***
Si Mbah. Nama itu muncul tepat setelah Arif lahir, untuk membuat Arif kecil memangil perempuan separuh baya itu dengan sebutan "Mbah", sementara kami tetap memanggilnya "Bibi". Dia adalah pembantu rumah tangga di rumah mertua saya. Bahasa kerennya kalau sekarang adalah ART. Asisten Rumah Tangga. Mau disebut ART mau disebut pembantu, tetap saja kerjaannya adalah sebagai orang suruhan di rumah. Dari mulai nyapu, ngepel, nyuci, nyetrika, pergi ke warung, dan bisa jadi sampai masak. Tidak berubah.
"Di belakang wanita karier yang sukses, terdapat pembantu rumah tangga yang hebat"
Itu quote yang saya buat, terinspirasi dari sebuah quote: di belakang lelaki yang sukses, terdapat istri yang hebat. Ataupun di belakang istri yang sukses, terdapat lelaki yang menderita, dst.
Ya intinya mah siapapun yang sukses, pasti ada pihak lain yang berkorban. Entah itu pasangan, anak, orang tua, dan bisa jadi pembantu.
Yang jelas keluarga suami saya, termasuk keluarga yang sukses dalam karier. Dari bapak dan ibu yang keduanya jadi dosen, suami yang.. lumayanlah kerjaannya, dan adik ipar yang meraih gelar doktor biokimia dalam usia tidak lebih dari 30 tahun, kemudian jadi dosen pula. Juga saya yang bisa bergelar apoteker dalam keadaaan punya anak bernama Arif yang berusia 1,5 tahun. Hihi. Keren gak yaaa...
Dan semua saya yakin tidak lepas dari jasa Si Mbah ini. Seorang janda ditinggal wafat oleh suami, beranak empat yang sekarang anak anaknya itu sudah menikah semua, dan jadi orang baik baik semuanya.
Si Mbah, atau Si Bibi, yang entah saya tidak tau nama aslinya itu pertama kali saya temui sekitar 5-6 bulan sebelum saya menikah, tahun 2000. Waktu itu pertama kali saya berkunjung ke rumah (calon) suami. Berkenalan dengan (calon) mertua, dan ternyata sekaligus berkenalan dengan (calon) pembantu. Hehe.
Waktu itu katanya dia sudah bekerja di rumah mertua saya selama 10 tahun. Wow.
Rumahnya di Cihaur. Tidak jauh dari kanayakan tempat mertua saya tinggal. Jadi Si Bibi datang jam 8 pagi, pulang lewat magrib. Begitu tiap hari, tanpa hari libur. Baru sekarang-sekarang saja Bibi dapat jatah libur setiap hari Senin.
Dan kemudian saya menikah, dan kemudian saya hamil, waktu itu saya masih tinggal di rumah mertua, dan di rumah cuma ada Si Bibi ini, karena ibu bapak mertua masih aktif mengajar, dan adik ipar sedang sekolah di Belanda.
Saya ingat benar waktu saya masih menyelesaikan tugas akhir S1. Waktu itu saya sedang hamil muda, pulang dari bimbingan TA, sampai rumah muntah-muntah.
Bibi lah yang memijat dan mengusap usap punggung saya, dan waktu itu saya sampai minta dikerokin.
Bibi bener-bener melayani saya sepenuh hati selama di rumah mertua, dan selama saya jadi menantu baru, dia rasanya jadi teman sejati saya. Ngajarin ini itu :)
Sampai akhirnya Arif lahir, kemudian saya lanjut kuliah apoteker, masih Bibi juga yang mencucikan baju-baju Arif bayi. Yang kena ompol lah, pupup lah, olab lah, .. Lagian sampe sekarang mertua saya lebih percaya tangan bibi ketimbang mesin cuci. Fyuuhh.
Arif kecil jarang dipegang Si Mbah ini. Jadi kalo saya kuliah, Arif dipegang mertua saya, atau saya titip ke rumah orang tua. Tapi pernah juga saya terpaksa nitip Arif ke si Mbah. Dan it's ok.Semua baik baik saja.
Setelah kuliah selesai barulah saya pindah ke rumah sendiri, kemudian hamil Sofi.
Barulah terasa sulitnya menemukan pembantu rumah tangga sebaik Si Mbah. Yang setia, yang bekerja sepenuh hati (kandidat cagub pisan), yang gak banyak omong, yang jarang pinjem duit, yang jujur sangat, yang lebih memikirkan majikan ketimbang dirinya sendiri.
Sampai sekarang pun Si Mbah masih kerja. Pindah pindah antara rumah mertua dan rumah adik ipar. Kalo saya dekat sana barangkali akan saya pinjam juga itu Si Mbah. Butuh euy kadang-kadang :(
Ibu mertua saya saat ini masih belum juga menemukan gantinya. Adik ipar juga sudah berusaha cari ke sana kemari tapi belum juga ada yang mau. Jangankan cari yang sebaik Si Mbah. Yang mau saja, hampir tidak ada. Pernah ada yang mau, cuma betah seminggu, abis gitu banyak alasan yang membuatnya berhenti kerja.
Sofi, Thaariq, hingga cucu yang paling kecil Shiddiq, semua kenal dekat dengan Si Mbah. Si Mbah yang kini usianya barangkali sudah kepala 6, dan bekerja di rumah mertua saya berarti sudah lebih dari 20 tahun. Rambutnya sudah putih semua. Sejak dulu kurang dengar,tidak bisa membaca, tapi setia luar biasa.
Sampai-sampai saya sering berpikir, barangkali di rumah mertua saya, Si Mbah lah yang paling dulu masuk surga, karena hisabnya paling cepat.
Orang-orang sibuk dihisab hartanya, ilmunya, pendengarannya, penglihatannya, dan apa yang telah dia perbuat. Sementara Si Mbah kurang dengar, yang dilihat cuma kerjaan, setia menjanda, diajari baca gak bisa bisa, hartanya tidak seberapa, tapi bekerja dengan jujur dan amanah. Saya pikir ya kok celah dosanya dikit banget. Wallahu a'lam.
Dengan tulisan ini, saya ingin menyebut kebaikan-kebaikan Si Mbah yang hingga kini masih saya rasakan tiap kali saya ke rumah mertua. Semoga benar apa yang saya pikirkan. Si Mbah masuk surga duluan ketimbang saya. Rela kok.. bener. Kan mau duluan mau belakangan, yang penting masuk surga. Saya mau jadi pembantunya Mbah deh di surga nanti. Bae rek dititah ngepel oge, mun di surga mah pan ngepelna tinggal kiceup sugan? Haha.
Nuhun ya Mbah, hanya Allah yang bisa membalas :)
***
Senin, 14 Januari 2013
Rabu, 09 Januari 2013
anti-aging
***
Saya tidak akan membahas isi dari produk anti-aging. Hanya ingin berkomentar bahwa akhir-akhir betapa banyak produk yang meyebut dirinya dapat mengatasi tanda-tanda penuaan.
Produk-produk dari mulai cream malam dan siang, vitamin E dalam berbagai takaran dosis, hingga herbal dalam bentuk jamu, pil, maupun kapsul.
Dari yang produk MLM, produk bermerek tapi tak dikenal, hingga merek yang terkenal karena bintang iklannya yang cantik seperti Dian Sastro atau Inneke Koesherawati.
Di apotek, ya produk itu laku. Cukup mendongkrak omzet karena harganya yang mahal (menurut dompet saya, setelah si dompet saya tanya berulang kali).
Gak nyangka bahwa seorang saya, ternyata tertarik juga melihat produk anti-aging tersebut. Mulai deh lihat-lihat brosurnya, ngebolak balik kemasannya, sampai ngecek harganya di komputer, sampai lirik lirik wajah si mbak mbak yang jadi pelanggannya kemudian mbanding bandingin dengan wajah sendiri. Kenapa ya?
Barangkali memang saya mulai khawatir melihat mulai ada kerut di sisi mata dan juga kantung di bawahnya, serta pori-pori di wajah yang tampak jelas.
Dulu, dengan seulas bedak murah, semua itu tertutupi. Sekarang, mesti pake two way cake dengan olesan sedikit air, barulah 'aib' wajah saya tersamarkan.
Beberapa bulan lalu masih banyak yang manggil saya teteh. Makin kemari hampir semua bilang ibu. Yang panggil teteh ya yang sama-sama menua juga. Hahaha. Pisss ah.
Dan saya memang cukup terkesan dengan bukti dari orang-orang yang menggunakan produk-produk anti aging tersebut. Usia jelang 50, wajahnya tampak halus bersih. Katanya suka pake cream A campur cream B untuk malam, dan sunblock untuk siang.
Wahhh... boleh juga dicoba yak. Tapi ya total-total ternyata minimal saya harus mengeluarkan uang lebih dari 100ribu per bulannya untuk itu. Worth it gak yaaaa...
Terus ada juga testimoni dari pasien di apotek yang sudah bertahun tahun minum produk tertentu. Katanya makin hari makin terasa sehatnya, dan wajahnya pun tampak awet muda.
Woooww....
Tapi ya itu itu... produk yang dia minum cukup membuat kami yang jaga apotek, tersenyum senang. Produk mahal terjual, adalah sebuah kesenangan tersendiri bagi kami.
