Sabtu, 01 Oktober 2011

apakah saya emak2 gauuuulll??

***
Banyak yang bilang saya adalah ibu-ibu gaul. Pasalnya hanya karena saya rajin facebookan. Beuuh... alasan yang sudah tidak usum pisan.

Sementara saya merasa gak gaul, karena kalo ditanya soal lagu ama pelem, saya cengo. Hah? Lagu apaan? Pelem apa tu?
Bukannya saya sok alim gak suka pelem gak suka lagu. Saya suka nongton pelem, tapi sok gak peduli itu judulnya apa. Saya juga suka denger lagu tapi suka gak tau juga judulnya apa. Pokona nu kitu weh. Yang saya tau cuma rame dan tidak, enakeun dan tidak. Komo deui kalo harus hapal syair sama artis-artisnya mah.. ahhh teuing lah.

Mestinya mungkin juga gaul itu berarti berwawasan luas. Diajak ngobrol A sampai Z, nyambuuuung terus. Ngobrol tentang anak nyambung, ngobrol tentang ular nyambung, ngobrol tentang pecinta batik yang besok jalan di kawasan dago nyambung (nyontek ti @infobandung 54 detik yang lalu).
Ah bila gaul itu berarti berwawasan luas, itu bukan saya juga dong.
Saya mah da nyambungnya kalo udah ngomong masalah facebook dan twitter aja. Selain itu mah calangap weh.

Daripada saya ngukur-ngukur sendiri, saya ibu-ibu gaul apa bukan, lebih baik saya pasang status di FB, begini bunyinya:

Sedang nulis tentang "IBU IBU GAUL".. ayo kasih masukan, menurutmu IBU IBU GAUL itu ciri-cirinya apa sih?


Toga yang pertama komen, katanya 3B: bermobil, berbehel, dan berBB...
Bermobil, oke... aku (halah .. aku) bermobil. Tapi mobil saya mah da hijet 1000, embahnya carry kalo kata Bu Mita. Apakah itu gaul? Kayaknya galau itu mah ya? Mestinya honda jazz gitu loh, kalo ibu-ibu gaul. Kayak Bu Rena tuh.. hehehe.. *kiceup Renaaa, colek Honda Jazznyaa...
Berbehel? Ha? Apa behel memang jadi standar gaul ya? Hihihi.. #nutupmulut. Malu.
Saya pake 3 gigi geraham palsu. Apakah pake gigi palsu adalah gaul? Hahaha itu sih tanda-tanda penuaan.
BBMan? Iya saya suka isi BBM ke pom bensin. Sekian. No further comment.

Sementara Om Ipin bilang: Gak Galaw Gak Gaul.
Pembahasan: Urusan galau sih seriiiing... berarti saya gaul dooong. Hidup Galau!!
RT @RadioGalauFM Menceriana in galaure sano. Dalam Badan yang ceria, terdapat hati yang galau.

Terus kata Mas Eko, kalo ketemu temen lama, yang ditanya bukan nomer HP lagi tapi PIN BB..
Gubrag eta BB, keukeuh nya... hiks. "GUE KAGAK PUNYA BEBEEEE.. !!! beee....beee..." (adegan: teriak-teriak di tengah jurang, dengan suara memantul-mantul)

Usulan dari Dik Titi.. Ibu-ibu gaul adalah yang sering namu ke mall/ cafe? Emmm.. gak tau ya kalo pake standar yang ini, bisa jadi .. mm, saya setengah gaul. Coba saya data tempat makan yang pernah saya datengin di Bandung ya. 1. Warung Pasta 2. Baso Akung 3. Kopi Mata Angin 4. Atmosphere 5. Sushi Den 6. S28 7. Sebelahnya Sushi Den 8. Apa tu yang kambing-kambing itu di Riau 9. Kopi Lay 10. Steak..apa tu ya 11.Ada tempat steak lagi, gtau ah namanya 12. Timbel Jalan Mangga 12. Bloemen 13. Bale Gazeebo 14.Sebelahnya Bale Gazeebo 15. Ayam Goreng Suharti 16. Pizza Hut 17.KFC 18.McD 19.Bubur Ayam Mang Oyo 20. Bubur Ayam Pak Imon 21. Ampera 22. Makan-makan 23.Ten to ten 24. Ada lagi tempat steak yang di jalan Sumatra 25. Resep Moyang 26. Steak yang di Dipati Ukur .. hmm.. apa lagi ya.
Gaul engga tuh? hehehe... rata-rata saya ke situ karena ditraktir oleh para dermawan dermawati di kota Bandung yang diam-diam dalam hatinya mungkin bertekad mencanangkan "Menuju Irma Gemuk 2012"

Apa katamu WitRi? Suka arisan? Yang arisan di sana sini mah biasana kerjaan ibu-ibu 50 tahun ke atas yang pengen aktualisasi diri di luar pengajian. Saya gak gaul kalo urusan arisan. Arisan cuma ikut yang di RT. Itu pun dengan niat silaturahim sama tetangga. Hoho. Sungguh niat yang mulia.

Ada yang dalem nih kata Mbak Nina.. coba disimaks semaksimal mungkins:

Kalau siang hangout di mall, ngumpul2 dan makan2, kerja part timer atau full ibu rt..suaminya kaya, anak2 sekolah di full day school, itu sebabnya siang bisa hangout, ngerti bgt soal 'kekinian', selalu ikut pendapat terbanyak, semuanya diukur pakai 'gengsi' tapi itu ibu gaul dari sudut pandang lifestyle ya..
Nah ada juga dari sudut pandang anak, kalo menrt anak ibu gaul itu ibu yg ngerti jalan pikirnya anak, memahami dunia anak2nya, kalo jalan sm anak selalu milih ke tempat favorit anak, nyambung kalo diajak gosip soal Hanna Montana, Bruno Mars, seleranya dalam milihin baju anaknya pas bgt dengan selera anak, seringya sih ibu gaul model begini justru bukan tergolong ibu rumpi di sekolah anaknya, karena dia percaya anaknya bisa jaga diri di sekolaj..Nah, sekarang tinggal Irma mau nulis Ibu Gaul yg mana..hehehe..

Hm..Nulis ibu gaul yang mana ya? Ya saya copas aja lah komennya Mbak Nina, karena suami saya bukan orang kaya. Suami saya kaya hati karena sering makan ati (punya istri kayak saya gitu loh). Trus saya gak ngerti soal kekinian, dan saya pun harus googling dulu siapa itu Hana Montana dan Bruno Mars. (OMG.. betapa tidak gaulnya diriku).

Tampaknya status saya sudah menghilang dari beranda teman-teman atau mereka tidak ada ide sehingga tidak ada lagi itu komen tentang definisi ibu-ibu gaul.

Saya sendiri sih sebenernya pengen banget jadi ibu-ibu gaul dalam artian PUNYA BANYAK TEMAN.
Teman yang gak sekedar diukur dari bertambahnya friend list di facebook atau banyaknya follower. Tapi saya ingin punya banyak teman yang peduli dan menemani kita saat suka dan duka. Teman yang bertanya kabar walau sedang tidak butuh bantuan kita.

