***
Sepupu saya ini namanya Rina. Usia 27 tahun. Profesi sebagai perawat di sebuah puskesmas di kota Bandung. Menikah, dan berputra satu, usia 4 tahun.
Walaupun standar cantik tiap orang beda, tapi hampir bisa dipastikan, semua orang yang lihat dia mengatakan dia cantik. Hidung mancung, gigi rapi, kulit putih, dan mata bulat. Agak aneh memang kalau saya sepupuan sama dia. Hehe.
Saat saya menengoknya kemarin di rumah sakit, 'kebetulan' dia sedang menjalani sebuah prosesi yang seringkali membuat orang bergidik: hemodialisa, cuci darah.
Ruangan tempat hemodialisa itu besar, sekitar 50 meter persegi. Berisi belasan orang yang sedang dicuci darahnya.
Di antara deretan orang-orang yang terbaring itu, Rina memang agak tampak mencolok. Dia muda sendirian.
Tak heran bila sampai ada beberapa orang yang menyapa menanyakan Rina. Usia berapa, sakitnya gimana, udah cuci darah berapa kali, masih SMA ya? Sudah menikah? dst....hffff...
Rina anaknya ramah dan pandai ngobrol sama orang. Dia jawabnya ketawa ketiwi aja ditanya-tanya gitu.
Setelah bisa ngobrol enak, barulah saya tanya, emang dia kerasanya sakit gimana....
Awalnya kerasa mual aja katanya.
“Sapertos ngidam we kitu Teh. “, ceritanya pada saya.
Lama-lama mualnya makin parah, dan mata malah jadi buram. Periksa ke klinik mata, katanya ada infeksi. Minum antibiotik, malah tambah parah mualnya. Ganti antibiotik, tetep aja.
Akhirnya periksa ke rumah sakit ini.
“Saatos diobservasi, eh, ari pek teh kedah kieu....”, papar dia dalam bahasa sunda yang halus terjaga.
Eh, kemarin dia bilang kadar kreatininnya 24???? Ah masa sih. 2,4 kali ya. Tapi kalaupun 2,4 memang sudah mengindikasikan adanya gangguan ginjal. Normalnya kan 0,5 sd 1,5 mg/dl.
Dan kalaupun itu angka koefisien kreatinin yaitu jumlah kreatinin yang diekskresikan dalam 24 jam /kg BB, maka normalnya pada wanita adalah 14 sd 22 mg/kgBB. Maka 24 tetep aja ketinggian.
Rina mestinya lebih ngerti dari saya untuk urusan hasil cek lab begini. Lah dia perawat. Dia ngerti arti dari angka kreatinin itu sampe dia seperti gak mau tau lagi berapa kadar ureumnya. Padahal, dia bilang, dia gak masalah dengan minum dan buang air kecil. Semua biasa aja, dan rasanya udah nerapin pola hidup sehat. Tapi yaa... :(
“Gapapalah.. biar bisa mensyukuri hidup... hahaha”, kata dia, seperti menghibur diri.
Entahlah obrolan kami kemarin dari mulai masalah profesi sampe anak, kesannya seperti menghibur diri saja. Mengisi waktu nangkring 4 jam 'laundry'. Dengan alat yang memang mirip-mirip mesin cuci itu.
Rasanya ingin melupakan segala statement buruk tentang bagaimana nasib orang yang kerjaannya bolak balik cuci darah, walaupun katanya sih.. cuci darah ini biayanya ditanggung askes, kan dia PNS. Kalau harus bayar, pertama cuci darah ini 650ribu, dan selanjutnya 450 ribu sekali cuci. Dan harus seminggu dua kali !! Wow..
Untuk tanggungan biaya oleh askes ini pun dia berulang-ulang ucap hamdalah.
Eh, ngeliat dia terbaring, jadi inget almarhumah ibunya. Ibunya adalah adik mamah saya. Dulu meninggal saat Rina dan kakanya masih SD, sedangkan adiknya masih balita. Inget aja dulu saya pake baju SMA, sebelum sekolah nengok beliau dulu di RS, karena katanya bibi saya ini pengen ketemu sama saya.
Sesampainya di RS, saya malah gak ngobrol sedikitpun sama beliau. Kebayang wajahnya sampe sekarang, .. hiks.. yang di sana sini banyak darah beku yang sulit dibersihkan karena beliau mengidap kanker darah alias leukeumia stadium akhir. Cuma air matanya aja yang keluar ngeliat saya. Hik hik.
Setelah ibunya Rina ini meninggal, silaturahim kami jadi merenggang. Rina dan keluarganya hanya menyempatkan bertemu kami saat lebaran saja. Mungkin karena ingin melupakan kenangan mereka bersama bibi saya ini ya, karena kalau lihat mamah dan saudara-saudara yang lain, pasti mereka inget almarhumah. Wajahnya hampir mirip.
Karena kesibukan sekolah, kuliah, dst, saya cuma dengar kabar sekilas sekilas saja tentang ayahnya Rina yang menikah lagi, Rina jadi perawat, kemudian tentu saja saya hadir pada pernikahan Rina yang meriah. Rina dipersunting pemuda ganteng dan kaya :)
Ya bagaimanapun cuci darah bukan akhir dari segalanya ya? Masih banyak opsi yang bisa kita lakukan. Jaman sekarang banyak cara canggih. Apalagi kalau uang ada.
Perbanyak do'a, karena ternyata memang bagi Allah, bila mudah baginya mendatangkan sakit, maka pasti mudah pula bagi Allah untuk mencabutnya.
Dan kemudian ini adalah, sebuah peringatan bagi saya, agar bisa seperti yang tadi Rina bilang,
“.. biar bisa menyukuri hidup.. ”
Ya ampun itu kata-katanya kok jadi terngiang-ngiang terus. Mungkin karena saya tau, mensyukuri hidup itu bukanlah hanya sekedar mengucap hamdalah, namun menjadi rentetan panjang konsekuensi dari sehat dan nikmat yang telah Allah berikan.
***
Selasa, 15 Mei 2012
Jumat, 11 Mei 2012
Katanya Itu Karena Kelebihan Energi.
***
Berawal dari note seorang teman di facebook, yang bikin saya ngiri. Bukan ngiri dengki, tapi harangiri. Plesetan dari Harakiri. Nunjuk-nunjuk diri sendiri yang sepertinya tertinggal jauh. Jauh sekali dibanding dia.
Namun apa daya memang waktu gak akan bisa kembali. Mana bisa saya kembali ke golden age di mana saya bisa mengembangkan kapasitas otak ini, menyambungkan berbagai neuron di dalamnya, dan mengkreasikan impuls impulsnya? Sehingga saya hari ini bisa menjadi lebih baik daripada saya yang hari ini pada kenyataannya?
Maka curhatlah saya sama seorang teman yang tidak akan saya sebutkan namanya. Dia bilang sesuatu yang bikin saya mikir.. Dia bilang, perempuan seusia saya, yang punya anak paling kecil 7 tahun (baca: nyantei), pasti punya 'kelebihan energi'. Barangkali kelebihan energi itulah yang seakan meledak, membuat saya galau melihat orang-orang yang lebih hebat.
“Saya mestinya bisa sehebat dia”, kurang lebih begitulah ledakannya.
Hemmm.. kelebihan energi.
Energi harus menemukan tempat penyalurannya hingga menjadi sebuah bentuk manfaat. Barangkali memang inilah yang membuat saya galau jika hanya berdiam diri, tanpa aktivitas apapun. Bila penyaluran energi ini mengalir ke tempat yang salah, maka saya akan semakin galau. Dan jika penyaluran energi ini ke arah yang positif, terasa sangat bahagianya.
Perlahan saya mulai meninggalkan harangiri saya terhadap teman saya penulis note itu. Beralih menjadi pemikiran terhadap diri sendiri saja. Mengenai kelebihan energi tadi dan apa yang bisa saya lakukan untuk menyalurkannya. Mengingat waktu yang tak bisa terulang, dan apa yang telah saya miliki sekarang.
Bila saat ini saya hanya dikaruniai dua anak saja, dan Allah belum kunjung mengamanahi saya anak ketiga, maka barangkali saya jadi punya kelebihan energi untuk mengurus hal-hal di luar anak dan rumah tangga.
Dan bila anak saya “hanya dua”, maka mestinya saya bisa dengan powerfull (atas izin Allah) untuk bisa melejitkan anak-anak saya menjadi anak-anak yang luar biasa.
Kalau ditanya cita-cita, maka cita-cita saya tinggi, tapi itu adalah untuk anak-anak saya. Untuk hidup saya rasanya melawan sunnatullah jika saya bercita-cita menjadi seorang profesor sains. Tapi bila saya berharap seorang Arif menjadi profesor lulusan Jerman misalnya, maka itu masih sangat memungkinkan untuk diusahakan dengan tahap yang jelas. Ya nggak sih?
Dan Sofi, yang kelihatan sabar, ngasuh, .. barangkali dia bisa jadi seorang dokter atau perawat yang disukai pasien-pasiennya? Dokter spesialis anak misalnya?
Ah, saya tidak akan banyak menuntut pada anak-anak saya. Segala cita-cita haruslah lahir dari pemikiran dan hati mereka sendiri. Bukan atas paksaan saya.
Tinggal saya yang harus memompa semangat mereka untuk berani punya cita-cita yang seeeetinggi-tingginya. Mumpung mereka masih muda. Energi dan otak anak-anak itu adalah sebuah keajaiban. Tak seperti otak saya yang sudah gampang ngebul.
Maka dengan kelebihan energi ini mestinya saya bisa jadi ibu yang semangat. Ibu yang bisa membimbing anak-anak saya meraih cita-citanya dan bermanfaat sebesar-besarnya bagi umat.
Aiiihhh.. sungguh... sesuatu.
Dan untuk saya sendiri, mestinya gak boleh juga ada malas bila saya menyadari tentang kelebihan energi ini. Dipikir-pikir banyak hal yang bisa saya lakukan untuk memperbaiki diri. Gak ada kata telat sebelum mati kan ya?
Ah pokonya banyak deh yang bisa saya lakukan dengan apa yang saya punya sekarang, entahlah itu menghasilkan duit apa tidak, saya gak peduli, toh beban nafkah alhamduliLlah masih ditanggung suami. Tinggal satu aja, yaitu saya harus menyalurkannya ke arah yang positif. Biar Allah ridho. Biar Allah menambahkan nikmatnya karena dengan memanfaatkan potensi di jalan Allah itu berarti kita termasuk orang-orang yang bersyukur.
Iya gak siiiih? –> nanya kayak gini biasanya karena gak pede.. ahhaha...
bismiLlah we yuks... Allah tidak akan mengubah keadaan jika kita sendiri tidak berusaha untuk mengubahnya...
***
Berawal dari note seorang teman di facebook, yang bikin saya ngiri. Bukan ngiri dengki, tapi harangiri. Plesetan dari Harakiri. Nunjuk-nunjuk diri sendiri yang sepertinya tertinggal jauh. Jauh sekali dibanding dia.
