duuu...
Tapi tiba-tiba .... apa yang terjadi sodara-sodara...?!?!!?
Ibu mertuaku nelpon
"Ir, ada di mana nih? Ini Sofi nangis mau ke Umminya katanya.. ke sini aja deh.. Irma sama Mas Wiska nginep aja sini.."
Tet toooooooooooooooot....
Laper saya langsung menciut jadi sedikit mual. Inget Sofi yang lagi nangis pengen ke saya....
Doooooooh.....
"Gimana?", kata suamiku yang kayaknya bingung juga.
"Mmmmm... "
-bingung.. bingung.. bingung...-
Suamiku sampe melambatkan kecepatan mobil.. karena kalo ke arah rumah mertuaku mobil mesti belok kanan, tapi kalo mau ke restoran yang dituju, mobil harus mengarah ke kiri di tikungan depan.
-tinimbang.. tinimbang..tinimbang...-
"Makan aja dulu!!", kataku mantap. Lebih tepatnya dimantap-mantapkan.
Saya tau, Sofi cuma lagi inget aja, dan biasanya gak bener-bener membutuhkan saya.
Saya tetep yakin adanya 'terus rasa' antara ibu dan anak. Kalo sayanya lapang, anak pun biasanya dilapangkan hatinya.
Mobil pun parkir di halaman restoran.
Dan AlhamduliLlah.. akhirnya kami pun bisa duduk berdua di restoran itu.
Walau.. hiks.. mesti duduk kursi tepat dekat pintu masuk... secara... restorannya penuuuuuuh banget sama yang buka bersama.
Tak apalah.. yang penting kami bisa pacaran...walau hampir setiap menitnya ada orang hilir mudik di dekat meja kami... grrrrh....
Suamiku pun manggil pelayan,
"Mas.. tolong fotoin dong" hihi.. ganjen amat ni penganten baru sembilan taon.
Pulang dari restoran mau gak mau kami 'terpaksa' menuju rumah mertua dan menginap di sana. Padahal kan asiknya berduaan di rumah sendiri sampe pagi..ehm...
*
Tapi ternyata memang kebahagiaan kami adalah saat kami disambut Arif Sofi, dan mereka berebutan tidur di dekat kami... berdesakan satu ranjang berempat..
Hihi.... maaf ya suamiku..
semoga masih ada malam untuk kita bisa berdua saja...
Dan AlhamduliLLah.. kenyataannya masih ada kemarin malam dan malam ini...
Ha ...
****
Lagi di rumah niy.. cuma berdua sama suami. Arif dan Sofi dijemput eyangnya kemaren sore, dan akan saya jemput paling besok siang.
Suamiku lagi tidur sekarang. Hmmm... malah jadi bingung mo ngapain.
Nulis aja..
Nulis kejadian yang rada heboh waktu bulan puasa kemarin, tapi belum sempet saya abadikan di blog ini.
Di malam ramadhan itu..seperti sekarang ini, Arif dan Sofi bermalam di rumah eyangnya.
Suamiku yang baru dapet THR saat itu ngajak saya buka puasa di luar. Ke sebuah restoran yang bagi saya.. cukup mewah.
Cukuplah beberapa tahun lalu saya dan teman-teman farmasi 96 buka bersama di sana, dan ternyata saya harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit. Hiks..
Tapi yo masa' saya nolak diajak makan sama suami sendiri? Lagian tempatnya memang romantis. Huhuy lah pokonya.
Apa boleh buat, .. hayu lah... kapan lagi coba..
Dengan sedikit memanfaatkan kesempatan, saya nyoba merayu suamiku buat sekalian beliin sepatu lebaran. Cewe matre..cewe matre..
Suamiku yang baik hati itu pun mengangguk. YESS...!!!
Selera saya dalam hal pakaian dan aksesoris kan memang murahan. So.. beli sepatu pun ke carrefour aja ah.
Carrefour Kiaracondong yang jadi tujuan kami.
BismiLlah.. kami pergi dari rumah pukul 16.00.
Keriweuhan pertama dimulai saat kami terjebak macet menjelang perempatan kircon.
Tidak tanggung-tanggung.. empat puluh lima menit harus kami habiskan di jalan, hanya dari cibiru sampai kircon, yang biasa ditempuh 15 menit saja melalui bypass.
Penyebabnya selain karena lampu merah yang lama merahnya, kendaraan padat berisi manusia-manusia lapar, juga ada mobil mogok di jalur kanan. Soooo... whew...
Sampai ke Carrefour, kami berjalan cepat ke arah swalayan. Di dekat pintu masuk sudah berjejer obralan sepatu. Kebetulan mereknya cukup terkenal dan sedang obral. Pilihan saya langsung jatuh pada sepatu di deretan pertama. Mudah saja.
Kebetulan pula sudah sepasang, sehingga ketika saya coba salah satunya di kaki kanan dan pas, saya pun langsung membawanya ke kasir, bersama dengan sepatu kirinya.
Menjelang kasir, saya iseng lihat nomornya. Lho.. koq beda.. kanan 37, kiri 38.
Saya langsung konfirmasi pada pelayannya.
"Mbak.. ini tolong carikan yang 37, soalnya pasangannya kok 38 ya?"
Kami menunggu beberapa lama... dan ternyata lama...
Si pelayan akhirnya muncul juga...
"Mbak..maaf.. 37 ini gak ada pasangannya"
Fuuuh... padahal saya udah cocok banget dengan modelnya...
Ya udah deh..
Lihat kanan, ada counter sepatu bata.
"Ke bata aja ..", kata saya sambil narik tangan suamiku.
Tidak lama saya milih, langsung ada yang cocok dan pas juga.
Nomor 4.
Di rak cuma ada yang kiri.
"Mas, tolong carikan pasangan yang ini", pinta saya pada pelayan yang kebetulan lewat.
Lama lagi saya menunggu.
10 menitan menjelang adzan, si mas tadi menghampiri saya..
"Maaf Bu.. yang ini gak ada pasangannya..."
"Wah? Masa sih?",
"Iya Bu.. gak ketemu ketemu..."
Pelayan itu nampak capek. Maklumlah menjelang lebaran, toko itu memang penuh sesak.
Sambil nahan ketawa saya hampiri suami yang lagi lihat-lihat barang di counter lain.
"Hahahaha... MasKa!! gak ada pasanganannya lagi!!!"
Sebagai usaha terakhir, suamiku ngajak ke sebuah counter sepatu lain yang tampak sedikit lengang.
Tengok sana pegang sini, dan baru juga lihat harganya, saya sudah menggeleng.
MAHAL!
Masa' barang buat diinjek-injek gitu aja harganya 300 rebu.
Gak usah deh... bisa-bisa saya tenteng tu' sepatu ke mana-mana. Sayang kalo dipake di kaki.
"Ya udah, cari buat ngebatalin aja yuk di atas", suamiku ikutan nyerah, dan ngajak ke swalayannya carrefour. Di sana kami cuma nyari minuman ringan..
Adzan pun berkumandang, dan alhamduliLlah.. minuman sudah di tangan.
Tapi.. maaaasya Allaaaah..itu antrean kasirrr!!!
Mending kalo masing-masing pembeli belanjaannya dikit. Ini mah masing2 setroli besar penuh pulaa!
Yeahhhhh...
ya sudahlah.. kami akhirnya meminum minuman itu sebelum bayar, sembari mengantre di kasir.
Beli minuman doang.. sampe 15 menit ngantre di kasirnya..
Lepas dari carrefour, tentunya kami laper abis.
La..la...la.. sik asik asik.. tinggal makan neeeeh... saya mencoba menghibur diri untuk melupakan kekesalan demi kekesalan yang tadi kami lalui.
Syukurlah saya dan suami sama-sama easy going.. pantang mengeluh kalo udah ketiban 'sialnya' macet ataupun menunggu... ngeluh itu kan merusak suasana.
Duuu..duuu...duuu...
Tapi tiba-tiba .... apa yang terjadi sodara-sodara...?!?!!?
Ibu mertuaku nelpon
"Ir, ada di mana nih? Ini Sofi nangis mau ke Umminya katanya.. ke sini aja deh.. Irma sama Mas Wiska nginep aja sini.."
Tet toooooooooooooooot....
Laper saya langsung menciut jadi sedikit mual. Inget Sofi yang lagi nangis pengen ke saya....
Doooooooh.....
"Gimana?", kata suamiku yang kayaknya bingung juga.
"Mmmmm... "
-bingung.. bingung.. bingung...-
Suamiku sampe melambatkan kecepatan mobil.. karena kalo ke arah rumah mertuaku mobil mesti belok kanan, tapi kalo mau ke restoran yang dituju, mobil harus mengarah ke kiri di tikungan depan.
-tinimbang.. tinimbang..tinimbang...-
"Makan aja dulu!!", kataku mantap. Lebih tepatnya dimantap-mantapkan.
Saya tau, Sofi cuma lagi inget aja, dan biasanya gak bener-bener membutuhkan saya.
Saya tetep yakin adanya 'terus rasa' antara ibu dan anak. Kalo sayanya lapang, anak pun biasanya dilapangkan hatinya.
Mobil pun parkir di halaman restoran.
Dan AlhamduliLlah.. akhirnya kami pun bisa duduk berdua di restoran itu.
Walau.. hiks.. mesti duduk kursi tepat dekat pintu masuk... secara... restorannya penuuuuuuh banget sama yang buka bersama.
Tak apalah.. yang penting kami bisa pacaran...walau hampir setiap menitnya ada orang hilir mudik di dekat meja kami... grrrrh....
Suamiku pun manggil pelayan,
"Mas.. tolong fotoin dong" hihi.. ganjen amat ni penganten baru sembilan taon.
Pulang dari restoran mau gak mau kami 'terpaksa' menuju rumah mertua dan menginap di sana. Padahal kan asiknya berduaan di rumah sendiri sampe pagi..ehm...
*
Tapi ternyata memang kebahagiaan kami adalah saat kami disambut Arif Sofi, dan mereka berebutan tidur di dekat kami... berdesakan satu ranjang berempat..
Hihi.... maaf ya suamiku..
semoga masih ada malam untuk kita bisa berdua saja...
Dan AlhamduliLLah.. kenyataannya masih ada kemarin malam dan malam ini...
Ha ...
