Malam itu memang heboh.. ngelayanin tiga pembeli sekaligus.
Satu fles albotil saya berikan pada seorang mbak-mbak.
Dia pun tidak ragu menyerahkan uang lima puluh ribuannya dengan kembalian hanya 21 ribu.
Transaksi selesai.. beres, saya pun kembali duduk di singgasana apoteker.
Seneng sih kalo barang mahal kejual. Ndongkrak omzet. Beli albotil satu kan sama aja dengan belasan orang beli obat flu warungan.
Gak lama kemudian si mbak pembeli albotil itu datang lagi ke apotek dengan tergopoh-gopoh.
Rupanya dia disuruh majikannya.
"Teh, ini obat kutil bukan?", tanyanya
"Oh..bukan Mbak," jawab saya yakin seyakin-yakinnya.
"Maap Teh.. tadi saya minta obat kutil, bukan albotil", jawabnya.
-Pliz!@#$%^&*!!!!!-
***
Tampilkan postingan dengan label serba-serbi apotek kita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label serba-serbi apotek kita. Tampilkan semua postingan
Kamis, 15 Januari 2009
Jumat, 24 Oktober 2008
Pokoknya..beri saya ANTIBIOTIK!!!!
Malam, jam sembilanan. Saya udah mau pulang dari apotek.
Tapi masih ada juga yang nyambangin apotek saya. Malah agak rame kalo agak larut.
Kalo jam segituan biasanya sih bapak-bapak yang kebelet...
...cari 'sarung'.. hehe.
"Teh, minta antibiotik yang paling bagus", kata seorang pemuda yang maaf.. agak kumal.
(yang paling bagus? yang paling mahal sih ada..)
-keluhannya apa A?
(saya biasa manggil Aa ke pelanggan laki-laki muda. Jadi lebih akrab aja)
Ditanya gitu dia diem..
"Yang paling bagus aja Teh"
-Kan tergantung sakitnya apa, di daerah mana
(Kata saya sedikit menata kata, biar dia faham)
-Nanti kalau salah, bisa tambah sakit
-Antibiotik mah banyak macemnya, gak bisa sembarangan
(saya jelaskan dalam bahasa sunda..)
Dia diem lagi. Keukeuh gak mau bilang dia sakit apa.
Terpaku di depan etalase. Bengang bengong. Lama.
Saya gak sabar, pengen pulang.
Dari tadi tas sudah menclok di pundak kanan saya.
Plus tas laptop di sebelah kiri.
Keliatan banget sama pelanggan kalau saya udah mau pulang.
Udah serah terima pula dengan asisten.
Saya tinggalkan ruang pelayanan dan pemuda itu. Mau pulang lewat pintu samping belakang.
Toh udah ada asisten saya.
Ternyata dari depan etalase, si pemuda itu ke belakang. Nyamperin saya yang keluar dari pintu samping .
Dekat.. 2 meteran.. dan tercium aroma tubuhnya..yang bikin saya selangkah mundur.
Bisa dipastikan dalam satu minggu dia gak mandi.
"Teh, mun berobat ka dieu kumaha nya?"
Dia menyerahkan sebuah kartu nama ke saya. Saya terpaksa bernafas lewat mulut.
Lampu di teras samping apotek itu agak remang-remang. Mata saya yang akomodasinya sudah kacau agak sulit baca kartu nama dengan tulisan perak di atas hijau itu.
Tertulis di sana nama seorang Haji (catat: bukan dokter).
"Pa haji ieu teh tiasa ngalihkeun panyawat ti manusa kana domba"
(Halagh...)
"Da atuh ka dokter tos tilu kali, saur dokter teu nanaon..padahal mah abdi teh nyeri pisan"
(saya bingung..)
Sebelum saya tanya -lagi- sakitnya di daerah mana, dia udah bilang sesuatu yang...
huaaaa... ternyata dia suka main perempuan.. huaaa...
"Tapi tos henteu ayeuna mah Teh.. terahir mah september"
Huaaaa... takuuuuut...
"Janten kumaha Teh pami abdi berobat ka pa haji eta?"
"Mangga we A, pami percanten mah"
Saya udah ambil ancang-ancang mau kabur.