Saya mestinya gak terlalu peduli pada pandangan orang tentang betapa sempitnya wawasan saya tentang film, lagu, artis, politik, headline news, sepakbola...
Toh saya memang sebelas tahun terakhir berkutatnya cuman di urusan anak, suami, dan setrikaan. Sulit bagi saya untuk mencerna sebuah film dari awal sampai akhir jika yang ada di benak ini adalah urusan ntar anak dan suami saya makan apa, anak udah mandi apa belom, besok bekel apa buat anak-anak sekolah, etc etc.

Makanya memang saya nyambungnya seringkali jadi hanya dengan ibu-ibu, yang pertanyaannya gak jauh dari "Hari ini masak apa?", dan selanjutnya membahas pelajaran sekolah dasar.

Namun sungguh, bergaul dengan ibu-ibu di dunia maya itu membuat saya merasa bergaul pada tempatnya dan pada kapasitasnya.

Sekali-sekali memang saya suka juga ngobrol sama anak-anak muda. Tapi udahnya kadang bikin saya sedih juga. Kenapa saya asa teu nyambung. Pengen melipir nyusur pager terus kabur. Begitulah kira-kira rasanya.

Diskusi dengan Bu Mita (yang notabene ini anak muda juga loh, tapi tingkat kedewasaannya melebihi saya). Kata Bu Mita, gak ada orang yang bener-bener punya wawasan luas. Bisa jadi orang tampak cerdas dan berwawasan luas karena mereka pandai bicara, punya gaya bicara yang menarik sehingga menguasai publik yang mendengarnya, sehingga seolah-olah dia tau semua yang terjadi di muka bumi ini.

Sementara saya? Saya cuma pandai bicara dalam tulisan, karena gak ada yang bisa nyela saya, dalam note ini misalnya.
Di alam nyata saya lebih suka banyak mendengar. Jadinya tampak gak berwawasan luas. Padahal saya teh berwawasan wiyata mandala tau! #maksudlo -_-!

Ya gitu deh. Pokona buat saya mah, mau gaul mau galau, yang penting saya punya banyak teman yang peduli.
Adakah yang peduli padaku? #drama #sinetron #lebay #garing

Sori nya mun teu puguh. Da ini mah ngacaprak wungkul, berhubung tadi siang saya kebanyakan tidur, dan malam ini Bandung hareudang luar biasa.

Irma yang nyungsep di pedalaman rumah mertua, @Dago
malem minggu gak gaul gak maen padahal di Dago.
Posting di waktu dan tanggal yang cantik: 11.00 PM - 01102011.

Selasa, 27 September 2011

ujian (2)

***
Saya gak dekat-dekat amat sebenernya sama teteh yang satu ini. Satu dua kali ketemu, dan gak kenal banyak. Hanya demi mendengar beliau ditinggal wafat oleh suami, kemudian keesokan harinya dia melahirkan, dan bayinya meninggal pula, siapa yang tidak tergerak untuk melayatnya...

Kabar itu memang datang bertubi-tubi. Pertama ada yang tanya saya hari minggu sore, beli tabung oksigen di mana.

Buat siapa? Ini buat Akang X yang sedang ngedrop kondisinya di rumah, butuh oksigen segera. Dan saya pun menjawab setau saya. Bla.. bla...
Kang X ini mengidap kanker paru-paru katanya. Sudah ngedrop pisan, dan diputuskan untuk tidak dibawa lagi ke RS.

Keesokan paginya, senin, tanpa sengaja saya tau dari seorang teman chatting, bila Kang X sudah wafat minggu malam itu.

InnaliLlahii....

Dan sms pun datang, mengabari bila Teteh X (istri akang X) akan melahirkan anak ke-5 nya di RS. Mohon do'a, karena tekanan darahnya tinggi.

Ya Allah.. saya baru ingat juga bila Teh X sedang hamil tua. Terakhir ketemu waktu kandungannya masih 3-4 bulanan.

Mau nengokin senin siang, telpon sana-sini, taunya dikabarkan Teteh X dibawa dulu ke rumah saudaranya, bukaannya belum besar. Ya sudahlah. Do'akan saja dari jauh... nengokinnya ntar aja.

Kemudian dapet sms lagi bila jenazah Akang X akan dimakamkan di Tasik.

Hmm.. membayangkan perasaan si Teteh X yang sedang mulas akan melahirkan, sementara suami dalam perjalanan menuju pemakaman... :((

Senin malam, dapet kabar lagi... bayinya Teteh X meninggal... mohon do'a....

Ya Allaah.. berapa kali dalam sehari itu saya sebutkan innaliLlahii wa inna ilaihi raaji'uun.... sambil geleng-geleng kepala. Adaaaa ya.. yang dapet ujian seberat itu di dekat saya saat ini.

Barusan akhirnya saya tengok Teteh X di RS.

Dan.. hmmm... di luar bayangan saya, beliau tampak tenang sekali.

Kebayangnya sama saya, beliau terbaring, dan sekali-sekali mengusap air matanya, tapi ini ya biasa aja.

Matanya memang sembab, tapi senyumnya bener-bener dari lubuk hati, dia duduk di pinggir tempat tidur menghadap saya.

Emmm.. kenapa ini malah saya yang terhibur mendengar beliau cerita ya? Dan dia selalu menceritakan hal-hal mudah dan yang menyenangkan di antara cerita-ceritanya. Tentang betapa mudahnya bayi yang sudah tak bergerak itu .. keluar dari rahimnya. Menceritakan betapa senangnya dia ditunggui anaknya yang pertama, yang masih kelas 3 SMP itu selama melahirkan. Dan tak lupa dia pun menceritakan keceriaan-keceriaan kecil yang dilontarkan suaminya sebelum sakaratul mautnya....

Ihhh.. kok bisaaa...
Saya malah sering berucap hamdalah menyelingi ceritanya.

Dan keluar dari rumah sakit, saya speechless..

Menyadari sepertinya ada yang salah dengan... saya sendiri..

***

Senin, 26 September 2011

ujian

***
Baru kemaren dapet telpon dari seorang akang..
nanya-nanya tabung oksigen.
Buat apa Kang? --
Ini, Pak X , lagi ngedrop, butuh oksigen.
Pak X memang sedang sakit keras.
Kemarin dia ngedrop gitu, udah gak dibawa ke RS lagi.
Keluarga sudah pasrah.

Eh tadi pagi dapet sms,
Bu X sudah di RS akan melahirkan.
Melahirkan anaknya yang ke-4 kalo tak salah.
Bu X adalah istrinya Pak X.

Ya Allah, apa rasanya jadi mereka hari ini?
Suami sakit keras, istri melahirkan....

dunia oh dunia...
semoga saya tidak pernah dapatkan ujian berat semacam itu,
yang saya tak sanggup untuk memikulnya.
Semoga mereka hari ini,
diikhlaskan hatinya,
diberi-Nya kesabaran,
dan dikuatkan fisiknya.

Semoga segala ujiannya,
jadi penggugur dosa bagi mereka berdua,
dan bagi orang-orang yang menolong mereka hari ini.
Amiin.

***

Jumat, 23 September 2011

bahagia?