Trus, ada lagi. Ditawari produk MLM yang menawarkan berbagai solusi masalah wanita menuju tua macam saya. Harganya 30ribu/sachet, dan harus diminum tiap hari.
Lama-lama sakit hati sendiri. Ya kok ngerasa bermasalah untuk urusan beginian. He he.
Ya saya yakin sih, produk begitu ndak nipu kok. Apalagi kalau memang bukan produk abal abal. Cuma kalo buat saya yang belum punya uang berkecukupan untuk membelinya, mesti pandai pandai menahan diri, >>> dan menghibur diri.
Memperkuat sebuah sisi keyakinan bahwa awet mudanya kita, dan kesehatan fisik kita sebetulnya dipengaruhi secara signifikan oleh suasana hati. Hati yang selalu senang dan bersyukur biasanya menghadirkan senyum. Sementara hati yang selalu galau, dengki, dan berprasangka buruk terhadap orang lain biasanya menghadirkan kerut yang tak menyenangkan di area wajah. Belom lagi maag kronis dan jantung yang berdebar tak sehat. He he.
Bisa jadi saat kita membersihkan hati dan berbuat kebaikan karena Allah, di sanalah datangnya berkah.
Berkah tidak selalu datang dalam bentuk harta. Tapi bisa juga kesehatan, kebahagiaan yang datang dari hal-hal sederhana, hadirnya senyum dan tawa, sehingga hilanglah jerawat dan noda hitam dari wajah .. (Eh. Bisa kan ya?) Yakali.. Kan ini ceritanya sedang menghibur diri. Wew ah.
Ya aneh aja gitu kalo punya wajah kinclong kulit kencang tapi penampakannya susah mulu. Mana enak liatnya juga.
Jadi para ibu dan teteh-teteh, yuk kita rawat dengan baik fisik dan hati kita sebagai tanda syukur kita pada-Nya. Makan yang baik, atur keuangan dengan baik, berbuat yang baik, shodaqoh yang banyak, -- shodaqoh harus lebih besar daripada duit untuk beli produk anti aging lho ya.. hehe --- Mari senangkan hati dengan segala yang halal. Hidup jangan dibikin rumit dengan ulah sendiri, karena Allah telah memberi kemudahan dengan segala petunjukNya.
Jadi,... boleh deh kalo mau beli produk anti-aging, di apotek tempat saya kerja sini yak, biar saya bisa senyum-senyum lihat omzet. Makin banyak senyum, kan ntar bikin saya makin awet mudaaa. Amiin :D
***
Saya tidak akan membahas isi dari produk anti-aging. Hanya ingin berkomentar bahwa akhir-akhir betapa banyak produk yang meyebut dirinya dapat mengatasi tanda-tanda penuaan.
Produk-produk dari mulai cream malam dan siang, vitamin E dalam berbagai takaran dosis, hingga herbal dalam bentuk jamu, pil, maupun kapsul.
Dari yang produk MLM, produk bermerek tapi tak dikenal, hingga merek yang terkenal karena bintang iklannya yang cantik seperti Dian Sastro atau Inneke Koesherawati.
Di apotek, ya produk itu laku. Cukup mendongkrak omzet karena harganya yang mahal (menurut dompet saya, setelah si dompet saya tanya berulang kali).
Gak nyangka bahwa seorang saya, ternyata tertarik juga melihat produk anti-aging tersebut. Mulai deh lihat-lihat brosurnya, ngebolak balik kemasannya, sampai ngecek harganya di komputer, sampai lirik lirik wajah si mbak mbak yang jadi pelanggannya kemudian mbanding bandingin dengan wajah sendiri. Kenapa ya?
Barangkali memang saya mulai khawatir melihat mulai ada kerut di sisi mata dan juga kantung di bawahnya, serta pori-pori di wajah yang tampak jelas.
Dulu, dengan seulas bedak murah, semua itu tertutupi. Sekarang, mesti pake two way cake dengan olesan sedikit air, barulah 'aib' wajah saya tersamarkan.
Beberapa bulan lalu masih banyak yang manggil saya teteh. Makin kemari hampir semua bilang ibu. Yang panggil teteh ya yang sama-sama menua juga. Hahaha. Pisss ah.
Dan saya memang cukup terkesan dengan bukti dari orang-orang yang menggunakan produk-produk anti aging tersebut. Usia jelang 50, wajahnya tampak halus bersih. Katanya suka pake cream A campur cream B untuk malam, dan sunblock untuk siang.
Wahhh... boleh juga dicoba yak. Tapi ya total-total ternyata minimal saya harus mengeluarkan uang lebih dari 100ribu per bulannya untuk itu. Worth it gak yaaaa...
Terus ada juga testimoni dari pasien di apotek yang sudah bertahun tahun minum produk tertentu. Katanya makin hari makin terasa sehatnya, dan wajahnya pun tampak awet muda.
Woooww....
Tapi ya itu itu... produk yang dia minum cukup membuat kami yang jaga apotek, tersenyum senang. Produk mahal terjual, adalah sebuah kesenangan tersendiri bagi kami.
Trus, ada lagi. Ditawari produk MLM yang menawarkan berbagai solusi masalah wanita menuju tua macam saya. Harganya 30ribu/sachet, dan harus diminum tiap hari.
Lama-lama sakit hati sendiri. Ya kok ngerasa bermasalah untuk urusan beginian. He he.
Ya saya yakin sih, produk begitu ndak nipu kok. Apalagi kalau memang bukan produk abal abal. Cuma kalo buat saya yang belum punya uang berkecukupan untuk membelinya, mesti pandai pandai menahan diri, >>> dan menghibur diri.
Memperkuat sebuah sisi keyakinan bahwa awet mudanya kita, dan kesehatan fisik kita sebetulnya dipengaruhi secara signifikan oleh suasana hati. Hati yang selalu senang dan bersyukur biasanya menghadirkan senyum. Sementara hati yang selalu galau, dengki, dan berprasangka buruk terhadap orang lain biasanya menghadirkan kerut yang tak menyenangkan di area wajah. Belom lagi maag kronis dan jantung yang berdebar tak sehat. He he.
Bisa jadi saat kita membersihkan hati dan berbuat kebaikan karena Allah, di sanalah datangnya berkah.
Berkah tidak selalu datang dalam bentuk harta. Tapi bisa juga kesehatan, kebahagiaan yang datang dari hal-hal sederhana, hadirnya senyum dan tawa, sehingga hilanglah jerawat dan noda hitam dari wajah .. (Eh. Bisa kan ya?) Yakali.. Kan ini ceritanya sedang menghibur diri. Wew ah.
Ya aneh aja gitu kalo punya wajah kinclong kulit kencang tapi penampakannya susah mulu. Mana enak liatnya juga.
Jadi para ibu dan teteh-teteh, yuk kita rawat dengan baik fisik dan hati kita sebagai tanda syukur kita pada-Nya. Makan yang baik, atur keuangan dengan baik, berbuat yang baik, shodaqoh yang banyak, -- shodaqoh harus lebih besar daripada duit untuk beli produk anti aging lho ya.. hehe --- Mari senangkan hati dengan segala yang halal. Hidup jangan dibikin rumit dengan ulah sendiri, karena Allah telah memberi kemudahan dengan segala petunjukNya.
Jadi,... boleh deh kalo mau beli produk anti-aging, di apotek tempat saya kerja sini yak, biar saya bisa senyum-senyum lihat omzet. Makin banyak senyum, kan ntar bikin saya makin awet mudaaa. Amiin :D
***
Selasa, 08 Januari 2013
gue
***
Orang bilang blog itu bukan diary. Jadi mestinya blog itu ilmiah kali ya. Berisi sekumpulan analisis yang kemudian disimpulkan sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah makna. Lebih keren lagi kalo udah campur-campur bahasa Inggris. Atau mungkin dalam bahasa Inggris. Tampak keren sekali itu blog.
Kebayanglah itu seorang penulisnya adalah orang yang cerdas, gaul, pintar, dan berwawasan luas.
Ya tapi da itu bukan saya juga kali. Karena makin hari saya makin mengenal diri. Usia 35 bukan lagi saatnya pencarian jati diri. Mun masih nyari, ka mana wae atuh kamari? Hahaha.
Dan ya alhamduliLlah saya senang dan bersyukur dengan segala apa yang saya punya. Sirik sirik dikit masih ada lah sama orang yang jauh lebih maju. Bisa jadi usia saya masih bisa kok untuk bergerak mengejar ketinggalan, walau tidak secepat masa keemasan waktu muda dulu.
Apa yang jadi cita cita saya sekaligus apa yang jadi penyesalan saya kini lebih saya curahkan pada anak. Saya gak bisa berenang (bisa deng tapi palingan 20 meteran), maka sekarang saya kursuskan anak anak biar bisa berenang. Mumpung ada, mumpung bisa. Saya ajak anak-anak untuk bisa lebih membuka matanya melihat banyak hal yang mereka bisa lakukan dan pelajari. Kalau mau, ayo kita belajar. Begitulah.