"Tapi ayeuna abdi nyeri pisan"
-ngagaleuh penahan nyeri we A...
kataku sambil setengah lari ke depan apotek
-Supyan.. asam mefenamat buat Aa ini nih...
saya kasih perintah ke asisten..dan segera masuk mobil. Starter... byuuuurrr...
Dari spion saya lihat si Aa itu mengamati kepergian saya..
Hiiii....
-----------------------------------------
"Teh, ada obat ini nggak...mm.. apa ya.. ada oks oks nya gitu.."
- Apa ya?
- Keluhannya apa A?
"Antibiotik lah"
Saya nebak pake beberapa nama antibiotik. Tapi selalu 'bukan'.
- Keluhannya apa?
sekali lagi saya tanya si Aa itu.
"Ya teteh sebutin aja dulu semua antibiotik yang ada di sini.."
WHEW!! Sidang, naon ieu teh.. Jangan2 dia pengen tau spektrumnya juga?
- Banyak atuh A, susah kalo disebutin satu satu mah.. Aa keluhannya apa?
Keukeuh saya nanya.
"Yaaah..emmm.... daerah bawah lah...", katanya pelan.
Saya mulai males.
"Dulu saya pernah gini juga.. dikasih obatnya itu.. yang 'oks' itu.."
-Ya ke dokter lagi aja atuh
"Ayolah Teeeh... antibiotik apa aja lah.."
- Ya gak bisa gitu dong.. ntar saya salah..
- Ke dokter aja lagi....
"Terserah Teteh aja atuh lah, saya mau antibiotik sekarang"
Agak kesal juga saya..
Akhirnya saya kasih dia ciprofloksasin beserta aturan pakainya.
Setidaknya ada oks nya gitu lah..
Dan tanpa diminta, dia akhirnya jelasin sama saya..
"Itu teh.. soalnya.. saya.. mm...kejepit resleting..."
Saya cuma tampakkan senyum. Dan setelah dia pergi, saya ketawa-ketawa.
Sedikit membayangkan...
Kira-kira dia kejepit resleting atau- 'suka' -kejepit yang lain yaaaaaa =P
*****
Tapi masih ada juga yang nyambangin apotek saya. Malah agak rame kalo agak larut.
Kalo jam segituan biasanya sih bapak-bapak yang kebelet...
...cari 'sarung'.. hehe.
"Teh, minta antibiotik yang paling bagus", kata seorang pemuda yang maaf.. agak kumal.
(yang paling bagus? yang paling mahal sih ada..)
-keluhannya apa A?
(saya biasa manggil Aa ke pelanggan laki-laki muda. Jadi lebih akrab aja)
Ditanya gitu dia diem..
"Yang paling bagus aja Teh"
-Kan tergantung sakitnya apa, di daerah mana
(Kata saya sedikit menata kata, biar dia faham)
-Nanti kalau salah, bisa tambah sakit
-Antibiotik mah banyak macemnya, gak bisa sembarangan
(saya jelaskan dalam bahasa sunda..)
Dia diem lagi. Keukeuh gak mau bilang dia sakit apa.
Terpaku di depan etalase. Bengang bengong. Lama.
Saya gak sabar, pengen pulang.
Dari tadi tas sudah menclok di pundak kanan saya.
Plus tas laptop di sebelah kiri.
Keliatan banget sama pelanggan kalau saya udah mau pulang.
Udah serah terima pula dengan asisten.
Saya tinggalkan ruang pelayanan dan pemuda itu. Mau pulang lewat pintu samping belakang.
Toh udah ada asisten saya.
Ternyata dari depan etalase, si pemuda itu ke belakang. Nyamperin saya yang keluar dari pintu samping .
Dekat.. 2 meteran.. dan tercium aroma tubuhnya..yang bikin saya selangkah mundur.
Bisa dipastikan dalam satu minggu dia gak mandi.
"Teh, mun berobat ka dieu kumaha nya?"
Dia menyerahkan sebuah kartu nama ke saya. Saya terpaksa bernafas lewat mulut.
Lampu di teras samping apotek itu agak remang-remang. Mata saya yang akomodasinya sudah kacau agak sulit baca kartu nama dengan tulisan perak di atas hijau itu.
Tertulis di sana nama seorang Haji (catat: bukan dokter).
"Pa haji ieu teh tiasa ngalihkeun panyawat ti manusa kana domba"
(Halagh...)