****
kemarin, di hari batik
***
Papa ke kantor pake batik.
Arif ke sekolah sama Ummi dipakein batik.
Ummi ke apotek pun pake batik.
Sofi? Rok batiknya ketinggalan di rumah eyang.
Sofi mikir, aku juga punya batik.
Kan ada batik sekolah? begitu pikirnya.
Setengah memaksa, Sofi mengganti bajunya.
Jadilah Sofi berbatik juga.
Walau masih libur, Sofi berkostum seragam Jum'at.
Batik cetak hijau belel bertuliskan 'pendidikan RA AtTaqwa'.
Peduli semua orang memandangnya dengan tersenyum.
Whateverlah, yang penting kan batik.
**
Papa ke kantor pake batik.
Arif ke sekolah sama Ummi dipakein batik.
Ummi ke apotek pun pake batik.
Sofi? Rok batiknya ketinggalan di rumah eyang.
Sofi mikir, aku juga punya batik.
Kan ada batik sekolah? begitu pikirnya.
Setengah memaksa, Sofi mengganti bajunya.
Jadilah Sofi berbatik juga.
Walau masih libur, Sofi berkostum seragam Jum'at.
Batik cetak hijau belel bertuliskan 'pendidikan RA AtTaqwa'.
Peduli semua orang memandangnya dengan tersenyum.
Whateverlah, yang penting kan batik.
**
Minggu, 27 September 2009
all by myself
***
Lebaran usai, dan barangkali hari ini banyak orang tua yang telah berpisah kembali dengan anak cucunya. Pamit pamit peluk cium dan untaian do'a agar perlindungan Allah selalu menaungi. Air mata pun kadang tak luput di sela lambaian tangan perpisahan.
Kini semua kembali pada dunianya, kesehariannya, back to work. Mencoba meninggalkan kesan indah selama mudik, melupakan segala kerinduan yang masih tersisa, dan kini kembali menarik nafas panjang untuk menghadapi realita hidup, juga barangkali.. rutinitas.
Ah, semua itu cuma dalam bayangan saya kok.
Saya yang tak pernah terpisah dengan orang tua. Pun suamiku.
Dari rumah ini, hanya 15 menit naik mobil sendiri, saya sudah bisa sampai di rumah orang tua. Dan hanya 45 menit sudah bisa sampai di rumah mertua.
Belum pernah gak ketemu orang tua lebih dari satu minggu.
Rabu kemarin, waktu saya melepas kepergian adek ipar di bandara, malah saya yang nangis ketika memeluknya.
.. bakal pisah lagi... paling cepet ketemu taun depan .. hik hik...
Lagian gak tega lihat adekku menggendong anaknya yang tertidur pulas di pundak kirinya, disangga tangan kiri, dan tangan kanan mendorong troli barang sambil sesekali melambaikan tangan pada kami yang hanya bisa menonton di balik kaca.
Adekku itu tampak tegar dan biasa-biasa saja. Toh tinggal satu tahun lagi insyaa Allah, setelah sembilan tahun berlalu selalu jauh dari keluarga. Mungkin begitu pikirnya. Sementara saya masih sibuk juga usap air mata di pipi kiri kanan. Lebay.
Saya jadi membayangkan jika suatu saat Sofi-ku harus merantau jauh untuk meraih cita-citanya, atau mungkin ngikut suaminya. Kuat gak ya melepasnya?
Makanya, biar saya bisa melepas anak kapanpun dan kemana pun mereka pergi, mestinya saya bisa mendidik anak-anak saya menjadi seorang yang ikhlas dan mandiri.
Ikhlas berarti ada atau tidak ada saya, mereka tetap melakukan hal yang terbaik karena Allah, dan mandiri artinya mereka bisa melakukan segala sesuatu dengan sesedikit mungkin merepotkan orang lain.
Setuju? Mestinya iya.. tentu saja.
Dan kepada sahabat-sahabatku, adikku, saudara-saudaraku,.. saya sungguh salut atas kemandirian kalian. Mudah-mudahan saya bisa mendidik anak-anak saya dan tentunya diri saya sendiri, agar bisa kuat, tegar, dan mandiri seperti kalian semua.
***
Sementara di lain waktu, di lain tempat, di bulan Ramadhan kemarin...
Sekilas saya kagum pada sosok ibu yang sabar ini. Memasuki bulan ketiga anaknya masuk TK, dia dengan setia menunggui anaknya di sekolah dari pagi hingga bubar. Kalo ibunya pulang, anaknya nangis. Ibu ini menggendong si anak pula bila anaknya minta digendong. Coba saya? Kalo saya punya anak serewel itu, meureun ku saya geus dialungkeun.
"Ibu itu anaknya empat, yang TK ini yang bungsu", kata Mama Ila kepada saya, saat saya menyatakan 'kekaguman' saya pada ibu itu.
Wah, anaknya empat, betapa repotnya. Apalagi anak yang bungsu semanja ini.
Kekaguman saya ini ternyata serta merta menjadi rasa kasihan ketika saya mendengar curhatnya di forum konsultasi bersama psikolog.
Betapa tidak, ternyata keempat anaknya sama saja manjanya. Anak tertuanya saja, perempuan, kelas 6 SD, di rumahnya tampak tidak bertanggung jawab terhadap lingkungan rumahnya. Jangankan membantu, yang ada hanya 'ngerjain' ibunya saja setiap hari. Si Ibu mengeluh capek karena sepanjang hari dia sibuk melayani keempat anaknya.
Jawaban dari Ibu psikolog sungguh mengena. Setidaknya buat saya yang barangkali saat ini mudah-mudahan belum terlambat.
"Ibu harus melatihnya Bu.. Dimulai dari hal-hal yang kecil dulu. Jangan harap anak bisa cuci piring sendiri sebelum dia bisa menaruh piring bekas makannya di tempat cuci piring. Dan jangan harap anak bisa mencuci baju sendiri sebelum anak bisa menaruh baju bekas pakainya di keranjang cucian, tanpa disuruh"
"Untuk melatih tanggung jawabnya terhadap lingkungan rumah, mulailah beri tugas yang ringan, misalnya sebelum tidur diberi tugas mengecek apa pintu depan sudah dikunci. Kalau Ibu konsisten, insyaa Allah bisa Bu.."
Si Ibu pun mengangguk-ngangguk, setengah mikir. Wajar saja kalo Ibu ini merasa berat.Mungkin kebiasaannya memanjakan anak memang berbuah resiko ketidakmandirian bagi putra-putrinya. Berat juga barangkali bagi si Ibu untuk lebih tegas kepada anak-anaknya.
Seperti saya yang sampai saat ini masih berat juga untuk tidak menyuapi Arif. Dia teh kecil kurus gitu kayak ibunya. Kalau makan sendiri, suka sedikit dan tidak habis. Tapi kalau saya suapi, dia bisa makan banyak.
Kata temen saya yang lebih pengalaman, justru Ibu yang sabar adalah yang bisa konsisten dan tegas menerapkan aturan. Bukan Ibu 'siaga' yang selalu siap sedia memberikan dan melakukan apa saja yang dimaui anak-anaknya.
***
Ternyata Arif Sofi-ku bisa juga ya walau masih dalam area mandiri kecil-kecilan.
Mereka dalam beberapa minggu ini mulai bisa menaruh piring dan gelas bekas pakainya di tempat cuci piring tanpa saya suruh lagi.
Hmm.. kapan ya mereka bisa nyuci piring sendiri??
Barudak atuh barudak, sing geura gede sing geura jangkung...
Sing geura mantuan ka nu jadi indung...

***
Lebaran usai, dan barangkali hari ini banyak orang tua yang telah berpisah kembali dengan anak cucunya. Pamit pamit peluk cium dan untaian do'a agar perlindungan Allah selalu menaungi. Air mata pun kadang tak luput di sela lambaian tangan perpisahan.
Kini semua kembali pada dunianya, kesehariannya, back to work. Mencoba meninggalkan kesan indah selama mudik, melupakan segala kerinduan yang masih tersisa, dan kini kembali menarik nafas panjang untuk menghadapi realita hidup, juga barangkali.. rutinitas.
Ah, semua itu cuma dalam bayangan saya kok.
Saya yang tak pernah terpisah dengan orang tua. Pun suamiku.
Dari rumah ini, hanya 15 menit naik mobil sendiri, saya sudah bisa sampai di rumah orang tua. Dan hanya 45 menit sudah bisa sampai di rumah mertua.
Belum pernah gak ketemu orang tua lebih dari satu minggu.
Rabu kemarin, waktu saya melepas kepergian adek ipar di bandara, malah saya yang nangis ketika memeluknya.
Lagian gak tega lihat adekku menggendong anaknya yang tertidur pulas di pundak kirinya, disangga tangan kiri, dan tangan kanan mendorong troli barang sambil sesekali melambaikan tangan pada kami yang hanya bisa menonton di balik kaca.
Adekku itu tampak tegar dan biasa-biasa saja. Toh tinggal satu tahun lagi insyaa Allah, setelah sembilan tahun berlalu selalu jauh dari keluarga. Mungkin begitu pikirnya. Sementara saya masih sibuk juga usap air mata di pipi kiri kanan. Lebay.
Saya jadi membayangkan jika suatu saat Sofi-ku harus merantau jauh untuk meraih cita-citanya, atau mungkin ngikut suaminya. Kuat gak ya melepasnya?
Makanya, biar saya bisa melepas anak kapanpun dan kemana pun mereka pergi, mestinya saya bisa mendidik anak-anak saya menjadi seorang yang ikhlas dan mandiri.
Ikhlas berarti ada atau tidak ada saya, mereka tetap melakukan hal yang terbaik karena Allah, dan mandiri artinya mereka bisa melakukan segala sesuatu dengan sesedikit mungkin merepotkan orang lain.
Setuju? Mestinya iya.. tentu saja.
Dan kepada sahabat-sahabatku, adikku, saudara-saudaraku,.. saya sungguh salut atas kemandirian kalian. Mudah-mudahan saya bisa mendidik anak-anak saya dan tentunya diri saya sendiri, agar bisa kuat, tegar, dan mandiri seperti kalian semua.
***
Sementara di lain waktu, di lain tempat, di bulan Ramadhan kemarin...