Saya senang waktu pembagian rapor kemarin, gurunya Arif dan Sofi bisa melihat sisi lain kemampuan anak-anakku itu.
Sofi pintar menulis, Sofi pandai berbahasa. Dan kalau disuruh bicara di depan, suaranya keras, intonasinya baik, pengucapannya pun jelas. Kata gurunya begitu.
Cita cita dia memang jadi pemberita katanya sejak dulu. Alias jadi presenter acara TV, pembawa berita, reporter ..
Saya lihat tulisan dia memang baik dari tata bahasa dan penulisannya. Enak dibaca dan cukup detail dalam menceritakan sesuatu.
Sementara ini senangya memang baca novel anak. Buku paling tebal yang dia baca adalah Toto-Chan. Tamat. Dan dia biasanya bisa menceritakan kembali kalau ditanya.
Arif, kata gurunya berbakat jadi pengajar.
Iya banget.
Terutama matematika, dia bisa menjelaskan dengan cukup mantap.
Perkalian dengan menggunakan jarimatika, saya tau dari dia. Terus semacam pohon faktor gaya baru gitu, dia bisa menjelaskan juga ke saya.
Gilirannya disuruh baca buku sejarah, dia mudah tertidur. Disuruh belajar, belajarnya bentar, bilangnya gampang. Dan ternyata nilai rapor dia bagus. Dia jadi cowo paling pintar di kelasnya. Rengking 1 Vyona, rengking 2 Putri, dan Arif rengking 3.
Saya 'ngadu' sama gurunya. Arif malas belajar kalau di rumah.
Gurunya bilang, Arif memperhatikan dan mendengarkan guru kalau di kelas. Tampaknya itu cukup buat dia.
Hmm. bisa jadi. Karena kalau dia udah tertarik pada sesuatu, bisa sampe gak denger apa apa lagi selain sesuatu itu. Khusyuk.
Cita citanya tetep jadi pemain bola. Barangkali karena tiap hari denger lensor ANTV yang bilang kalo gaji pemain bola itu bisa milyaran rupiah perbulannya, mana dapet pendamping perempuan-perempuan cantik pula. Heueheu.
Iya kalo ada yang bayar Rif. Pemain bola di Indonesia mah sampai ada yang meninggal baru dibayar :(
Pengennya saya sih, main bola gak jadi profesi. Cukup buat senang-senang aja. Hehe. Semoga suatu saat Arif sepakat sama saya :P
--
Ya begitulah saya yang kemarin hingga saat ini riweuh selalu. Yang menulis ini pun sambil nyuci baju. Belom mandi belom sarapan, dan nanti sore harus telat ke apotek karena arisan ibu-ibu dulu.
Dan Bandung pun gerimis pagi ini.
Selamat hari menulis sedunia.
***
Orang bilang blog itu bukan diary. Jadi mestinya blog itu ilmiah kali ya. Berisi sekumpulan analisis yang kemudian disimpulkan sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah makna. Lebih keren lagi kalo udah campur-campur bahasa Inggris. Atau mungkin dalam bahasa Inggris. Tampak keren sekali itu blog.
Kebayanglah itu seorang penulisnya adalah orang yang cerdas, gaul, pintar, dan berwawasan luas.
Ya tapi da itu bukan saya juga kali. Karena makin hari saya makin mengenal diri. Usia 35 bukan lagi saatnya pencarian jati diri. Mun masih nyari, ka mana wae atuh kamari? Hahaha.
Dan ya alhamduliLlah saya senang dan bersyukur dengan segala apa yang saya punya. Sirik sirik dikit masih ada lah sama orang yang jauh lebih maju. Bisa jadi usia saya masih bisa kok untuk bergerak mengejar ketinggalan, walau tidak secepat masa keemasan waktu muda dulu.
Apa yang jadi cita cita saya sekaligus apa yang jadi penyesalan saya kini lebih saya curahkan pada anak. Saya gak bisa berenang (bisa deng tapi palingan 20 meteran), maka sekarang saya kursuskan anak anak biar bisa berenang. Mumpung ada, mumpung bisa. Saya ajak anak-anak untuk bisa lebih membuka matanya melihat banyak hal yang mereka bisa lakukan dan pelajari. Kalau mau, ayo kita belajar. Begitulah.
Saya senang waktu pembagian rapor kemarin, gurunya Arif dan Sofi bisa melihat sisi lain kemampuan anak-anakku itu.
Sofi pintar menulis, Sofi pandai berbahasa. Dan kalau disuruh bicara di depan, suaranya keras, intonasinya baik, pengucapannya pun jelas. Kata gurunya begitu.
Cita cita dia memang jadi pemberita katanya sejak dulu. Alias jadi presenter acara TV, pembawa berita, reporter ..
Saya lihat tulisan dia memang baik dari tata bahasa dan penulisannya. Enak dibaca dan cukup detail dalam menceritakan sesuatu.
Sementara ini senangya memang baca novel anak. Buku paling tebal yang dia baca adalah Toto-Chan. Tamat. Dan dia biasanya bisa menceritakan kembali kalau ditanya.
Arif, kata gurunya berbakat jadi pengajar.
Iya banget.
Terutama matematika, dia bisa menjelaskan dengan cukup mantap.
Perkalian dengan menggunakan jarimatika, saya tau dari dia. Terus semacam pohon faktor gaya baru gitu, dia bisa menjelaskan juga ke saya.
Gilirannya disuruh baca buku sejarah, dia mudah tertidur. Disuruh belajar, belajarnya bentar, bilangnya gampang. Dan ternyata nilai rapor dia bagus. Dia jadi cowo paling pintar di kelasnya. Rengking 1 Vyona, rengking 2 Putri, dan Arif rengking 3.
Saya 'ngadu' sama gurunya. Arif malas belajar kalau di rumah.
Gurunya bilang, Arif memperhatikan dan mendengarkan guru kalau di kelas. Tampaknya itu cukup buat dia.
Hmm. bisa jadi. Karena kalau dia udah tertarik pada sesuatu, bisa sampe gak denger apa apa lagi selain sesuatu itu. Khusyuk.
Cita citanya tetep jadi pemain bola. Barangkali karena tiap hari denger lensor ANTV yang bilang kalo gaji pemain bola itu bisa milyaran rupiah perbulannya, mana dapet pendamping perempuan-perempuan cantik pula. Heueheu.
Iya kalo ada yang bayar Rif. Pemain bola di Indonesia mah sampai ada yang meninggal baru dibayar :(
Pengennya saya sih, main bola gak jadi profesi. Cukup buat senang-senang aja. Hehe. Semoga suatu saat Arif sepakat sama saya :P
--
Ya begitulah saya yang kemarin hingga saat ini riweuh selalu. Yang menulis ini pun sambil nyuci baju. Belom mandi belom sarapan, dan nanti sore harus telat ke apotek karena arisan ibu-ibu dulu.
Dan Bandung pun gerimis pagi ini.
Selamat hari menulis sedunia.
***
Senin, 27 Agustus 2012
tanpa judul aja
***
Saat ini memaksakan diri untuk menulis.
Pasti kaku lagi nih, gimana cara saya menuangkan isi pikiran ke dalam tulisan. Heu.
Ramadhan udahan weh, padahal biasanya mengalir tulisan-tulisan saya baik yang dipublish ataupun tidak di bulan ramadhan.
Ramadhan kali ini beda (dikit). Terutama karena saya mulai bekerja (lagi), rutin, di apotek.
Gak tiap hari tapi cukup menguras pikiran aja.
Gaji ya worthed lah untuk ukuran kerja cuma 3x 6 jam seminggu.. Bahkan gak sampai 24 jam dalam seminggu saya ada di apotek :D
Bedanya lagi, ramadhan kali ini saya udah punya BB (hore alhamduliLlah).
BB membuat saya jarang di depan laptop sehingga refleks menulis jadi kurang.
Refleks? Iya. Karena ide menulis seringkali hadir saat saya duduk di depan laptop.
Jadi, dapet apa ramadhan kemarin?
Emmm.....
Belajar simple, belajar ikhlas. Biarin aja apa kata orang, yang penting kita mikir Allah ridho apa engga. Dan ternyata Allah memang membantu.
Belajar shodaqoh dengan teratur.
Belajar ngutamain bayar utang.
Intinya belajar memanage keuangan dengan dasar tawakal. Dan ternyata Allah memang menolong.
Apa gue kegeeran aja ya, itu adalah bantuan dan pertolongan Allah?
Ya kan kita harus berprasangka baik aja gitu pada Nya :)
Setelah ramadhan mudah mudahan tinggal ngelancarin aja.
Ngelancarin shaumnya, ngelancarin shodaqohnya, ngelancarin bayar utangnya (dan gak ngutang lagi insyaa Allah), ngebiasain berpikir simplenya, dan tidak bergantung pada makhluk.
Sekian saja dulu ah, dan terimakasih. Teu rame ning.
***
Saat ini memaksakan diri untuk menulis.
Pasti kaku lagi nih, gimana cara saya menuangkan isi pikiran ke dalam tulisan. Heu.
Ramadhan udahan weh, padahal biasanya mengalir tulisan-tulisan saya baik yang dipublish ataupun tidak di bulan ramadhan.