"Da atuh ka dokter tos tilu kali, saur dokter teu nanaon..padahal mah abdi teh nyeri pisan"
(saya bingung..)
Sebelum saya tanya -lagi- sakitnya di daerah mana, dia udah bilang sesuatu yang...
huaaaa... ternyata dia suka main perempuan.. huaaa...
"Tapi tos henteu ayeuna mah Teh.. terahir mah september"
Huaaaa... takuuuuut...
"Janten kumaha Teh pami abdi berobat ka pa haji eta?"
"Mangga we A, pami percanten mah"
Saya udah ambil ancang-ancang mau kabur.
"Tapi ayeuna abdi nyeri pisan"
-ngagaleuh penahan nyeri we A...
kataku sambil setengah lari ke depan apotek
-Supyan.. asam mefenamat buat Aa ini nih...
saya kasih perintah ke asisten..dan segera masuk mobil. Starter... byuuuurrr...
Dari spion saya lihat si Aa itu mengamati kepergian saya..
Hiiii....
-----------------------------------------
"Teh, ada obat ini nggak...mm.. apa ya.. ada oks oks nya gitu.."
- Apa ya?
- Keluhannya apa A?
"Antibiotik lah"
Saya nebak pake beberapa nama antibiotik. Tapi selalu 'bukan'.
- Keluhannya apa?
sekali lagi saya tanya si Aa itu.
"Ya teteh sebutin aja dulu semua antibiotik yang ada di sini.."
WHEW!! Sidang, naon ieu teh.. Jangan2 dia pengen tau spektrumnya juga?
- Banyak atuh A, susah kalo disebutin satu satu mah.. Aa keluhannya apa?
Keukeuh saya nanya.
"Yaaah..emmm.... daerah bawah lah...", katanya pelan.
Saya mulai males.
"Dulu saya pernah gini juga.. dikasih obatnya itu.. yang 'oks' itu.."
-Ya ke dokter lagi aja atuh
"Ayolah Teeeh... antibiotik apa aja lah.."
- Ya gak bisa gitu dong.. ntar saya salah..
- Ke dokter aja lagi....
"Terserah Teteh aja atuh lah, saya mau antibiotik sekarang"
Agak kesal juga saya..
Akhirnya saya kasih dia ciprofloksasin beserta aturan pakainya.
Setidaknya ada oks nya gitu lah..
Dan tanpa diminta, dia akhirnya jelasin sama saya..
"Itu teh.. soalnya.. saya.. mm...kejepit resleting..."
Saya cuma tampakkan senyum. Dan setelah dia pergi, saya ketawa-ketawa.
Sedikit membayangkan...
Kira-kira dia kejepit resleting atau- 'suka' -kejepit yang lain yaaaaaa =P
*****
Senin, 29 September 2008
iya deh pak.. iyaa..
Pelanggan yang satu ini emang rada unik.
Kakek usia 70an tapi masih tampil energik.
Berpeci, selalu berbatik, dan tentu saja ubannya banyak.
Setiap ketemu saya, si bapak ini selalu cerita bahwa dia pensiunan pegawai 'ITT'.
Jadi berkali-kali dia beli obat atau suplemen ke apotek, pasti diiringi cerita bahwa,"Bapa teh kapungkur damel di ITT". Kadang ditambahi dengan cerita tentang anak-anaknya yang udah pada jadi orang.
Untuk ke sekian kalinya tak terhitung, si bapak ini kembali mengunjungi apotek saya. Beli jess cool dua. Tapi kali ini kok beliau diem ya. Cuma tanya harga.. kasih uang.. dan tetap diam.
Kok dia gak bilang,"..." kenapa nih si bapak.
Namun, tak lama kemudian...
"Bapa teh pangsiunan ITT Neng...", ujarnya tiba-tiba seperti bisa membaca pikiran saya.
"Oooh..", jawab saya sambil kasih kembalian.
Tahaaan... tahaan....
Setelah si bapak itu pergi, saya ngakak abis-abisan..
*****
Kakek usia 70an tapi masih tampil energik.
Berpeci, selalu berbatik, dan tentu saja ubannya banyak.
Setiap ketemu saya, si bapak ini selalu cerita bahwa dia pensiunan pegawai 'ITT'.