***
Bahagia saat kita bisa menyenangkan orang lain lewat hal-hal kecil, dan bahagia bila kita tidak mudah tersakiti oleh hal-hal yang sepele

***

Senin, 19 September 2011

k o p i - d a r a t 100%

***
Sabtu-Minggu kemarin saat Arif dan Sofi saya beri kekuasaan penuh atas modem yang kami punya, mereka kalap. Beneran itu mah dua hari mereka manfaatkan manteng di depan laptop bergantian. Ngegame tentu saja, dan sesekali Arif facebookan.
Saya tidak punya alternatif lain. Katakanlah membawa mereka jalan-jalan ke mana gitu. Bandung macet sabtu-minggu dan kami tidak punya cukup uang untuk bisa berbelanja lebih dari kebutuhan. Naik gunung gratis? Eheheh.. banyak hal yang harus saya dan suami lakukan di rumah kemarin. Beres-beres rumah dan panggil montir untuk servis mobil.

Walhasil saya pasrah melihat Arif dan Sofi begitu asyik ngegame, dan setengah kesal juga saya. Ngegameee teruuuusss .. gak kreatif amat sih anak-anak gue. Main apa kek gitu yang gak usah di depan laptop.
Tapi dipikir-pikir barangkali sayanya juga yang gak kreatif ya? Main apa coba yang asik.. karena game internet itu kalo saya pantau sih, emang nyenengin. Emaknye aje ini mah yang gak kebagean main. Jadi kesel. Wew.

Akhirnya mereka sampai juga di batas waktu. Magrib, hari minggu. Mereka tidak boleh lagi menyentuh laptop. Modem dicabut.
Arif masih nawar,"Main game di HP Umi boleh engga"
Dulu saya sempat membolehkan, tapi setelah 30 menit saya minta waktu berpikir, saya bilang ke Arif, "Tidak". Pokonya tidak boleh untuk semua barang elektronik, termasuk TV. Dan tentu saja semua aturan itu berlaku juga bagi Sofi.

Bada magrib itu, setelah baca Qur'an beres dan makan malam selesai, Arif Sofi jadi luntang-lantung. Hadooooh....
Sofi ambil kertas dan menggambar, Arif ngurus bentol di kakinya yang tampak super gatal. Selanjutnya Arif menggambar juga di whiteboard.
Setelah itu, luntang lantung lagi.

Kalau sudah begini memang saya musti turun tangan. Bapaknya biarlah di depan komputer, kasian da dia mah bisa online atau apapun di PC ya cuma malem. HP dia mah pan jadul, kagak bisa online..heheh.. senasip dengan HP saya yang menurun kemampuan onlinenya saat ini.

Turun tangan yang bisa saya lakukan untuk Arif dan Sofi adalah dengan mengambil modul pelajaran mereka. Belajar apapun yang ada di sana. Buat Sofi baca bareng tentang kegunaan sinar matahari bagi makhluk hidup. Dan buat Arif dia saya suruh baca tentang rangka manusia.
Beneran tu buat Arif saya turunkan buku Principles of Physiology and Anatomy nya Gerard J. Tortora, buku jaman saya kuliah yang tebalnya hampir seribu halaman itu, biar dia bisa lihat gambar anatomi manusia dengan benar.

Tapi seringkali untuk berbagai kebutuhan visual anak-anak dalam pelajarannya, saya minta bapaknya yang lagi online untuk mencarikan gambar yang bagus berkaitan dengan pelajaran mereka. Misal tentang rotasi bumi, galaksi bima sakti, satelit, planet.. visualisasi dari berbagai web di internet itu oke banget.

Kembali ke masalah turun tangan agar anak-anakku tidak luntang-lantung....
Ternyata belajar pun memakan waktu tidak begitu lama. Arif Sofi palingan ngabisin waktu 15 menit untuk membaca dan memahami satu materi. Dan cukup, mending sedikit tapi masuk daripada banyak tapi olab. Selanjutnya paling saya ngetes dua kosakata bahasa Inggris ke mereka (biar emaknya juga belajar).

Pokonya mulai semester ini saya ingin menerapkan ke mereka kalo belajar teh jangan hanya pas mau ulangan aja. Kalo belajar pas mau ulangan aja mah nantinya gak enak, diburu-buru, gak ngerti dan cepet lupa. Maklumlah ini saya berpengalaman puluhan tahun. Belajar cuma pas mo ujian :D - Arif Sofi pun sepakat.

Teruuusss .. ngapain lagi ya biar anak-anak saya tak luntang lantung...
Mereka kayak kehilangan arah gitu kalo abis online seharian teh. Persis kayak saya. Hoho.
Oya saya juga kasih pengertian ke mereka, alasan kenapa saya melarang mereka ngegame semasa belajar senin sd jumat. Biar otak gak capek. Pindah dari game ke belajar itu bikin capek looh. Saya bilang gitu.
Arif nanya lagi "Kalo facebookan boleh?"
Dan saya jawab "Tidak".... he he he... ngegame sama facebookan sama aja. Ceuk si umi dari lubuk hatinya yang terdalam.

Akhirnya saya, Arif, Sofi, dan bapaknya yang kadang ikut nimbrung itu ngobrol aja kesana kemari. Ngacaprak, dan itu buat saya jauh lebih menyenangkan dibanding melihat mereka asik ngegame (tentu saja).

Mendengar betapa banyak mereka berbicara, saling menimpali, dan berebut bercerita, saya jadi ngeh bila perasaan anak itu sama aja dengan perasaan saya. Mungkin perasaan siapapun.

Saat kita sebagai lawan bicara punya perhatian 100%, maka orang yang bicara dengan kita pun akan senang 100% untuk bercerita. Tapi satu hal saja.. bila lawan bicara kita udah mulai sesekali pegang gadgetnya, sesekali menatap layar, sesekali mengetik sesuatu, dan sesekali pula menatap saya sebagai lawan bicara di dunia nyata nya, maka saya lebih baik berhenti bicara hingga dia menatap saya sepenuh hati. Tapi kesenangan saya berbicara dengan dia sudah jauh berkurang. Tidak 100% lagi. Pundung. Nyeri hate. Hayang balik.

Lebih baik kalau kita minta izin dulu kepada lawan bicara 'nyata' kita kalau kita hendak membalas sms, minta cut dulu ngobrolnya, untuk menunjukkan kalau kita ingin menyimak obrolan dia 100% setelah membalas sms ini .
Atau kalau saya sedang asik YM dan Arif atau Sofi tampak pengen ngobrol, saya suka bilang sama mereka.. "Ntar ya, Umi pamitan dulu sama yang di YM ini".

Saya mengalami masa kecil yang cukup sempurna untuk ukuran manusia biasa. Punya orang tua perhatian yang malam hari itu identik dengan ibu menjahit dan ayah membaca koran. Mamah saya dulu suka menjahit untuk cari penghasilan tambahan. Jadi tukang jahit walau hanya untuk pakaian model sederhana seperti seragam sekolah dan mukena.
Dan bapak saya adalah PNS yang pergi pagi pulang petang, malam hari membaca koran.

Suasananya asik, dan saya lupa dulu saya ngapain aja pas malem-malem. Kalo gak salah sih ya main boneka kecil-kecil buatan mamah dari kain perca, congklak sendirian, atau main bola bekel.

