Jumat, 30 Desember 2011

dua ribu sebelas

***
Tiba-tiba kepikiran untuk mikirin apa aja yang saya dapet di 2011.

***
Semua proses yang saya alami di 2011, membuat saya bisa (saat ini) berada dalam posisi nyaman. Yaitu saya tau apa yang saya mau, dan tau apa yang saya bisa untuk membuat saya bahagia dan tenang hati.
Wajar juga kali ya, karena 2012 yang akan datang saya sudah memasuki usia 35 tahun.
Ya ampun, gak kebayang gue nyebutin umur tiga puluh lima tahun walau saya melaluinya dalam tahap perkembangan manusia yang cukup ideal (sudah menikah, punya anak sudah menjelang remaja, punya rumah, kendaraan, dinafkahi, dan rukun dengan suami). Tapi tetep we ketar ketir denger usia 35 ini.

Saya banyak mengenali diri karena saya punya teman-teman yang rajin mengomentari saya, yang kemudian komentar-komentarnya itu saya masukin ke hati. Bukan buat menyakiti diri, tapi untuk saya renungkan.
Bukan komentar di jejaring sosial lho ya, tapi celetukan-celetukan yang bilang "elu itu gini gini gini.. kamu itu gitu gitu gitu", baik memuji maupun mengkritik. Secara lisan, maupun tulisan berupa chat/sms.
Hasilnya adalah luar biasa membuat saya bisa nyadar siapa saya, apa potensi saya, apa kelemahan saya. Atau minimal membuat saya tau, kalau saya galau, itu saya mesti ngapain biar gak berlanjut galaunya :)

Eh, kemaren kan ada yang bilang gue itu tingkahnya kayak monyet.. heuuuh :D :D

Oya taun 2011 ini kan saya berhasil nerbitin buku yaaa, walaupun pake self publisher. Keroyokan pula.
Tapi saya suka sambutan teman-teman atas buku itu. Malah seriiiiing banget ada yang nanya, kapan bikin buku lagi. Padahal target saya bikin buku ya hanya untuk membukukan pemikiran saya aja. Berharap anak cucu sampai cicit saya nanti bisa tetap membacanya.

2012 saya bertarget membuat satu buku lagi. Dengan tujuan yang sama saja seperti kemarin, membukukan pemikiran. Pengen anak saya nanti bisa mengkoleksi buku ibunya. Cucu saya nanti bisa mengkoleksi buku neneknya. Dan seterusnya.
Do'a saya atas buku itu juga sama seperti kemarin. Bila isinya membawa kebaikan, mohon sebarkanlah, banyaklah orang yang baca. Bila membawa keburukan,mohon tahanlah, biar sedikit saja orang yang membacanya.

Dann 2011 ini, saya mulai renovasi rumah teaaaaa :)
Tadinya impian, tapi bila Allah menghendaki memang akan mudah jadi kenyataan :)
Semoga rumahnya cepet selesai, dan barokah :)

Mau nulis terus, tapi nguantukkknyaaa luar biasa.

***

Senin, 12 Desember 2011

UAS ( 2)

***
Katakanlah namanya Cici, satu lagi Ayu. Mereka berdua adalah anak kelas 2 SMP yang bertugas membantu saya di ruang obat, saat sekolah mereka menyelenggarakan pengobatan gratis. Saya adalah apoteker penanggungjawab obat pada saat acara tersebut berlangsung. Tidak diminta hadir untuk persiapan sebelumnya, dan tidak pula dimintai laporan pertanggungjawaban setelahnya.

Perkiraan pasien katanya 60 orang, sementara saya apotekernya cuma sendirian, dan hanya dibantu kedua anak itu.
Gak apalah. Memang kondisi seperti itu kerap saya alami, saat saya hanya dibantu oleh 'asisten apoteker' yang tidak tau apa-apa. Training kilat pun dilakukan. Cara menulis etiket, cara membaca resep, dll. Sederhana, karena semua tinggal bungkus dan tulis. Gak ada obat racikan.

Kedua anak itu pun mengangguk ragu. Saya bilang tenang aja, ada saya yang bisa mereka tanyai. Dan kalaupun salah, toh obatnya lewat tangan saya dulu. Bisa saya periksa dulu. Setelah lima resep bisa, pasti ke sananya gampanglah. Kata saya pada mereka meyakinkan.