Jadi berkali-kali dia beli obat atau suplemen ke apotek, pasti diiringi cerita bahwa,"Bapa teh kapungkur damel di ITT". Kadang ditambahi dengan cerita tentang anak-anaknya yang udah pada jadi orang.
Untuk ke sekian kalinya tak terhitung, si bapak ini kembali mengunjungi apotek saya. Beli jess cool dua. Tapi kali ini kok beliau diem ya. Cuma tanya harga.. kasih uang.. dan tetap diam.
Kok dia gak bilang,"..." kenapa nih si bapak.
Namun, tak lama kemudian...
"Bapa teh pangsiunan ITT Neng...", ujarnya tiba-tiba seperti bisa membaca pikiran saya.
"Oooh..", jawab saya sambil kasih kembalian.
Tahaaan... tahaan....
Setelah si bapak itu pergi, saya ngakak abis-abisan..
*****
Pelanggan Cerdas
"Ini uangnya Teh..", si Ibu menyodorkan selembar uang sepuluh ribuan.
"Mm..punten Bu, harganya dua belas ribu lima ratus", saya bilang dengan hati-hati.
"Eh, kok rasanya dulu delapan ribu lima ratus ya?", jawab si Ibu sambil lihat-lihat kemasan obat flu sirup itu.
Saya juga ragu. Rasanya emang kemarin harganya gak sampe 12.500. Tapi kenaikan harga sekarang memang bikin para pelanggan saya dengan terpaksa memaklumi perubahan harga obat.
"Ibu buru-buru nggak?"
"Nggak," jawab si Ibu yang masih membolak-balik kemasan obat.
"Saya cek dulu ya Bu, khawatirnya kami salah kasih harga..," pinta saya, bilih si Ibu itu yang udah sekian lama jadi pelanggan apotek saya terkecewakan.
"Eh.. gak usah Teh.. ini kan di sini HETnya 13.750. Ya wajar kok kalo harganya 12.500", jawab si Ibu sambil tersenyum dan menunjukkan nilai HET yang tertera pada kemasan.
Fh..legaa..
senangnya kalo punya pelanggan begini semua =)
***
"Mm..punten Bu, harganya dua belas ribu lima ratus", saya bilang dengan hati-hati.
"Eh, kok rasanya dulu delapan ribu lima ratus ya?", jawab si Ibu sambil lihat-lihat kemasan obat flu sirup itu.
Saya juga ragu. Rasanya emang kemarin harganya gak sampe 12.500. Tapi kenaikan harga sekarang memang bikin para pelanggan saya dengan terpaksa memaklumi perubahan harga obat.
"Ibu buru-buru nggak?"
"Nggak," jawab si Ibu yang masih membolak-balik kemasan obat.
"Saya cek dulu ya Bu, khawatirnya kami salah kasih harga..," pinta saya, bilih si Ibu itu yang udah sekian lama jadi pelanggan apotek saya terkecewakan.
"Eh.. gak usah Teh.. ini kan di sini HETnya 13.750. Ya wajar kok kalo harganya 12.500", jawab si Ibu sambil tersenyum dan menunjukkan nilai HET yang tertera pada kemasan.
Fh..legaa..
senangnya kalo punya pelanggan begini semua =)
***
Rabu, 17 September 2008
PELETOPHARMACY
Si Ibu cari-cari bedak marcks yang ada kerlap-kerlipnya...
bingung saya. Emang ada?
Sudahlah...
Selanjutnya si Ibu berlama-lama di apotek.
Saya ajak ngobrol ngalor ngidul.
Dia cerita ngulon ngetan.
Dia tanya ini itu.
Saya jawab setaunya.
Akhirnya 'tanpa sadar' di tangannya jadi ada beberapa barang yang dia beli dari apotek saya.
-Eh... padahal pan tadi mung bade meser hiji... (bedak marcks yang nggak ada)
-Naha janten balanja nya?
Saya senyum-senyum sambil ngasih kembalian.
-si teteh mah sae peletna
-kumaha Bu? (pelet? apa gak salah denger?)
-enya si teteh mah sae peletna, ibu janten balanja seueur...
-ngangge pelet naon teh?
Walaaah si ibu... barusan kan gw pake teknik up selling!
Malah dikatain gw pake ilmu pelet!
Dasar ibu-ibu....
(yee .. emangnya gw bukan?)
bingung saya. Emang ada?