Ramadhan kali ini beda (dikit). Terutama karena saya mulai bekerja (lagi), rutin, di apotek.
Gak tiap hari tapi cukup menguras pikiran aja.
Gaji ya worthed lah untuk ukuran kerja cuma 3x 6 jam seminggu.. Bahkan gak sampai 24 jam dalam seminggu saya ada di apotek :D
Bedanya lagi, ramadhan kali ini saya udah punya BB (hore alhamduliLlah).
BB membuat saya jarang di depan laptop sehingga refleks menulis jadi kurang.
Refleks? Iya. Karena ide menulis seringkali hadir saat saya duduk di depan laptop.
Jadi, dapet apa ramadhan kemarin?
Emmm.....
Belajar simple, belajar ikhlas. Biarin aja apa kata orang, yang penting kita mikir Allah ridho apa engga. Dan ternyata Allah memang membantu.
Belajar shodaqoh dengan teratur.
Belajar ngutamain bayar utang.
Intinya belajar memanage keuangan dengan dasar tawakal. Dan ternyata Allah memang menolong.
Apa gue kegeeran aja ya, itu adalah bantuan dan pertolongan Allah?
Ya kan kita harus berprasangka baik aja gitu pada Nya :)
Setelah ramadhan mudah mudahan tinggal ngelancarin aja.
Ngelancarin shaumnya, ngelancarin shodaqohnya, ngelancarin bayar utangnya (dan gak ngutang lagi insyaa Allah), ngebiasain berpikir simplenya, dan tidak bergantung pada makhluk.
Sekian saja dulu ah, dan terimakasih. Teu rame ning.
***
Minggu, 29 Juli 2012
Do'a Cinta - - 12 tahun pernikahan kami
***
Allah yang mempertemukan
Allah yang menumbuhkan cinta
Allah yang menghadirkan ketenangan
Allah yang mendatangkan rezeki
Allah yang memberi kami ujian
Allah yang memberi kami jalan
Allah yang menghendaki kami masih bersama
Seluruh kalimat gombal di dunia ini terasa kering makna jika tak pernah melibatkanMu di balik untaiannya
Kami tak ingin saling menuhankan, karena Engkaulah satu-satunya Raja bagi kami.
Kami tak mau berlebihan saat saling memuji dan mencintai, karena Engkaulah satu-satunya Yang Maha Terpuji dan Engkaulah satu-satunya yang pantas untuk dipuja.
Izinkan kami tetap bersama karena kebaikan,
atas dasar cinta padaMu
Selalu melibatkan Mu dalam tiap langkah
Menjadi busur yang kokoh bagi anak-anak panahnya
anak panah yang menancap tepat di sasaran
sesuai dengan kehendak Mu.
Izinkan kami tetap bersama jika kebersamaan kami membuat Engkau ridha.
Tetapkanlah hamba menjadi pakaian terbaiknya
Tetapkanlah dia menjadi pakaian terbaik bagi hamba
Agar kami tetap indah dipandang oleh makhlukMu di langit dan di bumi
Agar ditutupi aib aib kami
Agar diampuni segala dosa kami
Izinkan kami tetap bersama hingga kami menghadapMu
saat kami saling mempersaksikan di hadapan Mu atas segala tanggung jawab kami
Semoga pada saat itu kami saling membela, bukan saling menyalahkan
Semoga yang satu menjadi penambah amal kebaikan bagi yang lain
dan semoga Engkau ridho atas segala yang telah kami perbuat.
Hingga karena ridhoMu itu, semoga, kami bisa tetap bersama di surga Mu
Menjadi bidadari yang cantik bagi pangerannya
Menjadi pangeran yang menarik hati bidadarinya
Dikelilingi anak-anak kami yang selama di dunia menjadi penyejuk hati.
Allah, jadikan kami orang-orang yang bisa menjadi jalan kebaikan bagi orang lain, bukan menjadi jalan kesusahan bagi mereka
Allah, kuatkan kami atas tubuh kami, rezeki kami, ilmu kami, anak-anak kami, agar kami bisa menjadi jalan keselamatan bagi makhluk Mu.
Tunjukilah kami yang benar itu adalah benar, dan beri kami jalan untuk mengikutinya
Tunjukilah kami yang salah itu adalah salah, dan beri kami jalan untuk menjauhinya.
Rabbi, Ya Rahmaan Ya Rahiim, berkahilah kami
Allohumma Aamiin.
12 tahun Irma & Wiska
30 Juli 2012
***
Allah yang mempertemukan
Allah yang menumbuhkan cinta
Allah yang menghadirkan ketenangan
Allah yang mendatangkan rezeki
Allah yang memberi kami ujian
Allah yang memberi kami jalan
Allah yang menghendaki kami masih bersama
Seluruh kalimat gombal di dunia ini terasa kering makna jika tak pernah melibatkanMu di balik untaiannya
Kami tak ingin saling menuhankan, karena Engkaulah satu-satunya Raja bagi kami.
Kami tak mau berlebihan saat saling memuji dan mencintai, karena Engkaulah satu-satunya Yang Maha Terpuji dan Engkaulah satu-satunya yang pantas untuk dipuja.
Izinkan kami tetap bersama karena kebaikan,
atas dasar cinta padaMu
Selalu melibatkan Mu dalam tiap langkah
Menjadi busur yang kokoh bagi anak-anak panahnya
anak panah yang menancap tepat di sasaran
sesuai dengan kehendak Mu.
Izinkan kami tetap bersama jika kebersamaan kami membuat Engkau ridha.
Tetapkanlah hamba menjadi pakaian terbaiknya
Tetapkanlah dia menjadi pakaian terbaik bagi hamba
Agar kami tetap indah dipandang oleh makhlukMu di langit dan di bumi
Agar ditutupi aib aib kami
Agar diampuni segala dosa kami
Izinkan kami tetap bersama hingga kami menghadapMu
saat kami saling mempersaksikan di hadapan Mu atas segala tanggung jawab kami
Semoga pada saat itu kami saling membela, bukan saling menyalahkan
Semoga yang satu menjadi penambah amal kebaikan bagi yang lain
dan semoga Engkau ridho atas segala yang telah kami perbuat.
Hingga karena ridhoMu itu, semoga, kami bisa tetap bersama di surga Mu
Menjadi bidadari yang cantik bagi pangerannya
Menjadi pangeran yang menarik hati bidadarinya
Dikelilingi anak-anak kami yang selama di dunia menjadi penyejuk hati.
Allah, jadikan kami orang-orang yang bisa menjadi jalan kebaikan bagi orang lain, bukan menjadi jalan kesusahan bagi mereka
Allah, kuatkan kami atas tubuh kami, rezeki kami, ilmu kami, anak-anak kami, agar kami bisa menjadi jalan keselamatan bagi makhluk Mu.
Tunjukilah kami yang benar itu adalah benar, dan beri kami jalan untuk mengikutinya
Tunjukilah kami yang salah itu adalah salah, dan beri kami jalan untuk menjauhinya.
Rabbi, Ya Rahmaan Ya Rahiim, berkahilah kami
Allohumma Aamiin.
12 tahun Irma & Wiska
30 Juli 2012
***
Selasa, 15 Mei 2012
katanya biar kita bisa mensyukuri hidup...
***
Sepupu saya ini namanya Rina. Usia 27 tahun. Profesi sebagai perawat di sebuah puskesmas di kota Bandung. Menikah, dan berputra satu, usia 4 tahun.
Walaupun standar cantik tiap orang beda, tapi hampir bisa dipastikan, semua orang yang lihat dia mengatakan dia cantik. Hidung mancung, gigi rapi, kulit putih, dan mata bulat. Agak aneh memang kalau saya sepupuan sama dia. Hehe.
Saat saya menengoknya kemarin di rumah sakit, 'kebetulan' dia sedang menjalani sebuah prosesi yang seringkali membuat orang bergidik: hemodialisa, cuci darah.
Ruangan tempat hemodialisa itu besar, sekitar 50 meter persegi. Berisi belasan orang yang sedang dicuci darahnya.
Di antara deretan orang-orang yang terbaring itu, Rina memang agak tampak mencolok. Dia muda sendirian.
Tak heran bila sampai ada beberapa orang yang menyapa menanyakan Rina. Usia berapa, sakitnya gimana, udah cuci darah berapa kali, masih SMA ya? Sudah menikah? dst....hffff...
Rina anaknya ramah dan pandai ngobrol sama orang. Dia jawabnya ketawa ketiwi aja ditanya-tanya gitu.
Setelah bisa ngobrol enak, barulah saya tanya, emang dia kerasanya sakit gimana....
Awalnya kerasa mual aja katanya.
“Sapertos ngidam we kitu Teh. “, ceritanya pada saya.
Lama-lama mualnya makin parah, dan mata malah jadi buram. Periksa ke klinik mata, katanya ada infeksi. Minum antibiotik, malah tambah parah mualnya. Ganti antibiotik, tetep aja.
Akhirnya periksa ke rumah sakit ini.
“Saatos diobservasi, eh, ari pek teh kedah kieu....”, papar dia dalam bahasa sunda yang halus terjaga.