Satu pasien, dua pasien, lima pasien, sepuluh pasien... semua terlayani dengan baik. Sampai akhirnya lima sampai enam orang pasien berjejer di deretan kursi di depan kami, menunggu dilayani. Tidak berimbang memang tenaga di pengobatan gratis ini. Dokternya ada dua, sementara apoteker cuma satu. Jadi pasien terlalu cepat hadir di ruang obat, menyerahkan resep dari dokter.

“Tunggu ya Bu, Pak,” sapa saya pada para pasien itu yang semuanya wulan. Warga usia lanjut.

Dua puluh pasien terlayani, tiga puluh terlayani, empat puluh ....dan masih berlanjut.....

“Yoo.. tenang ajaaa...”, kata saya pada kedua asisten kecil saya sambil membantu mereka membungkus dan menuliskan etiket.
Meja obat mulai amburadul.

“Emmm.....,”... Ayu tampak kebingungan mencari nama obat yang sebenernya ada persis di depannya.
Saya tau dia mulai panik, sekaligus lelah.

Sementara Cici, dia bekerja cepat dan sigap, walau tampak panik juga melihat jumlah pasien yang nunggu semakin banyak. Sesekali Cici membantu Ayu yang tampak bingung dan bengong.
“PCT ituuuu... apa yaaa...”, gumam Ayu
“Paracetamol !!!”, kata Cici sambil tangannya terus bekerja.
Heaaaa... dari awal itu saya kasi tau kalo PCT itu paracetamol dan puluhan resep PCT sebenernya sudah dikerjakan sejak awal, dan kemudian Ayu blank pada saat hectic seperti ini. Malah lebih parah lagi... tampak malas.

“Ayo Ayuuuu... ,” kata saya menyemangati sang Ayu. Dia cemberut.
Ya sudahlah.

Pengemasan obat dan penyerahan terus berlangsung, dan akhirnya beres. Lima puluh sembilan resep dalam dua jam tanpa henti. Fyuh.

Cici membantu saya mengepak obat sisa, sementara Ayu terkulai. Kepalanya menelungkup di meja.
Hoho. Jangankan dia, ...saya pun capek dan lapar.

Saya lirik Cici. Dia tampak semangat dan ceria, seperti tak terjadi apa-apa tadi.
Kagum juga saya sama anak itu. Sepertinya dia cukup tangguh menghadapi tekanan dan pandai menguasai diri.
Sementara Ayu? Saya tidak menyalahkan Ayu yang begitu ekspresif. Capek ya capek. Sudah. Terserah kalian mau ngomong apa. Mungkin gitu dalam hatinya.
Orang seperti itu biasanya tak menyimpan beban di hati ya? Bebannya keluar semua hingga permukaan, dan mudah-mudahan dengan begitu hatinya tidak terlalu galau.

Setelah semua beres, Ayu ngeloyor pergi, sementara Cici mencium tangan saya sambil bilang terimakasih. (Oooh.. so sweet.. hahaha)

Kalo lihat anak orang, saya suka inget anak sendiri. Jadi mikir gimana agar anak-anak saya bisa tangguh menghadapi tekanan. Gak mudah stress, dan pandai menguasai diri. Tangguh tak hanya dalam penampakan, tapi bersumber dari jiwa yang pantang menyerah.
Ihhh... asik ya punya anak yang seperti itu?

Momen UAS, atau ujian sekolah anak sebenernya bisa kita sikapi sebagai simulasi, bagaimana anak menghadapi tantangan.
Sejauh mana usahanya, sejauh mana tanggungjawabnya, dan sejauh mana daya tahannya dalam kejenuhan rutinitas belajar.
Nilai juga bisa dijadikan simulasi, sebagai hasil dari apa yang telah anak usahakan, karena biasanya memang berbanding lurus walau tidak selalu.

Di note yang lalu saya sempat bingung bagaimana agar anak bisa belajar mandiri. Komen dari Mbak Nina Estanto cukup menjawab kebingungan saya. Kata beliau, kita harus berani menghadapi kegagalan anak di sekolah karena hasil usaha si anak sendiri. Biarkan mereka mendapatkan konsekuensi dari kemalasan dan kelalaiannya. Mudah-mudahan mereka bisa belajar dari sana.