Sudahlah...
Selanjutnya si Ibu berlama-lama di apotek.
Saya ajak ngobrol ngalor ngidul.
Dia cerita ngulon ngetan.
Dia tanya ini itu.
Saya jawab setaunya.
Akhirnya 'tanpa sadar' di tangannya jadi ada beberapa barang yang dia beli dari apotek saya.
-Eh... padahal pan tadi mung bade meser hiji... (bedak marcks yang nggak ada)
-Naha janten balanja nya?
Saya senyum-senyum sambil ngasih kembalian.
-si teteh mah sae peletna
-kumaha Bu? (pelet? apa gak salah denger?)
-enya si teteh mah sae peletna, ibu janten balanja seueur...
-ngangge pelet naon teh?
Walaaah si ibu... barusan kan gw pake teknik up selling!
Malah dikatain gw pake ilmu pelet!
Dasar ibu-ibu....
(yee .. emangnya gw bukan?)
Selasa, 09 September 2008
lain padang lain belalang..
lain lubuk lain ikannya...
lain suplier, lain pula salesnya...
begitu kurang lebih arti dari pepatah ini versi saya, yang sehari-hari berkutat di apotek.
Bicara tentang pengadaan obat dan alat kesehatan, saya masih ambil barang lebih banyak dari sub distributor, bukan dari distributornya.
Alasannya, nilai satu faktur bisa lebih kecil sesuai dengan kemampuan apotek saya saat ini. Selain itu saya bisa lebih mudah dapat kredit tanpa birokrasi yang rumit. Barang-barang sub dis seringkali merupakan barang-barang campuran dari yang rata-rata fast moving, dan harga eceran justru bisa lebih murah. Begitulah setau saya.
Saat ini saya gak akan bahas PBFnya. Tapi mau sedikit berbagi, tentang dunia salesnya.
***
Setahun buka apotek sendiri dan mengelola stok barang, akhirnya saya kini cukup hafal karakter sales PBF.
Pembawaaan sales seringkali menentukan apa saya order atau nggak.
Sales yang tampak kuyu dan males-malesan nawarin produknya seringkali saya lewat saja. Paling kukasih cap kunjungan. Pergi. Selesai.
Tapi kalo si sales kuyu itu sampe dateng berkali-kali ke apotek, ya saya coba order juga. Cuma atas dasar kasihan saja. Biasanya sekali dua kali order, eh... dia malah gak balik lagi. Sales yang aneh. Kerasa kali kalo saya kepaksa, atau dianya yang emang gak konsisten?
Apalagi kalo diskon yang dia kasih ternyata payah. Udah deh... jangan harap saya mau order lagi.
***
Sales Adit...
(di sepanjang cerita ini, nama sales dan nama PBF bukan nama sebenarnya ya)
Lanjut...
Sales Adit ini tampangnya ok banget. Dia salah satu dari sekian banyak suplier alat kesehatan. Mestinya sekali-kali dia ikut casting sinetron, atau nyoba belajar jalan di atas catwalk, atau jadi cover boy, ... kayaknya minimal bisa jadi finalis.
Namun nasib membawa dia keliling naik motor saja ke apotek-apotek.
Tak apa, cukup menghibur para cewek di apotek kayak saya =P
Beberapa kali Adit nembak saya, saya tolak. Saya bilang kalo saya udah sama yang lain.
Nembak minta orderan maksudnya.
Sekalinya dia nembak dapet, ternyata kondisi (baca: diskon/bonus) barangnya payah. Selain itu, ketika barangnya dateng, banyak yang salah item, salah jumlah, bahkan ketinggalan. Lopernya bilang, orang di gudangnya banyak yang baru, jadi masih banyak salah. Ah.. tidak ada alasan!!
Memang sepertinya bukan salah Adit. Tapi kini, setiap Adit datang, saya kembali bilang kalo saya udah sama yang lain. Kita sampai di sini saja!
Adit akhirnya gak pernah ngapelin saya lagi.
Untuk alat kesehatan saya langganannya ke PT.Formindo. Dengan sales bernama Dendi.
Hitam manis bersahaja dengan hp esia ber-NSP ayat-ayat cinta. Kondisi barangnya bagus. Tapi semua dipegang sama sales Dendi ini dari mulai cari orderan, nganter barang (loper), sampe ke nagih bayarannya (kolektor). Nganter barang sih kadang digantiin sama loper lain kalo Dendi sakit.