Sekilas saya kagum pada sosok ibu yang sabar ini. Memasuki bulan ketiga anaknya masuk TK, dia dengan setia menunggui anaknya di sekolah dari pagi hingga bubar. Kalo ibunya pulang, anaknya nangis. Ibu ini menggendong si anak pula bila anaknya minta digendong. Coba saya? Kalo saya punya anak serewel itu, meureun ku saya geus dialungkeun.
"Ibu itu anaknya empat, yang TK ini yang bungsu", kata Mama Ila kepada saya, saat saya menyatakan 'kekaguman' saya pada ibu itu.
Wah, anaknya empat, betapa repotnya. Apalagi anak yang bungsu semanja ini.
Kekaguman saya ini ternyata serta merta menjadi rasa kasihan ketika saya mendengar curhatnya di forum konsultasi bersama psikolog.
Betapa tidak, ternyata keempat anaknya sama saja manjanya. Anak tertuanya saja, perempuan, kelas 6 SD, di rumahnya tampak tidak bertanggung jawab terhadap lingkungan rumahnya. Jangankan membantu, yang ada hanya 'ngerjain' ibunya saja setiap hari. Si Ibu mengeluh capek karena sepanjang hari dia sibuk melayani keempat anaknya.
Jawaban dari Ibu psikolog sungguh mengena. Setidaknya buat saya yang barangkali saat ini mudah-mudahan belum terlambat.
"Ibu harus melatihnya Bu.. Dimulai dari hal-hal yang kecil dulu. Jangan harap anak bisa cuci piring sendiri sebelum dia bisa menaruh piring bekas makannya di tempat cuci piring. Dan jangan harap anak bisa mencuci baju sendiri sebelum anak bisa menaruh baju bekas pakainya di keranjang cucian, tanpa disuruh"
"Untuk melatih tanggung jawabnya terhadap lingkungan rumah, mulailah beri tugas yang ringan, misalnya sebelum tidur diberi tugas mengecek apa pintu depan sudah dikunci. Kalau Ibu konsisten, insyaa Allah bisa Bu.."
Si Ibu pun mengangguk-ngangguk, setengah mikir. Wajar saja kalo Ibu ini merasa berat.Mungkin kebiasaannya memanjakan anak memang berbuah resiko ketidakmandirian bagi putra-putrinya. Berat juga barangkali bagi si Ibu untuk lebih tegas kepada anak-anaknya.
Seperti saya yang sampai saat ini masih berat juga untuk tidak menyuapi Arif. Dia teh kecil kurus gitu kayak ibunya. Kalau makan sendiri, suka sedikit dan tidak habis. Tapi kalau saya suapi, dia bisa makan banyak.
Kata temen saya yang lebih pengalaman, justru Ibu yang sabar adalah yang bisa konsisten dan tegas menerapkan aturan. Bukan Ibu 'siaga' yang selalu siap sedia memberikan dan melakukan apa saja yang dimaui anak-anaknya.
***
Ternyata Arif Sofi-ku bisa juga ya walau masih dalam area mandiri kecil-kecilan.
Mereka dalam beberapa minggu ini mulai bisa menaruh piring dan gelas bekas pakainya di tempat cuci piring tanpa saya suruh lagi.
Hmm.. kapan ya mereka bisa nyuci piring sendiri??
Barudak atuh barudak, sing geura gede sing geura jangkung...
Sing geura mantuan ka nu jadi indung...
***
Kamis, 09 Juli 2009
Ummi.. Gambatte Kudasai !!!
***
"Waah.. Umi semangat sekali yaa...mandiin Sofi.. gemes-gemes Sofi.. waaah wah wah", kata Sofi sambil geleng-geleng kepala.
Haaa...Tentu saja saya terperangah dengar Sofi bilang kayak gitu, apalagi melihat ekspresinya yang penuh kekaguman.
Hihi.. siapa sih yang gak seneng dipuji anak sendiri? Apalagi ini dinyatakannya dengan tulus, hanya di hadapan saya, tidak untuk membanggakan umminya di depan orang lain.
Hari itu saya memang sedang banyak kerjaan di rumah. Ya nyuci baju, nyapu, ngepel, cuci piring, mengejar waktu untuk bisa tepat waktu sampai di apotek jam satu siang. Otomatis hal itu membuat saya juga mengatur aktivitas anak-anak. Ayo mandi. Ayo makan. Sambil tanpa henti saya mengerjakan ini itu. Maklumlah mereka lagi liburan.
Barangkali selama saya 'berputar-putar' di rumah, Sofi memperhatikan semua yang saya lakukan. Dan muncul kekaguman dari dalam dirinya
Entahlah,...ternyata ungkapan Sofi itu menorehkan banyak hal di hati ini. Selain gaya bicaranya yang mirip orang tua memuji anaknya.. ada hal lain yang membuat saya banyak berpikir.
Memuji..
hmmm... memuji?
Ah.. bukankah itu sudah biasa dilakukan orang tua terhadap anaknya?
Orang tua jaman sekarang kebanyakan sudah bisa memahami mengenai bagaimana cara memotivasi anak, tentu tidak lupa untuk selalu memuji anaknya dengan cara yang baik dan proporsional.
Jadi inget film KING yang baru saya tonton di blitz hari minggu kemarin..
Ayah Guntur hanya bisa memarahi, sulit sekali untuk menyatakan pujian dan rasa sayangnya, hingga akhirnya Guntur menyadari kasih sayang ayahnya yang memang tidak bisa menyatakan cinta dengan cara verbal..
Tapi kita ternyata lupa ya untuk memuji orang tua kita sendiri langsung di hadapannya? Untuk saya sendiri, pasti kaku sekali. Sama sekali tidak biasa. Jangankan biasa, pernah pun tidak. Padahal begitu banyak hal mengagumkan yang telah mereka lakukan dalam hidupnya.
Saya sendiri sama sekali tidak berharap dipuji sama anak. Yang saya harapkan hanyalah segala yang baik dari diri saya bisa digugu dan ditiru oleh anak-anak saya. Sungguh hanya itu saja.
Namun ketika Sofi mengungkapkan pujian tulusnya, saya tak urung berbunga-bunga juga..
dan merasa lebih semangat lagi dan semangat lagi luar biasa.
Anak sekecil Sofi ternyata sudah bisa menilai ya.. apa saja hal positif yang sedang dilakukan Umminya. Sementara banyak hal negatif juga yang sering saya lakukan di hadapannya. Seperti bermalas-malasan dan membiarkan rumah berantakan.
Entah dia sadar atau tidak, tapi semakin besar usianya, pasti dia semakin menyadari bahwa kesalahan dan hal sia-sia yang dilakukan oleh seorang ibu, akan berdampak amat besar bagi keseharian keluarganya terutama anak-anaknya.
Saya bersyukur terlahir dari seorang ibu rumah tangga sejati yang sangat amanah, dan jadi menantu dari seorang ibu karir yang amat pandai membagi waktu antara pekerjaan dan keluarganya.
Seperti yang pernah saya ceritakan mengenai kedua ibu saya ini empat tahun lalu dan dirilis ulang di blog ini (heu.. masukin link kok gagal ya).
Terus.. bagaimana hubungan erat tak terpisahkan antara ibu dan facebook seperti yang telah lama 'disadari' oleh para fesbuker di dunia??
Hmmm... itu sih tergantung man behind the gun lah... Bagi saya sendiri facebook amat besar manfaatnya.. Banyak sekali. Tentu saja selama saya tidak lebay.
Kalo saya lebay, maka siap-siap saja laptop di depan saya ini yang paling keras mendorong saya masuk ke lubang neraka.
Na'udzubiLlahi min dzalik.
Dan Sofi... semoga anakku yang cantik nan baik hati ini menjadi seorang ibu dan istri yang shalihah bagi keluarganya kelak..
Amiiin...
***
"Waah.. Umi semangat sekali yaa...mandiin Sofi.. gemes-gemes Sofi.. waaah wah wah", kata Sofi sambil geleng-geleng kepala.
Haaa...Tentu saja saya terperangah dengar Sofi bilang kayak gitu, apalagi melihat ekspresinya yang penuh kekaguman.
Hihi.. siapa sih yang gak seneng dipuji anak sendiri? Apalagi ini dinyatakannya dengan tulus, hanya di hadapan saya, tidak untuk membanggakan umminya di depan orang lain.
Hari itu saya memang sedang banyak kerjaan di rumah. Ya nyuci baju, nyapu, ngepel, cuci piring, mengejar waktu untuk bisa tepat waktu sampai di apotek jam satu siang. Otomatis hal itu membuat saya juga mengatur aktivitas anak-anak. Ayo mandi. Ayo makan. Sambil tanpa henti saya mengerjakan ini itu. Maklumlah mereka lagi liburan.
Barangkali selama saya 'berputar-putar' di rumah, Sofi memperhatikan semua yang saya lakukan. Dan muncul kekaguman dari dalam dirinya
Entahlah,...ternyata ungkapan Sofi itu menorehkan banyak hal di hati ini. Selain gaya bicaranya yang mirip orang tua memuji anaknya.. ada hal lain yang membuat saya banyak berpikir.
Memuji..
hmmm... memuji?
Ah.. bukankah itu sudah biasa dilakukan orang tua terhadap anaknya?
Orang tua jaman sekarang kebanyakan sudah bisa memahami mengenai bagaimana cara memotivasi anak, tentu tidak lupa untuk selalu memuji anaknya dengan cara yang baik dan proporsional.
Jadi inget film KING yang baru saya tonton di blitz hari minggu kemarin..
Ayah Guntur hanya bisa memarahi, sulit sekali untuk menyatakan pujian dan rasa sayangnya, hingga akhirnya Guntur menyadari kasih sayang ayahnya yang memang tidak bisa menyatakan cinta dengan cara verbal..
Tapi kita ternyata lupa ya untuk memuji orang tua kita sendiri langsung di hadapannya? Untuk saya sendiri, pasti kaku sekali. Sama sekali tidak biasa. Jangankan biasa, pernah pun tidak. Padahal begitu banyak hal mengagumkan yang telah mereka lakukan dalam hidupnya.
Saya sendiri sama sekali tidak berharap dipuji sama anak. Yang saya harapkan hanyalah segala yang baik dari diri saya bisa digugu dan ditiru oleh anak-anak saya. Sungguh hanya itu saja.