Namun apa daya memang waktu gak akan bisa kembali. Mana bisa saya kembali ke golden age di mana saya bisa mengembangkan kapasitas otak ini, menyambungkan berbagai neuron di dalamnya, dan mengkreasikan impuls impulsnya? Sehingga saya hari ini bisa menjadi lebih baik daripada saya yang hari ini pada kenyataannya?
Maka curhatlah saya sama seorang teman yang tidak akan saya sebutkan namanya. Dia bilang sesuatu yang bikin saya mikir.. Dia bilang, perempuan seusia saya, yang punya anak paling kecil 7 tahun (baca: nyantei), pasti punya 'kelebihan energi'. Barangkali kelebihan energi itulah yang seakan meledak, membuat saya galau melihat orang-orang yang lebih hebat.
“Saya mestinya bisa sehebat dia”, kurang lebih begitulah ledakannya.
Hemmm.. kelebihan energi.
Energi harus menemukan tempat penyalurannya hingga menjadi sebuah bentuk manfaat. Barangkali memang inilah yang membuat saya galau jika hanya berdiam diri, tanpa aktivitas apapun. Bila penyaluran energi ini mengalir ke tempat yang salah, maka saya akan semakin galau. Dan jika penyaluran energi ini ke arah yang positif, terasa sangat bahagianya.
Perlahan saya mulai meninggalkan harangiri saya terhadap teman saya penulis note itu. Beralih menjadi pemikiran terhadap diri sendiri saja. Mengenai kelebihan energi tadi dan apa yang bisa saya lakukan untuk menyalurkannya. Mengingat waktu yang tak bisa terulang, dan apa yang telah saya miliki sekarang.
Bila saat ini saya hanya dikaruniai dua anak saja, dan Allah belum kunjung mengamanahi saya anak ketiga, maka barangkali saya jadi punya kelebihan energi untuk mengurus hal-hal di luar anak dan rumah tangga.
Dan bila anak saya “hanya dua”, maka mestinya saya bisa dengan powerfull (atas izin Allah) untuk bisa melejitkan anak-anak saya menjadi anak-anak yang luar biasa.
Kalau ditanya cita-cita, maka cita-cita saya tinggi, tapi itu adalah untuk anak-anak saya. Untuk hidup saya rasanya melawan sunnatullah jika saya bercita-cita menjadi seorang profesor sains. Tapi bila saya berharap seorang Arif menjadi profesor lulusan Jerman misalnya, maka itu masih sangat memungkinkan untuk diusahakan dengan tahap yang jelas. Ya nggak sih?
Dan Sofi, yang kelihatan sabar, ngasuh, .. barangkali dia bisa jadi seorang dokter atau perawat yang disukai pasien-pasiennya? Dokter spesialis anak misalnya?
Ah, saya tidak akan banyak menuntut pada anak-anak saya. Segala cita-cita haruslah lahir dari pemikiran dan hati mereka sendiri. Bukan atas paksaan saya.
Tinggal saya yang harus memompa semangat mereka untuk berani punya cita-cita yang seeeetinggi-tingginya. Mumpung mereka masih muda. Energi dan otak anak-anak itu adalah sebuah keajaiban. Tak seperti otak saya yang sudah gampang ngebul.
Maka dengan kelebihan energi ini mestinya saya bisa jadi ibu yang semangat. Ibu yang bisa membimbing anak-anak saya meraih cita-citanya dan bermanfaat sebesar-besarnya bagi umat.
Aiiihhh.. sungguh... sesuatu.
Dan untuk saya sendiri, mestinya gak boleh juga ada malas bila saya menyadari tentang kelebihan energi ini. Dipikir-pikir banyak hal yang bisa saya lakukan untuk memperbaiki diri. Gak ada kata telat sebelum mati kan ya?
Ah pokonya banyak deh yang bisa saya lakukan dengan apa yang saya punya sekarang, entahlah itu menghasilkan duit apa tidak, saya gak peduli, toh beban nafkah alhamduliLlah masih ditanggung suami. Tinggal satu aja, yaitu saya harus menyalurkannya ke arah yang positif. Biar Allah ridho. Biar Allah menambahkan nikmatnya karena dengan memanfaatkan potensi di jalan Allah itu berarti kita termasuk orang-orang yang bersyukur.
Iya gak siiiih? –> nanya kayak gini biasanya karena gak pede.. ahhaha...
bismiLlah we yuks... Allah tidak akan mengubah keadaan jika kita sendiri tidak berusaha untuk mengubahnya...
***
Selasa, 17 April 2012
Kenapa gak mau ikut reuni SMP ??
***
"Sekarang, aku adalah aku yang sudah jadi aku yang sekarang. Jika untuk masa depan, itu adalah urusan pmikiran. Dan masa lalu adalah urusan perasaan" -pidibaiq-
Ah, quote Pidi Baiq itu seperti menerjemahkan isi kepala saya saat ini. Saat beberapa gelintir teman ribut mau reunian SMP, sementara saya hanya jadi penonton.
Kenapa ya saya sama sekali tidak mau ikut reuni SMP?
Padahal di SMP banyak prestasi yang saya ukir, banyak kenangan baik yang saya rekam.
Di SMP, saya gak pernah lebih rendah dari juara kedua di kelas.
Di SMP, saya jadi juara umum dengan NEM tertinggi, baik saat masuk, maupun saat keluar.
Di SMP, saya temukan cinta pertama saya. Tapi cinta monyet. Jadi gak gimana-gimana.
Di SMP, saya baligh dan mulai mengenakan pakaian yang menutup aurat.
Itu... oke semua kan?
Lantas kenapa saya gak mau ikut reunian SMP?
Sementara kalau reunian SMA saya semangaaaat sekali. Mau siapapun yang ajak, biasanya saya langsung hayuuuu...
Padahal di SMA, saya bukan siapa-siapa. Pengen tau ranking kelas saya waktu SMA? Ini berurut enam semester loh yah:
9 dari 39 –
15 dari 39 –
33 dari 52 –
15 dari 52 –
24 dari 54 – dan
26 dari 54
Hahaha.... sungguh memalukan yak.
Ya kalo masalah ketenaran mah di SMA juga mayan sih katanya termasuk golongan orang-orang terkenal (meureun.. hehe). Ya hanya karena saya sempat memegang amanah sebagai wakil pimpinan organisasi terbesar di SMA selama satu tahun. Itu aja kali yang bikin saya dikenal banyak teman sewaktu SMA.
Di SMA saya merasa mulai jadi diri sendiri. Dikenal tidak terlalu pandai dalam pelajaran, tapi saya bisa mencapai kedekatan hati dengan teman-teman. Beberapa orang mungkin menganggap saya sok alim dan sempat sebal dengan sikap saya yang keras saat mengingatkan urusan agama.
(Masa sih Pitut bilang dulu saya larang dia main pingpong di kelas karena itu perbuatan sia-sia? Gak inget saya.. Tapi rasanya iya yah dulu saya paling anti pingpong kelas?.... Hadoooh... kacow pisan si gueh)
Tapi di balik pendapat mereka yang nganggap saya sok alim, kerasa banget kalau mereka naruh kepercayaan besar sama saya. Kerasanya sampe sekarang. Hubungan saya sama seluruh anggota kelas baiiiik semuanya.
Jadi kenapa saya gak mau ikut reuni SMP?
Bisa jadi karena saya sudah terlanjur dianggap anak pintar sama mereka. Padahal saya sama sekali gak ngerasa gitu. Hubungan saya dengan mereka, rasanya masih seperti hubungan antar siswa.
Sementara saya tau, teman-teman SMA saya menganggap saya adalah anak yang tidak terlalu pandai, tapi bisa dijadikan kawan. Dan saya memang inginnya seperti itu.
Barusan saya telpon teman SMP saya, sekaligus teman SMA saya, sekaligus teman kuliah saya hingga teman curhat saya sampai saat ini. Dia waktu SMP juga juara kelas. Tapi di kelas lain.
“Kamu mau dateng reuni SMP?”
Dan jawaban dia... seperti yang sudah saya duga... sama persis dengan apa yang saya rasakan. Bahkan lebih buruk =P
Huhu. Tadinya sih kalo dia dateng, saya juga mau dateng. Ternyata engga … yaudah. Akhirnya kami sepakat untuk tidak hadir di acara reuni nanti.. heu heu heu... salah gak yaaa.. tapi da gak mauuuu.... kayaknya ntar bakal kaku banget deeeeh :((
Kalo dianggap sombong gimana? Tapi da engga gituuuu....
****
"Sekarang, aku adalah aku yang sudah jadi aku yang sekarang. Jika untuk masa depan, itu adalah urusan pmikiran. Dan masa lalu adalah urusan perasaan" -pidibaiq-
Ah, quote Pidi Baiq itu seperti menerjemahkan isi kepala saya saat ini. Saat beberapa gelintir teman ribut mau reunian SMP, sementara saya hanya jadi penonton.
Kenapa ya saya sama sekali tidak mau ikut reuni SMP?
Padahal di SMP banyak prestasi yang saya ukir, banyak kenangan baik yang saya rekam.
Di SMP, saya gak pernah lebih rendah dari juara kedua di kelas.
Di SMP, saya jadi juara umum dengan NEM tertinggi, baik saat masuk, maupun saat keluar.
Di SMP, saya temukan cinta pertama saya. Tapi cinta monyet. Jadi gak gimana-gimana.
Di SMP, saya baligh dan mulai mengenakan pakaian yang menutup aurat.
Itu... oke semua kan?
Lantas kenapa saya gak mau ikut reunian SMP?
Sementara kalau reunian SMA saya semangaaaat sekali. Mau siapapun yang ajak, biasanya saya langsung hayuuuu...
Padahal di SMA, saya bukan siapa-siapa. Pengen tau ranking kelas saya waktu SMA? Ini berurut enam semester loh yah:
9 dari 39 –
15 dari 39 –
33 dari 52 –
15 dari 52 –
24 dari 54 – dan
26 dari 54
Hahaha.... sungguh memalukan yak.
Ya kalo masalah ketenaran mah di SMA juga mayan sih katanya termasuk golongan orang-orang terkenal (meureun.. hehe). Ya hanya karena saya sempat memegang amanah sebagai wakil pimpinan organisasi terbesar di SMA selama satu tahun. Itu aja kali yang bikin saya dikenal banyak teman sewaktu SMA.
Di SMA saya merasa mulai jadi diri sendiri. Dikenal tidak terlalu pandai dalam pelajaran, tapi saya bisa mencapai kedekatan hati dengan teman-teman. Beberapa orang mungkin menganggap saya sok alim dan sempat sebal dengan sikap saya yang keras saat mengingatkan urusan agama.
(Masa sih Pitut bilang dulu saya larang dia main pingpong di kelas karena itu perbuatan sia-sia? Gak inget saya.. Tapi rasanya iya yah dulu saya paling anti pingpong kelas?.... Hadoooh... kacow pisan si gueh)
Tapi di balik pendapat mereka yang nganggap saya sok alim, kerasa banget kalau mereka naruh kepercayaan besar sama saya. Kerasanya sampe sekarang. Hubungan saya sama seluruh anggota kelas baiiiik semuanya.