Loper lain ini sering ditunggu-tunggu sama asisten saya yang masih bujangan, karena lopernya cantik=)
Di beberapa jenis obat selain alat kesehatan, PT.Sumbawa Mitra bersaing dengan PT.Compo Prima. Kondisi dan item barang hampir sama.
Suka bingung saya kalo sales Anto dari PT. Sumbawa dan sales Rido dari PT.Compo ini datang bersamaan. Terhirup aroma persaingan di antara mereka. Tapi tentu saja kalo ketemu dua-duanya saling senyum, salam, dan sapa. Di antara kedua laki-laki ini sebenernya saya pilih Rido. Dia cukup bisa menjamin kondisi barang yang diberikannya kepada saya dibanding Anto. Tapi ya biar dua-duanya seneng, saya bagi-bagi aja orderannya.
Pertimbangannya satu: kalo ingin barangnya cepet dateng, pesan saja ke Anto berhubung PT.Sumbawa kirim barang lebih cepat dan selalu konfirmasi bila barang kosong.
Tapi kalo masih ada stok minimal, pesennya ke Rido aja. Beres.
Mereka senang, saya pun senang.
Oya. Sales Rido orangnya care banget. Dia suka tau aja kalo saya lagi seneng atau sedih. Sedikit berkomentar kalo saya tampak bermuram durja, kemudian menghibur dengan nasihat sederhana. Cukup menyenangkan. Dia sendiri matang, stabil, dan selalu senyum dengan menampakkan lesung pipit yang dalam di kedua pipinya (halagh..Ier..ghadhul bashar woi!).
Nah, kalo Anto nih, dia punya keluhan.. hpnya suka ujug-ujug bunyi 'trilit' padahal gak ada yang ngontak. Trus istri semata wayangnya neleponin teruss. Hebat lah.
Mungkin si istri tau aja kalo suaminya ini sering jalan-jalan dari satu cewe ke cewe lain. Lha yang jaga apotek kan mayoritas cewe.
Tampangnya lumayan juga, dengan gigi depan yang rapi, putih bersih.
Tapi alangkah kecewanya saya, ketika dia cerita tanpa kuminta...
dia cerita.. bahwa..hiks..hiks..
ternyata... gigi depannya itu palsu! Palsu!
Dia pernah tabrakan sampe giginya rontok. Euh atuh da si Anto mah..suka naek motor sambil bacain orderan. Earphone terpasang, tangan kiri pegang surat pesanan, tangan kanan pegang setang. Sekali tancap gas, dua tiga SP tersampaikan.
Pantes we mun sakali-kali nabrak mah.
Sales Dodi lain lagi.
Dia dari PT. Supra Kirana
Datang paling pagi dengan gaya sudah membungkuk hormat sejak turun dari motor. Dan mengulangi gerakan hormatnya di dekat etalase apotek.
"Assalamu'alaikum Teh," sapanya sambil tersenyum,"Barangkali ada sisa Teh?"
Walaah... berlutut saya di depan sales rendah hati yang satu ini.
Tentu saja saya selalu memberi jatah orderan untuk dia.
Sesedikit apapun saya order, dia pasti bilang terimakasih (tak lupa kembali membungkuk hormat). Haik.. haik..
Sayang diskonnya gak begitu bagus dan itemnya gak lengkap.
But it's ok Dod.. senin rabu dan jum'atku akan hampa tanpa kehadiranmu.
Ada lagi sales ganteng dari PT.Prima Surya. Ini penilaian dari asisten apotek lain yang serayon. Dia termehek-mehek padanya, sampe bilang dia CTM (cinta tak harus memiliki). Maklumlah sales ganteng yang bernama Tata ini sudah beristri. Ah, ganteng sih ganteng, tapi saya gak suka lelaki berkumis tebal. Saya suka yang berjanggut saja (sekali Wiska tetap Wiska!!).
Sales Tata ini suka agak maksa minta orderan, dan tampak selalu tidak puas dengan orderan saya. Dengan begitu saya cukup lega kalo dia gak dateng. Bebas dari paksaan yang tidak berperikeapotekeran.
Ya maklumlah... mereka kan punya target rata-rata di atas 100 juta per bulan.