Namun ketika Sofi mengungkapkan pujian tulusnya, saya tak urung berbunga-bunga juga..
dan merasa lebih semangat lagi dan semangat lagi luar biasa.
Anak sekecil Sofi ternyata sudah bisa menilai ya.. apa saja hal positif yang sedang dilakukan Umminya. Sementara banyak hal negatif juga yang sering saya lakukan di hadapannya. Seperti bermalas-malasan dan membiarkan rumah berantakan.
Entah dia sadar atau tidak, tapi semakin besar usianya, pasti dia semakin menyadari bahwa kesalahan dan hal sia-sia yang dilakukan oleh seorang ibu, akan berdampak amat besar bagi keseharian keluarganya terutama anak-anaknya.
Saya bersyukur terlahir dari seorang ibu rumah tangga sejati yang sangat amanah, dan jadi menantu dari seorang ibu karir yang amat pandai membagi waktu antara pekerjaan dan keluarganya.
Seperti yang pernah saya ceritakan mengenai kedua ibu saya ini empat tahun lalu dan dirilis ulang di blog ini (heu.. masukin link kok gagal ya).
Terus.. bagaimana hubungan erat tak terpisahkan antara ibu dan facebook seperti yang telah lama 'disadari' oleh para fesbuker di dunia??
Hmmm... itu sih tergantung man behind the gun lah... Bagi saya sendiri facebook amat besar manfaatnya.. Banyak sekali. Tentu saja selama saya tidak lebay.
Kalo saya lebay, maka siap-siap saja laptop di depan saya ini yang paling keras mendorong saya masuk ke lubang neraka.
Na'udzubiLlahi min dzalik.
Dan Sofi... semoga anakku yang cantik nan baik hati ini menjadi seorang ibu dan istri yang shalihah bagi keluarganya kelak..
Amiiin...
***
Jumat, 26 Juni 2009
arif belajar jualan...
==
Apa kata Bu Triya tentang Arif saat pembagian rapor?
"Wah Ummi,... Arif sekarang sudah bisa menolak permintaan Bu Guru,...Arif udah bisa ngisengin temennya,... mau juga main sama teman perempuannya" ...ooops...
Lagian Bu Triya bilang gitu sambil tersenyum bahagia, diamini dengan anggukan Bu Umi di sebelahnya, sambil tertawa lebar pula
Tampak menjadi sebuah dialog yang aneh kalau orang gak ngerti latar belakang masalahnya.
Yups kawan... Arif yang pada semester satu sering menangis di pagi hari, Arif yang pada semester satu mainnya hanya dengan Bu Guru.. sekarang katanya sudah bisa menakut-nakuti anak perempuan dengan berperan sebagai buaya yang siap memangsa
Intinya ya barangkali bukan itu. Tapi di semester dua ini Arif menunjukkan perkembangan yang baik dalam sosialisasi dengan teman-temannya, dan bisa tampil percaya diri. AlhamduliLlaah...
Pelajarannya pun tak kalah baik.. nilai terkecil 7,5 pada pelajaran kesenian.
Yah maklumlah kalo itu mah.. tidak ada darah seni mengalir di tubuhnya
Sofi?
Apa kata Bu Sari tentang Sofi?
Gak ada masalah sama sekali, kecuali masih kurang PD. Gayanya masih pemalu.
Pemalu... Mirip umminya ya.. beda dikit lah. Pemalu sama malu-maluin kan beda dikit.
Owiya, gimana dengan jualannya Arif?
Beberapa waktu lalu saya memang sempat menawari Arif untuk jualan mentos roll. Sejak saya pegang apotek dan melihat bisnis teman-teman yang lain, saya menyadari betapa pentingnya mengasah kemampuan anak dalam bidang marketing. Selain mengajari anak untuk mengerti artinya uang, hikmah immaterilnya pun banyak. Antara lain gimana belajar untuk bersyukur, bersabar, berempati, dan konsistensi.

Awalnya karena Arif punya uang cukup banyak di dompetnya, dikasih sama Eyang katanya.
Saya tawari Arif untuk mengeluarkan uangnya, tiga ribu rupiah saja untuk jadi modal jualan permen.
"Arif beli ke umi tiga ratusan, nanti Arif jual ke temen lima ratusan,"
Arif mengerutkan dahi.
"Nah karena Arif beli tiga ribueun, umi kasih sepuluh mentos," lanjut saya.
Arif menerima mentosnya, tampak masih bingung
"Arif jual ke temen lima ratusan, kalau semua kejual, jadi berapa Arif dapet uang?"
Arif memandang langit-langit.. mencoba menghitung tapi gagal.
Setelah saya pandu, dengan lima dikali sepuluh ditambah nolnya dua.. barulah Arif bisa menjawab: lima ribu.
"Nah, padahal kan awalnya Arif cuma ngeluarin uang tiga ribu ke umi, tapi nanti Arif jadi dapat lima ribu. Berarti Arif dapat untung dua ribu,"
Arif bengong lagi.
... CuapPPeee DueeeehHH...
"Ya udah Rif.. pokonya jual aja lima ratusan satu.. nanti Insyaa Allah Arif ngerti deh"
Btw, saya membiasakan kata Insyaa Allah ini pada anak-anak. Biar mereka terbiasa juga, dan perlahan bisa memahami bahwa dalam setiap gerak langkah kita, semuanya bisa terjadi hanya atas izin Allah SWT. Tak ada yang pasti kecuali dengan kepastian dari-Nya.
Hari selasa itu, pulang sekolah,
"Kejual berapa Rif??" tanya saya.
Kejual segini.. kata Arif menunjukkan lima jari tangan kanannya.
"AlhamduliLlaaaah... Lihat, mana kotaknya?"
Saya buka tutup kotak kardus kecil tempat sepuluh mentos rollnya Arif tadi pagi.
Isinya lima mentos, beberapa permen kopiko, dan uang tiga ribu rupiah dalam pecahan seribuan dan lima ratusan.
"Rif, kalo kejual lima, mestinya uangnya dua ribu lima ratus dong, kok ini tiga ribu?", tanya saya heran.
"Kan Arif jual kopiko juga..", jawab Arif ringan.
"Ha? Terus kopikonya Arif jual berapa?"
"Ya lima ratusan juga lah.."
"Lima ratus satu???"
"Iya.."
"Siapa yang beli?", tanya saya sambil tertawa..
Arif menyebutkan nama seorang anak perempuan.
.. kasian amat ya anak perempuan itu, kena rayuan mautnya Arif sampe mau beli kopiko lima ratusan satu..
Arif memang dapet kopiko itu dari Eyangnya. Mungkin dia pikir daripada nyungsep di tas, mending dijual.
"Besok Arif kasih dua permen lagi ke temennya tadi yang beli kopiko ya, bilang kalo kemaren salah harga..", saran saya.
Arif ngangguk, dan besoknya dikabarkan kalau dia sudah kasih permen tambahan ke anak perempuan tadi.
Mentos roll kloter pertamanya Arif laku keras. Tentu saja dengan bantuan Aki, Sofi, sepupunya Fauzan, dan Om Ipin, yang ikutan beli..hihi..
Saya bantu dia menghitung keuntungan, dan akhirnya dia faham.
Untuk kloter kedua, saya belikan lagi mentos roll sepuluh biji lagi. Kali ini agak lambat penjualannya. Tapi yang menarik, Arif tetap mencoba menawarkannya walau hanya ke satu orang. Saya tau karena saya tanya.
"Udah nawarin tapi gak ada yang beli", kata Arif ringan.
"Ya gapapa.. kan yang penting usaha", jawabku dengan do'a dalam hati.. semoga dia kelak menjadi orang yang tawakkal.
Seminggu sebelum pembagian rapor, ternyata mentos roll Arif habis.
Saya tawari lagi..
"Gak ah.. Arif gak mau jualan lagi..", katanya
"Kenapa??", tanya saya sedikit kecewa.
"Enggak aja..", jawabnya cuek.
Ya sudahlah, tak baik juga dipaksakan.
Saya evaluasi, ternyata bisa jadi Arif gak begitu ngeh apa arti jualan.
Maklumlah.. eyangnya rajin sekali kasih Arif uang..
jadinya ya keuntungan yang dia dapat dari jualannya, gak begitu terasa.
Saya harus ambil strategi lain...
(bersambung?
)
***
Apa kata Bu Triya tentang Arif saat pembagian rapor?
"Wah Ummi,... Arif sekarang sudah bisa menolak permintaan Bu Guru,...Arif udah bisa ngisengin temennya,... mau juga main sama teman perempuannya" ...ooops...
Lagian Bu Triya bilang gitu sambil tersenyum bahagia, diamini dengan anggukan Bu Umi di sebelahnya, sambil tertawa lebar pula
Tampak menjadi sebuah dialog yang aneh kalau orang gak ngerti latar belakang masalahnya.
Yups kawan... Arif yang pada semester satu sering menangis di pagi hari, Arif yang pada semester satu mainnya hanya dengan Bu Guru.. sekarang katanya sudah bisa menakut-nakuti anak perempuan dengan berperan sebagai buaya yang siap memangsa
Intinya ya barangkali bukan itu. Tapi di semester dua ini Arif menunjukkan perkembangan yang baik dalam sosialisasi dengan teman-temannya, dan bisa tampil percaya diri. AlhamduliLlaah...
Pelajarannya pun tak kalah baik.. nilai terkecil 7,5 pada pelajaran kesenian.
Yah maklumlah kalo itu mah.. tidak ada darah seni mengalir di tubuhnya
Sofi?
Apa kata Bu Sari tentang Sofi?
Gak ada masalah sama sekali, kecuali masih kurang PD. Gayanya masih pemalu.
Pemalu... Mirip umminya ya.. beda dikit lah. Pemalu sama malu-maluin kan beda dikit.
Owiya, gimana dengan jualannya Arif?
Beberapa waktu lalu saya memang sempat menawari Arif untuk jualan mentos roll. Sejak saya pegang apotek dan melihat bisnis teman-teman yang lain, saya menyadari betapa pentingnya mengasah kemampuan anak dalam bidang marketing. Selain mengajari anak untuk mengerti artinya uang, hikmah immaterilnya pun banyak. Antara lain gimana belajar untuk bersyukur, bersabar, berempati, dan konsistensi.