Sungguh berat bagi saya kalau harus membiarkan anak-anak saya menerima nilai jelek, buku ketinggalan, gak ngerjain peer, misalnya. Walau secara kasat mata itu justru meringankan saya. Kan cuekin aja gitu. Hehe.
Sementara selama ini saya biasanya gak banyak omong. Seragam siapin, yang ketinggalan-ketinggalan gitu saya masukkan sendiri ke tas anak. Ngerjain peer ditungguin, bahan belajar saya siapin. Doooh....
Memang kalo begitu terus caranya, kapan anak-anak saya bisa mandiri dan menghadapi tantangan hidupnya sendiri ya? Kapan anak-anak saya bisa tahan menghadapi tekanan pelajaran dan tugas-tugas sekolahnya tanpa saya temani?

Kebayangnya sama saya mah, kita memang hanya berkewajiban mengingatkan, dan memberi contoh. Saat anak belajar, kitanya jangan nonton pelem. Saat anak ngerjain peer, kitanya jangan banyak ngobrol. Tetap menemani, siap ditanyai bila mereka menghadapi kesulitan, tapi biarkan mereka mengerjakan sendiri. Dan di kehidupan sehari-hari, kitanya jangan pernah kelihatan mengeluh, marah-marah, gampangan sedih, atau menyerah.
Bukankah anak akan meniru bagaimana cara orangtua mereka menyelesaikan masalah?

Hari ini hari terakhir anak-anak UAS. Saya pun lega. Karena diam-diam saya jenuh juga melayani mereka belajar.
Nah, mulai semeseter depan, siap-siap aja ya Arif dan Sofi, siapkan segala kewajibanmu sendiri. Lalu kita lihat apa yang terjadi.

***

Sabtu, 10 Desember 2011

UAS

***
Iseng menulis di tengah kejenuhan menemani anak-anak belajar untuk UAS. Baru kali ini rasanya saya agak-agak eungap gitu ngadepinnya. Sofi masih mending banget. Kelas 2 masih cetek lah. Sepertinya tanpa belajar pun dia sudah bisa mendapat nilai bagus karena dia tampak menyimak apa yang diajarkan guru di kelasnya. Melihat LKS-LKSnya Sofi, nilainya 90-100. Sama seperti Arif dulu. Asal masuk sekolah dan menyimak, bereslah.

Kelas 4 rupanya lain ya? Lain banget dibanding kelas 3 dan sebelumnya.

Bagi yang ngikutin status FB saya semester ini barangkali pernah melihat saya cukup megap megap melihat kurikulum kelas 4 SD yang sama dengan pelajaran saya waktu SMP.

Bukan masalah bisa atau tidaknya, karena dulu saya SMP, ya lumayanlah gitu, masih ada di itungan juara kelas...... Jadi ya saya bisa mah .. ya bisa.

Sekali lagi ini bukan masalah bisa atau tidaknya, tapi bagaimana agar Arif enjoy belajarnya. Bisa mengerti tidak hanya menghafal. Tahan dengan kejenuhan, dan pantang stress.

Saya pikir ini dulu saya belajar yang kayak gini dengan jiwa daya tahan seorang remaja 13 tahun dengan lingkungan sebuah sekolah menengah. Dan sekarang pelajaran ini dihadapkan pada jiwa seorang anak 9 tahun dengan lingkungan sekolah dasar yang masih jadi lingkungan bermain.

Bagaimana saya bisa berempati dan menyesuaikan cara mengajar?



Saya bilang cara mengajar karena saya kasihan banget kalo kita serahkan semua pada guru di sekolah. Kurikulumnya seabreg gitu.

Tentunya kita sebagai orang tua harus bantu juga ya mengajar anak. Dengan bahasa kita yang mungkin lebih dipahami anak.

Mungkin loh.

Mungkin lebih dipahami kalau kita mengajarnya dengan emosi yang stabil. Da kadang ngajarin anak di rumah teh keselnya luar biasa. Lah kita sendiri harus ngerjain ini itu, anak tergoda ini itu, susah juga untuk bisa mengumpulkan serpihan konsentrasi baik dari ibunya maupun anaknya.