Jadi kenapa saya gak mau ikut reuni SMP?
Bisa jadi karena saya sudah terlanjur dianggap anak pintar sama mereka. Padahal saya sama sekali gak ngerasa gitu. Hubungan saya dengan mereka, rasanya masih seperti hubungan antar siswa.
Sementara saya tau, teman-teman SMA saya menganggap saya adalah anak yang tidak terlalu pandai, tapi bisa dijadikan kawan. Dan saya memang inginnya seperti itu.
Barusan saya telpon teman SMP saya, sekaligus teman SMA saya, sekaligus teman kuliah saya hingga teman curhat saya sampai saat ini. Dia waktu SMP juga juara kelas. Tapi di kelas lain.
“Kamu mau dateng reuni SMP?”
Dan jawaban dia... seperti yang sudah saya duga... sama persis dengan apa yang saya rasakan. Bahkan lebih buruk =P
Huhu. Tadinya sih kalo dia dateng, saya juga mau dateng. Ternyata engga … yaudah. Akhirnya kami sepakat untuk tidak hadir di acara reuni nanti.. heu heu heu... salah gak yaaa.. tapi da gak mauuuu.... kayaknya ntar bakal kaku banget deeeeh :((
Kalo dianggap sombong gimana? Tapi da engga gituuuu....
****
Selasa, 27 Maret 2012
kenang - perjalanan
***
Ini palingan lagi mellow. Biarlah karena saya ingin ngantuk.
Di rumah.
Rumah yang saya tempati sejak tahun 2003.
Begitu banyak kenangan di rumah ini, yang indah tentu saja.
Tentang suamiku.. tentang Arif, tentang Sofi..
Arif yang pertama pindah ke sini dikangenin sama bapak mertua.
Arif yang lagi seneng2nya sama kereta api, sampe buku keretanya sobek sobek.
Arif yang lagi suka sukanya sama mobil VW
dan mobil tukang roti tip top yang tiap pagi lewat.
Film favoritnya adalah dora the explorer dan telettubies
Saya, adalah saya yang masih belajar memasak
Belom musim internet sehingga saya kesulitan mencari resep
Telpon mamah tentu saja untuk nanyain resep ini itu.
Bersyukur waktu itu kami masih bisa makan.
Karena rasanya makanan saya tidak layak dimakan.
Kemudian lahirlah Sofi.
Si anak umi yang periang.
Lesung pipitnya di kiri kanan.
Arif jadi punya teman.
Mereka ke sana kemari selalu berdua.
Arif yang sudah bisa baca, diikuti oleh Sofi yang pura-pura bisa baca.
Saya ngikik sendiri denger Sofi ngarang cerita.
Suamiku.
Suamiku yang gak pernah berubah.
Tetap dengan istiqomahnya.
Yang saya selalu tentram ada di sampingnya
Eh, gini aja nangis ya.
Tapi sungguh, hari ini juga pasti jadi kenangan di masa datang
Saat Sofi yang jelang 8 tahun, dan Arif yang jelang 10 tahun.
Yang mereka masih berkumpul di rumah ini
Yang membuat saya tertawa, ataupun marah di rumah ini.
Suatu saat mereka akan pergi
bersama kehidupannya sendiri.
Semoga pada hari saat saya melepaskan kedua anak panah ini,
Saya menjadi busur dengan tarikan terbaik
sehingga mereka bisa meluncur, tepat di sasarannya
tanpa jatuh, tanpa berbelok
Kalau boleh memilih, barangkali saya ingin mereka selalu ada dalam dekapan saya
seperti malam ini.
ada Arif, ada Sofi, ada suamiku
Indahnya adalah luar biasa
jika kami bisa terus bersama
sampai di surga
selamanya
Ini palingan lagi mellow. Biarlah karena saya ingin ngantuk.
Di rumah.
Rumah yang saya tempati sejak tahun 2003.
Begitu banyak kenangan di rumah ini, yang indah tentu saja.
Tentang suamiku.. tentang Arif, tentang Sofi..
Arif yang pertama pindah ke sini dikangenin sama bapak mertua.
Arif yang lagi seneng2nya sama kereta api, sampe buku keretanya sobek sobek.
Arif yang lagi suka sukanya sama mobil VW
dan mobil tukang roti tip top yang tiap pagi lewat.
Film favoritnya adalah dora the explorer dan telettubies
Saya, adalah saya yang masih belajar memasak
Belom musim internet sehingga saya kesulitan mencari resep
Telpon mamah tentu saja untuk nanyain resep ini itu.
Bersyukur waktu itu kami masih bisa makan.
Karena rasanya makanan saya tidak layak dimakan.
Kemudian lahirlah Sofi.
Si anak umi yang periang.
Lesung pipitnya di kiri kanan.
Arif jadi punya teman.
Mereka ke sana kemari selalu berdua.
Arif yang sudah bisa baca, diikuti oleh Sofi yang pura-pura bisa baca.
Saya ngikik sendiri denger Sofi ngarang cerita.
Suamiku.
Suamiku yang gak pernah berubah.
Tetap dengan istiqomahnya.
Yang saya selalu tentram ada di sampingnya
Eh, gini aja nangis ya.
Tapi sungguh, hari ini juga pasti jadi kenangan di masa datang
Saat Sofi yang jelang 8 tahun, dan Arif yang jelang 10 tahun.
Yang mereka masih berkumpul di rumah ini
Yang membuat saya tertawa, ataupun marah di rumah ini.
Suatu saat mereka akan pergi
bersama kehidupannya sendiri.
Semoga pada hari saat saya melepaskan kedua anak panah ini,
Saya menjadi busur dengan tarikan terbaik
sehingga mereka bisa meluncur, tepat di sasarannya
tanpa jatuh, tanpa berbelok
Kalau boleh memilih, barangkali saya ingin mereka selalu ada dalam dekapan saya
seperti malam ini.
ada Arif, ada Sofi, ada suamiku
Indahnya adalah luar biasa
jika kami bisa terus bersama
sampai di surga
selamanya
Jumat, 20 Januari 2012
Renovasi Rumah (5)
***
Yaa ampuuun.. udah lama pisan saya gak nulis ya, dan rasanya banyak sekali hikmah dan suasana hati yang jadinya tak sempat terlukiskan. Halah.
Renovasi rumahku udah hampir selesai, teman-teman. AlhamduliLlaah, berjuta syukur alhamduliLlah.
Saya begitu merindukan kehidupan saya, suami, dan anak-anak di rumah sendiri. Mau berantakan, mau setrikaan numpuk, mau males masak, tetep aja menyenangkan itu yang namanya ada di rumah sendiri. Tentu saja asal kita rukun sama anak dan suami. Hehe. Itu faktor utama yang bikin kita betah di rumah bukan?
Sekarang lagi mikirin angkut-angkut barang kembali ke rumah. Untuk barang-barang besar seperti lemari, mesin cuci, meja kursi, alhamduliLlah ada yang mau meminjamkan rumah kosongnya untuk ditempati. Cuma kehalang satu rumah dari rumah saya. Rumah itu baru dibeli oleh seorang bernama Pak Ferry. Orang kalimantan, sahabat dekatnya Pak Imam, tetangga belakang rumah. Belum berniat untuk menempati rumah itu segera.
Pak Imam dan Pak Ferry baik banget orangnya. Saya pikir mereka saudaraan, taunya katanya cuma teman aja, tapi deket banget jadi kayak saudara. Bu Imam juga orangnya baik. Entahlah Bu Ferry (ada atau tidak), karena saya tidak berani menanyakan apakah Pak Ferry sudah berkeluarga atau belum. Heheheh.
Sebulan lalu sempet bingung karena biaya kurang. Membengkak biayanya, dan perhitungannya memang jelas. Ada hal-hal tidak terduga yang muncul.
Namun lagi-lagi alhamduliLlah, ada yang bisa meminjamkan uangnya untuk kami pakai.
Walaupun pinjaman, tak apalah, daripada kami harus berhutang lagi ke bank.
Bapakku juga sampai ngasih tuh. Maka keseluruhan keramik yang kami pasang baru di rumah, adalah hadiah dari bapak.
Awal Februari nanti, insyaa Allah kami pindahan. Do'akan semoga kami bisa segera melunasi semua pinjaman itu.
***
Yaa ampuuun.. udah lama pisan saya gak nulis ya, dan rasanya banyak sekali hikmah dan suasana hati yang jadinya tak sempat terlukiskan. Halah.
Renovasi rumahku udah hampir selesai, teman-teman. AlhamduliLlaah, berjuta syukur alhamduliLlah.
Saya begitu merindukan kehidupan saya, suami, dan anak-anak di rumah sendiri. Mau berantakan, mau setrikaan numpuk, mau males masak, tetep aja menyenangkan itu yang namanya ada di rumah sendiri. Tentu saja asal kita rukun sama anak dan suami. Hehe. Itu faktor utama yang bikin kita betah di rumah bukan?
Sekarang lagi mikirin angkut-angkut barang kembali ke rumah. Untuk barang-barang besar seperti lemari, mesin cuci, meja kursi, alhamduliLlah ada yang mau meminjamkan rumah kosongnya untuk ditempati. Cuma kehalang satu rumah dari rumah saya. Rumah itu baru dibeli oleh seorang bernama Pak Ferry. Orang kalimantan, sahabat dekatnya Pak Imam, tetangga belakang rumah. Belum berniat untuk menempati rumah itu segera.
Pak Imam dan Pak Ferry baik banget orangnya. Saya pikir mereka saudaraan, taunya katanya cuma teman aja, tapi deket banget jadi kayak saudara. Bu Imam juga orangnya baik. Entahlah Bu Ferry (ada atau tidak), karena saya tidak berani menanyakan apakah Pak Ferry sudah berkeluarga atau belum. Heheheh.
Sebulan lalu sempet bingung karena biaya kurang. Membengkak biayanya, dan perhitungannya memang jelas. Ada hal-hal tidak terduga yang muncul.
Namun lagi-lagi alhamduliLlah, ada yang bisa meminjamkan uangnya untuk kami pakai.
Walaupun pinjaman, tak apalah, daripada kami harus berhutang lagi ke bank.
Bapakku juga sampai ngasih tuh. Maka keseluruhan keramik yang kami pasang baru di rumah, adalah hadiah dari bapak.
Awal Februari nanti, insyaa Allah kami pindahan. Do'akan semoga kami bisa segera melunasi semua pinjaman itu.
***
Jumat, 30 Desember 2011
dua ribu sebelas
***
Tiba-tiba kepikiran untuk mikirin apa aja yang saya dapet di 2011.
***
Semua proses yang saya alami di 2011, membuat saya bisa (saat ini) berada dalam posisi nyaman. Yaitu saya tau apa yang saya mau, dan tau apa yang saya bisa untuk membuat saya bahagia dan tenang hati.