Sayangnya gak semua sales pandai ambil hati.
Pernah ada sales yang nelepon, maksaaa banget minta orderan.
Saya bilang gak ada.
Dia minta dikasihani karena saat itu dia sedang terkapar di rumah sakit karena kecelakaan lalu lintas, sementara target masih jauh.
"Paracetamol aja 2 box ya Teh", katanya sambil memelas.
Ya akhirnya selain pct 2box, kutambahi lagi orderannya.
Watir lah... teu tega***
lain suplier, lain pula salesnya...
begitu kurang lebih arti dari pepatah ini versi saya, yang sehari-hari berkutat di apotek.
Bicara tentang pengadaan obat dan alat kesehatan, saya masih ambil barang lebih banyak dari sub distributor, bukan dari distributornya.
Alasannya, nilai satu faktur bisa lebih kecil sesuai dengan kemampuan apotek saya saat ini. Selain itu saya bisa lebih mudah dapat kredit tanpa birokrasi yang rumit. Barang-barang sub dis seringkali merupakan barang-barang campuran dari yang rata-rata fast moving, dan harga eceran justru bisa lebih murah. Begitulah setau saya.
Saat ini saya gak akan bahas PBFnya. Tapi mau sedikit berbagi, tentang dunia salesnya.
***
Setahun buka apotek sendiri dan mengelola stok barang, akhirnya saya kini cukup hafal karakter sales PBF.
Pembawaaan sales seringkali menentukan apa saya order atau nggak.
Sales yang tampak kuyu dan males-malesan nawarin produknya seringkali saya lewat saja. Paling kukasih cap kunjungan. Pergi. Selesai.
Tapi kalo si sales kuyu itu sampe dateng berkali-kali ke apotek, ya saya coba order juga. Cuma atas dasar kasihan saja. Biasanya sekali dua kali order, eh... dia malah gak balik lagi. Sales yang aneh. Kerasa kali kalo saya kepaksa, atau dianya yang emang gak konsisten?
Apalagi kalo diskon yang dia kasih ternyata payah. Udah deh... jangan harap saya mau order lagi.
***
Sales Adit...
(di sepanjang cerita ini, nama sales dan nama PBF bukan nama sebenarnya ya)
Lanjut...
Sales Adit ini tampangnya ok banget. Dia salah satu dari sekian banyak suplier alat kesehatan. Mestinya sekali-kali dia ikut casting sinetron, atau nyoba belajar jalan di atas catwalk, atau jadi cover boy, ... kayaknya minimal bisa jadi finalis.
Namun nasib membawa dia keliling naik motor saja ke apotek-apotek.
Tak apa, cukup menghibur para cewek di apotek kayak saya =P
Beberapa kali Adit nembak saya, saya tolak. Saya bilang kalo saya udah sama yang lain.
Nembak minta orderan maksudnya.
Sekalinya dia nembak dapet, ternyata kondisi (baca: diskon/bonus) barangnya payah. Selain itu, ketika barangnya dateng, banyak yang salah item, salah jumlah, bahkan ketinggalan. Lopernya bilang, orang di gudangnya banyak yang baru, jadi masih banyak salah. Ah.. tidak ada alasan!!
Memang sepertinya bukan salah Adit. Tapi kini, setiap Adit datang, saya kembali bilang kalo saya udah sama yang lain. Kita sampai di sini saja!
Adit akhirnya gak pernah ngapelin saya lagi.
Untuk alat kesehatan saya langganannya ke PT.Formindo. Dengan sales bernama Dendi.
Hitam manis bersahaja dengan hp esia ber-NSP ayat-ayat cinta. Kondisi barangnya bagus. Tapi semua dipegang sama sales Dendi ini dari mulai cari orderan, nganter barang (loper), sampe ke nagih bayarannya (kolektor). Nganter barang sih kadang digantiin sama loper lain kalo Dendi sakit.
Loper lain ini sering ditunggu-tunggu sama asisten saya yang masih bujangan, karena lopernya cantik=)
Di beberapa jenis obat selain alat kesehatan, PT.Sumbawa Mitra bersaing dengan PT.Compo Prima. Kondisi dan item barang hampir sama.