Eh, kemarin dia bilang kadar kreatininnya 24???? Ah masa sih. 2,4 kali ya. Tapi kalaupun 2,4 memang sudah mengindikasikan adanya gangguan ginjal. Normalnya kan 0,5 sd 1,5 mg/dl.
Dan kalaupun itu angka koefisien kreatinin yaitu jumlah kreatinin yang diekskresikan dalam 24 jam /kg BB, maka normalnya pada wanita adalah 14 sd 22 mg/kgBB. Maka 24 tetep aja ketinggian.
Rina mestinya lebih ngerti dari saya untuk urusan hasil cek lab begini. Lah dia perawat. Dia ngerti arti dari angka kreatinin itu sampe dia seperti gak mau tau lagi berapa kadar ureumnya. Padahal, dia bilang, dia gak masalah dengan minum dan buang air kecil. Semua biasa aja, dan rasanya udah nerapin pola hidup sehat. Tapi yaa... :(
“Gapapalah.. biar bisa mensyukuri hidup... hahaha”, kata dia, seperti menghibur diri.
Entahlah obrolan kami kemarin dari mulai masalah profesi sampe anak, kesannya seperti menghibur diri saja. Mengisi waktu nangkring 4 jam 'laundry'. Dengan alat yang memang mirip-mirip mesin cuci itu.
Rasanya ingin melupakan segala statement buruk tentang bagaimana nasib orang yang kerjaannya bolak balik cuci darah, walaupun katanya sih.. cuci darah ini biayanya ditanggung askes, kan dia PNS. Kalau harus bayar, pertama cuci darah ini 650ribu, dan selanjutnya 450 ribu sekali cuci. Dan harus seminggu dua kali !! Wow..
Untuk tanggungan biaya oleh askes ini pun dia berulang-ulang ucap hamdalah.
Eh, ngeliat dia terbaring, jadi inget almarhumah ibunya. Ibunya adalah adik mamah saya. Dulu meninggal saat Rina dan kakanya masih SD, sedangkan adiknya masih balita. Inget aja dulu saya pake baju SMA, sebelum sekolah nengok beliau dulu di RS, karena katanya bibi saya ini pengen ketemu sama saya.
Sesampainya di RS, saya malah gak ngobrol sedikitpun sama beliau. Kebayang wajahnya sampe sekarang, .. hiks.. yang di sana sini banyak darah beku yang sulit dibersihkan karena beliau mengidap kanker darah alias leukeumia stadium akhir. Cuma air matanya aja yang keluar ngeliat saya. Hik hik.
Setelah ibunya Rina ini meninggal, silaturahim kami jadi merenggang. Rina dan keluarganya hanya menyempatkan bertemu kami saat lebaran saja. Mungkin karena ingin melupakan kenangan mereka bersama bibi saya ini ya, karena kalau lihat mamah dan saudara-saudara yang lain, pasti mereka inget almarhumah. Wajahnya hampir mirip.
Karena kesibukan sekolah, kuliah, dst, saya cuma dengar kabar sekilas sekilas saja tentang ayahnya Rina yang menikah lagi, Rina jadi perawat, kemudian tentu saja saya hadir pada pernikahan Rina yang meriah. Rina dipersunting pemuda ganteng dan kaya :)
Ya bagaimanapun cuci darah bukan akhir dari segalanya ya? Masih banyak opsi yang bisa kita lakukan. Jaman sekarang banyak cara canggih. Apalagi kalau uang ada.
Perbanyak do'a, karena ternyata memang bagi Allah, bila mudah baginya mendatangkan sakit, maka pasti mudah pula bagi Allah untuk mencabutnya.
Dan kemudian ini adalah, sebuah peringatan bagi saya, agar bisa seperti yang tadi Rina bilang,
“.. biar bisa menyukuri hidup.. ”
Ya ampun itu kata-katanya kok jadi terngiang-ngiang terus. Mungkin karena saya tau, mensyukuri hidup itu bukanlah hanya sekedar mengucap hamdalah, namun menjadi rentetan panjang konsekuensi dari sehat dan nikmat yang telah Allah berikan.
***
Sepupu saya ini namanya Rina. Usia 27 tahun. Profesi sebagai perawat di sebuah puskesmas di kota Bandung. Menikah, dan berputra satu, usia 4 tahun.
Walaupun standar cantik tiap orang beda, tapi hampir bisa dipastikan, semua orang yang lihat dia mengatakan dia cantik. Hidung mancung, gigi rapi, kulit putih, dan mata bulat. Agak aneh memang kalau saya sepupuan sama dia. Hehe.
Saat saya menengoknya kemarin di rumah sakit, 'kebetulan' dia sedang menjalani sebuah prosesi yang seringkali membuat orang bergidik: hemodialisa, cuci darah.
Ruangan tempat hemodialisa itu besar, sekitar 50 meter persegi. Berisi belasan orang yang sedang dicuci darahnya.
Di antara deretan orang-orang yang terbaring itu, Rina memang agak tampak mencolok. Dia muda sendirian.
Tak heran bila sampai ada beberapa orang yang menyapa menanyakan Rina. Usia berapa, sakitnya gimana, udah cuci darah berapa kali, masih SMA ya? Sudah menikah? dst....hffff...
Rina anaknya ramah dan pandai ngobrol sama orang. Dia jawabnya ketawa ketiwi aja ditanya-tanya gitu.
Setelah bisa ngobrol enak, barulah saya tanya, emang dia kerasanya sakit gimana....
Awalnya kerasa mual aja katanya.
“Sapertos ngidam we kitu Teh. “, ceritanya pada saya.
Lama-lama mualnya makin parah, dan mata malah jadi buram. Periksa ke klinik mata, katanya ada infeksi. Minum antibiotik, malah tambah parah mualnya. Ganti antibiotik, tetep aja.
Akhirnya periksa ke rumah sakit ini.
“Saatos diobservasi, eh, ari pek teh kedah kieu....”, papar dia dalam bahasa sunda yang halus terjaga.
Eh, kemarin dia bilang kadar kreatininnya 24???? Ah masa sih. 2,4 kali ya. Tapi kalaupun 2,4 memang sudah mengindikasikan adanya gangguan ginjal. Normalnya kan 0,5 sd 1,5 mg/dl.
Dan kalaupun itu angka koefisien kreatinin yaitu jumlah kreatinin yang diekskresikan dalam 24 jam /kg BB, maka normalnya pada wanita adalah 14 sd 22 mg/kgBB. Maka 24 tetep aja ketinggian.
Rina mestinya lebih ngerti dari saya untuk urusan hasil cek lab begini. Lah dia perawat. Dia ngerti arti dari angka kreatinin itu sampe dia seperti gak mau tau lagi berapa kadar ureumnya. Padahal, dia bilang, dia gak masalah dengan minum dan buang air kecil. Semua biasa aja, dan rasanya udah nerapin pola hidup sehat. Tapi yaa... :(
“Gapapalah.. biar bisa mensyukuri hidup... hahaha”, kata dia, seperti menghibur diri.
Entahlah obrolan kami kemarin dari mulai masalah profesi sampe anak, kesannya seperti menghibur diri saja. Mengisi waktu nangkring 4 jam 'laundry'. Dengan alat yang memang mirip-mirip mesin cuci itu.
Rasanya ingin melupakan segala statement buruk tentang bagaimana nasib orang yang kerjaannya bolak balik cuci darah, walaupun katanya sih.. cuci darah ini biayanya ditanggung askes, kan dia PNS. Kalau harus bayar, pertama cuci darah ini 650ribu, dan selanjutnya 450 ribu sekali cuci. Dan harus seminggu dua kali !! Wow..
Untuk tanggungan biaya oleh askes ini pun dia berulang-ulang ucap hamdalah.
Eh, ngeliat dia terbaring, jadi inget almarhumah ibunya. Ibunya adalah adik mamah saya. Dulu meninggal saat Rina dan kakanya masih SD, sedangkan adiknya masih balita. Inget aja dulu saya pake baju SMA, sebelum sekolah nengok beliau dulu di RS, karena katanya bibi saya ini pengen ketemu sama saya.
Sesampainya di RS, saya malah gak ngobrol sedikitpun sama beliau. Kebayang wajahnya sampe sekarang, .. hiks.. yang di sana sini banyak darah beku yang sulit dibersihkan karena beliau mengidap kanker darah alias leukeumia stadium akhir. Cuma air matanya aja yang keluar ngeliat saya. Hik hik.
Setelah ibunya Rina ini meninggal, silaturahim kami jadi merenggang. Rina dan keluarganya hanya menyempatkan bertemu kami saat lebaran saja. Mungkin karena ingin melupakan kenangan mereka bersama bibi saya ini ya, karena kalau lihat mamah dan saudara-saudara yang lain, pasti mereka inget almarhumah. Wajahnya hampir mirip.
Karena kesibukan sekolah, kuliah, dst, saya cuma dengar kabar sekilas sekilas saja tentang ayahnya Rina yang menikah lagi, Rina jadi perawat, kemudian tentu saja saya hadir pada pernikahan Rina yang meriah. Rina dipersunting pemuda ganteng dan kaya :)
Ya bagaimanapun cuci darah bukan akhir dari segalanya ya? Masih banyak opsi yang bisa kita lakukan. Jaman sekarang banyak cara canggih. Apalagi kalau uang ada.