Awalnya karena Arif punya uang cukup banyak di dompetnya, dikasih sama Eyang katanya.
Saya tawari Arif untuk mengeluarkan uangnya, tiga ribu rupiah saja untuk jadi modal jualan permen.
"Arif beli ke umi tiga ratusan, nanti Arif jual ke temen lima ratusan,"
Arif mengerutkan dahi.
"Nah karena Arif beli tiga ribueun, umi kasih sepuluh mentos," lanjut saya.
Arif menerima mentosnya, tampak masih bingung
"Arif jual ke temen lima ratusan, kalau semua kejual, jadi berapa Arif dapet uang?"
Arif memandang langit-langit.. mencoba menghitung tapi gagal.
Setelah saya pandu, dengan lima dikali sepuluh ditambah nolnya dua.. barulah Arif bisa menjawab: lima ribu.
"Nah, padahal kan awalnya Arif cuma ngeluarin uang tiga ribu ke umi, tapi nanti Arif jadi dapat lima ribu. Berarti Arif dapat untung dua ribu,"
Arif bengong lagi.
"Ya udah Rif.. pokonya jual aja lima ratusan satu.. nanti Insyaa Allah Arif ngerti deh"
Btw, saya membiasakan kata Insyaa Allah ini pada anak-anak. Biar mereka terbiasa juga, dan perlahan bisa memahami bahwa dalam setiap gerak langkah kita, semuanya bisa terjadi hanya atas izin Allah SWT. Tak ada yang pasti kecuali dengan kepastian dari-Nya.
Hari selasa itu, pulang sekolah,
"Kejual berapa Rif??" tanya saya.
Kejual segini.. kata Arif menunjukkan lima jari tangan kanannya.
"AlhamduliLlaaaah... Lihat, mana kotaknya?"
Saya buka tutup kotak kardus kecil tempat sepuluh mentos rollnya Arif tadi pagi.
Isinya lima mentos, beberapa permen kopiko, dan uang tiga ribu rupiah dalam pecahan seribuan dan lima ratusan.
"Rif, kalo kejual lima, mestinya uangnya dua ribu lima ratus dong, kok ini tiga ribu?", tanya saya heran.
"Kan Arif jual kopiko juga..", jawab Arif ringan.
"Ha? Terus kopikonya Arif jual berapa?"
"Ya lima ratusan juga lah.."
"Lima ratus satu???"
"Iya.."
"Siapa yang beli?", tanya saya sambil tertawa..
Arif menyebutkan nama seorang anak perempuan.
Arif memang dapet kopiko itu dari Eyangnya. Mungkin dia pikir daripada nyungsep di tas, mending dijual.
"Besok Arif kasih dua permen lagi ke temennya tadi yang beli kopiko ya, bilang kalo kemaren salah harga..", saran saya.
Arif ngangguk, dan besoknya dikabarkan kalau dia sudah kasih permen tambahan ke anak perempuan tadi.
Mentos roll kloter pertamanya Arif laku keras. Tentu saja dengan bantuan Aki, Sofi, sepupunya Fauzan, dan Om Ipin, yang ikutan beli..hihi..
Saya bantu dia menghitung keuntungan, dan akhirnya dia faham.
Untuk kloter kedua, saya belikan lagi mentos roll sepuluh biji lagi. Kali ini agak lambat penjualannya. Tapi yang menarik, Arif tetap mencoba menawarkannya walau hanya ke satu orang. Saya tau karena saya tanya.
"Udah nawarin tapi gak ada yang beli", kata Arif ringan.
"Ya gapapa.. kan yang penting usaha", jawabku dengan do'a dalam hati.. semoga dia kelak menjadi orang yang tawakkal.
Seminggu sebelum pembagian rapor, ternyata mentos roll Arif habis.
Saya tawari lagi..
"Gak ah.. Arif gak mau jualan lagi..", katanya
"Kenapa??", tanya saya sedikit kecewa.
"Enggak aja..", jawabnya cuek.
Ya sudahlah, tak baik juga dipaksakan.
Saya evaluasi, ternyata bisa jadi Arif gak begitu ngeh apa arti jualan.
Maklumlah.. eyangnya rajin sekali kasih Arif uang..
jadinya ya keuntungan yang dia dapat dari jualannya, gak begitu terasa.
Saya harus ambil strategi lain...
(bersambung?
***
Sabtu, 18 April 2009
warnailah sesukamu, nak!
***
Rabu kemarin saya antar Sofi ke taman lalu lintas, untuk mengikuti acara Festival Raudhatul Athfal sekodya Bandung. Sofi mewakili kelas A RA At Taqwa pada lomba mewarnai. Kata Bu Gurunya sih, Sofi paling rapi di kelasnya kalo mewarnai.
Hm.. hebat ya? Siapa coba umminya?
Allah, Allah, rasa syukur ini begitu besarnya. Jangankan melihat Sofi punya kelebihan.. melihat dia bisa tersenyum saja, saya bahagia!
Taman lalu lintas saat itu jadi arena yang amat sangat padat. Ratusan kepala manusia, anak beserta ibu dan gurunya, memadati taman di tengah kota itu. Puluhan pedagang ikut pula meramaikan suasana di luar arena. Macet luar biasa di jalan belitung - sumatera. Di antara kepala-kepala itu, ada kepala Dada Rosada tentu saja. Karena beliaulah yang membuka acara ini dengan resmi.
Ricuh bin Riweuh.
Banyak anak-anak yang merengek minta dibelikan mainan, dan kayaknya banyak juga orang tua yang mencoba berbohong untuk menghibur hati anaknya.
"Iya nanti dibeliin", padahal nunggu anak lupa.
Sofi rewel gak?
Ah, kalo Sofi sih udah biasa gak dibeliin apa-apa. Jadi ya dia juga gak minta.
(kasian amat anak itu ya.. siapa sih bapaknya?
)
Saya dan Sofi gak ikut rombongan sekolah. Saya nyetir mobil sendiri saja, antar Arif dulu ke sekolahnya. Ceritanya biar bisa bebas mau pulang jam berapa.
Sesampai di sana saya langsung cari-cari rombongan RA At Taqwa. Tapi di antara sekian banyak orang itu, saya gak nemu satupun yang saya kenal. Nelpon gurunya Sofi, gak diangkat. Sms pun gak nyampe.
Ya sudah, saya akhirnya cari sendiri panitia dan meminta lembar 'soal' mewarnai buat Sofi. Kebetulan dari sekolah, Sofi sudah dibekali dua karcis masuk dan nomor peserta. Jadi ya tinggal masuk masuk aja.
Sofi cemberut. Awalnya dia gak mau masuk arena karena gak ada satupun orang yang dia kenal. Saya coba gak maksa, karena cukup bisa berempati lah. Males banget memang mesti mewarnai di tempat yang begitu padat manusia, ditambah lagi sinar matahari yang semakin terik. Masih jam sembilan pagi tapi ya kok rasanya panaaas sekali.
Gak maksa sih, tapi coba untuk membujuk. Bahasa halus dari 'AGAK maksa'.
A itu tidak, gak itu tidak. Jadi ya kesimpulannya maksa juga.
Sofi pun mau karena saya menunjukkan tempat di pinggir arena, sehingga Sofi masih bisa dekat dengan saya.
Ibu-ibu memenuhi tempat di pinggir arena itu. Masing-masing ibu tentu saja mengarahkan pandangan pada anak dan hasil karyanya.
Di area lain, ada juga lomba senam, lomba peragaan busana, dan beberapa lomba lainnya. Ibu, anak, guru, dan panitia hilir mudik. Belum lagi kereta mobil yang berputar-putar di jalanan dengan klakson yang dipijit berkali-kali dan teriakan si sopir agar orang-orang menyingkir dari jalanan.
Hehe.. bener-bener dah, crowdednya taman lalu lintas saat itu seakan jadi miniatur kota Bandung. Bedanya sih cuma satu: jalan di taman lalu lintas gak ada yang berlubang. Sementara aslinya kota Bandung, tak ada jalan tanpa lubang di tengahnya.
Matahari semakin meninggi. Sudah 15 menit Sofi mewarnai. Anak-anak lain yang sudah lebih dulu duduk di arena tampak mulai gelisah dan melirik kiri kanan. Konsentrasi mulai buyar. Ibu-ibu pun berlomba meneriaki anaknya biar segera menyelesaikan pekerjaannya. Dan saya sibuk mengamati. Sofi alhamduliLlah, tampak masih semangat.

"Eh, udah dari tadi kok mewarnainya masih segitu?", teriak seorang ibu. Anaknya emang kayaknya udah kesel dan gak konsen banget. Sementara dia baru mewarnai gambar pohonnya saja. Si anak segera kembali mewarnai, tapi tak lama kemudian dia udah clingak clinguk lagi.
tik tuk tik tuk...
Waktu terus berjalan, dan kini masuk ke tahapan finishing.
Ibu-ibu masih ribut juga.
"Loh.. kok atap warnanya biru? Coklat atuh!!", teriak seorang ibu pada anaknya.
"mm.. tapi atap rumah sekarang emang ada juga yang biru ya?", masih kata si ibu itu lagi sambil melayangkan pandangan ke seorang ibu di sebelah kirinya.
Tidak hanya satu ibu yang berkomentar senada, tapi tiga.. mungkin lebih karena tiga itu hanya yang ada di sekitar saya saja. Begitu banyak ibu yang tampak ribut juga di belahan arena yang lain.
"Daun kok ungu?" "Langit kok hijau?",
berisik!
Malah ada seorang ibu yang.. 'teu kuaaat!'.
Dia masuk arena, merebut krayon yang sedang dipegang anaknya yang siap ditorehkan di atas kertas, mengambil krayon warna lain, dan menyerahkannya pada si anak.
"Nih.. warnai ini pake yang ini!!", kata si Ibu sambil menunjuk sebuah bidang di kertas soal.
Oh my God! Biasa aja deh Bu!!
Ah, mewarnai itu kan tak sekedar mewarnai. Seandainya saya jadi panitia, barangkali saya akan memberi nilai tertinggi pada gambar dengan warna yang paling aneh.
Daun ungu, bunga hijau, atap kuning, dinding hitam, langit oranye, dan awan merah. Anak yang mewarnai gambarnya seperti itu -sekali lagi, ini pemikiran saya pribadi- pastilah anak yang kreatif, berimajinasi tinggi, percaya diri, dan bukan plagiator.