SD saya jarang belajar, tapi komunikasi dengan orang tua cukup baik. Karena saya merasa terperhatikan walau ibu menjahit dan bapak membaca koran. Mesin jahit dan koran itu adalah benda mati. Makhluk hidup di rumah ya cuma orang tua saya, saya, dan kedua kakak saya.

Entahlah kalau dulu ibu saya main BB dan bapak saya menghadap laptop, barangkali dingin ya? Karena para gadget itu saat ini ternyata seperti makhluk hidup walau tidak memenuhi ciri-ciri makhluk hidup. Para gadget itu bisa berkomunikasi. Mereka bisa membuat kita nangis dan tersenyum. Mengerikan bila ibu bapak saya berkomunikasi dengan makhluk hidup lain di dunia lain. Sementara diriku sebagai anak ditinggal di dunia nyata.

***

Dan tadi malam itu waktu tidur pun sampai, yaitu jam 8.30 malam. Arif Sofi pun tertidur dengan cepat, sehingga setelah mereka tidur, saya bisa online sampai jam 10 malam.. horeee.. :))

***

Tulisan ini tidak bersifat tendensius. Bukan berarti saya menyalahkan yang ber-BB ataupun yang bisa online setiap saat dari gadgetnya. Karena saya sendiri tetap pengen gadget bagus seperti yang kalian punya.

Hanya saja saat saya sulit online dari HP seperti sekarang, maka hal-hal nyata yang ada di sekitar saya ternyata lebih ternikmati. Lebih termaknai.

Mudah-mudahan tulisan ini bisa saya baca lagi nanti, setelah saya punya gadget baru yang lebih canggih, atau HP saya yang ini sudah sembuh.
Biar saya tidak lupa daratan. Daratan tampat anak-anak dan suami saya berpijak. Tempat saya bisa kopi darat.
***

Kamis, 15 September 2011

tersinggung

***
Sungguh memalukan. Kemarin saya nyetrika malem-malem sambil nangis. Kebetulan suami dan anak-anak di kamar sebelah lagi main komputer, saya nyetrika sendirian di kamar lainnya. Yang bikin malu bukan nangisnya, tapi pasal kenapa saya nangis.
Kenapa coba saya nangis?

Saya nangis karena pengen BB alias blackberry !!! Hahaha !!!

Saya kesal karena saya sedang pengen online, chat sama temen, tapi kalo malem gak bisa, karena saya harus memberi kesempatan pada suami untuk online. Saya kan udah tadi pagi. Detik ini saya bisa online di laptop karena saya sudah tunai kewajiban 'memperhatikan' anak-anak dalam pelajaran sekolahnya dan karena suami saya ketiduran.

Ah.. coba saya punya BB. Kan saya bisa tuh BBMan sama temen saya itu yang punya BB. Barangkali saya bisa ngocoblak di grup BB yang kayaknya lebih rame ketimbang grup FB. Dan barangkali pula grup BB adalah grup orang-orang yang terpilih sebagai orang kaya di dunia ini. Yang punya duit berjuta-juta buat membelinya. Browsing lebih cepet juga kali ya. FB-an bisa kapanpun, bahkan twitteran kayaknya lebih enak deh.
Begitulah kata saya dalam hati sambil ngusap air mata di pipi kiri kanan. Lebay asli.

Maklumlah opera mini di hp saya saat ini sedang dalam tingkat mengesalkan. Lamaaa dan keputus-putus. Udah bikin status lucu. Ehhh... taunya gak bisa diupload. Jadi aja gak jadi nguploadnya karena jadi terasa garing luar biasa.
Akhirnya saya males tu' buka-buka FB atau twitter dari hp. Sudahlah.
YM apalagi... sekali dua kali posting mesej, ehhh.. keputus. Payaayayayayaahhh...

Nangis lagi deh gue. Menangisi kemiskinan betapa saya tidak punya gadget yang bagus.
Dodol lah pokonya.

Sisi baik dari hati saya pun akhirnya angkat bicara untuk menenangkan sisi galau.
"Kamu itu ya Ier, makanya belom dikasih BB karena dijaga Allah biar bisa jaga omongan kamu di dunia maya. Semakin sedikit kamu komen dan pasang status, maka semakin sedikit juga orang akan tersinggung dengan omongan kamu, dan semakin sedikit juga kamu mikirin omongan orang".

Sisi galau pun akhirnya mengangguk-angguk tanda mengerti. Air mata pun mengering, dan saya lanjut nyetrika, walau akhirnya saya ngantuk dan setrikaan pun gak selesai.

***
Hmm.. rupanya Allah belum berhenti kasih saya peringatan. Tadi siang saya bertuit tuit di twitter. Lebih heboh dari biasanya karena teman dekat saya yang lagi twitteran pun banyak. Jadi asa rame gituh.

Dan ternyata ...arrrrggghhh... keceplosan !!
Gitu deh ya kalo lagi on fire. Kadang kontrol diri kurang.

Sebenernya saya udah mikir hampir 5x ketika akan kirim itu komen di twitter. Tersinggung engga tersinggung engga...
sampe akhirnya si reply+RT saya terkirim, saya masih mikir untuk mendeletenya.
Delete jangan delete jangan...
Lamaa itu saya mikir.
Tapi biarlah.. rasanya kok ya kalo saya jadi dia gak akan tersinggung.

Untungnya teman saya itu kalo ada apa-apa bilang. Dia bilang di replynya kalau dia tersinggung dengan komentar saya. GUBRAGGG....
Ya sudahlah, sms saja. Saya minta maaf, dan balasannya pun baik. Dia menjelaskan kenapa dia tersinggung, dan saya baru ngeh. Semoga memang dia memaafkan.

Iya saya memang jadinya mikir, .. ooh.. iya yah. Tidak semua yang kita anggap cuma main-main, cuma basa-basi, dan gitu aja kok ya tersinggung, adalah benar-benar tidak menyinggung perasaan orang.

Contohnya saja orang-orang yang ketemu saya, rata-rata... bener2 deh rata-rata, karena banyakkkk bangettttt orang bilang saya KURUS.

"Kok jadi kurus Ir?"

Ya ampuun itu yang bilang kayak gitu ya... jutaan orang kayaknya (kerasanya,red).
Dan jujur saya tersinggung.

Tau gak sih, kalau orang bilang kayak gitu kesannya saya itu penyakitan, cacat metabolisme, stress berat, dan hidup menderita bersuamikan lelaki yang tak peduli nafkah. Huahahahahah... lebay ya? Tapi jujur saya seakan mendengar hal itu di balik pertanyaan:

"KOK JADI KURUS IR? ...BERAT BADAN BERAPA?... HAH? CUMA 42?"

DZIIIGGGGHHHHH.... !!!!

Kadang pengen bilang...terus urusan elu apa heh? Gue juga pengen punya berat badan ideal! Tapi kalo gak bisa ya gak bisa! Mau gue makan nasi sebakul tiap malem juga tetep ajaa berat badan segini! Yang penting gue sehat tau!!

Tapi tentu saja saya menelan bulat-bulat perkataan kurang ajar yang ingin saya lontarkan itu. Ya mungkin orang hanya nunjukin perhatian aja. Atau mungkin dia juga sirik sama tubuh saya yang slim ini. Banyak kok yang nyangka saya masih gadis. Heheheh.