Makanya tadi pagi saya bilang di status FB bahwa beban pelajaran anak sekarang sudah luar biasa beratnya, jangan ditambahi bebannya dengan melihat orang tua mereka galau apalagi bertengkar di hadapan anak.

Saya sudah takut sebenernya ada yang mengartikan saya pasang status begitu seperti menunjukkan bahwa saya dan suami diam-diam ada masalah.

Eh.. taunya bener aja ada yang komen jail. Dodol pisan.Gitu tuh kalo pasang status. Maknanya bisa diartikan lain oleh yang beda kepala dan beda sudut pandang.



Sebenernya dengan status itu saya cuma mengingatkan pada diri sendiri dan teman-teman bahwa hal yang paling menyedihkan bagi anak adalah ketika melihat orang tua mereka galau. Dan yang paling jadi beban berat di hati anak adalah ketika menyaksikan kedua orang tua mereka bertengkar.

Kalau mereka sedih, dan orang tua sedih, lantas pelajaran apa yang bisa diajarkan orang tua dan diserap oleh anak selain kegalauan demi kegalauan??





Sudahlah, saya tidak akan membahas masalah orang tua dalam notes ini. Sing ngarti we wahai para orang tua. Dewasalah. Inget umur, inget anak.



Emm..di sini saya cuma ingin menyalurkan kebingungan bagaimana agar Arif bisa belajar mandiri.



Dalam benak saya, belajar secara mandiri adalah belajar sendiri tanpa harus selalu saya temani. Bisa tau bagian-bagian mana saja yang harus dia pelajari, dan menanyakan hal-hal tertentu saja kepada saya atau ayahnya. Jadi saya bisa bebas mengerjakan hal lain tanpa harus berdiam dengan jarak kurang dari dua meter dengannya saat belajar.

Apa benar pengertian saya tentang belajar mandiri itu? Dan apakah kemampuan belajar mandiri seperti itu sudah waktunya dimiliki oleh seorang anak 4 SD? Dengan beban pelajaran SMP kita dulu? Saya kok pesimis ya?



Karena kalau saya tinggal, Arif pasti bawaannya main. Entah itu menggambar, main bola, main boneka power rangernya, dll. Berdiam lebih dari 10 menit untuk membaca pelajaran adalah luar biasa. Selebihnya pasti dia sudah ke mana.



Senin 12 Desember adalah UAS terakhir dia, pelajaran IPS.

Ya Alloooh ..betapa sulitnya membuat dia konsentrasi. Untuk mengkaji kembali apa itu koperasi, macam-macam koperasi, pengertiannya, arti lambang koperasi, terus kebudayaan daerah, peninggalan prasejarah, .. tentang kepahlawanan, patriotisme... nama pahlawan, tari daerah, rumah adat, ...glugh glugh...



Sementara saya tau persis kemampuan dia bukan pada pelajaran seperti ini. Dia hanya suka matematika, matematika, dan matematika. Terbukti memang UAS matematika dia selasa lalu mendapat nilai sempurna. Seratus koma nol nol. AlhamduliLlah.



Akhirnya ini untuk IPS saya buat kuis-kuisan aja, dan dia lumayan jadi semangat. Saya buat pertanyaan di kertas-kertas kecil yang dinomori. Dia pilih nomornya, dan saya bacakan pertanyaannya, kemudian dibahas.

Beberapa nomor saya tulisi di kertasnya: Main UNO.

Berarti kalau kebetulan dia pilih kertas itu, dia boleh main kartu UNO sama saya dan Sofi.



Hasilnya, saya hari ini gak sempet ngapa-ngapain selain belajar.



Asli suntuknyaaaaaaaaaaaa... ..hoahhhmmm.....

Kebetulan saya ini masih numpang di rumah mamah karena rumah cipadung belum kelar direnovasi. Jadi ya masak sama mamah, nyetrika cuma dikit sisanya sama mamah, lain-lain sama mamah. Doooh.....



Syukurlah suami saya ke luar kota seharian ini, jadi tak ada beban pelayanan.. Hahah.



Dan dalam hati kubertanya.... Kapan ya Arif bisa belajar untuk UASnya tanpa saya temani?





-________-



Cisaranten, 10 Desember 2011

Jelang Malam



Membosankan sekali.