Tapi jujur, tak urung saya pun hampir meneriakkan hal yang sama dengan ibu-ibu tadi saat Sofi mengakhiri gambarnya dengan menorehkan krayon coklat pada langit!
Bukan.. bukan masalah warnanya, tapi warna coklat itu sama persis dengan coklatnya atap dan coklatnya batang pohon.
Jadi kan...
"Sofi!! Bedain dong warnanya!!!.. fh..fh..."
*Sabar buuuuuuu !!*
Syukurlah.. saya masih bisa nahan diri. Walaupun sedikit kecewa karena sebetulnya dari mulai mewarnai tanah sampai atap, Sofi udah bagus permainan warnanya. Tapi ya kok endingnya mesti begini.. hiks. Sudahlah!

Paduli teuing si langit dan atap coklat itu!
Coklat emang uwennak Fiii...!!
Lanjuuuuuuuuuuuuuuuuuuutt !!!
Saya menghibur diri dalam hati..sambil memperhatikan jemari mungilnya Sofi yang terus mewarnai dengan krayon patah-patahnya. Tiap akan mengambil krayon Sofi pasti melirik saya seakan minta persetujuan. Dan saya.. tentu saja selalu mengangguk.
"Warnailah sesukamu, Nak!"
**
Dan setelah Sofi usai mewarnai, kami pun bersenang-senang naik kereta api dan kereta mobil.
Sofi senang, saya pun senang...
*maklum, saumur-umur memang baru saat itu saya naik kereta api di taman lalu lintas ini*
***
Rabu kemarin saya antar Sofi ke taman lalu lintas, untuk mengikuti acara Festival Raudhatul Athfal sekodya Bandung. Sofi mewakili kelas A RA At Taqwa pada lomba mewarnai. Kata Bu Gurunya sih, Sofi paling rapi di kelasnya kalo mewarnai.
Hm.. hebat ya? Siapa coba umminya?
Allah, Allah, rasa syukur ini begitu besarnya. Jangankan melihat Sofi punya kelebihan.. melihat dia bisa tersenyum saja, saya bahagia!
Taman lalu lintas saat itu jadi arena yang amat sangat padat. Ratusan kepala manusia, anak beserta ibu dan gurunya, memadati taman di tengah kota itu. Puluhan pedagang ikut pula meramaikan suasana di luar arena. Macet luar biasa di jalan belitung - sumatera. Di antara kepala-kepala itu, ada kepala Dada Rosada tentu saja. Karena beliaulah yang membuka acara ini dengan resmi.
Ricuh bin Riweuh.
Banyak anak-anak yang merengek minta dibelikan mainan, dan kayaknya banyak juga orang tua yang mencoba berbohong untuk menghibur hati anaknya.
"Iya nanti dibeliin", padahal nunggu anak lupa.
Sofi rewel gak?
Ah, kalo Sofi sih udah biasa gak dibeliin apa-apa. Jadi ya dia juga gak minta.
(kasian amat anak itu ya.. siapa sih bapaknya?
Saya dan Sofi gak ikut rombongan sekolah. Saya nyetir mobil sendiri saja, antar Arif dulu ke sekolahnya. Ceritanya biar bisa bebas mau pulang jam berapa.
Sesampai di sana saya langsung cari-cari rombongan RA At Taqwa. Tapi di antara sekian banyak orang itu, saya gak nemu satupun yang saya kenal. Nelpon gurunya Sofi, gak diangkat. Sms pun gak nyampe.
Ya sudah, saya akhirnya cari sendiri panitia dan meminta lembar 'soal' mewarnai buat Sofi. Kebetulan dari sekolah, Sofi sudah dibekali dua karcis masuk dan nomor peserta. Jadi ya tinggal masuk masuk aja.
Sofi cemberut. Awalnya dia gak mau masuk arena karena gak ada satupun orang yang dia kenal. Saya coba gak maksa, karena cukup bisa berempati lah. Males banget memang mesti mewarnai di tempat yang begitu padat manusia, ditambah lagi sinar matahari yang semakin terik. Masih jam sembilan pagi tapi ya kok rasanya panaaas sekali.
Gak maksa sih, tapi coba untuk membujuk. Bahasa halus dari 'AGAK maksa'.
A itu tidak, gak itu tidak. Jadi ya kesimpulannya maksa juga.
Sofi pun mau karena saya menunjukkan tempat di pinggir arena, sehingga Sofi masih bisa dekat dengan saya.
Ibu-ibu memenuhi tempat di pinggir arena itu. Masing-masing ibu tentu saja mengarahkan pandangan pada anak dan hasil karyanya.
Di area lain, ada juga lomba senam, lomba peragaan busana, dan beberapa lomba lainnya. Ibu, anak, guru, dan panitia hilir mudik. Belum lagi kereta mobil yang berputar-putar di jalanan dengan klakson yang dipijit berkali-kali dan teriakan si sopir agar orang-orang menyingkir dari jalanan.
Hehe.. bener-bener dah, crowdednya taman lalu lintas saat itu seakan jadi miniatur kota Bandung. Bedanya sih cuma satu: jalan di taman lalu lintas gak ada yang berlubang. Sementara aslinya kota Bandung, tak ada jalan tanpa lubang di tengahnya.
Matahari semakin meninggi. Sudah 15 menit Sofi mewarnai. Anak-anak lain yang sudah lebih dulu duduk di arena tampak mulai gelisah dan melirik kiri kanan. Konsentrasi mulai buyar. Ibu-ibu pun berlomba meneriaki anaknya biar segera menyelesaikan pekerjaannya. Dan saya sibuk mengamati. Sofi alhamduliLlah, tampak masih semangat.

"Eh, udah dari tadi kok mewarnainya masih segitu?", teriak seorang ibu. Anaknya emang kayaknya udah kesel dan gak konsen banget. Sementara dia baru mewarnai gambar pohonnya saja. Si anak segera kembali mewarnai, tapi tak lama kemudian dia udah clingak clinguk lagi.
tik tuk tik tuk...
Waktu terus berjalan, dan kini masuk ke tahapan finishing.
Ibu-ibu masih ribut juga.
"Loh.. kok atap warnanya biru? Coklat atuh!!", teriak seorang ibu pada anaknya.
"mm.. tapi atap rumah sekarang emang ada juga yang biru ya?", masih kata si ibu itu lagi sambil melayangkan pandangan ke seorang ibu di sebelah kirinya.
Tidak hanya satu ibu yang berkomentar senada, tapi tiga.. mungkin lebih karena tiga itu hanya yang ada di sekitar saya saja. Begitu banyak ibu yang tampak ribut juga di belahan arena yang lain.
"Daun kok ungu?" "Langit kok hijau?",
Malah ada seorang ibu yang.. 'teu kuaaat!'.
Dia masuk arena, merebut krayon yang sedang dipegang anaknya yang siap ditorehkan di atas kertas, mengambil krayon warna lain, dan menyerahkannya pada si anak.
"Nih.. warnai ini pake yang ini!!", kata si Ibu sambil menunjuk sebuah bidang di kertas soal.
Oh my God! Biasa aja deh Bu!!
Ah, mewarnai itu kan tak sekedar mewarnai. Seandainya saya jadi panitia, barangkali saya akan memberi nilai tertinggi pada gambar dengan warna yang paling aneh.
Daun ungu, bunga hijau, atap kuning, dinding hitam, langit oranye, dan awan merah. Anak yang mewarnai gambarnya seperti itu -sekali lagi, ini pemikiran saya pribadi- pastilah anak yang kreatif, berimajinasi tinggi, percaya diri, dan bukan plagiator.
Tapi jujur, tak urung saya pun hampir meneriakkan hal yang sama dengan ibu-ibu tadi saat Sofi mengakhiri gambarnya dengan menorehkan krayon coklat pada langit!
Bukan.. bukan masalah warnanya, tapi warna coklat itu sama persis dengan coklatnya atap dan coklatnya batang pohon.
Jadi kan...
"Sofi!! Bedain dong warnanya!!!.. fh..fh..."
*Sabar buuuuuuu !!*
Syukurlah.. saya masih bisa nahan diri. Walaupun sedikit kecewa karena sebetulnya dari mulai mewarnai tanah sampai atap, Sofi udah bagus permainan warnanya. Tapi ya kok endingnya mesti begini.. hiks. Sudahlah!
Paduli teuing si langit dan atap coklat itu!
Coklat emang uwennak Fiii...!!
Lanjuuuuuuuuuuuuuuuuuuutt !!!
Saya menghibur diri dalam hati..sambil memperhatikan jemari mungilnya Sofi yang terus mewarnai dengan krayon patah-patahnya. Tiap akan mengambil krayon Sofi pasti melirik saya seakan minta persetujuan. Dan saya.. tentu saja selalu mengangguk.
"Warnailah sesukamu, Nak!"
**
Dan setelah Sofi usai mewarnai, kami pun bersenang-senang naik kereta api dan kereta mobil.
Sofi senang, saya pun senang...
*maklum, saumur-umur memang baru saat itu saya naik kereta api di taman lalu lintas ini*
***
Minggu, 15 Maret 2009
opera tiga jaman
***
Sejak baca notenya Lita di fb tentang 'generasi instant', saya tiba-tiba jadi rindu.
Rindu masa lalu waktu saya masih kecil yang bahagiaaaaa rasanya.
Saking rindunya, tadi malem saya sampe netes-netesin air mata (hihi.. segitunya ya).
Kalo ngenang gimana cara mamah bapak ngasuh saya. Kok rasanya ya indah.
Serba alami dan penuh kehangatan. Saya yakin bukan karena saya anak perempuan yang mereka nanti-nantikan lebih dari 5 tahun setelah kelahiran kedua kakak saya. Tapi ya memang itu adalah sayang mereka pada semua anak-anaknya.
Hehe.. walau pernah ada satu kejadian yang saya gak akan pernah lupa, mamah marahin kedua kakak saya karena pas mamah keluar rumah sebentar, dan balik lagi, saya dalam keadaan menangis.
Padahal saya nangis bukan karena digangguin kakak-kakakku itu.. tapi karena ketiduran dan mimpi botol dot saya diambil sama raksasa.