Ah, mengapakah ada singgungan di dunia ini ya. Ada yang menyinggung, ada pula yang tersinggung. Namanya juga gaul ya. Gak galau gak gaul.
Bila anda terpendam di rumah dan hanya ngurus kucing barangkali tak pernah itu anda galau.

Sementara saya adalah manusia gaul. Lebih tepatnya sok gaul. Ya pasti ada singgungan dengan teman-teman semua.

Saya sendiri merasa saya tidak mudah tersinggung (tersinggungnya cuma karena masalah kurus tadi #keukeuh).
Contohnya nih ya...kalau ada temen ngomongin orang, terus di akhirnya dia bilang "Siapa yang gak kesel coba Ir, digituin?"
Emmmm... dalam hati kadang saya bilang.."Ah kalo saya sih biasa aja tuh"... bari tiis. Tapi ya saya gak ngomong gitu lah. Biasanya diem aja gue kalo dicurhatin orang kayak gitu. Palingan bilang: "Dianya lagi PMS kaleee... Udah ah gak usah diambil hati... mending nraktir saya aja yuk biar saya gemuk.. hehehehe..."

Oh iya jadi kaideuan.. kalo ada yang bilang saya kurus. Saya langsung minta traktir aja ya? Hahahaha. Awas kalian..

Saya belum pernah ngeblock akun FB siapapun kecuali dia sudah bertindak kriminal seperti penipuan. Belum pernah unfriend kecuali bila dia tidak saya kenal tapi ujug-ujug promo barang di wall saya.

Ah dunia kelam tanpa teknologi canggih dalam bidang komunikasi kadangkala memang kita rindukan. Saat kita tidak mudah berkomentar, saat kita tidak mudah upload status, saat kita lebih bisa menjaga lisan.
Tapi apa daya kita ditakdirkan Allah hadir di dunia seperti ini. Yang tulisan saya ini saja... yang 'INI'... bisa dibaca lebih dari sepuluh orang dalam hitungan beberapa menit ke depan. Subhanalloh yah.

Berarti memang kontrol diri, kontrol hati, kontrol jari, harus lebih dijaga lagi. Saya saja yang tidak punya BB dan tidak bisa update status setiap saat bisa nyinggung perasaan orang seperti tadi siang! Apalagi yang punya BB, Ipad, Android, Galaumix, Curcolinet, Curhatzoid dan sebagainya? (3 terakhir ngarang, red).

Buat Irma Vitriani Susanti, pikirkan lagi ya sebelum ngomen dan pasang status di FB, di twitter, ataupun status BBM (eit? Amiiiin kituh. Amiiin) . Pikirin ni status nyinggung engga. Komennya nyakitin engga. Da saya mah gak setuju atuh kalo orang bilang ini wall,wall gue .. Gue? elo? end!!! ... apa urusan elu, dsb. Karena bagaimanapun apa yang kita tulis ini dibaca orang. Buat apa nulis di jejaring sosial kalo gak butuh dibaca orang. Kalo gak mau dibaca orang mah eta we nulis di diary yang wangi terus pake gembok kecil tea. Tah di dinya, aman. Nu tersinggung paling semut, eta oge mun semutna kacepet ku gembok.

Khususon buat yang saya singgung hatinya hari ini, atau mungkin sebelumnya tapi saya gak nyadar, saya ucapkan mohon maaf lahir batin, taqobbalaLoohu minna wa minkum. Hapunten atuh lah, da abdi mah jalmi alit, tos begang kieu mah tos we pasihan emam, ulah dimusuhan nya, da bageur.

***

Sabtu, 03 September 2011

membangun 12 kebiasaan baik

***
Ramadhan telah berlalu. Satu bulan digembleng dengan target. Target yang sederhana sebetulnya, tapi sulit sekali dilakukan di bulan lain. (1) Shaum, harus tamat sampai magrib (2) Bangun jam 3 pagi untuk siapkan sahur (3) Tarawih alias sholat malam 11 roka'at (4) Minum kopi sehari sekali.. hehe...saya kan biasanya dua kali.

Sok we, da bulan lain mah punya kebiasaan seperti itu teh susaaah banget. Shaum senen kemis banyak mikirnya, bangun jam 3 pagi cuma buat matiin alarm, sholat malam kalo bangun, dan minum kopi selalu pengen sehari dua kali. Payah.

Jadi kepikiran tapinya, untuk bisa membangun kebiasaan baik, yang berlaku tidak hanya satu bulan, tapi seumur hidup. Berharap pula bisa menurunkan kebiasaan baik itu kepada anak cucu.

Dapet quote bagus dari Mario Teguh. Katanya semakin kita mengenali diri, maka kita semakin tau bagaimana memperlakukan diri ini dengan benar.
Saya tau, kalo saya dikasih target yang banyak (lebih dari satu), maka saya tidak akan fokus dan cenderung tidak istiqomah. Maka berpikirlah saya.
Bagusnya target seperti apa yang saya pasang, untuk bisa mengupgrade diri ini.

Hmmm... sepertinya nih ya.. mudah-mudahan, mestinya bisa, insyaa Allah... Saya akan menargetkan satu saja kebiasaan baik dalam satu bulan. Harapannya sih mudah2an setelah satu bulan hal itu akan jadi sebuah kebiasaan. Kalau sudah jadi kebiasaan, maka kebaikan itu akan jadi ringan.

Nah kalau dihitung satu bulan satu kebiasaan baik, maka ketika bertemu ramadhan tahun depan mestinya saya punya 12 kebiasaan baik yang baru. Lumayan kan?

Yuk ah, mumpung tanggal masih muda, saya akan targetkan satu kebiasaan baik mulai besok. Yaitu... *tiiiiiiiiiiiit* -sensor-
Biar Allah, diriku, dan follower twitter saya saja yang tau.. hihihi.... lihat status twitter saya besok ya. Cik berhasil moal.
***

Mata Anakku Minus Enam ???!!!! (Part II)

Duh, telat banget ya ini postingnya, soalnya diupdatenya di kompasiana siiih.. Biarlah...

Kemarin, Kamis 4 Agustus 2011, Arif sudah saya bawa lagi ke dokter mata, istilahnya adalah untuk ‘koreksi’.
Dia diminta duduk di depan slide huruf dan coba-coba lagi lensa hingga titik optimalnya. Koreksinya dilakukan oleh perawat, dan dicek lagi oleh dokter.
Tidak 100% dia menjawab dengan benar hingga huruf terkecil, meskipun kedua mata dibuka dan menggunakan lensa.

Kesimpulannya, Arif menderita astigmatisme-miopi… eits… bener gak namanya itu ya?.. pokonya silindris campur minus gitu lah. Kiri: -1/4 sildr ½, sementara mata kanan: -5,75 sildr 2.

Komen saya? InnaliLlahii wa inna ilaihi raaji’uun. Sebagian kecil kenikmatan penglihatan mata Arif telah diambil oleh-Nya.
Saya tidak sepanik hari selasa kemarin. Kali ini lebih siap, dan biasa-biasa aja.
Kata dokter, Arif harus pakai kacamata terus. Boleh dibuka waktu mandi dan tidur.
“Kalo sholat?”, tanya Arif.
“Iya waktu sholat boleh dilepas”, kata Bu Dokter sambil tersenyum.
Arif tampak baik-baik saja. Semoga seterusnya pun begitu setelah dia pakai kacamata.