Perbanyak do'a, karena ternyata memang bagi Allah, bila mudah baginya mendatangkan sakit, maka pasti mudah pula bagi Allah untuk mencabutnya.
Dan kemudian ini adalah, sebuah peringatan bagi saya, agar bisa seperti yang tadi Rina bilang,
“.. biar bisa menyukuri hidup.. ”
Ya ampun itu kata-katanya kok jadi terngiang-ngiang terus. Mungkin karena saya tau, mensyukuri hidup itu bukanlah hanya sekedar mengucap hamdalah, namun menjadi rentetan panjang konsekuensi dari sehat dan nikmat yang telah Allah berikan.
***
Jumat, 11 Mei 2012
Katanya Itu Karena Kelebihan Energi.
***
Berawal dari note seorang teman di facebook, yang bikin saya ngiri. Bukan ngiri dengki, tapi harangiri. Plesetan dari Harakiri. Nunjuk-nunjuk diri sendiri yang sepertinya tertinggal jauh. Jauh sekali dibanding dia.
Namun apa daya memang waktu gak akan bisa kembali. Mana bisa saya kembali ke golden age di mana saya bisa mengembangkan kapasitas otak ini, menyambungkan berbagai neuron di dalamnya, dan mengkreasikan impuls impulsnya? Sehingga saya hari ini bisa menjadi lebih baik daripada saya yang hari ini pada kenyataannya?
Maka curhatlah saya sama seorang teman yang tidak akan saya sebutkan namanya. Dia bilang sesuatu yang bikin saya mikir.. Dia bilang, perempuan seusia saya, yang punya anak paling kecil 7 tahun (baca: nyantei), pasti punya 'kelebihan energi'. Barangkali kelebihan energi itulah yang seakan meledak, membuat saya galau melihat orang-orang yang lebih hebat.
“Saya mestinya bisa sehebat dia”, kurang lebih begitulah ledakannya.
Hemmm.. kelebihan energi.
Energi harus menemukan tempat penyalurannya hingga menjadi sebuah bentuk manfaat. Barangkali memang inilah yang membuat saya galau jika hanya berdiam diri, tanpa aktivitas apapun. Bila penyaluran energi ini mengalir ke tempat yang salah, maka saya akan semakin galau. Dan jika penyaluran energi ini ke arah yang positif, terasa sangat bahagianya.
Perlahan saya mulai meninggalkan harangiri saya terhadap teman saya penulis note itu. Beralih menjadi pemikiran terhadap diri sendiri saja. Mengenai kelebihan energi tadi dan apa yang bisa saya lakukan untuk menyalurkannya. Mengingat waktu yang tak bisa terulang, dan apa yang telah saya miliki sekarang.
Bila saat ini saya hanya dikaruniai dua anak saja, dan Allah belum kunjung mengamanahi saya anak ketiga, maka barangkali saya jadi punya kelebihan energi untuk mengurus hal-hal di luar anak dan rumah tangga.
Dan bila anak saya “hanya dua”, maka mestinya saya bisa dengan powerfull (atas izin Allah) untuk bisa melejitkan anak-anak saya menjadi anak-anak yang luar biasa.
Kalau ditanya cita-cita, maka cita-cita saya tinggi, tapi itu adalah untuk anak-anak saya. Untuk hidup saya rasanya melawan sunnatullah jika saya bercita-cita menjadi seorang profesor sains. Tapi bila saya berharap seorang Arif menjadi profesor lulusan Jerman misalnya, maka itu masih sangat memungkinkan untuk diusahakan dengan tahap yang jelas. Ya nggak sih?
Dan Sofi, yang kelihatan sabar, ngasuh, .. barangkali dia bisa jadi seorang dokter atau perawat yang disukai pasien-pasiennya? Dokter spesialis anak misalnya?
Ah, saya tidak akan banyak menuntut pada anak-anak saya. Segala cita-cita haruslah lahir dari pemikiran dan hati mereka sendiri. Bukan atas paksaan saya.
Tinggal saya yang harus memompa semangat mereka untuk berani punya cita-cita yang seeeetinggi-tingginya. Mumpung mereka masih muda. Energi dan otak anak-anak itu adalah sebuah keajaiban. Tak seperti otak saya yang sudah gampang ngebul.
Maka dengan kelebihan energi ini mestinya saya bisa jadi ibu yang semangat. Ibu yang bisa membimbing anak-anak saya meraih cita-citanya dan bermanfaat sebesar-besarnya bagi umat.
Aiiihhh.. sungguh... sesuatu.
Dan untuk saya sendiri, mestinya gak boleh juga ada malas bila saya menyadari tentang kelebihan energi ini. Dipikir-pikir banyak hal yang bisa saya lakukan untuk memperbaiki diri. Gak ada kata telat sebelum mati kan ya?
Ah pokonya banyak deh yang bisa saya lakukan dengan apa yang saya punya sekarang, entahlah itu menghasilkan duit apa tidak, saya gak peduli, toh beban nafkah alhamduliLlah masih ditanggung suami. Tinggal satu aja, yaitu saya harus menyalurkannya ke arah yang positif. Biar Allah ridho. Biar Allah menambahkan nikmatnya karena dengan memanfaatkan potensi di jalan Allah itu berarti kita termasuk orang-orang yang bersyukur.
Iya gak siiiih? –> nanya kayak gini biasanya karena gak pede.. ahhaha...
bismiLlah we yuks... Allah tidak akan mengubah keadaan jika kita sendiri tidak berusaha untuk mengubahnya...
***
Berawal dari note seorang teman di facebook, yang bikin saya ngiri. Bukan ngiri dengki, tapi harangiri. Plesetan dari Harakiri. Nunjuk-nunjuk diri sendiri yang sepertinya tertinggal jauh. Jauh sekali dibanding dia.
Namun apa daya memang waktu gak akan bisa kembali. Mana bisa saya kembali ke golden age di mana saya bisa mengembangkan kapasitas otak ini, menyambungkan berbagai neuron di dalamnya, dan mengkreasikan impuls impulsnya? Sehingga saya hari ini bisa menjadi lebih baik daripada saya yang hari ini pada kenyataannya?
Maka curhatlah saya sama seorang teman yang tidak akan saya sebutkan namanya. Dia bilang sesuatu yang bikin saya mikir.. Dia bilang, perempuan seusia saya, yang punya anak paling kecil 7 tahun (baca: nyantei), pasti punya 'kelebihan energi'. Barangkali kelebihan energi itulah yang seakan meledak, membuat saya galau melihat orang-orang yang lebih hebat.
“Saya mestinya bisa sehebat dia”, kurang lebih begitulah ledakannya.
Hemmm.. kelebihan energi.
Energi harus menemukan tempat penyalurannya hingga menjadi sebuah bentuk manfaat. Barangkali memang inilah yang membuat saya galau jika hanya berdiam diri, tanpa aktivitas apapun. Bila penyaluran energi ini mengalir ke tempat yang salah, maka saya akan semakin galau. Dan jika penyaluran energi ini ke arah yang positif, terasa sangat bahagianya.
Perlahan saya mulai meninggalkan harangiri saya terhadap teman saya penulis note itu. Beralih menjadi pemikiran terhadap diri sendiri saja. Mengenai kelebihan energi tadi dan apa yang bisa saya lakukan untuk menyalurkannya. Mengingat waktu yang tak bisa terulang, dan apa yang telah saya miliki sekarang.
Bila saat ini saya hanya dikaruniai dua anak saja, dan Allah belum kunjung mengamanahi saya anak ketiga, maka barangkali saya jadi punya kelebihan energi untuk mengurus hal-hal di luar anak dan rumah tangga.
Dan bila anak saya “hanya dua”, maka mestinya saya bisa dengan powerfull (atas izin Allah) untuk bisa melejitkan anak-anak saya menjadi anak-anak yang luar biasa.
Kalau ditanya cita-cita, maka cita-cita saya tinggi, tapi itu adalah untuk anak-anak saya. Untuk hidup saya rasanya melawan sunnatullah jika saya bercita-cita menjadi seorang profesor sains. Tapi bila saya berharap seorang Arif menjadi profesor lulusan Jerman misalnya, maka itu masih sangat memungkinkan untuk diusahakan dengan tahap yang jelas. Ya nggak sih?
Dan Sofi, yang kelihatan sabar, ngasuh, .. barangkali dia bisa jadi seorang dokter atau perawat yang disukai pasien-pasiennya? Dokter spesialis anak misalnya?
Ah, saya tidak akan banyak menuntut pada anak-anak saya. Segala cita-cita haruslah lahir dari pemikiran dan hati mereka sendiri. Bukan atas paksaan saya.
Tinggal saya yang harus memompa semangat mereka untuk berani punya cita-cita yang seeeetinggi-tingginya. Mumpung mereka masih muda. Energi dan otak anak-anak itu adalah sebuah keajaiban. Tak seperti otak saya yang sudah gampang ngebul.
Maka dengan kelebihan energi ini mestinya saya bisa jadi ibu yang semangat. Ibu yang bisa membimbing anak-anak saya meraih cita-citanya dan bermanfaat sebesar-besarnya bagi umat.