Wajar juga kali ya, karena 2012 yang akan datang saya sudah memasuki usia 35 tahun.
Ya ampun, gak kebayang gue nyebutin umur tiga puluh lima tahun walau saya melaluinya dalam tahap perkembangan manusia yang cukup ideal (sudah menikah, punya anak sudah menjelang remaja, punya rumah, kendaraan, dinafkahi, dan rukun dengan suami). Tapi tetep we ketar ketir denger usia 35 ini.
Saya banyak mengenali diri karena saya punya teman-teman yang rajin mengomentari saya, yang kemudian komentar-komentarnya itu saya masukin ke hati. Bukan buat menyakiti diri, tapi untuk saya renungkan.
Bukan komentar di jejaring sosial lho ya, tapi celetukan-celetukan yang bilang "elu itu gini gini gini.. kamu itu gitu gitu gitu", baik memuji maupun mengkritik. Secara lisan, maupun tulisan berupa chat/sms.
Hasilnya adalah luar biasa membuat saya bisa nyadar siapa saya, apa potensi saya, apa kelemahan saya. Atau minimal membuat saya tau, kalau saya galau, itu saya mesti ngapain biar gak berlanjut galaunya :)
Eh, kemaren kan ada yang bilang gue itu tingkahnya kayak monyet.. heuuuh :D :D
Oya taun 2011 ini kan saya berhasil nerbitin buku yaaa, walaupun pake self publisher. Keroyokan pula.
Tapi saya suka sambutan teman-teman atas buku itu. Malah seriiiiing banget ada yang nanya, kapan bikin buku lagi. Padahal target saya bikin buku ya hanya untuk membukukan pemikiran saya aja. Berharap anak cucu sampai cicit saya nanti bisa tetap membacanya.
2012 saya bertarget membuat satu buku lagi. Dengan tujuan yang sama saja seperti kemarin, membukukan pemikiran. Pengen anak saya nanti bisa mengkoleksi buku ibunya. Cucu saya nanti bisa mengkoleksi buku neneknya. Dan seterusnya.
Do'a saya atas buku itu juga sama seperti kemarin. Bila isinya membawa kebaikan, mohon sebarkanlah, banyaklah orang yang baca. Bila membawa keburukan,mohon tahanlah, biar sedikit saja orang yang membacanya.
Dann 2011 ini, saya mulai renovasi rumah teaaaaa :)
Tadinya impian, tapi bila Allah menghendaki memang akan mudah jadi kenyataan :)
Semoga rumahnya cepet selesai, dan barokah :)
Mau nulis terus, tapi nguantukkknyaaa luar biasa.
***
Tiba-tiba kepikiran untuk mikirin apa aja yang saya dapet di 2011.
***
Semua proses yang saya alami di 2011, membuat saya bisa (saat ini) berada dalam posisi nyaman. Yaitu saya tau apa yang saya mau, dan tau apa yang saya bisa untuk membuat saya bahagia dan tenang hati.
Wajar juga kali ya, karena 2012 yang akan datang saya sudah memasuki usia 35 tahun.
Ya ampun, gak kebayang gue nyebutin umur tiga puluh lima tahun walau saya melaluinya dalam tahap perkembangan manusia yang cukup ideal (sudah menikah, punya anak sudah menjelang remaja, punya rumah, kendaraan, dinafkahi, dan rukun dengan suami). Tapi tetep we ketar ketir denger usia 35 ini.
Saya banyak mengenali diri karena saya punya teman-teman yang rajin mengomentari saya, yang kemudian komentar-komentarnya itu saya masukin ke hati. Bukan buat menyakiti diri, tapi untuk saya renungkan.
Bukan komentar di jejaring sosial lho ya, tapi celetukan-celetukan yang bilang "elu itu gini gini gini.. kamu itu gitu gitu gitu", baik memuji maupun mengkritik. Secara lisan, maupun tulisan berupa chat/sms.
Hasilnya adalah luar biasa membuat saya bisa nyadar siapa saya, apa potensi saya, apa kelemahan saya. Atau minimal membuat saya tau, kalau saya galau, itu saya mesti ngapain biar gak berlanjut galaunya :)
Eh, kemaren kan ada yang bilang gue itu tingkahnya kayak monyet.. heuuuh :D :D
Oya taun 2011 ini kan saya berhasil nerbitin buku yaaa, walaupun pake self publisher. Keroyokan pula.
Tapi saya suka sambutan teman-teman atas buku itu. Malah seriiiiing banget ada yang nanya, kapan bikin buku lagi. Padahal target saya bikin buku ya hanya untuk membukukan pemikiran saya aja. Berharap anak cucu sampai cicit saya nanti bisa tetap membacanya.
2012 saya bertarget membuat satu buku lagi. Dengan tujuan yang sama saja seperti kemarin, membukukan pemikiran. Pengen anak saya nanti bisa mengkoleksi buku ibunya. Cucu saya nanti bisa mengkoleksi buku neneknya. Dan seterusnya.
Do'a saya atas buku itu juga sama seperti kemarin. Bila isinya membawa kebaikan, mohon sebarkanlah, banyaklah orang yang baca. Bila membawa keburukan,mohon tahanlah, biar sedikit saja orang yang membacanya.
Dann 2011 ini, saya mulai renovasi rumah teaaaaa :)
Tadinya impian, tapi bila Allah menghendaki memang akan mudah jadi kenyataan :)
Semoga rumahnya cepet selesai, dan barokah :)
Mau nulis terus, tapi nguantukkknyaaa luar biasa.
***
Senin, 12 Desember 2011
UAS ( 2)
***
Katakanlah namanya Cici, satu lagi Ayu. Mereka berdua adalah anak kelas 2 SMP yang bertugas membantu saya di ruang obat, saat sekolah mereka menyelenggarakan pengobatan gratis. Saya adalah apoteker penanggungjawab obat pada saat acara tersebut berlangsung. Tidak diminta hadir untuk persiapan sebelumnya, dan tidak pula dimintai laporan pertanggungjawaban setelahnya.
Perkiraan pasien katanya 60 orang, sementara saya apotekernya cuma sendirian, dan hanya dibantu kedua anak itu.
Gak apalah. Memang kondisi seperti itu kerap saya alami, saat saya hanya dibantu oleh 'asisten apoteker' yang tidak tau apa-apa. Training kilat pun dilakukan. Cara menulis etiket, cara membaca resep, dll. Sederhana, karena semua tinggal bungkus dan tulis. Gak ada obat racikan.
Kedua anak itu pun mengangguk ragu. Saya bilang tenang aja, ada saya yang bisa mereka tanyai. Dan kalaupun salah, toh obatnya lewat tangan saya dulu. Bisa saya periksa dulu. Setelah lima resep bisa, pasti ke sananya gampanglah. Kata saya pada mereka meyakinkan.
Satu pasien, dua pasien, lima pasien, sepuluh pasien... semua terlayani dengan baik. Sampai akhirnya lima sampai enam orang pasien berjejer di deretan kursi di depan kami, menunggu dilayani. Tidak berimbang memang tenaga di pengobatan gratis ini. Dokternya ada dua, sementara apoteker cuma satu. Jadi pasien terlalu cepat hadir di ruang obat, menyerahkan resep dari dokter.
“Tunggu ya Bu, Pak,” sapa saya pada para pasien itu yang semuanya wulan. Warga usia lanjut.
Dua puluh pasien terlayani, tiga puluh terlayani, empat puluh ....dan masih berlanjut.....
“Yoo.. tenang ajaaa...”, kata saya pada kedua asisten kecil saya sambil membantu mereka membungkus dan menuliskan etiket.
Meja obat mulai amburadul.
“Emmm.....,”... Ayu tampak kebingungan mencari nama obat yang sebenernya ada persis di depannya.
Saya tau dia mulai panik, sekaligus lelah.
Sementara Cici, dia bekerja cepat dan sigap, walau tampak panik juga melihat jumlah pasien yang nunggu semakin banyak. Sesekali Cici membantu Ayu yang tampak bingung dan bengong.
“PCT ituuuu... apa yaaa...”, gumam Ayu
“Paracetamol !!!”, kata Cici sambil tangannya terus bekerja.
Heaaaa... dari awal itu saya kasi tau kalo PCT itu paracetamol dan puluhan resep PCT sebenernya sudah dikerjakan sejak awal, dan kemudian Ayu blank pada saat hectic seperti ini. Malah lebih parah lagi... tampak malas.
“Ayo Ayuuuu... ,” kata saya menyemangati sang Ayu. Dia cemberut.
Ya sudahlah.
Pengemasan obat dan penyerahan terus berlangsung, dan akhirnya beres. Lima puluh sembilan resep dalam dua jam tanpa henti. Fyuh.
Cici membantu saya mengepak obat sisa, sementara Ayu terkulai. Kepalanya menelungkup di meja.
Hoho. Jangankan dia, ...saya pun capek dan lapar.
Saya lirik Cici. Dia tampak semangat dan ceria, seperti tak terjadi apa-apa tadi.
Kagum juga saya sama anak itu. Sepertinya dia cukup tangguh menghadapi tekanan dan pandai menguasai diri.
Sementara Ayu? Saya tidak menyalahkan Ayu yang begitu ekspresif. Capek ya capek. Sudah. Terserah kalian mau ngomong apa. Mungkin gitu dalam hatinya.
Orang seperti itu biasanya tak menyimpan beban di hati ya? Bebannya keluar semua hingga permukaan, dan mudah-mudahan dengan begitu hatinya tidak terlalu galau.
Setelah semua beres, Ayu ngeloyor pergi, sementara Cici mencium tangan saya sambil bilang terimakasih. (Oooh.. so sweet.. hahaha)
Kalo lihat anak orang, saya suka inget anak sendiri. Jadi mikir gimana agar anak-anak saya bisa tangguh menghadapi tekanan. Gak mudah stress, dan pandai menguasai diri. Tangguh tak hanya dalam penampakan, tapi bersumber dari jiwa yang pantang menyerah.
Ihhh... asik ya punya anak yang seperti itu?
Momen UAS, atau ujian sekolah anak sebenernya bisa kita sikapi sebagai simulasi, bagaimana anak menghadapi tantangan.
Sejauh mana usahanya, sejauh mana tanggungjawabnya, dan sejauh mana daya tahannya dalam kejenuhan rutinitas belajar.
Nilai juga bisa dijadikan simulasi, sebagai hasil dari apa yang telah anak usahakan, karena biasanya memang berbanding lurus walau tidak selalu.
Di note yang lalu saya sempat bingung bagaimana agar anak bisa belajar mandiri. Komen dari Mbak Nina Estanto cukup menjawab kebingungan saya. Kata beliau, kita harus berani menghadapi kegagalan anak di sekolah karena hasil usaha si anak sendiri. Biarkan mereka mendapatkan konsekuensi dari kemalasan dan kelalaiannya. Mudah-mudahan mereka bisa belajar dari sana.