Resep kacamata pun ditulis dan barulah saya banyak nanya Bu Dokter.

Pertama saya minta saran dari dokter buat Arif, berhubung dia senang sekali maen laptop.
Kata dokter, yang penting jangan lebih dari 1 jam terus menerus. Kalo udah 1 jam, istirahatlah dulu barang 5 menit, lihat yang jauh-jauh, baru boleh lihat layar lagi.
Insyaa Allah gak sulit. Arif gak sampai segitunya kok, gak sampai manteng laptop lebih dari 1 jam tanpa istirahat. Nonton TV pun hampir tidak, karena di rumah sinyal TV gak bagus.

Kedua, saya tanya vitamin mata apa yang bisa dimakan untuk bantu mengurangi minus mata. Hmm.. dokter bilang, tak ada satupun suplemen yang bisa mencegah mata miop (ini persis seperti jawaban dokter mata saya dulu). Yang bisa dilakukan hanya membangun kebiasaan baik seperti baca sambil duduk di tempat terang, tidak sambil tiduran. Nonton TV dengan jarak cukup (juga tidak sambil tiduran), dsb. Adapun makanan, sayuran dsb itu bisa memperkuat syaraf mata dalam masa pertumbuhannya. Bukan ke masalah miopnya.
Yang jadi tujuan dari kacamata Arif sekarang adalah melatih syaraf mata (terutama kanan), agar minus berapapun dia nanti, dia bisa melihat sama baiknya dengan yang lain.

Yup, saya cukup faham apa yang dokter bilang.
Saat ini, - saya-, mau dipakein minus berapa juga.. tetep kalo lihat huruf kecil-kecil itu gak bisa. Salaah melulu. Tapi karena saya udah gak kuliah lagi, gak perlu terpaksa atau dipaksa duduk di belakang dan melihat papan tulis, maka hal itu jadi tidak masalah buat saya.

Dokter palingan cuma bisa ngasih ukuran terbaik buat saya, tapi tidak maksimal. Itulah barangkali yang namanya syaraf lemah.

Berbeda dengan Sofi kemarin, yang dia mantaaap nyebutin huruf sampe yang terkecil baik mata kanan maupun kiri. Berarti mata dia plus syarafnya insyaa Allah 100% normal. Semoga seterusnya ya Fi, amiiin.

Nah, Arif punya waktu 3 tahun untuk memperbaiki syaraf ini karena dia sedang masa pertumbuhan. Masalah rabun jauhnya sih, wallahu a’lam, cuma mukjizat… atau kelak semacam operasi lasik yang bisa menurunkan angka minusnya.

Jadi begini lho, kata dokter, mata kanan Arif itu terbiasa melihat jelas hanya dalam jarak sekitar 2 meter. Dan otaknya tidak mendapat informasi kalau mata kanan normal itu bisa lihat lebih jauh dari itu, sehingga memang tidak akan ada keluhan dari Arif. Apakah ini yang dinamakan Lazy Eye yah? Baru baca barusan tentang Lazy Eye ini.
Sekarang oleh kacamatanya (yang akan Arif pakai nanti) si syaraf mata kanan dikasih tau kalo dia tu mestinya bisa lihat jauh.

Dokter minta, 3 bulan setelah pake kacamata, kontrol lagi. “Nanti kita lihat apa ada perbaikan pada syaraf matanya”, gitu dokter bilang.

(Di atas sudah terangkum pertanyaan ketiga dari saya tentang maksud dari syaraf lemah).

Pertanyaan keempat adalah tentang kacamata pinhole, yang bisa menguatkan syaraf/ mengurangi minus (?). Jawabannya, tidak usah. Dokter menjawabnya seakan-akan kacamata pinhole itu hanya sebuah tahyul. Gtau deh…
Ya sekarang tinggal menyiapkan mental Arif untuk berkacamata.
Kerasa banget dulu saya berasa bener jadi orang yang tidak normal, karena ketika saya bilang ..
“minus lima.. enam.. tujuh… dst”, tanggapan orang adalah … “HAAA??”

So what gitu loh.. mending nanya mah nanya aja kagak usah pake HA :(

Trus dulu saya paling maleees kalo dibawa mamah/bapak ke RS. Cicendo setahun sekali sejak kelas 1 SD.
Ngantri, lama, lapar, tunduh, hareudang (ini dulu ya, gak tau kalo sekarang), dah gitu dapet vonis penambahan minus pula, dan saya harus ganti lagi kacamata dengan lensa yang lebih tebal, terus ntar makin banyak orang yang nanya deh… “minus berapa?” .. “Haaa?” …. Sebeeellll…

Penderitaan saya berakhir saat seorang dokter mata di tempat praktek pribadinya menyarankan saya menggunakan lensa kontak. Sejak berlensa kontak, penambahan minus mata saya tidak terlalu pesat, dan saya merasa menjadi orang normal. Hehe. AlhamduliLlah.

Berkaca dari pengalaman itu ya berarti saya harus berempati sama Arif dengan cara yang sebaik-baiknya. Seperti halnya saya ingin diperlakukan oleh orang lain. Arif kan belom bisa pake lensa kontak.
Orang tua saya alhamduliLlah sikapnya baik terhadap kekurangan saya ini. Bilang kalo saya lebih baik pasrah saja atas kehendak Allah, banyak bersyukur, dsb dst yang bikin saya tenang hati.
Nanti juga ke Arif saya mau gitu aja. Anggap biasa aja. Dan saya jadinya selalu bilang, “Umi dulu juga gitu”.
Kalo saya bilang gitu, seneng deh lihat rona wajah Arif yang tampak lega. Toh dia melihat kini umminya baik-baik saja walau tetap harus dengan lensa kontak :)

Ayo ARIF !! Tetap SEMANGAT ya Nak !! \m/

***

Selasa, 02 Agustus 2011

Mata Anakku Minus Enam ???!!!! (Part I)

***
Tulisan ini saya terbitkan di kompasiana, jadi bahasanya agak laen.. xixixi...

Sudah cukup lama sebetulnya saya berniat membawa anak saya Arif (9th) ke dokter spesialis mata. Dasar pemikirannya hanya karena saya sendiri penderita rabun jauh, begitu pula dengan suami. Saya minus sepuluh loh, berlensa kontak, dan suamiku minus tiga berkacamata. Kami sama-sama mengenakan kacamata sejak SD.

Dari informasi sekilas yang saya dapat, mata minus itu bisa menurun ke anak. Makanya saya udah niat aja bawa Arif ke dokter mata, ada keluhan ataupun tidak.