Suka bingung saya kalo sales Anto dari PT. Sumbawa dan sales Rido dari PT.Compo ini datang bersamaan. Terhirup aroma persaingan di antara mereka. Tapi tentu saja kalo ketemu dua-duanya saling senyum, salam, dan sapa. Di antara kedua laki-laki ini sebenernya saya pilih Rido. Dia cukup bisa menjamin kondisi barang yang diberikannya kepada saya dibanding Anto. Tapi ya biar dua-duanya seneng, saya bagi-bagi aja orderannya.
Pertimbangannya satu: kalo ingin barangnya cepet dateng, pesan saja ke Anto berhubung PT.Sumbawa kirim barang lebih cepat dan selalu konfirmasi bila barang kosong.
Tapi kalo masih ada stok minimal, pesennya ke Rido aja. Beres.
Mereka senang, saya pun senang.
Oya. Sales Rido orangnya care banget. Dia suka tau aja kalo saya lagi seneng atau sedih. Sedikit berkomentar kalo saya tampak bermuram durja, kemudian menghibur dengan nasihat sederhana. Cukup menyenangkan. Dia sendiri matang, stabil, dan selalu senyum dengan menampakkan lesung pipit yang dalam di kedua pipinya (halagh..Ier..ghadhul bashar woi!).
Nah, kalo Anto nih, dia punya keluhan.. hpnya suka ujug-ujug bunyi 'trilit' padahal gak ada yang ngontak. Trus istri semata wayangnya neleponin teruss. Hebat lah.
Mungkin si istri tau aja kalo suaminya ini sering jalan-jalan dari satu cewe ke cewe lain. Lha yang jaga apotek kan mayoritas cewe.
Tampangnya lumayan juga, dengan gigi depan yang rapi, putih bersih.
Tapi alangkah kecewanya saya, ketika dia cerita tanpa kuminta...
dia cerita.. bahwa..hiks..hiks..
ternyata... gigi depannya itu palsu! Palsu!
Dia pernah tabrakan sampe giginya rontok. Euh atuh da si Anto mah..suka naek motor sambil bacain orderan. Earphone terpasang, tangan kiri pegang surat pesanan, tangan kanan pegang setang. Sekali tancap gas, dua tiga SP tersampaikan.
Pantes we mun sakali-kali nabrak mah.
Sales Dodi lain lagi.
Dia dari PT. Supra Kirana
Datang paling pagi dengan gaya sudah membungkuk hormat sejak turun dari motor. Dan mengulangi gerakan hormatnya di dekat etalase apotek.
"Assalamu'alaikum Teh," sapanya sambil tersenyum,"Barangkali ada sisa Teh?"
Walaah... berlutut saya di depan sales rendah hati yang satu ini.
Tentu saja saya selalu memberi jatah orderan untuk dia.
Sesedikit apapun saya order, dia pasti bilang terimakasih (tak lupa kembali membungkuk hormat). Haik.. haik..
Sayang diskonnya gak begitu bagus dan itemnya gak lengkap.
But it's ok Dod.. senin rabu dan jum'atku akan hampa tanpa kehadiranmu.
Ada lagi sales ganteng dari PT.Prima Surya. Ini penilaian dari asisten apotek lain yang serayon. Dia termehek-mehek padanya, sampe bilang dia CTM (cinta tak harus memiliki). Maklumlah sales ganteng yang bernama Tata ini sudah beristri. Ah, ganteng sih ganteng, tapi saya gak suka lelaki berkumis tebal. Saya suka yang berjanggut saja (sekali Wiska tetap Wiska!!).
Sales Tata ini suka agak maksa minta orderan, dan tampak selalu tidak puas dengan orderan saya. Dengan begitu saya cukup lega kalo dia gak dateng. Bebas dari paksaan yang tidak berperikeapotekeran.
Ya maklumlah... mereka kan punya target rata-rata di atas 100 juta per bulan.
Sayangnya gak semua sales pandai ambil hati.
Pernah ada sales yang nelepon, maksaaa banget minta orderan.
Saya bilang gak ada.
Dia minta dikasihani karena saat itu dia sedang terkapar di rumah sakit karena kecelakaan lalu lintas, sementara target masih jauh.
"Paracetamol aja 2 box ya Teh", katanya sambil memelas.
Ya akhirnya selain pct 2box, kutambahi lagi orderannya.
Watir lah... teu tega***
Langganan:
Postingan (Atom)