Sungguh berat bagi saya kalau harus membiarkan anak-anak saya menerima nilai jelek, buku ketinggalan, gak ngerjain peer, misalnya. Walau secara kasat mata itu justru meringankan saya. Kan cuekin aja gitu. Hehe.
Sementara selama ini saya biasanya gak banyak omong. Seragam siapin, yang ketinggalan-ketinggalan gitu saya masukkan sendiri ke tas anak. Ngerjain peer ditungguin, bahan belajar saya siapin. Doooh....
Memang kalo begitu terus caranya, kapan anak-anak saya bisa mandiri dan menghadapi tantangan hidupnya sendiri ya? Kapan anak-anak saya bisa tahan menghadapi tekanan pelajaran dan tugas-tugas sekolahnya tanpa saya temani?
Kebayangnya sama saya mah, kita memang hanya berkewajiban mengingatkan, dan memberi contoh. Saat anak belajar, kitanya jangan nonton pelem. Saat anak ngerjain peer, kitanya jangan banyak ngobrol. Tetap menemani, siap ditanyai bila mereka menghadapi kesulitan, tapi biarkan mereka mengerjakan sendiri. Dan di kehidupan sehari-hari, kitanya jangan pernah kelihatan mengeluh, marah-marah, gampangan sedih, atau menyerah.
Bukankah anak akan meniru bagaimana cara orangtua mereka menyelesaikan masalah?
Hari ini hari terakhir anak-anak UAS. Saya pun lega. Karena diam-diam saya jenuh juga melayani mereka belajar.
Nah, mulai semeseter depan, siap-siap aja ya Arif dan Sofi, siapkan segala kewajibanmu sendiri. Lalu kita lihat apa yang terjadi.
***
Katakanlah namanya Cici, satu lagi Ayu. Mereka berdua adalah anak kelas 2 SMP yang bertugas membantu saya di ruang obat, saat sekolah mereka menyelenggarakan pengobatan gratis. Saya adalah apoteker penanggungjawab obat pada saat acara tersebut berlangsung. Tidak diminta hadir untuk persiapan sebelumnya, dan tidak pula dimintai laporan pertanggungjawaban setelahnya.
Perkiraan pasien katanya 60 orang, sementara saya apotekernya cuma sendirian, dan hanya dibantu kedua anak itu.
Gak apalah. Memang kondisi seperti itu kerap saya alami, saat saya hanya dibantu oleh 'asisten apoteker' yang tidak tau apa-apa. Training kilat pun dilakukan. Cara menulis etiket, cara membaca resep, dll. Sederhana, karena semua tinggal bungkus dan tulis. Gak ada obat racikan.
Kedua anak itu pun mengangguk ragu. Saya bilang tenang aja, ada saya yang bisa mereka tanyai. Dan kalaupun salah, toh obatnya lewat tangan saya dulu. Bisa saya periksa dulu. Setelah lima resep bisa, pasti ke sananya gampanglah. Kata saya pada mereka meyakinkan.
Satu pasien, dua pasien, lima pasien, sepuluh pasien... semua terlayani dengan baik. Sampai akhirnya lima sampai enam orang pasien berjejer di deretan kursi di depan kami, menunggu dilayani. Tidak berimbang memang tenaga di pengobatan gratis ini. Dokternya ada dua, sementara apoteker cuma satu. Jadi pasien terlalu cepat hadir di ruang obat, menyerahkan resep dari dokter.
“Tunggu ya Bu, Pak,” sapa saya pada para pasien itu yang semuanya wulan. Warga usia lanjut.
Dua puluh pasien terlayani, tiga puluh terlayani, empat puluh ....dan masih berlanjut.....
“Yoo.. tenang ajaaa...”, kata saya pada kedua asisten kecil saya sambil membantu mereka membungkus dan menuliskan etiket.
Meja obat mulai amburadul.
“Emmm.....,”... Ayu tampak kebingungan mencari nama obat yang sebenernya ada persis di depannya.
Saya tau dia mulai panik, sekaligus lelah.
Sementara Cici, dia bekerja cepat dan sigap, walau tampak panik juga melihat jumlah pasien yang nunggu semakin banyak. Sesekali Cici membantu Ayu yang tampak bingung dan bengong.
“PCT ituuuu... apa yaaa...”, gumam Ayu
“Paracetamol !!!”, kata Cici sambil tangannya terus bekerja.
Heaaaa... dari awal itu saya kasi tau kalo PCT itu paracetamol dan puluhan resep PCT sebenernya sudah dikerjakan sejak awal, dan kemudian Ayu blank pada saat hectic seperti ini. Malah lebih parah lagi... tampak malas.
“Ayo Ayuuuu... ,” kata saya menyemangati sang Ayu. Dia cemberut.
Ya sudahlah.
Pengemasan obat dan penyerahan terus berlangsung, dan akhirnya beres. Lima puluh sembilan resep dalam dua jam tanpa henti. Fyuh.
Cici membantu saya mengepak obat sisa, sementara Ayu terkulai. Kepalanya menelungkup di meja.
Hoho. Jangankan dia, ...saya pun capek dan lapar.
Saya lirik Cici. Dia tampak semangat dan ceria, seperti tak terjadi apa-apa tadi.
Kagum juga saya sama anak itu. Sepertinya dia cukup tangguh menghadapi tekanan dan pandai menguasai diri.
Sementara Ayu? Saya tidak menyalahkan Ayu yang begitu ekspresif. Capek ya capek. Sudah. Terserah kalian mau ngomong apa. Mungkin gitu dalam hatinya.
Orang seperti itu biasanya tak menyimpan beban di hati ya? Bebannya keluar semua hingga permukaan, dan mudah-mudahan dengan begitu hatinya tidak terlalu galau.
Setelah semua beres, Ayu ngeloyor pergi, sementara Cici mencium tangan saya sambil bilang terimakasih. (Oooh.. so sweet.. hahaha)
Kalo lihat anak orang, saya suka inget anak sendiri. Jadi mikir gimana agar anak-anak saya bisa tangguh menghadapi tekanan. Gak mudah stress, dan pandai menguasai diri. Tangguh tak hanya dalam penampakan, tapi bersumber dari jiwa yang pantang menyerah.
Ihhh... asik ya punya anak yang seperti itu?
Momen UAS, atau ujian sekolah anak sebenernya bisa kita sikapi sebagai simulasi, bagaimana anak menghadapi tantangan.
Sejauh mana usahanya, sejauh mana tanggungjawabnya, dan sejauh mana daya tahannya dalam kejenuhan rutinitas belajar.
Nilai juga bisa dijadikan simulasi, sebagai hasil dari apa yang telah anak usahakan, karena biasanya memang berbanding lurus walau tidak selalu.
Di note yang lalu saya sempat bingung bagaimana agar anak bisa belajar mandiri. Komen dari Mbak Nina Estanto cukup menjawab kebingungan saya. Kata beliau, kita harus berani menghadapi kegagalan anak di sekolah karena hasil usaha si anak sendiri. Biarkan mereka mendapatkan konsekuensi dari kemalasan dan kelalaiannya. Mudah-mudahan mereka bisa belajar dari sana.
Sungguh berat bagi saya kalau harus membiarkan anak-anak saya menerima nilai jelek, buku ketinggalan, gak ngerjain peer, misalnya. Walau secara kasat mata itu justru meringankan saya. Kan cuekin aja gitu. Hehe.
Sementara selama ini saya biasanya gak banyak omong. Seragam siapin, yang ketinggalan-ketinggalan gitu saya masukkan sendiri ke tas anak. Ngerjain peer ditungguin, bahan belajar saya siapin. Doooh....
Memang kalo begitu terus caranya, kapan anak-anak saya bisa mandiri dan menghadapi tantangan hidupnya sendiri ya? Kapan anak-anak saya bisa tahan menghadapi tekanan pelajaran dan tugas-tugas sekolahnya tanpa saya temani?
Kebayangnya sama saya mah, kita memang hanya berkewajiban mengingatkan, dan memberi contoh. Saat anak belajar, kitanya jangan nonton pelem. Saat anak ngerjain peer, kitanya jangan banyak ngobrol. Tetap menemani, siap ditanyai bila mereka menghadapi kesulitan, tapi biarkan mereka mengerjakan sendiri. Dan di kehidupan sehari-hari, kitanya jangan pernah kelihatan mengeluh, marah-marah, gampangan sedih, atau menyerah.
Bukankah anak akan meniru bagaimana cara orangtua mereka menyelesaikan masalah?
Hari ini hari terakhir anak-anak UAS. Saya pun lega. Karena diam-diam saya jenuh juga melayani mereka belajar.
Nah, mulai semeseter depan, siap-siap aja ya Arif dan Sofi, siapkan segala kewajibanmu sendiri. Lalu kita lihat apa yang terjadi.
***
Sabtu, 10 Desember 2011
UAS
***
Iseng menulis di tengah kejenuhan menemani anak-anak belajar untuk UAS. Baru kali ini rasanya saya agak-agak eungap gitu ngadepinnya. Sofi masih mending banget. Kelas 2 masih cetek lah. Sepertinya tanpa belajar pun dia sudah bisa mendapat nilai bagus karena dia tampak menyimak apa yang diajarkan guru di kelasnya. Melihat LKS-LKSnya Sofi, nilainya 90-100. Sama seperti Arif dulu. Asal masuk sekolah dan menyimak, bereslah.
Kelas 4 rupanya lain ya? Lain banget dibanding kelas 3 dan sebelumnya.
Bagi yang ngikutin status FB saya semester ini barangkali pernah melihat saya cukup megap megap melihat kurikulum kelas 4 SD yang sama dengan pelajaran saya waktu SMP.
Bukan masalah bisa atau tidaknya, karena dulu saya SMP, ya lumayanlah gitu, masih ada di itungan juara kelas...... Jadi ya saya bisa mah .. ya bisa.
Sekali lagi ini bukan masalah bisa atau tidaknya, tapi bagaimana agar Arif enjoy belajarnya. Bisa mengerti tidak hanya menghafal. Tahan dengan kejenuhan, dan pantang stress.
Saya pikir ini dulu saya belajar yang kayak gini dengan jiwa daya tahan seorang remaja 13 tahun dengan lingkungan sebuah sekolah menengah. Dan sekarang pelajaran ini dihadapkan pada jiwa seorang anak 9 tahun dengan lingkungan sekolah dasar yang masih jadi lingkungan bermain.
Bagaimana saya bisa berempati dan menyesuaikan cara mengajar?
Saya bilang cara mengajar karena saya kasihan banget kalo kita serahkan semua pada guru di sekolah. Kurikulumnya seabreg gitu.
Tentunya kita sebagai orang tua harus bantu juga ya mengajar anak. Dengan bahasa kita yang mungkin lebih dipahami anak.
Mungkin loh.
Mungkin lebih dipahami kalau kita mengajarnya dengan emosi yang stabil. Da kadang ngajarin anak di rumah teh keselnya luar biasa. Lah kita sendiri harus ngerjain ini itu, anak tergoda ini itu, susah juga untuk bisa mengumpulkan serpihan konsentrasi baik dari ibunya maupun anaknya.