Saat itu saya gak bisa bilang apa-apa sama mamah.
Tentu saja kedua kakakku kesal abis-abisan, karena mereka kena damprat. Hihi. I'm sorry brothers..
Gak akan lepas dari ingatan saya saat mamah membuatkan saya boneka kain setinggi 30 senti, yang wujudnya cukup 'mengerikan'. Rambut awut-awutan pakai benang wol hitam.
Mata hidung dan mulut disulam, baju dibuatkan seadanya.
Walhasil..diberilah dia nama 'si memble'. Rasanya nama itu sangat representatif mengingat keadaannya yang begitu mengenaskan.
Tapi saya suka sama si memble. Dia sering saya perankan sebagai orang yang baik dan setia.
Temen-temennya adalah 'si abu' dan 'si cenil'. Si Abu dibelikan paman, si cenil dibeli dari gramedia.
Dipikir-pikir saya hampir gak pernah beli mainan, kecuali boneka kertas. Ada yang seratus rupiah per lembar, ada juga yang lima puluh rupiah, tergantung besarnya.
Anak perempuan mana pada jaman itu yang gak suka boneka kertas?.
Cantik-cantik dan bisa berganti-ganti baju. Ada gaun malam, ada baju tidur, ada baju pesta, ada juga baju rumah.
Bukannya gak mau, tapi gak kepikiran aja buat beli mainan yang bagus-bagus. Saya selalu berpikir bahwa orang tua saya gak punya banyak uang untuk membeli mainan itu. Jadi saya gak pernah minta. Padahal kalau saya mau, biasanya orang tua saya gak pernah menolak.
Saya sudah cukup puas dengan 'si memble'. Atau seringkali saya dibuatkan boneka kain kecil-kecil yang mamah buat dengan rangka lidi seperti akan membuat layangan, tapi ukurannya kecil, hanya 5 cm tingginya, dan 3 cm untuk rangka lengan. Dibungkus dengan kain putih dengan terlebih dahulu menjejalkan kapas dan mengikat lehernya dengan benang agar terbentuk kepala. Dibuatkan sampe belasan buah, sehingga saya bisa memerankannya sebagai sebuah keluarga atau sebuah gank pertemanan.
Bajunya hanya kain bekas yang dipotong persegi panjang sekitar 3x4cm dan diberi lubang untuk bagian kepala.
Maklum dulu mamah rajin menerima jahitan untuk nambah-nambah penghasilan. Jadi kain bekasnya banyak, rupa-rupa motif dan warnanya.
Saya main gak pernah sendirian. Ditemani... mm.. Teh Dini, Yulia, Teh Nia, Oci, Mbak Wiwit, dan Mbak Titi. Mereka anak-anak tetangga yang usianya lebih tua dari saya, sehingga saya selalu dipanggil mereka "De' Ir". Sampai sekarang.
Selain main boneka, macem-macem permainan kami ini.
Kasti, voli, ucing dua lima, boy-boyan, galah jidar, hulahup, main karet (lompat karet yang dijalin itu lho), ular naga, dan ada juga permainan fisik lain yang saya lupa namanya. Itu.. main rebutan anak (kelanjutan dari main ular naga), dimana ibunya melingkarkan tangan tiang listrik sambil jongkok, anaknya melingkarkan tangan ke pinggang ibunya, anak kedua melingkarkan tangan ke anak pertama.. begitu sampe anak terakhir ditarik sama yang jadi penjahat. Lepas berarti anaknya terebut.
Kalo udah menghabiskan semua permainan itu rasanya capeeee banget. Capenya ya cape seluruh tubuh, juga cape ketawa. Saking serunya seringkali kami ketawa sampe sakit perut.
Permainan ketangkasan tentu saja dimodali sebuah bola bekel beserta kewuk-kewuknya, plus congklak. Jari-jemari ini pun terlatih untuk melempar menangkap dan 'ngarawu'. Paling sebel kalo bola yang pandai memantul ini melompat-lompat dan menggelinding entah ke mana.
Ada juga permainan kecerdasan, seperti gagarudaan, main kartu, kwartet, halma, ular tangga, monopoli, atau tebak tebakan lagu dengan memukul-mukul tiang listrik. Sering juga jalan-jalan ke sawah dan makan siang di saung tengah sawah (sawah itu sekarang sebagian besar udah jadi perumahan). Nangkep impun di selokan,sekaligus nangkep tutut di lumpur tak lupa pula saya lakoni.
Beternak ayam!!! Itupun sangat mengesankan. Ayam itu saya beri nama.. Yayam, Yoyom, dan si Jago. Ketiga ayam itu saya embat dari rumah nenek di Pangalengan. Nenekku punya ratusan ayam di sana dan tentu saja tak keberatan saya minta tiga ekor.
Sangat sedih menemukan kenyataan bahwa Yayam dan Yoyom hanya bisa bertelur, tapi telurnya tak kunjung menetas.
Betapa ingin saya memiliki anak ayam.
Yeah.. akhirnya anak ayam itu saya embat juga dari pangalengan. Dua anak ayam mungil yang lucu-lucu. Lupa saya.. namanya siapa.
Tahukah kalian tabiat anak ayam?
Bila dia kehilangan induknya.. maka siapapun yang memeliharanya akan dia anggap sebagai induk.
So... bolehlah kalian ngakak membayangkan saya ke mana-mana di rumah, diikuti kedua anak ayam itu.
Saya senang bukan kepalang. Ada makhluk yang tampak begitu bergantung pada saya.
Tetapi hari naas itu pun akhirnya tiba. Saat itu rasanya langit runtuh, dunia kiamat, dan saya begitu bersedih.
Ketika saya bangun pagi, mamah kasih tau saya bahwa kedua anak ayam itu mati dimakan tikus semalam.
Saya nangis meraung-raung, lama, dan menyayat hati.
Seingat saya dulu itu saya sudah SD. Mungkin kelas 3. Karena saya ingat kakakku sudah SMA.
Kakakku tampak begitu terenyuh melihat adik manisnya ini menangis.
Surprise!! Pulang sekolah dia membelikan saya 4 ekor anak ayam. Ayam kate' yang lucu-lucu.
Huhuhu.. I love you, brother! Seumur hidup saya akan mengenang pemberianmu itu.
Ah.. syukurlah.. dengan fesbuk saya ketemu tiap hari dengan kakakku itu. Masih gak berubah .. masih jadi tukang ngeledekin saya. Istilah sundanya: ngeleg.
Kembali ke ayam..semua ayam yang pernah saya miliki itu akhirnya saya kembalikan lagi ke kampung halaman. Pangalengan. Termasuk kate-kate itu. Biarlah mereka menghirup udara segar di sana, sementara saya mulai sibuk sekolah.
Kenapa gak disembelih n dimakan aja??
Duh.. gak tega atuh euy. Menyembelihnya sama saja bagi saya seperti menyembelih teman sendiri.
***
Bapak.
Bapak buat saya adalah seorang teman bicara yang baik. Mengobrol dengannya selalu menyenangkan. Sampai SD saya masih suka diajak jalan-jalan sama bapak. Berjalan-jalan sore beberapa ratus meter dari rumah, dan balik lagi.
Ya cuma buat ngobrol, membicarakan segala sesuatu yang kami temui di jalan. Tanaman, kupu-kupu, kodok, .. atau kadang tanpa bicara sama sekali. Heran saya.. kenapa semua itu membuat saya senang. Tanpa dibelikan apapun, tanpa ditawari mainan apapun, tapi saya bahagia.
Bapak adalah pendongeng ulung. Imajinasinya yang luar biasa bisa membawa saya terhanyut pada sebuah dunia lain sebelum tidur.
Serial "ANI", begitu saja terlontar dari mulut beliau tanpa lama-lama berpikir panjang. Ani adalah tokoh khayalan, seorang anak perempuan yang sebesar saya saat itu sudah menjadi seorang polwan. Teman-teman Ani adalah beberapa ekor binatang yang bisa diajak bicara dan berkomplot dengan Ani untuk melawan kejahatan.
Oh God.. betapa seru cerita itu, seringkali sampai mata saya tidak berkedip karena begitu menegangkan!
Ah, imajinasi saya tidak sekuat bapak. Kalau mendongeng untuk Arif dan Sofi, saya hanya mengandalkan buku cerita anak-anak yang saya bacakan. Berulang-ulang pula.
Sementara serial "ANI" karya bapakku itu seakan tak pernah tamat. Berubah cerita setiap harinya.
Sampai sekarang pun kalau bapak sudah cerita, cucu-cucunya sering dibuatnya terpana.
Tapi mungkin anak-anak sekarang sudah 'terkontaminasi' dengan cerita-cerita di TV, jadi ya menganggapnya biasa-biasa saja. Gak sampai ketagihan kayak saya dulu (atou emang gw aja yang bloon ya?)
***
Yang jelas semua begitu berbeda keadaannya dengan jaman sekarang. Sulit cari teman bermain di luar untuk Arif dan Sofi. Mungkin dah gak jamannya lagi main kejar-kejaran atau petak umpet. Fisik mereka hampir tidak terlatih. Ketangkasan mereka hanya main CD interaktif di komputer.
Hmm..anak-anak sekarang pun hampir semuanya udah pegang hp ya? Padahal dulu, yang namanya gamewatch saja tampak begitu lux di mata saya.
Pun entah apa kesan anak-anakku pada saya sebagai ibunya.
Mungkin mereka hanya ingat Ummi nu kabisana asik di depan laptop.. fesbukan :P
Hihi.. ayolah Ier.. jadilah ummahat yang kreatif !!!
Mohon bantuannya ya Om, Tante.. Kalo ada masukan, tolonglah dishare ke saya.
Kadangkala memang saya cuma butuh motivasi aja.
***
Sejak baca notenya Lita di fb tentang 'generasi instant', saya tiba-tiba jadi rindu.
Rindu masa lalu waktu saya masih kecil yang bahagiaaaaa rasanya.
Saking rindunya, tadi malem saya sampe netes-netesin air mata (hihi.. segitunya ya).
Kalo ngenang gimana cara mamah bapak ngasuh saya. Kok rasanya ya indah.
Serba alami dan penuh kehangatan. Saya yakin bukan karena saya anak perempuan yang mereka nanti-nantikan lebih dari 5 tahun setelah kelahiran kedua kakak saya. Tapi ya memang itu adalah sayang mereka pada semua anak-anaknya.