Tapi niat tinggallah niat. Selalu saja saya urungkan, karena memang Arif tidak mengeluh apa-apa. Tak ada yang aneh, tak ada pula laporan dari gurunya. Prestasi di sekolah pun bagus.
Hanya saja waktu Arif liburan kemarin, dia banyak maen game di laptop, dan jarak antara matanya dengan laptop menurut saya terlalu dekat. Begitu pula menonton TV. Berkali-kali saya menyuruhnya untuk mundur, tapi dia maju lagi maju lagi. Posisi saat dia membaca buku pun begitu. Terlalu dekat.
Yang membuat saya tidak terlalu risau adalah karena saat dia menjauh pun, dia masih tampak bisa melihat/ membaca.

Barulah tadi siang saya membawa dia ke dokter spesialis mata. Kebetulan sekolahnya masih libur. Niatnya ngabuburit sajalah. Sebelumnya cek gigi pula. Gigi oke, alhamduliLlah.

Sesampainya di klinik spesialis mata, tanpa menunggu lama Arif dipanggil untuk duduk di kursi dan melihat slide huruf kapital. Dan kagetlah saya ketika mata kirinya ditutup oleh perawat, dia tidak bisa membaca satu huruf pun, padahal ukurannya udah yang paling gede. Berkali-kali saya berpandangan dengan Sofi (7th), adiknya Arif. Heran. Kok Mas Arif gak bisa baca sih.
Beberapa lensa dicoba dan dia hanya mencapai kemajuan sampai huruf pertengahan, tidak sampai yang terkecil.

Kemudian pindah tutup mata kanan, mata kiri yang melihat. Yang ini sebentar saja, tampak tak ada masalah berarti.
Kemudian perawat membawanya ke sebuah alat.. emm.. komputer dia bilang (duh.. apa namanya ya?). Arif duduk menempelkan dagu dan keningnya di alat tersebut dan melihat ke sebuah lensa tanpa boleh berkedip. Setelah mata kiri, kemudian mata kanan, dan keluarlah hasilnya berupa print out.

Perawat kembali meminta Arif duduk di kursi tadi. Coba-coba lagi beberapa lensa. Diputar, diganti, dan Arif ditanya. Tetap hasilnya tidak memuaskan.
Perawat pun memanggil saya dan menjelaskan... deg deg deg...

"Ibu, menurut hasil pengukuran komputer, mata Arif ini yang kiri hanya minus 1/4, tapi yang kanan, jauh sekali Bu.. minus 6. Sebentar ya Bu saya panggil dokternya dulu"

Haaa???.. Minus ENAM? Ya Allaaah.. sungguh saya nyesel beribu kali nyesel kenapa saya gak bawa Arif sejak dulu untuk periksa mata.... Dan saya heran kenapa selama ini Arif gak bilang sama saya... pun saya gak melihat gelagat yang terlalu gimanaaa gitu dari Arifnya sendiri. Toh saya kan sering di rumah, dan gerak-gerik Arif cukup teramati oleh saya. Minus ENAM... saya tau seberapa buram itu minus enam. Itu minus saya kelas 3 SMP !!

Dan dokter pun datang.
Beberapa lensa beliau coba lagi di mata kanan. Hasilnya masih kurang memuaskan juga. Sampai pasien di sebelah saya tanya, "Anak ibu udah bisa baca kan Bu?" .. hiks.

Dokter memanggil saya, dan menjelaskan seperti halnya perawat tadi. Dia sama sekali tidak menyalahkan saya. Dia bilang bahwa kasus seperti ini amat besar kemungkinannya untuk terlambat diketahui, karena anak tidak mengeluh, dan orang tua seringkali tidak sadar. Arif selama ini mengandalkan mata kirinya untuk melihat. Tanpa disadari mata kanannya jadi tidak optimal bekerja, sehingga syarafnya melemah. Oow..
Dokter bilang, masih ada waktu 3 tahun lagi (hingga Arif berusia 12 tahun) untuk bisa menguatkan kembali syaraf mata kanannya.
Dokter kemudian memberi Arif obat tetes mata untuk melebarkan pupil (?) -maaf saya tidak yakin kegunaan obat tetes tadi-, dan meminta saya menunggu satu jam untuk kemudian mata Arif dicek kembali di komputer.
Sambil menunggu, saya telpon suami, dan suami menyuruh saya memeriksakan Sofi juga. Khawatir.
AlhamduliLlah setelah dites huruf dan cek komputer, mata Sofi 100% normal. Dokter bilang cek lagi tahun depan. Insyaa Allah..
Saya membawa anak-anak ke dokter mata memang niatnya hanya memeriksakan Arif dulu saja. Feelingnya agak lain soalnya... Dan, saya mau lihat-lihat tarif dulu.. ke spesialis mata berapa sih sekarang. Hehe.

Satu jam kemudian, setelah cek komputer, Arif boleh pulang dan kembali lagi dalam 2 hari. Mudah-mudahan bisa ditentukan ukuran lensa yang pas untuk Arif nanti, dan mudah-mudahan gak sampai 6 lah.
-pengen nawar sama Allah .. huhu..

Sore tadi jadinya saya sediiih.. pisaaaaan.. nyeseeeeel... hik hik.... Plus sedihnya membayangkan Arif nanti harus jomplang kacamatanya. Gak ngerti saya ntar bagusnya gimana. Enam itu kan tebal, sementara seperempat itu tipis. Saya tau lah, saya sendiri sejak SD gitu lo berkacamata, hingga saya pindah ke lensa kontak kelas 2 SMA, saat saya minus 7.

Tapi ya gimana lagi, tetep ada sisi syukurnya sih. Bersyukur karena bagaimanapun Arif masih punya waktu untuk bisa melatih lagi otot syaraf mata kanannya. Bersyukur saya tadi diberi niat dan kekuatan untuk melangkah ke klinik. Bersyukur karena saya dan suami insyaa Allah masih diberi rejeki buat periksa mata anak sekaligus nanti biaya kacamatanya Arif.

Arif tadi tampak sedih juga. Dia menghibur diri dengan bilang "Biarlah, setiap orang kan ada sakitnya ya.."
Mungkin maksud dia, setiap orang punya kelemahan.
Iya bener Rif.

Tinggal saya yang harus menguatkan hati, jangan lebay, jangan sampe memperlihatkan ekspresi bahwa kita sedih kalau anak harus pake kacamata tebal.
Saya merasakan sendiri. Bila ekspresi mamah saya baik-baik saja, maka saya pun akan baik-baik saja. Bila mamah tampak cemas, maka saya akan cemas. Bila mamah tampak bersyukur dan berpikir positif, saya terbantu untuk bisa berpikir demikian.

Saya mesti gitu juga di depan Arif. Everything will be better with your glasses, Son! Mari kita jalani saja tiap episode kehidupan kita. Masih banyak kok ... masih banyak buangetttt yang bisa kita syukuri.
Mata minus bukankah jauhhhhh lebih baik.. jauh sekali lebih baik daripada kehilangan penglihatan sama sekali? Na'udzubillahi min dzalik. Semoga Allah melindungi kita dari cobaan berat yang kita tidak sanggup untuk memikulnya.

Di Part II nanti insyaa Allah akan saya tulis eksekusi dokter atas mata Arif, minus berapakah mata kanan dia sebenarnya.
Saya mohon do'a, mohon share pengalaman, dan mohon saran, barangkali ada yang bisa saya lakukan untuk Arif.