Makanya tadi pagi saya bilang di status FB bahwa beban pelajaran anak sekarang sudah luar biasa beratnya, jangan ditambahi bebannya dengan melihat orang tua mereka galau apalagi bertengkar di hadapan anak.
Saya sudah takut sebenernya ada yang mengartikan saya pasang status begitu seperti menunjukkan bahwa saya dan suami diam-diam ada masalah.
Eh.. taunya bener aja ada yang komen jail. Dodol pisan.Gitu tuh kalo pasang status. Maknanya bisa diartikan lain oleh yang beda kepala dan beda sudut pandang.
Sebenernya dengan status itu saya cuma mengingatkan pada diri sendiri dan teman-teman bahwa hal yang paling menyedihkan bagi anak adalah ketika melihat orang tua mereka galau. Dan yang paling jadi beban berat di hati anak adalah ketika menyaksikan kedua orang tua mereka bertengkar.
Kalau mereka sedih, dan orang tua sedih, lantas pelajaran apa yang bisa diajarkan orang tua dan diserap oleh anak selain kegalauan demi kegalauan??
Sudahlah, saya tidak akan membahas masalah orang tua dalam notes ini. Sing ngarti we wahai para orang tua. Dewasalah. Inget umur, inget anak.
Emm..di sini saya cuma ingin menyalurkan kebingungan bagaimana agar Arif bisa belajar mandiri.
Dalam benak saya, belajar secara mandiri adalah belajar sendiri tanpa harus selalu saya temani. Bisa tau bagian-bagian mana saja yang harus dia pelajari, dan menanyakan hal-hal tertentu saja kepada saya atau ayahnya. Jadi saya bisa bebas mengerjakan hal lain tanpa harus berdiam dengan jarak kurang dari dua meter dengannya saat belajar.
Apa benar pengertian saya tentang belajar mandiri itu? Dan apakah kemampuan belajar mandiri seperti itu sudah waktunya dimiliki oleh seorang anak 4 SD? Dengan beban pelajaran SMP kita dulu? Saya kok pesimis ya?
Karena kalau saya tinggal, Arif pasti bawaannya main. Entah itu menggambar, main bola, main boneka power rangernya, dll. Berdiam lebih dari 10 menit untuk membaca pelajaran adalah luar biasa. Selebihnya pasti dia sudah ke mana.
Senin 12 Desember adalah UAS terakhir dia, pelajaran IPS.
Ya Alloooh ..betapa sulitnya membuat dia konsentrasi. Untuk mengkaji kembali apa itu koperasi, macam-macam koperasi, pengertiannya, arti lambang koperasi, terus kebudayaan daerah, peninggalan prasejarah, .. tentang kepahlawanan, patriotisme... nama pahlawan, tari daerah, rumah adat, ...glugh glugh...
Sementara saya tau persis kemampuan dia bukan pada pelajaran seperti ini. Dia hanya suka matematika, matematika, dan matematika. Terbukti memang UAS matematika dia selasa lalu mendapat nilai sempurna. Seratus koma nol nol. AlhamduliLlah.
Akhirnya ini untuk IPS saya buat kuis-kuisan aja, dan dia lumayan jadi semangat. Saya buat pertanyaan di kertas-kertas kecil yang dinomori. Dia pilih nomornya, dan saya bacakan pertanyaannya, kemudian dibahas.
Beberapa nomor saya tulisi di kertasnya: Main UNO.
Berarti kalau kebetulan dia pilih kertas itu, dia boleh main kartu UNO sama saya dan Sofi.
Hasilnya, saya hari ini gak sempet ngapa-ngapain selain belajar.
Asli suntuknyaaaaaaaaaaaa... ..hoahhhmmm.....
Kebetulan saya ini masih numpang di rumah mamah karena rumah cipadung belum kelar direnovasi. Jadi ya masak sama mamah, nyetrika cuma dikit sisanya sama mamah, lain-lain sama mamah. Doooh.....
Syukurlah suami saya ke luar kota seharian ini, jadi tak ada beban pelayanan.. Hahah.
Dan dalam hati kubertanya.... Kapan ya Arif bisa belajar untuk UASnya tanpa saya temani?
-________-
Cisaranten, 10 Desember 2011
Jelang Malam
Membosankan sekali.
Iseng menulis di tengah kejenuhan menemani anak-anak belajar untuk UAS. Baru kali ini rasanya saya agak-agak eungap gitu ngadepinnya. Sofi masih mending banget. Kelas 2 masih cetek lah. Sepertinya tanpa belajar pun dia sudah bisa mendapat nilai bagus karena dia tampak menyimak apa yang diajarkan guru di kelasnya. Melihat LKS-LKSnya Sofi, nilainya 90-100. Sama seperti Arif dulu. Asal masuk sekolah dan menyimak, bereslah.
Kelas 4 rupanya lain ya? Lain banget dibanding kelas 3 dan sebelumnya.
Bagi yang ngikutin status FB saya semester ini barangkali pernah melihat saya cukup megap megap melihat kurikulum kelas 4 SD yang sama dengan pelajaran saya waktu SMP.
Bukan masalah bisa atau tidaknya, karena dulu saya SMP, ya lumayanlah gitu, masih ada di itungan juara kelas...... Jadi ya saya bisa mah .. ya bisa.
Sekali lagi ini bukan masalah bisa atau tidaknya, tapi bagaimana agar Arif enjoy belajarnya. Bisa mengerti tidak hanya menghafal. Tahan dengan kejenuhan, dan pantang stress.
Saya pikir ini dulu saya belajar yang kayak gini dengan jiwa daya tahan seorang remaja 13 tahun dengan lingkungan sebuah sekolah menengah. Dan sekarang pelajaran ini dihadapkan pada jiwa seorang anak 9 tahun dengan lingkungan sekolah dasar yang masih jadi lingkungan bermain.
Bagaimana saya bisa berempati dan menyesuaikan cara mengajar?
Saya bilang cara mengajar karena saya kasihan banget kalo kita serahkan semua pada guru di sekolah. Kurikulumnya seabreg gitu.
Tentunya kita sebagai orang tua harus bantu juga ya mengajar anak. Dengan bahasa kita yang mungkin lebih dipahami anak.
Mungkin loh.
Mungkin lebih dipahami kalau kita mengajarnya dengan emosi yang stabil. Da kadang ngajarin anak di rumah teh keselnya luar biasa. Lah kita sendiri harus ngerjain ini itu, anak tergoda ini itu, susah juga untuk bisa mengumpulkan serpihan konsentrasi baik dari ibunya maupun anaknya.
Makanya tadi pagi saya bilang di status FB bahwa beban pelajaran anak sekarang sudah luar biasa beratnya, jangan ditambahi bebannya dengan melihat orang tua mereka galau apalagi bertengkar di hadapan anak.
Saya sudah takut sebenernya ada yang mengartikan saya pasang status begitu seperti menunjukkan bahwa saya dan suami diam-diam ada masalah.
Eh.. taunya bener aja ada yang komen jail. Dodol pisan.Gitu tuh kalo pasang status. Maknanya bisa diartikan lain oleh yang beda kepala dan beda sudut pandang.
Sebenernya dengan status itu saya cuma mengingatkan pada diri sendiri dan teman-teman bahwa hal yang paling menyedihkan bagi anak adalah ketika melihat orang tua mereka galau. Dan yang paling jadi beban berat di hati anak adalah ketika menyaksikan kedua orang tua mereka bertengkar.
Kalau mereka sedih, dan orang tua sedih, lantas pelajaran apa yang bisa diajarkan orang tua dan diserap oleh anak selain kegalauan demi kegalauan??
Sudahlah, saya tidak akan membahas masalah orang tua dalam notes ini. Sing ngarti we wahai para orang tua. Dewasalah. Inget umur, inget anak.
Emm..di sini saya cuma ingin menyalurkan kebingungan bagaimana agar Arif bisa belajar mandiri.
Dalam benak saya, belajar secara mandiri adalah belajar sendiri tanpa harus selalu saya temani. Bisa tau bagian-bagian mana saja yang harus dia pelajari, dan menanyakan hal-hal tertentu saja kepada saya atau ayahnya. Jadi saya bisa bebas mengerjakan hal lain tanpa harus berdiam dengan jarak kurang dari dua meter dengannya saat belajar.
Apa benar pengertian saya tentang belajar mandiri itu? Dan apakah kemampuan belajar mandiri seperti itu sudah waktunya dimiliki oleh seorang anak 4 SD? Dengan beban pelajaran SMP kita dulu? Saya kok pesimis ya?
Karena kalau saya tinggal, Arif pasti bawaannya main. Entah itu menggambar, main bola, main boneka power rangernya, dll. Berdiam lebih dari 10 menit untuk membaca pelajaran adalah luar biasa. Selebihnya pasti dia sudah ke mana.
Senin 12 Desember adalah UAS terakhir dia, pelajaran IPS.
Ya Alloooh ..betapa sulitnya membuat dia konsentrasi. Untuk mengkaji kembali apa itu koperasi, macam-macam koperasi, pengertiannya, arti lambang koperasi, terus kebudayaan daerah, peninggalan prasejarah, .. tentang kepahlawanan, patriotisme... nama pahlawan, tari daerah, rumah adat, ...glugh glugh...
Sementara saya tau persis kemampuan dia bukan pada pelajaran seperti ini. Dia hanya suka matematika, matematika, dan matematika. Terbukti memang UAS matematika dia selasa lalu mendapat nilai sempurna. Seratus koma nol nol. AlhamduliLlah.
Akhirnya ini untuk IPS saya buat kuis-kuisan aja, dan dia lumayan jadi semangat. Saya buat pertanyaan di kertas-kertas kecil yang dinomori. Dia pilih nomornya, dan saya bacakan pertanyaannya, kemudian dibahas.
Beberapa nomor saya tulisi di kertasnya: Main UNO.
Berarti kalau kebetulan dia pilih kertas itu, dia boleh main kartu UNO sama saya dan Sofi.
Hasilnya, saya hari ini gak sempet ngapa-ngapain selain belajar.
Asli suntuknyaaaaaaaaaaaa... ..hoahhhmmm.....
Kebetulan saya ini masih numpang di rumah mamah karena rumah cipadung belum kelar direnovasi. Jadi ya masak sama mamah, nyetrika cuma dikit sisanya sama mamah, lain-lain sama mamah. Doooh.....
Syukurlah suami saya ke luar kota seharian ini, jadi tak ada beban pelayanan.. Hahah.
Dan dalam hati kubertanya.... Kapan ya Arif bisa belajar untuk UASnya tanpa saya temani?
-________-
Cisaranten, 10 Desember 2011
Jelang Malam
Membosankan sekali.
Rabu, 30 November 2011
Ke mana ajyaaaa???
***
Saya. Dibilang kerja engga, dibilang nganggur engga. Dibilang IRT bukan, dibilang wanita karier juga bukan. Lantas Irma ke mana ajyaa ?? Dapet duit dari manaa??