Aiiihhh.. sungguh... sesuatu.
Dan untuk saya sendiri, mestinya gak boleh juga ada malas bila saya menyadari tentang kelebihan energi ini. Dipikir-pikir banyak hal yang bisa saya lakukan untuk memperbaiki diri. Gak ada kata telat sebelum mati kan ya?
Ah pokonya banyak deh yang bisa saya lakukan dengan apa yang saya punya sekarang, entahlah itu menghasilkan duit apa tidak, saya gak peduli, toh beban nafkah alhamduliLlah masih ditanggung suami. Tinggal satu aja, yaitu saya harus menyalurkannya ke arah yang positif. Biar Allah ridho. Biar Allah menambahkan nikmatnya karena dengan memanfaatkan potensi di jalan Allah itu berarti kita termasuk orang-orang yang bersyukur.
Iya gak siiiih? –> nanya kayak gini biasanya karena gak pede.. ahhaha...
bismiLlah we yuks... Allah tidak akan mengubah keadaan jika kita sendiri tidak berusaha untuk mengubahnya...
***
Selasa, 17 April 2012
Kenapa gak mau ikut reuni SMP ??
***
"Sekarang, aku adalah aku yang sudah jadi aku yang sekarang. Jika untuk masa depan, itu adalah urusan pmikiran. Dan masa lalu adalah urusan perasaan" -pidibaiq-
Ah, quote Pidi Baiq itu seperti menerjemahkan isi kepala saya saat ini. Saat beberapa gelintir teman ribut mau reunian SMP, sementara saya hanya jadi penonton.
Kenapa ya saya sama sekali tidak mau ikut reuni SMP?
Padahal di SMP banyak prestasi yang saya ukir, banyak kenangan baik yang saya rekam.
Di SMP, saya gak pernah lebih rendah dari juara kedua di kelas.
Di SMP, saya jadi juara umum dengan NEM tertinggi, baik saat masuk, maupun saat keluar.
Di SMP, saya temukan cinta pertama saya. Tapi cinta monyet. Jadi gak gimana-gimana.
Di SMP, saya baligh dan mulai mengenakan pakaian yang menutup aurat.
Itu... oke semua kan?
Lantas kenapa saya gak mau ikut reunian SMP?
Sementara kalau reunian SMA saya semangaaaat sekali. Mau siapapun yang ajak, biasanya saya langsung hayuuuu...
Padahal di SMA, saya bukan siapa-siapa. Pengen tau ranking kelas saya waktu SMA? Ini berurut enam semester loh yah:
9 dari 39 –
15 dari 39 –
33 dari 52 –
15 dari 52 –
24 dari 54 – dan
26 dari 54
Hahaha.... sungguh memalukan yak.
Ya kalo masalah ketenaran mah di SMA juga mayan sih katanya termasuk golongan orang-orang terkenal (meureun.. hehe). Ya hanya karena saya sempat memegang amanah sebagai wakil pimpinan organisasi terbesar di SMA selama satu tahun. Itu aja kali yang bikin saya dikenal banyak teman sewaktu SMA.
Di SMA saya merasa mulai jadi diri sendiri. Dikenal tidak terlalu pandai dalam pelajaran, tapi saya bisa mencapai kedekatan hati dengan teman-teman. Beberapa orang mungkin menganggap saya sok alim dan sempat sebal dengan sikap saya yang keras saat mengingatkan urusan agama.
(Masa sih Pitut bilang dulu saya larang dia main pingpong di kelas karena itu perbuatan sia-sia? Gak inget saya.. Tapi rasanya iya yah dulu saya paling anti pingpong kelas?.... Hadoooh... kacow pisan si gueh)
Tapi di balik pendapat mereka yang nganggap saya sok alim, kerasa banget kalau mereka naruh kepercayaan besar sama saya. Kerasanya sampe sekarang. Hubungan saya sama seluruh anggota kelas baiiiik semuanya.
Jadi kenapa saya gak mau ikut reuni SMP?
Bisa jadi karena saya sudah terlanjur dianggap anak pintar sama mereka. Padahal saya sama sekali gak ngerasa gitu. Hubungan saya dengan mereka, rasanya masih seperti hubungan antar siswa.
Sementara saya tau, teman-teman SMA saya menganggap saya adalah anak yang tidak terlalu pandai, tapi bisa dijadikan kawan. Dan saya memang inginnya seperti itu.
Barusan saya telpon teman SMP saya, sekaligus teman SMA saya, sekaligus teman kuliah saya hingga teman curhat saya sampai saat ini. Dia waktu SMP juga juara kelas. Tapi di kelas lain.
“Kamu mau dateng reuni SMP?”
Dan jawaban dia... seperti yang sudah saya duga... sama persis dengan apa yang saya rasakan. Bahkan lebih buruk =P
Huhu. Tadinya sih kalo dia dateng, saya juga mau dateng. Ternyata engga … yaudah. Akhirnya kami sepakat untuk tidak hadir di acara reuni nanti.. heu heu heu... salah gak yaaa.. tapi da gak mauuuu.... kayaknya ntar bakal kaku banget deeeeh :((
Kalo dianggap sombong gimana? Tapi da engga gituuuu....
****
"Sekarang, aku adalah aku yang sudah jadi aku yang sekarang. Jika untuk masa depan, itu adalah urusan pmikiran. Dan masa lalu adalah urusan perasaan" -pidibaiq-
Ah, quote Pidi Baiq itu seperti menerjemahkan isi kepala saya saat ini. Saat beberapa gelintir teman ribut mau reunian SMP, sementara saya hanya jadi penonton.
Kenapa ya saya sama sekali tidak mau ikut reuni SMP?
Padahal di SMP banyak prestasi yang saya ukir, banyak kenangan baik yang saya rekam.
Di SMP, saya gak pernah lebih rendah dari juara kedua di kelas.
Di SMP, saya jadi juara umum dengan NEM tertinggi, baik saat masuk, maupun saat keluar.
Di SMP, saya temukan cinta pertama saya. Tapi cinta monyet. Jadi gak gimana-gimana.
Di SMP, saya baligh dan mulai mengenakan pakaian yang menutup aurat.
Itu... oke semua kan?
Lantas kenapa saya gak mau ikut reunian SMP?
Sementara kalau reunian SMA saya semangaaaat sekali. Mau siapapun yang ajak, biasanya saya langsung hayuuuu...
Padahal di SMA, saya bukan siapa-siapa. Pengen tau ranking kelas saya waktu SMA? Ini berurut enam semester loh yah:
9 dari 39 –
15 dari 39 –
33 dari 52 –
15 dari 52 –
24 dari 54 – dan
26 dari 54
Hahaha.... sungguh memalukan yak.
Ya kalo masalah ketenaran mah di SMA juga mayan sih katanya termasuk golongan orang-orang terkenal (meureun.. hehe). Ya hanya karena saya sempat memegang amanah sebagai wakil pimpinan organisasi terbesar di SMA selama satu tahun. Itu aja kali yang bikin saya dikenal banyak teman sewaktu SMA.
Di SMA saya merasa mulai jadi diri sendiri. Dikenal tidak terlalu pandai dalam pelajaran, tapi saya bisa mencapai kedekatan hati dengan teman-teman. Beberapa orang mungkin menganggap saya sok alim dan sempat sebal dengan sikap saya yang keras saat mengingatkan urusan agama.
(Masa sih Pitut bilang dulu saya larang dia main pingpong di kelas karena itu perbuatan sia-sia? Gak inget saya.. Tapi rasanya iya yah dulu saya paling anti pingpong kelas?.... Hadoooh... kacow pisan si gueh)
Tapi di balik pendapat mereka yang nganggap saya sok alim, kerasa banget kalau mereka naruh kepercayaan besar sama saya. Kerasanya sampe sekarang. Hubungan saya sama seluruh anggota kelas baiiiik semuanya.
Jadi kenapa saya gak mau ikut reuni SMP?
Bisa jadi karena saya sudah terlanjur dianggap anak pintar sama mereka. Padahal saya sama sekali gak ngerasa gitu. Hubungan saya dengan mereka, rasanya masih seperti hubungan antar siswa.
Sementara saya tau, teman-teman SMA saya menganggap saya adalah anak yang tidak terlalu pandai, tapi bisa dijadikan kawan. Dan saya memang inginnya seperti itu.
Barusan saya telpon teman SMP saya, sekaligus teman SMA saya, sekaligus teman kuliah saya hingga teman curhat saya sampai saat ini. Dia waktu SMP juga juara kelas. Tapi di kelas lain.
“Kamu mau dateng reuni SMP?”
Dan jawaban dia... seperti yang sudah saya duga... sama persis dengan apa yang saya rasakan. Bahkan lebih buruk =P
Huhu. Tadinya sih kalo dia dateng, saya juga mau dateng. Ternyata engga … yaudah. Akhirnya kami sepakat untuk tidak hadir di acara reuni nanti.. heu heu heu... salah gak yaaa.. tapi da gak mauuuu.... kayaknya ntar bakal kaku banget deeeeh :((
Kalo dianggap sombong gimana? Tapi da engga gituuuu....