Hehe.. walau pernah ada satu kejadian yang saya gak akan pernah lupa, mamah marahin kedua kakak saya karena pas mamah keluar rumah sebentar, dan balik lagi, saya dalam keadaan menangis.
Padahal saya nangis bukan karena digangguin kakak-kakakku itu.. tapi karena ketiduran dan mimpi botol dot saya diambil sama raksasa.
Saat itu saya gak bisa bilang apa-apa sama mamah.
Tentu saja kedua kakakku kesal abis-abisan, karena mereka kena damprat. Hihi. I'm sorry brothers..
Gak akan lepas dari ingatan saya saat mamah membuatkan saya boneka kain setinggi 30 senti, yang wujudnya cukup 'mengerikan'. Rambut awut-awutan pakai benang wol hitam.
Mata hidung dan mulut disulam, baju dibuatkan seadanya.
Walhasil..diberilah dia nama 'si memble'. Rasanya nama itu sangat representatif mengingat keadaannya yang begitu mengenaskan.
Tapi saya suka sama si memble. Dia sering saya perankan sebagai orang yang baik dan setia.
Temen-temennya adalah 'si abu' dan 'si cenil'. Si Abu dibelikan paman, si cenil dibeli dari gramedia.
Dipikir-pikir saya hampir gak pernah beli mainan, kecuali boneka kertas. Ada yang seratus rupiah per lembar, ada juga yang lima puluh rupiah, tergantung besarnya.
Anak perempuan mana pada jaman itu yang gak suka boneka kertas?.
Cantik-cantik dan bisa berganti-ganti baju. Ada gaun malam, ada baju tidur, ada baju pesta, ada juga baju rumah.
Bukannya gak mau, tapi gak kepikiran aja buat beli mainan yang bagus-bagus. Saya selalu berpikir bahwa orang tua saya gak punya banyak uang untuk membeli mainan itu. Jadi saya gak pernah minta. Padahal kalau saya mau, biasanya orang tua saya gak pernah menolak.
Saya sudah cukup puas dengan 'si memble'. Atau seringkali saya dibuatkan boneka kain kecil-kecil yang mamah buat dengan rangka lidi seperti akan membuat layangan, tapi ukurannya kecil, hanya 5 cm tingginya, dan 3 cm untuk rangka lengan. Dibungkus dengan kain putih dengan terlebih dahulu menjejalkan kapas dan mengikat lehernya dengan benang agar terbentuk kepala. Dibuatkan sampe belasan buah, sehingga saya bisa memerankannya sebagai sebuah keluarga atau sebuah gank pertemanan.
Bajunya hanya kain bekas yang dipotong persegi panjang sekitar 3x4cm dan diberi lubang untuk bagian kepala.
Maklum dulu mamah rajin menerima jahitan untuk nambah-nambah penghasilan. Jadi kain bekasnya banyak, rupa-rupa motif dan warnanya.
Saya main gak pernah sendirian. Ditemani... mm.. Teh Dini, Yulia, Teh Nia, Oci, Mbak Wiwit, dan Mbak Titi. Mereka anak-anak tetangga yang usianya lebih tua dari saya, sehingga saya selalu dipanggil mereka "De' Ir". Sampai sekarang.
Selain main boneka, macem-macem permainan kami ini.
Kasti, voli, ucing dua lima, boy-boyan, galah jidar, hulahup, main karet (lompat karet yang dijalin itu lho), ular naga, dan ada juga permainan fisik lain yang saya lupa namanya. Itu.. main rebutan anak (kelanjutan dari main ular naga), dimana ibunya melingkarkan tangan tiang listrik sambil jongkok, anaknya melingkarkan tangan ke pinggang ibunya, anak kedua melingkarkan tangan ke anak pertama.. begitu sampe anak terakhir ditarik sama yang jadi penjahat. Lepas berarti anaknya terebut.
Kalo udah menghabiskan semua permainan itu rasanya capeeee banget. Capenya ya cape seluruh tubuh, juga cape ketawa. Saking serunya seringkali kami ketawa sampe sakit perut.
Permainan ketangkasan tentu saja dimodali sebuah bola bekel beserta kewuk-kewuknya, plus congklak. Jari-jemari ini pun terlatih untuk melempar menangkap dan 'ngarawu'. Paling sebel kalo bola yang pandai memantul ini melompat-lompat dan menggelinding entah ke mana.
Ada juga permainan kecerdasan, seperti gagarudaan, main kartu, kwartet, halma, ular tangga, monopoli, atau tebak tebakan lagu dengan memukul-mukul tiang listrik. Sering juga jalan-jalan ke sawah dan makan siang di saung tengah sawah (sawah itu sekarang sebagian besar udah jadi perumahan). Nangkep impun di selokan,sekaligus nangkep tutut di lumpur tak lupa pula saya lakoni.
Beternak ayam!!! Itupun sangat mengesankan. Ayam itu saya beri nama.. Yayam, Yoyom, dan si Jago. Ketiga ayam itu saya embat dari rumah nenek di Pangalengan. Nenekku punya ratusan ayam di sana dan tentu saja tak keberatan saya minta tiga ekor.
Sangat sedih menemukan kenyataan bahwa Yayam dan Yoyom hanya bisa bertelur, tapi telurnya tak kunjung menetas.
Betapa ingin saya memiliki anak ayam.
Yeah.. akhirnya anak ayam itu saya embat juga dari pangalengan. Dua anak ayam mungil yang lucu-lucu. Lupa saya.. namanya siapa.
Tahukah kalian tabiat anak ayam?
Bila dia kehilangan induknya.. maka siapapun yang memeliharanya akan dia anggap sebagai induk.
So... bolehlah kalian ngakak membayangkan saya ke mana-mana di rumah, diikuti kedua anak ayam itu.
Saya senang bukan kepalang. Ada makhluk yang tampak begitu bergantung pada saya.
Tetapi hari naas itu pun akhirnya tiba. Saat itu rasanya langit runtuh, dunia kiamat, dan saya begitu bersedih.
Ketika saya bangun pagi, mamah kasih tau saya bahwa kedua anak ayam itu mati dimakan tikus semalam.
Saya nangis meraung-raung, lama, dan menyayat hati.
Seingat saya dulu itu saya sudah SD. Mungkin kelas 3. Karena saya ingat kakakku sudah SMA.
Kakakku tampak begitu terenyuh melihat adik manisnya ini menangis.
Surprise!! Pulang sekolah dia membelikan saya 4 ekor anak ayam. Ayam kate' yang lucu-lucu.
Huhuhu.. I love you, brother! Seumur hidup saya akan mengenang pemberianmu itu.
Ah.. syukurlah.. dengan fesbuk saya ketemu tiap hari dengan kakakku itu. Masih gak berubah .. masih jadi tukang ngeledekin saya. Istilah sundanya: ngeleg.
Kembali ke ayam..semua ayam yang pernah saya miliki itu akhirnya saya kembalikan lagi ke kampung halaman. Pangalengan. Termasuk kate-kate itu. Biarlah mereka menghirup udara segar di sana, sementara saya mulai sibuk sekolah.
Kenapa gak disembelih n dimakan aja??
Duh.. gak tega atuh euy. Menyembelihnya sama saja bagi saya seperti menyembelih teman sendiri.
***
Bapak.
Bapak buat saya adalah seorang teman bicara yang baik. Mengobrol dengannya selalu menyenangkan. Sampai SD saya masih suka diajak jalan-jalan sama bapak. Berjalan-jalan sore beberapa ratus meter dari rumah, dan balik lagi.
Ya cuma buat ngobrol, membicarakan segala sesuatu yang kami temui di jalan. Tanaman, kupu-kupu, kodok, .. atau kadang tanpa bicara sama sekali. Heran saya.. kenapa semua itu membuat saya senang. Tanpa dibelikan apapun, tanpa ditawari mainan apapun, tapi saya bahagia.
Bapak adalah pendongeng ulung. Imajinasinya yang luar biasa bisa membawa saya terhanyut pada sebuah dunia lain sebelum tidur.
Serial "ANI", begitu saja terlontar dari mulut beliau tanpa lama-lama berpikir panjang. Ani adalah tokoh khayalan, seorang anak perempuan yang sebesar saya saat itu sudah menjadi seorang polwan. Teman-teman Ani adalah beberapa ekor binatang yang bisa diajak bicara dan berkomplot dengan Ani untuk melawan kejahatan.
Oh God.. betapa seru cerita itu, seringkali sampai mata saya tidak berkedip karena begitu menegangkan!
Ah, imajinasi saya tidak sekuat bapak. Kalau mendongeng untuk Arif dan Sofi, saya hanya mengandalkan buku cerita anak-anak yang saya bacakan. Berulang-ulang pula.
Sementara serial "ANI" karya bapakku itu seakan tak pernah tamat. Berubah cerita setiap harinya.
Sampai sekarang pun kalau bapak sudah cerita, cucu-cucunya sering dibuatnya terpana.
Tapi mungkin anak-anak sekarang sudah 'terkontaminasi' dengan cerita-cerita di TV, jadi ya menganggapnya biasa-biasa saja. Gak sampai ketagihan kayak saya dulu (atou emang gw aja yang bloon ya?)
***
Yang jelas semua begitu berbeda keadaannya dengan jaman sekarang. Sulit cari teman bermain di luar untuk Arif dan Sofi. Mungkin dah gak jamannya lagi main kejar-kejaran atau petak umpet. Fisik mereka hampir tidak terlatih. Ketangkasan mereka hanya main CD interaktif di komputer.
Hmm..anak-anak sekarang pun hampir semuanya udah pegang hp ya? Padahal dulu, yang namanya gamewatch saja tampak begitu lux di mata saya.
Pun entah apa kesan anak-anakku pada saya sebagai ibunya.
Mungkin mereka hanya ingat Ummi nu kabisana asik di depan laptop.. fesbukan :P
Hihi.. ayolah Ier.. jadilah ummahat yang kreatif !!!
Mohon bantuannya ya Om, Tante.. Kalo ada masukan, tolonglah dishare ke saya.
Kadangkala memang saya cuma butuh motivasi aja.
***
Langganan:
Postingan (Atom)