1. Suplier obat-obatan ke sebuah Balai Besar.
Udah 2 tahun saya jalani usaha ini. Lumayanlah. Dalam 1 tahun saya menyuplai obat-obatan ke balai besar ini bisa sampai 4-5x orderan. Saya yang nerima orderan, saya yang pesan ke PBF dan saya juga yang antar. Ini bisa berjalan karena saya kenal baik dengan dokter di balai besar itu, dan dalam menyuplainya saya dibantu oleh apotek teman saya. Bagi hasil lah jadinya.
2. Administrasi sebuah apotek.
Apotek teman saya. Saya ditugasi untuk mengurus segala tetek bengek administrasinya dalam tataran ide dan pengawasan. Palingan di apotek ini kerja saya cuma seminggu sekali. Dan kadang kerja lembur juga kalau dibutuhkan. Dapetlah saya bayaran dari sini.
3. Spesialis Pengobatan Gratis.
Sudah dikontrak oleh sebuah Yayasan, jadi apoteker di pengobatan gratis yang rutin mereka adakan sebulan sekali. Dari sini juga dapet fee.
4. Deputi SDM dan Kelembagaan Depkes Yayasan *BM.
Sebuah yayasan di mana saya dan suami berkecimpung. Di sini masih banyak kerjabaktinya, gak dapet fee. Tapi sebagian besar pengeluaran saya untuk yayasan ini diganti secara materi. Jadi ya cingcaylah. Mudah-mudahan ke depannya Yayasan ini bisa lebih menjanjikan baik secara materi maupun immateri. Toh saya dan suami mendapatkan lingkungan yang menyenangkan di sini.
5. Menulis
Aihh.. banyak yang bilang saya penulis. Padahal kemaren juga dapet royalti, duitnya dikiiit.
Itu mah ngegantiin biaya produksi aja. Hahaha.
Tapi bolehlah suatu saat tulisan saya dihargai dengan materi juga ya? Baik langsung maupun tidak langsung.
Sooo... dengan kelima pekerjaan itu, maka penghasilan saya... bisa kecil bisa besar. Relatif.
Kalau ada biasanya dipake buat jajan anak. Shodaqoh. Dan.. habis. Hehehe.
***
Saya. Dibilang kerja engga, dibilang nganggur engga. Dibilang IRT bukan, dibilang wanita karier juga bukan. Lantas Irma ke mana ajyaa ?? Dapet duit dari manaa??
1. Suplier obat-obatan ke sebuah Balai Besar.
Udah 2 tahun saya jalani usaha ini. Lumayanlah. Dalam 1 tahun saya menyuplai obat-obatan ke balai besar ini bisa sampai 4-5x orderan. Saya yang nerima orderan, saya yang pesan ke PBF dan saya juga yang antar. Ini bisa berjalan karena saya kenal baik dengan dokter di balai besar itu, dan dalam menyuplainya saya dibantu oleh apotek teman saya. Bagi hasil lah jadinya.
2. Administrasi sebuah apotek.
Apotek teman saya. Saya ditugasi untuk mengurus segala tetek bengek administrasinya dalam tataran ide dan pengawasan. Palingan di apotek ini kerja saya cuma seminggu sekali. Dan kadang kerja lembur juga kalau dibutuhkan. Dapetlah saya bayaran dari sini.
3. Spesialis Pengobatan Gratis.
Sudah dikontrak oleh sebuah Yayasan, jadi apoteker di pengobatan gratis yang rutin mereka adakan sebulan sekali. Dari sini juga dapet fee.
4. Deputi SDM dan Kelembagaan Depkes Yayasan *BM.
Sebuah yayasan di mana saya dan suami berkecimpung. Di sini masih banyak kerjabaktinya, gak dapet fee. Tapi sebagian besar pengeluaran saya untuk yayasan ini diganti secara materi. Jadi ya cingcaylah. Mudah-mudahan ke depannya Yayasan ini bisa lebih menjanjikan baik secara materi maupun immateri. Toh saya dan suami mendapatkan lingkungan yang menyenangkan di sini.
5. Menulis
Aihh.. banyak yang bilang saya penulis. Padahal kemaren juga dapet royalti, duitnya dikiiit.
Itu mah ngegantiin biaya produksi aja. Hahaha.
Tapi bolehlah suatu saat tulisan saya dihargai dengan materi juga ya? Baik langsung maupun tidak langsung.
Sooo... dengan kelima pekerjaan itu, maka penghasilan saya... bisa kecil bisa besar. Relatif.
Kalau ada biasanya dipake buat jajan anak. Shodaqoh. Dan.. habis. Hehehe.
***
Rabu, 23 November 2011
Berubah yaaa... :)
***
November 2011. Beda dengan November 2010. Beda dengan November 2009, dan beda dengan November tahun-tahun sebelumnya. Berbeda berarti hidup. Perubahan adalah keniscayaan.
Tapi ada yang sangat aneh di November kali ini (istilah 'sangat' hanya untuk melebaykan)
Saya merasa berubah, tapi gak ada satupun yang bilang saya berubah. Barangkali juga gak ada yang memperhatikan? Atau memang sebenernya bukan saya yang berubah?
Setelah ngobrol bentar dengan Teman A, memang rasanya bukan saya yang berubah sih, tapi diawali dari lingkungan saya yang lain dari biasanya. Teman-teman saya yang berganti kesibukan, yang ternyata pengaruhnya lumayan buat saya.
Gak banyak yang beda, cuma jadi agak agak males pasang status FB. Kenapa? Karena saya biasanya kalo pasang status, ngarep komen dari Teman A, Teman B, Teman C, atau Teman D...Ehhh, taunya mereka pada diemmm semua.. hahaha.. geus teu usum tea barangkali ya komen-komenan.
Yang komen jadinya siapa? Gak tauuu.... :))...kadang saya gak kenal siapa itu yang komen. Karena sejak buku saya terbit, saya sering confirm-confirm saja siapapun yang ngeadd saya untuk jadi friendnya di FB, asal namanya gak alay dan profpicnya sopan.
Pernah ada yang komen, cowo, dan saya gak kenal, tapi dia kok ya rada sok akrab gitu komennya. Heu. Saya bingung. Biasanya kalo saya ngerasa gak enak sama komen orang, saya kirim message ke dia untuk meluruskan. Tapi kalo gak kenal? Euuu.. masa iya saya bilang “Komennya jangan kecentilan gitu dong, saya kan perempuan, udah nikah, lebih tua dari kamu, kamu cowo, dan saya gak kenal kamu … “
Terusss? Hahah .. daripada bingung, saya block aja itu orang... maap. Rada mengganggu soalnya.
Sementara orang-orang yang saya harapkan komennya,.. diam seribu bahasa :)
Saya melihat teman-teman A sampai D saya itu lagi pada seriussss.. aslina.
Teman A asyik dengan... apa... gak tau.. rada misterius memang Teman A ini. Tapi dia satu-satunya yang saya pikir gak berubah. Ya mungkin saya aja gak tau, karena cuma kenal luarnya aja. Chatting hanya untuk haha hihi dan bertukar quote of the day. Seringkali saya gak tau masalah dia apa dan dia juga gak tau masalah saya apa. Cuma kata Teman A, sekarang Teman A tsb sungkan ngomen status saya karena gak kenal sama para komentator lainnya. Wkwk. Iya sih, biasanya tik tok kayak pingpong kalo udah komen2an sama yang laen di wall saya :)
Teman B, lagi hamil. Sejak hamil dia agak-agak berubah. Pengaruh hormon kali ye. Rada-rada berkurang gitu gejenya, tapi chatting jalan terus, hampir tiap hari. Sebenernya dia masih geje, tapi gak separah dulu. Hahaha. Congratz yaa :)
Biasanya kami geje bareng di FB, tapi kali ini saya tidak punya teman geje lagi. Mun geje sorangan, ngerakeun :))
Kalo lagi hamil, ya gitu kayaknya, chattingan dikit, mual. Ngobrol kesana dikit, pas kemarinya mulai gak enak badan. Komen status? Hampir gak pernah cuuuyyy... Hadeuuuh.... mangga dikulemkeun we atuh. Biar saya hangout saja sama yang laen :D
Teman C, sejak punya bayi memang rada riweuh. Maklumlah...sangat saya maklum.
Tiap diajak chat, ngegantung terus, jarang selesai. Jadi sering di twitter dia sekarang, dan dihubung ke FB. Dan kalo ngetwit. Super bijak. Memang pada dasarnya dia orang bijak, makin diam, makin terasa bijaknya.
Ngomen status saya? Hampir gak pernah juga. Ya gapapa juga.
Tapi kadang saya butuh sarannya dalam hal-hal kecil lah.. YM dia udah hampir seminggu ini mati. Kalo nyengajain nelpon/sms, asa garing. Gak penting kok.
Hmmm...bisa jadi karena dia mempraktekkan tulisan di blognya, yaitu ingin fokus, tidak lagi multitasking :D Dan tulisan terbarunya adalah tentang me time, your time, dan our time yang membahas tentang waktu untuk diri sendiri dan keluarga. Saya? Butuh tambahan waktu, yaitu friends time. Makhluk macam saya gak bisa cuma berkutat di diri sendiri dan keluarga. Tiap hari butuh teman berbagi.
Teman D, sejak masuk kuliah S2, kerasa pisan berubahnya. Mungkin karena kuliah sambil kerja, jadi sibuk berat. Gak kepikir lagi buat haha hihi apalagi ngomen status saya. Kalo ditanya juga jawabannya gak jauh dari “Yes” paling banter diiringi jawaban singkat nan serius. Sekalinya nanggepin status, seriusnya luar biasa. Pas ketemu juga kerasa banget gak serunya (tampak stress? Enggak juga. Tapi dia bukan Teman D yang selama ini saya kenal, yang murah senyum. Mati rasa? Semoga tidak). Mmm..barangkali juga karena punya teman menggalau baru dan teman-teman ngerandom yang asik, sehingga dia tidak lagi menjadikan saya tempat berbagi ya? Hahaha.. biarlah. Belom ada yang cocok buat diceritain ke saya barangkali. Saya kan serba gak ngerti tea. Ceritanya tau diri saja sayanya. Inget umur inget anak. Mudah-mudahan RT dia dari @RadioGalauFM bukan buat saya .. hehe... gini katanya: RT @RadioGalauFM: Udah dapet yang baru, gak usah ngurusin yang lama lagi lah. Apaan banget sih.
Huahaha.. kenapa juga gue yang ngerasa kesindir. Apaan banget sih.
Menghadapi teman-teman dari A sampai D ini kadang saya bingung.. kudu kumaha. Padahal sebenernya baik-baik aja, gak harus kumaha-kumaha sayanya. Toh setiap saya tanya kabar, mereka nyaut, dan kabar mereka baik-baik saja. Dan (mudah-mudahan) tidak ada masalah dengan saya. Meureun. Sugan. Gak tau deh. Gak ada masalah dengan saya kan ya?