****
Selasa, 27 Maret 2012
kenang - perjalanan
***
Ini palingan lagi mellow. Biarlah karena saya ingin ngantuk.
Di rumah.
Rumah yang saya tempati sejak tahun 2003.
Begitu banyak kenangan di rumah ini, yang indah tentu saja.
Tentang suamiku.. tentang Arif, tentang Sofi..
Arif yang pertama pindah ke sini dikangenin sama bapak mertua.
Arif yang lagi seneng2nya sama kereta api, sampe buku keretanya sobek sobek.
Arif yang lagi suka sukanya sama mobil VW
dan mobil tukang roti tip top yang tiap pagi lewat.
Film favoritnya adalah dora the explorer dan telettubies
Saya, adalah saya yang masih belajar memasak
Belom musim internet sehingga saya kesulitan mencari resep
Telpon mamah tentu saja untuk nanyain resep ini itu.
Bersyukur waktu itu kami masih bisa makan.
Karena rasanya makanan saya tidak layak dimakan.
Kemudian lahirlah Sofi.
Si anak umi yang periang.
Lesung pipitnya di kiri kanan.
Arif jadi punya teman.
Mereka ke sana kemari selalu berdua.
Arif yang sudah bisa baca, diikuti oleh Sofi yang pura-pura bisa baca.
Saya ngikik sendiri denger Sofi ngarang cerita.
Suamiku.
Suamiku yang gak pernah berubah.
Tetap dengan istiqomahnya.
Yang saya selalu tentram ada di sampingnya
Eh, gini aja nangis ya.
Tapi sungguh, hari ini juga pasti jadi kenangan di masa datang
Saat Sofi yang jelang 8 tahun, dan Arif yang jelang 10 tahun.
Yang mereka masih berkumpul di rumah ini
Yang membuat saya tertawa, ataupun marah di rumah ini.
Suatu saat mereka akan pergi
bersama kehidupannya sendiri.
Semoga pada hari saat saya melepaskan kedua anak panah ini,
Saya menjadi busur dengan tarikan terbaik
sehingga mereka bisa meluncur, tepat di sasarannya
tanpa jatuh, tanpa berbelok
Kalau boleh memilih, barangkali saya ingin mereka selalu ada dalam dekapan saya
seperti malam ini.
ada Arif, ada Sofi, ada suamiku
Indahnya adalah luar biasa
jika kami bisa terus bersama
sampai di surga
selamanya
Ini palingan lagi mellow. Biarlah karena saya ingin ngantuk.
Di rumah.
Rumah yang saya tempati sejak tahun 2003.
Begitu banyak kenangan di rumah ini, yang indah tentu saja.
Tentang suamiku.. tentang Arif, tentang Sofi..
Arif yang pertama pindah ke sini dikangenin sama bapak mertua.
Arif yang lagi seneng2nya sama kereta api, sampe buku keretanya sobek sobek.
Arif yang lagi suka sukanya sama mobil VW
dan mobil tukang roti tip top yang tiap pagi lewat.
Film favoritnya adalah dora the explorer dan telettubies
Saya, adalah saya yang masih belajar memasak
Belom musim internet sehingga saya kesulitan mencari resep
Telpon mamah tentu saja untuk nanyain resep ini itu.
Bersyukur waktu itu kami masih bisa makan.
Karena rasanya makanan saya tidak layak dimakan.
Kemudian lahirlah Sofi.
Si anak umi yang periang.
Lesung pipitnya di kiri kanan.
Arif jadi punya teman.
Mereka ke sana kemari selalu berdua.
Arif yang sudah bisa baca, diikuti oleh Sofi yang pura-pura bisa baca.
Saya ngikik sendiri denger Sofi ngarang cerita.
Suamiku.
Suamiku yang gak pernah berubah.
Tetap dengan istiqomahnya.
Yang saya selalu tentram ada di sampingnya
Eh, gini aja nangis ya.
Tapi sungguh, hari ini juga pasti jadi kenangan di masa datang
Saat Sofi yang jelang 8 tahun, dan Arif yang jelang 10 tahun.
Yang mereka masih berkumpul di rumah ini
Yang membuat saya tertawa, ataupun marah di rumah ini.
Suatu saat mereka akan pergi
bersama kehidupannya sendiri.
Semoga pada hari saat saya melepaskan kedua anak panah ini,
Saya menjadi busur dengan tarikan terbaik
sehingga mereka bisa meluncur, tepat di sasarannya
tanpa jatuh, tanpa berbelok
Kalau boleh memilih, barangkali saya ingin mereka selalu ada dalam dekapan saya
seperti malam ini.
ada Arif, ada Sofi, ada suamiku
Indahnya adalah luar biasa
jika kami bisa terus bersama
sampai di surga
selamanya
Jumat, 20 Januari 2012
Renovasi Rumah (5)
***
Yaa ampuuun.. udah lama pisan saya gak nulis ya, dan rasanya banyak sekali hikmah dan suasana hati yang jadinya tak sempat terlukiskan. Halah.
Renovasi rumahku udah hampir selesai, teman-teman. AlhamduliLlaah, berjuta syukur alhamduliLlah.
Saya begitu merindukan kehidupan saya, suami, dan anak-anak di rumah sendiri. Mau berantakan, mau setrikaan numpuk, mau males masak, tetep aja menyenangkan itu yang namanya ada di rumah sendiri. Tentu saja asal kita rukun sama anak dan suami. Hehe. Itu faktor utama yang bikin kita betah di rumah bukan?
Sekarang lagi mikirin angkut-angkut barang kembali ke rumah. Untuk barang-barang besar seperti lemari, mesin cuci, meja kursi, alhamduliLlah ada yang mau meminjamkan rumah kosongnya untuk ditempati. Cuma kehalang satu rumah dari rumah saya. Rumah itu baru dibeli oleh seorang bernama Pak Ferry. Orang kalimantan, sahabat dekatnya Pak Imam, tetangga belakang rumah. Belum berniat untuk menempati rumah itu segera.
Pak Imam dan Pak Ferry baik banget orangnya. Saya pikir mereka saudaraan, taunya katanya cuma teman aja, tapi deket banget jadi kayak saudara. Bu Imam juga orangnya baik. Entahlah Bu Ferry (ada atau tidak), karena saya tidak berani menanyakan apakah Pak Ferry sudah berkeluarga atau belum. Heheheh.
Sebulan lalu sempet bingung karena biaya kurang. Membengkak biayanya, dan perhitungannya memang jelas. Ada hal-hal tidak terduga yang muncul.
Namun lagi-lagi alhamduliLlah, ada yang bisa meminjamkan uangnya untuk kami pakai.
Walaupun pinjaman, tak apalah, daripada kami harus berhutang lagi ke bank.
Bapakku juga sampai ngasih tuh. Maka keseluruhan keramik yang kami pasang baru di rumah, adalah hadiah dari bapak.
Awal Februari nanti, insyaa Allah kami pindahan. Do'akan semoga kami bisa segera melunasi semua pinjaman itu.
***
Yaa ampuuun.. udah lama pisan saya gak nulis ya, dan rasanya banyak sekali hikmah dan suasana hati yang jadinya tak sempat terlukiskan. Halah.
Renovasi rumahku udah hampir selesai, teman-teman. AlhamduliLlaah, berjuta syukur alhamduliLlah.
Saya begitu merindukan kehidupan saya, suami, dan anak-anak di rumah sendiri. Mau berantakan, mau setrikaan numpuk, mau males masak, tetep aja menyenangkan itu yang namanya ada di rumah sendiri. Tentu saja asal kita rukun sama anak dan suami. Hehe. Itu faktor utama yang bikin kita betah di rumah bukan?
Sekarang lagi mikirin angkut-angkut barang kembali ke rumah. Untuk barang-barang besar seperti lemari, mesin cuci, meja kursi, alhamduliLlah ada yang mau meminjamkan rumah kosongnya untuk ditempati. Cuma kehalang satu rumah dari rumah saya. Rumah itu baru dibeli oleh seorang bernama Pak Ferry. Orang kalimantan, sahabat dekatnya Pak Imam, tetangga belakang rumah. Belum berniat untuk menempati rumah itu segera.
Pak Imam dan Pak Ferry baik banget orangnya. Saya pikir mereka saudaraan, taunya katanya cuma teman aja, tapi deket banget jadi kayak saudara. Bu Imam juga orangnya baik. Entahlah Bu Ferry (ada atau tidak), karena saya tidak berani menanyakan apakah Pak Ferry sudah berkeluarga atau belum. Heheheh.
Sebulan lalu sempet bingung karena biaya kurang. Membengkak biayanya, dan perhitungannya memang jelas. Ada hal-hal tidak terduga yang muncul.
Namun lagi-lagi alhamduliLlah, ada yang bisa meminjamkan uangnya untuk kami pakai.
Walaupun pinjaman, tak apalah, daripada kami harus berhutang lagi ke bank.
Bapakku juga sampai ngasih tuh. Maka keseluruhan keramik yang kami pasang baru di rumah, adalah hadiah dari bapak.
Awal Februari nanti, insyaa Allah kami pindahan. Do'akan semoga kami bisa segera melunasi semua pinjaman itu.
***
Langganan:
Komentar (Atom)