Terimakasih telah membaca artikel ini.
***

Setelah Sebelas Tahun Menikah

***
"Sebelas tahun nikah itu hebat loh!", ujar seorang bujangan kepada kami. Kepada saya dan suami pada hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-11, 30 Juli 2011 sabtu kemarin.

Saya langsung nyaut sambil terheran-heran,"Heh? Hebat ya? Perasaan biasa aja deh"

Suami saya pun bilang dengan gaya bijaknya tea,"Masih banyak yang lebih berprestasi"

Sebelas taun dibilang hebat? Anak masih SD gini, belom jadi apa-apa kalipun. Ya ibu bapak kami lah rasanya yang lebih layak dibilang hebat. Puluhan tahun hidup bersama, dan bisa membesarkan putra-putrinya dengan baik.

Sungguh memang ibu bapak saya dan ibu bapak mertua saya telah memberi contoh yang baik untuk sebuah kehidupan rumah tangga. Sehingga kami putra putrinya bisa meniru mereka dalam gaya saling asah asih dan asuhnya, bahkan meniru gaya 'bertengkar'nya. Bertengkar yang tidak berlebihan, yang kemudian saling mengalah. Bertengkar yang tidak serius. Marah karena sayang, dan untuk kebaikan. Bukan marah untuk melepas ego.

Rasa hati di malam tahun kesebelas, memang tak sama dengan rasa hati di malam pertama. Tak ada lagi desir rasa yang menggebu, tak ada lagi rindu yang membara. Halah. Tapi, apa ya? Sulit diungkapkan rasa hati ini. Hanya tenang, tentram, bahagia..

Suamiku bukanlah lelaki paling ganteng di dunia ini. Paling sholeh ya engga juga. Paling baik, bukan juga. Segala kekurangannya sudah tampak begitu jelas di mata saya, tapi saya suka. Saya tenang bila bersamanya, saya merasa kehilangan jika dia tidak ada, dan saya takut membuatnya marah. Itu saja.

Saya juga gak tau apa yang membuat saya bertahan hidup bersama dengan orang yang sama, tanpa merasa bosan dan tanpa pernah berpikir untuk mencari gantinya. Yang jelas memang karena Allah yang memberi kami ketentraman. Yang bisa saya lakukan untuk meraih barokah-Nya berupa sakinah, mawaddah, wa rahmah memang ada, tapi rasanya masih sedikit juga usaha saya itu. Ini pure bener Allah yang kasih rasa.

Yang keingetan mah, pokonya saya gak boleh ngomongin aib suami di depan orang lain. Sementara ini hal-hal yang bikin saya kesel, biar saya telen sendiri aja bulat-bulat, dan diomongin langsung ke suami. Biar sambil nangis-nangis juga yang penting saya ngomong. Sehingga suami tau apa yang jadi kekesalan saya padanya. Lha kalo kita ngomongnya ke orang, mana suami bisa tau? Minimal tau dulu lah. Ngerti biar belakangan. Hehe.

Duh, sedikit aja saya 'ngejelekin' suami di depan orang lain, sekalipun itu sahabat saya, rasanya kok seperti cakar-cakar muka sendiri. Engga banget gitu loh. Rasanya seluruh dunia ngomong: "kalo suami elu jelek, lantas kenape elu mau sama dia?" Hihi.

Tau engga, kalo dikit-dikit aja kejelekan orang diomongin, rasanya orang itu jadi beneran paling jelek di dunia ini, dan kita adalah orang yang paling menderita karena terzholimi oleh kejelekannya. Sing demi, begitulah.
Ya saya juga kalo kira-kiranya udah parah banget mah, curhat kali sama sahabat. Yang tujuannya untuk cari solusi dan melegakan hati. Bukan asal curhat dan mencari pembenaran untuk diri kita sendiri. Tapi alhamduliLlah sampai saat ini belum ada yang membuat saya nangis-nangis ngaduin suami ke sahabat terdekat saya sekalipun. Berjuta kali hamdalah pokonya.

Usaha saya yang laen adalah menampilkan diri apa adanya di depan suami. Gak jaim, gak sok jadi istri sholehah, tapi gak juga gampangan marah. Pokona mah jamedud ya jamedud, ngakak ya ngakak. Dan ke suami memang harus banyak maklumnya. Toh kita juga bukan cewek yang sempurna.

Bersyukur saya beneran, punya suami botak jenggotan. Pendiem juga. Mana gaulnya cuman di milis, bukan di facebook atao twitter. Rajin ke kantor dan rapat yayasan, bukan ke tempat-tempat makan. Hahahaha.
Eh, jangan ngetawain. Dengan begitu gak banyak cewe yang mau sama dia, yang ada cuma segen campur takut. Jadi kan gue tenang tuh dia takkan nyamber atau disamber! (.... petir kali -_-"). Pokona suami saya teu centil gitu lah. Gak tebar pesona di hadapan publik.

Kepercayaan dari istri/suami di jaman sekarang tu mahal loh. Susah dapetinnya. Orang bisa selingkuh dengan cara bervariasi. Makanya sekalinya saya dipercaya suami, dan suami dipercaya sama saya, rasanya sayang banget kalo kita sampe mengkhianatinya. Jadi salah satu kunci rumah tangga rukun memang salah satunya adalah saling percaya dan saling menjaga kepercayaan. Jangan cemburu berlebihan karena itu akan membuat sebal. Cemburu tanda kita gak percaya diri. Percayalah bahwa pasangan gak akan mengkhianati, dan percaya dirilah bahwa kita layak untuk dicintai. Selebihnya, titipkanlah pasangan kita pada Allah, karena sesungguhnya Dia-lah Yang Menjaganya.

Usaha lainnya lagi adalah dengan tidak membanding-bandingkan. Membandingkan suami dengan lelaki lain, atau membandingkan rumah tangga kita dengan rumah tangga orang lain. Dilarang sirik, dilarang dengki dan iri hati.
Allah menciptakan orang dengan karakter, pesona, dan warna berbeda. Banyak-banyaklah lihat kelebihan suami kita, dan banyak-banyaklah melihat kekurangan lelaki lain. Whahaha.
Pun namanya rumah tangga dan pasangan, punya cara sendiri untuk menikmati kebersamaannya. Kita carilah gaya kita sendiri bagaimana. Sesuaikan dengan karakter dan kantong masing-masing. Kalo suami orang ngajak istrinya jalan-jalan ke singapur, ya kalo suami kita kering kerontang mah ajaklah suami jalan-jalan ke situ aja, ke depan halaman, terus nyapu bareng, cuci mobil bareng. Pasti tetangga kita lihat kalo kita adalah pasangan romantis da. Suer.

Dalam urusan ajak mengajak gini, jangan andelin suami buat ngajak duluan. Kadang suami mah gak kepikiran. Yang kepikiran sama dia bisa jadi cuma tidur ato nonton bola. Kita aja sebagai istri yang duluan ngajak dan berinisiatif dengan hati happy. Kalo suami lihat kita hepi, sumringah, dan bersemangat, pasti dia semangat juga.

Ya wallahu a'lam, kita cuma bisa usaha gitu doang. Tapi dengan niat ikhlas, insyaa Allah, nanti Allah yang akan menurunkan ketenangan itu ke hati kita semua. Semoga saja. Amiin.
***