Cumaaaaa saya ngerasa kepo aja. Dikit-dikit nanya. Jawabannya juga jadinya emang dikit-dikit. 100% kepo dah gue. Menyebalkan sekali bukan.
Terus sekarang saya lagi deket sama siapa? Ya sama Teman A sampai D ituh.. siapa lagi...
Temen main, temen chat, temen komen2an, temen kerja, temen ngacaprak sih banyakkk, tenang aja. Temen tidur juga kan ada. Saya tidak pernah merasa kesepian. Ini mah cuma lagi inget Teman A-D aja, lagi melo melo... Karena hujan kali ya dan akhir tahun, jadi asa pengen kaleidoskop gitu.
Palingan saya jadi ragu aja untuk sekedar cerita hal-hal kecil ke Si Teman A-D. Takut jawabannya gak sepanjang harapan saya, atau bahkan tidak ditanggapi sama sekali...atau takut membuat mereka kebingungan harus komen apa karena gak ada hal yang dirasa penting untuk diungkapkan terlintas di pikiran mereka. Saking gak pentingnya cerita saya...--- Melag itu teh, yu nau...Hahahaha...
Jadi memang mestinya gak berharap apa-apa, biar gak kecewa.
Ya barangkali cinta saya pada teman-teman yang udah saya anggap sahabat, sedang diuji. #eeeaaa.. Sayanya harus ikhlas, gak nuntut balas. Cuma.. mm.. dengan tulisan ini saya pengen kalian tau, kalo saya sering ingat kalian, memantau kalian, dan selalu ingin tau kabar kalian.
Kalian yang --(dulu)--- bisa meramaikan dunia maya saya :)
Ayo mana senyumnyaaaaa????? Fiuuuhhh.. serius semua tu tampangnya. Cape deh.
HP saya online 24 jam, nomor masih yang lama. Facebook, twitter dan email masih saya cek setiap hari. Jejaring sosial lain saya ikut, tapi bingung mo ngapain di sana jadi gak dibuka2.
Silahkan kontak saya lewat apapun, asal jangan via BB, karena sampai saat ini memang belom punya---- bila kalian butuh bantuan saya, kapan saja, insyaa Allah saya akan berusaha bantu.
Semoga kesibukan kalian barokah, dan segalanya berubah ke arah yang lebih baik. Aamiiin.... *cross my finger*
***
November 2011. Beda dengan November 2010. Beda dengan November 2009, dan beda dengan November tahun-tahun sebelumnya. Berbeda berarti hidup. Perubahan adalah keniscayaan.
Tapi ada yang sangat aneh di November kali ini (istilah 'sangat' hanya untuk melebaykan)
Saya merasa berubah, tapi gak ada satupun yang bilang saya berubah. Barangkali juga gak ada yang memperhatikan? Atau memang sebenernya bukan saya yang berubah?
Setelah ngobrol bentar dengan Teman A, memang rasanya bukan saya yang berubah sih, tapi diawali dari lingkungan saya yang lain dari biasanya. Teman-teman saya yang berganti kesibukan, yang ternyata pengaruhnya lumayan buat saya.
Gak banyak yang beda, cuma jadi agak agak males pasang status FB. Kenapa? Karena saya biasanya kalo pasang status, ngarep komen dari Teman A, Teman B, Teman C, atau Teman D...Ehhh, taunya mereka pada diemmm semua.. hahaha.. geus teu usum tea barangkali ya komen-komenan.
Yang komen jadinya siapa? Gak tauuu.... :))...kadang saya gak kenal siapa itu yang komen. Karena sejak buku saya terbit, saya sering confirm-confirm saja siapapun yang ngeadd saya untuk jadi friendnya di FB, asal namanya gak alay dan profpicnya sopan.
Pernah ada yang komen, cowo, dan saya gak kenal, tapi dia kok ya rada sok akrab gitu komennya. Heu. Saya bingung. Biasanya kalo saya ngerasa gak enak sama komen orang, saya kirim message ke dia untuk meluruskan. Tapi kalo gak kenal? Euuu.. masa iya saya bilang “Komennya jangan kecentilan gitu dong, saya kan perempuan, udah nikah, lebih tua dari kamu, kamu cowo, dan saya gak kenal kamu … “
Terusss? Hahah .. daripada bingung, saya block aja itu orang... maap. Rada mengganggu soalnya.
Sementara orang-orang yang saya harapkan komennya,.. diam seribu bahasa :)
Saya melihat teman-teman A sampai D saya itu lagi pada seriussss.. aslina.
Teman A asyik dengan... apa... gak tau.. rada misterius memang Teman A ini. Tapi dia satu-satunya yang saya pikir gak berubah. Ya mungkin saya aja gak tau, karena cuma kenal luarnya aja. Chatting hanya untuk haha hihi dan bertukar quote of the day. Seringkali saya gak tau masalah dia apa dan dia juga gak tau masalah saya apa. Cuma kata Teman A, sekarang Teman A tsb sungkan ngomen status saya karena gak kenal sama para komentator lainnya. Wkwk. Iya sih, biasanya tik tok kayak pingpong kalo udah komen2an sama yang laen di wall saya :)
Teman B, lagi hamil. Sejak hamil dia agak-agak berubah. Pengaruh hormon kali ye. Rada-rada berkurang gitu gejenya, tapi chatting jalan terus, hampir tiap hari. Sebenernya dia masih geje, tapi gak separah dulu. Hahaha. Congratz yaa :)
Biasanya kami geje bareng di FB, tapi kali ini saya tidak punya teman geje lagi. Mun geje sorangan, ngerakeun :))
Kalo lagi hamil, ya gitu kayaknya, chattingan dikit, mual. Ngobrol kesana dikit, pas kemarinya mulai gak enak badan. Komen status? Hampir gak pernah cuuuyyy... Hadeuuuh.... mangga dikulemkeun we atuh. Biar saya hangout saja sama yang laen :D
Teman C, sejak punya bayi memang rada riweuh. Maklumlah...sangat saya maklum.
Tiap diajak chat, ngegantung terus, jarang selesai. Jadi sering di twitter dia sekarang, dan dihubung ke FB. Dan kalo ngetwit. Super bijak. Memang pada dasarnya dia orang bijak, makin diam, makin terasa bijaknya.
Ngomen status saya? Hampir gak pernah juga. Ya gapapa juga.
Tapi kadang saya butuh sarannya dalam hal-hal kecil lah.. YM dia udah hampir seminggu ini mati. Kalo nyengajain nelpon/sms, asa garing. Gak penting kok.
Hmmm...bisa jadi karena dia mempraktekkan tulisan di blognya, yaitu ingin fokus, tidak lagi multitasking :D Dan tulisan terbarunya adalah tentang me time, your time, dan our time yang membahas tentang waktu untuk diri sendiri dan keluarga. Saya? Butuh tambahan waktu, yaitu friends time. Makhluk macam saya gak bisa cuma berkutat di diri sendiri dan keluarga. Tiap hari butuh teman berbagi.
Teman D, sejak masuk kuliah S2, kerasa pisan berubahnya. Mungkin karena kuliah sambil kerja, jadi sibuk berat. Gak kepikir lagi buat haha hihi apalagi ngomen status saya. Kalo ditanya juga jawabannya gak jauh dari “Yes” paling banter diiringi jawaban singkat nan serius. Sekalinya nanggepin status, seriusnya luar biasa. Pas ketemu juga kerasa banget gak serunya (tampak stress? Enggak juga. Tapi dia bukan Teman D yang selama ini saya kenal, yang murah senyum. Mati rasa? Semoga tidak). Mmm..barangkali juga karena punya teman menggalau baru dan teman-teman ngerandom yang asik, sehingga dia tidak lagi menjadikan saya tempat berbagi ya? Hahaha.. biarlah. Belom ada yang cocok buat diceritain ke saya barangkali. Saya kan serba gak ngerti tea. Ceritanya tau diri saja sayanya. Inget umur inget anak. Mudah-mudahan RT dia dari @RadioGalauFM bukan buat saya .. hehe... gini katanya: RT @RadioGalauFM: Udah dapet yang baru, gak usah ngurusin yang lama lagi lah. Apaan banget sih.
Huahaha.. kenapa juga gue yang ngerasa kesindir. Apaan banget sih.
Menghadapi teman-teman dari A sampai D ini kadang saya bingung.. kudu kumaha. Padahal sebenernya baik-baik aja, gak harus kumaha-kumaha sayanya. Toh setiap saya tanya kabar, mereka nyaut, dan kabar mereka baik-baik saja. Dan (mudah-mudahan) tidak ada masalah dengan saya. Meureun. Sugan. Gak tau deh. Gak ada masalah dengan saya kan ya?
Cumaaaaa saya ngerasa kepo aja. Dikit-dikit nanya. Jawabannya juga jadinya emang dikit-dikit. 100% kepo dah gue. Menyebalkan sekali bukan.
Terus sekarang saya lagi deket sama siapa? Ya sama Teman A sampai D ituh.. siapa lagi...
Temen main, temen chat, temen komen2an, temen kerja, temen ngacaprak sih banyakkk, tenang aja. Temen tidur juga kan ada. Saya tidak pernah merasa kesepian. Ini mah cuma lagi inget Teman A-D aja, lagi melo melo... Karena hujan kali ya dan akhir tahun, jadi asa pengen kaleidoskop gitu.
Palingan saya jadi ragu aja untuk sekedar cerita hal-hal kecil ke Si Teman A-D. Takut jawabannya gak sepanjang harapan saya, atau bahkan tidak ditanggapi sama sekali...atau takut membuat mereka kebingungan harus komen apa karena gak ada hal yang dirasa penting untuk diungkapkan terlintas di pikiran mereka. Saking gak pentingnya cerita saya...--- Melag itu teh, yu nau...Hahahaha...
Jadi memang mestinya gak berharap apa-apa, biar gak kecewa.
Ya barangkali cinta saya pada teman-teman yang udah saya anggap sahabat, sedang diuji. #eeeaaa.. Sayanya harus ikhlas, gak nuntut balas. Cuma.. mm.. dengan tulisan ini saya pengen kalian tau, kalo saya sering ingat kalian, memantau kalian, dan selalu ingin tau kabar kalian.
Kalian yang --(dulu)--- bisa meramaikan dunia maya saya :)
Ayo mana senyumnyaaaaa????? Fiuuuhhh.. serius semua tu tampangnya. Cape deh.
HP saya online 24 jam, nomor masih yang lama. Facebook, twitter dan email masih saya cek setiap hari. Jejaring sosial lain saya ikut, tapi bingung mo ngapain di sana jadi gak dibuka2.
Silahkan kontak saya lewat apapun, asal jangan via BB, karena sampai saat ini memang belom punya---- bila kalian butuh bantuan saya, kapan saja, insyaa Allah saya akan berusaha bantu.
Semoga kesibukan kalian barokah, dan segalanya berubah ke arah yang lebih baik. Aamiiin.... *cross my finger*
***
Langganan:
Postingan (Atom)
